PERBEDAAN PREVALENSI KARIES GIGI SULUNG PADA PEMBERIAN SUSU BOTOL DAN ASI PASIEN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT (RSGM) SARASWATI DENPASAR TAHUN 20172020 Ni Putu Widani Astuti1. Putu Yetty Nugraha2. Dhiya Halida3 Program Studi Pendidikan Dokter Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Korespondensi: dhiyahalida@gmail. ABSTRAK Pendahuluan: Status kesehatan masyarakat merupakan salah satu faktor penting yang dapat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia, salah satunya pada status kesehatan gigi. Status Kesehatan gigi ditentukan oleh adanya yaitu, gigi yang rusak karena karies, gigi yang hilang dan gigi yang ditambal. Anak yang menyusui lebih dari satu tahun dan dibiarkan menyusu pada malam hari sebelum tidur dapat meningkatkan derajat keparahan karies pada gigi sulung didalam rongga mulut anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prevalensi karies gigi sulung pada pemberian susu botol dan air susu ibu pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Saraswati Denpasar tahun 2017-2020. Bahan dan Metode: Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan teknik analisis univariat dalam bentuk persentase untuk melihat perbedaan prevalensi karies gigi sulung pada pemberian susu botol dan air susu ibu pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Saraswati Denpasar tahun 2017-2020. Hasil dan Pembahasan: Hasil prevalensi pada penelitian ini, karies pada gigi sulung di RSGM Saraswati Denpasar tahun 2017-2020 jumlanya sebanyak 70 kasus. Simpulan: Lebih tinggi jumlah karies pada pola minum susu botol sebanyak 37 . ,9%) kasus dibandingkan dengan jumlah karies pada pola minum susu susu ASI sebanyak 33 . ,1%) kasus, dan jumlah karies pada pasien anak usia 5 tahun lebih tinggi sebanyak 42 kasus dibandingkan lainnya. Kata Kunci: Susu Botol. Air Susu Ibu. Gigi Sulung. Karies. ABSTRACT Introduction: Public health status is one of the important factors that can affect the quality of human resources, one of which is dental health status. Dental health status is determined by the presence of teeth that are damaged due to caries, missing teeth and filling teeth. Children who breastfeed for more than one year and are allowed to suckle at night before going to bed can increase the severity of caries in the primary teeth in the child's oral cavity. This study aims to determine the difference in the prevalence of primary dental caries in bottle feeding and breast milk of patients at the Dental and Oral Hospital (RSGM) Saraswati Denpasar in 2017-2020. Materials and Methods: This research method uses descriptive analysis with univariate analysis techniques in the form of percentages to see the difference in the prevalence of primary dental caries in bottle feeding and breast milk of patients at the Dental and Oral Hospital (RSGM) Saraswati Denpasar in 2017-2020. Results and Discussion: The prevalence results in this study, caries in primary teeth at RSGM Saraswati Denpasar in 2017-2020 totaled 70 cases. Conclusion:The number of caries in the pattern of drinking milk with bottled milk was 37 . ,9%) cases compared to the number of caries in the pattern of drinking breast milk as many as 33 . ,1%) cases, and the number of caries in pediatric patients aged 5 years was higher by 42 cases compared to others. Keywords: Bottled Milk. Breast Milk. Primary Teeth. Caries. PENDAHULUAN Status kesehatan masyarakat merupakan salah satu faktor penting yang dapat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia, salah satunya pada status kesehatan Status kesehatan gigi merupakan derajat atau tingkat kesehatan gigi dan mulut yang meliputi jaringan keras dan lunak di dalam rongga mulut2. Karies gigi merupakan penyakit kronik dari jaringan keras gigi yang disebabkan demineralisasi email oleh bakteri yang ada pada plak, pada tahap akhir menyebabkan kerusakan gigi dan terbentuk Karies gigi sampai saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut, yang paling banyak ditemukan di masyarakat luas yaitu karies gigi pada anakanak4. Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang terjadi pada email, dentin dan sementum. Karies gigi terjadi akibat proses regresif dan kronis yang dimulai dengan larutnya mineral email akibat dari aktivitas jasad renik dalam karbohidrat yang dapat Proses terjadinya karies gigi dipengaruhi oleh karena 2 . faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berperan yaitu, mikroorganisme . akteri penyebab karie. , waktu . urasi waktu pemberia. , host . ermukaan gig. , substrat . akanan kariogeni. , karies gigi bisa terjadi apabila faktor tersebut ada6. Menurut American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) tahun 2011, karies dini atau Early Childhood Caries (ECC) adalah sebagai suatu keadaan adanya satu atau lebih gigi sulung yang mengalami decay . avitas dan non kavita. , missing . arena karie. , atau filling pada anak usia O 71 bulan7. Berdasarkan hasil persentase penelitian World Health Organization (WHO) tahun 2019. Prevalensi karies gigi pada gigi sulung pada anak di dunia sebanyak 46,2% dan prevalensi karies gigi pada gigi tetap pada anak di dunia sebanyak 53,8% anak yang terkena karies yang besar dan terjadi infeksi disertai rasa sakit dan abses dapat mengakibatkan anak tidak bisa makan dan mengganggu tidur anak. Karies gigi yang parah dikaitkan dengan pertumbuhan kembang anak yang buruk8. Menurut data Riskesdas tahun 2018, prevalensi karies di Indonesia adalah sebesar 88,8%. Pada kelompok anak umur 3-4 tahun yang mengalami karies adalah 81,1%, umur 5-9 tahun yang mengalami karies adalah 92,6% dan umur 10-14 tahun yang mengalami karies adalah 73,4%. Prevalensi gigi anak di Indonesia yang mengalami karies pada gigi sulung sebesar 90,2%. Indeks def-t yaitu salah satu indeks yang digunakan untuk mengukur tingkat karies gigi sulung menunjukkan skor rata-rata def-t anak usia 5 tahun sebesar 8,3 pada anak laki-laki sedangkan pada anak perempuan 8,0 yang berarti setiap anak memiliki sekitar 8 gigi sulung yang mengalami karies. Faktor kejadian karies gigi antara lain faktor dari makanan, kebersihan mulut, kebiasaan yang tidak sesuai dengan kesehatan seperti pemberian air susu ibu dan susu dengan menggunakan botol sampai tertidur9. Pemberian air susu ibu (ASI) kepada bayi merupakan cara yang alamiah dalam memberikan makanan kepada bayi. ASI memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup bayi10. Air Susu Ibu (ASI) eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain . ecuali obat, vitamin, dan minera. Secara nasional, cakupan bayi mendapat ASI eksklusif tahun 2019 yaitu sebesar 67,74%. Angka tersebut sudah melampaui target rencana strategis tahun 2019 yaitu 50%. Persentase tertinggi cakupan pemberian ASI eksklusif terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Barat . ,26%), sedangkan persentase terendah terdapat di Provinsi Papua Barat . ,12%). Pada provinsi Bali mencapai presentase . ,71%) katagori cukup tinggi dalam cakupan pemberian ASI eksklusif11. Air Susu Ibu (ASI) memberikan manfaat pada kesehatan gigi dan mulut anak yaitu tidak mudah terkena karies karena kandungan laktosa pada susu ASI tidak memicu pembentukan bakteri Streptococcus Mutans, susu ASI juga memiliki total protein lebih sedikit daripada susu formula tetapi protein didalam susu ASI lebih mudah diserap daripada kandungan protein dalam susu formula, karena kandungan whey dalam protein susu ASI lebih besar daripada kasein, sehingga dapat menurunkan efek perubahan gula oleh saliva, adanya penurunan efek perubahan gula oleh saliva dapat mencegah pembentukan bakteri Streptococcus Mutans pada plak balita12. Menyusui juga penting untuk perkembangan wajah, bayi menarik payudara jauh ke dalam mulut dan payudara mengembang dan membentuk langit-langit palatum anak melalui tekanan