Buletin Kesehatan MAHASISWA Volume 04. Nomor 1. September 2025 E-ISSN: 2964-7630 Website: https://journal. fkm-untika. id/index. php/jpmeoj This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Wanita Prakonsepsi di Kabupaten Banggai (The Relationship of Dietary Patterns and Preconceptional Nutritional Status of Women in Banggai Distric. Nadia TaAoati A. Fitriyanti S. Lanyumba1*. Marselina SattuA 1Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Tompotika Luwuk *Koresponden Penulis: fitri. sutadi@gmail. ABSTRAK Wanita prakonsepsi adalah wanita usia subur yang sedang dalam masa yang sudah siap menjadi seorang ibu. Masa prakonsepsi sangat perlu diperhatikan status kesehatan serta status gizinya karena sedang dalam masa mempersiapkan Status gizi pada masa prakonsepsi merupakan faktor utama yang mempengaruhi kondisi ibu dan bayi dalam kehamilan dengan terpenuhinya gizi Penyebab dari timbulnya masalah kesehatan tersebut biasanya disebabkan pula oleh pola hidup yang tidak sehat seperti aktifitas fisik yang kurang, kebiasaan merokok, faktor pola makan yang kurang sehat, kesehatan lingkungan dan lain-lain Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pola makan dengan status gizi pada wanita prakonsepsi di kabupaten banggai. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan desain pendekatan cross sectional. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah peserta posyandu Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan penentuan besar sampel yaitu sebanyak 165 orang. Pengumpulan data berdasarkan data primer dan dan Pengolahan data menggunakan program SPSS. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa variabel jenis makanan di kategori status gizi normal paling banyak itu memiliki jenis makanan beragam yaitu sebanyak 68 orang . ,2%) dibandingkan jenis makanan tidak beragam. Sedangkan variabel frekuensi makan di kategori status gizi normal paling banyak yaitu sebanyak 56 orang . ,8%) di bandingkan frekuensi makan kurang dan frekuensi makan lebih. Selanjutnya untuk variabel porsi makan di kategori status gizi paling banyak memilki porsi makan tidak sesuai yaitu sebanyak 156 orang . ,5%) dibandingkan porsi makan yang sesuai. Hasil analisis bivariat chi square menunjukan nilai P value untuk jenis makanan . =0,. dan frekuensi makan . =0,. Sedangkan porsi makan . =0,. , artinya nilai P-value < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan pada status gizi wanita prakonsepsi di kabupaten banggai. Disarankan kepada masyarakat kabupaten banggai khususnya wanita prakonsepsi untuk lebih memperhatikan pola makan dan meningkatkan konsumsi makan bergizi seimbang dan dapat mengurangi asupan makanan yang berlebihan agar dapat membantu menjaga berat badan ideal. Kata kunci: Pola makan, status gizi, wanita prakonsepsi https://doi. org/10. 51888/jpmeo. 2 | Buletin Kesehatan MAHASISWA. Vol. 04 No. September 2025 ABSTRACT Preconception women are women of childbearing age who are in a stage where they are ready to become mothers. The preconception period is critical for monitoring health and nutritional status because it is a time of preparation for pregnancy. Nutritional status during this period is a key factor that affects the condition of both the mother and the baby during pregnancy, provided that balanced nutrition is met. Health issues that arise are often caused by unhealthy lifestyles such as lack of physical activity, smoking habits, poor dietary patterns, environmental health, and more. The aim of this study is to analyze the relationship between dietary patterns and nutritional status in preconception women in Banggai Regency. This study uses an analytic research type with a cross-sectional design approach. The population in this study consists of participants from the preconception posyandu . aternal and child health servic. The sample size determination was set at 165 people. Data collection was based on primary and secondary data. Data processing was conducted using the SPSS program. Data analysis utilized the chi-square test. The bivariate analysis results showed that, in the normal nutritional status category, the most common variable was a diverse diet, with 68 people . 