Rahmi, dkk / Tropical Animal Science 7. :71-79 Tropical Animal Science. Mei 2025, 7. :71-79 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas EVALUASI TINGKAT PENERAPAN BIOSEKURITI PADA PETERNAKAN AYAM BROILER DI KECAMATAN MAIWA KABUPATEN ENREKANG EVALUATION OF THE LEVEL OF IMPLEMENTATION OF BIOSECURITY IN BROILER CHICKEN FARMING IN MAIWA DISTRICT ENREKANG REGENCY Helmi Rafia Rahmi1. Angga Nugraha 2*. Nurul Purnomo1 Program Studi Peternakan. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Sidenreng Rappang. Indonesia 2Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Sidenreng Rappang. Indonesia *E-mail korespondensi: anggasosek2010@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat penerapan biosekuriti pada peternakan ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang. Biosekuriti merupakan komponen penting dalam sistem manajemen kesehatan ternak yang bertujuan untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit, serta menjaga produktivitas usaha peternakan. Penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei terhadap seluruh populasi peternak ayam broiler di wilayah tersebut, yaitu sebanyak 27 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara, dan penyebaran kuesioner. Aspek yang dikaji meliputi tiga komponen utama biosekuriti, yaitu pengendalian lalu lintas, sanitasi, dan isolasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan biosekuriti oleh peternak secara umum berada pada kategori cukup. Aspek sanitasi menjadi yang paling dominan diterapkan, ditandai dengan pengelolaan limbah yang telah dilakukan dengan sangat baik oleh seluruh responden . %). Aspek isolasi juga menunjukkan penerapan yang cukup baik, dengan sebagian besar peternak telah memisahkan ayam sakit dan mati serta memiliki kandang isolasi. Namun, penerapan biosekuriti dalam aspek pengendalian lalu lintas masih belum optimal, terutama terkait prosedur pemasukan tamu dan penyemprotan disinfektan kendaraan. Karakteristik peternak seperti tingkat pendidikan, pengalaman beternak, dan jenis kelamin diketahui turut memengaruhi variasi dalam penerapan biosekuriti. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata di lapangan dan menjadi bahan pertimbangan bagi peternak, pemerintah, dan pihak terkait dalam meningkatkan penerapan biosekuriti secara menyeluruh. Kata Kunci: Ayam broiler, biosekuriti, isolasi, pengendalian lalu lintas, sanitasi ABSTRACT This study aimed to evaluate the level of biosecurity implementation in broiler chicken farms in Maiwa District. Enrekang Regency. Biosecurity is an important component on the livestock health management system that aims to prevent the entry and spread of diseases, and maintain productivity of Rahmi, dkk / Tropical Animal Science 7. :71-79 livestock businesses. The study was conducted descriptively and quantitatively with a survey approach to the entire population of broiler chicken farmers in the area, which amounted to 27 people. Data collection was conducted through direct observation, through direct observation, interviews, and questionnaires. The aspects studied include three main components of biosecurity: traffic control, sanitation, and isolation. The results of this study showed that the implementation of biosecurity by farmers was generally in the sufficient The sanitation aspect was the most dominantly implemented, marked by waste management, which had been carried out very well by all respondents . %). The isolation aspect also showed quite good implementation, with most farmers having separated sick and dead chickens and isolation cages. However, the implementation of biosecurity in the aspect of traffic control is still not optimal, particularly in relation to guest entry procedures and vehicle disinfectant spraying. FarmersAo characteristics such as education level, farming experience, and gender are known to influence variations in biosecurity implementation. This study is expected to provide a real picture of the field and be a consideration for farmers, the government, and related parties in improving the implementation of biosecurity as a whole. Keywords: Broiler chicken, biosecurity, isolation, traffic control, sanitation PENDAHULUAN Ayam broiler merupakan ayam yang dikembangkan untuk memproduksi daging secara cepat. Broiler merupakan ternak unggas yang memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat dengan target panen kurang dari 5 minggu dengan bobot badan sekitar 1. 