MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Sinergitas Guru dalam Mengatasi Perilaku Indisipliner Siswa di MAN 1 Ponorogo Wilis Werdiningsih Institut Agama Islam Negeri Ponorogo werdiningsih@iainponorogo. Binti Ahlaku Mukaromah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo mukaromah161@gmail. Abstract: The purpose of education cannot be separated from the role of a teacher, namely educating, guiding, teaching and training. With synergy between moral belief teachers and guidance and counseling teachers, students can overcome disciplinary behavior. The moral aqidah teacher has the role of providing an understanding of religious values, while the guidance and counseling teacher has the role of providing guidance and counseling services to students. This research aims to analyze the synergy of the moral aqidah teacher and guidance teacher in overcoming student disciplinary behavior at MAN 1 Ponorogo. Data collection was carried out using interviews, observation and documentation techniques. With the data analysis stage using the interactive model analysis technique of Milles. Huberman, and Saldana. Meanwhile, the technique for checking the validity of the data in this study uses triangulation techniques. Based on data analysis, it was found that the synergy between moral aqidah teachers and guidance and counseling teachers was well established, while the form of synergy that existed was establishing communication, coordination and cooperation in developing their respective roles to complement each other. Supporting factors come from the teacher and family environment while inhibiting factors come from the student's personality and friendship environment. With the role of moral belief teachers and guidance and counseling teachers, they can help overcome disciplinary behavior even though it is not yet completely perfect. Because there needs to be role and support from all teachers, staff, and employees at the Madrasah Keywords: Forms of Synergy. Inhibiting and Supporting Factors. Synergy Results. Abstrak: Tujuan pendidikan tidak lepas dari peran seorang guru yakni mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih. Dengan sinergitas antara guru Akidah Akhlak dan guru BK diharapkan dapat mengatasi perilaku indisipliner siswa. Guru Akidah Akhlak memiliki peran sebagai pemberi pemahaman mengenai nilai-nilai agama, sedangkan guru BK memiliki peran untuk memberikan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis bentuk sinergitas guru Akidah Akhlak dan guru BK dalam mengatasi perilaku indisipliner siswa di MAN 1 Ponorogo. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tahap analisis data menggunakan teknik analisis model interaktif Milles. Huberman, dan Saldana. Sedangkan teknik pengecekan keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi teknik. Berdasarkan analisis data ditemukan bahwa sinergitas antara guru akidah akhlak dan guru bimbingan konseling sudah terjalin dengan baik. Adapun bentuk sinergitas yang terjalin MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. yakni menjalin komunikasi, koordinasi, dan kerja sama dalam mengembangkan peran masing-masing untuk saling melengkapi. Faktor pedukung berasal dari guru dan lingkungan keluarga, sedangkan faktor penghambat berasal dari pribadi siswa dan lingkungan pertemanan. Dengan adanya peran guru akidah akhlak dan guru bimbingan konseling dapat membantu dalam mengatasi perilaku indisipliner walaupun belum sepenuhnya sempurna. Karena perlu adanya peran dan dukungan dari semua guru, staff, pegawai yang di madrasah. Kata kunci: Bentuk sinergi, faktor penghambat dan pendukung, hasil sinergi. PENDAHULUAN Perilaku tidak disiplin . menjadi permasalahan yang umum terjadi di kehidupan masyarakat maupun di lingkungan sekolah. Pada lingkungan sekolah, kurangnya disiplin siswa bisa disebabkan beberapa faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal. Kedisiplinan ini penting untuk ditanamkan, lantaran kedisiplinan siswa berpengaruh terhadap prestasi siswa yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kemajuan sekolah. Lingkungan sekolah yang disiplin akan menciptakan kebiasaan yang baik dalam proses pembelajaran. Namun sebaliknya, apabila lingkungan sekolah kurang tertib . maka akan mengganggu jalannya proses pembelajaran. Oleh karena itu karakter disiplin harus dibentuk sedini mungkin melalui kegiatan belajar mengajar. Siswa-siswi di sekolah memiliki beragama karakter dan perilaku. Sehingga tidak jarang sebagai dari mereka melakukan berbagai macam pelanggaran, mulai dari pelanggaran ringan, sedang bahkan pelanggaran berat. Pelanggaran yang dilakukan siswa ini sangat mungkin menjadi sebuah kebiasaan yang buruk jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan Oleh sebab itu perlu adanya usaha untuk menangani keadaan tersebut. 2 Kepala sekolah, guru maupun tenaga kependidikan perlu untuk mendesain sebuah aturan, memilih strategi yang tepat, serta menerapkannya dengan tepat agar perilaku tidak disiplin siswa bisa ditangani dengan baik. Seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab terkait pembentukan perilaku disiplin peserta didik ini. Hal ini penting untuk diperhatikan oleh sekolah, mengingta pendidikan merupakan sarana yang tepat dalam melaksanakan character building. Oleh sebab itu, kurikulum pendidikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga tujuan Imam Musbikin. Pendidikan Karakter Disiplin (Nusa Media, 2. , 1Ae2. Galih Satria Permadi. AuSinergitas Guru PAI Dan Guru BK Dalam Menjaga Kedisiplinan Peserta Didik Di SMP Al-Kautsar Bandar LampungAy (Lampung. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2. , 8Ae9. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. pendidikan nasional dalam rangka mendidik anak bangsa yang memiliki akhlak mulia dapat Perilaku tidak disiplin siswa, atau yang biasa disebut dengan perilaku indisipliner, merupakan lawan kata dari disiplin. Menurut Kemendikbud, dalam Era Astriani, disiplin berasal dari bahasa Latin disciplina yang berarti pelatihan atau pendidikan mengenai kesopanan dan kerohanian seseorang melalui kebiasaan, serta perkembangan karakter. Jadi perilaku indisipliner merupakan kebalikan dari perilaku disiplin yaitu tidak patuh dengan aturan dari pimpinan yang memiliki wewenang dengan tujuan untuk mengembangkan perilaku serta kebiasaan yang baik. Dalam usaha membentuk peserta didik agar berperilaku disiplin di lingkungan sekolah, semua warga sekolah, baik guru maupun tenaga kependidikan dituntut untuk berperan aktif dalam mempengaruhi dan membentuk perilaku siswa. Namun dalam hal ini, guru Akidah Akhlak memiliki peran yang lebih besar dalam membentuk kedisiplinan siswa. Dalam cakupan materi pembelajaranya, guru Akidah Akhlak memiliki ruang yang luas untuk memberikan penekanan pada aspek akhlak siswa. Salah satunya adalah pemahaman tentang Oleh sebab itu guru Akidah Akhlak memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk karakter siswa melalui pengajaran yang disampaikan serta memberikan keteladanan yang baik. Tanggung jawab ini dapat dilihat dari dua aspek, yakni dari aspek guru Akidah Akhlak sebagai guru di sekolah, sekaligus guru dengan materi yang mengarah pada pembentukan akhlak terpuji. Selain guru Akidah Akhlak, guru bimbingan konseling/guru BK merupakan guru yang memiliki tanggung jawab lebih dalam pembinaan perilaku siswa. Guru BK sebagai konselor memiliki wewenang untuk membimbing, mengarahkan, menangani serta membina siswa agar memiliki perilaku yang positif, terhindar dari kenakalan-kenakalan remaja, serta memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar. Secara terperinci tujuan dari layanan BK ini adalah: . agar siswa mempunyai pengenalan yang lebih jelas mengenai dirinya . emampuannya, kelebihannya, kekurangannya, kemauannya, sifat yang baik dan kurang baik, kebiasaannya, kegemarannya, serta mengembangkan pemahaman dirinya dan mampu Wilis Werdiningsih. AuPengembangan Nilai Karakter Siswa dalam Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Jenjang SMP Pada Kurikulum 2013,Ay Cendekia Volume 15 Nomor 2 . : 285. Era Astriani. AuBimbingan Konseling dalam Sikap Indisipliner Siswa di SD Negeri Wiunduaji 07 Paguyangan Brebes,Ay Jurnal Tawadhu 2, no. : 617. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. mempunyai pengenalan yang lebih baik tentang situasi lingkungan, sehingga mampu memilih dan mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dan informasi tentang kesempatan yang ada secara tepat dan bertanggung jawab. mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan pemahaman dirinya, pemahaman lingkungan serta memecahkan masalah yang dihadapinya misalnya belajar, masalah karier, masalah pribadi dan masalah sosial. Pelajaran Akidah Akhlak merupakan salah satu pelajaran agama wajib pada jenjang pendidikan di madrasah. Melalui kegiatan pembelajaran Akidah Akhlak ini, diharapkan dapat mengarahkan perkembangan perilaku jasmani dan rohani siswa agar menjadi pribadi yang lebih seimbang. Hal ini lantaran pembelajaran Akidah Akhlak merupakan bagian dari pendidikan agama Islam, yang dipersiapkan untuk siswa agar siswa lebih mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT, serta dapat merealisasikannya dalam perbuatan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. 6 Sebagai upaya merealisasikan tujuan pendidikan ini, peran seorang guru yaitu mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih tidak dapat terpisahkan satu sama lain. 7 Dan dalam upaya ini, peran guru BK adalah memberikan bimbingan dan motivasi siswa agar menerapkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan siswa dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapi. Sinergitas menurut Covey, dalam Ahmad Sopian merupakan kombinasi atau perpaduan unsur atau bagian yang dapat menghasilkan keluaran yang lebih baik atau lebih Sedangkan Deadroff dan Williams mengatakan bahwa sinergitas merupakan sebuah proses yang terjadi dari interaksi dua orang atau lebih sehingga menghasilkan kekuatan atau pengaruh yang besar dibandingkan yang dikerjakan secara individual. 9 Dengan adanya sinergitas antar guru diharapkan dapat mengatasi perilaku indisipliner di lingkungan sekolah. Hal ini penting dilakukan sebagai upaya untuk mencapai pendidikan yang berkualitas. Sinergitas yang merupakan kerja sama yang dilakukan dua orang atau lebih untuk mencapai Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana. Manajemen Pendidikan (Yogyakarta: Graha Cendekia, t. ), 56. Eka Nurjanah dkk. AuStrategi Guru Mata Pelajaran Akidah Akhlak Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Belajar Siswa,Ay Journal Of Education and Instruction (JOEAI ) 3, no. 2 (Desember 2. : 160. Ahmad Sopian. AuTugas. Peran, dan Fungsi Guru dalam Pendidikan,Ay Sopian. Ahmad. "Tugas, peran. Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah 1, no. 1 (Juni 2. : 90. Satria Permadi. AuSinergitas Guru PAI Dan Guru BK Dalam Menjaga Kedisiplinan Peserta Didik Di SMP Al-Kautsar Bandar Lampung,Ay 7. Nurdin Mokoginto. AuSinergitas Pengelolaan Program Pembagunan dan Sikap Kita,Ay Jurnal SIAP BPSDM Provinsi Gorontalo 2, no. 1 (Juni 2. : 2. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. tujuan bersama memiliki indikator, yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey yakni kerja sama, komunikasi, dan koordinasi. Berdasarkan fakta di lapangan diketahui bahwa siswa di MAN 1 Ponorogo masih terdapat siswa yang memiliki perilaku indisipliner. Di antara perilaku indisipliner yang ditunjukkan siswa adalah telat masuk kelas, tidak membawa buku, bolos kelas, mencontek ketika penilaian kelas, tidak memperhatikan guru, main hp ketika pelajaran berlangsung dan lain sebagainya. Sebagai upaya untuk mengatasi perilaku indispliner tersebut, sekolah membuat kebijakan yakni mendorong guru Akidah Akhlak bersinergi dengan guru BK. Guru Akidah Akhlak bertanggung jawab dalam menambah wawasan siswa terkait perilaku terpuji dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sementara guru BK memberikan wawasan terkait pengembangan diri, motivasi diri dan pengetahuan berkaitan dengan pengenalan diri. Selain itu guru BK juga berkewajiban untuk membimbing, memotivasi dan mengarahkan siswa yang melakukan perilaku-perilaku indisipliner, sehingga mereka mau untuk memperbaiki perilaku tersebut. Oleh sebab itu dalam penelitian ini akan lebih dikaji terkait sinergitas antara guru Akidah Akhlak dan guru BK dalam menangani perilaku indisipliner siswa di MAN 1 Ponorogo. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus. Pengambilan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data utama penelitian ini berasal dari hasil wawancara dengan informan utama yaitu Bapak Agung Drajatmono. Pd selaku kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 Ponorogo. Ibu Sri Umami Aji. Pd. , selaku guru Akidah Akhlak. Ibu Ning Rumantiningsih. Psi. , selaku guru BK, dan siswa-siswi MAN 1 Ponorogo. Sementara observasi dilakukan dengan mengamati perilaku disiplin siswa pada saat masuk sekolah di pagi hari, dan juga pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung di beberapa kelas. Sedangkan sumber data tambahan diperoleh melalui dokumentasi. Tahap analisis data menggunakan teknik analisis model interaktif Milles. Huberman, dan Saldana meliputi kondensasi data, pengumpulan data, penyajian data. I Gusti Ayu Diah Mahadewi Sastrawan. I Putu Dharmanu Yudartha, dan Putu Nomy Yasintha. AuSinergitas Dinas Sosial Provinsi Bali Dengan Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Udyana Wiguna Dalam Penanganan Anak Terlantar di Kabupaten Buleleng,Ay IJESPG Journal 1, no. : 159Ae160. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. dan penarikan kesimpulan. Sedangkan teknik pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini dengan menggunakan triangulasi teknik. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Sinergitas Guru Akidah Akhlak dan Guru Bimbingan Konseling di MAN 1 Ponorogo Sinergitas dalam dunia pendidikan dianggap penting karena dipandang sebagai sarana untuk saling melengkapi perbedaan guna mencapai hasil yang lebih besar dengan perannya masing-masing. Sinergitas ini berpengaruh besar terhadap efektivitas pencapaian hasil suatu Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, diketahui bahwa sinergitas atau kerja sama antara guru Akidah Akhlak dan guru BK di MAN 1 Ponorogo sudah terjalin dengan Hal ini dapat dilihat dari peran masing-masing guru yang sudah dilakukan dengan baik. Guru Akidah Akhlak melaksanakan perannya dalam penanaman nilai-nilai ajaran Islam, khususnya berkaitan dengan perilaku-perilaku terpuji yang harus dilaksanakan sebagai umat beragama yang baik. Salah satunya adalah berkaitan dengan sikap disiplin. Hal ini sebagaimana hasil wawancara dengan kepala madrasah, sebagai berikut. AuPeran guru Akidah Akhlak memberikan pengertian dan pemahaman terkait kedisiplinan serta penamamkan karakter, baik dalam bentuk pembelajaran atau kegiatan-kegiatan dalam proses pembelajaran bentuk praktek atau unjuk kerja yang semua tercakup pada proyek P5 PPRA. Ay11 Sementara peran guru BK di MAN 1 Ponorogo, yakni pertama, mendeteksi dari awal terkait bakat minat siswa, kedua, mendeteksi kelebihan dan kekurangan siswa, ketiga mendeteksi permasalah-permasalahan yang dialami siswa. Dari deteksi tersebut akan diketahui perilaku siswa dan akan dilakukan pengelompokan siswa berdasarkan perilaku tersebut, apakah dalam kategori perilaku yang baik, sedang atau cukup. Pengkategorian ini untuk memudahkan kegiatan pembinaan terhadap siswa. Dengan demikian lambat laun, sikap disiplin siswa akan terbentuk serta dapat diarahkan dengan lebih baik. Selain memberikan materi di kelas, guru Akidah-Akhlak dalam upaya pembinaan akhlakul karimah siswa, memberikan keteladanan yang baik dan juga sering memberikan Dalam memberikan nasihat, guru juga mengajak siswa untuk berdialog dan Agung Drajatmono, wawancara. Ponorogo, 27 Februari 2024. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. memberikan contoh nyata tentang kedisiplinan dan manfaat dari kedisiplinan tersebut. Dialog dengan siswa ini sebagai upaya untuk mendapatkan feedback dari siswa, sehingga harapannya apa yang disampaikan oleh guru dapat diterima dengan baik. Sehingga selain diberikan contoh, siswa juga diajak untuk berpikir kritis walaupun dengan kalimat yang sederhana namun siswa bisa memahami dan mudah disentuh hatinya. Guru BK, dalam upaya yang sama, melakukan kegiatan bimbingan dan pendampingan terhadap semua siswa di madrasah. Dikatakan bahwa BK peduli siswa dan BK adalah sahabat siswa. Jadi peran BK yakni memberikan informasi kepada siswa, baik itu berkaitan dengan layanan bimbingan kelas, layanan bimbingan individu, baik bimbingan secara langsung maupun via whatsapp untuk memberikan pemahaman tentang etika ataupun Sebagaimana hasil observasi yang dilakukan peneliti diketahui bahwa guru BK melaksanakan perannya dengan baik, yakni memberikan bimbingan serta layanan baik secara kelompok maupun secara individu. Secara terperinci, berdasarkan hasil wawancara dan observasi, diketahui bentuk sinergitas yang dilakukan antara guru Akidah Akhlak dan guru BK, adalah sebagai berikut: Guru Akidah Akhlak dan guru BK rutin menjalin komunikasi Guru Akidah Akhlak selalu berupaya untuk memberikan materi pelajaran dengan baik agar siswa bisa memahami setiap materi yang diberikan. Selain itu, guru juga berupaya mendekatkan diri dengan siswa agar lebih memahami bagaimana sikap, perilaku, dan karakter siswa. Guru Akidah Akhlak juga berupaya untuk mengidentifikasi beberapa perilaku siswa di kelas. Dan apabila ditemukan perilaku siswa yang tidak baik atau melampaui batas wajar, maka akan dikonsultasikan dengan guru BK tentang bagaimana upaya terbaik untuk mengatasinya. Dari hasil konsultasi ini, guru Akidah Akhlak akan mengambil langkah penanganan. Sehingga upaya pertama dalam mengatasi perilaku tidak baik siswa dilakukan oleh guru Akidah Akhlak. Namun apabila tidak ada perubahan sikap siswa, maka akan diatur jadwal pemanggilan untuk bimbingan dan Temuan ini berdasarkan hasil wawancara dengan guru Akidah Akhlak sebagai berikut. AuKalau saya menemukan siswa yang berperilaku tidak disiplin yang melampaui MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. batas saya komunikasikan dengan guru BK untuk sharing bagaimana. Jika dengan saya tidak ada perubahan maka akan dijadwalkan untuk pemanggilan ke BK. Dengan demikian dapat diketahui bahwa komunikasi merupakan bentuk sinergitas pertama yang dilakukan oleh kedua guru. Melalui komunikasi ini, langkah terbaik penanganan sikap indisipliner siswa dapat ditentukan dan diterapkan dengan baik. Sehingga antar guru sama-sama saling memberikan informasi dan berbagi pengetahuan sebagai upaya membentuk perilaku terpuji siswa. Guru Akidah Akhlak dan guru BK melakukan koordinasi Guru BK melakukan koordinasi dengan guru Akidah Akhlak maupun wali kelas berkaitan dengan siswa baik dari segi akademik, peningkatan prestasi dan pelanggaranpelanggaran yang mungkin dilakukan siswa. Guru BK menindaklanjuti laporan dari guru Akidah Akhlak, maupun wali kelas berkaitan dengan perilaku siswa di kelas yang melanggar peraturan atau perilaku tidak disiplin. Langkah selanjutnya, siswa yang kurang disiplin akan diberikan pembinaan dan bimbingan. Pembinaan dan bimbingan ini dimulai dari guru Akidah Akhlak, dilanjutkan wali kela, dan jika belum ada perubahan maka akan dilanjutkan dengan bimbingan dan konseling dengan guru BK. Pada tahap bimbingan dan konseling ini, dilakukan sebanyak dua kali, dan apabila tidak ada perubahan akan dilanjutkan dengan pemanggilan orang tua. Guru Akidah Akhlak dan guru BK menggembangkan peran untuk saling Pembagian peran penting dilakukan dalam upaya penanganan sikap indispliner. Sinergi dan kolaborasi antar guru perlu dilakukan secara seimbang. Dalam hal ini guru Akidah Akhlak memberikan pemahaman materi tentang perilaku terpuji, memberikan keteladanan di dalam maupun di luar kelas, memberikan nasihat, dan juga mengajak siswa untuk berdiskusi tentang akhlak terpuji. Melalui materi Akidah Akhlak di kelas ini, diharapkan pengetahuan awal siswa terkait sikap-sikap terpuji dapat berkembang dengan Sementara itu, peran guru BK yakni memberikan materi kepada siswa terkait pengenalan diri, pengembangan kompetensi diri, motivasi diri, serta memberikan layanan bimbingan baik di kelas secara klasikal maupun secara individu. Dengan demikian Umami, wawancara. Ponorogo, 28 Februari 2024. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. pemahaman siswa atau penekanan pada aspek kognitif siswa dapat tercapai, dan penekanan pendidikan pada aspek afektif juga tercapai melalui kegiatan pendampingan antar guru maupun secara spesifik melalui kegiatan bimbingan dan konseling. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sinergitas antara guru Akidah Akhlak dan guru BK sudah dilakukan dengan baik. Hal ini terlihat dari indikator dari sinergitas sudah dilakukan oleh masing-masing guru sebagaimana yang dipaparkan oleh Stephen R. Covey, bahwa untuk mencapai tujuan bersama indikator yang harus ada dalam sebuah sinergitas adalah kerja sama, komunikasi, dan koordinasi. 13 Ketiganya telah dilakukan secara berkesinambungan sehingga perilaku indispliner siswa dapat ditangani dengan baik. Faktor Penghambat dan Pendukung dalam Sinergitas Antara Guru Akidah Akhlak dan Guru BK di MAN 1 Ponorogo Faktor penghambat merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan dari sebuah upaya yang akan dilakukan dalam merealisasikan suatu program atau kegiatan. Salah satunya dalam upaya penanganan sikap indisipliner siswa di MAN 1 Ponorogo. Berdasarkan hasil pengumpulan data, diketahui bahwa faktor penghambat upaya ini seringkali berasal dari anak sendiri yang kadangkala belum memiliki kemauan untuk berubah. Selain itu faktor penghambat berikutnya adalah dari keluarga dan lingkungan pertemanan. Pemahaman siswa tentang pentingnya berlaku disiplin dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci utama dalam mengatasi perilaku indispliner. Dari pemahaman ini diharapkan akan tumbuh kesadaran untuk menerapkannya dalam keseharian siswa, baik dalam kehidupan di rumah, di sekolah maupun di masyarakat. Oleh sebab itu penumbuhan kesadaran siswa penting untuk dilakukan, bukan hanya melalui nasihat, hukuman ataupun serangkaian aturan yang mengikat. Hal ini sebagaimana dikatakan pada teori pendekatan dalam pendidikan karakter, yang salah satunya adalah pendekatan emosional. Pendekatan emosional adalah upaya untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam menyakini konsep ajaran nilai-nilai universal serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. 14 Dengan pendekatan I Gusti Ayu Diah Mahadewi Sastrawan. I Putu Dharmanu Yudartha, dan Putu Nomy Yasintha. AuSinergitas Dinas Sosial Provinsi Bali Dengan Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Udyana Wiguna Dalam Penanganan Anak Terlantar di Kabupaten Buleleng,Ay IJESPG Journal 1, no. : 159Ae160. Sadam Fajar Shodiq. AuPendidikan Karakter Melalui Pendekatan Penanaman Nilai dan Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif,Ay Jurnal Aj-Tajdid Volume 1 Nomor 1 . : 19. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. ini diharapkan siswa benar-benar memahami mengapa suatu sikap itu perlu untuk dimiliki, apa manfaatnya dan apa dampak buruknya jika tidak dilakukan. Melalui pemahaman tentang pentingnya perilaku disiplin diharapkan siswa dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Faktor penghambat kedua berasal dari faktor keluarga. Dalam hal ini jika keluarga tidak memberikan dukungan penuh terhadap sekolah dalam penanaman karakter disiplin. Keluarga, dalam hal ini orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anak. 15 Rentang waktu anak antara di rumah dan di sekolah, bagi mereka yang tidak mondok atau mukim di sekolah, tentu lebih banyak di rumah. Oleh sebab jika suatu pelajaran atau karakter yang diajarkan guru di sekolah, sementara orang tua tidak mengajarkan hal yang sama, tentu hal tersebut sangat mungkin menjadi sesuatu hal yang siasia. Orang tua wajib memberikan dukungan penuh terhadap apa yang diupayakan oleh guru di sekolah. Sehingga komunikasi antara sekolah dengan orang tua penting untuk selalu Apa saja yang diajarkan dan ditanamkan guru di sekolah, pun diajarkan dan dikuatkan