berulang13. Selain memberikan manfaat. ASI (Air Susu Ib. juga memberikan efek samping jika diberikan dengan cara yang tidak sesuai. Posisi menyusui dengan posisi berbaring miring atau side-lying position, posisi ini sering digunakan saat terutama menyusui pada malam hari14, dan anak yang dibiarkan menyusu pada malam hari sebelum tidur dan menyusui lebih dari satu tahun dan tidak diikuti dengan pembersihan yang optimal pada rongga mulut dapat meningkatkan derajat keparahan karies didalam rongga mulut anak15. Kebiasaan mengempeng putting susu akan meningkatkan kemungkinan terjadinya prolonged-on demand breastfeeding, anak akan bergantung pada ibu, apabila susah diatasi akan menyebabkan terjadinya karies16. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitri dkk. yang menyatakan semakin lama anak menyusui atau dilakukan pemberian ASI semakin parah karies atau tingkat keparahan karies yang diderita anak tersebut. Pemberian ASI di malam hari dengan jangka waktu lama akan menghasilkan asam yang lebih banyak sehingga mempertinggi risiko terjadi karies gigi. Umumnya gigi yang terkena kerusakan adalah gigi pada rahang atas bagian depan. Saat tidur, gigi-gigi rahang bawah akan tertutup oleh lidah sehingga genangan air susu akan lebih menyerang gigi Susu botol adalah susu formula yang dibuat dari susu sapi atau susu buatan, yang diubah komposisinya yang berikan pada bayi sebagai pengganti ASI cara pemberiannya biasa menggunakan botol18. Posisi pemberian susu botol dipegang tegak lurus dengan mulut merupakan pilihan terbaik untuk mencegah maloklusi karena memberikan tekanan yang seimbang pada rahang atas dan rahang bawah, mendorong perkembangan rahang19. Kebiasaan anak minum susu menggunakan botol dengan pemberian durasi yang lama dan kebiasaan minum susu dengan botol hingga anak tertidur dapat menyebabkan oral hygiene yang buruk, genangan susu pada rongga mulut pada saat tidur menjadi substrat yang akan difermentasikan oleh bakteri menjadi pembentukan asam. Hasil penelitian yang dilakukan Ghaitsa dkk. menunjukkan bahwa indeks kerusakan gigi lebih tinggi pada anak yang mengonsumsi susu menggunakan botol, jumlah decay dan extraction lebih besar pada anak yang mengonsumsi susu dengan botol hal ini karena waktu durasi anak meminum susu botol seperti susu formula hingga tertidur lebih berisiko mengalami Nursing Mouth Caries (NMC)20. Kebanyakan ibu tidak menyadari pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut anak, dengan menyusui dan minum susu botol sampai tertidur menyebabkan meningkatnya frekuensi karies anak karena minimnya pengetahuan orang tua tentang cara pemberian susu yang baik dan cara pencegahan terjadinya karies sehingga pada saat anak diberikan susu ASI dan susu botol tidak dilakukan pembilasan21. BAHAN DAN METODE Penelitian ini menggunakan penelitian analisis deskriptif yang menggambarkan perbedaan prevalensi karies gigi sulung pada pemberian susu botol dan air susu ibu pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar (RSGM) tahun 2017-2020. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah data kartu pemeriksaan rekam medik pasien di bagian departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar tahun 2017-2020. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling atau mengambil data dari kartu rekam medik pasien di bagian departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar tahun 2017-2020 dengan kriteria tertentu. Kriteria inklusi yang akan dijadikan sampel adalah: Oe Informasi umum pasien, terdiri dari informasi kontak pasien . ama, alamat, nomor telepo. dan informasi pribadi . enis kelamin, tanggal lahir, usi. Oe Riwayat lengkap pemberian susu botol dan air susu ibu pada pasien. Oe Pasien dengan gigi sulung masih lengkap. Perhitungan prevalensi Jumlah anak 3-5 tahun yang menderita karies gigi sulung yang minum susu ASI dan susu botol pada tahun 2017-2020. Prevalensi = Karies Sampel X 100% Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar yang berada di Jalan Kamboja nomor 11 A. Denpasar. Bali. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 26-19 Februari 2022. Tahap alur prosedur penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini: Pengajuan surat izin penelitian mengenai permohonan pengambilan data rekam medik dari peneliti/mahasiswa ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar. Pengajuan surat izin penelitian mengenai permohonan pengambilan data rekam medik dari peneliti/mahasiswa ke Kepala Laboratorium Ilmu Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Peneliti/Mahasiswa mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan seperti alat tulis dan kartu data rekam medik Ilmu Kedokteran Gigi Anak di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Peneliti/Mahasiswa menyeleksi kartu pemeriksaan rekam medik dari tahun 2017-2020 yang sesuai dengan kriteria inklusi yaitu riwayat pemberian susu botol dan air susu ibu, informasi data umum pasien dan keadaan gigi sulung pasien yang terisi lengkap yang terdapat pada kartu pemeriksaan rekam medik yang akan diteliti. Peneliti/Mahasiswa mencatat data yang dibutuhkan yaitu riwayat pemberian susu botol dan air susu ibu, informasi data umum pasien (Nama. Jenis Kelamin. Umur. Tanggal Lahir dan Usi. dan keadaan gigi sulung pasien yang terisi lengkap yang terdapat pada kartu pemeriksaan rekam medik yang akan diteliti. Peneliti/mahasiswa membuat resume yaitu mengolah dan menganalisis data hasil Menyusun hasil resume penelitian. Hasil resume penelitian yang diperoleh selanjutnya dianalisis. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis univariat. Analisis Univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dan hasil penelitian selanjutnya dianalisis untuk meringkas kumpulan data hasil pengukuran serta mengetahui distribusi dan persentase dari tiap variabel. Kemudian hasil yang didapatkan dimasukan dalam tabel HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan pada hari Rabu sampai hari Sabtu,tanggal 26-29 Januari 2022 di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Karakteristik dalam penelitian ini adalah kartu pemeriksaan rekam medik pasien di klinik bagian departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar tahun 20172020. Total sampel yang memenuhi kriteria inklusi penelitian sebanyak 70 data rekam Tabel 1. Jumlah karies gigi pada anak dengan pola minum susu ASI Usia . Jumlah Karies Prevalensi 47,1% Tabel 2. Jumlah karies gigi pada anak dengan pola minum susu botol Usia . Jumlah Karies Prevalensi 52,9% Berdasarkan hasil penelitian pada data rekam medik bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar tahun 2017-2020 diperoleh 70 data inklusi rekam medik. Sesuai dengan kriteria yang telah dibuat yaitu informasi umum pasien mengenai riwayat lama pemberian susu botol dan susu ASI, usia, dan jenis kelamin dan pasien dengan gigi sulung masih lengkap pada data rekam medik pasien usia 3-5 tahun pada bagian Ilmu Kedokteran GigiAnak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar tahun 2017-2020. Hasil penelitian pada data rekam medik pasien bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar tahun 2020 tidak lengkap, hanya terdapat beberapa data dikarenakan masuknya wabah pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus corona. COVID-19 ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) atau organisasi Kesehatan dunia sebagai wabah global, sehingga, cara penanggulangan wabah tersebut di tiap negara memiliki kesamaan, misalnya di beberapa negara menerapkan social distancing, physical distancing, lokcdown, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), semua kebijakan tersebut memiliki tujuan yang sama yakni untuk memutus mata rantai COVID-1922. Penerapan social distancing dan physical distancing serta beberapa protokol kesehatan lainnya juga