EVALUASI PENERAPAN IT GOVERNANCE DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA COBIT 5 PADA LAYANAN PUBLIK EVALUASI PENERAPAN IT GOVERNANCE DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA COBIT 5 PADA LAYANAN PUBLIK Ibrahim Ibrahim, 2Rahmat Hidayat 1, 2 Program Studi Teknik Elektro. Fakultas Teknik. Universitas Singaperbangsa Karawang ibrahim@ft. id , 2rahmat. hidayat@staff. INFO ARTIKEL Diterima : 18 April 2021 Direvisi : 03 Juli 2021 Disetujui : 07 Juli 2021 Kata Kunci : COBIT 5. IT Governance. Manajemen Layanan TI. Process Capability Level ABSTRAK Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi penerapan Information Technology (IT) governance pada institusi sektor layanan publik, dengan menggunakan kerangka kerja COBIT 5. Evaluasi dilakukan untuk memastikan kinerja implementasi layanan teknologi informasi (TI) dapat dirasakan manfaatnya oleh pemangku kepentingan dalam penyediaan informasi yang cepat, akurat, efektif dan efisien untuk mendukung pengambilan keputusan. Metode penelitian menggunakan COBIT 5 pada proses delivery, service and support (DSS) dan process capability model (PCM). Pendekatan yang dilakukan berupa studi kasus untuk menilai efektivitas layanan TI yang dijalankan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai process capability level domain DSS adalah 3,3 . , yakni DSS1=4. DSS2=4. DSS3=4. DSS4=3. DSS5=3 dan DSS6=2. Proses DSS01. DSS02. DSS03 dan DSS04 telah memenuhi target kinerja. Sedangkan proses DSS04. DSS05 dan DSS06 masih dibawah target kinerja sehingga perlu dilakukan perbaikan. Rekomendasi perbaikan secara umum meliputi penyusunan dokumen BCP dan DRP, pengendalian informasi dan data bisnis, audit dan sertifikasi berdasarkan standar sistem manajemen keamanan informasi. PENDAHULUAN Kinerja Teknologi Informasi (TI) pada sebuah institusi menjadi aspek penting untuk dilakukan dievaluasi dan diukur seiring dengan semakin banyaknya penggunaan dan pemanfaatan TI dalam menjalankan aktivitas bisnis. Kinerja layanan TI akan berdampak langsung pada kinerja kinerja institusi, artinya jika kinerja TI yang digunakan baik maka tentu akan berdampak pada perbaikan kinerja institusi . Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk dievaluasi dan dimonitor adalah bagaimana memastikan layanan TI lebih baik dan selaras dengan tujuan bisnis . Keselarasan antara layanan TI dengan tujuan bisnis terkadang menjadi masalah dalam investasi TI. Peningkatan investasi TI pada sebuah institusi terkadang tidak berdampak pada meningkatkan kualitas layanan TI . Untuk itu diperlukan pengelolaan TI yang baik untuk memastikan investasi TI berdampaik pada meningkatnya kualitas layanan TI yang dihasilkan atau biasa disebut Tata Kelola Teknologi Informasi (IT Governanc. IT governance adalah bagian dari Tata Kelola Perusahaan . Salah satu upaya untuk pengelolaan layanan TI yang baik adalah dengan cara melalukan evaluasi, pengukuran dan pengendalian terhadap proses-proses TI. Penelitian ini difokuskan pada aspek tata kelola atau manajemen layanan TI yang mencakup pengukuran dan pegendalian proses TI sehingga kinerja setiap proses TI terukur dan terkendali baik prosesnya maupun luaran serta dampak yang dihasilkan. Dengan demikian maka layanan TI dapat diprediksi hasil dan dampaknya bagi institusi . kinerja organisasi sangat dipengaruhin dan ditunjang oleh sebaikmana penerapan tata kelola TI atau IT governance . Tata Kelola TI merupakan tanggung jawab eksekutif dan dewan direksi, dan terdiri dari kepemimpinan, struktur organisasi, dan proses-proses yang memastikan bahwa TI perusahaan menopang dan meningkatkan strategi dan tujuan organisasi . Menurut IT Governance Institute (ITGI), bahwa IT governance dapat diterapkan di hampir semua jenis organisasi, tak terkecuali layanan publik. Fokus utama tata kelola TI adalah bagaimana menyelaraskan strategi TI dengan strategi organisasi . Demikian