LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Oktober 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || Analisis Bahasa Figuratif dalam Puisi Karya Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Tambakrejo Bojonegoro Husnul Khotmawati 1. Sutardi 2. Ida Sukowati 3 *1-3 Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 noelssaifullah@gmail. 2 sutardi@unisda. 3 idasuowati@unisda. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis penggunaan bahasa figuratif dalam puisi siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tambakrejo Bojonegoro tahun pelajaran 2024/2025. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mengevaluasi penggunaan majas perbandingan, pertentangan, dan penegasan serta kontribusinya terhadap estetika dan makna puisi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan analisis teks terhadap puisi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majas perbandingan seperti metafora, simile, dan personifikasi paling dominan digunakan, sedangkan majas pertentangan dan penegasan masih terbatas. Penggunaan bahasa figuratif terbukti memperkaya imaji, memperkuat tema, dan meningkatkan estetika puisi siswa, meskipun masih diperlukan pembimbingan untuk meningkatkan variasi dan ketepatan penggunaannya. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi dalam pembelajaran sastra, khususnya dalam mengajarkan penggunaan bahasa figuratif dalam menulis puisi. Kata kunci: bahasa figuratif, majas perbandingan, majas pertentangan, majas penegasan, puisi siswa. ABSTRACT This study analyzes the use of figurative language in poetry written by eleventh-grade students of SMA Negeri 1 Tambakrejo Bojonegoro in the 2024/2025 academic year. The research focuses on identifying and evaluating the use of comparative, contradiction, and emphasis figures of speech and their contribution to the aesthetics and meaning of poetry. A qualitative descriptive method with text analysis was employed. The results indicate that comparative figures of speech, such as metaphors, similes, and personifications, are the most dominant, while contradiction and emphasis figures of speech are still limited. The use of figurative language enriches imagery, strengthens themes, and enhances the aesthetic value of student poetry, although further guidance is needed to improve variation and accuracy. This study is expected to serve as a reference in literature learning, particularly in teaching figurative language application in poetry writing. Kata Kunci: figurative language, comparative figures of speech, contradiction figures of speech, emphasis figures of speech, student poetry. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang kaya akan nilai estetika dan memiliki daya ungkap yang mendalam. Menurut Juidah . , puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun menggunakan semua kekuatan bahasa dengan menggunakan struktur fisik dan batinnya. Dalam dunia pendidikan, khususnya di jenjang SMA, puisi bisa membantu murid dalam mengekspresikan emosi dan perasaan yang memenuhi jiwanya. Sebagai salah satu bentuk ekspresi, puisi sering kali memanfaatkan bahasa figuratif untuk menyampaikan pesan, emosi, dan imajinasi penulisnya. Bahasa figuratif, menurut Keraf . , adalah penggunaan bahasa yang menyimpang dari makna harfiahnya untuk menciptakan efek tertentu atau SMA Negeri 1 Tambakrejo Bojonegoro , sebagai salah satu institusi pendidikan yang berkomitmen terhadap pengembangan potensi siswa, memberikan ruang bagi siswa untuk https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. mengeksplorasi kreativitas mereka melalui pembuatan puisi. Dalam proses tersebut, muncul berbagai karya siswa yang menunjukkan penggunaan bahasa figuratif yang menarik untuk Berdasarkan pengamatan awal terhadap puisi karya siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tambakrejo Bojonegoro , ditemukan variasi penggunaan bahasa figuratif yang cukup beragam. Hal ini mencerminkan adanya potensi sekaligus tantangan dalam pengembangan kemampuan siswa dalam memanfaatkan bahasa figuratif secara efektif. Penelitian ini berfokus pada analisis bahasa figuratif dalam puisi karya siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tambakrejo Bojonegoro tahun pelajaran 2024/2025. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk bahasa figuratif yang digunakan dalam puisi-puisi tersebut. Analisis ini didasarkan pada teori bahasa figuratif yang dikemukakan oleh Keraf . yang mencakup berbagai jenis gaya bahasa seperti metafora, simile, personifikasi, hiperbola, dan lain-lain. Melalui penelitian ini, diharapkan pula dapat ditemukan pola atau kecenderungan penggunaan bahasa figuratif yang mencerminkan kreativitas dan pemahaman siswa terhadap unsur-unsur estetika dalam puisi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan wawasan kepada pendidik dalam merancang pembelajaran sastra yang lebih efektif dan inspiratif, sehingga mampu meningkatkan minat dan kemampuan siswa dalam menghasilkan karya sastra yang berkualitas. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan pula dapat memperkuat landasan teoretis dan praktis dalam pembelajaran sastra, khususnya pada aspek pengembangan kemampuan berbahasa dan estetika siswa. Metode Penelitian Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam fenomena yang diteliti berdasarkan data yang diperoleh. Menurut Moleong . , penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena dalam konteks alami dengan pendekatan deskriptif. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha menggali bagaimana siswa menggunakan bahasa figuratif dalam puisi mereka dan menginterpretasikan makna yang terkandung di dalamnya. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah kumpulan puisi siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tambakrejo Bojonegoro kelas XI-1. XI-2, dan XI-3 tahun pelajaran 2024/2025 yang berjumlah 67 siswa. Selain itu, studi pustaka untuk mendukung teori yang digunakan dalam penelitian ini. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data yang berupa kata dan kalimat dalam puisi siswa yang menginformasikan tentang majas pertentangan, majas perbandingan, dan majas penegasan. Walaupun secara teori terdapat empat jenis majas, tetapi data dalam penelitian hanya berfokus pada tiga majas karena tidak ditemukan data riil dalam puisi karya siswa yang mengandung majas sindiran. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik kajian pustaka, yaitu teknik pengumpulan data melalui sumber tertulis, dalam hal ini adalah kumpulan puisi soswa kelas XI SMA Negeri 1 Tambakrejo Bojonegoro yang menjadi sumber data. Ada lima tahap yang dilakukan untuk kepentingan pengumpulan data penelitian, yaitu pertama, mengambil kumpulan puisi karya siswa kelas XI, kedua, membaca secara cermat kumpulan puisi yang menjadi sumber data. Pada tahap ini dilakukan langkah pembacaan setiap puisi lebih dari satu kali guna mendapat pemahaman yang mendalam, ketiga, pembacaan secara intensif dan diberi penanda atau kode yang sesuai dengan data penelitian, yaitu yang berkaitan dengan majas pertentangan, perbandingan, dan penegasan. Pembacaan dihentikan sampai diperoleh data yang dianggap sah dan kuat sebagaimana yang terkait dengan focus penelitian, keempat, melakukan pengkodean data berdasarkan puisi dan fokus penelitian, dan kelima memasukkan ke dalam korpus data. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian, ditemukan sebanyak 149 data penggunaan majas, yang terbagi menjadi tiga kategori utama, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas Dari ketiga kategori tersebut, majas perbandingan merupakan jenis majas yang paling dominan digunakan oleh siswa, sedangkan majas pertentangan dan penegasan masih digunakan secara terbatas. Dalam kategori majas pertentangan, ditemukan 26 data, yang terdiri atas 24 data antitesis dan 2 data oksimoron. Majas perbandingan ditemukan dalam 89 data, dengan simile . , metafora . , personifikasi . , hiperbola . , dan beberapa majas lainnya dalam jumlah yang lebih sedikit. Sedangkan dalam majas penegasan, ditemukan 34 data, dengan yang paling dominan adalah paralelisme . , diikuti oleh klimaks . dan retoris . No. No. No. Tabel 1. Jumlah Data Penggunaan Majas Pertentangan Fokus 1 : Majas Pertentangan Subfokus 1 Kode Data Jumlah Data Antithesis M1-1 Paradoks M1-2 Oksimoron M1-3 Anakronisme M1-4 Kontradiksi Interminus M1-5 Jumlah Tabel 2. Jumlah Data Penggunaan Majas Perbandingan Fokus 2 : Majas Perbandingan Subfokus 2 Kode Data Jumlah Data Metafora M2-1 Sinestesia M2-2 Simile M2-3 Alegori M2-4 Alusio M2-5 Metonimia M2-6 Anotonomasia M2-7 Antropofisme M2-8 Hiperbola M2-9 Litotes M2-10 Hipokorisme M2-11 Personifikasi M2-12 Sinekdoke M2-13 Eufimisme M2-14 Perifrase M2-15 Kiasmus M2-16 Jumlah Tabel 3 Jumlah Data Penggunaan Majas Penegasan Fokus 3 : Majas Penegasan Subfokus 3 Kode Data Jumlah Data Apofasis M3-1 Aliterasi M3-2 Pleonasme M3-3 Paralelisme M3-4 Tautologi M3-5 Inversi M3-6 Elipsis M3-7 Retoris M3-8 Klimaks M3-9 Antiklimaks M3-10 Antanaklasis M3-11 Koreksio M3-12 Asindenton M3-13 Polisindenton M3-14 Eklamasio M3-15 Alonim M3-16 Interupsi M3-17 Silepsis M3-18 Repetisi M3-19 Jumlah Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa lebih banyak menggunakan majas perbandingan dibandingkan majas lainnya. Hal ini menandakan bahwa siswa lebih cenderung mengekspresikan ide dan emosi mereka melalui perbandingan yang konkret, sementara penggunaan majas pertentangan dan penegasan masih memerlukan eksplorasi lebih lanjut. Diagram 1. Perbandingan Data Penggunaan Majas dalam Puisi Karya Siswa Kelas XI Pertentangan Perbandingan Penegasan Deskripsi Bahasa Figuratif terhadap Estetika dan Makna Puisi Pada majas pertentangan, antitesis menjadi jenis majas yang paling dominan digunakan, dengan frasa seperti "suka duka", "benar dan salah", serta "gelap dan terang" yang