Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 11. Nomor 2, 2024 pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://ejournalugj. com/index. php/Deiksis Students' Metacognitive Awareness in the Implementation of the Merdeka Curriculum in Indonesian Language Subject at SMAN 8 Padang Fariq, 2*Dina Ramadhanti, 3Lira Hayu Afdetis Mana 1,2,3Universitas PGRI Sumatera Barat dinaramadhanti32@gmail. ARTIKEL INFO A B S T R A CT Article history: Received 20 April 2024 Accepted 30 Mei 2024 Published 20 Juli 2024 Metacognition plays a central role in controlling the thinking process. Students with strong metacognitive skills are assumed to be capable of managing their own thought processes, thereby becoming independent Metacognitive awareness holds an important role in the learning Therefore, this study aims to describe studentsAo metacognitive awareness in the implementation of the Merdeka Curriculum in the Indonesian language subject at SMAN 8 Padang. This research employs a quantitative approach with a descriptive method. Data were collected through questionnaires distributed to 100 students and interviews conducted with selected participants. Data analysis was carried out in two ways: descriptive analysis for the questionnaire data and content analysis for the interview data. The findings indicate that students' metacognitive awareness in the implementation of the Merdeka Curriculum in the Indonesian language subject at SMAN 8 Padang is considered good, with an overall percentage of 79. In terms of metacognitive knowledge, students showed a very good level of awareness . 47%), while in terms of metacognitive strategies, their awareness was good . 36%). Students have demonstrated awareness of metacognitive knowledge but still require encouragement to enhance their awareness of metacognitive strategies. Teachers are also encouraged to motivate students and consistently engage in activities that foster the development of studentsAo metacognitive awareness. Keywords: Indonesia Language. Kurikulum Merdeka. Metacognitive Awareness DOI: 10. 33603/dj. PENDAHULUAN Kurikulum Merdeka diartikan sebagai rancangan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan tenang, santai, menyenangkan, dan bebas untuk menunjukkan bakat alami siswa. Kurkulum merdeka dikembangkan dengan harapan agar dapat menghasilkan generasi muda yang mampu memahami materi yang diajarkan oleh guru secara holistik dan dapat mengetahui fungsinya dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak hanya sekedar pintar untuk mengingat yang diajarkan oleh guru (Rahayu et al. , 2. Pembelajaran pada kurikulum Merdeka Belajar khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia pembelajaran dilakukan dengan cara pembelajaran Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembalajaran yang dilakukan dengan cara membagi berberapa kelompok siswa sesuai dengan minat peserta didik. Fariq1, dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dari kebutuhan belajarnya. Dalam hal ini guru tidak menuntut siswa untuk terlalu fokus pada semua pembelajaran yang ada tetapi siswa diperbolehkan untuk belajar sesuai dengan minat sehingga pembelajaran dilakukan dengan sesuai kebutuhan siswa sendiri. Perubahan kurikulum tidak luput dari perubahan cara belajar siswa. Siswa belajar sesuai dengan cara belajar yang diterima berdasarkan cara pembelajaran dari kurikulum. Saat ini, sistem pendidikan di Indonesia memakai Kurikulum Merdeka sebagai pondasi dalam Melihat dari kurikulum merdeka tersebut, pembelajaran bebas dilakukan sesuai dengan minat belajar siswa diinginkan. Dengan demikian, perubahan cara belajar ini menumbuhkan kesadaran metakogntif yang berbeda bagi siswa. Metakognitif dipandang sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi yang berfungsi mengendalikan kognisi seseorang (Flavell, 1. Metakognisi ini mengacu pada tingkat berpikir yang melibatkan kontrol aktif terhadap proses perencanaan atau berpikir dalam situasi belajar. Selama proses pembelajaran, siswa harus dapat mengontrol pengendalian situasi atau tingkat