pula dengan pengalokasian sumber daya TI yang efisien dapat membantu organisasi untuk mencapai tujuannya dan organisasi itu dapat melakukan pengukuran kinerja untuk mendapatkan gambaran umum dan menilai sejauh mana organisasi telah mencapai tujuannya . Arsitektur Tata Kelola TI COBIT 5 seperti diperlihatkan pada Gambar 1. IT Governance Keberhasilan impelemntasi IT governance yang efektif pada sebuah organisasi sangat dipengaruhi oleh sejauhmana organisasi tersebut dapat fokus pengelolaan kinerjanya. Sementara kinerja organisasi juga dipengaruhi oleh sejauhmana penerapan TI pada organisasi tersebut. Sedangkan kinerja TI sangat dipengaruhi oleh sejauhmana penerapan tata kelola TI yang baik. Dengan demikian Gambar 1 Arsitektur tata kelola TI COBIT 5 . Berdasarkan definisi diatas maka Komponen utama Tata Kelola TI terdiri dari Struktur Kepemimpimpinan TI dalam perusahaan. Struktur Organisasi TI serta Proses- Barometer. Volume 6 No. Juli 2021, 360-367 proses TI. Secara ringkas komponen tata kelola diuraikan sebagai berikut. Business Needs, merupakan kebutuhan bisnis sebagai faktor pendorong utama disusunnya tata kelola TI. Pada bagian ini diidentifikasi daftar kebutuhan bisnis yang mencakup visi, misi, tujuan dan sasaran bisnis. Kebutuhan bisnis tersebut kemudian dipetakan atau diterjemahkan kedalam kebutuhan TI atau disebut tujuan TI. Proses TI, merupakan proses-proses TI yang harus dijalankan untuk mendukung pencapaian tujuan TI yang telah diidentifikasi sebelumnya berdasarkan tujuan bisnis. Proses-proses TI terdiri dari 2 . area yakni area Governance dan Manajemen. Area governance merupakan domain pimpinan atau kebijakan yang mencakup evaluate, direct dan monitor. Sedangkan domain manajemen merupakan proses-proses pengelolaan yang terdiri dari plan, build, run and monitor. Kerangka kerja IT Governance disusun berdasarkan standar ISO 38500 merupakan dasar bagi pengembangan model tata kelola sebagai penjembatan untuk menterjemahkan visi, misi, tujuan dan sasaran serta kebijakan organisasi kedalam operasional bisnis yang dapat diukur melalui panduan COBIT 5 yakni proses Plan. Built. Run, and Monitor . Framework COBIT 5 COBIT (Control Objective for Information and related Technolog. merupakan sebuah framework yang dikeluarkan oleh IT Governance Institute sebagai bagian dari ISACA (Information Systems Audit and Control Associatio. COBIT 5 merupakan versi terbaru yang diluncurkan sebagai revisi dari edisi sebelumnya. Hal baru yang terdapat pada COBIT 5 yakni mengatur tentang informasi dan teknologi di dalam institusi. Pengaturan terhadap teknologi dan informasi dilakukan secara keseluruhan serta menjabarkan bisnis secara end-to-end berdasarkan fungsi dan tanggung jawab dari tata kelola TI dalam menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. COBIT 5 juga menyediakan prinsip, praktek, dan tools analisis untuk meningkatkan nilai tambah dari TI . Hal lain yang terdapat dalam COBIT 5 selain sebagai kerangka tata kelola dan manajemen TI, juga merupakan kumpulan instrumen yang dapat mendukung dan menjembatani jarak . antara kebutuhan pengendalian . ontrol requirment. , masalah-masalah teknis . echnical issue. dan resiko bisnis . usiness ris. Selain itu pada COBIT 5 juga dengan tegas dilakukan pemisahan yang sangat jelas antara area governance dengan area manajemen. Area governance merupakan proses-proses terkait dengan kebijakan-kebijakan, terdiri dari Evaluate. Direct and Monitor (EDM). Sedangkan area manajemen merupakan proses-proses terkait dengan pengelolaan yang terdiri dari domain Align. Plan and Organize (APO), domain Build. Acquire and Implement (BAI), domain Deliver. Service and Support (DSS), dan domain Monitor. Evaluate and Assess (MEA). Secara keseluruhan COBIT 5 terdiri dari 37 proses. ISSN: 1979-889X . ISSN: 2549-9041 . http://w. Proses referensi models yang terdapat pada COBIT 5 seperti diperlihatkan