2025 Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 p-ISSN: 2580-0590/ e-ISSN: 2621-380X HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN KELELAHAN PADA GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN MOTOLING BARAT Rendy Mogogibung1. Richard Andreas Palilingan1*. Merdekawati Evangli Weken1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Manado Korespondensi penulis: richardpalilingan@unima. ABSTRAK Latar Belakang: Beban kerja yang tinggi tanpa pengelolaan yang baik dapat berpotensi menimbulkan kelelahan kerja pada guru, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas dan kualitas pembelajaran di Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat. Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat, dengan jumlah populasi sebanyak 133 orang guru. Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus solvin dengan jumlah sampel sebanyak 57 orang guru dan responden dipilih dengan metode accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua jenis kuesioner, yaitu NASA-TLX untuk mengukur beban kerja dan IFRC untuk mengukur kelelahan kerja. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru mengalami beban kerja dalam kategori sangat tinggi sebanyak 61%, sementara tingkat kelelahan kerja didominasi kategori Rendah dengan angka Hasil uji Spearman Rank memperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,054 dengan nilai p-value 0,690. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat. Kata Kunci: Beban Kerja. Kelelahan Kerja. Guru Sekolah Dasar THE RELATIONSHIP BETWEEN WORKLOAD AND FATIGUE IN ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS IN WEST MOTOLING DISTRICT ABSTRACT Background: High workload without proper management can potentially cause work fatigue among teachers, which ultimately impacts productivity and the quality of learning in schools. This study aims to determine the relationship between workload and work fatigue among elementary school teachers in West Motoling District. Methods: The population in this study is all elementary school teachers in West Motoling District, totaling 133 teachers. The sample size was determined using the Solvin formula, resulting in 57 teachers, and respondents were selected through accidental sampling. Data collection was conducted using two types of questionnaires: NASA-TLX to measure workload and IFRC to measure work fatigue. Data analysis was performed using Spearman Rank correlation test. Results: The results show that the majority of teachers experience workload in the very high category at 61%, while the level of work fatigue is predominantly in the Low category at 68%. The Spearman Rank test yielded a correlation coefficient of 0. 054 with a p-value of 0. Conclusion: indicating no significant relationship between workload and work fatigue among elementary school teachers in West Motoling District. Keywords: Workload. Work Fatigue. Elementary School Teachers Hubungan Beban Kerja dengan Kelelahan Pada Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Motoling Barat Rendy Mogogibung. Richard Andreas Palilingan. Merdekawati Evangli Weken PENDAHULUAN Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K. adalah sebuah program yang diterapkan pada suatu perusahaan atau instansi yang memiliki banyak pekerja atau karyawan, hal ini memiliki tujuan utama untuk memastikan bahwa para pekerja dapat menjalankan aktivitas kerja mereka dengan aman dan selamat. Ketika kondisi kesehatan terganggu, produktivitas seseorang cenderung menurun dan risiko terjadinya kesalahan kerja maupun kecelakaan menjadi lebih tinggi. Salah satu faktor yang sering kali memengaruhi kesehatan pekerja adalah kelelahan. Kelelahan kerja bukan hanya sebatas rasa lelah fisik, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi mental dan emosional seseorang. Dalam jangka panjang, kelelahan yang tidak ditangani dengan baik dapat menurunkan imunitas tubuh, memicu meningkatkan risiko penyakit kronis. Kelelahan kerja adalah suatu keadaan yang ditandai oleh penurunan kesiagaan, perasaan lelah, dan perasaan lelah tersebut merupakan akibat kumulatif dari beberapa faktor seperti intensitas, durasi kerja fisik dan mental, monotoni, iklim kerja, beban kerja, konflik-konflik, dan lainnya. Kelelahan kerja, yang dipicu oleh tekanan tinggi, tugas monoton, jam kerja panjang, atau lingkungan tidak nyaman, dapat menurunkan fokus, memicu emosi, dan mengganggu kesehatan fisik serta tidur. Jika berlanjut, kondisi ini berdampak buruk pada produktivitas dan kesehatan secara keseluruhan. Dampak serius akibat kelelahan juga pernah diungkapkan oleh National Safety Council (NSC) yang melakukan pengkajian terhadap 2. 