Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik. Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil Volume. Nomor. 4 Oktober 2025 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 11-30 DOI: https://doi. org/10. 61132/konstruksi. Available online at: https://journal. id/index. php/Konstruksi Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) Firman Parama Yudha1*. Ahmad Saifudin Mutaqi2 Pendidikan Profesi Arsitektur. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Universitas Islam Indonesia. Indonesia *Email : 24515022@students. id1, ahmadsaifudin@uii. Abstract. Building Information Modeling (BIM) is a technology increasingly used in the modern construction industry, particularly to improve communication efficiency and collaboration between stakeholders. This technology enables the integration of project data and information into a comprehensive digital model, allowing all involved parties to access, verify, and update information in real time. This study aims to evaluate the strategic role of BIM as a communication medium in the Integrated Project Delivery (IPD) approach, focusing on the planning stage involving the disciplines of architecture, structure, and Mechanical. Electrical, and Plumbing (MEP) systems. The IPD approach emphasizes cross-disciplinary collaboration from the early stages of a project to optimize outcomes, reduce risks, and accelerate completion. The research methods used are literature review and case study analysis of various projects that have implemented BIM within the IPD framework. The data analyzed include the effectiveness of information exchange, inter-team coordination, and early identification of design conflicts. The study results show that BIM significantly improves information transparency among stakeholders, minimizes the risk of miscommunication, and accelerates the decision-making process through accurate and integrated data visualization. BIM models also facilitate the detection of potential conflicts, such as clashes between structural and MEP elements, before entering the physical construction phase, thereby reducing repair costs and delays. Furthermore, the use of BIM in IPD fosters a more collaborative work culture, where architects, engineers, and contractors can work together to solve problems quickly and effectively. Thus. BIM has proven to play a crucial role as a primary communication tool in IPD implementation, while also serving as a crucial foundation for achieving efficient, integrated, and high-quality construction project management. Keywords: Building Information Modeling. Construction. Integrated Project Delivery. Project Communication. Team Collaboration Abstrak. Building Information Modelling (BIM) merupakan teknologi yang semakin luas digunakan dalam industri konstruksi modern, khususnya untuk meningkatkan efisiensi komunikasi dan kolaborasi antar pemangku Teknologi ini memungkinkan integrasi data dan informasi proyek ke dalam model digital yang komprehensif, sehingga semua pihak yang terlibat dapat mengakses, memverifikasi, dan memperbarui informasi secara real-time. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran strategis BIM sebagai media komunikasi dalam pendekatan Integrated Project Delivery (IPD), dengan fokus pada tahap perencanaan yang melibatkan disiplin arsitektur, struktur, serta sistem Mekanikal. Elektrikal, dan Plumbing (MEP). Pendekatan IPD menekankan kolaborasi lintas disiplin sejak tahap awal proyek guna mengoptimalkan hasil, mengurangi risiko, dan mempercepat penyelesaian. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dan analisis studi kasus dari berbagai proyek yang telah menerapkan BIM dalam kerangka IPD. Data yang dianalisis meliputi efektivitas pertukaran informasi, koordinasi antartim, dan identifikasi konflik desain sejak dini. Hasil studi menunjukkan bahwa BIM secara signifikan meningkatkan transparansi informasi antar pemangku kepentingan, meminimalkan risiko miskomunikasi, serta mempercepat proses pengambilan keputusan melalui visualisasi data yang akurat dan Model BIM juga memfasilitasi deteksi potensi konflik, seperti benturan antar elemen struktur dan MEP, sebelum memasuki tahap konstruksi fisik, sehingga mengurangi biaya perbaikan dan penundaan. Selain itu, penggunaan BIM dalam IPD mendorong budaya kerja yang lebih kolaboratif, di mana arsitek, insinyur, dan kontraktor dapat bersama-sama menyelesaikan masalah secara cepat dan efektif. Dengan demikian. BIM terbukti memainkan peran krusial sebagai alat komunikasi utama dalam penerapan IPD, sekaligus menjadi fondasi penting untuk mewujudkan manajemen proyek konstruksi yang efisien, terintegrasi, dan berkualitas tinggi. Kata Kunci: Building Information Modelling. Integrated Project Delivery. Kolaborasi Tim. Komunikasi Proyek. Konstruksi Received: Juli 08, 2025. Revised: Juli 22, 2025. Accepted: Agustus 10, 2025. Online Available: Agustus 12, 2025 Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi Sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) LATAR BELAKANG Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi digital telah menjadi elemen fundamental dalam mendorong transformasi industri konstruksi global. Teknologi ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu tambahan, melainkan telah menjadi komponen utama yang menentukan efektivitas dan efisiensi dalam seluruh tahapan pelaksanaan proyek mulai dari perencanaan, desain, pelaksanaan konstruksi, hingga pengawasan dan pengelolaan pasca pembangunan (Purwanto, 2. Penerapan teknologi digital secara masif di berbagai negara terbukti mampu mempercepat proses Pembangunan infrastruktur, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, serta mengurangi kesalahan dan konflik teknis di lapangan, yang sering kali menjadi penyebab keterlambatan atau pembengkakan biaya proyek (Manullang & Rini, 2. Di Indonesia. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menegaskan bahwa salah satu contoh nyata dari pemanfaatan teknologi digital yang memberikan dampak signifikan adalah penggunaan Building Information Modelling (BIM) dalam berbagai proyek konstruksi nasional (Kementerian PUPR, 2. Menurut (Ozorhon & Karahan, 2. dalam publikasinya yang membahas faktor-faktor kunci keberhasilan implementasi BIM. Building Information Modelling didefinisikan sebagai suatu representasi digital yang terintegrasi dari proses konstruksi. BIM mencakup pembuatan model tiga dimensi . D) yang tidak hanya berfungsi sebagai representasi visual, tetapi juga sebagai media komunikasi, koordinasi, dan pengambilan keputusan di antara seluruh pemangku kepentingan proyek (Aziz et al. , 2. BIM mempertemukan berbagai disiplin ilmu dalam satu sistem kerja yang saling terhubung, seperti arsitektur, struktur, dan MEP (Mechanical. Electrical, and Plumbin. , yang sebelumnya sering bekerja secara terpisah. Dengan demikian. BIM mampu meminimalkan miskomunikasi dan meningkatkan keterpaduan kerja antar tim dalam proyek konstruksi. Keunggulan lain yang signifikan dari BIM adalah kemampuannya untuk mengurangi risiko kesalahan dalam desain, mengeliminasi ketidakpastian pada tahap pelaksanaan, dan meningkatkan keselamatan kerja (Alrizqi & Fazri, 2023. Hartono et al. , 2. Hal ini dimungkinkan karena BIM menawarkan visualisasi virtual dari seluruh proses konstruksi secara menyeluruh sebelum aktivitas fisik dimulai (Sangadji et al. , 2. Melalui simulasi ini, tim proyek dapat mengidentifikasi lebih awal potensi konflik antar elemen bangunan seperti benturan antar jaringan struktur dan utilitas dan segera merumuskan solusi teknis, sehingga dapat menghindari dampak negatif terhadap progres pelaksanaan di lapangan (Antoni et al. KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 4 OKTOBER 2025 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 11-30 Salah satu fitur paling esensial dari BIM adalah kemampuannya dalam mempercepat dan menyederhanakan proses pertukaran informasi antar seluruh pemangku kepentingan Dengan sistem berbasis digital yang terintegrasi, setiap pihak memiliki akses terhadap data proyek yang sama, secara real-time dan dengan tingkat akurasi yang tinggi (Sangadji et , 2. Hal ini mendukung penciptaan lingkungan kerja kolaboratif yang transparan, sehingga pengambilan keputusan teknis dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Sejalan dengan hal tersebut. Eastman et al. dalam BIM Handbook menyebutkan bahwa BIM memberikan dampak transformasional yang nyata di lapangan, khususnya dalam hal memperkuat alur koordinasi dan pertukaran model desain 3D lintas disiplin. Hasilnya, seluruh proses kerja menjadi lebih terstruktur, efisien, dan mampu menyesuaikan diri dengan kompleksitas proyek konstruksi modern. Berdasarkan pertimbangan berbagai manfaat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan BIM sebagai bagian dari transformasi digital dalam proyek konstruksi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis. Implementasi BIM tidak hanya mendorong efisiensi proses kerja, tetapi juga menjadi landasan utama dalam pengembangan sistem kolaborasi dan integrasi kerja di masa depan, khususnya ketika dikombinasikan dengan pendekatan manajerial seperti Integrated Project Delivery (IPD). KAJIAN TEORITIS Building Information Modelling (BIM) sebagai media kolaborasi Seiring dengan perkembangan teknologi digital di sektor konstruksi global. Indonesia juga mulai menerapkan pendekatan teknologi yang lebih modern dan terintegrasi dalam proses Salah satu upaya konkret yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mewajibkan penggunaan Building Information Modeling (BIM) dalam proyek pembangunan gedung pemerintah, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 22/PRT/M/2018. Dalam peraturan ini dinyatakan bahwa seluruh proyek gedung pemerintah yang memiliki luas bangunan lebih dari 2. 000 meter persegi dan memiliki minimal dua lantai wajib menggunakan BIM sebagai bagian dari proses perencanaannya (Kementerian PUPR, 2. Ketentuan ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia mulai mengadopsi pendekatan berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam industri konstruksi nasional. BIM sendiri merupakan sebuah proses digitalisasi dalam proyek konstruksi yang tidak hanya terbatas pada pembuatan model tiga dimensi . D), tetapi juga mencakup pengelolaan informasi menyeluruh yang digunakan oleh berbagai pihak dalam suatu proyek mulai dari arsitek, insinyur. Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi Sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) kontraktor, hingga pemilik bangunan (Hatmoko et al. , 2019, 2019. Putera, 2. Melalui sistem ini, berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam proyek konstruksi dapat berkolaborasi secara efektif dan efisien. Hal ini menghasilkan proses pertukaran informasi yang lebih terbuka dan cepat antara pemangku kepentingan, serta mampu mengurangi risiko kesalahan desain, mencegah pekerjaan berulang, dan mempercepat pengambilan keputusan dalam tahap-tahap penting proyek (Cinthia Ayu Berlian P & Randy Putranto Adhi, 2016, 2016. Eastman et al. 2011, 2011. Wang & Chen, 2. Implementasi BIM di Indonesia juga mulai diperluas ke sektor swasta, terutama pada proyek-proyek berskala besar. Penggunaan BIM pada tahap desain memberikan keuntungan besar dalam hal penyesuaian desain dengan kebutuhan klien, pemilihan spesifikasi teknis yang lebih akurat, serta evaluasi kondisi eksisting lokasi proyek. Selama pelaksanaan konstruksi. BIM juga mendukung pengambilan keputusan berbasis data, seperti estimasi kuantitas material, pemantauan jadwal, serta pengendalian biaya proyek (Wibowo et al. , 2. Selain pada tahap desain dan konstruksi. BIM memiliki peran penting dalam tahap operasional dan pemeliharaan aset. Data dan informasi yang tersimpan dalam sistem BIM dapat digunakan kembali dalam pengelolaan fasilitas bangunan, baik oleh manajemen gedung maupun pemilik aset. Dengan demikian, siklus hidup bangunan menjadi lebih terdokumentasi dan terkontrol dari awal hingga akhir masa operasionalnya (Antoni et al. , 2. Secara konseptual, istilah AubuildingAy dalam BIM tidak hanya merujuk pada AubangunanAy secara fisik, tetapi juga mencerminkan proses AumembangunAy dalam arti luas. Oleh karena itu, penerapan BIM dapat meliputi proyek-proyek lingkungan binaan lainnya seperti jalan, jembatan, jaringan utilitas, saluran irigasi, hingga taman kota. Informasi dalam sistem BIM bersifat terstruktur dan terintegrasi, mencakup elemen grafis dan non-grafis yang menjadi dasar pengambilan keputusan sepanjang siklus proyek (Putera, 2. Kesimpulannya. BIM bukan hanya alat visualisasi teknis, melainkan sebuah metodologi kolaboratif berbasis teknologi digital yang dapat mentransformasi pendekatan desain, pembangunan, dan pengelolaan proyek di Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan sumber daya manusia, perumusan standar operasional, serta dorongan regulasi untuk memperkuat penerapan BIM secara menyeluruh di industri konstruksi nasional (Wibowo et al. (Kementerian PUPR, 2. Integrated Project Delivery (IPD) IPD merupakan sebuah pendekatan inovatif dalam sistem penyampaian proyek konstruksi yang kini telah mendapatkan perhatian luas dari kalangan profesional industri arsitektur, rekayasa, dan konstruksi (AEC). IPD tidak hanya menghadirkan cara kerja baru KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 4 OKTOBER 2025 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 11-30 dalam mengelola proyek, namun juga memperkenalkan filosofi kolaborasi yang mendalam antar pemangku kepentingan proyek (Rahim et al. , 2. Menurut definisi yang diberikan oleh American Institute of Architects (AIA). IPD adalah metode penyampaian proyek yang secara sistematis menyatukan individu, kerangka kerja operasional, serta struktur bisnis dalam satu sistem yang terpadu dan saling terhubung (Mentari & Mutaqi, 2. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk menciptakan kolaborasi menyeluruh, dengan memaksimalkan kontribusi dan keterlibatan semua pihak secara simultan sejak fase awal proyek. Hal ini dilakukan untuk mencapai hasil proyek yang lebih baik secara keseluruhan, meminimalkan biaya konstruksi, serta mengoptimalkan efektivitas dan efisiensi di seluruh tahapan, mulai dari konsepsi dan perencanaan awal, pengembangan desain yang bersifat kreatif, hingga pada tahap realisasi fisik proyek yang kompleks (Raisbeck, 2010. The American Institute of Architects. The American Institute of Architects . juga mengidentifikasi sejumlah karakteristik mendasar dari sistem IPD yang membedakannya secara signifikan dari metode penyampaian proyek konvensional seperti design-bid-build atau design and build. Karakteristik-karakteristik utama tersebut antara lain: Kolaborasi tingkat tinggi yang dilakukan secara menyeluruh sejak tahap perencanaan awal, pelaksanaan konstruksi, hingga proses akhir serah terima proyek, yang memastikan kesinambungan komunikasi antar semua pihak yang terlibat. Keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan sejak awal proyek, termasuk pemilik, arsitek, insinyur, kontraktor, dan konsultan lainnya, dengan prinsip penggunaan keahlian masing-masing secara adil dan proporsional. Transparansi dan keterbukaan informasi antar pihak yang terlibat dalam proyek, yang membangun tingkat kepercayaan dan pemahaman yang lebih baik dalam proses pengambilan keputusan. Keberhasilan proyek diukur melalui keberhasilan tim secara kolektif, dengan prinsip pembagian risiko dan manfaat secara adil berdasarkan kontribusi dan tanggung jawab masing-masing pihak. Pendekatan pengambilan keputusan berbasis nilai . alue-based decision makin. , yang tidak hanya berorientasi pada efisiensi biaya, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan, kualitas, dan nilai jangka panjang proyek. Pemanfaatan teknologi dan keahlian teknis secara optimal, yang didukung oleh integrasi teknologi digital seperti BIM untuk meningkatkan kecepatan, ketepatan, dan kualitas proses pengambilan keputusan. Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi Sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) Seiring dengan meningkatnya kompleksitas dan skala proyek konstruksi di era modern, kebutuhan akan sistem kerja yang kolaboratif dan efisien semakin mendesak. Dalam konteks ini. IPD semakin sering diintegrasikan dengan teknologi Building Information Modeling (BIM) sebagai alat bantu visualisasi, koordinasi, dan komunikasi antar pemangku kepentingan. Kombinasi antara IPD dan BIM tidak hanya mendukung terjadinya kolaborasi sejak tahap awal proyek, tetapi juga mendorong terciptanya sistem manajemen proyek yang lebih terbuka, inklusif, dan berorientasi pada hasil (Karasu et al. , 2023. Mohamed Salleh et al. , 2. BIM dan IPD memungkinkan adanya pengelolaan keuangan proyek yang transparan, mekanisme pembagian risiko dan manfaat yang seimbang, serta pengambilan keputusan bersama