2%) having a varied diet compared to those with a non-varied diet. Meanwhile, for the meal frequency variable, the normal nutritional status category had 56 people . 8%) with an adequate meal frequency compared to those with less frequent or more frequent meals. For the meal portion variable, the majority in the normal nutritional status category had inappropriate portion sizes, with 156 people . 5%) compared to those with appropriate portion sizes. The bivariate chi-square analysis showed P-values for diet variety . = 0. and meal frequency . = 0. , while the portion size . = 0. , meaning the P-value is < 0. Therefore, it can be concluded that there is a significant relationship between dietary patterns and the nutritional status of preconception women in Banggai Regency. It is recommended that the community, especially preconception women in Banggai Regency, pay more attention to their dietary patterns, increase the consumption of balanced nutritious food, and reduce excessive food intake to help maintain an ideal body weight. Keywords: Dietary Patterns. Nutritional Status. Preconception Women PENDAHULUAN Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keinginan menikah wanita usia subur (WUS). Pernikahan usia dini merupakan pernikahan yang dilakukan secarah sah oleh seseorang yang memiliki persiapan dan kedewasaan yang belum memadai, sehingga hal ini merupakan suatu keprihatinan dan membawa banyak risiko yang berkaitan dengan masalah kesehatan. Status gizi pada masa prakonsepsi merupakan faktor utama yang mempengaruhi kondisi ibu dan bayi dalam kehamilan dengan terpenuhinya gizi seimbang. Hal ini berkaitan erat dengan kejadian kesekitan dan kematian yang disebabkan oleh kejadian Kekurangan Energi Kronok (KEK) dan Kekurangan Zat Besi (Anemi. pada ibu selama proses kehamilan, persalinan hingga nifas. Masa Prakonssepsi merupakan masa sebelum terjadinya pembuahan dan gizi wanita pada masa ini menjadi penentu kualitas hidup ibu dan bayi kedepannya. Pada masa ini perlu dilakukan persiapan fisik dan https://doi. org/10. 51888/jpmeo. Hubungan Pola Makan Dengan StatusA. (Fitriyanti S. Lanyumba, dk. | | 3 Untuk persiapan fisik, hal yang perlu dipersiapkan berupa pemenuhan asupan gizi (Gizi et al. , 2. Masalah gizi di indonesia pada umumnya masih didominasi oleh masalah gizi kurang. Masalah gizi kurang pada wanita mempengaruhi status gizi pada periode siklus kehidupan Salah satu periode status gizi yang paling menentukan adalah status gizi pada masa pranika atau yang biasa disebut masa prakonsepsi. Masalah gizi tersebut meliputi Underweight. Stunting dan Wasting. Stunting pada balita berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak seperti penurunan intelektual, rentan terhadap penyakit tidak menulat seperti diabetes melitus, penurunan produktivitas hingga menyebabkan kemiskinan serta beresiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Menurut data SKI pada tahun 2023 jumlah Stunting 29,1%. Wasting 9,7%, dan Underweight 22,7% di wilayah kabupaten banggai (SKI, 2. Menurut data SKI pada tahun 2023 untuk Nasional Wanita Usia Subur (WUS) juga banyak mengalami Anemia dimana menurut WHO wanita usia subur yang mengalami anemia mencapai 528 juta . %) di dunia. Sedangkan di indonesia angka kejadian anemia pada usia remaja sebesar 32% yang artinya 