7 kg/ Keunggulan broiler didapat dari proses seleksi yang sangat ketat sehingga didapatkan sifat genetik yang unggul dengan kondisi pemeliharaan yang terkontrol meliputi makanan, temperatur lingkungan, dan manajemen pemeliharaannya (Rahayu et al. Produksi ayam pedaging akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah konsumsi terhadap daging ayam Peningkatan mendorong peningkatan produksi ayam pedaging di berbagai provinsi. Sebagai ilustrasi, data BPS menunjukkan bahwa produksi daging ayam ras pedaging di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2024 Pengembangan usaha ternak ayam pedaging akan berhasil apabila peternak mampu mengelolah usaha tersebut dengan baik. Pengelolaan usaha ternak ayam pedaging manajemen yang baik, mulai dari manajemen produksi, keungan, sumberdaya manusia, hingga manajemen pemasaran. (Simanjuntak et al. , 2. Peningkatan produksi ayam broiler Kemajuan teknologi dibidang perunggasan merupakan salah satu sebab hal tersebut terjadi. Penelitian terus menerus dalam meningkatkan produksi ayam broiler (Wulandari et al. Industri unggas yang berkembang dicirikan oleh program biosekuriti di lokasi peternakan, yang dirancang dan didukung oleh pengawasan veteriner dan laboratorium meminimalkan masuknya penyakit menular dan memberikan tindakan identifkasi penyakit yang muncul dengan cepat. Biosekuriti di setiap peternakan unggas adalah suatu keberhasilan dan profitabilitas di bidang perunggasan, agar ayam dapat terjaga kesehatannya serta dapat dipastikan hasil Rahmi, dkk / Tropical Animal Science 7. :71-79 produksi yang berupa daging aman dikonsumsi (Utami dan Samudra, 2. Penerapan biosekuriti pada peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang di perkirakan masih bervariasi dan belum optimal. Biosekuriti menjadi komponen penting dalam menjaga kesehatan dan produktivitas ternak, terutama melalui langkah-langkah pengendalian lalulintas, isolasi dan sanitasi yang dapat mencegah penerapan biosekuriti di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan pengetahuan peternak, saran dan prasarana Situasi memunculkan risiko penyebaran penyakit yang dapat mengancam produktivitas dan keberlanjutan usaha peternak ayam broiler. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerapan biosekuriti pada peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang. MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu mulai Januari sampai Maret 2025. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di peternakan ayam broiler yang berada di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang. Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bertujuan untuk biosekuriti berdasarkan data yang diperoleh dari responden di lapangan. Populasi penelitian ini mencakup seluruh peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang, responden sebanyak 27 orang. Sampel dapat dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Menurut Pratama & Permatasari . sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relative kecil, kurang dari 30 Istilah lain sampling jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel. Data pada penelitian ini dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk menggambarkan berapa persen tingkat penerapan biosekuriti pada peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang. Analisis data ini dilakukan dengan cara perhitungan sebagai berikut: Presentase = Jumlah responden/Total responden x 100 HASIL DAN PEMBAHASAN Responden dalam penelitian ini adalah peternak ayam broiler dengan latar belakang yang beragam. Perbedaan tersebut meliputi jenis kelamin, tingkat pendidikan terakhir dan lama pengalaman beternak. Tingkat penerapan biosekuriti juga bervariasi, tergantung pada pelaksanaan aspek isolasi, pengendalian lalu lintas dan sanitasi di masing-masing Karakteristik responden yang pertama adalah jenis kelamin, merupakan perbedaan