Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 05 No. 02 (June 2. 110 Ae 127 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) e-ISSN 2775-4006 https://ejurnal. id/index. php/juteolog p-ISSN 2774-9355 https://doi. org/10. 52489/juteolog. Konflik Kristologis dalam Injil Yohanes 5:18: Kajian Atas Tuduhan Penyamaan Diri dengan Allah Ridwan Henry Simamora . Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi. Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia Manado, simamora68@gmail. Recommended Citation Turabian 8th edition . ull not. Simamora et al. AuKonflik Kristologis Dalam Injil Yohanes 5:18: Kajian Atas Tuduhan Penyamaan Diri Dengan AllahAy. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 5, no. 2 (Oktober 13, 2. : 110127, accessed September 23, 2025, https://doi. org/10. 52489/juteolog. American Psychological Association 7th edition (Simamora, et al. , 2025, p. Received: 26 Agustus 2025 Accepted: 18 September 2025 Published: 13 Oktober 2025 This Article is brought to you for free and open access by Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. It has been accepted for inclusion in Christian Perspectives in Education by an authorized editor of Jurnal Teologi (JUTEOLOG). For more information, please contact henry. simamora68@gmail. Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi Abstract This research examines John 5:18 as a crucial locus in Johannine Christology, particularly regarding the accusation that Jesus Aumade Himself equal with God. Ay The verse represents a transition from disputes over the Sabbath law to a deeper theological conflict about JesusAo Using a qualitative approach with theological exegesis, this study argues that the accusation should not be viewed merely as polemical opposition but as part of JohnAos narrative strategy to affirm the unity of Jesus with the Father. The conflict in John 5:18 cannot be separated from the context of Jewish monotheism. nevertheless, it is precisely within this tension that the Gospel presents Christology that shaped the early churchAos understanding of the FatherAeSon relationship. Therefore, this verse serves as a theological foundation for explaining why the path of Jesus to the cross was inevitable, while also opening space for the doctrinal development of the Trinity. Keywords: Gospel of John. Christology, theological conflict. Sabbath. Trinity Abstrak Penelitian ini menelaah Yohanes 5:18 sebagai locus penting dalam Kristologi Yohanes, khususnya terkait tuduhan bahwa Yesus Aumenyamakan diri dengan Allah. Ay Ayat ini menandai transisi dari konflik seputar hukum Sabat menuju konflik teologis yang lebih mendalam tentang identitas Yesus. Melalui pendekatan kualitatif dengan eksegesis teologis, kajian ini menunjukkan bahwa tuduhan tersebut bukan sekadar reaksi polemis, melainkan bagian dari strategi naratif Yohanes untuk menegaskan kesatuan Yesus dengan Bapa. Konflik dalam Yohanes 5:18 tidak dapat dilepaskan dari konteks monoteisme Yahudi, namun justru di dalam ketegangan itu Injil Yohanes menampilkan Kristologi yang menjadi dasar refleksi gereja mula-mula tentang relasi Bapa dan Anak. Dengan demikian, teks ini berperan sebagai fondasi teologis yang menjelaskan mengapa jalan Yesus menuju salib tidak terhindarkan, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan doktrin Trinitas. Kata Kunci: Injil Yohanes. Kristologi, konflik teologis. Sabat. Trinitas PENDAHULUAN Injil Yohanes menonjol sebagai tulisan Perjanjian Baru yang paling tegas secara eksplisit menegaskan Kristologi. Sejak prolog dalam Injil Yohanes. Yesus digambarkan bukan hanya sebagai Firman yang bersama Allah, melainkan juga sebagai pribadi ilahi (Yoh 1:1Ae. Seluruh narasi Yohanes kemudian mengungkap identitas ilahi itu melalui tanda-tanda, ajaran, dan berbagai pernyataan diri Yesus. Namun, penguatan atas identitas keilahian tersebut tidak berkembang dalam ruang netral. sebaliknya, ia terbentuk melalui ketegangan berkelanjutan dengan otoritas Yahudi. Jonge menegaskan bahwa konflik Yesus dengan orang-orang Yahudi dalam Injil Yohanes tidak sekadar fenomena historis, tetapi merupakan strategi teologis untuk menampilkan Kristologi yang menempatkan Yesus setara dengan Allah. Konflik-konflik inilah yang justru menggerakkan narasi Yohanes hingga puncaknya pada peristiwa salib. Hal ini sejalan dengan analisis Carter yang menunjukkan bahwa pertentangan Yesus dengan tradisi keagamaan Yahudi, khususnya terkait hukum Sabat, menjadi retorika naratif yang menggarisbawahi otoritas ilahi Yesus di atas institusi Yahudi (Carter, 2. