Ekuivalensi J ur nal Eko no m i B isni s KEPATUHAN 5 MOMEN HAND HYGIENE PADA PETUGAS DI INSTALASI LABORATORIUM RSUI MADINAH SEMBON Yusuf Aditya Rachman Dosen Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kahuripan Kediri ABSTRAK Hospital Associated Infection (HAI. masih menjadi permasalahan di seluruh dunia maupun di Indonesia. Petugas kesehatan mempunyai peran besar dalam transmisi infeksi ini. Akan tetapi, rendahnya tingkat kepatuhan hand hygiene di kalangan petugas kesehatan masih menjadi salah satu faktor tingginya penyebaran HAIs. Maka perlu dilakukan penyuluhan mengenai pentingnya 5 momen hand hygiene petugas kesehatan terhadap kesehatan pasien. Penyuluhan dapat dilakukan dengan berbagai model seperti poster, pelatihan maupun simulasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan action research. Dilakukan pada bulan September 2015 di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon, populasi sekaligus sampel dalam penelitian ini adalah petugas kesehatan Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon yang terdiri dari perawat, analis, dokter, radiografer, customer service, dan cleaning service. Hasil penelitian menunjukkanangka rata-rata kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon terus meningkat setelah intervensi, dari 0% pada tahap pretest menjadi sebesar 67% setelah sosialisasi menggunakan poster . iklus I), meningkat menjadi Yusuf Aditya Rachman 32,50% setelah diberi pelatihan . iklus II) dan meningkat menjadi 40,83% setelah diberi simulasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan 5 momen hand hygiene di Laboratorium, yaitu kesibukan, ketakutan terkena dermatitis iritan, lupa, kurangnya motivasi, kurangnya komitmen perusahaan, kurangnya pengetahuan, dan akses terhadap fasilitas hand hygiene. Kata Kunci: hand hygiene, kepatuhan, petugas laboratorium PENDAHULUAN Infeksi yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan adalah salah satu penyebab utama kematian dan peningkatan morbiditas pada pasien. Mengingat asal mula infeksi yang tidak hanya didapatkan di rumah sakit, istilah infeksi nosokomial diperluas dengan istilah Healthcare-Associated Infections (HAI. Prevalensi HAIs diperkirakan 1,4 juta di seluruh dunia Hal ini menyebabkan 50. 000 kematian yang disebabkannya dan 2 juta morbiditas disebabkan oleh HAIs di negara-negara maju setiap tahunnya, serta menghasilkan tambahan 14 hari tinggal di rumah sakit dan tambahan biaya tahunan kesehatan. WHO mencanangkan program Global Patient Safety Challenge AuClean Care is Safer CareAy sejak tahun 2005 sebagai sebuah komitmen global dalam upaya menurunkan angka HAIs. Pada tahun 2009 WHO Patient Safety kembali mencanangkan Save Lives: Clean Your Hands sebagai program lanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan fokus pelaksanaan hand hygiene pada pelayanan kesehatan di seluruh dunia, dimana dicetuskan tentang 5 momen hand hygiene, yaitu melakukan cuci tangan sebelum bersentuhan dengan pasien, sebelum melakukan prosedur bersih dan steril, setelah bersentuhan dengan cairan tubuh pasien, setelah bersentuhan dengan pasien, setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien. Petugas kesehatan mempunyai peran besar dalam rantai transmisi infeksi Akan tetapi kepatuhan hand hygiene seringkali kurangoptimal. Petugas kesehatan seringkali mencuci tangan hanya sebelum dan sesudah menangani pasien saja. Penelitian yang dilakukan pada 40 rumah sakit yang melaporkan bahwa kepatuhan tenaga kesehatan yang melakukan hand hygiene sebelum dan setelah ke pasien bervariasi antara 24% sampai 89% . ata-rata 56,6%). Masih rendahnya tingkat kepatuhan hand hygiene di kalangan petugas kesehatan dapat menyebabkan tingginya penyebaran HAIs. Oleh karena itu, 60 Ekuivalensi VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Kepatuhan 5 Momen Hand Hygiene Pada Petugas di . perlu dilakukan penyuluhan mengenai pentingnya hand hygiene petugas terhadap kesehatan pasien. Salah satu penyuluhan hand hygiene kepada petugas adalah melalui media cetak poster. Poster merupakan salah satu media cetak yang dapat menyampaikan pesan penyuluhan dalam menyampaikan informasi mengenai hand hygiene. Salah satu edukasi hand hygiene kepada petugas kesehatan selain dengan poster adalah melalui pelatihan. Pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap individu. Sedangkan salah satu cara untuk memberikan pelatihan yang berkontinuitas tanpa mengganggu waktu khusus yaitudengan melakukan pelatihan dengan metode simulasi. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon yang merupakan tempat penelitian ini, didapatkan hasil dari 5 momen indikasi hand hygiene petugas hanya sering melakukan hand hygiene pada saat setelah kontak dengan pasien saja baru dilaksanakannya hand hygiene, serta langkah-langkah pelaksanaannya tidak sesuai dengan prosedur, dimana tidak ada petugas yang melakukan 6 langkah hand hygienedengan benar. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian bagaimana kepatuhan hand hygiene petugas setelah dilakukannya penyuluhan dengan poster, pelatihan, dan simulasi hand hygiene. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan Action Research model Kurt Lewin yang terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan . , tindakan . , pengamatan . , dan refleksi . 17 Pada penelitian ini menggunakan tiga siklus, dimana planning dilakukan dengan persiapan pada masing-masing siklus, yang membedakan pada tiap-tiap siklus adalah pada tahap acting dimana pada siklus I dilakukan dengan sosialisasi menggunakan poster, pada siklus II dengan melakukan pelatihan hand hygiene, dan pada siklus i dengan melakukan simulasi hand hygiene, pada tahap observing pada masing-masing siklus dilakukan penilaian dengan checklist kepatuhan 5 momen hand hygiene, dan pada tahap reflecting dilakukan dengan penilaian kepatuhan dan identifikasi masalah faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan 5 momen hand hygiene pada masing-masing siklus. VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Ekuivalensi Yusuf Aditya Rachman Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah semua petugas diInstalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon yang bertugas di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan cara teknik incidental sampling. Incidental Sampling yang digunakan oleh peneliti yaitu petugas kesehatan di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon yang sesuai dengan kriteria inklusi. Kriteria inklusi penelitian ini adalah petugas kesehatan yang berhubungan dengan pasien dan ada pada saat peneliti melakukan observasi, dan kriteria eksklusinya adalah petugas kesehatan yang tidak berhubungan langsung dengan pasien . agian manajeme. dan petugas kesehtan yang tidak ada pada saat peneliti melakukan observasi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dengan menggunakan checklist kepatuhan 5 momen hand hygiene sesuai standar WHO. Penelitian dilakukan pada bulan September 2015, pada masingmasing siklus dilakukan selama 3 hari. Observasi dilaksanakan sebelum dilaksanakannya intervensi dan setelah dilaksanakannya intervensi pada masing-masing siklus. Observasi langsung dilaksanakan hingga mendapatkan 120 momen pada masing-masing siklus. Selain itu juga dengan menggunakan pedoman wawancara mendalam yang dibuat oleh peneliti sendiri untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan 5 momen petugas serta rekomendasi dari pihak majanemen untuk meningkatkan kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas. Wawancara mendalam dilakukan pada akhir masing-masing setiap siklus. Teknik analisa data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisa deskriptif kualitatif, untuk merefleksikan dari setiap siklus tentang faktorfaktor yang mempengaruhi kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon setelah dilakukannya intervensi pada masing-masing siklus dan untuk mengetahui rekomendasi dari pihak manajemen untuk meningkatkan kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas. Serta menggunakan analisa deskriptif kuantitatif untuk melihat nilai kepatuhan 5 momen hand hygiene pada saat sebelum dan sesudah intervensi pada masing-masing siklus. 