yang difasilitasi melalui kontrak kolaboratif multipihak (Dalui et al. , 2021. Rashidian et al. , 2. Penerapan IPD dan BIM secara bersamaan telah menunjukkan perkembangan signifikan di berbagai negara maju. Inggris (United Kingdo. menggunakan sistem IPD dan teknologi BIM yang telah diintegrasikan ke dalam praktik konstruksi nasional dan telah menjadi standar dalam pelaksanaan proyek infrastruktur selama beberapa dekade terakhir (Piroozfar et al. , 2. Negara lain seperti Australia juga telah mengadopsi pendekatan IPD secara luas, terutama karena hasil evaluasi menunjukkan bahwa metode ini mampu meningkatkan efisiensi, koordinasi tim, serta kualitas luaran proyek (Kraatz & Hampson. Namun, meskipun IPD telah diterapkan dengan cukup kuat di beberapa wilayah, penerapan BIM dalam beberapa kasus belum sepenuhnya konsisten, sehingga manfaatnya belum bisa dimaksimalkan secara merata. Dalam konteks ini, bisa dikatakan bahwa potensi penuh dari integrasi IPD dan BIM belum sepenuhnya terealisasi di tingkat global, karena masih terdapat berbagai tantangan implementatif, baik dari sisi teknologi, kebijakan, maupun budaya organisasi (Dalui et al. , 2021. Sepasgozar et al. , 2. Dengan melihat berbagai praktik dan pengalaman internasional tersebut, penting bagi Indonesia untuk mengadopsi pendekatan IPD secara strategis dan menjadikannya kerangka kerja utama dalam proyek konstruksi, terutama proyek-proyek publik berskala besar. Jika IPD diimplementasikan secara bersamaan dengan BIM, maka industri konstruksi Indonesia akan memiliki peluang besar untuk meningkatkan transparansi, memperkuat kolaborasi lintas disiplin, dan mendorong efisiensi di seluruh siklus proyek, mulai dari tahap perencanaan hingga pemeliharaan aset bangunan pasca konstruksi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Studi Literatur (Literature Revie. sebagai metode utama dalam mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis data yang relevan. Studi KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 4 OKTOBER 2025 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 11-30 literatur dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi, memahami, dan menyintesis informasi dari berbagai sumber ilmiah yang telah terpublikasi sebelumnya, baik berupa jurnal, buku, laporan teknis, peraturan pemerintah, maupun dokumen digital terkait topik Building Information Modeling (BIM) dan Integrated Project Delivery (IPD). Tujuan Studi Literatur Tujuan utama dari studi ini adalah untuk: Mengidentifikasi tren dan perkembangan penerapan BIM dan IPD dalam industri C Mengevaluasi kelebihan dan kekurangan pendekatan tersebut berdasarkan hasil penelitian terdahulu. Merumuskan rekomendasi strategi implementasi berdasarkan kesenjangan yang ditemukan dalam literatur. Strategi Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari sumber-sumber akademik yang kredibel, termasuk: Jurnal ilmiah nasional dan internasional . isalnya: ITcon. Elsevier. ASCE, dan Google Schola. C Regulasi dan dokumen kebijakan . isalnya: Peraturan Menteri PUPR No. 22/PRT/M/2. Laporan penelitian, white paper, dan publikasi institusi terkait teknologi konstruksi Kriteria inklusi meliputi: Literatur yang diterbitkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir . 3Ae2. C Fokus pada topik BIM. IPD, kolaborasi proyek, dan transformasi digital dalam C Mengandung data empiris, temuan, atau evaluasi implementasi Teknik Analisis Data Analisis dilakukan dengan pendekatan Literature Review, yang terdiri dari beberapa tahapan: Identifikasi literatur berdasarkan kata kunci dan topik utama C Seleksi artikel yang relevan dan memenuhi kriteria inklusi Evaluasi kualitas metodologis setiap literatur Sintesis tematik untuk mengelompokkan hasil-hasil penelitian ke dalam kategori temuan utama, tantangan, dan peluang Proses ini memungkinkan peneliti untuk menemukan kesenjangan penelitian serta menyusun kerangka konseptual yang mendukung argumentasi penelitian secara lebih kuat. Validitas dan Relevansi Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi Sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) Untuk menjaga validitas data, hanya sumber-sumber yang memiliki peer review dan reputasi akademik baik yang dijadikan acuan. Selain itu, peneliti membandingkan beberapa studi yang membahas konteks serupa di negara berkembang dan maju guna memastikan bahwa temuan dapat direfleksikan dalam konteks Indonesia. Gambar 1. Diagram Skema Metode Penelitian Sumber: Hasil Analisis Pertanyaan Penelitian menentukan batasan lingkup penelitian menggunakan PICOC (Popoulation/problem. Intervention. Comparison. Outcomes. Contex. Tabel 1. Kriteria PICOC Population/Problem BIM dalam IPD Intervention Peran. Manfaat. Kolaborasi Comparison Outcomes Penerapan BIM dalam IPD sebagai media Kolaborasi dan Komunikasi Context Studi literatur pada penggunaan BIM dalam IPD Sumber: Hasil Analisis Dari tabel diatas kemudian ditarik beberapa pertanyaan mengenai pembahasan terhadap BIM dan IPD Tabel 2. Pertanyaan dan Tujuan Apa saja keuntungan dan keterbatasan penggunaan Menganalisis kelebihan dan kekurangan BIM Building Information Modeling (BIM) jika dibanding metode konvensional dibandingkan dengan metode konstruksi tradisional dalam pelaksanaan proyek Bagaimana penerapan BIM dalam proyek IPD Melakukan evaluasi terhadap integrasi BIM dalam metode design and build pada pelaksanaan proyek KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 4 OKTOBER 2025 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 11-30 Langkah-langkah apa yang disarankan agar Mengkaji pendekatan strategis dalam implementasi implementasi BIM dalam