3-4 dari 10 remaja mengalami anemia (SKI. Berdasarkan data Provinsi kesehatan tahun 2022 pelayanan kesehatan pada prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2019 berdasarkan data SSGI yaitu sebesar 31,26% dan mengalami penurunan menjadi 29,7% di tahun 2021, sedangkan prevalensi stunting di Kabupaten Banggai yaitu sebesar 26% pada tahun 2021 dan turun menjadi 24,3% di tahun 2022. Dengan jumlah Wanita Prakonsepsi di Kabupaten Banggai yaitu sebanyak 909 orang. Jumlah peserta posyandu prakonsepsi 280 orang (Dinkes Banggai, 2. Masalah-masalah kesehatan yang biasanya dialami wanita prakonsepsi umur 1830 tahun adalah KEK dan Anemia. Wanita prakonsepsi diusia 15-49 tahun yang sedang dalam masa reproduksi dan sedang mempersiapkan kehamilan perlu mengatur dan merencanakan kehamilannya dengan baik agar menghindari masa kehamilannya kelak terjadi masalah-masalah kesehatan seperti KEK ataupun Anemia. Faktor penyebab anemia pada wanita prakonsepsi adalah kurangnya kesadaran, pengetahuan, status pendidikan, keadaan lingkungan, kurangnya asupan zat besi dan mengenai nutrisi. Selain itu faktor yang mempengaruhi anemia adalah kurang memadainya asupan makanan sumber Fe, meningkatnya kebutuhan Fe saat hamil dan menyusui serta kehilangan banyak darah (Iskandar et al. , 2. Adapun Penyebab terjadinya KEK pada wanita prakonsepsi adalah penyakit infeksi, asupan gizi, pendidikan, pekerjaan dan pengeluaran rendah berpeluang besar untuk terjadinya KEK (Fauziah et al. , 2. Penelitian dilakukan oleh parida mengatakan bahwa kekurangan zat gizi makro dan mikro mampu mengganggu derajat kesehatan wanita. Kekurangan zat gizi mikro seperti seng, zat besi, asam folat, tembaga, magnesium, yodium pada wanita dimasa prakonsepsi. Selain itu, perluh memotifasi dan dorongan kepada wanita prakonsepsi untuk memanfaatkan posyandu prakonsepsi yang sudah ada di masyarakat, serta mengintegrasikan upaya promotive dan edukasi gizi kedalam program posyandu prakonsepsi (Balebu et al. , 2. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dilakukan adalah Analitik Dengan desain Cross-Sectional untuk menganalisis hubungan pola makan dengan status gizi pada wanita prakonsepsi di Kabupaten Banggai. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh posyandu prakonsepsi dengan Usia 1949 Tahun Di Wilayah Kabupaten Banggai yaitu sebanyak 280 peserta posyandu prakonsepsi. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus lemeshow yaitu sebanyak 165 orang. Pengumpulan data berdasarkan data primer dan dan sekunder. Pengolahan data menggunakan program SPSS dan Nutri survei. Analisis data menggunakan uji chi https://doi. org/10. 51888/jpmeo. 4 | Buletin Kesehatan MAHASISWA. Vol. 04 No. September 2025 square untuk menjelaskan atau mendeskripsikan setiap variabel dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta penyajian data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai dengan penjelasan. HASIL Penelitian ini dilaksanakan selama 30 hari di mulai dari bulan Juni Ae Juli Dengan hasil sebagai berikut: Analisis Univariat Analisis Univariat dilakukan untuk melihat status gizi wanita prakonsepsi, frekeunsi makan, jenis makanan, dan porsi makan. Tabel 1. Analisis Univariat No. Variabel Status Gizi Wanita Prakonsepsi Frekuensi Makan Jenis Makanan Kurus Normal Gemuk Obesitas Kurang Cukup Lebih Beragam Tidak Beragam Sesuai Tidak Sesuai Porsi Makan Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan tabel 1, status gizi wanita prakonsepsi menunjukkan bahwa sebanyak 19 wanita . ,5%) memiliki status gizi kurus, 78 wanita . ,3%) memiliki status gizi normal, 24 wanita . ,5%) tergolong gemuk, dan 44 wanita . ,7%) mengalami Untuk frekuensi makan, sebanyak 35 wanita . ,2%) memiliki frekuensi makan yang kurang, 89 wanita . ,9%) memiliki frekuensi makan yang cukup, dan 41 wanita . ,8%) memiliki frekuensi makan yang berlebih. Dari segi jenis makanan, mayoritas wanita prakonsepsi, yakni 129 wanita . ,2%), mengonsumsi makanan yang beragam, sedangkan 36 wanita . ,8%) mengonsumsi makanan yang tidak beragam. Namun, dalam hal porsi makan, hanya 9 wanita . ,5%) yang mengonsumsi porsi makan yang sesuai, sementara sebagian besar, yaitu 156 wanita . ,5%), mengonsumsi porsi makan yang tidak sesuai. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan dari variabel independent dan variabel dependent. Dalam penelitian ini untuk melakukan analisis bivariat akan menggunakan uji chi-square dengan taraf kepercayaan 5% = 0,05. https://doi. org/10. 51888/jpmeo. Hubungan Pola Makan Dengan StatusA. (Fitriyanti S. Lanyumba, dk. | | 5 Tabel 2. Analisis Bivariat Variabel Status Gizi Kurus Jenis Makanan Beragam Tidak Beragam Total Frekuensi Makan Kurang Cukup Lebih Total Porsi Makanan Normal Gemuk Obesitas 89,5% 87,2% 54,2% 70,5% 10,5% 12,8% 85,8% 29,5% Uji Statistik Chi-square X2 A 14,777 P-Value A0,002 X2 A 26,419 31,6% 52,6% 15,8% 15,4% 71,8% 12,8% 33,3% 29,2% 37,5% 20,5% 36,4% 43,2% P-Value A0,001 X2 A 10,618 Sesuai 0,0% 11,5% 0,0% 0,0% P-Value Tidak Sesuai Total 88,5% A0,014 Sumber: Data Primer, 2023 Ket : * = Signifikan terhadap status gizi wanita prakonsepsi(P-value <0,. Berdasarkan tabel 2 di atas, variabel jenis makanan, frekuensi makan, dan porsi makanan memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi wanita prakonsepsi dengan nilai p value adalah 0,002 (Jenis makana. , 0,001 (Frekuensi maka. dan 0,014 (Porsi maka. PEMBAHASAN Hubungan Frekuensi Makan Dengan Status Gizi Wanita Prakonsepsi Frekuensi makan adalah konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau tahun. Frekuensi makan yang dikonsumsi juga turut berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi seseorang. Dan informasi pola konsumsi pangan biasanya dapat diperoleh melalui metode frekuensi makan (Khusniyati et al. , 2. Dari total 165 responden yang memiliki frekuensi makan kurang yaitu sebanyak 35 orang . ,2%), frekuensi makan cukup yaitu sebanyak 89 orang . ,9%), frekuensi makan lebih yaitu sebanyak 41 orang . ,8%). Pada 165 responden yang memiliki status gizi kurus yaitu sebanyak 19 orang . ,5%), status gizi normal yaitu sebanyak 78 orang . ,3%), status gizi gemuk yaitu sebanyak 24 orang . ,5%), status gizi obesitas yaitu sebanyak 44 orang . ,7%). Sementara itu, hasil uji statistik Chi Square diperoleh nilai P-value 0,000 (P-value <0,. hal ini menunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak maka disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara frekuensi makan dengan status gizi wanita prakonsepsi Di Kabupaten Banggai. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden memiliki frekuensi makan cukup dibandingkan frekuensi makan kurang atau frekuensi makan lebih. Seseorang dengan frekuensi makan cukup sangat penting dalam https://doi. org/10. 51888/jpmeo. 6 | Buletin Kesehatan MAHASISWA. Vol. 04 No. September 2025 memahami bagaimana pola makan mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Frekuensi makan mengacu pada seberapa sering seseorang mengonsumsi makanan dalam sehari,yang dapat berkisar dari tiga kali makan utama . arapan, makan siang dan makan mala. hingga berbagai snack atau makanan ringan diantara waktu makan Penelitian menunjukkan bahwa frekuensi makan yang teratur dan terkontrol dapat berkontribusi pada status gizi yang lebih baik, terutama jika diimbangi dengan pilihan makanan yang seimbang dan bergizi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Soekirman . yang menyatakan bahwa ada hubungan antara frekuensi makan dengan status gizi pada wanita prakonsepsi. Hal