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi Salah satu teks yang menempati posisi sentral dalam dinamika konflik Yesus dengan otoritas Yahudi terdapat pada Yohanes 5:18. Setelah peristiwa penyembuhan seorang lumpuh di kolam Betesda pada hari Sabat (Yoh 5:1Ae. Yesus dituduh tidak hanya melanggar hukum Sabat, tetapi juga menyamakan diri dengan Allah, suatu dakwaan serius bahwa Yesus Aumenyamakan diri dengan AllahAy (Yoh 5:. Pernyataan ini menunjukkan bahwa inti persoalan bukan sekadar dimensi hukum atau etika keagamaan, melainkan menyentuh aspek fundamental Kristologi Yohanes, yaitu relasi unik dan eksklusif antara Yesus dan Allah sebagai Bapa-Nya. Ayat ini menggarisbawahi bahwa pemahaman orang Yahudi tentang klaim Yesus telah menempatkan-Nya pada ranah keilahian (Tobing, 2. Yohanes 5:18 merupakan salah satu titik penting karena menegaskan bahwa orang Yahudi berusaha membunuh Yesus bukan hanya karena dianggap melanggar Sabat, tetapi juga karena Ia menyebut Allah sebagai Bapa-Nya sendiri, sehingga dipahami seolah Ia menyamakan diri dengan Allah. Ayat ini membuka ruang kajian tentang Kristologi tinggi Yohanes, sekaligus memperlihatkan natur konflik teologis yang menjadi latar jalan salib Yesus. Hal yang sama ditegaskan oleh Moloney yang menekankan bahwa Yohanes 5:18 berfungsi sebagai titik balik naratif, di mana konflik hukum Sabat berkembang menjadi konflik Kristologis yang menentukan jalan cerita menuju salib (Adon & Riyadi, 2. Tuduhan ini mengarah langsung pada denyut kristologis dalam narasi Yohanes: bukan hanya persoalan hukum, melainkan klaim keilahian Yesus yang terjalin dalam relasi istimewa dengan Allah sebagai Bapa. Konflik semacam ini berfungsi sebagai landasan dramatik yang menggerakkan Kristologi dalam Injil dan bagaimana konflik itu berperan sebagai sarana teologis dalam menyatakan identitas ilahi Yesus. Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai Kristologi Yohanes banyak memberi perhatian pada teks-teks besar seperti pernyataan AuAku adalahAy . go eimi. Yoh 8:. , yang dibaca sebagai self-revelation dan peneguhan keilahian Yesus, seperti penelitian Cornelis menyinggung fungsi pernyataan AuAku adalahAy sebagai self-disclosure yang mengisyaratkan kesetaraan dengan Allah . ihat bagian AAuthorityA). Klaim kesatuan dengan Bapa (Yoh 10:. yang ditelaah dalam bingkai monoteisme Israel dan polemik dengan otoritas Yahudi (Bennema, 2. Menempatkan Yoh 5:18 dalam perdebatan hukum Sabat dan otoritas Yesus, sering tanpa penggalian khusus dimensi Kristologis konflik. Sedangkan Jebaru Adon dan Eko Riyadi, mengulas konflik Yesus dengan pemimpin Yahudi tetapi tanpa fokus khusus pada Kristologi Yohanes 5:18. Namun, kajian Yohanes 5:18 sering kali hanya disebut sekilas dalam kaitannya dengan diskusi hukum Sabat atau sebagai salah satu tahap konflik Yesus dengan orang Yahudi, bukan sebagai fokus utama analisis. Jarang sekali teks ini diteliti secara khusus sebagai pusat narasi konflik Kristologis Yohanes (Adon & Riyadi, 2. Dengan demikian, terdapat ruang penelitian yang masih terbuka untuk mengeksplorasi Yohanes 5:18 sebagai kunci dalam memahami dinamika konflik teologis yang menopang Kristologi Injil Yohanes. Penelitian ini didasarkan pada pemahaman bahwa konflik dalam Injil Yohanes tidak sekadar berfungsi sebagai latar historis, melainkan dimanfaatkan sebagai instrumen teologis untuk mengungkapkan identitas Yesus. Tuduhan bahwa Yesus Aumenyamakan diri dengan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi AllahAy ( A A) dalam Yohanes 5:18 tidak dapat dipandang hanya sebagai klaim palsu dari pihak orang Yahudi, tetapi sebagai bagian dari strategi naratif yang memperkuat Kristologi Yohanes. Melalui penyajian tuduhan tersebut, penulis Injil secara implisit menegaskan realitas keilahian Yesus, sekalipun pengakuan itu justru menimbulkan penolakan Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam studi Injil Yohanes dengan cara: Fokus spesifik pada Yohanes 5:18 sebagai locus theologicus, bukan hanya menyebutnya sebagai bagian sampingan dari konflik yang lebih luas. Menafsirkan tuduhan Aumenyamakan diri dengan AllahAy bukan sekadar sebagai reaksi negatif orang Yahudi, melainkan sebagai sarana teologis Yohanes untuk menegaskan Kristologi ilahi. Menunjukkan bahwa konflik itu sendiri adalah instrumen teologi Yohanes, di mana identitas Yesus sebagai Anak Allah justru dinyatakan melalui pertentangan dengan pemimpin Yahudi. Memberikan kontribusi akademis dengan menggeser fokus kajian Kristologi Yohanes dari pernyataan eksplisit Yesus . AuAku adalahA. ke narasi konflik sebagai wahana penyataan keallahan Yesus. Dengan demikian, novelty artikel ini terletak pada cara membaca konflik dalam Yohanes 5:18 sebagai pusat Kristologi, bukan sekadar latar belakang historis atau tuduhan sosial. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode eksegesis historis-teologis. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian teologi Alkitab lebih berfokus pada penafsiran makna teks ketimbang pengukuran numerik. Data utama dalam penelitian ini adalah teks Yohanes 5:18, yang dianalisis dengan mempertimbangkan konteks literal, historis, dan Kajian pustaka berupa komentar Alkitab, literatur akademik, dan hasil penelitian sebelumnya menjadi sumber pendukung yang memperkaya analisis (Creswell, 2. Thiselton menyatakan hermeneutika teologis tidak berhenti pada rekonstruksi historis, melainkan bertujuan menemukan makna teologis yang relevan bagi iman Kristen (Thiselton. Demikian juga. Vanhoozer menekankan bahwa metode teologis harus memadukan kesetiaan pada teks dengan pemahaman akan drama besar pewahyuan Allah dalam sejarah (Vanhoozer, 2. Metode eksegesis teologis digunakan untuk mengkaji teks dengan langkah-langkah penelitian meliputi: . analisis filologis terhadap teks Yunani Yohanes 5:18. penelusuran konteks historis Yudaisme abad pertama dan perdebatan tentang hukum Sabat. analisis naratif untuk menempatkan perikop ini dalam alur konflik Injil Yohanes. refleksi teologis mengenai signifikansi teks terhadap Kristologi Yohanes. Dengan demikian, metode ini memungkinkan penelitian tidak hanya mengungkap makna teks dalam konteks aslinya, tetapi juga kontribusinya terhadap pemahaman teologis dalam studi Perjanjian Baru kontemporer. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Teks Yohanes 5:18 Teks Yunani: n aE a En an. I a U iEA A AA iAA AU, cE A A (Dia Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi touto oun mallon ezetoun auton hoi Ioudaioi apokteinai, hoti ou monon elyen to sabbaton alla kai patera idion elegen ton theon, ison heauton poisn ts the. Teks Inggris: Therefore the Jews sought the more to kill him, because he not only had broken the sabbath, but said also that God was his Father, making himself equal with God (KJV) Teks Inggris: For this reason they tried all the more to kill him. not only was he breaking the Sabbath, but he was even calling God his own Father, making himself equal with God (NIV) Teks Indonesia: Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. Analisis Perbandingan Melanggar/meniadakan Penyebutan Allah sebagai Bapa Kesetaraan dengan Allah Sabat Yunani: AuiEA Yunani: AuAA ,Ay Yunani: Au cE ,Ay harfiah: menekankan keunikan hubungan A A,Ay Aumelepaskan/membatalkan (AuBapa-Nya sendiri/khususA. Aumenjadikan diri-Nya Sabat. Ay setara dengan Allah. Ay KJV: Auhad broken the NIV: Auhis own Father,Ay KJV: Aumaking himself sabbath,Ay penekanan pada memiliki nuansa Yunani. equal with God. Ay pelanggaran hukum. NIV: Auwas breaking the KJV: hanya Auhis Father,Ay NIV: Aumaking himself Sabbath,Ay nuansa kurang menekankan equal with God. Ay progresif, menekankan Aupribadi/unik. Ay persepsi orang Yahudi. TB: Aumeniadakan hari TB: AuAllah adalah Bapa-Nya TB: Aumenyamakan diriSabat,Ay seakan Yesus sendiri,Ay merujuk pada Yunani. Nya dengan Allah. Ay membatalkan makna menekankan relasi eksklusif. Sabat, bukan sekadar Semua versi di atas sepakat bahwa inti tuduhan adalah klaim kesetaraan Yesus dengan Allah. Dengan demikian, baik dalam teks Yunani maupun dalam terjemahan Inggris dan Indonesia. Yohanes 5:18 menampilkan eskalasi konflik. dari dugaan pelanggaran Sabat menuju tuduhan yang lebih serius yaitu klaim keilahian Yesus. Struktur Naratif: Ayat Ini Menjadi Transisi Dari Perbuatan Mujizat ke Konflik Teologis Kisah Yohanes 5 dimulai dengan peristiwa penyembuhan seorang yang lumpuh di kolam Betesda. Mujizat ini terjadi pada hari Sabat, yang segera menimbulkan ketegangan dengan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi pemimpin-pemimpin Yahudi. Penulis Injil mencatat bahwa orang Yahudi mulai menganiaya Yesus karena tindakan-Nya dipandang sebagai pelanggaran terhadap hukum Sabat (Yoh. Dengan demikian, tahap awal konflik yang ditampilkan oleh Yohanes masih berpusat pada isu legalitas dan penafsiran hukum Sabat dalam tradisi keagamaan Yahudi (Kystenberger, 2013. Ayat 18 menjadi titik balik yang penting. Di sini, terjadi pergeseran dramatis: dari tuduhan pelanggaran Sabat menuju tuduhan penyamaan diri dengan Allah. Craig S. Keener menyebut Yohanes 5:18 sebagai Aumomentum klimaksAy yang mengubah isu hukum Sabat menjadi persoalan Kristologi yang menyentuh inti iman (Keener, 2. Bauckham menegaskan bahwa klaim keilahian ini bukanlah tambahan belakangan, melainkan inti dari narasi Yohanes, di mana identitas Yesus sebagai Anak Allah yang setara dengan Bapa sudah ditegaskan sejak awal pelayanan-Nya (Bauckham, 2. Hal ini menyatakan, konflik bukan lagi sekadar soal etika keagamaan, melainkan klaim Yesus atas keilahian-Nya Dengan demikian, ayat 18 dapat dilihat sebagai menggeser fokus dari mujizat ke diskursus teologis, dari sekadar penganiayaan . menjadi keinginan membunuh. Kristologis serta memperlihatkan bahwa inti konflik adalah klaim Yesus akan kesatuan-Nya dengan Bapa. Konteks Historis-Religius: Pemahaman Yahudi Tentang Monoteisme dan Hukum Sabat Konteks dunia religius orang Yahudi pada abad pertama, ada dua hal sangat mendasar: monoteisme dan ketaatan pada hukum Sabat. Monoteisme Israel bukan sekadar dogma, melainkan identitas kolektif yang membedakan mereka dari bangsa-bangsa lain. Mengakui hanya ada satu Allah (YHWH) berarti menolak segala bentuk penyamaan manusia dengan Allah, sebab hal itu dianggap sebagai bentuk penghujatan yang serius. Karena itu, ketika Yesus dituduh Aumenyamakan diri dengan AllahAy ( A A), orang Yahudi melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap iman monoteistik mereka (Hurtado, 2. Di sisi lain, hukum Sabat adalah simbol komitmen Israel terhadap Allah dan perjanjian-Nya. Dalam tradisi Yahudi. Sabat dipahami bukan hanya sebagai aturan ibadah, tetapi juga sebagai peringatan akan karya penciptaan dan pembebasan dari Mesir. Pelanggaran terhadap Sabat berarti menodai hubungan perjanjian dengan Allah. Karena itu, ketika Yesus menyembuhkan pada hari Sabat, tindakan tersebut tidak hanya dipandang sebagai pelanggaran etis, melainkan juga pengkhianatan religious (Keener, 2. Yohanes 5:18 tidak sekadar