menunjukkan kontras dalam kehidupan. Misalnya, dalam puisi Indahnya Persahabatan oleh Meilani, ditemukan baris Engkaulah sahabat sejatiku, kau yang selalu menemaniku dalam suka Kata suka dan duka di sini menunjukkan kontradiksi yang menegaskan bahwa persahabatan sejati tetap ada baik dalam keadaan bahagia maupun sulit. Sementara itu, oksimoron ditemukan dalam jumlah yang lebih kecil, dengan contoh seperti "berkeluh kesah" dan "susah payah" yang mengandung pertentangan dalam satu frasa tetapi sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Salah satunya dalam puisi Perjuangan Ibu oleh Davivian Dwi yang berbunyi Kau lahirkan aku dengan susah payah. Frasa susah payah menampilkan dua kata yang saling bertentangan tetapi membentuk makna baru yang kuat, yaitu perjuangan penuh pengorbanan seorang ibu dalam melahirkan anaknya. Penggunaan majas perbandingan oleh siswa menunjukkan variasi yang cukup luas. Simile merupakan jenis majas yang paling banyak digunakan. Misalnya, dalam puisi Sahabat Terbaik oleh Tina Dwi, ditemukan baris Dirimu bagai cahaya yang datang di kala redupku, yang menunjukkan bahwa sahabat digambarkan sebagai cahaya yang datang membawa harapan dalam kesulitan. Metafora digunakan untuk menyampaikan makna secara implisit, seperti dalam puisi Sekolah Terbaikku oleh Sayyidatus Sakinah: Bangunan sekolah yang kokoh, kujadikan rumah keduaku. Ini menggambarkan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi tempat yang nyaman seperti rumah. Selain itu, personifikasi juga sering muncul dalam puisi siswa, terlihat dalam puisi Menuntut Ilmu oleh Ahmad Lenggar, di mana ia menuliskan Setiap hembusan nafasku, berbias gelap dan terang. Di sini, napas dianggap dapat berbias seperti cahaya, memberikan kesan bahwa kehidupan memiliki pasang surut yang perlu dihadapi dengan semangat. Sementara itu, hiperbola sering digunakan untuk memberikan efek dramatis, seperti dalam puisi Ayah oleh Aksa Maulana yang menyebutkan Tak terbilang keringat mengucur basah, menekankan betapa besar usaha ayah dalam mencari Sementara itu, dalam majas penegasan, paralelisme paling sering digunakan untuk memberikan tekanan pada makna puisi, salah satu contohnya ada dalam puisi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa oleh Abdul Aziz: Engkau tak kenal lelah untuk mendidik kami, engkau sebagai penerang dunia ini. Pengulangan struktur kalimat ini menegaskan betapa besar peran guru dalam kehidupan siswa. Klimaks juga digunakan dalam beberapa puisi, dengan contoh seperti "Dari setitik embun, menjadi sungai, lalu samudra luas", yang menggambarkan perkembangan suatu hal dari kecil hingga besar. Retoris digunakan dalam beberapa puisi sebagai pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, seperti dalam Guruku oleh Pendi Pradana: Siapa lagi kalau bukan engkau, wahai pahlawan ilmu?, yang bertujuan menekankan penghargaan kepada guru. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam menggunakan majas secara efektif. Beberapa kendala yang ditemukan meliputi penggunaan hiperbola yang berlebihan, kesalahan dalam pemilihan metafora yang kurang relevan, serta kurangnya eksplorasi terhadap variasi majas pertentangan dan Oleh karena itu, masih diperlukan bimbingan lebih lanjut agar siswa dapat lebih memahami dan mengaplikasikan bahasa figuratif dengan lebih baik dalam karya sastra Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa figuratif dalam puisi siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tambakrejo Bojonegoro sudah cukup baik dalam memperkuat estetika dan makna puisi, tetapi masih dapat ditingkatkan melalui pembelajaran sastra yang lebih mendalam. Simpulan Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa siswa secara dominan menggunakan majas perbandingan, seperti metafora, simile, dan personifikasi. Penggunaan metafora membantu mereka menggambarkan emosi dan pengalaman abstrak dengan cara yang lebih imajinatif, sedangkan simile memungkinkan mereka menciptakan deskripsi yang lebih konkret melalui perbandingan langsung. Personifikasi pun sering digunakan untuk menghidupkan benda mati sehingga puisi yang dihasilkan terasa lebih ekspresif dan menarik. Selain itu, siswa juga menggunakan majas pertentangan seperti antitesis dan oksimoron, meskipun dalam jumlah yang lebih terbatas. Beberapa siswa menunjukkan kreativitas dalam mengeksplorasi oksimoron, tetapi masih banyak yang memerlukan bimbingan untuk memahami dan memanfaatkannya secara efektif. Sementara itu, majas penegasan seperti paralelisme, retoris, dan klimaks ditemukan dalam banyak puisi siswa, terutama untuk memperkuat tema dan emosi yang ingin disampaikan. Namun, dalam beberapa kasus, penggunaan paralelisme yang berlebihan justru mengurangi keindahan puisi. Secara keseluruhan, penggunaan bahasa figuratif memberikan kontribusi besar terhadap estetika dan makna puisi, tetapi masih terdapat kekurangan dalam hal variasi dan penerapan yang tepat. Daftar Pustaka