emosi karena pengontrolan situasi merupakan hubungan timbal balik dengan kognitif, sedangkan tingkat emosi mempunyai hubungan timbal balik dengan metakognitif (Ramadhanti et al. , 2. Metakognitif dipandang sebagai aspek kecerdasan manusia (Akyol & Garrison. Kesadaran metakognitif mempunyai peranan besar terhadap proses pembelajaran Proses pembelajaran yang dimulai dari mengimpor tema, pembentukan pertanyaan, partisipasi belajar, hingga pemberian umpan balik evaluasi dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan membantu siswa memahami dan menguasi psikologi secara mendalam sehingga kemampuan analisis, kemampuan evaluasi, dan kemampuan inovasi. Metakognitif siswa sangat dibutuhkan dalam suatu pembelajaran mengingat dengan hal tersebut dapat menentukan suatu kualitas peserta didik. Kesadaran metakogntif mempunyai dua faktor yang menjadi penentu terjadinya metakogntif, yaitu pengetahuan metakogntif, dan strategi Pertama Pengetahuan metakognitif merupakan pengetahuan mengenai kognisi sesorang tentang kemampuan strategi, dan pengaturan diri bagaimana menggunakan kemampuan dan strategi yang tepat dalam pembelajaran. Pengetahuan metakogntif terdiri dari beberapa indikator, yaitu pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisonal. Kedua strategi metakogntif merupakan tindakan-tindakan yang melebihi alat-alat kogntif dan menyediakan cara untuk p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 M. Fariq1 dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. pembelajar dalam mengordinaksikan proses belajar. Strategi metakogntif terdiri dari beberapa indikator, yaitu strategi perencanaan, stragei pemantauan, dan strategi evaluasi (Flavell, 1. Kesadaran metakognitif sangat diperlukan untuk membentuk kemandirian siswa dalam belajar. Siswa dapat mengontrol pemikirannya sendiri, mengetahui kelebihan dan kelemahannya dalam belajar, dan mengetahui kapan harus menggunakan strategi yang tepat untuk belajar (Xiao, 2. (Veenman et al. , 2. Kurikulum Merdeka memungkinkan siswa untuk dapat belajar secara mandiri dan memberikan kebebasan kepada mereka untuk dapat belajar sesuai dengan minat dan kebutuhan belajarnya (R. Putri et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mendeskripsikan kesadaran metakognitif siswa dalam penerapan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 8 Padang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif deskriptif untuk menentukan kesadaran metakognitif siswa dalam implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Subjek penelitian ini adalah sebanyak 100 orang siswa kelas XI SMAN 8 Padang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu: kuesioner dan pedoman wawancara. Kuesioner yang digunakan berupa self report pengukuran kesadaran metakognitif yang dimodifikasi dari Ramadhanti et al. , . yang berjumlah 50 butir penyataan. Pertanyaan yang disajikan dalam pedoman wawancara berjumlah 13 butir pertanyaan, yaitu: . Apakah Anda memahami materi pembelajaran? . Apa yang Anda lakukan ketika merasa tidak memahami materi pembelajaran? . Ketika Anda diberikan tugas oleh guru, bagaimana cara Anda memahami konsep tugas yang diberikan itu? . Apakah Anda langsung memahami tugas yang diberikan tersebut atau bertanya dulu kepada guru? . Setelah mengerjakan tugas, apakah Anda merasa yakin dengan cara penyelesaian tugas yang digunakan? . Jelaskan langkah-langkah yang Anda gunakan dalam mengerjakan tugas? . Apakah Anda pernah mengerjakan hal yang sama sebelumnya? . Apakah hal yang membuat Anda percaya diri dalam mengerjakan tugas? . Setelah mengerjakan tugas, apakah Anda memeriksa kembali sebelum menyerahkan kepada guru? . Apakah Anda yakin dengan hasil karya Anda? . Apa yang membuat Anda yakin dengan tugas yang Anda kerjakan? . Apakah Anda dapat memastikan bahwa tulisan Anda tersebut sesuai M. Fariq1, dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. dengan kriteria tugas yang diberikan guru? . Apakah simpulan yang Anda peroleh setelah mengerjakan tugas? Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu: . Kuesiner selfreport kesadaran metakognitif diberikan kepada subjek penelitian. Melakukan wawancara kepada subjek penelitian terpilih untuk mengkonfirmasi jawaban yang mereka berikan dalam kuesioner. Analisis data juga dilakukan dengan dua cara, yaitu: analisis deskriptif data angket dan analisis konten hasil wawancara. Untuk analisis deskriptif, kuesioner yang menggunakan skala guttman diberikan skor untuk masingmasing jawaban subjek penelitian. Skor penelitian setiap butir pernyataan angket ada dua yaitu 0 untuk jawaban AotidakAo dan 1 untuk jawaban AoyaAo. Selanjutnya, dilakukan penghitungan frekuensi capaian skor jawaban setiap subjek penelitian pada masingmasing variabel kesadaran metakognitif. Rata-rata skor perolehan masing-masing variabel penelitian diketahui dengan membagi antara skor total dengan perkalian antara jumlah r dengan jumlah item dan bobot tertinggi (Sudjana, 2. Selanjutnya, dilakukan analisis konten untuk data hasil wawancara untuk mengkonfirmasi jawaban yang diberikan oleh subjek penelitian dalam angket. HASIL DAN PEMBAHASAN Kesadaran metakognitif dalam penerapan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Bahasa Indonesia diukur berdasarkan dua kategori, yaitu: pengetahuan metakognitif dan strategi metakognitif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kesadaran metakognitif siswa dalam penerapan Kurikulum Merdeka mata pelajaran Bahasa Indonesia tergolong baik dengan persentase 79,10%. Dari segi pengetahuan metakognitif, siswa memiliki kesadaran yang sangat baik dengan persentase 82,47%. Dari segi strategi metakognitif, siswa memiliki kesadaran yang baik dengan persentase 77,36%. Pengetahuan metakognitif Pengetahuan metakognitif terdiri dari atas tiga sub indikator, yaitu: pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedur, dan pengetahuan kondisional. Pertama, pengetahuan Dari segi pengetahuan deklaratif, siswa memiliki kesadaran yang sangat baik dengan persentase 83,00%. Berikut ini disajikan hasil rekapitulasi respons siswa melalui kuesioner self-report tentang kesadaran pengetahuan deklaratif. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 M. Fariq1 dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. Tabel 1. Respons Siswa terhadap Kesadaran Pengetahuan Deklaratif Pernyataan Saya tahu bagaimana kelebihan dan kelemahan saya dalam belajar Bahasa Indonesia Saya mengetahui bagian apa saja yang penting dalam belajar Bahasa Indonesia Saya menggunakan materi yang diajarkan sesuai dengan yang dipelajari dalam belajar Bahasa Indonesia Saya dapat memahami konsep yang diajarkan oleh guru dalam belajar bahasa Indonesia Saya mempunyai hal yang perlu diperhatikan dalam belajar bahasa indonesia Saya dapat mengelola informasi yang penting untuk dijadikan pedoman dalam menulis teks bahasa Indonesia Saya tahu dengan baik bagaimana kemampuan saya dalam mengembangkan informasi dalam belajar bahasa Saya sangat menyukai materi yang berhubungan dengan teks dalam pembelajaran bahasa Indonesia Tidak Berdasarkan Tabel 1 di atas, siswa memiliki kesadaran pengetahuan deklaratif yang sangat baik tentang kelebihan dan kelemahannya dalam belajar, mengetahui bagian apa saja yang penting dalam belajar Bahasa Indonesia, menggunakan materi yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan belajar Bahasa Indonesia, memahami konsep yang diberikan oleh guru, mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, dapat mengelola informasi yang penting untuk dijadikan informasi penting dalam menulis beragam teks bahasa Indonesia, mengetahui kemampuannya dalam mengembangkan informasi dalam belajar, dan menyukai materi pembelajaran tentang teks. Saat dikonfirmasi melalui wawancara, ditanyakan tentang seberapa pahamnya siswa tentang materi pembelajaran dan hal yang dilakukan saat tidak memahami materi pembelajaran, sebagaimana petikan hasil wawancara berikut ini. Saya dapat memahami materi pelajaran bahasa Indonesia dengan baik. Apabila saya tidak dapat paham, saya bertanya kepada guru, membava kembali, atau mencari di internet tentang materi tersebut (P1a/SP. Berdasarkan kutipan wawancara