62 Ekuivalensi VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Kepatuhan 5 Momen Hand Hygiene Pada Petugas di . HASIL PENELITIAN Sebelum Intervensi Grafik 1. Frekuensi 5 momen hand hygiene pada setiap momen sebelum intervensi Momen yang paling banyak terjadi, pada saat sebelum dilakukan intervensi yakni pada momen setelah kontak pasien, sedangkan momen yang paling sedikit terjadi pada momen setelah kontak dengan lingkungan Sebelum intervensi didapatkan bahwa pada setiap momen tidak ada yang patuh melakukan hand hygiene secara benar sesuai dengan standar WHO. Siklus I Grafik 2. Frekuensi 5 momen hand hygiene pada setiap momen Siklus I VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Ekuivalensi Yusuf Aditya Rachman Didapatkan hasil momen yang paling banyak terjadi, pada saat siklus I yakni pada momen sebelum kontak pasien, sedangkan momen yang paling sedikit terjadi pada momen sebelum tindakan aseptis. Grafik 3. Frekuensi kepatuhan 5 momen hand hygiene pada setiap momen Siklus Kepatuhan paling banyak dilakukan pada momen setelah kontak dengan pasien dan paling sedikit dilakukan pada momen sebelum kontak dengan pasien. Setelah dilakukannya intervensi dengan poster peningkatan kepatuhan yang terjadi tidak begitu besar hanya 16,67% dari sebelum Grafik 4. Frekuensi kepatuhan5 momen hand hygiene petugas Siklus I 64 Ekuivalensi VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Kepatuhan 5 Momen Hand Hygiene Pada Petugas di . Kepatuhan paling banyak dilakukan oleh perawat diikuti analis, dokter, radiografer, sedangkan untuk cleaning service dan customer service masih belum ada yang patuh. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa petugas setelah dilakukannya siklus I, masih rendanya kepatuhan 5 momen hand hygiene disebabkan oleh faktor-faktor seperti : kurangnya pengetahuan tentang pentingnya hand hygiene,kurangnya pengetahuan petugas tentang teknik hand hygiene dan mengenai lima momen hand hygiene, kesibukan yang tinggi, dan akses terhadap fasilitas hand hygiene. Siklus II Grafik 5. Frekuensi 5 momen hand hygiene pada setiap momen Siklus II Didapatkan hasil momen yang paling banyak terjadi, pada saat siklus II yakni pada momen setelah kontak pasien, sedangkan momen yang paling sedikit terjadi pada momen sebelum tindakan aseptis. VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Ekuivalensi Yusuf Aditya Rachman Grafik 6. Frekuensi kepatuhan5 momen hand hygiene pada setiap momen SiklusII Kepatuhan paling banyak dilakukan pada momen setelah kontak dengan pasien dan paling sedikit dilakukan pada momen sebelum tindakan aseptik. Dari total kepatuhan semua momen mengalami peningkatan yaitu dari 16,67% pada siklus I menjadi 32,5% pada siklus II. Grafik 7. Frekuensi kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas Siklus II Kepatuhan paling banyak dilakukan oleh perawat diikuti analis, radiografer, dokter, cleaning service dan customer service. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa petugas setelah dilakukannya siklus II, masih rendanya kepatuhan 5 momen hand hygiene disebabkan oleh faktor-faktor seperti: kurangnya pemahaman mengingat 66 Ekuivalensi VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Kepatuhan 5 Momen Hand Hygiene Pada Petugas di . petugas tentang teknik hand hygiene dan mengenai lima momen hand hygiene, kesibukan yang tinggi,lupa, dan kurangnya motivasi dari petugas Siklus i Grafik. Frekuensi 5 momen hand hygiene pada setiap momen Siklus i Didapatkan hasil momen yang paling banyak terjadi, pada saat siklus i yakni pada momen setelah kontak pasien,sedangkan momen yang paling sedikit terjadi pada momen sebelum tindakan aseptis Grafik 9. Frekuensi kepatuhan5 momen hand hygiene pada setiap Momen siklus i VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Ekuivalensi Yusuf Aditya Rachman Kepatuhan paling banyak dilakukan pada momen setelah kontak dengan pasien dan paling sedikit dilakukan pada momen sebelum tindakan Dari total kepatuhan semua momen mengalami peningkatan yaitu dari 32,5% pada siklus II menjadi 40,83% pada siklus i. Grafik. Frekuensi kepatuhan5 momen hand hygiene petugas Siklus i Kepatuhan paling banyak dilakukan oleh perawat diikuti analis, dokter, radiografer, customer service dancleaning service. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa petugas setelah dilakukannya siklus II, masih rendanya kepatuhan 5 momen hand hygiene disebabkan oleh faktor-faktor seperti : kesibukan yang tinggi, ketakutan terkena dermatitis iritan terkait dengan semakin seringnya terpapar sabun dan airkurangnya motivasi dari petugas itu sendirikurangnya komitmen perusahaan dalam meningkatkan kepatuhan hand hygiene. Hasil wawancara kepatuhan 5 momen hand hygiene. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajemen, berkaitan dengan masih rendahnya hasil kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas, pihak manajemen merekomendasikan akan adanya sosialisai dan observasi Kemudian untuk faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan 5 hand hygiene mengenai faktor kesibukan pihak manajemen menyatakan 68 Ekuivalensi VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Kepatuhan 5 Momen Hand Hygiene Pada Petugas di . dengan cukup menggunakan handscoon jika kesibukan tinggi, pihak manajemen juga menganggap fasilitas hand hygiene yang ada sudah cukup, untuk masalah iritasi dapat diatasi dengan menggunakan sabun rendah iritasi, dari pihak manajemen sendiri juga akan mengadakan pelatihan hand hygiene bertahap, dan memberikan reward bagi petugas yang rajin. PEMBAHASAN Siklus I Dari hasil observasi kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas di siklus I di dapatkan hasil terjadi peningkatan kepatuhan 5 momen hand hygiene dari 0% pada sebelum dilakukannya intervensi menjadi 16,67% pada siklus I. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Higgin dan Hannan dimana terjadi peningkatan kepatuhan 5 momen hand hygiene setelah dilakukannya intervensi dimana poster merupakan salah Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan melaksanakan hand hygiene. Tingkat pengetahuan tentang hand hygiene tidak hanya sebatas pentingnya pelaksanaannya, namun juga harus mencakup indikasi dan tehnik pelaksanaannya. Hal ini sesuai yang dinyatakan oleh WHO bahwa kurangnya pengetahuan tentang hand hygiene merupakan salah satu hambatan untuk melakukan hand hygiene sesuai Penelitian lain juga yang mendukung bahwa beberapa faktor yang dapat menghambat petugas kesehatan untuk melakukan hand hygiene adalah faktor ketidakmengertian akan teknik hand hygiene atau standar hand hygiene. Kesibukan apabila terlalu banyak pasien juga menjadi alasan petugas di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon untuk tidak melaksanakan hand hygienehal itu sesuai dengan Larson dan Killien melaporkan bahwa terlalu sibuk adalah alasan penting yang diberikan petugas kesehatan untuk tidak mencuci tangan mereka. Telah diketahui juga pada jurnaljurnal terdahulu bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya pemenuhan hand hygiene salah satunya adalah beban kerja yang tinggi dan kekurangan tenaga. Akses terhadap fasilitas hand hygiene juga menjadi salah satu alasan tidak dilakukannya hand hygiene dengan baik. Berdasarkan penelitian VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Ekuivalensi Yusuf Aditya Rachman Mani, menyatakan bahwa rendahnya akses atau jauhnya menuju fasilitas hand hygiene merupakan satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya pelaksanaan hand hygiene. Siklus II Dari hasil observasi kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas di siklus II di dapatkan hasil terjadi peningkatan kepatuhan 5 momen hand hygiene dari 0% pada sebelum dilakukannya intervensi menjadi 32,50% pada siklus II. Hal ini tidak jauh berbeda dari penelitian yang pernah dilakukan oleh Joko Jamaludin, mengenai kepatuhan 5 momen kebersihan tangan pada perawat yang bekerja di unit perawatan intensif Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk dengan fasilitas cuci tangan lengkap, dan sebelum penelitian para perawat diberikan edukasi dengan ceramah dan diskusi tentang prosedur kebersihan tangan yang benar. Angka kepatuhan petugas kesehatan meningkat dari 48,14% sebelum diberi edukasi menjadi 60,74%. Kurangnya pemahaman mengingat tentang teknik hand hygiene dan mengenai lima momen hand hygiene, kesibukan yang tinggi serta lupa dikarenakan kesibukan masih menjadi masalah ketidakpatuhan petugas di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon setelah dilakukannya Dua penelitian yang disebutkan dalam jurnal Lau Chun Ling