pada Gambar 2. Gambar 2 COBIT 5 process reference models . Kerangka kerja COBIT 5 merupakan sekumpulan dokumen dan panduan untuk implementasi IT governance . COBIT 5 membantu para auditor, manajemen dan pengguna dalam menjembatani kesenjangan antara risiko bisnis, kebutuhan dan pengendalian . Process Capability Model Pendekatan yang digunakan pada COBIT 5 dalam pengukuran tingkat kematangan proses TI menggunakan Process Capability Model yang diadopsi dari ISO 15504. Model tersebut seperti diperlihatkan pada Gambar 3. Gambar 3 COBIT 5 process capability models . Deskripsi model Process Capability Level COBIT 5 diperlihatkan pada Tabel I. II. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Pada penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus institusi layanan publik yakni Badan Aksesibilitas Telekomuniksi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan pemahaman tentang fenomena penyelenggaraan tata kelola TI melalui kajian. EVALUASI PENERAPAN IT GOVERNANCE DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA COBIT 5 PADA LAYANAN PUBLIK wawancara dan observasi sesuai kerangka kerja seperti diperlihatkan pada Gambar 4. TABEL I MODEL PROCESS CAPABILTY LEVEL COBIT 5 . Level Nilai Deskripsi Incomplete Level mencapai tujuannya. Pada level ini terdapat sedikit atau tidak ada bukti sistematis pencapaian tujuan dari proses yang dijalankan. Performed Level proses sudah ada dan diterapkan serta telah menunjukkan tujuan telah tercapai. Proses ini memiliki satu proses atribut yaitu process performance. Performed Level proses yang dilakukan sekarang telah diimplementasikan . irencanakan, dimonitor dan disesuaika. Proses ini memiliki dua atribut proses yaitu performance management dan work product management. Established Predictable Optimizing Level proses telah dikelola, proses dipastikan dapat mencapai outcome. Proses ini memiliki dua atribut atribut proses yaitu process definition dan process deployment. Level proses yang ditetapkan telah beroperasi saat ini dipastikan dapat mencapai tujuan dalam jumlah tertertentu dan dapat diprediksi. Proses ini memiliki dua atribut proses yaitu process management dan process control Level proses dapat diprediksi dan berkelanjutan secara terus menerus untuk memenuhi tujuan bisnis saat ini dan dapat diproyeksikan. Proses ini memiliki dua atribut proses yaitu process innovation dan process kedalam tujuan yang dapat diimplementasikan dan Kajian regulasi, strategi organisasi dan arahan Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan pemahanan tentang aspek regulasi penyelenggaraan tata kelola TI. Selain itu diperlukan pula pemahaman terhadap strategi organisasi yang mencakup visi, misi tujuan, sasaran, dan indikator kinerja organisasi serta kebijakan-kebijakan yang ada, sebagai dasar dalam penetapan tujuan TI. Demikian pula dengan arahan manajemen atau direksi perlu dipahami sehingga dapat diselaraskan dengan arah pengembanga dan pengelolaan TI. Mengidentifikasi enterprise goals. kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengidentifikasi seluruh tujuan organisasi berdasarkan regulasi, strategi organisasi menjadi daftar enterprise goals. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memahami dan menterjemahkan strategi dan kebijakan organisasi Menetapkan IT related goal. pada tahap ini dilakukan pendefinisian tujuan TI yang relevan dengan tujuan bisnis yang telah diidentifikasi Pada bagian ini akan didapatkan daftar tujuan TI yang harus diimplementasikan dan Gambar 4 Pendekatan penyusunan tata kelola TI Enabler goal. pada tahap ini akan diidentifikasi factor pengerak . untuk mencapai tujuan TI. Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan benar, pada COBIT 5 terdapat 7 faktor penggerak, yaitu Principles. Policies and Framework . Process, struktur organisasi. Culture. Ethics. Behavior. Information. Services. Dan People. Skills, dan Competencies. Melakukan kajian dan mengadopsi bestpractices yang relevan dengan topik yang dikaji dalam rangka penyusunan tata kelola TI, antara lain COBIT 5 sebagai framework utama, enterprise architecture, berbasis TOGAF (The Open Group Architecture Framewor. SFIA (Skills Framework for the Information Ag. ISO 20000 (IT Service Managemen. ISO 27001 (Information Security Management Syste. Framework tersebut dijadikan sebagai pedukung dalam menyusun dan implementasi tata kelola TI. Melakukan analisis kesenjangan . ap analysi. antara kondisi penyelenggaraan tata kelola TI saat ini dengan bestpractice serta proses-proses TI yang sesuai dengan kebutuhan bisnis untuk diterapkan. Tentu tidak semua bestpractice diadopsi namun hanya disesuaikan dengan kebutuhan dan keunikan sebuah organisasi. Menyusun sistem tata kelola sebagai kerangka kerja tata kelola untuk diimplementasikan pada organisasi tersebut. Pada kerangka tata kelola ini akan dituangkan dalam bentuk kebijakan, standar, prosedur hingga instruksi kerja, sebagai panduan dalam penyelenggaraan TI. Pendekatan penyusunan tata kelola TI pada Gambar 4 diuraikan sebagai berikut. Barometer. Volume 6 No. Juli 2021, 360-367 dengan menggunakan COBIT framework. Selanjutnya hasil analisis dituangkan dalam bentuk potret kondisi saat ini, permasalahan dan Setelah itu dilakukan setting target tentang kondisi yang diinginkan oleh institusi. Sumber data yang lain adalah berupa dokumendokumen bisnis, dokumen TI serta hasil evaluasi atau audit sebelumnya sebagai bahan perbandingan untuk memperdalam kajian. Instrumen pengukuran yang digunakan berupa kuesioner mengacu pada COBIT 5. Process Capability Model. Penilaian process capability level dilakukan melalui perhitungan nilai menggunakan tools yang terdapat pada PCM. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan alur pikir kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai hasil. Adapun alur kegiatan yang dilakukan pada penelitian ini seperti diperlihatkan pada Gambar 5. Menetapkan target yang ingin dicapai berikut rekomendasi langkah perbaikan proses-proses TI yang diperlukan dalam rangka peningkatan nilai process capability level proses TI yang diharapkan ke depan. Rekomendasi perbaikan meliputi target nilai process capability yang diharapkan untuk dicapai, dan kegiatankegiatan yang diperlukan untuk mencapai target tersebut, serta cara mencapainya termasuk teknik pengukuran dan monitoring pencapaian. Merumuskan kesimpulan hasil penelitian sesuai dengan permasalahan penelitian tujuan dan hasil menggambarkan kondisi penyelenggaraan tata kelola TI saat ini, target pencapaian dan kegiatan perbaikan ke depan. Gambar 5 Alur penelitian Berdasarkan Gambar 5, alur penelitian diuraikan sebagai berikut. Studi literatur, yakni melakukan kajian teoritis terhadap literatur yang mendasari penelitian, baik berupa text book, penelitian terdahulu, dokumen bisnis, termasuk hasil audit atau kajian sebelumnya, maupun referensi khususnya terkait dengan tata kelola TI. Melakukan survey dan wawancara untuk mendapatkan pemahanan kondisi lingkungan bisnis organisasi studi kasus penelitian. Survei mencakup strategi dan tujuan bisnis. terhadap aspek bisnis mulai dari visi, misi, tujuan bisnis dan usaha yang dijalankan. Kegiatan dilakukan dengan cara studi dokumen dan wawancara dengan manajemen institusi, wawancara dengan personil kunci bisnis serta personil TI. Melakukan analisis terhadap hasil survey. Analisis dilakukan untuk mendapatkan gambaran kondisi penyelenggaraan tata kelola TI yang sedang berjalan saat ini. Selanjutnya dilakukan pengukuran tingkat kematangan atau process capability proses-proses TI yang diteliti ISSN: 1979-889X . ISSN: 2549-9041 . http://w. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan diuraikan mengenai Data hasil dan analisis nilai process capability Domain DSS. Nilai Process Capability Domain DSS Hasil pengukuran nilai process capability level domain DSS adalah 3,3 . Hal ini menunjukkan bahwa secara umum proses TI pada domain DSS telah didefinisikan dan dikelola termasuk target pencapaiannya. Secara detil nilai setiap proses diperlihatkan pada Tabel II. Proses DSS1 DSS2 DSS3 DSS4 DSS5 DSS6 TABEL II NILAI PROCESS CAPABILITY DOMAIN DSS Nilai Nilai Target Sekarang Gap Tabel 1I menunjukkan bahwa nilai process capability level domain DSS adalah 3,3 . , yang terdiri dari DSS1=4. DSS2=4. DSS3=4. DSS4=3. DSS5=3 dan DSS6=2. Hal ini berarti bahwa proses DSS1. DSS2. DSS3 telah memiliki process capability yang terukur dan Sedangkan DSS4 dan DSS5 memiliki tingkat process capability yang telah didefinisikan dan dikelola sesuai standar baku walaupun belum dilakukan pengukuran EVALUASI PENERAPAN IT GOVERNANCE DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA COBIT 5 PADA LAYANAN PUBLIK dan pengendalian. Sedangkan DSS6 memiliki tingkat process capability yang masih rendah, proses sudah ada dan telah memiliki luaran yang dikelola. Secara detail setiap proses akan diuraikan sebagai berikut. DSS01 Manage Operations Hasil pengukuran dan analisis data pada proses DSS01 diperlihatkan pada Tabel i. TABEL i HASIL PENGUKURAN PROCESS CAPABILITY DOMAIN DSS01 Nilai Process Capability Level Sekarang Hasil Pengamatan Predictable Target Predictable Gap Proses Manage Operations bertujuan memastikan seluruh kegiatan operasional layanan TI berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, dipantau, terukur dan dilaporkan secara rutin. Hasil pengamatan pengelolaan operasi layanan TI menunjukkan proses telah berjalan sesuai jadwal petugas pelayanan operasional TI. Pemantauan operasional layanan TI juga telah dilakukan termasuk yang dioperasikan oleh penyedia jasa dari pihak ketiga. Telah ditetapkan pula service level agreement (SLA) untuk penyedia jasa pihak ketiga termasuk pencapaiannya. Sedangkan untuk layanan TI internal belum dilakukan perhitungan SLA secara keseluruhan pada semua jenis Kondisi target yang diinginkan ke depannya adalah terdefinisinya SLA pada seluruh layanan yang disediakan, dimonitor dan dikendalikan pencapaian SLA-nya. Untuk direkomendasikan perbaikan pada proses ini adalah pada setiap layanan TI dibuat katalog layanan yang lebih lengkap, didalamnya telah didefinisikan SLA, penanggung jawab, pencapaian SLA dipantau, terukur dan dilaporkan pencapaiannya secara rutin setiap bulan terkait dengan hasil monitoring pencapaian SLA. Demikian pula dengan faktorfaktor kendala yang ada harus didefinisikan dan dipantau dan dikendalikan. DSS02 Manage Service Requests and Incidents Hasil pengukuran dan analisis data pada proses DSS02 diperlihatkan pada Tabel IV. TABEL IV HASIL PENGUKURAN PROCESS CAPABILITY DOMAIN DSS02 Nilai Sekarang Process Capability Level Hasil Pengamatan Target Gap Proses Manage Service Requests and Incidents bertujuan memastikan seluruh permintaan layanan TI dan insiden layanan TI dapat dikendalikan sesuai target service level agreement (SLA) yang telah ditetapkan. Permintaan layanan sifatnya permohanan baru dan harus dipenuhi sesuai prosedur dan SLA permintaan layanan baru. Sedangkan pengelolaan insiden merupakan penanganan terhadap gangguan atau kondisi tidak terhadap normal layanan TI. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat proses untuk penanganan permintaan layanan dan insiden . Permintaan layanan sesuai dengan prosedur permintaan dan pemenuhan layanan dan telah dijalankan dengan baik dan konsisten. Penanganan insiden juga telah dilakukan sesuai prosedur pengelolaan insiden telah dilaksanakan secara konsisten. Setiap penanganan insiden dimonitor dan dilaksanakan sesuai SLA layananan yang telah ditetapkan. Analisis terhadap trend insiden saat ini belum dilakukan baik berupa laporan harian, mingguan maupun bulanan. Untuk pengembangan ke depan maka diperlukan penanganan insiden, analisis