010 tenaga kerja Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa pada tahun 2019, sebesar 40% tenaga kerja mengalami kelelahan kerja yang memicu terjadinya peningkatan angka absensi. Dalam lingkungan kerja, setiap individu dituntut untuk mampu menyelesaikan berbagai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan posisi dan peran masingmasing. Tugas-tugas tersebut bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan Ketidakseimbangan antara beban kerja dengan kemampuan pekerja dalam menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya adalah kelelahan kerja. Beban kerja merupakan sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh seseorang ataupun suatu organisasi dalam periode tertentu dengan keadaan kerja normal. Beban kerja ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu beban kerja fisik dan beban kerja mental. Beban kerja fisik berkaitan dengan aktivitas yang sedangkan beban kerja mental lebih memerlukan konsentrasi, ketelitian, dan tanggung jawab mental yang tinggi. Beban kerja adalah sejumlah proses atau kegiatan yang harus diselesaikan secara sistematis dalam waktu tertentu untuk mengetahui sejauh mana efisiensi dan efektivitas kerja dapat tercapai dalam suatu unit organisasi. Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 Beban kerja yang tidak seimbang dengan kemampuan dapat menyebabkan kelelahan, dan gangguan kesehatan pada pekerja, termasuk guru. Oleh karena itu, pengelolaan beban kerja yang baik sangat penting untuk menjaga kinerja dan kesejahteraan mereka. Di balik tugas mulianya, guru rentan mengalami kelelahan parah akibat tuntutan pekerjaan yang tinggi, seperti beban kerja berat, jam kerja panjang, dan gaji yang tidak memadai. Tingginya beban dan stres guru SD dilatarbelakangi oleh peran ganda mereka. Selain harus menangani seluruh proses belajarmengajar untuk berbagai mata pelajaran, karakteristik individu tiap siswaAidari potensi hingga kendala belajarnyaAi dalam satu kelas yang heterogen. Terdapat perbedaan karakteristik beban kerja antara guru kelas rendah (I-. dan kelas tinggi (IV-VI) yang sama-sama berpotensi menyebabkan kelelahan. Guru kelas rendah lebih banyak menghabiskan energi secara mental dan fisik untuk membimbing siswa yang masih sangat muda, sementara guru kelas tinggi lebih terbebani oleh tugas administratif dan kompleksitas materi Observasi awal di SD Kecamatan Motoling Barat mengonfirmasi bahwa para guru mengalami beban kerja yang berat, tidak hanya dari mengajar, tetapi juga dari tugas administratif, tanggung jawab moral terhadap siswa, dan kewajiban menguasai aplikasi baru. Beban ganda ini, yang berlanjut hingga ke rumah, menyebabkan kelelahan fisik dan mental yang signifikan. Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil survei internasional yang dilakukan oleh Education Sport pada tahun 2021 kepada lebih dari 1000 guru, yang dimana diketahui bahwa 50% guru telah menderita setidaknya salah satu gejalagejala terkait dengan kelelahan kerja, dan 43% guru merasakan telah mengalami semua gejala-gejala terkait dengan kelelahan kerja. Berdasarkan latar belakang, untuk tujuan umum dan tujuan khusus dalam peneilitian ini yaitu mengetahui hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada guru-guru, serta untuk menegetahui tingkat beban kerja dan kelelahan kerja. Maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai Hubungan Beban Kerja dengan Kelelahan pada Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Motoling Barat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi beban kerja yang dihadapi guru, tingkat kelelahan yang dialami, serta hubungan di antara keduanya, sehingga dapat menjadi bahan masukan bagi pihak terkait dalam upaya kesehatan kerja para guru di wilayah METODE Penelitian crosectional study. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, dan pengambilan Hubungan Beban Kerja dengan Kelelahan Pada Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Motoling Barat Rendy Mogogibung. Richard Andreas Palilingan. Merdekawati Evangli Weken instrument, analisis data bersifat statistik. Penelitian ini dilaksanakan di seluruh Sekolah Dasar Kecamatan Motoling Barat pada Mei-Juni 2025. Dalam penelitian ini, jumlah populasi yang diteliti 133 guru dengan jumlah sampel 57 guru menggunakan rumus slovin dengan margin eror 10%. Tekniik menggunakan accidental sampling. Analisis Univariat Analisa deskriptif dilakukan untuk membuat tabel dan distribusi frekuensi dari masing-masing variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Analisis ini digunakan untuk mengetahui gambaran tingkat kelelahan pekerja, karakteristik responden . mur, jenis kelamin dan lama bekerj. Analisis Bivariat Analisis terhadap dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Analisis bivariat dilakukan pengujian statistik dengan uji korelasi Spearman Rank. Kriteria pengujian yang digunakan adalah apabila nilai signifikansi . < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel, sedangkan jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak terdapat hubungan yang signifikan. Hasil uji ini akan digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Univariat Karakateristik Responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin . (%) Laki-Laki Perempuan Total Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan sebanyak 39 orang atau sebesar . ,0%), sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 18 orang atau sebesar . ,0%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Responden Usia . (%) Total Dilihat dari kelompok usia, sebagian besar responden berada pada rentang usia 22Ae29 tahun sebanyak 18 orang . %), disusul usia 30Ae39 tahun sebanyak 16 orang . %), usia 40Ae49 tahun sebanyak 12 orang . %), dan usia 50Ae60 tahun sebanyak 11 orang . %). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Pernikahan Status . (%) Pernikahan Menikah Belum menikah Total Sementara itu, berdasarkan status berstatus menikah yaitu sebanyak 48 orang . %), dan 9 orang . %) belum Selanjutnya, dilihat dari tingkat pendidikan terakhir, seluruh responden dalam penelitian ini memiliki jenjang pendidikan Strata 1 (S. atau 100%. Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 Tabel 4. Distibusi Ferekuensi Berdasarkan Pendidkan Terakhir Pendidikan . (%) Terakhir Total Hasil ini menunjukkan bahwa para guru di Kecamatan Motoling Barat telah minimal sesuai ketentuan yang berlaku bagi tenaga pendidik sekolah dasar. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jumlah Tanggungan Jumlah . (%) Tanggungan/Anak 0 Tanggungan 1 Tanggungan 2 Tanggungan 3 Tanggungan > 3 Tanggungan Total Berdasarkan diketahui juga bahwa sebagian besar responden memiliki jumlah tanggungan sebanyak 0 orang, yaitu sebanyak 21 orang . %), diikuti oleh responden dengan 2 tanggungan sebanyak 20 orang . %), 1 tanggungan sebanyak 11 orang . %), dan 3 tanggungan sebanyak 5 orang . %). Tidak terdapat responden yang memiliki lebih dari 3 tanggungan. Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat memiliki beban tanggung jawab keluarga yang relatif ringan, meskipun terdapat sebagian guru yang sudah memiliki lebih dari satu Tabel 6. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Status Kepegawaian Status . (%) Kepegawaian ASN pK THL/Honorer Total Berdasarkan terhadap 57 responden, diketahui bahwa mayoritas status kepegawaian responden adalah THL/Honorer sebanyak 26 orang . %), diikuti oleh ASN sebanyak 22 orang . %), dan pK sebanyak 9 orang . %). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga pendidik di SD Kecamatan Motoling Barat masih didominasi oleh tenaga honorer atau THL, yang berarti komposisi tenaga pendidik formal ASN masih relatif lebih sedikit dibanding tenaga non-ASN. Tabel 7. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Lama Bekerja Lama Bekerja . (%) 1-5 Tahun 6-10 Tahun > 16 Tahun Total Selanjutnya, dilihat dari lama bekerja, sebagian besar responden berada pada kategori 1-5 tahun sebanyak 25 orang . %), diikuti oleh kategori lebih dari 16 tahun sebanyak 21 orang . %). Sedangkan responden yang telah bekerja 6-10 tahun berjumlah 8 orang . %), dan yang 11-15 tahun hanya 3 orang . %). Tabel 8. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tugas Tambahan Di Sekolah Tugas Tambahan . (%) di Sekolah Ada Tidak Ada Total Terkait tugas tambahan di sekolah, sebagian besar responden yaitu 47 orang . %) tidak memiliki tugas tambahan di sekolah, sedangkan 10 orang . %) memiliki tugas tambahan. Tabel 9. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tugas Selain Mengajar Tugas Tambahan . (%) Selain Mengajar Ada Tidak Ada Total Sementara itu, terkait pekerjaan lain di luar aktivitas mengajar, sebanyak 11 orang . %) responden memiliki Hubungan Beban Kerja dengan Kelelahan Pada Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Motoling Barat Rendy Mogogibung. Richard Andreas Palilingan. Merdekawati Evangli Weken pekerjaan tambahan di luar sekolah dan 46 orang . %) tidak memiliki pekerjaan selain mengajar. Data ini memberikan gambaran bahwa mayoritas responden memang fokus pada pekerjaan utamanya sebagai guru, meskipun masih ada sebagian kecil yang memiliki pekerjaan tambahan untuk menunjang ekonomi. Tabel 10. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Riwayat Penyakit Riwayat penyakit . (%) Ada Tidak Ada Total Berdasarkan mengenai riwayat kesehatan responden, diketahui bahwa sebagian besar guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat tidak memiliki riwayat penyakit kronis, yaitu sebanyak 53 orang . %). Sementara itu, hanya 4 orang responden . %) yang memiliki riwayat penyakit Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi kesehatan para guru di wilayah penelitian berada dalam keadaan baik dan tidak memiliki gangguan kesehatan serius yang dapat memengaruhi aktivitas kerja sehari-hari di sekolah. Tabel 11. Distrubusi Frekuensi Berdasarkan Jarak Rumah Ke Sekolah Jarak rumah ke . (%) <900 meter 1-3 KM >3 KM Total Dari segi mobilitas, mayoritas responden memiliki jarak tempat tinggal ke sekolah kurang dari 900 meter sebanyak 40 orang . %), sedangkan sebanyak 13 orang . %) memiliki jarak tempuh antara 1Ae3 kilometer, dan hanya 4 orang . %) yang memiliki jarak lebih dari 3 kilometer. Tabel 12. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Alat Transportasi Transportasi Ke . (%) Jalan Kaki Sepeda Motor Mobil Total Berkaitan dengan alat transportasi yang digunakan, sebagian besar responden menggunakan sepeda motor sebanyak 30 orang . %), diikuti dengan jalan kaki sebanyak 26 orang . %), dan hanya 1 orang . %) yang menggunakan Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar guru di Kecamatan Motoling Barat memiliki akses ke sekolah yang relatif dekat, serta mobilitas yang cukup mudah dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun berjalan kaki. Tabel 13. Distribusi Frekuensi Beban Kerja Guru SD Kec. Motoling Barat Kategori Distribusi Presentase Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Total Berdasarkan mengenai beban kerja guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat, diketahui bahwa mayoritas responden berada pada kategori beban kerja sangat tinggi, yaitu sebanyak 35 orang atau sebesar 61% dari total responden. Selain itu, terdapat 16 orang responden . %) yang termasuk dalam kategori tinggi, sementara responden yang mengalami beban kerja sedang sebanyak 5 orang . %), dan hanya 1 orang . %) yang berada dalam kategori rendah. Berdasarkan mengenai tingkat kelelahan kerja guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat, diketahui bahwa sebagian besar responden berada pada kategori Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 kelelahan kerja rendah, yaitu sebanyak 39 orang . %). Tabel 14. Distribusi Frekuensi Kelelahan Kerja Guru SD Kec. Motoling Barat Kategori Distribusi Presentase Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Total Sumber: Data diolah 2025 Selanjutnya, terdapat 17 orang responden . %) yang berada pada kategori sedang, dan hanya 1 orang . %) yang mengalami kelelahan kerja dalam Tidak responden yang masuk dalam kategori sangat tinggi. Hasil Analisis Bivariat Tabel 15. Hasil Uji Hubungan Beban Kerja Dengan Kelelahan Kerja Variabel Nilai r Sig. (Coefficien. -valu. Beban Kerja & 0,054 0,690 Kelelahan kerja Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman Rank yang dilakukan terhadap variabel beban kerja dan kelelahan kerja pada guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat, diperoleh nilai koefisien korelasi . sebesar 0,054 dengan nilai p-value sebesar 0,690. Nilai p-value tersebut lebih besar dari taraf signifikansi 0,05 . ,690 > 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat. Nilai koefisien korelasi 0,054 menunjukkan arah hubungan yang positif sangat lemah, namun karena nilai signifikansi tidak memenuhi kriteria (<0,. , maka hubungan tersebut tidak dapat dikatakan signifikan. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat tidak terbukti dalam penelitian ini. H0 Diterima. PEMBAHASAN Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan demografis responden, diketahui bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan sebanyak 39 orang . %), sedangkan responden laki-laki sebanyak 18 orang . %). Hal ini menunjukkan bahwa tenaga pendidik di SD Kecamatan Motoling Barat lebih banyak didominasi oleh perempuan. Usia Kemudian, responden berada pada rentang usia 22Ae 29 tahun sebanyak 18 orang . %), disusul usia 30Ae39 tahun sebanyak 16 orang . %), usia 40Ae49 tahun sebanyak 12 orang . %), dan usia 50Ae60 tahun sebanyak 11 orang . %). Data ini memperlihatkan bahwa tenaga pendidik di wilayah tersebut didominasi oleh guru-guru berusia muda. Status Kepegawaian Berdasarkan status kepegawaian, sebagian besar responden berstatus THL/Honorer sebanyak 26 orang . %), diikuti ASN sebanyak 22 orang . %), dan pK sebanyak 9 orang . %), yang menunjukkan bahwa tenaga honorer masih menjadi komposisi terbesar di sekolah dasar wilayah ini. Lama Bekerja Dari segi lama bekerja, mayoritas responden telah bekerja selama 1Ae5 tahun sebanyak 25 orang . %), diikuti lebih dari 16 tahun sebanyak 21 orang Hubungan Beban Kerja dengan Kelelahan Pada Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Motoling Barat Rendy Mogogibung. Richard Andreas Palilingan. Merdekawati Evangli Weken . %), sedangkan sisanya memiliki masa kerja antara 6Ae10 tahun dan 11Ae15 Riwayat Kesehatan Berdasarkan mengenai riwayat kesehatan responden, diketahui bahwa sebagian besar guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat tidak memiliki riwayat penyakit kronis, yaitu sebanyak 53 orang . %). Sementara itu, hanya 4 orang responden . %) yang memiliki riwayat penyakit Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi kesehatan para guru di wilayah penelitian berada dalam keadaan baik dan tidak memiliki gangguan kesehatan serius yang dapat memengaruhi aktivitas kerja sehari-hari di sekolah. Beban Kerja Pada Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Motoling Barat Berdasarkan mengenai beban kerja guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat, diketahui bahwa mayoritas responden berada pada kategori beban kerja sangat tinggi, yaitu sebanyak 35 orang atau sebesar 61% dari total responden. Selain itu, terdapat 16 orang responden . %) yang termasuk dalam kategori tinggi, sementara responden yang mengalami beban kerja sedang sebanyak 5 orang . %), dan hanya 1 orang . %) yang berada dalam kategori rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar guru di wilayah tersebut merasakan beban kerja yang berat dalam melaksanakan tugastugasnya di sekolah. Hasil ini sejalan dengan temuan Ani & Wartini . , yang menyatakan bahwa mayoritas pekerja memiliki beban kerja berat sebesar 47,2 %. Penelitian lainnya juga yang dilakukan oleh Weken, dkk . menunjukkan bahwa beban kerja yang dialami oleh guru terdapat sebesar 48,7%. Tingginya kategori beban kerja yang dirasakan guru di Kecamatan Motoling Barat ini dapat dipengaruhi oleh karakteristik guru yang memang THL/Honorer sebanyak 45% dan guru dengan masa kerja 1Ae5 tahun sebanyak Kondisi ini memungkinkan beban kerja terasa lebih berat, karena guru honorer umumnya memiliki beban tugas yang hampir setara dengan ASN, namun dengan fasilitas dan pengakuan yang Begitu pula dengan guru-guru yang masih berada di masa awal karier administrasi sekolah, serta berbagai tugas tambahan yang harus diselesaikan. Kelelahan Kerja Pada Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Motoling Barat Berdasarkan mengenai tingkat kelelahan kerja guru sekolah dasar di Kecamatan Motoling Barat, diketahui bahwa sebagian besar responden berada pada kategori kelelahan kerja rendah, yaitu sebanyak 39 orang . %). Selanjutnya, terdapat 17 orang responden . %) yang berada pada kategori sedang, dan hanya 1 orang . %) yang mengalami kelelahan kerja dalam kategori tinggi. Tidak terdapat responden yang masuk dalam kategori sangat tinggi. Kelelahan kerja yang rendah ini dapat disebabkan karena sebagian besar responden dalam penelitian ini berusia relatif muda, yakni 22Ae39 tahun sebanyak 34 orang . %), yang Jurnal Bahana Kesehatan Masyarakat (Bahana of Journal Public Healt. Vol 9 No 2 Tahun 2025 umumnya masih memiliki kondisi fisik dan mental lebih prima dalam menghadapi tekanan kerja. Selain itu, mayoritas responden juga tidak memiliki pekerjaan lain selain mengajar . %) dan tidak memiliki tugas tambahan di sekolah . %), sehingga beban kerja yang berat tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kelelahan yang Kondisi ini menunjukkan bahwa merasakan beban kerja sangat tinggi, faktor usia muda, tidak adanya pekerjaan tambahan, serta minimnya tanggung jawab di luar tugas pokok dapat menjadi alasan mengapa tingkat kelelahan mereka masih terkendali dalam kategori rendah hingga sedang. yang berat tanpa mengalami kelelahan kerja yang tinggi. DAFTAR PUSTAKA