oleh orang tua di rumah. Dengan demikian pendidikan karakter akan lebih mudah untuk tumbuh pada diri anak. Dalam bukunya yang berjudul AuPendidikan Anak dalam IslamAy. Yusuf Muhammad Al Hasan mengatakan bahwa keluarga merupakan batu pondasi bangunan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan seluruh anak-anaknya. Di lingkungan inilah pertama kali terbentuknya karakter seorang anak. Sedangkan faktor penghambat ketiga berasal dari lingkungan pertemanan. Pertemanan di usia sekolah, memberikan pengaruh terhadap anak. Sebagaimana yang diketahui bahwa usia anak jenjang MAN adalah pada rentang usia 15-18 tahun. Usia tersebut masuk ke dalam fase remaja awal. Di mana pada fase ini terjadi berbagai perubahan yang sangat pesat pada diri anak, baik pada fisik maupun psikisnya. Ketidakseimbangan emosional dan ketidakstabilan dalam dalam banyak hal terdapat pada usia ini. 17 Hal ini lantaran pada usia tersebut, anak sedang mencari identitas di mana status anak tidak jelas. Pola-pola hubungan sosial mulai berubah bahkan tidak jarang menyerupai orang dewasa muda. Remaja Heppy Hyma Puspytasari. AuPeran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Bagi Anak,Ay Jurnal Pendidikan Islam Volume 6 Nomor 1 (Juni 2. : 3. Yusuf Muhammad Al Hasan. Pendidikan Anak dalam Islam (Jakarta: Yayasan al-Sofwa, 1. , 10. Amita Diananda. AuPsikologi Remaha dan Permasalahannya,Ay Istighna Volume 1 Nomor 1 (Januari 2. : 118. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. seringkali merasa berhak untuk membuat suatu keputusan sendiri. Pada masa perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol, pemikiran semakin logis, abstrak dan idealistis dan semakin banyak waktu diluangkan di luar keluarga. 18 Dengan demikian dengan siapa anak menghabiskan waktunya dalam pergaulan, maka ia akan memberikan pengaruh terhadap perilaku dan kebiasaan anak. Sebagai upaya mengatasi hal ini tentu peran orang tua penting. Kedekatan orang tua dengan anak menjadikan orang tua dapat turut menfilter pertemanan anak sehingga dampak buruk akibat pengaruh pertemanan dapat Pengaruh lingkungan sosial masyarakat merupakan kendala bagi pembentukan karakter pada anak. Tidak hanya faktor penghambat, namun dalam upaya penanaman karakter siswa terdapat pula faktor pendukung. Faktor pendukung ini berasal dari faktor guru sendiri dan juga dukungan keluarga. Guru harus terus konsisten dalam melakukan pembinaan sikap disiplin siswa. Hal ini lantaran penanaman suatu karakter tentu bukan merupakan proses yang instan dan dapat berhasil begitu saja. Melainkan merupakan suatu proses yang panjang dan memerlukan ketelatenan. Oleh sebab itulah peran guru penting dalam upaya penanaman karakter disiplin ini. Selain itu aturan sekolah melalui kebijakan kepala sekolah akan sangat mendukung peran guru di dalm mensukseskan upaya mengatasi perilaku indisipliner siswa. Guru dalam upaya pembentukan karakter, perlu mendapatkan dukungan dari keluarga. Sehingga apa yang diajakar di sekolah, juka ditanamkan di lingkungan keluarga. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa dalam upaya mengatasi perilaku indisipliner siswa terdapat faktor penghambat dan faktor pendukung. Faktor penghambat diklasifikasikan menjadi dua yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari pribadi siswa itu sendiri, yakni berkaitan dengan kemauan untuk bersikap baik. Sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkungan keluarga dan lingkungan pertemanan Adapun faktor pendukung berasal dari peran guru dalam memberikan keteladanan serta memotivasi siswa berkaitan, sekaligus dengan penuh ketelatenan memberikan Teressa M. Mc Devitt dan Jeanes Ellis Omrod. Child Development and Education (Colombos Ohio: Merril Prentice Hall, 2. , 17. Puspytasari. AuPeran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Bagi Anak,Ay 8. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. pendampingan terhadap tumbuhnya perilaku disiplin. Dan kedua yakni adanya pengaruh dari orang tua yang dilibatkan dalam kegiatan pendidikan karakter siswa. Hasil dari Sinergitas Guru Akidah Akhlak dan Guru BK dalam Mengatasi Perilaku Indisipliner Siswa di MAN 1 Ponorogo Dengan adanya sinergitas melalui peran guru Akidah Akhlak dan guru BK yang terjalin di MAN 1 Ponorogo sangat membantu dalam mengatasi perilaku indisipliner siswa. Meskipun menurut salah satu narasumber, bahwa terkait kedisiplinanan siswa ini tidak hanya menjadi tugas atau tanggung jawab guru Akidah Akhlak dan guru BK saja melainkan semua pihak atau semua warga sekolah. Namun demikian dengan adanya kerja sama atau sinergi antara guru Akidah Akhlak dan guru BK, upaya dalam mengatasi perilaku indisipliner ini semakin menunjukkan hasil yang baik. Adapun hasil dari sinergitas dalam mengatasi perilaku indisipliner siswa di MAN 1 Ponorogo ini berdasarkan hasil wawancara dan observasi diketahui bahwa saat ini perilaku siswa sudah jauh berubah. Hampir setiap harinya ttidak ada siswa yang terlambat masuk Tidak adalagi siswa yang membuat kegaduhan di kelas, dan mereka memperhatikan materi pada saat jam pelajaran berlangsung. Seluruh tugaspun dikerjakan dengan baik. Hal ini sebagaimana indikator dari sikap disiplin siswa di sekolah di antaranya adalah sebagai berikut: tidak ada lagi kegaduhan di dalam kelas, tidak ada siswa yang makan ataupun minum pada saat jam pelajaran berlangsung, siswa dengan penuh perhatian menyimak penjelasan guru di kelas, selalu mengerjakan tugas yang diberikan, sudah terbiasa menggunakan atribut dengan lengkap, berkurangnya siswa yang terlambat. 21 Pengkondisian sekolah yang merupakan dampak dari adanya sinergitas guru Akidah Akhlak dan guru BK memiliki manfaat yang signifikan terhadap pembentukan karakter disiplin siswa di MAN 1 Ponorogo. Alfionita. AuPeran Guru Bimbingan dan Konseling dan Guru Akidah Akhlak Dalam Membimbing Akhlak Siswa Kelas Vi SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2019/2020. G-COUNS :Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. No. 02 (Juni 2. :Ay 325Ae26. Tantri Prasetiawati. AuPeran Guru Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa Terhadap Perilaku Pelanggaran Disiplin Di Sekolah Dasar Gugus Mawar IV Kecamatan Ulu Belu,Ay (Pringsewu. Universitas Muhammadiyah Pringsewu, 2. , 16Ae17. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 1. Juni 2024 DOI: 10. 21154/maalim. KESIMPULAN Bentuk sinergitas guru Akidah Akhlak dan guru BK di MAN 1 Ponorogo terjalin dengan baik dalam upaya mengatasi perilaku indisipliner siswa. Bentuk sinergitas ini di antaranya: Pertama, guru Akidah Akhlak dan guru BK menjalin komunikasi. Kedua, guru Akidah Akhlak dan guru BK melakukan koordinasi. Ketiga, guru Akidah Akhlak dan guru BK mengembangkan peran untuk saling melengkapi dan bekerja sama. Guru guru Akidah Akhlak fokus terhadap pemberian materi atau pemahaman kepada siswa sesuai materi pelajaran, serta memberikan keteladanan dan nasihat. Sedangkan guru BK memberikan materi pada saat jam pelajaran BK, dan juga memberikan bimbingan dan layanan secara kelompok maupun individu bagi siswa yang membutuhkan. Hal ini sesuai dengan indikator dari sinergitas yang dipaparkan oleh Stephen R. Covey, bahwa untuk mencapai tujuan bersama indikator yang harus ada dalam sebuah sinergitas adalah kerja sama, komunikasi, dan koordinasi. 22 Ketiganya telah dilakukan secara berkesinambungan sehingga perilaku indispliner siswa dapat ditangani dengan baik. Adapaun faktor penghambat dalam menjalankan sinergitas antara guru Akidah Akhlak dan guru BK di MAN 1 Ponorogo yakni diklasifikasikan menjadi 2 faktor, internal berasal dari pribadi siswa, dan faktor eksternal berasal dari lingkungan keluarga dan lingkungan pertemanan siswa yang dianggap memiliki keakraban sehingga dapat membawa pengaruh. Adapun faktor pendukung yakni berasal dari guru sendiri dan juga dukungan keluarga. Adapun hasil dari sinergitas guru Akidah Akhlak dan guru BK dalam mengatasi perilaku indisipliner siswa di MAN 1 Ponorogo sudah bagus. Hal ini dapat dilihat dari adanya perubahan sikap siswa menuju perilaku disiplin, baik di dalam kelas maupun di sekolah. DAFTAR PUSTAKA