tren insiden dilakukan untuk keperluan penanganan yang lebih cepat dan terukur. Untuk itu rekomendasi perbaikan ke depan adalah menetapkan SLA penanganan insiden untuk seluruh layanan TI, melakukan evaluasi penanganan insiden dalam bentuk laporan harian, mingguan, bulanan termasuk analisis tren insiden, sebagai dasar untuk melakukan perbaikan menyeluruh dan peningkatan efektifitas layanan. DSS03 Manage Problem Hasil pengukuran dan analisis data pada proses DSS03 diperlihatkan pada Tabel V. TABEL V HASIL PENGUKURAN PROCESS CAPABILITY DOMAIN DSS03 Nilai Sekarang Process Capability Level Hasil Pengamatan Predictable Target Predictable Gap Tujuan dari proses Problem Management adalah memastikan permasalahan yang terjadi pada layanan TI dapat diidentifikasi, diklasifikasikan dan dicari akar masalah . oot caus. penyebab terjadinya serta menemukan resolusi dengan tepat waktu dan mencegah kejadian berulang. Perbedaan insiden dengan problem terletak pada karakteristik insiden dan penyebabnya. Insiden yang terjadi secara berulang, meskipun telah dilakukan penanganan namun terjadi lagi dengan insiden yang sama, maka disebut problem, artinya ada sesuatu penyebab yang belum ditemukan solusi permanennya. Jika hal ini terjadi pada sebuah layanan maka segera dimasukkan sebagai kategori Pada penelitian kali ini, hasil pengamatan menunjukkan bahwa telah terdapat prosedur penanganan masalah . , implementasi penanganan masalah dijalankan sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Penanganan masalah juga telah dilakukan sesuai SLA, namun evaluasi tren masalah yang terjadi belum dilakukan. Untuk mencapai target perbaikan yang diinginkan maka kondisi yang diharapkan adalah selain pengelolaan masalah yang terukur, juga perlu dilakukan evaluasi kejadina masalah, baik secara harian, mingguan dan bulanan, sehingga dapat diketahui tren masalah yang sering terjadi. Setiap jenis masalah pada layanan perlu didefiniskan SLA penanganan masalah layanan TI . apat diintegrasikan dalam katalog layana. Untuk mencapai target tersebut maka rekomendasi perbaikan kedepan adalah proses insiden dan problem agar dipisahkan . , melakukan evaluasi Barometer. Volume 6 No. Juli 2021, 360-367 penanganan masalah dalam bentuk laporan harian, mingguan, bulanan termasuk analisis tren yang masalah DSS04 Manage Continuity Hasil pengukuran dan analisis data pada proses DSS04 diperlihatkan pada Tabel VI. TABEL VI HASIL PENGUKURAN PROCESS CAPABILITY DOMAIN DSS04 Nilai Sekarang Process Capability Level Hasil Pengamatan Established Target Predictable Gap Tujuan proses Manage Continuity adalah memastikan keberlangsungan layanan TI yang sifatnya kritikal dapat disediakan dengan tingkat layanan minimum sesuai kebutuhan bisnis. Dalam pengelolaan layanan TI, jika terjadi kondisi darurat tidak mesti seluruh layanan TI harus berjalan, tetapi dipilih layanan TI yang mendukung bisnis yang sifatnya vital. Layanan TI yang mendukung layanan vital inilah yang disebut layana TI kritikal. Hasil pengamatan penelitian menunjukkan bahwa institusi telah memiliki backup data dan aplikasi dilakukan ke disaster recovery center (DRC) secara mirroring untuk aplikasi kritikal seperti SAP. Prosedur backup data dan aplikasi juga telah disusun dan dilaksanakan. Meskipun demikian dokumen formal Business Continuity Plan (BCP) belum disusun dan ditetapkan sebagai dasar strategi dan prosedur backup DRC. Kondisi yang diharapkan ke depan adalah seluruh proses-proses bisnis vital diidentifikasi, layanan TI baik aplikasi maupun infrastrukturnya juga diidentifikasi sesuai kebutuhan bisnis dan data. Recovery time objective (RTO) dan recovery point objective (RPO) harus didefinisikan sehingga dapat diketahu toleransi kehilangan data jika terjadi bencana dapat didefinisikan. Demikian pula dengan periode backup dapat ditetapkan berdasarkan RPO dan RTO tersebut. Untuk rekomendasi perbaikan kedepan