mencatat konflik sosial, melainkan menyingkap benturan antara pemahaman Yahudi tentang Allah yang transenden dengan klaim Yesus tentang relasiNya yang unik dengan Bapa. Yohanes sengaja menempatkan narasi ini untuk menegaskan bahwa keilahian Yesus tidak dapat dijelaskan hanya dalam kerangka hukum atau tradisi, melainkan sebagai pewahyuan ilahi yang melampaui batas-batas pemahaman religius Yahudi (Wright, 2. Integrasi antara monoteisme dan Sabat dalam narasi Yohanes menunjukkan strategi teologis penulis Injil: justru dari konflik religius inilah Kristologi tinggi ditegaskan. Yesus bukan sekadar guru yang melanggar tradisi, melainkan Anak Allah yang memiliki otoritas ilahi, sehingga tindakan dan perkataan-Nya menjadi bagian dari karya Allah sendiri Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi (Hurtado, 2. Dengan demikian, apa yang dilihat orang Yahudi sebagai penghujatan, oleh Yohanes ditampilkan sebagai pewahyuan. Sintaks Secara sintaksis, ayat ini terdiri dari kalimat majemuk yang diawali dengan konjungsi kausal n (Aukarena ituA. , yang menghubungkan reaksi orang Yahudi dengan klaim Yesus Verba utama aE . ereka berusah. berbentuk imperfect aktif indikatif, menunjukkan tindakan berulang dan intensif orang Yahudi untuk membunuh Yesus. Hal ini menegaskan bahwa konflik antara Yesus dan otoritas Yahudi bersifat progresif, bukan incidental (Keener, 2. Klausa I memperkenalkan alasan upaya tersebut. Yohanes menekankan dua hal secara paralel: pertama, a U iEA (Aubukan saja Ia melanggar SabatA. , dan kedua. A AA iAA AU (Aumelainkan Ia juga menyebut Allah sebagai Bapa-Nya sendiriA. Dengan menambahkan kata . Injil Yohanes menegaskan bahwa relasi Yesus dengan Allah bersifat personal dan unik, berbeda dari relasi umum umat Israel dengan Allah (Kystenberger, 2013. Analisis sintaksis Yohanes 5:18 menunjukkan bahwa konflik antara Yesus dan otoritas Yahudi bukan sekadar insiden sesaat, melainkan proses yang berkembang secara intensif. Penggunaan konjungsi kausal n (Aukarena ituA. menghubungkan pernyataan Yesus sebelumnya dengan reaksi keras orang Yahudi, sedangkan bentuk verba aE . mperfect aktif indikati. menunjukkan usaha berulang mereka untuk menyingkirkan Yesus. Hal ini memperlihatkan bahwa oposisi terhadap Yesus merupakan bagian integral dari narasi Yohanes, bukan sekadar episode tambahan. Eksegesis Frasa Kunci Dituduhkan. Bukan Fakta Teologis: Membatalkan Sabat . IA ) Kata sO memiliki beberapa arti: . to loose, untie . elepaskan ikata. , . to destroy, bring to an end . embatalkan atau menghancurka. , dan . to break law/custom . elanggar atau meniadakan huku. Dalam Yohanes 5:18, arti ketiga lebih dominan, yaitu tuduhan bahwa Yesus membatalkan hukum Sabat. Kata kerja iEA . berasal dari akar kata sO, berbentuk imperfect active indicative, 3rd singular, yang secara dasar berarti Aumelepaskan, menghancurkan, membatalkanAy. Bentuk imperfect menunjukkan tindakan berulang atau terus-menerus, sehingga dapat diterjemahkan AuIa terus-menerus membatalkan/meniadakanAy Sabat. Kata benda menunjuk kepada hari ketujuh yang sakral dalam tradisi Yahudi, pusat dari hukum Taurat dan identitas umat (Tobi et al. Sedangkan dalam konteks hukum, sO berarti Auto cause not to be in forceAy . eniadakan atau membatalkan huku. Penggunaan kata iEA menunjukkan bahwa orang Yahudi memandang tindakan Yesus menyembuhkan orang lumpuh pada hari Sabat (Yoh. 5:1Ae. bukan hanya sekadar pelanggaran teknis, melainkan sebagai tindakan yang membatalkan otoritas Sabat itu sendiri. Tuduhan ini mengangkat konflik ke level teologis dan kristologis, karena Yesus tidak hanya AumelanggarAy hukum, tetapi dipandang sedang menempatkan diri sebagai otoritas di atas Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi Taurat (Simanjuntak et al. , 2. Menariknya, tindakan Yesus pada hari Sabat juga tidak ditampilkan Yohanes sebagai sekadar pelanggaran hukum. Sebaliknya. Yesus digambarkan bekerja seperti Bapa yang terus berkarya dalam memelihara ciptaan. Dengan kata lain, aktivitas Yesus di hari Sabat menjadi cerminan karya Allah sendiri. Hal ini memperluas makna Sabat: bukan hanya berhenti bekerja, tetapi juga mengakui bahwa Allah adalah sumber kehidupan yang berkelanjutan. Dengan demikian, karya penyembuhan Yesus tidak membatalkan Sabat, melainkan menyingkapkan makna terdalamnya (Keener, 2. Dengan demikian, frasa iEA dalam Yohanes 5:18 tidak sekadar berarti AumelanggarAy Sabat, tetapi mengandung nuansa AumembatalkanAy atau AumembongkarAy otoritas hukum Sabat menurut tafsiran orang Yahudi. Yohanes memakai kata ini untuk menegaskan bahwa klaim Yesus jauh melampaui isu hukum, menuju pengakuan akan otoritas ilahi dan kesetaraan-Nya dengan Allah. Relasi Eksklusif. Bukan Kolektif: Bapa-Nya Sendiri (AA ) Penggunaan istilah AA oleh Yohanes ingin menegaskan bahwa relasi Yesus dengan Allah bukanlah sesuatu yang bisa dibagi atau dikolektifkan. Relasi itu hanya milikNya, sebagai Anak Tunggal yang datang dari Bapa (Yoh. 1:14, . Maka, pembaca diajak memahami bahwa karya penyembuhan pada hari Sabat hanyalah pintu masuk kepada realitas yang lebih dalam: Yesus berotoritas karena Ia dan Bapa adalah satu dalam kehendak, pekerjaan, dan identitas ilahi (Kystenberger & Morgan, 2. Dalam The New International Dictionary of New Testament Theology (NIDNTT), pembahasan kata AA . AubapaA. menunjukkan bahwa penggunaan umum dalam dunia Yunani-Romawi berkaitan dengan asalusul, otoritas, atau figur pelindung. Namun dalam Injil Yohanes, kata ini mendapat dimensi teologis khusus: Allah disebut AuBapaAy tidak sekadar sebagai pencipta, tetapi sebagai relasi unik dengan Yesus (Putra, 2. Kata C mempertegas kepemilikan pribadi AuBapa-Nya sendiriAy menunjukkan identitas eksklusif Yesus sebagai Anak Tunggal yang tidak dimiliki orang lain. Penggunaan frasa ini menunjukkan Kristologi Yohanes: Yesus menegaskan diri-Nya bukan hanya utusan, tetapi satu-satunya Anak yang memiliki keintiman penuh dengan Bapa (Patiung, 2. Dalam PL, kata (AAb. AubapaA. sering dipakai untuk Allah, tetapi lebih sering dalam kerangka kolektif: Allah sebagai Bapa Israel (Ul. 32:6. Yes. 63:16. Yer. Akar kata ini tidak hanya menunjuk pada figur biologis, tetapi juga pada otoritas, pelindung, dan sumber kehidupan (Elis & Agustinus, 2. Hal inilah yang membuat orang Yahudi menafsir klaimNya sebagai upaya Aumenyamakan diri dengan Allah,Ay yang dalam konteks monoteisme Yahudi dianggap sebagai penghujatan. Dengan demikian, menyebut Allah sebagai AuBapaAy biasanya bersifat komunal relasi umat dengan Allah. Maka, klaim Yesus yang memakai istilah AA tidak sejalan dengan tradisi kolektif Israel, melainkan menggeser makna menuju relasi personal dan eksklusif. Dengan latar belakang ini. Yohanes ingin menampilkan Yesus bukan sekadar melanggar tradisi Sabat, tetapi menyatakan identitas-Nya. Ketika Ia menyebut Allah sebagai AuBapa-Nya sendiri,Ay Ia menyingkapkan bahwa kasih, kuasa, dan misi-Nya berasal langsung Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi dari relasi eksklusif dengan Bapa. Relasi ini bukan sekadar hak istimewa yang menutup diri, melainkan jembatan kasih Allah yang terbuka bagi dunia. Klaim Kesetaraan Ontologis Dengan Allah ( A A) Kata dalam Yohanes 5:18 berasal dari akar kata C, yang dalam bahasa Yunani klasik berarti AusamaAy atau AusetaraAy baik dalam kuantitas, status, maupun kualitas. Dalam teks ini, frasa cE A A dapat diterjemahkan sebagai Aumenjadikan diri-Nya setara dengan Allah (Untung et al. , 2. Ay Bentuk akusatif tunggal berfungsi sebagai predikatif, yang menjelaskan status Yesus dalam relasi dengan Allah. Dalam literatur Yunani, kata C kerap digunakan untuk menunjukkan kesetaraan dalam hal martabat atau kedudukan, misalnya dalam teks politik klasik yang berbicara tentang isonomia . esetaraan Namun, dalam konteks religius Yahudi abad pertama, klaim Ausetara dengan AllahAy memiliki implikasi yang jauh lebih radikal, sebab menempatkan Yesus tidak hanya sebagai utusan Allah, tetapi sebagai pribadi yang memiliki esensi ilahi yang sama dengan Bapa (Tilling, 2. Frasa kunci cE A A (Aumenjadikan diri-Nya setara dengan AllahA. memiliki bobot kristologis yang signifikan. Partisipium A . menunjukkan tindakan aktif Yesus dalam menyatakan identitas-Nya, sementara kata . menegaskan bahwa Ia ditempatkan dalam kesetaraan ontologis dengan Allah. Dalam konteks Yudaisme abad pertama, klaim semacam ini dianggap penghujatan serius, yang menjadi dasar legitimasi upaya pembunuhan terhadap-Nya (Bauckham, 2. Sebagai bentuk penolakan terhadap pengakuan hakiki akan keilahian Kristus yang dinyatakan secara eksplisit dalam Injil Yohanes. Sedangkan Gaston menyatakan bahwa klaim tersebut bukan sekadar metafora naratif, melainkan bagian dari strategi teologis Yohanes untuk lebih menegaskan Kristologi yang tidak bisa dilewati, identitas Yesus sebagai Anak Tunggal dengan otoritas ilahi yang eksklusif (Gaston, 2. Konflik teologis menjadi tak terhindarkan karena klaim identitas itu mengguncang batas-batas doktrinal monoteisme Yahudi dan mengukuhkan bahwa jalan Yesus menuju salib adalah konsekuensi logis dari pernyataan diri-Nya yang penuh otoritas. Analisis ini memperlihatkan bahwa tuduhan orang Yahudi tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran hukum Sabat, melainkan menyentuh inti Kristologi Yohanes: pengakuan Yesus sebagai Anak Allah yang memiliki kesatuan esensial dengan Bapa. Dengan menampilkan tuduhan ini, penulis Injil justru memperkuat bahwa keilahian Yesus adalah kenyataan teologis yang dinyatakan melalui narasi konflik. Dengan demikian, istilah bukan sekadar catatan polemik, melainkan puncak dari penggambaran konflik teologis dalam Injil Yohanes, yang menjadi dasar bagi doktrin keilahian Kristus dalam tradisi gereja perdana Konflik Kristologis Dalam Injil Yohanes Natur Konflik Natur konflik Kristologis dalam Yohanes 5:18 merupakan inti pertentangan bukan lagi soal praktik lahiriah . eperti Saba. , melainkan soal pengakuan identitas Yesus sebagai Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi Anak Allah. Konflik ini bersifat: Pertama, ontologis. Yesus menempatkan diri-Nya dalam relasi yang eksklusif dengan Allah sebagai Bapa-Nya. Dalam tradisi Yahudi. Allah adalah Bapa Israel secara kolektif (Ul. 32:6. Yer. Yesus justru mengklaim relasi unik dan personal, yang melampaui kategori kolektif tersebut. MacGregor menegaskan bahwa Injil Yohanes menyajikan Yesus sebagai ontologis