proyek konstruksi dapat BIM untuk mendukung pelaksanaan proyek berjalan secara maksimal konstruksi di Indonesia Sumber: Hasil Analisis Literatur dipilih untuk mendapat kriteria literatur yang sesuai untuk dibahas oleh penulis dengan syarat literatur tertentu dengan kriteria inklusi. Tabel 3. Kriteria Pemilihan Literatur Data Literatur 10 tahun terakhir . Kriteria Data diperoleh melalui database Google Scholars Literatur Data yang digunakan mengenai BIM dan IPD Data yang digunakan mengenai BIM sebagai media kolaborasi dan komunikasi Sumber: Hasil Analisis HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 4. Literatur Terpilih No. Source Purpose Method Mengevaluasi tingkat Penelitian ini Studi menemukan bahwa BIM penerapan BIM pada secara nyata meningkatkan efisiensi berbagai proyek konstruksi pendekatan survei koordinasi, transparansi data, dan di Indonesia serta mengurangi kesalahan desain pada kuantitatif terhadap (Wibowo mengidentifikasi hambatan pelaku industri Main Result konstruksi dan proyek di Indonesia. Namun, et al. dan peluang yang dihadapi penerapannya terhambat oleh industri konstruksi nasional wawancara mendalam keterbatasan sumber daya manusia, dalam mengadopsi BIM. dengan profesional resistensi terhadap perubahan yang terlibat langsung budaya kerja, serta kebutuhan di proyek berbasis investasi awal yang tinggi. BIM. Mengkaji secara Penelitian Integrasi antara IPD dan BIM sistematis hubungan, memperkuat kolaborasi lintas manfaat, serta tantangan systematic literature pemangku kepentingan sejak awal integrasi antara review (SLR) dengan proyek, meningkatkan efisiensi (Karasu Integrated Project menyeleksi dan proses, mempercepat mitigasi et al. Delivery (IPD) dan BIM menganalisis publikasi risiko, dan memfasilitasi dalam proyek konstruksi akademik terindeks komunikasi terbuka berbasis data melalui literatur tahun 2010Ae2022, serta Tantangan signifikan tetap internasional terbaru. melakukan penelaahan ada di aspek standarisasi proses, tematik terhadap artikel integrasi digital, dan harmonisasi yang relevan. budaya kerja. Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi Sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) Mengidentifikasi dan Literature review atas BIM memberikan visualisasi yang mensintesiskan manfaat jurnal ilmiah, laporan lebih jelas, meningkatkan penerapan BIM pada proyek, dan standar koordinasi tim, mengurangi (Putera, proyek-proyek industri terkait perubahan desain mendadak konstruksi gedung implementasi BIM di . hange orde. , serta meningkatkan berdasarkan rangkuman bangunan gedung. efisiensi waktu dan biaya konstruksi hasil studi pustaka dan mempermudah fase pemeliharaan pasca proyek. Menganalisis dampak Studi kasus dengan Implementasi BIM meningkatkan penggunaan BIM pendekatan kuantitatif koordinasi antar tim dan terhadap kinerja proyek pengelolaan proyek yang lebih baik, konstruksi jalan tol, observasi lapangan, sehingga menurunkan (Antoni terfokus pada efisiensi pengumpulan data keterlambatan dan pemborosan et al. waktu, biaya, dan mutu proyek, dan wawancara biaya dalam proyek jalan tol dengan stakeholder utama guna mengevaluasi pengaruh BIM terhadap indikator kinerja proyek. Mengkaji bagaimana BIM Pendekatan kualitatif BIM berperan penting dalam dan IPD diintegrasikan melalui studi literatur memperkuat kolaborasi dalam dalam sektor konsultasi dan wawancara kerangka IPD dan meningkatkan (Dalui et konstruksi di Inggris, faktor mendalam dengan efisiensi proyek. Tantangan utama , 2. kunci keberhasilan, dan praktisi di industri adalah resistensi budaya dan konsultasi konstruksi masalah standarisasi, yang dapat yang telah menerapkan diatasi dengan pelatihan dan BIM dan IPD. dukungan manajemen. Membandingkan Studi kasus kuantitatif BIM secara signifikan mengurangi keefisienan waktu, biaya, dengan analisis data waktu dan biaya perencanaan serta dan sumber daya dari proyek memaksimalkan penggunaan manusia antara perencanaan gedung 20 sumber daya manusia dibandingkan penggunaan BIM dan lantai menggunakan metode konvensional, juga metode konvensional kedua metode tersebut, meningkatkan koordinasi. dalam perencanaan dilanjutkan dengan gedung tinggi. pengolahan statistik hambatan yang ditemui. (Berlian et al. untuk membandingkan (Mohame Menilai kecenderungan Survei kuantitatif Ditemukan hubungan positif antara d Salleh adopsi BIM dan IPD berbasis kuesioner yang penggunaan BIM dan IPD yang et al. dalam proyek konstruksi disebarkan ke praktisi meningkatkan kolaborasi dan KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 4 OKTOBER 2025 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 11-30 dan mengidentifikasi konstruksi, dengan efektivitas manajemen proyek, faktor-faktor yang analisis statistik tetapi adopsi penuh masih mempengaruhi integrasi korelasional untuk dipengaruhi oleh kesiapan menguji hubungan organisasi dan budaya kerja. antara penggunaan BIM dan IPD dan dampaknya pada kinerja proyek. Mengkaji apakah dan Menggunakan IPD terbukti efektif membantu bagaimana pendekatan pendekatan mixed mengatasi hambatan kolaborasi. Integrated Project methods dengan meningkatkan keterlibatan dini para Delivery (IPD) dapat landasan ontologi pemangku kepentingan, dan memfasilitasi penerapan relativis untuk menguatkan kepercayaan antar tim Building Information mengumpulkan data proyek yang pada akhirnya Modelling (BIM) dalam persepsi para ahli dari mempermudah implementasi BIM. (Piroozfa industri konstruksi di industri konstruksi UK Hambatan utama IPD yang harus r et al. Inggris. melalui survei dan diatasi adalah budaya organisasi, wawancara mendalam. standarisasi, dan