perlu disusun dokumen BCP dan DRP yang lengkap, ditetapkan dan diimplementasikan sebagai dasar penetapan strategi backup dan pembuatan DRC. DSS05 Manage Security Services Hasil pengukuran dan analisis data pada proses DSS05 diperlihatkan pada Tabel VII. TABEL VII HASIL PENGUKURAN PROCESS CAPABILITY DOMAIN DSS05 Nilai Sekarang Process Capability Level Hasil Pengamatan Target Gap Tujuan proses Manage Security Services adalah memastikan bahwa penyelenggaraan layanan TI memenuhi persyaratan keamanan informasi. Persyaratan keamanan informasi disusun secara terencana, dikomunikasikan dan diimplementasikan serta dioperasikan konsisten di seluruh lingkungan organisasi. Keamanan informasi tidak hanya keamanan fisik tetapi juga keamanan logik. Keamanan fisik meliputi ruangan, gedung, tempat kerja, dokumen fisik serta ISSN: 1979-889X . ISSN: 2549-9041 . http://w. keamanan manusia. Keamanan logik mencakup keamanan jaringan, aplikasi, data, dan aset lainnya. Hasil pengamatan penelitian menunjukkan bahwa sistem manajemen keamanan informasi telah diterapkan berupa Kebijakan Pengamanan Informasi, standar dan prosedur keamanan informasi. Kebijakan, standar dan prosedur tersebut disusun sesuai kebutuhan. Sedangkan evaluasi atau pengujian pengamanan informasi yang dilakukan selama ini melalui Vulnerability Assessment (VA) dan Penetration Testing secara internal. Pengelolaan keamanan informasi belum menerapkan standar berupa sistem manajemen keamanan informasi baik aspek penyusunan sistem manajemen keamanannya maupun Kondisi yang diharapkan ke depan adalah pengelolaan keamanan informasi mengacu pada bestparctice seperti ISO 27001: information security management system (ISMS). Untuk rekomendasi perbaikan ke depan adalah menerapkan standar ISMS dalam penyusunan sistem manajemen keamanan informasi, audit dan sertifikasi sistem manajemen keamanan informasi (ISMS) standar internasional seperti ISO/IEC 27001:2017, atau dapat menggunakan bestpractice internasional lainnya. DSS06 Manage Business Process Controls Hasil pengukuran dan analisis data pada proses DSS06 diperlihatkan pada Tabel Vi. TABEL Vi HASIL PENGUKURAN PROCESS CAPABILITY DOMAIN DSS006 Nilai Sekarang Process Capability Level Hasil Pengamatan Target Gap Tujuan proses Manage Business Process Controls difokuskan pada bagaimana memastikan transaksi bisnis, pertukaran data bisnis antar unit kerja, individu maupun lintas institusi dilakukan pengendalian sesuai standar keamanan informasi. Pertukaran informasi yang dimaksud dapat dilakukan melalui sistem atau layanan TI maupun yang dilakukan secara manual. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pengendalian dokumen informasi bisnis maupun data transaksi bisnis telah dilakukan, namun belum didasarkan pada klasifikasi tingkat Klasifikasi data berdasarkan tingkat keamanan belum dibuat kategori, misalnya sangat rahasia, rahasia, internal, dan umum. Kategorisasi data bisnis belum didefinisikan sesuai tingkat kritikalitasnya. Kondisi yang diharapkan ke depan adalah melakukan pendefinsian kategorisasi data bisnis berdasarkan tingkat kritikalitasnya. Seluruh data bisnis harus dilakukan pemetaan sehingga dapat ditentukan masuk kategori mana dari aspek klasifikasi keamanan data. Untuk rekomendasi perbaikan ke depan, perlu membuat standar kategori data bisnis berdasarkan kerahasiaan atau keamanan informasi. Membuat standar dan prosedur pengelolaan dan pengendalian keamanan data bisnis berdasarkan tingkat kerahasiaan datanya. Melakukan audit pengelolaan dan penerapan standar dan prosedur keamanan data bisnis secara rutin, dan dapat dilakukan berdasarkan sistem manajemen keamanan informasi (ISMS) EVALUASI PENERAPAN IT GOVERNANCE DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA COBIT 5 PADA LAYANAN PUBLIK standar internasional seperti ISO/IEC 27001:2017. Hasil pengukuran nilai process capability domain DSS seperti diperlihatkan