Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 Pengaruh Edukasi dan Pendampingan Self Efficacy Ibu setelah Pemberian Telur 1 Butir Setiap Hari terhadap Status Gizi Balita Wasting Diah Auliany1. Razak Thaha1. Dewi Purnamawati1. Munaya Fauziah1. Nurfadhilah1 AProgram Studi Magister Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Jakarta Jalan KH Ahmad Dahlan. Cirendeu. Ciputat. Tangerang Selatan. Kode Pos 15419 Korespondensi E-mail: diah. auliany@gmail. Submitted: 17 September 2024. Revised: 29 Novemebr 2024. Accepted: 25 Desember 2024 Abstract Child and toddler malnutrition has become a health emergency due to the imbalance of nutritional intake, including the lack of animal protein such as eggs, meat/fish, in addition to breastfeeding. According to data from BPS in 2023, it was stated that the egg consumption of the Indonesian population is only 10 eggs per month, while it is recommended to consume one egg daily. This study aims to analyze the effect of education and self-efficacy assistance, along with the additional provision of one egg per day, on the nutritional status of toddlers with malnutrition. This study uses a quasi-experimental design and the tests conducted include univariate analysis, bivariate analysis with independent two-tail T-Test, and dependent T-Test. Both groups demonstrated an increase in the nutritional status of malnourished toddlers, but the increase in nutritional status in the intervention group was higher than in the control group. The reduction in the number of wasted children in the intervention group was 10 children . 33%), while in the control group it was 8 children . 67%). There was an improvement in nutritional status with self-efficacy support and the provision of one egg daily. however, the improvement was not significant in the intervention group compared to the control group. Future research might consider providing weekly assistance and extending the period beyond 28 days to achieve better results. Keyword: undernutrition, toddlers, eggs, self-efficacy Abstrak Wasting pada anak dan balita menjadi kondisi kesehatan darurat akibat tidak seimbangnya pemberian gizi salah satunya protein hewani telur, daging/ikan selain pemberian asi. Menurut data BPS tahun 2023 dinyatakan bahwa konsumsi telur penduduk Indonesia hanya 10 butir perbulan sedangkan berdasarkan anjuran 1 butir telur dikonsumsi setiap harinya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi dan pendampingan Self efficacy dengan tambahan pemberian telur 1 butir perhari terhadap status gizi balita wasting. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen dan uji yang dilakukan adalah uji univariat, bivariat dengan T-Test Independen two tail dan T-Test Dependen. Kedua kelompok ini menunjukkan adanya peningkatan status gizi pada balita wasting, tetapi kenaikan status gizi kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Penurunan angka balita wasting pada kelompok intervensi terlihat sebanyak 10 anak . ,33%), sedangkan pada kelompok kontrol sebanyak 8 anak . ,67%). Terjadi kenaikan status gizi dengan pendampingan self-efficacy dan juga dengan pemberian 1 telur setiap harinya namun kenaikannya tidak signifikan pada kelompok intervensi terhadap kontrol. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan pendampingan setiap minggu dan waktu yang lebih dari 28 hari sehingga akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Kata Kunci: wasting, balita, telur, self-efficacy Pendahuluan Gagal tumbuh . ailure to thriv. disebabkan oleh asupan makanan yang tidak adekuat, sehingga orang tua perlu memahami kebutuhan gizi anak karena dampaknya bisa permanen . Masalah wasting dapat menurunkan kecerdasan dan produktivitas, dengan 50. 5% pertumbuhan anak dipengaruhi oleh gizi seimbang . Pola MP-ASI yang kurang beragam dapat menyebabkan defisiensi zat gizi, menghambat perkembangan anak, dan terkait erat dengan wasting akibat rendahnya konsumsi protein hewani . Data BPS 2023 menunjukkan konsumsi telur di Indonesia hanya 10 butir per bulan, jauh dari anjuran Kemenkes RI, yaitu satu butir sehari . Pencegahan wasting lebih efektif dibanding pengobatan, terbukti dengan peningkatan status gizi sebesar 52. 5% pada balita underweight setelah intervensi makanan tinggi protein hewani selama 14 hari . Pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat dapat menyebabkan kekurangan gizi, meningkatkan risiko wasting, seperti terlihat dalam Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 studi di Lombok yang menunjukkan risiko wasting meningkat dengan asupan energi dan protein rendah. Di Puskesmas Baja. Tangerang, pada April 2024, dari 2. 