ini dikarenakan Frekuensi makan dikatakan baik jika frekuensi makan setiap harinya tiga kali makanan utama atau dua kali makanan utama dengan satu kali makanan selingan. Sejalan dengan Khomsan . yang menyatakan bahwa sebaiknya frekuensi makan 3 kali sehari untuk menghindari kekosongan Frekuensi makan yang kurang dapat menyebabkan kurang terpenuhinya kebutuhan kalori seseorang. Namun, pentingnya untuk dicatat bahwa bukan hanya frekuensi makan yang menentukan status gizi, tetapi juga kualitas makanan yang di Misalnya, makan lebih sering tetapi dengan makanan yang tinggi kalori, gula dan lemak jenuh tanpa memperhatikan nilai gizi lainnya dapat menyebabkan peningkatan berat badan yang tidak sehat dan berbagai masalah kesehatan lainnya, seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Oleh karena itu frekuensi makan yang optimal harus diimbangi dengan pola makan yang mengutamakan makanan yang kaya nutrisi seperti buah-buahan, sayuran, protein berkualitas dan biji-bijian utuh (Khusniyati et al. , 2. Hubungan Jenis Makanan Dengan Status Gizi Wanita Prakonsepsi Hubungan antara jenis makanan dengan status gizi wanita prakonsepsi . ebelum kehamila. adalah aspek penting yang memiliki dampak langsung pada kesehatan reproduksi dan keberhasilan kehamilan. Wanita prakonsepsi memerlukan asupan nutrisi yang seimbang dan cukup untuk mempersiapkan tunuh mereka menghadapi kehamilan, serta memastikan kesehatan janin dimasa awal konsepsi. Nutrisi yang baik pada fase ini tidak hanya mendukung kesehatan umum wanita, tetapi juga meningkatkan peluang kehamilan yang sehat dan mengurangi resiko komplikasi baik bagi ibu maupun anak. Dari total 165 responden yang memiliki jenis makanan beragam yaitu sebanyak 129 orang . ,2%), jenis makanan tidak beragam yaitu sebanyak 36 orang . ,8%). Pada 165 responden yang memiliki status gizi kurus yaitu sebanyak 19 orang . ,5%), status gizi normal yaitu sebanyak 78 orang . ,3%), status gizi gemuk yaitu sebanyak 24 orang . ,5%), status gizi obesitas yaitu sebanyak 44 orang . ,7%). Sementara itu, hasil uji statistik Chi Square diperoleh nilai P-value 0,002 (Pvalue <0,. hal ini menunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak maka disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara jenis makanan dengan status gizi wanita prakonsepsi Di Kabupaten Banggai. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden memiliki jenis makanan beragam dibandingkan jenis makanan tidak beragam. Jenis makanan yang di konsumsi oleh wanita prakonsepsi harus kaya akan nutrisi penting seperti asam folat, zat besi,kalsium, protein dan vitamin lainnya. Asam folat, misalnya, sangat krusial dalam mencegah cacat tabung saraf pada janin. Oleh karena itu, diet yang mencakup sayuran hijau, kacang-kacang, buah-buahan dan biji-bijian yang diperkaya sangat di anjurkan. Zat besi, yang banyak terdapat dalam daging merah, kacangkacangan dan sayuran hijau, diperlukan untuk membangun cadangan darah yang cukup https://doi. org/10. 51888/jpmeo. Hubungan Pola Makan Dengan StatusA. (Fitriyanti S. Lanyumba, dk. | | 7 untuk mendukung peningkatan volume dara selama kehamilan serta mencegah anemia, yang umum terjadi pada wanita hamil. Hubungan Porsi Makan Dengan Status Gizi Wanita Prakonsepsi Hubungan antara porsi makan dengan status gizi merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan kesehatan dan kesejahteraan individu. Porsi makan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan gizi tubuh sangat berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Yang mencerminkan keseimbangan antara asupan nutrisi dalam kebutuhan metabolik tubuh. Porsi makan yang terlalu kecil dapat menyebabkan kekurangan energi dan nutrisi esensial, seperti protein, vitamin dan mineral, yang