struktur kontrak Analisis dilakukan yang kompleks. Jika diatasi. IPD terhadap hambatan dapat meningkatkan performa implementasi BIM dan konstruksi dalam hal biaya, waktu, prinsip IPD dan produktivitas melalui berdasarkan literatur defragmentasi pemangku serta pengalaman kepentingan dan prinsip kontraktual kolaboratif yang mendukung BIM. Mengidentifikasi Studi kualitatif dengan Terdapat berbagai tantangan teknis tantangan yang dihadapi metode wawancara, dan non-teknis, termasuk industri konstruksi saat observasi, dan analisis keterbatasan infrastruktur digital, melakukan migrasi dari dokumentasi pada resistensi terhadap perubahan penggunaan BIM berbagai proyek budaya kerja, kurangnya standar berbasis desktop ke konstruksi yang beralih interoperabilitas, serta masalah sistem BIM kolaboratif dari BIM desktop ke lisensi perangkat lunak. Migrasi ini yang lebih maju dan BIM berbasis cloud dan memerlukan perencanaan matang, pelatihan intensif, serta dukungan (Sepasgo zar et al. manajemen yang kuat agar BIM dapat dioptimalkan sebagai media kolaborasi lintas disiplin. (Rashidia Mengembangkan model Penelitian merancang Model maturity terintegrasi ini n et al. kematangan terintegrasi model teoretis dapat membantu organisasi yang menggabungkan berdasarkan studi mengidentifikasi area kekuatan dan Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi Sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) BIM. IPD, dan Lean literatur mendalam dan kelemahan dalam proses kolaborasi Construction untuk validasi empiris digital dan organisasi, membantu organisasi menggunakan metode memprioritaskan perbaikan, serta Delphi dengan para ahli mendorong pengurangan kemampuan kolaborasi di bidang konstruksi pemborosan, percepatan waktu dan efisiensi proyek dan BIM. Model ini proyek, dan peningkatan kepuasan mengukur kematangan pemangku kepentingan. Namun, implementasi dan kendala seperti resistensi budaya, sinergi ketiga konsep. standar yang belum konsisten, dan fragmentasi proses masih menjadi hambatan utama. Menelaah bagaimana Kajian kualitatif dan Integrasi BIM dengan manajemen integrasi BIM ke dalam kuantitatif yang proyek memungkinkan digitalisasi proses manajemen proses pengendalian waktu, biaya, proyek konstruksi studi literatur dan studi kualitas, dan komunikasi yang sepanjang siklus hidup kasus proyek efektif antar tim. Hal ini secara (Wang & proyek dapat konstruksi yang telah signifikan meningkatkan efisiensi Chen, mengintegrasikan BIM dan transparansi serta mempercepat pengelolaan, komunikasi, dengan praktik pengambilan keputusan selama dan koordinasi antar manajemen proyek siklus hidup proyek. Penggunaan pemangku kepentingan. modern, dianalisis BIM sebagai media komunikasi terintegrasi juga menurunkan risiko framework siklus kesalahan dan konflik data. Melakukan kajian Penelitian Penggunaan BIM dalam proyek IPD literatur sistematis terkait secara signifikan meningkatkan peranan metode Building metode Systematic efisiensi proses kerja dan dapat Information Modeling Literature menghemat waktu hingga 50%, (BIM) dalam proyek Review (SLR) dengan serta mengurangi biaya proyek Integrated Project pemilihan dan analisis secara efektif dibanding metode Delivery (IPD), literatur terpilih relevan Visualisasi 3D hingga khususnya kaitannya dari 10 tahun terakhir. 10D sangat membantu perencanaan Setiawan, dengan pencapaian triple Analisis tematik dan pengelolaan risiko secara constraint yakni mutu, dilakukan untuk mendetail sepanjang siklus proyek, biaya, dan waktu. memahami manfaat termasuk fase pemeliharaan. BIM dalam IPD dan Melalui proses ini. BIM dampaknya pada memfasilitasi kolaborasi intensif efisiensi dan efektivitas dan komunikasi yang lebih manajemen proyek. transparan antar disiplin yang (Friastri menjadi kunci keberhasilan proyek- KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 4 OKTOBER 2025 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 11-30 proyek kompleks berbasis IPD. (Nguyen Akhavian , 2. Mengevaluasi efektivitas Penelitian Integrasi IPD. Lean Construction, dan sinergi antara tiga dan BIM secara sinergis konsep modern dalam pendekatan campuran meningkatkan kinerja proyek secara manajemen konstruksi, kuantitatif dan signifikan dibanding penggunaan yaitu Integrated Project Data metode tunggal. BIM berperan Delivery (IPD). Lean kuantitatif diperoleh krusial sebagai media komunikasi Construction (LC), dan dari pengukuran kinerja dan kolaborasi lintas disiplin. Building Information proyek menggunakan mendukung koordinasi yang efisien. Modeling (BIM), indikator kinerja biaya transparansi informasi, dan khususnya dalam dan jadwal . ost and pengurangan kesalahan yang kaitannya dengan schedule performanc. menyebabkan pemborosan waktu peningkatan kinerja Selain itu, dilakukan dan biaya. proyek terkait biaya dan analisis kualitatif yang Penelitian ini menemukan bahwa mendalam terhadap kombinasi ketiga metode tersebut implementasi tiga meningkatkan efektivitas kolaborasi konsep tersebut dalam dan komunikasi antar pemangku proyek konstruksi. kepentingan, sehingga proyek dapat Pemodelan statistik diselesaikan dengan performa biaya juga digunakan untuk dan jadwal yang lebih baik. Sinergi menilai tingkat sinergi ini mengurangi konflik, antar konsep. meningkatkan keterlibatan pemangku kepentingan sejak awal, dan menjamin pengambilan keputusan yang lebih tepat waktu serta berbasis data. Mengeksplorasi Studi kasus yang Integrasi BIM dalam IPD bagaimana penerapan memadukan analisis mempercepat penyelesaian proyek Building Information dokumen, wawancara, sebesar 39% lebih cepat dari jadwal Modeling (BIM) dalam dan observasi awal dan signifikan meningkatkan (Fanani kerangka Integrated pelaksanaan proyek efisiensi biaya. BIM memfasilitasi Project Delivery (IPD) Mosaic Centre. BIM komunikasi efektif, transparansi dapat membantu digunakan sejak awal data, dan kolaborasi lintas disiplin menentukan kompensasi desain sebagai platform yang kuat di seluruh siklus proyek. risiko dan keuntungan kolaborasi digital Model BIM yang terintegrasi . isk/reward terpadu bagi pemilik, mengurangi potensi miskomunikasi compensatio. , dengan arsitek, kontraktor, dan dan konflik desain sehingga fokus pada kolaborasi Model mendukung pembagian risiko dan Setiawan. Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi Sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) dan komunikasi di 3D Revit menjadi basis keuntungan secara adil. Meski profit proyek Mosaic Centre. koordinasi dan berakhir sedikit di bawah target, komunikasi real-time proyek ini sukses sebagai contoh antar tim. implementasi BIM dan IPD yang mengoptimalkan kerja sama antar pemangku kepentingan. Menilai peran BIM Studi kasus kualitatif BIM sebagai media komunikasi dan sebagai platform utama dengan analisis kolaborasi meningkatkan untuk komunikasi dan dokumentasi proyek dan transparansi data dan integrasi kolaborasi antar wawancara para informasi yang mempercepat pemangku kepentingan profesional terlibat. BIM pengambilan keputusan dan sejak tahap perencanaan digunakan untuk meminimalkan pekerjaan ulang dalam Integrated Project menyediakan model . BIM memungkinkan Delivery (IPD) pada digital terpadu yang koordinasi simultan antar disiplin Setiawan, proyek konstruksi mendukung koordinasi sehingga memperkuat kerja tim. Cathedral Hill Hospital. dan transparansi mengurangi miskomunikasi, dan informasi antara pemilik, mengoptimalkan penyelesaian (Khilda konsultan, dan kontraktor. Pendekatan BIM-IPD ini mendukung efisiensi proyek dengan komunikasi terbuka dan saling percaya antara stakeholder sejak tahap awal. (Shyng. Mengembangkan model Analisis kasus dan Model IPD berbasis BIM manajemen kolaboratif simulasi model IPD meningkatkan komunikasi, berbasis BIM dan IPD kolaboratif menggunakan memperjelas peran dan tanggung untuk proyek-proyek platform BIM, yang jawab, serta memungkinkan kontrol konstruksi khususnya dibagi menjadi sembilan risiko dan pencapaian target kinerja dalam skema public- fase siklus proyek dari secara efisien di setiap tahapan private partnership perencanaan hingga Integrasi ini terbukti . mengurangi asimetri informasi dan meningkatkan pengawasan serta koordinasi seluruh pemangku Sumber: Hasil Analisis Pembahasan Berdasarkan telaah mendalam dari 16 literatur yang diterbitkan dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir, penerapan Building Information Modeling (BIM) dalam kerangka Integrated Project Delivery (IPD) terbukti memiliki peranan sentral dalam transformasi industri konstruksi modern. BIM tidak lagi sekadar menjadi alat visualisasi tiga dimensi, melainkan KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 4 OKTOBER 2025 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 11-30 berfungsi sebagai platform komunikasi dan kolaborasi digital yang mengintegrasikan berbagai pemangku kepentingan dengan cara yang lebih sinergis (Dalui et al. , 2021. Putera, 2022. Wibowo et al. , 2. Jika dibandingkan dengan metode konvensional yang masih bergantung pada dokumentasi fisik dan komunikasi manual antar disiplin. BIM menghadirkan keuntungan signifikan dalam menyediakan data terpadu yang dapat diakses secara bersama secara real-time oleh arsitek, insinyur, kontraktor, konsultan, dan pemilik proyek. Pendekatan ini menyembuhkan masalah fragmentasi informasi, yang selama ini kerap menjadi sumber miskomunikasi, pengulangan kerja, dan pengambilan keputusan yang terlambat (Dalui et al. Putera, 2022. Wibowo et al. , 2. Integrasi BIM dalam kerangka IPD memperkuat proses kolaborasi yang non-hierarkis dan inklusif. Model kerja ini tidak hanya memungkinkan pertukaran informasi yang lebih efektif, tetapi juga memperjelas peran dan tanggung jawab setiap pemangku kepentingan sejak tahap desain awal, sehingga meningkatkan transparansi dan akuntabilitas proyek secara menyeluruh (Antoni et al. , 2023. Karasu et al. , 2. Pendekatan ini juga memungkinkan digitalisasi pengelolaan waktu, biaya, dan mutu yang lebih responsif terhadap perubahan kondisi di lapangan (Wang & Chen, 2. Salah satu keunggulan BIM yang sangat krusial adalah kemampuannya dalam mendeteksi benturan desain . lash detectio. secara otomatis. Fasilitas ini mampu mempercepat identifikasi potensi konflik antar elemen struktural, arsitektural, dan MEP, sehingga dapat menghindarkan dari pengerjaan ulang dan pembengkakan biaya selama konstruksi (Antoni et al. , 2. (Wibowo et al. , 2. Fitur ini menjadi sangat relevan dalam proyek berorientasi IPD, di mana kolaborasi intensif dan pengambilan keputusan cepat sangat Namun, berbagai tantangan signifikan masih menghambat implementasi BIM dan IPD, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Hambatan utama termasuk terbatasnya tenaga ahli yang kompeten, resistensi budaya kerja tradisional, dan kebutuhan investasi tinggi untuk infrastruktur digital dan pelatihan (Putera, 2022. Sepasgozar et al. , 2. Selain itu, masalah standarisasi proses, interoperabilitas perangkat lunak, serta regulasi dan kontrak yang kompleks turut menjadi penghalang optimalisasi integrasi ini (Karasu et al. , 2023. Piroozfar et al. , 2. Penelitian juga mengidentifikasi bahwa faktor kepemimpinan proyek sangat menentukan keberhasilan implementasi BIM dalam IPD. Pemilik proyek yang aktif memfasilitasi