pada Gambar 6. Gambar 6 Nilai process capability saat ini dan target process capability domain DSS Berdasarkan Gambar 6, nilai process capability level domain DSS adalah 3,3 . Nilai target yang diinginkan adalah 4,0 . , dan masih terdapat gap atau kesenjangan yang harus dipenuhi sebesar 0,7 nilai. Hal ini berarti bahwa secara keseluruhan proses TI pada domain DSS telah didefinisikan dan dikelola termasuk target pencapaiannya Proses yang masih belum memenuhi target yakni DSS05 dan DSS06 sehingga perlu perbaikan. Sementara proses DSS01. DSS02. DSS03 dan DSS04 telah memenuhi target yang diharapkan sehingga perlu Dalam bentuk radar chart hasil pengamatan process capability level domain DSS saat ini dan target perbaikan yang direkomendasikan dalam penelitian ini seperti diperlihatkan pada Gambar 7. Gambar 7 Radar chart kinerja saat ini dan target process capability domain DSS IV. KESIIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tata kelola TI atau IT Governance pada layanan publik BAKTI telah diimplementasikan namun belum sepenuhnya memenuhi target yang diinginkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai process capability level domain DSS adalah 3,3 . , yang terdiri dari DSS1=4. DSS2=4. DSS3=4. DSS4=3. DSS5=3 dan DSS6=2. Tiga proses telah menuhi target kinerja yakni DSS01. DSS02. DSS03 dan DSS04. Sedangkan tiga proses lainnya masih dibawah target kinerja yakni DSS04. DSS05 dan DSS06, sehingga perlu dilakukan perbaikan. Target kinerja yang diharapkan adalah predictable atau berada pada nilai proses capability 4,0, sehingga masih Untuk proses DSS04 direkomendasikan untuk dilakukan penyusunan dokumen BCP dan DRP sebagai dasar penetapan strategi backup dan pembuatan DRC. Sedangkan DSS05 direkomendasikan untuk dilakukan evaluasi, audit dan sertifikasi berdasarkan sistem manajemen keamanan informasi (ISMS) standar internasional seperti ISO/IEC 27001:2017. Demikian pula untuk DSS06 direkomendasikan pengendalian informasi dan data bisnis sesuai standar sistem manajemen keamanan informasi (ISMS). DAFTAR RUJUKAN Peterson. Integration Strategies and Tactics for Information Technology Governance. London, 2000. Van Grembergen. De Haes. , & Guldentops. Structures. Processes and Relational Mechanisms for IT Governance. Belgium. Idea Group, 2004 . Steven and V. Wim. Enterprise Governance of Information Technology: Achieving Alignment and Value Featuring COBIT 5. Springer, 2015. Nugroho. Heru. Proposed IT Governance at Hospital Based on COBIT 5 Framework. International Journal of Applied IT Vol. 01 No. 02, pp 54-58, 2017. Castillo. , & Stanojevic. An Assessment Of The IT Governance Maturity At Stockhols Lokaltrafik, 2011. Khther. , & Othman. COBIT Framework As Guideline Of Effective IT Governance In Higher Education. International Journal of Information Technology Convergance and Services (IJITCS), 3, . Huang. Zmud. , & Price. Influencing the effectiveness of IT governance practices through steering committees and communication policies. European Journal of Information Systems, 2010. Setiawan. Ari, & Andty F. Johanes F. IT Governance Evaluation Using Cobit 5 Framework On The National Library. Journal of Information System. Volume 15. Issue 1, pp. April 2019. Lorences. , & Avila. The Evaluation and Improvement of IT Governance. JISTEM - Journal of Information Systems and Technology Management, pp 219-234, 2013. IT Governance Institute. COBIT 4. 1 Framework. Control Objectives. Management Guidelines and Maturity Models. USA: ITGI, 2007. COBIT 5: A Business Framework for the Governance and Management of Enterprise IT. ISACA, 2012. Barometer. Volume 6 No. Juli 2021, 360-367 . Weill. , & Woodham. DonAot Just Lead. Govern: Implementing Effective IT Governance. , 2002. Stephen. The Basics of IT Audit. Syngress, 2013. COBIT Framework: Introduction Methodology. ISACA, 2018 ISSN: 1979-889X . ISSN: 2549-9041 . http://w.