diterapkan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar, dengan membatasi interaksi sosial dan dialihkan secara daring selama pandemi COVID19 termasuk membatasi aktifitas pelayanan gigi dan mulut pada pasien bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Sehingga tidak ada data pasien masuk selama pandemi COVID-19 pada bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar. Jumlah Karies Gigi Pada Anak dengan Pola Minum Susu ASI dan Susu Botol ,9%) Susu ASI Susu Botol Gambar 1. Jumlah karies gigi pada anak dengan pola minum susu ASI dan Susu Botol Jumlah karies gigi pada anak dengan pola minum susu ASI dan susu botol (Gambar . menunjukkan bahwa dari 70 data inklusi, karakteristik pada kartu pemeriksaan rekam medik terdiri dari 33 . ,1%) anak mengalami karies gigi sulung karena minum susu ASI dan terdiri dari 37 . ,9%) pada kartu pemeriksaan rekam medik anak mengalami karies gigi sulung karena minum susu botol. Pada penelitian yang dilakukan Ghaitsa dkk. , indeks karies pada anak yang mengkonsumsi susu botol tergolong dalam kategori tinggi. Tingginya indeks karies pada anak yang mengkonsumsi susu botol dipengaruhi oleh kebiasaan minum susu formula menggunakan media berupa dot botol. Pemberian susu formula menggunakan botol dengan durasi yang lama dan kebiasaan minum susu formula dengan dot hingga anak tertidur serta oral hygiene yang buruk. Hal ini dikarenakan terlambatnya tindakan pencegahan karies setelah anak minum susu menggunakan botol. Minum susu dengan menggunakan botol sampai tertidur adalah cara yang tidak baik, cairan susu tersebut akan menggenangi rongga mulut . untuk beberapa waktu . Genangan susu pada rongga mulut saat tidur menjadi substrat yang akan difermentasikan oleh bakteri menjadi asam, pH plak menjadi dibawah 5 dalam waktu 1-3 menit. Semakin lama dan sering anak mengkonsumsi susu botol, maka potensi untuk terjadinya karies makin tinggi20. Frekuensi mengkonsumsi sukrosa yang tinggi meningkatkan keasaman plak dan meningkatkan potensi pembentukan plak serta pertumbuhan bakteri di rongga mulut. Plak paling aktif bekerja di malam hari, pada saat anak dalam keadaan istirahat. Makan selama tidur meningkatkan resiko karies gigi karena kebersihan mulut dan laju aliran saliva menurun saat tidur. Sehingga mengkonsumsi minuman/makanan yang mengandung gula dengan botol harus dikurangi atau dihentikan pada saat malam hari . Untuk mengurangi resiko karies gigi, salah satu metode yang harus dilakukan adalah memberikan pendidikan kesehatan kepada orang tua tentang cara pengelolaan susu formula serta perawatan gigi anak. Sehingga orang tua lebih dapat memahami cara pengelolaan pemberian susu formula pada anak agar terhindar dari karies gigi23. Tingginya angka karies dini pada anak diawali dengan konsumsi ASI dan meningkatnya penggunaan susu botol selama 6 bulan pertama sejak kelahiran. Kebiasaan minum susu menjelang tidur dengan menggunakan botol yang terlalu lama, juga kebiasaan mengulum permen dan makan-makanan manis dapat menyebabkan anak terkena karies15. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Yulita dkk. , menyatakan bahwa, skor DMF-T pada anak yang mengkonsumsi ASI Eksklusif lebih rendah dibandingkan mengkonsumsi ASI disertai makanan lainnya24. Menyusui berfungsi sebagai suatu proteksi yang meminimalkan risiko pembentukan karies gigi. ASI menghasilkan asam yang relatif sedikit dalam mulut bayi, sehingga risiko timbulnya karies gigi pada anak yang tidak diberi ASI lebih besar daripada anak yang diberi ASI. Mekanisme penghisapan yang dilakukan bayi untuk menyusui berbeda dengan mekanisme menghisap botol susu. Anak yang menyusui akan menghisap puting dan aerola ibu, gerakan bibir dan lidah berkontribusi lebih banyak untuk meremas daripada menghisap dan lidah akan menekan puting susu terhadap palatum dengan gerakan peristaltik. Bayi dengan botol susu akan menggunakan lidah dengan gerakan piston untuk menekan dot