antara peternak laki-laki dan perempuan yang dapat mempengaruhi berbagai aspek dalam usaha peternakan, seperti cara mereka mengelola ternak, pengambilan keputusan, serta keterlibatan dalam kegiatan operasional sehari-hari di peternakan. Perbedaan jenis kelamin juga bisa berhubungan dengan pembagian tugas antara anggota keluarga dalam usaha peternakan. Penilaian terhadap jenis kelamin peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1. Jenis Kelamin Jenis Frekuensi Presentase (%) Kelamin Laki-laki 77,78 Perempuan 22,22 Total Sumber: Data Kecamatan Maiwa, 2025 Berdasarkan tabel di atas, mayoritas peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Rahmi, dkk / Tropical Animal Science 7. :71-79 Kabupaten Enrekang adalah laki-laki, yang mencakup 77,78% dari seluruh responden. Sedangkan peternak perempuan hanya mencapai 22,22% dari jumlah responden yang Hal ini sesuai dengan pendapat Hanif & Kusumastuti, . yang menyatakan bahwa melibatkan lebih banyak laki-laki dibanding perempuan karena beternak merupakan pekerjaan yang lebih banyak melibatkan kegiatan fisik sehingga lebih cocok untuk lakilaki walaupun tidak menutup kemungkinan dikelola oleh peternak perempuan. Usaha ternak ayam broiler didominasi oleh kaum laki-laki karena aktivitas usaha pemeliharaan ayam broiler didominasi oleh aktivitas fisik yang meliputi pemberian pakan, pemberian minum, penanganan ternak sakit, penanganan limbah dan lain sebagainya (Husna et al. , 2. Karakteristik responden yang kedua adalah pendidikan terakhir, yaitu jenjang pendidikan tertinggi yang telah diselesaikan oleh peternak, baik itu pendidikan formal seperti sekolah atau kuliah. Tingkat pendidikan bisa memengaruhi pengetahuan dan keterampilan peternak dalam mengelola usaha peternakan. Penilaian terhadap tingkat pendidikan terakhir peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Pendidikan Terakhir Pendidikaan Frekuensi Presentase % SMP 11,12 SMA 44,44 SMK 22,22 22,22 Total Sumber: Data Kecamatan Maiwa, 2025 Berdasarkan data pada tabel 2, mayoritas peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA, yaitu sebanyak 12 orang atau sebesar 44,44% dari total Kemudian, sebanyak 6 orang . ,22%) lulusan SMK dan 6 orang . ,22%) lulusan perguruan tinggi strata satu (Sarjan. Sementara itu, responden yang berpendidikan terakhir SMP berjumlah 3 orang atau 11,12%. Tidak terdapat responden dengan tingkat pendidikan SD. S2, maupun S3 dalam penelitian ini. tersebut dapat di ketahui bahwa sebagian besar peternak memiliki tingkat memungkinkan mereka untuk lebih mudah memahami dan mengaplikasikan teknologi serta praktik manajemen modern dalam Hal ini sejalan dengan pendapat Yasin, . bahwa pendidikan berhubungan erat dengan kemampuan seseorang dalam memelihara dan menerapkan inovasi baru yang dianjurkan. Tingkat seseorang merupakan suatu indikator yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan atau Perbedaan perbedaan cara dan pola pikir peternak (Razak et al. , 2. Karakteristik responden yang ketiga adalah pengalaman beternak, mengacu pada seberapa lama seseorang telah menjalankan usaha peternakan. Pengalaman ini dapat memengaruhi cara peternak mengelola ayam broiler, mulai dari perawatan kesehatan ternak hingga pengelolaan pakan dan kebersihan Semakin lama seseorang beternak, biasanya semakin terbiasa mereka dalam mengatasi masalah yang terjadi di peternakan. Penilaian terhadap tingkat pengalaman beternak pada peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan data responden bervariasi, dengan mayoritas berada pada kategori pengalaman lebih dari 5 Sebanyak 17 orang . ,9%) memiliki pengalaman beternak lebih dari 4-5 tahun. Selain itu, masing-masing 5 peternak . ,52%) memiliki pengalaman 1-2 tahun dan 2-3 tahun. Rahmi, dkk / Tropical Animal Science 7. :71-79 Tabel 3. Pengalaman Beternak Pengalaman Frekuensi Presentase Beternak -1 Tahun 1-2 Tahun 18,52 2-3 Tahun 18,52 < 4-5 Tahun Total Sumber: Data Kecamatan Maiwa, 2025 Tidak ada peternak yang baru memiliki pengalaman selama 1 tahun. Hal ini tidak sejalan dengan pendapat Illahi et al, . yang menyatakan bahwa peternak responden mitra sebagian besar memiliki pengalaman beternak di bawah 5 