626 balita yang terdata, 107 balita underweight, 88 wasting, dan 60 wasting, menjadikan Puskesmas Baja lokus wasting berdasarkan SK walikota. Penelitian di Puskesmas Purwodadi I menunjukkan pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis olahan telur dapat meningkatkan berat badan balita bawah garis merah (BGM) usia 1-5 tahun secara signifikan, menegaskan pentingnya telur sebagai sumber nutrisi utama bagi anak. Penelitian . menunjukkan bahwa meskipun 89,3% peserta mengenal wasting sebagai gangguan pertumbuhan, hanya 10,7% memiliki pengetahuan memadai. Self efficacy ibu dalam menyusui dan pemberian MP-ASI juga cenderung rendah, memengaruhi status gizi balita dan prevalensi wasting . Peningkatan pengetahuan dan pendampingan ibu dapat meningkatkan self efficacy, yang berperan penting dalam pola asuh gizi balita . Namun, penelitian terkait konsumsi protein hewani telur dan self efficacy ibu dalam konteks gizi balita di Indonesia masih terbatas, khususnya di Kota Tangerang, sehingga diperlukan studi lebih lanjut tentang pengaruh edukasi dan pendampingan terhadap status gizi balita kurang gizi setelah pemberian telur sehari. Dengan demikian dilakukan penelitin ini dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi dan pendampingan Self efficacy dengan tambahan 1 butir telur setiap hari terhadap status gizi balita wasting serta untuk menganalisis pengaruh edukasi dan pendampingan Self efficacy saja terhadap status gizi balita wasting. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan kuasi-eksperimen. Peserta penelitian akan dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberikan edukasi dan pendampingan Self efficacy di tambah PMT 1 telur setiap hari dan kelompok kontrol diberikan hanya edukasi dan pendampingan Self efficacy saja. Gambar 1 Skema Rancangan Penelitian Keterangan gambar: C O1 adalah pengukuran z-score sebelum perlakuan C O2 adalah pengukuran z-score minggu ke-1 kelompok intervensi C O3 adalah pengukuran z-score minggu ke-2 kelompok intervensi C O4 adalah pengukuran z-score minggu ke-3 kelompok intervensi C O5 adalah pengukuran z-score minggu ke-4 kelompok intervensi C O6 adalah pengukuran z-score sebelum perlakuan C O7 adalah pengukuran z-score minggu ke-1 kelompok kontrol C O8 adalah pengukuran z-score minggu ke-2 kelompok kontrol C O9 adalah pengukuran z-score minggu ke-3 kelompok kontrol C O10 adalah pengukuran z-score minggu ke-4 kelompok kontrol Lokasi Penelitian ini di 3 kelurahan yaitu kelurahan Uwung Jaya, kelurahan Cibodas Baru dan kelurahan Jati Uwung yang terletak di wilayah kerja Puskesmas Jalan Baja di Kecamatan Cibodas Kota Tangerang. Intervensi dilaksnakan selama 4 minggu pada minggu kedua bulan Mei hingga minggu kedua bulan Juni. Selama jangka waktu empat minggu, para peneliti akan memberikan telur kepada ibuibu yang memiliki balita gizi kurang. Setiap ibu dan anak akan mendapat satu butir telur dengan takaran Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 satu kilogram . inimal 14 buti. Jumlah telur yang dikonsumsi balita dipantau oleh peneliti dan dicatat dalam form harian dan aplikasi One Day One Egg yang dikembangkan peneliti. Populasi penelitian ini adalah semua balita gizi kurang . yang ada di 3 kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Baja. Total Jumlah balita adalah 60 anak dengan status gizi kurang . yang terdiri dari 42 balita wasting saja dan 18 balita wasting stunting. Karena keterbatasan jumlah balita gizi kurang dalam populasi maka seluruh balita tersebut dimasukkan sebagai sampel, atau total Terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok intervensi edukasi dan pendampingan Self efficacy dengan telur 1 telur setiap hari sebanyak 30 balita dan kelompok kontrol edukasi dan pendampingan Self efficacy saja sebanyak 30 balita. Sebanyak 42 anak dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, serta 18 anak dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Sehingga setiap kelompok terdiri dari 21 gizi kurang dan 9 stunting dengan gizi kurang. Kriteria Inklusi penelitian yang digunakan : Balita berusia 6-59 bulan dengan status gizi kurang . Ibu balita bersedia mengikuti program edukasi dan pendampingan selama penelitian. Balita dan ibu tinggal di wilayah kerja Puskesmas Baja. Kriteria Eksklusi penelitian yang digunakan : Balita dengan penyakit kronis atau kondisi medis yang mempengaruhi status gizi. Ibu yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik atau tidak kooperatif. Balita yang tidak mengikuti intervensi secara penuh selama periode penelitian. Penelitian ini memiliki alur penelitian sebagai berikut: Tahap 1 Skrinning Subjek (Data EPPGBM) Subjek Balita Gizi Kurang N : 60 Informed Consent Tahap 2 Pengelompokkan Subjek A : Kelompok Intervensi : N : 21 9 = 30 B : Kelompok Kontrol : N : 21 9 = 30 Self Efficacy (Pre-Tes. Pengukuran BB & TB E Gizi Kurang Karakteristik Balita dan Ibu Balita Tahap 3 Kelompok Kontrol (N:. : Edukasi dan pendampingan self efficacy pada balita status gizi kurang. Pengukuran BB dan TB setiap minggu. Pemberian taburia. Kelompok intervensi (N:. : Edukasi dan pendampingan self efficacy dan telur 1 butir setiap hari pada balita status gizi Pengukuran BB dan TB setiap Pemberian taburia. Selama 28 hari Tahap 4 Monitoring dan Evaluasi Kelompok Intervensi Status gizi balita akhir kuesioner Self Efficacy . Monitoring dan Evaluasi Kelompok Kontrol Status gizi balita akhir kuesioner Self Efficacy . Gambar 2. Alur Penelitian Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 Peneliti mengadakan pertemuan satu minggu sekali pada ibu balita untuk melakukan pengukuran antropometri balita dan self-efficacy ibu balita di Puskesmas. Pengukuran dilakukan setiap hari senin untuk kelompok intervensi, sedangkan untuk kelompok kontrol dilakukan setiap hari selasa. Setelah pengukuran dan edukasi self-effifcacy diberikan, ibu balita diberikan 16 butir telur atau 1 kg serta taburia yang akan dikonsumsi sebanyak 1 butir per hari dalam 1 minggu. Pemberian telur ini akan diberikan selama 4 minggu . Pemantauan konsumsi telur pada balita akan dimonitor langsung oleh peneliti melalui formulir konsumsi makanan yang diberikan pada ibu balita yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Formulir ini akan dilaporkan kepada peneliti secara harian untuk melihat apakah balita mengonsumsi telur. Sehingga, selama masa intervensi balita wajib mengonsumsi setidaknya 28 butir Konsumsi telur diluar stok telur yang diberikan diperbolehkan. Pada kelompok kontrol, peneliti juga akan mengadakan pertemuan satu minggu sekali pada ibu balita kelompok kontrol untuk melakukan pengukuran antropometri balita dan self-efficacy ibu balita di Puskesmas. Setelah melakukan pengukuran antropometri balita dan self-efficacy ibu, ibu balita akan diberikan taburia dan souvenir yang senilai dengan harga telur yang diberikan pada ibu balita di kelompok perlakuan. Pemberian taburia hanya diberikan 1 kali untuk 1 bulan . , sedangkan pemberian sovenir akan dilakukan 1 minggu sekali saat pengukuran antropometri balita. Ibu balita juga akan mendapatkan formulir pemantauan konsumsi makan yang setiap harinya akan dilaporkan kepada peneliti. Pada penelitian ini, balita diperbolehkan mengonsumsi telur, karena balita kelompok intervensi mengonsumsi setidaknya 28 butir telur. Kader posyandu hanya berperan membantu peneliti untuk mendatangkan ibu dan balita apabila ada ibu balita yang sulit dihubungi atau kesulitan untuk datang ke puskesmas. Jika ibu balita tidak hadir, maka peneliti diantar kader kunjungan rumah untuk melakukan pengukuran dan edukasi pendampingan dengan diberikan telur/sovenir. Para peneliti yang menggunakan studi berbasis lokasi mengumpulkan sumber informasi primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan langsung dari responden, sedangkan data sekunder berasal dari data e-PPGBM: Tinggi Badan/Panjang Badan (TB/PB) Stadiometer digunakan untuk mengukur tinggi badan subjek dengan ketelitian 0,1 cm. Dengan menggunakan metode stand-up and fit, anak di atas usia dua tahun dapat diukur tinggi badannya. Pada saat yang sama, metode ini direkomendasikan untuk mengukur panjang badan anak antara usia 0 dan 2 tahun dengan menggunakan infantometer yang mengharuskan anak berbaring. Berat Badan (BB) Timbangan digital, mudah dilihat, dan terkalibrasi digunakan untuk mengukur berat badan. ketelitian timbangan adalah 0,1 kg. Catatan harian 1 day 1 egg Ibu balita mencatat asupan makan telur setiap hari kedalam catatan harian 1 day 1 egg yang akan dilaporkan kepada peneliti setiap harinya. Tingkat Pendidikan Ibu Pendidikan terakhir yang ditempuh ibu balita hingga mendapatkan ijazah dan dinyatakan lulus Tingkat Pengeluaran Total pengeluaran untuk makanan sebuah keluarga ditentukan dengan,menjumlahkan pengeluaran untuk makan keluarga dan di bandingkan dengan total seluruh gaji anggota keluarga. Pengeluaran keluarga dikatakan rendah jika pendapatan