terhadap palatum16. Jumlah Karies Gigi Pada Anak dengan Pola Minum Susu ASI dan Susu Botol Berdasarkan Usia 3-5 Susu ASI Susu Botol Gambar 2. Jumlah karies gigi pada anak dengan pola minum susu ASI dan susu botol berdasarkan usia 3-5 tahun Jumlah karies gigi pada anak dengan pola minum susu ASI dan susu botol berdasarkan usia 3-5 tahun (Gambar 6. menunjukkan bahwa dari 70 data inklusi. Pada pola minum susu ASI anak usia 3 tahun yang mengalami karies gigi sebanyak 3 anak, usia 4 tahun yang mengalami karies gigi sebanyak 9 anak, dan usia 5 tahun yang mengalami karies gigi sebanyak 21 anak. Pada hasil penelitian pada pola minum susu botol menunjukkan anak usia 3 tahun yang mengalami karies gigi sebanyak 4 anak, usia 4 tahun yang mengalami karies gigi sebanyak 12 anak, dan usia 5 tahun yang mengalami karies gigi sebanyak 21 anak. Pada jumlah karies pada anak usia 5 tahun dengan pola minum susu ASI dan susu botol lebih banyak yaitu sebanyak 42 anak, dibandingkan usia 3-4 tahun. Anak prasekolah mengalami proses pembentukan karies karena kurangnya perhatian orang tua terhadap makanan sehariAehari dan menyikat gigi. Pada umur 5 tahun, anak tersebut mulai melakukan sesuatu berdasarkan keinginanya salah satunya mulai mencoba berbagai rasa makanan dalam bentuk apapun sehingga dapat memberikan dampak buruk bagi gigi apabila anak tersebut tidak memerhatikan solusi pencegahan timbulnya karies25. Konsumsi makanan manis seperti karbohidrat seperti sukrosa yang dapat menyebabkan terjadinya karies gigi dikenal dengan sebutan makanan kariogenik. Pada umumnya anak usia dini sangat suka makan makanan manis tetapi kesadaran untuk menjaga dan memelihara kebersihan mulutnya sangat kurang26. Anak usia sekolah memiliki motivasi yang kurang dalam melakukan perawatan gigi apabila sejak awal anak dibiasakan menyikat gigi secara teratur, maka akan mudah mempertahankan kebiasaan tersebut hingga usia dewasa. Pengetahuan, sikap, dan perilaku dari seluruh komponen tersebut mempengaruhi tingkat kebersihan gigi dan mulut pada anak. Pada anak-anak, pengaruh dari orangtua sangat kuat. Sikap dan perilaku orang tua, terutama ibu, dalam pemeliharaan gigi memberi pengaruh terhadap sikap dan perilaku anak. Penyuluhan kesehatan gigi pada anak sekolah dasar sangat penting karena pada usia tersebut adalah masa kritis, baik bagi pertumbuhan gigi geliginya juga bagi perkembangan jiwanya sehingga memerlukan berbagai metode dan pendekatan untuk menghasilkan pengetahuan, sikap dan perilaku yang sehat khususnya kesehatan gigi dan Upaya promosi kesehatan gigi dan mulut dapat dilakukan untuk meningkatkan tingkat kebersihan gigi dan mulut. Upaya ini ditujukan kepada semua anak-anak agar dapat menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut dengan baik27. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa perbedaan prevalensi karies gigi sulung pada pemberian susu botol dan ASI pada pasien bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Saraswati Denpasar tahun 2017-2020. Hasil prevalensi pada penelitian ini, karies pada gigi sulung di RSGM Saraswati Denpasar tahun 2017-2020 jumlanya sebanyak 70 kasus. Lebih tinggi jumlah karies pada pola minum susu botol sebanyak 37 . ,9%) kasus dibandingkan dengan jumlah karies pada pola minum susu susu ASI sebanyak 33 . ,1%) kasus, dan jumlah karies pada pasien anak usia 5 tahun lebih tinggi sebanyak 42 kasus dibandingkan lainnya. SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang diberikan pada penelitian ini yaitu: Perlunya ditingkatkan pemahaman dalam mengisi kartu pemeriksaan data rekam medik pasien, bahwa hal tersebut berpengaruh terhadap pemberian pelayanan secara maksimal dan banyaknya jumlah kartu pemeriksaan rekam medik yang tidak lengkap akibat kurangnya data kartu rekam medik mengenai informasi umum pasien, riwayat pemberian susu botol dan ASI, serta keadaan gigi geligi pasien yang kurang lengkap. DAFTAR PUSTAKA