integrasi multidisiplin, mendorong keterbukaan data, dan komunikasi yang transparan berpotensi besar menghasilkan efisiensi waktu, pengurangan biaya, dan Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi Sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) peningkatan mutu proyek secara komprehensif (Fanani & Setiawan, 2. KHILDA (Karasu et al. , 2. Lebih jauh, sinergi antara BIM. IPD, dan konsep Lean Construction yang dijelaskan oleh Nguyen & Akhavian . memperkuat efisiensi dan kinerja proyek melalui kolaborasi intensif dan pengurangan pemborosan sumber daya. BIM sebagai pusat komunikasi dan koordinasi lintas disiplin adalah elemen kunci yang memungkinkan tercapainya kinerja triple constraint yang optimal . aktu, biaya, mut. dalam proyek-proyek yang kompleks dan skala besar (Antoni et al. , 2023. Nguyen & Akhavian, 2. Peningkatan kesiapan teknologi digital seperti kapasitas komputasi yang lebih tinggi, penyimpanan data yang besar, dan jaringan internet berkecepatan tinggi menjadi pendukung utama kelancaran penerapan BIM dan IPD (Dalui et al. , 2. Adopsi model kematangan terintegrasi antara BIM. IPD, dan Lean Construction yang dikembangkan Rashidian et al. juga menunjukan adanya arahan strategis bagi organisasi untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dan efisiensi kerja digital. Secara keseluruhan, integrasi BIM dalam rangka IPD membuka peluang bagi proyek konstruksi untuk beroperasi secara transparan, kolaboratif, adaptif, dan berorientasi hasil. BIM harus dipandang bukan sekadar software, melainkan sebuah platform strategis yang mampu menghubungkan kompleksitas teknis dan sosial di seluruh siklus hidup proyek, sehingga meningkatkan produktivitas serta kepuasan pemangku kepentingan (Antoni et al. , 2023. Dalui et al. , 2021. Nguyen & Akhavian, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan kajian terhadap 16 literatur terpilih dalam dekade terakhir, dapat disimpulkan bahwa penerapan Building Information Modeling (BIM) dalam konteks Integrated Project Delivery (IPD) memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan praktik manajemen proyek konstruksi modern. BIM berfungsi tidak hanya sebagai alat visualisasi desain, tetapi jauh lebih penting sebagai platform kolaborasi digital yang memungkinkan integrasi informasi secara terpadu dan real-time di antara pemangku kepentingan. Integrasi BIM dalam skema IPD berhasil mengoptimalkan komunikasi, memperjelas peran, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas selama siklus hidup proyek. Keunggulan utama BIM, seperti deteksi konflik desain otomatis, mendukung identifikasi dan mitigasi risiko yang dapat menyebabkan pengerjaan ulang dan pembengkakan Namun demikian, masih terdapat berbagai tantangan mendasar, khususnya terkait kesiapan sumber daya manusia, perubahan budaya kerja, serta kebutuhan investasi teknologi KONTRUKSI - VOLUME. NOMOR. 4 OKTOBER 2025 E-ISSN: 3031-4089. P-ISSN: 3031-5069. Hal 11-30 yang memadai. Keberhasilan implementasi BIM dalam IPD sangat bergantung pada kepemimpinan proyek yang mampu membangun budaya kolaborasi yang terbuka dan partisipatif sejak tahap awal. Secara menyeluruh, dengan pemanfaatan BIM yang efektif dalam kerangka IPD, proyek konstruksi menjadi lebih adaptif, efisien, dan berorientasi hasil, mampu mewujudkan target waktu, biaya, dan mutu secara optimal. Oleh karena itu. BIM merupakan fondasi strategis yang menjembatani kompleksitas teknis dan sosial dalam manajemen proyek konstruksi berskala besar dan kompleks. Saran Peningkatan Kapasitas SDM Pelaku industri konstruksi perlu fokus pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang menguasai teknologi BIM dan prinsip kolaborasi IPD. Program pelatihan intensif dan sertifikasi kompetensi harus didorong secara sistematis untuk menjawab kebutuhan keahlian digital. Penguatan Kepemimpinan dan Budaya Kerja Kolaboratif Kepemimpinan proyek harus menginisiasi budaya kerja yang mendukung keterbukaan, transparansi, dan komunikasi lintas disiplin sejak tahap perencanaan. Hal ini termasuk mendorong partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan dalam platform BIM-IPD untuk menghindari kesalahan koordinasi dan meningkatkan efisiensi. Investasi Infrastruktur Teknologi Organisasi konstruksi di negara berkembang, khususnya Indonesia, disarankan memperkuat infrastruktur digital seperti perangkat keras, perangkat lunak terbaru, dan jaringan komunikasi yang memadai agar BIM dan IPD dapat berjalan optimal tanpa hambatan teknis. Standarisasi dan Regulasi Pendukung Pemerintah dan asosiasi profesi perlu mengembangkan standar nasional yang mengatur interoperabilitas, proses kerja, dan model kontrak yang mendukung implementasi BIM dan IPD. Regulasi yang jelas akan mempermudah adopsi teknologi sekaligus mengurangi risiko konflik hukum dan proses. Pemanfaatan Model Maturity Terintegrasi Organisasi dapat mengadopsi model kematangan terintegrasi yang menggabungkan BIM. IPD, dan Lean Construction seperti yang dikembangkan oleh Rashidian et al. untuk mengukur kesiapan dan meningkatkan sinergi kolaborasi digital, sehingga mendukung efisiensi proyek secara keseluruhan. Literature Review: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam Konstruksi Sebagai Alat Komunikasi dan Kolaborasi dalam Integrated Project Delivery (IPD) C Riset dan Pengembangan Berkelanjutan Diperlukan penelitian lanjutan yang fokus pada adaptasi BIM dan IPD dalam konteks lokal dan skala proyek yang beragam, untuk menghasilkan best practice yang kontekstual dan inovatif, serta menyesuaikan perkembangan teknologi dan dinamika industri konstruksi. UCAPAN TERIMA KASIH