setara dengan Bapa (MacGregor, 2. Yesus tidak hanya disalahkan karena melanggar Sabat tapi dituduh Aumenyamakan diri dengan Allah. Ay Tuduhan ini menyentuh level esensial dari keberadaan-Nya, apakah Ia sekadar manusia atau benar-benar Anak Allah yang setara dengan Bapa. Richard Bauckham menguraikan bahwa identitas Yesus sebagai Anak Allah merupakan klaim esensial Yohanes, inti dari konflik Kristologis dalam narasi Injil ini (Bauckham, 2. Kedua, teologis. Klaim Yesus dalam Yohanes 5:18 dipahami orang Yahudi sebagai tindakan Aumenyamakan diri dengan Allah. Ay Dalam konteks monoteisme Yahudi, hal ini dianggap penghujatan, karena tidak ada manusia yang dapat menempatkan diri sejajar dengan Allah (Bauckham, 2. Tuduhan Aumenyamakan diri dengan AllahAy menyentuh oleh batas monoteisme Yahudi yang sangat ketat satu Allah, tanpa pembagian. Menurut Neyrey, yet in the Fourth Gospel, such accusations (John 5:18, 8:53, 10:. are integral to how the community articulates recognition of Jesus as sharing divine prerogatives, not as an insurgent identity but as divine identity granted by the Father (Neyrey, 2. Klaim Yesus dapat dipahami bukan sebagai pemberontakan melawan monoteisme Yahudi, melainkan sebagai pengakuan atas identitas ilahi yang diberikan oleh Allah sendiri. Ketiga Kristologis. Yohanes menekankan bahwa Yesus bukan sekadar nabi atau penyembuh, melainkan Anak Tunggal yang memiliki otoritas ilahi. Identitas ini menjadi pusat iman Kristen, tetapi juga titik konflik dengan otoritas Yahudi (Patiung, 2. Ayat 18 menjadi titik balik naratif dimana konflik legal (Saba. berubah menjadi konflik identitas Kristologis. Dalam konteks ini, interpretasi John 5:18 membuka narasi lebar tentang otoritas ilahi Yesus, kedekatan relasional dengan Bapa, dan pemberian kuasa atas hidup dan penilaian (Yoh. 5:19Ae. Yohanes menyoroti ketergantungan penuh Yesus kepada Bapa dan kesatuan esensial antara Bapa dan Anak sebagai landasan klaim identitas ilahi melintasi dimensi legal menjadi teologis (Hahn & van Eck, 2. Tuduhan bahwa Yesus Aumenyamakan diri dengan AllahAy dipahami dalam bingkai monoteisme yang ketat, di mana setiap klaim kesetaraan dengan Allah dianggap sebagai bentuk penghujatan yang tak dapat ditoleransi. Namun. Yohanes justru menafsirkan tuduhan itu sebagai penegasan naratif tentang identitas Yesus yang sejati, yaitu Anak yang memiliki relasi unik dengan Bapa (Kystenberger, 2013. Peran Konflik Dalam Injil Yohanes. Yohanes 5:18 menempati posisi penting sebagai titik balik Konflik yang awalnya muncul dari persoalan hukum Sabat (Yoh. bereskalasi menjadi tuduhan serius tentang identitas Yesus. Orang Yahudi menilai Yesus bukan hanya melanggar Sabat, tetapi juga Aumenyamakan diri dengan Allah. Ay Menurut Koester, ayat ini menunjukkan pergeseran konflik dari ranah legal-etis menuju ranah teologis yang Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi menyangkut identitas ilahi Yesus, sekaligus membuka tema sentral Injil Yohanes, yaitu perdebatan tentang siapa Yesus itu sebenarnya (Koester, 2. Konflik tersebut berfungsi sebagai landasan naratif karena memperkenalkan tema besar Injil Yohanes, yakni penolakan terhadap Yesus berdasarkan klaim Kristologis-Nya. Kajian naratif Loader menunjukkan bahwa sejak 5:18, ketika para pemimpin mulai Aulebih lagi berusaha membunuh-Nya,Ay ketegangan tidak mereda, tetapi meningkat dan terulang dalam tuduhan penghujatan di pasal-pasal berikut . 8:58Ae59. 10:30Ae. , hingga legitimasi eksekusi di bagian akhir kisah. Hal ini menegaskan bahwa Yohanes 5:18 tidak hanya mencatat perbedaan tafsir hukum Sabat, melainkan mengungkap awal dari sebuah konflik Kristologis yang mendalam yang akan terus berulang hingga klimaks di salib (Loader, 2. Penolakan itu kemudian berkembang dalam berbagai bentuk. dari perdebatan mengenai asal-usul Yesus (Yoh. 7:27Ae. , tuduhan penghujatan (Yoh. , hingga rencana eksplisit untuk membunuh-Nya (Yoh. Dengan demikian. Yohanes 5:18 membuka jalan bagi pembacaan teologis yang melihat penderitaan dan penyaliban Yesus bukan sebagai kegagalan misi, melainkan konsekuensi logis dari pengungkapan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Menuru Skinner, konflik dalam Yohanes memiliki fungsi literal sebagai mekanisme penggerak narasi, yang memastikan bahwa jalan menuju salib adalah bagian integral dari AujamAy . A) yang direncanakan Allah (Skinner, 2. Yohanes 5:18 bukan sekadar insiden historis, tetapi merupakan bagian dari teologi naratif Yohanes yang menempatkan salib sebagai puncak penyataan ilahi. Dengan demikian, peran konflik dalam Yohanes 5:18 adalah sebagai titik awal dari pola naratif yang menegaskan bahwa jalan menuju penyaliban sudah terkandung sejak awal pelayanan Yesus. Dengan kata lain, konflik ini bukan sekadar latar historis, melainkan kerangka teologis yang meneguhkan makna salib sebagai klimaks pewahyuan Allah. Penegasan Kristologi Secara naratif, penulis Yohanes tidak membantah tuduhan orang Yahudi, tetapi justru membiarkan narasi itu berdiri sebagai sebuah kesaksian teologis bahwa keilahian Yesus Dengan menuliskan frasa ini. Yohanes membentuk apa yang disebut oleh Anderson sebagai implicit high Christology, yaitu strategi naratif