diatas, dapat dijelaskan bahwa siswa dengan kesadaran metakognitif yang tinggi dapat memanfaat semua hal dalam belajar. Misalnya, ketika tidak memahami materi pelajaran, siswa menggunakan semua media yang ada untuk lebih memahami materi pelajaran sehingga meningkatkan pemahaman mereka dalam melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia. Fariq1, dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. Kedua, pengetahuan prosedural. Dari segi pengetahuan prosedural, siswa memiliki kesadaran yang sangat baik dengan persentase 80,00%. Berikut ini disajikan hasil rekapitulasi respons siswa melalui kuesioner self-report tentang kesadaran pengetahuan procedural. Tabel 2. Respons Siswa terhadap Kesadaran Pengetahuan Prosedural Pernyataan Saya mampu mengembangkan pola pikir saya dalam belajar bahasa Indonesia Saya menentukan sebuah topik sebelum membuat sebuah teks dalam belajar bahasa Indonesia Saya dapat mengikuti langkah-langkah yang benar dalam memahami materi pelajaran bahasa Indonesia Saya mengetahui diri saya sangat mahir dalam beberapa bidang yang berhubungan dengan pembelajaran bahasa Indonesia Tidak Berdasarkan Tabel 2 di atas, siswa memiliki kesadaran pengetahuan prosedural yang sangat baik, yaitu: siswa mampu mengembangkan pola pikirnya dalam belajar bahasa Indonesia, mampu menentukan topik sebelum menuliskannya ke dalam sebuah teks, mengikuti langkah-langkah yang benar dalam memahami materi pembelajaran bahasa Indonesia, dan mengetahui tentang kelebihan/kemahiran yang dimiliki sehubungan dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Saat dikonfirmasi melalui wawancara, ditanyakan tentang langkah-langkah yang digunakan dalam menyelesaikan tugas menulis cerpen, siswa memberikan jawaban berikut ini. Misalnya dalam membuat sebuah cerpen, saya membuat cerpen berdasarkan struktur yang terdapat pada cerpen. Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut. Saya bisa membuat sebuah karya yang menarik (P1b/SP. Langkah-langkah yang saya gunakan biasanya berpatokan pada buku. Saya membuat sebuah cerpen dengan melihat contoh dari buku tentang bagaimana membuat cerpen yang benar (P1b/SP. Berdasarkan kutipan wawancara di atas, dapat dijelaskan bahwa siswa yang memiliki kesadaran metakognitif yang tinggi mampu menuangkan hasil imajinasinya berdasarkan materi yang dipelajari. Pola pikir yang terasah dapat membantu peserta didik dalam mengerjakan tugas bahasa Indonesia. Ketiga, pengetahuan kondisional. Dari segi pengetahuan kondisional, siswa memiliki kesadaran yang sangat baik dengan persentase 82,40%. Berikut ini disajikan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 M. Fariq1 dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. hasil rekapitulasi respons siswa melalui kuesioner self-report tentang kesadaran pengetahuan kondisional. Tabel 3. Respons Siswa terhadap Kesadaran Pengetahuan Kondisional Pernyataan Saya dapat memotivasi diri ketika belajar bahasa Indonesia Saya menggunakan berbagai informasi sendiri untuk membantu saya belajar bahasa Indonesia Saya menggunakan cara berpikir yang sistematis dalam mengerjakan tugas pembelajaran bahasa Indonesia Saya mengetahui kapan pemikiran saya dibutuhkan dalam belajar bahasa Indonesia Saya belajar paling baik ketika topik pembelajaran sangat menarik bagi saya terutama dalam belajar bahasa indonesia Tidak Berdasarkan Tabel 3 di atas, siswa memiliki kesadaran pengetahuan kondisional yang sangat baik, yaitu: siswa dapat memotivasi dirinya ketika belajar, mampu menggunakan berbagai informasi untuk membantunya belajar, menggunakan cara berpikir yang sistematis dalam mengerjakan tugas, mengetahui kapan pemikirannya dibutuhkan dalam belajar, dan merasa paling baik jika mendapatkan topik pembelajaran yang menarik. Saat dikonfirmasi melalui wawancara, ditanyakan tentang hal yang membuat siswa percaya diri dengan tugas yang dikerjakan, siswa memberikan jawaban berikut ini. Saya merasa sangat percaya diri dengan tugas yang saya kerjakan. Apalagi saya pernah mengerjakan tugas ini sebelumnya dan saya merasa kepercayaan diri saya meningkat