menilai efek kelupaan padakepatuhan hand hygiene. Sekitar 27% - 50,8% petugas kesehatan mengatakan mereka gagal untuk mengingat bahwa mereka harus melakukan hand hygiene. Masih kurangnya motivasi dari petugas itu sendiri merupakan salah satu penyebab ketidakpatuhan hand hygiene. Motivasi adalah faktor yang berpengaruh di dalam proses pembelajaran dan salah satu tujuan dari pelatihan adalah untuk meningkatkan motivasi peserta untuk belajar. Pelatihan juga dapat meningkatkan motivasi. Seseorang yang memiliiki motivasi yang tinggi, dapat meningkatkan kinerjanya, hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Riyadi yang menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kinerja dengan perilaku. Siklus i Dari hasil observasi kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas di siklus i di dapatkan hasil terjadi peningkatan kepatuhan 5 momen hand 70 Ekuivalensi VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Kepatuhan 5 Momen Hand Hygiene Pada Petugas di . hygiene dari 0% pada sebelum dilakukannya intervensi menjadi 40,83% pada siklus i. Hal ini masih lebih baik dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulpahiyana dimana menunjukkan hasil bahwa pelaksanaan hand hygiene sebelum intervensi . imulasi hand hygiene pada handover keperawata. dengan prosentase 39,17% meningkat menjadi 61,66% setelah dilakukannya intervensi pada handover keperawatan. Berdasarkan hasil wawancara, salah satu petugas mengatakan ketakutan akan adanya iritasi apabila melakukan cuci tangan yang sering dan berulang. Dalam beberapa jurnal internasional, diketahui salah satu hal yang menjadi alasan rendahnya pelaksanaan cuci tangan oleh petugas kesehatan adalah iritasi kulit. Seperti halnya dalam jurnal yang ditulis oleh C. Williams dkk, dinyatakan bahwa penyebab dari iritasi seperti sabun, deterjen, air, dan gesekan baik dirumah ataupun dilingkungan kerja. Dalam jurnal yang berbeda. Aisye D. Aikol menuliskan beberapa alasan petugas kesehatan tidak mencuci tangan salah satunya adalah akibat iritasi kulit dan kekeringan. Komitmen kelembagaan dalam meningkatkan kepatuhan hand hygiene di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon belum ada, belum adanya regulasi yang tegas menyatakan hand hygiene harus dilaksanakan pada momen yang telah distandarkan serta belum adanya sosialisasi mengenai hand hygiene, bahkan untuk poster mengenai hand hygine pun masih sangat sedikit dan tidak sesuai dengan standar dari WHO. Komitmen kelembagaan sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan hand hygiene. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Khaled, dkk menunjukan adanya prosedur tetap pencegahan infeksi dan dukungan kelembagaan yang diikuti dengan observasi secara terus menerus serta umpan balik kinerja perawat dapat meningkatkan praktik cuci tangan sebesar 97,3%. Dalam jurnal lain disebutkan bahwa petugas kesehatan mengklaim bahwa salah satu alasan rendahnya tingkat kepatuhan mereka terhadap hand hygiene disebabkan oleh apatis administratif dan rendahnya prioritas institusi terhadap hand Keseluruhan Siklus Berdasarkan hasil dari frekuensi 5 momen hand hygiene pada setiap momen yang terjadi pada sebelum intervensi. Siklus I. Siklus II, dan Siklus i didapatkan bahwa frekuensi 5 momen hand hygiene yang terjadi tidak selalu meningkat pada setiap siklusnya, dimana didapatkan ada yang menurun VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Ekuivalensi Yusuf Aditya Rachman dan ada yang meningkat pada masing-masing momen setiap siklusnya. Demikian juga dengan hasil dari frekuensi kepatuhan hand hygiene pada setiap momen semua siklus, didapatkan pada momen setelah tindakan asepsis juga mengalami penurunan walaupun tidak signifikan pada siklus II . etelah pelatiha. , namun kembali meningkat pada siklus i ( setelah Hal ini tentunya berhubungan dengan motivasi dari para petugas itu sendiri dalam melaksanakan kepatuhan 5 momen hand hygiene di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon Seseorang yang memiliiki motivasi yang tinggi, dapat meningkatkan kinerjanya, hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Riyadi yang menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kinerja