di butuhkan untuk mendukung fungsi tubuh yang optimal. Kekurangan ini dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, seperti penurunan berat badan, defisiensi nutrisi, serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan, terutama pada anak-anak (Sholikhah Tria Auliya Maratus et al. , 2. Dari total 165 responden yang memiliki porsi makan sesuai dengan status gizi normal yaitu sebanyak 9 orang . ,5%), sedangkan porsi makan tidak sesuai dengan status gizi tidak sesuai yaitu sebanyak 69 orang . ,5%). Untuk yang memiliki porsi makan kurang untuk asupan makanan karbohidrat yaitu sebanyak 45 orang . ,3%), cukup yaitu sebanyak 80 orang . %), porsi makan lebih yaitu sebanyak 40 orang . ,2%). Untuk asupan makanan protein kurang yaitu sebanyak 55 orang . , porsi makan cukup yaitu 70 orang . ,2%), porsi makan lebih yaitu 40 orang . ,2%). Untuk asupan makanan lemak kurang yaitu sebanyak 50 orang . ,3%), cukup yaitu sebanyak 73 orang . ,2%), lebih yaitu sebanyak 42 orang . ,5%). Untuk asupan makanan Vitamin B6 kurang yaitu sebanyak 53 orang . ,1%), cukup yaitu sebanyak 75 orang . ,5%), lebih yaitu sebanyak 37 orang . ,4%). Untuk asupan makanan zat besi kurang yaitu sebanyak 82 orang . ,7%), cukup yaitu sebanyak 45 orang . ,3%), lebih yaitu sebanyak 38 orang . ,0%). Untuk asupan makanan energi kurang yaitu sebanyak 54 orang . ,7%), cukup yaitu sebanyak 66 orang . ,0%), lebih yaitu sebanyak 45 orang . ,3%). Pada 165 responden yang memiliki status gizi kurus yaitu sebanyak 19 orang . ,5%), status gizi normal yaitu sebanyak 78 orang . ,3%), status gizi gemuk yaitu sebanyak 24 orang . ,5%), status gizi obesitas yaitu sebanyak 44 orang . ,7%). Sementara itu, hasil uji statistik Chi Square diperoleh porsi makan nilai P-value 0,014, asupan makanan karbohidrat nilai P-value 0,001, asupan makanan protein nilai P-value 0,001, asupan makanan lemak nilai P-value 0,001, asupan makanan vitamin B6 nilai P-value 0,005, asupan makanan zat besi nilai P-value 0,000, asupan makanan energi nilai P-value 0,002 (P-value <0,. hal ini menunjukkan bahwa Ha di terima dan Ho ditolak maka disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara porsi makanan dengan status gizi wanita prakonsepsi Di Kabupaten Banggai. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden memiliki porsi makanan cukup dibandingkan jenis makanan tidak cukup tetapi tidak dengan porsi makan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan pola makan dengan status gizi wanita prakonsepsi di Kabupaten Banggai, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi makan dengan status gizi pada wanita prakonsepsi kabupaten banggai. Terdapat hubungan yang bermakna antara jenis makanan dengan status gizi pada wanita prakonsepsi kabupaten banggai. https://doi. org/10. 51888/jpmeo. 8 | Buletin Kesehatan MAHASISWA. Vol. 04 No. September 2025 Terdapat hubungan yang bermakna antara porsi makan dengan status gizi pada wanita prakonsepsi kabupaten banggai. Disarankan bagi Wanita Prakonsepsi agar memperhatikan pola makan dengan memilih makanan yang tinggi serat, seperti buah-buahan dan sayuran. Selain itu juga memperhatikan berat badan ideal melalui kombinasi diet sehat. Serta calon pengantin diharapkan menambah pengetahuan mengenai gizi dengan mencari informasi dari sumber terpercaya serta mengonsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang agar siap dalam menghadapi kehamilan dan melahirkan generasi sehat. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih yang teramat dalam penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian kegiatan penelitian ini, kepada pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai Kepulauan, serta seluruh pihak yang tak bisa peneliti sebutkan satu-persatu. DAFTAR PUSTAKA