saat mengerjakan tugas ini lagi. (P1c/SP. Berdasarkan kutipan tersebut, siswa yang memiliki kesadaran metakognitif tinggi memiliki kepercayaan diri yang baik saat mengerjakan tugas. Apalagi jika tugas tersebut dilakukan secara berulang, dapat menambah kepercayaan diri mereka. Pengetahuan metakognitif penting dimiliki oleh siswa. Siswa yang memiliki pengetahuan dan kemampuan metakognitif akan menunjukkan kinerja yang berbeda dengan siswa yang tidak memiliki pengetahuan metakognitif. Siswa yang menyadari dan memiliki kemampuan metakognitif dapat mengatur pembelajarannya sendiri untuk mencapai tujuan pembelajaran (Griffith & Ruan, 2. Sementara, siswa yang tidak menyadari kemampuan metakognitif cenderung mengandalkan orang lain dalam penyelesaian tugas dan tidak mandiri dalam mencapai tujuan pembelajaran (Ramadhanti et al. , 2. Fariq1, dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. Strategi metakognitif Pengetahuan metakognitif terdiri dari atas tiga sub indikator, yaitu: perencanaan, pemantauan, dan evaluasi. Pertama, perencanaan. Dari segi perencanaan, siswa memiliki kesadaran yang sangat baik dengan persentase 83,11%. Berikut ini disajikan hasil rekapitulasi respons siswa melalui kuesioner self-report tentang kesadaran strategi Tabel 4. Respons Siswa terhadap Kesadaran Strategi Perencanaan Pernyataan Saya mengetahui kapan sebuah cara belajar tertentu akan dapat membantu Saya belajar bahasa Indonesia Saya menetapkan informasi penting apa yang tepat digunakan dalam belajar bahasa Indonesia Saya membaca kembali materi pelajaran yang sudah saya pelajari Saya fokus pada penjelasan guru tentang bagaimana cara/langkah-langkah belajar yang benar dalam pengerjaan tugas bahasa Indonesia Saya membuat sebuah peta konsep untuk menentukan struktur yang diperlukan dalam belajar Bahasa Indonesia Saya menulis beberapa fakta dan opini yang menarik dalam penyelesaian tugas belajar bahasa Indonesia Saya menekankan informasi yang penting pada tugas bahasa Indonesia Saya menjadikan diri saya sendiri untuk dijadikan sebagai objek dalam pembelajaran teks bahasa Indonesia Saya membuat gambar atau diagram untuk memperlejas informasi penting ketika belajar Bahasa Indonesia Saya mengetahui diri saya sendiri dan apa saja kekurangan saya ketika belajar bahasa Indonesia Saya memahami konsep pembelajaran terlebih dahulu sebelum menuangkan hasil pikiran saya sendiri dalam pengerjaan tugas Saya bertanya pada diri saya sendiri nilai-nilai penting apa saja yang saya dapat dalam belajar Bahasa Indonesia Saya mengatur waktu bagaimana waktu yang sesuai dalam pengerjaan tugas Bahasa Indonesia Saya membuat struktur-struktur tertentu dalam belajar Bahsa Indonesia dengan cara yang saya pahami Saya fokus pada hal yang saya anggap lebih penting daripada hal kecil dalam belajar Saya bertanya kepada guru ketika saya tidak dapat memahami materi bahasa Indonesia yang saya pelajari Tidak p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 M. Fariq1 dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. Saya meninjau secara berkala hasil pemahaman saya untuk lebih memahami konsep yang saya buat Berdasarkan Tabel 4 di atas, siswa memiliki kesadaran yang sangat baik untuk strategi perencanaan. Siswa yang memiliki kesadaran strategi perencanaan yang baik cenderung melakukan hal-hal berikut, yaitu: mengetahui kapan sebuah cara belajar tertentu akan dapat membantunya belajar, menetapkan informasi yang tepat digunakan untuk belajar, membaca kembali materi pelajaran yang telah dipelajari, fokus pada penjelasan guru tentang langkah-langkah pengerjaan tugas, menuliskan beberapa fakta dan opini yang menarik dalam menyelesaikan tugas, lebih menekankan informasi yang lebih penting pada tugas, menjadikan diri sendiri sebagai objek dalam pembelajaran, membuat gambar atau diagram untuk memperjelas informasi penting, mengetahui kelemahan diri dalam belajar, memahami konsep terlebih dahulu sebelum mengerjakan tugas, bertanya kepada diri sendiri nilai-nilai apa saja yang telah diperoleh selama belajar, mengatur waktu yang sesuai dalam pengerjaan