dengan Oleh karena itu, diperlukan peran dari pihak manajemen dalam meningkatkan hal ini. Seperti penelitian yang menghasilkan Hawthorne Effect dilakukan disuatu pabrik The Western Electric Company di Cicero. Illinois tahun, 1927-1938. Mereka memisahkan suatu kelompok pekerja untuk diamati. Dimana kesimpulan yang diambil peneliti adalah bahwa produktivitas yang terus naik disebabkan atensi yang diberikan kepada sekelompok pekerja obyek penelitian, bukan karena jumlah penerangan yang diberikan di tempat kerja. KESIMPULAN DAN SARAN Observasi atau pengamatan yang terus menerus dari pihak manajemen juga perlu untuk dilakukan seperti halnya dalam jurnal Lau Chun Ling menyebutkan bahwa dua studi meneliti efek dari kesadaran yang diamati pada kepatuhan hand hygiene dimana ini adalah indikator kuat dari tingginya kepatuhan hand hygiene. Penggunaan sarung tangan baik bersih ataupun steril tidak mengubah atau menggantikan pelaksanaan hand hygiene. Hand hygiene harus dilakukan sebelum mengenakan sarung tangan dan setelah sarung tangan dilepas (WHO. Dalam jurnal yang ditulis oleh Ameet Mani dkkdiketahui bahwa salah satu indikasi petugas kesehatan harus melaksanakan hand hygieneadalah saat setelah membuka sarung tangan. Oleh karena itu, dibutuhkan motivasi sendiri dari para petugas kesehatan untuk tetap melaksanakan hand hygiene walau sesibuk apapun. Salah satu cara untuk meningkatkan motivasi adalah dengan pelatihan. Oleh karena itu hendaknya terus dilakukan pelatihan mengenai hand hygiene secara berkesinambungan oleh pihak manajemen. 72 Ekuivalensi VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Kepatuhan 5 Momen Hand Hygiene Pada Petugas di . Rendahnya akses atau jauhnya menuju fasilitas hand hygiene merupakan satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya pelaksanaan hand Berdasarkan dari pengamatan dan data yang ada hanya terdapat satu fasilitas handrub yaitu pada ruang pengambilan sampling. Tentu saja hal ini masih sangat kurang dan menjadikan ketidakpatuhan pada pelaksanaan hand hygiene. Oleh karena itu, menurut peneliti pihak menajemen sebaiknya menambah sarana prasarana hand hygiene untuk handsrub dimana sebaiknya disediakan lebih banyak lagi di tempat-tempat yang strategis. Penggunaan sabun yang sering dan berulang memang dapat meyebabkan dermatitis iritan, sehingga perawatan tangan yang mencakup penggunaan krim sangat penting untuk mencegah iritasi pada kulit Dari WHO . juga menyebutkan dalam perawatan kulit terkait dengan hand hygiene menyebutkan bahwa perlunya meyediakan lotion atau krim tangan untuk meminimalisasi terjadinya dermatitis kontak iritan yang disebabkan oleh antiseptik tangan ataupun handwashing. Oleh karena itu, meneurut peneliti pihak manajemen hendaknya tetap menyediakan krim atau lotion tersebut sehingga perawat tidak takut lagi terkena dermatitis yang disebabkan karena mencuci tangan. Kurangnya komitmen perusahaan dalam hal kepatuhan hand hygiene, dalam jurnal Lau Chun Ling menyatakan bahwa memberikan dorongan atau insentif melalui imbalan bulanan dengan umpan balik kinerja positif juga strategi yang efektif untuk meningkatkan kepatuhan hand hygiene di tingkat administrasi. Oleh karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan kepatuhan 5 momen hand hygiene ini adalah dengan memberikan reward bagi petugas yang melaksanakan kepatuhan 5 momen hand hygiene dengan baik dan punishment bagi yang tidak melakukan hand hygiene dengan baik. Kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas kesehatan di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon terus meningkat setelah dilakukan intervensi dengan 3 siklus. Terdapat faktor- faktor yang mempengaruhi kepatuhan 5 momen hand hygiene di Laboratorium, yaitu kesibukan, ketakutan terkena dermatitis iritan, lupa karena kesibukan, kurangnya motivasi, kurangnya komitmen perusahaan, kurangnya pengetahuan petugas, dan akses terhadap fasilitas hand hygiene. Sehingga diharapkan pihak manajemen diharapkan dapat memberikan perhatian yang lebih dalam peningkatan kepatuhan 5 momen hand hygiene petugas di Instalasi Laboratorium RSUI Madinah Kasembon. VOL. 2 NO. 2 OKTOBER 2016 Ekuivalensi Yusuf Aditya Rachman DAFTAR PUSTAKA