yang menegaskan kesetaraan Yesus dengan Allah tanpa harus menyatakan secara eksplisit dalam bentuk dogmatis (Skinner. Yohanes menggunakan konflik ini untuk menegaskan bahwa Yesus benar-benar Anak Allah yang setara dengan Bapa. Dimensi teologis menyoroti makna teologis tuduhan tersebut dalam kerangka Kristologi Yohanes. Tuduhan Aumenyamakan diri dengan AllahAy tidak dipahami semata sebagai polemik historis, melainkan sebagai pernyataan naratif yang menguatkan pengakuan keilahian Yesus (Kystenberger, 2013. Narasi Yohanes 5:18 memperlihatkan bagaimana penulis Injil dengan sengaja tidak membantah tuduhan para pemimpin Yahudi, melainkan membiarkannya menjadi bagian dari kesaksian iman. Tuduhan itu bukan hanya gambaran konflik historis, tetapi sebuah perangkat teologis yang menghadirkan kesadaran bahwa Yesus sungguh setara dengan Bapa. Melalui strategi ini. Yohanes menunjukkan bahwa identitas Yesus sebagai Anak Allah ditegaskan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi bukan lewat pernyataan dogmatis, melainkan melalui dinamika naratif yang menghadirkan konflik sebagai medium pengungkapan (Anderson. , 2. Dengan demikian, frasa Aumenyamakan diri dengan AllahAy tidak melemahkan, melainkan justru memperkokoh pengakuan akan keilahian Yesus dalam kerangka Kristologi Injil Yohanes. Signifikansi Teologis Yohanes 5:18 Kristologi Yohanes Berakar Pada Kesadaran Yesus Sendiri Akan Relasi Unik Dengan Bapa Kesadaran Yesus bahwa relasinya dengan Allah bukan relasi biasa, melainkan relasi yang unik dan eksklusif. Ungkapan AuBapa-Nya sendiriAy (AA ) menjadi kunci, karena di sini Yesus tidak sedang berbicara tentang Allah sebagai Bapa umat Israel secara kolektif, melainkan sebagai Bapa dalam arti pribadi dan intim. Kesadaran ini membuat orang Yahudi menilai bahwa Yesus Aumenyamakan diri dengan Allah,Ay sebuah klaim yang dianggap berbahaya dan menghujat dalam konteks monoteisme Yahudi. Dalam kerangka teologi Yohanes, signifikansi teologis dari ayat ini terletak pada pengungkapan identitas Yesus. Relasi unik tersebut menegaskan bahwa seluruh misi, perkataan, dan perbuatan-Nya bersumber langsung dari kehendak Bapa. Sebagaimana dikemukakan oleh Thompson. Injil Yohanes berulang kali menampilkan Yesus sebagai Anak yang tidak terpisah dari Bapa, melainkan satu dalam kehendak dan karya (Yoh. (Mangentang & Salurante, 2. Kristologi Yohanes tidak lahir dari refleksi gereja, melainkan berakar pada kesadaran Yesus sendiri tentang siapa Dia dan bagaimana Ia berhubungan dengan Bapa. Relasi ini bukan hanya doktrin abstrak, melainkan narasi hidup yang membawa dampak eksistensial bagi para murid. Frey menegaskan bahwa pernyataan Yesus dalam Yohanes 5:18 tidak bisa dipahami hanya sebagai Auklaim metafisik,Ay tetapi sebagai pengungkapan identitas yang mengundang respons iman (Frey, 2. Dengan menerima Yesus, para murid juga diundang masuk ke dalam relasi kasih antara Bapa dan Anak (Yoh. 17:21Ae. Dengan demikian. Yohanes 5:18 memiliki signifikansi teologis yang mendalam, memperlihatkan bahwa jalan menuju salib berakar pada kesadaran Kristologis Yesus sendiri. Relasi unik-Nya dengan Bapa bukan hanya pemicu konflik dengan otoritas Yahudi, tetapi juga dasar dari pengharapan iman Kristen, bahwa di dalam Kristus manusia dapat mengenal Allah sebagai Bapa secara nyata dan penuh kasih. Menegaskan Perbedaan Yesus Dari Nabi Atau Guru Yahudi Yohanes 5:18 menjadi titik kritis yang memperlihatkan perbedaan mendasar antara Yesus dengan para nabi atau guru Yahudi pada zamannya. Para nabi biasanya berbicara dengan otoritas yang diberikan dari Allah, mereka berkata. AuBeginilah firman TuhanAy. Para rabi dan guru Yahudi menafsirkan Taurat dan memberi petunjuk hidup berdasarkan tradisi Namun Yesus berbicara dan bertindak dengan otoritas yang melekat pada diri-Nya sendiri, yang berakar pada relasi unik dengan Allah sebagai Bapa-Nya. Ungkapan Aumenyamakan diri dengan AllahAy ( cE A A) menandai bahwa Yesus tidak Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi hanya mewakili Allah, tetapi menyatakan diri dalam kesatuan dengan Bapa. Di sinilah letak perbedaan mendasar: Yesus tidak sekadar menyampaikan firman, melainkan adalah Firman itu sendiri yang berinkarnasi (Yoh. Pernyataan Yesus dalam Yohanes menciptakan ketegangan teologis karena tidak pernah terdengar sebelumnya dalam tradisi kenabian Israel yang pernah menyebut Allah sebagai Bapa-Ku sendiri dengan klaim keilahian implisit di dalamnya (Durie, 2. Perbedaan ini juga menampakkan dimensi relasional yang mendalam. Yesus tidak hanya mengajarkan hukum, tetapi menghadirkan Allah dalam kehidupan umat manusia. Sebagaimana pendapat Frey. Kristologi Yohanes menunjukkan bahwa identitas Yesus melampaui kategori guru atau nabi, karena Ia menyingkapkan kasih Bapa melalui diri-Nya sendiri, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh otoritas manusia mana pun (Frey, 2. Dengan demikian, signifikansi teologis Yohanes 5:18 terletak pada pengakuan bahwa Yesus berdiri dalam posisi yang berbeda secara kualitatif dari nabi atau guru Yahudi. Jika para nabi menunjuk kepada Allah dari luar. Yesus justru mengundang orang untuk mengenal Allah dari dalam relasi-Nya sebagai Anak. Perbedaan