tugas, membuat struktur tertentu dalam belajar, fokus pada hal-hal yang penting dalam belajar, bertanya kepada guru untuk halhal yang kurang dipahami, dan meninjau secara berkala hasil pemahaman konsep. Saat dikonfirmasi melalui wawancara, ditanyakan tentang cara mereka memahami tugas, siswa memberikan jawaban berikut ini. Saya membaca tugas itu dan memahami maksud dari tugas tersebut. Ketika ada hal yang kurang saya pahami, saya bertanya kepada guru. (P2a/SP. Berdasarkan kutipan tersebut, siswa yang memiliki kesadaran strategi metakognitif tinggi memiliki cara yang baik dalam menyelesaikan tugas dan mengetahui hal-hal yang harus dilakukan untuk memahami maksud dari tugas tersebut. Kedua, strategi pemantauan. Dari segi pemantauan, siswa memiliki kesadaran yang baik dengan persentase 79,70%. Berikut disajikan hasil rekapitulasi respons siswa melalui kuesioner self-report tentang kesadaran strategi pemantauan. Tabel 5. Respons Siswa terhadap Kesadaran Strategi Pemantauan Pernyataan Saya meminta bantuan kepada teman ketika ada hal yang tidak saya mengerti dalam belajar bahasa Indonesia Saya mengalisis setiap kata yang saya tulis dalam menerima informasi Tidak M. Fariq1, dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. Saya mengubah cara belajar saya ketika saya tidak memahami materi yang saya pelajari Saya mengevaluasi kembali tugas Bahasa Indonesia yang saya kerjakan Saya bertanya pada diri sendiri ketika seberapa baik saya memahami materi tentang bahasa Indonesia Saya ragu ketika mendapat suatu materi yang kurang dapat saya pahami Saya mengecek kembali tugas untuk dapat menentukan mana yang salah sebelum dinilai Saya bertanya pada diri sendiri apakah saya menemukan makna yang sangat berarti bagi saya saat belajar Bahasa Indonesia Saya menemukan cara alternatif lain untuk belajar yang mudah dalam belajar bahasa Indonesia Saya mengatur waktu untuk mencapai sebuah tujuan dalam mengerjakan tugas tentang materi pelajaran bahasa Indonesia Berdasarkan Tabel 5 di atas, siswa memiliki kesadaran yang baik dalam strategi Siswa yang memiliki kesadaran strategi pemantauan, biasanya melakukan hal-hal berikut, yaitu: meminta bantuan teman ketika ada hal yang kurang mengerti, menganalisis setiap kata atau informasi yang diterima, mengubah cara belajar jika ada hal yang masih belum dipahami, memeriksa kembali tugas yang sudah dikerjakan, bertanya kepada diri sendiri untuk memastikan tugas yang dikerjakan dan makna yang diperoleh dari pembelajaran, menemukan cara lain untuk kemudahan belajar, dan mengatur waktu untuk mengerjakan tugas. Saat dikonfirmasi melalui wawancara, ditanyakan tentang seberapa yakin siswa dengan tugas yang dikerjakan, mereka memberikan jawaban berikut ini. Saya yakin tugas yang saya kerjakan sudah benar karena saya mengikuti instruksi dari guru dan saya melihat catatan saya sebelum mengerjakannya, saya juga bertanya kepada teman untuk memastikan bahwa tugas saya sudah benar. (P2b/SP. Berdasarkan kutipan tersebut, siswa yang memiliki kesadaran strategi metakognitif tinggi memiliki keyakinan yang baik dalam menyelesaikan tugas dan menyadari upaya yang dilakukan untuk penyelesaian tugas. Ketiga, strategi evaluasi. Dari segi evaluasi, siswa memiliki kesadaran yang baik dengan persentase 76,60%. Berikut disajikan hasil rekapitulasi respons siswa melalui kuesioner self-report tentang kesadaran strategi evaluasi. Tabel 6. Respons Siswa terhadap Kesadaran Strategi Evaluasi p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 M. Fariq1 dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. Pernyataan Saya mengetahui kelebihan diri saya sendiri dalam belajar Bahasa Indonesia Saya bertanya pada diri sendiri apakah ada cara lain yang lebih mudah untuk memhami materi yang saya pelajari dalam belajar bahasa Indonesia Saya menyimpulkan sendiri kembali materi bahasa Indonesia yang telah saya dapatkan setelah selesai Saya bertanya pada diri saya sendiri seberapa baik saya menentukan sebuah ide pokok dalam memepelajari sebuah teks Saya mempertimbangkan pemilihan cara yang lebih mudah dalam membuat