tahun yaitu sebesar 72,2%. Berdasarkan tingkat pendidikan, rata-rata responden tamat SMA. Tingkat pendidikan yang ditempuh akan berpengaruh terhadap sikap peternak dalam mengambil keputusan dalam proses budidaya (Mulatsih et al. , 2. Penerapan biosekuriti dalam pengendalian Tabel 4. Penerapan biosekuriti kontrol lalu lintas Variabel Pemeriksaan kendaraan dan pengaturan lalu lintas mencakup serangkaian tindakan yang dirancang untuk mengontrol pergerakan kendaraan, orang, dan barang yang memasuki atau meninggalkan peternakan guna mencegah penyebaran penyakit atau patogen. Langkah-langkah tersebut termasuk pemeriksaan kendaraan untuk memastikan tidak ada kontaminasi, penyemprotan desinfektan pada kendaraan yang masuk, serta pengelolaan akses dan rute kendaraan untuk menghindari area yang rawan penyebaran penyakit. Selain itu, prosedur yang ketat diterapkan pada pengunjung atau pihak luar yang memasuki peternakan untuk memastikan bahwa mereka tidak membawa risiko yang dapat mengancam produktivitas peternakan. Penilaian tingkat penerapan biosekuriti pengendalian dan kontrol lalu lintas pada peterenakan ayam broiler di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang dapat di lihat pada tabel 4. Kategori Baik Kurang Cukup Total Penyomprotan desinfektan pada kendaraan Baik Kurang Cukup Total Prosedur pemasukan tamu Baik Kurang Cukup Total Pembatasan akses dan rute kendaraan Total Sumber : Data Kecamatan Maiwa, 2025 Tabel 4 memberikan gambaran tentang frekuensi dan persentase terkait beberapa aspek biosekuriti transportasi di peternakan Baik Kurang Cukup Frekuensi Presentase % 25,92 33,34 40,74 11,12 37,03 51,85 3,70 55,56 40,74 25,93 29,63 44,44 ayam broiler. Pada variabel pemeriksaan kendaraan, sebagian besar responden . ,74%) menilai bahwa pemeriksaan Rahmi, dkk / Tropical Animal Science 7. :71-79 kendaraan sudah dilakukan dengan cukup baik, meskipun masih ada 33,34% yang menilai kurang. Hanya 25,92% responden yang menilai prosedur pemeriksaan sudah dilakukan dengan optimal. Selanjutnya, pada aspek penyemprotan disinfektan, mayoritas responden . ,85%) menyatakan bahwa kegiatan ini dilakukan dengan cukup baik, sementara 37,03% menilai kurang, dan hanya 11,12% yang menganggap pelaksanaannya sudah baik. Pada aspek prosedur pemasukan tamu, lebih dari separuh responden . ,56%) menilai pelaksanaannya masih kurang, 40,74% menyatakan cukup, dan hanya 3,70% yang menyatakan baik. Ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap keluarmasuknya tamu masih perlu diperketat. Kontrol lalu lintas di peternakan harus dibuat dengan baik untuk mengehntikan atau meminimalkan kontaminasi pada hewan, pakan, dan peralatan yang digunakan (Noywuli et al. , 2. Penerapan Tabel 5. Penerapan biosekuriti sanitasi Variabel Pembersihan kandang peternakan ayam broiler. Sanitasi mencakup kegiatan seperti pembersihan kandang, limbah, dan perawatan lingkungan sekitar Berdasarkan data yang diperoleh, menerapkan sanitasi dengan baik, terutama dalam hal manajemen limbah yang mendapat penilaian sempurna dari semua Sanitasi lingkungan menunjukkan hasil yang sangat baik, meskipun pada aspek pembersihan kandang dan penggunaan desinfektan masih ada pelaksanaannya cukup atau kurang. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara umum biosekuriti sanitasi sudah berjalan dengan baik, masih diperlukan peningkatan di beberapa bagian agar hasilnya lebih maksimal dalam mendukung kesehatan ternak dan produktivitas peternakan. Penilaian tingkat penerapan biosekuriti sanitasi pada peternakan ayam broiler di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang dapat di lihat pada tabel 5. Kategori Baik Kurang Cukup Total Penggunaan desinfektan pada area kandang Baik Kurang Cukup Total Sanitasi lingkungan Baik Kurang Cukup Total Manajemen limbah Total Sumber : Data Kecamatan Maiwa, 2025 Baik Kurang Cukup Frekuensi Presentase % 55,56 7,40 37,03 48,14 51,86 88,88 11,12 Rahmi, dkk / Tropical Animal Science 7. :71-79 Tabel 5 menunjukkan frekuensi dan persentase terkait penerapan biosekuriti dalam aspek kebersihan dan sanitasi di peternakan ayam broiler. Sebagian besar responden . ,56%) menilai pembersihan kandang sudah