sebuah teks Saya bertanya pada diri sendiri apakah saya belajar yang rajin setelah saya mempelajari materi tentang bahasa indonesia Tidak Berdasarkan Tabel 6 di atas, siswa memiliki kesadaran yang baik dalam mengevaluasi tugas. Siswa cenderung menunjukkan hal-hal berikut, yaitu: mengetahui kelebihan yang dimiliki selama belajar, bertanya kepada diri sendiri tentang upaya yang dilakukan untuk penyelesaian tugas, menyimpulkan materi yang dipelajari, bertanya kepada diri sendiri seberapa baik mempelajari materi pelajaran, bertanya kepada diri sendiri tentang cara yang dipilih untuk penyelesaian tugas, dan selama ini sudah sangat rajin mempelajari materi pembelajaran. Saat dikonfirmasi melalui wawancara, ditanyakan tentang evaluasi tugas yang dikerjakan dan simpulan yang didapatkan dari pengerjaan tugas, siswa memberikan jawaban berikut ini. Saya yakin tugas yang saya kerjakan sudah sesuai dengan instruksi pengerjaan tugas dan saya menyimpulkan bahwa saya menyenangi pembelajaran Bahasa Indonesia dan selalu mendapatkan manfaat selama belajar. (P2c/SP. Berdasarkan kutipan tersebut, siswa yang memiliki kesadaran strategi metakognitif tinggi memiliki keyakinan yang baik dalam menyelesaikan tugas dan menyadari manfaat yang diperoleh selama penyelesaian tugas. Strategi metakognitif perlu diterapkan dalam pembelajaran karena siswa yang terbiasa menggunakan strategi metakognitif akan semakin menyadari dan mengembangkan pengetahuan metakognitifnya. Untuk dapat mengembangkan pengetahuan metakognitif, siswa memerlukan guru dan orangtua. Guru dapat menerapkan strategi pembelajaran yang M. Fariq1, dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. dapat memupuk keterampilan berpikir tingkat tinggi, misalnya dalam penerapan Kurikulum Merdeka digunakan model pedagogi genre (Mahmuddah et al. , 2. Sementara, dukungan dari orangtua juga menjadi faktor penting yang dapat membantu siswa meningkatkan kualitas pembelajarannya (M. Putri et al. , 2. Selain itu, dalam pembelajaran menulis khususnya, guru dapat menerapkan strategi metakogntif dengan tahapan, yaitu: pada tahap perencanaan, siswa melakukan brainstorming untuk memilih bagian tulisan. pada bagian pemantauan, siswa melakukan pengendalian proses menulis dengan memantau konten, pengorganisasian teks, tata bahasa, dan mekanika. dan pada tahap evaluasi, siswa melakukan penilaian atau koreksi secara berpasangan dengan teman sebaya setelah proses menulis dilakukan (Goctu, 2. Singkatnya, strategi metakognitif dapat dibentuk dengan mengembangkan pengetahuan metakognitif dan meningkatkan kesadaran metakognitif (Fenghua Lv & Chen, 2. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran metakognitif mahasiswa adalah dosen melaksanakan pembelajaran menulis dengan pendekatan proses kognitif untuk meningkatkan pengetahuan metakognitif dan menerapkan menyelesaikan tugas menulis (Ramadhanti & Yanda, 2. SIMPULAN Metakognitif merupakan aspek sentral kecerdasan manusia yang meliputi pengetahuan . dan regulasi . Dalam penerapan Kurikukum Merdeka, pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Siswa dituntut untuk dapat belajar secara mandiri dan dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan minat dan kemampuannya. Strategi metakognitif menjadi strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemandirian siswa dalam belajar. Guru dapat melaksanaka aktivitas-aktivitas pembelajaran yang dapat menuntut kemandirian siswa dalam belajar. Upaya-upaya yang dapat dilakukan guru untuk dapat mengembangkan kesadaran metakognitif siswa, yaitu: mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang proses penyelesaian tugas, membantu siswa memahami tugas belajar dengan memberitahukan kepada mereka segala hal yang berkenaan dengan penyelesaian tugas, dan memperkaya pengalaman siswa dengan meminta mereka bertanya kepada diri mereka sendiri untuk memantau dan mengevaluasi proses yang telah dilakukan dalam proses penyelesaian tugas. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 M. Fariq1 dkk. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Vol. REFERENSI