dilakukan dengan baik, meskipun ada 37,03% yang menilai cukup baik dan 7,40% yang Untuk desinfektan pada area kandang, 51,86% responden menilai cukup baik, sedangkan 48,14% menilai sudah dilakukan dengan baik, tanpa ada yang menilai kurang. Pada aspek sanitasi lingkungan, sebagian besar responden . ,88%) memberikan penilaian baik, dan hanya 11,12% yang menilai cukup. Sementara itu, manajemen limbah mendapat penilaian sempurna dari seluruh responden . %), yang menunjukkan bahwa pengelolaan limbah di peternakan sudah sangat baik. Secara keseluruhan, penerapan biosekuriti pada kebersihan, sanitasi, dan manajemen limbah di peternakan ayam broiler sudah baik, meskipun masih ada beberapa area yang dapat Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Syafitri & Indirawati, . yang menyatakan bahwa pengetahuan peternak Tabel 2. Penerapan biosekuriti isolasi Variabel Pembersihan kandang tentang sanitasi kandang dikategorikan kurang . ,4%) khususnya mengenai tindakan yang tidak boleh dilakukan di kandang, tindakan desinfeksi dan pengolahan kotoran Penerapan biosekuriti dilakukan untuk menjamin sanitasi kebersihan kandang dan peternakan, termasuk digunakan dalam kandang harus senantiasa bersih dan steril, serta bebas dari bibit penyakit (Wiziarti et al. , 2. Penerapan biosekuriti isolasi adalah upaya untuk membatasi atau mengendalikan akses terhadap lingkungan peternakan guna mencegah masuknya agen penyakit dari luar. Tujuan utamanya adalah untuk me minimalkan kontak antara ternak dengan sumber potensial penyakit, sehingga bisa mengurangi risiko penularan. Isolasi menjadi salah satu komponen penting dalam sistem biosekuriti karena efektif dalam mencegah penyakit menular masuk dan menyebar di dalam area peternakan. Penilaian tingkat penerapan biosekuriti isolasi pada peternakan ayam broiler di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang dapat di lihat pada tabel 6. Kategori Baik Kurang Cukup Total Penggunaan desinfektan pada area kandang Baik Kurang Cukup Total Sanitasi lingkungan Baik Kurang Cukup Total Manajemen limbah Total Sumber : Data Kecamatan Maiwa, 2025 Baik Kurang Cukup Frekuensi Presentase % 92,60 7,40 92,60 7,40 3,70 29,64 66,66 Rahmi, dkk / Tropical Animal Science 7. :71-79 Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang menerapkan aspek biosekuriti isolasi dengan Seluruh peternak . %) sudah memisahkan ayam mati dan hidup, 92,60% melakukan pemisahan ayam sakit dan sehat, serta 92,60% memiliki kandang isolasi. Namun demikian, penerapan manajemen zona masih tergolong rendah, dengan hanya 3,70% peternak yang masuk dalam kategori baik, sementara mayoritas berada pada kategori cukup . ,66%) dan kurang . ,64%). Kondisi ini menunjukkan adanya pemahaman peternak akan pentingnya isolasi sebagai upaya mencegah penyebaran agen penyebab penyakit. Isolasi berarti menjauhkan ayam dari orang, kendaraan dan benda yang dapat membawa patogen. Menciptakan lingkungan tempat ayam terlindung dari pembawa bakteri patogen (Yosi & Nurrahmandani, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang sudah menerapkan biosekuriti dengan cukup Tiga aspek utama biosekuriti yaitu transportasi, isolasi, dan sanitasi umumnya sudah dijalankan oleh para peternak, meskipun masih ada beberapa hal yang perlu Aspek sanitasi menjadi yang paling sering diterapkan, seperti kebersihan kandang dan peralatan yang cukup rutin Aspek isolasi dan pengendalian lalu lintas, sebagian peternak masih belum menjalankannya secara maksimal, terutama dalam hal pengawasan tamu dan kendaraan Karakteristik peternak seperti umur, berpengaruh terhadap tingkat penerapan UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang atas dukungan dan fasilitas yang diberikan selama penyusunan jurnal ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Dinas Peternakan Kabupaten Enrekang, aparatur desa, serta peternak ayam broiler di Kecamatan Maiwa yang telah berpartisipasi dan memberikan informasi berharga. Penghargaan yang tulus ditujukan kepada dosen pembimbing atas bimbingan dan masukan selama proses penyusunan, serta kepada kedua orang tua dan keluarga tercinta atas doa, dukungan, dan semangat yang tiada henti. DAFTAR PUSTAKA