inilah yang menjadi dasar pengharapan iman Kristen: bahwa melalui Yesus, manusia bukan hanya mendengar firman Allah, melainkan bertemu dengan Allah yang hidup. Menjadi Dasar Bagi Doktrin Trinitas (Relasi Anak Dan Bap. Dalam kerangka teologis, teks Yohanes 5:18 memperlihatkan dinamika relasi intratrinitarian: Yesus bukan sekadar utusan, melainkan Anak yang hidup dalam kesatuan hakiki dengan Bapa. Hal ini menjadi fondasi perkembangan doktrin Trinitas dalam gereja mula-mula, di mana identitas Anak dipahami bukan sebagai subordinat ciptaan, melainkan sebagai Ausatu hakikatAy dengan Bapa. Dengan kata lain. Yohanes 5:18 berfungsi sebagai transisi kristologis dari pengakuan Yesus sebagai Mesias ke pengakuan-Nya sebagai Anak Allah yang setara dengan Bapa, sehingga membuka jalan bagi refleksi teologis tentang keesaan Allah yang berelasi secara personal dalam Bapa. Anak, dan Roh Kudus. Klaim Yesus dalam Yohanes bukanlah sekadar ekspresi metaforis, tetapi bagian dari kristologi tinggi yang mengakar dalam kesadaran diri Yesus akan keilahian-Nya. Sebagaimana dicatat oleh Andrew Loke, pernyataan Yesus dalam Injil Yohanes harus dibaca sebagai klaim ontologis, bukan sekadar fungsional, sehingga memberikan dasar eksplisit bagi relasi Bapa dan Anak dalam konstruksi Trinitarian (Loke, 2. Demikian pula Anderson menegaskan, bahwa ketegangan teologis dalam Yohanes 5:18 merupakan titik pijak penting bagi pemahaman gereja mula-mula bahwa monoteisme Israel dapat mencakup relasi Bapa dan Anak tanpa kehilangan keesaan ilahi. Konflik Teologis Tidak Bisa Dihindari Ketika keilahian Yesus dihadapkan dengan monoteisme Yahudi, maka Yohanes 5:18 menandai eskalasi dari sengketa hukum Sabat menuju pertarungan makna tentang siapa Yesus itu. Ketika Yesus menyebut Allah sebagai AuBapa-Nya sendiriAy dan karena itu dianggap Aumenyamakan diri dengan AllahAy, perdebatan tidak lagi berkisar pada praktik religius. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi melainkan pada ontologi Yesus apakah Ia sekadar manusia, nabi, atau Anak yang berbagi otoritas ilahi dengan Bapa. Pergeseran ini secara naratif menjadikan konflik tak terhindarkan, sebab klaim identitas tidak dapat dinegosiasikan tanpa mengubah kerangka iman para pihak penentang Yesus (Loke, 2. Bagi para pemimpin Yahudi, klaim kesetaraan dengan Allah mengancam batas monoteisme. Namun, teologi Yohanes justru mengartikulasikan bagaimana keesaan Allah dapat AumemuatAy relasi Bapa-Anak tanpa mereduksi keallahan salah satu pihak. Dengan kata lain, konflik muncul karena cara pandang berbeda tentang bagaimana Allah yang esa bertindak dan dihadirkan melalui karya Anak (Bauckham, 2. Oleh sebab itu, benturan hermeneutis ini bukan insidental, melainkan konsekuensi langsung dari pewahyuan diri Yesus. Yohanes 5:18 berfungsi sebagai titik balik: dari AupenganiayaanAy . ke niat Aumembunuh. Ay Sejak titik ini. Injil menata rangkaian konfrontasi yang memuncak pada Secara teologis. Yohanes memperlihatkan bahwa salib bukan kegagalan, melainkan konsekuensi logis dari penyingkapan identitas Anak, sehingga konflik menjadi media pewahyuan, bukan sekadar latar sejarah. Yesus tidak hanya melakukan karya-karya Ia mengklaim lahir dari, berotoritas bersama, dan bertindak seirama dengan Bapa . 5:19Ae. Oleh karena itu, resistensi teologis tidak dapat diredakan dengan kompromi etis. akar persoalannya adalah status ilahi. Literatur mutakhir menunjukkan bahwa dalam Yohanes, klaim Yesus harus dibaca secara ontologis, sehingga pertentangan dengan otoritas keagamaan menjadi tak terelakkan (Loke, 2. Dengan demikian, konflik teologis menjadi keniscayaan, bukan karena provokasi etis, melainkan karena pewahyuan identitas ilahi yang menuntut reposisi total cara beriman. Di Yohanes 5:18, konflik itu mengantar pembaca pada pengakuan Kristologis yang matang, sebuah pijakan bagi teologi gereja tentang Allah yang esa dalam relasi Bapa dan Anak. Menghadapi Tantangan Pluralisme Yohanes 5:18 menyimpan pesan teologis yang penting ketika ditempatkan di tengah tantangan dunia yang penuh dengan pluralitas keyakinan. Klaim Yesus tentang relasi unik dengan Bapa bukanlah sekadar perbedaan teologis dengan otoritas Yahudi pada masanya, melainkan sebuah pengakuan identitas yang menegaskan bahwa keilahian hadir dalam relasi kasih Bapa dan Anak. Bagi pembaca masa kini, teks ini menantang kita untuk memandang iman bukan sebagai sekadar sistem doktrin yang eksklusif, tetapi sebagai undangan untuk mengalami Allah yang hidup melalui Yesus. Dalam konteks pluralisme agama, keunikan Yesus sebagaimana ditampilkan Yohanes tidak berarti menolak keberadaan Auyang lain,Ay(Tanaem et al. , 2. melainkan menegaskan bahwa kasih Allah terwujud penuh dalam diri-Nya (Nendissa et al. , 2. Dengan demikian, pengakuan iman pada Yesus tidak bisa dipandang sebagai sikap sektarian semata, tetapi sebagai pengalaman perjumpaan dengan Sang Sumber kehidupan. Ssalib dalam Injil Yohanes justru menghadirkan Allah yang terbuka. Allah yang mengasihi, dan Allah yang mempersembahkan diri bagi dunia (Skinner. Hal ini menegaskan bahwa Kristologi Yohanes tidak mengarah pada eksklusivisme Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Ridwan Henry Simamora. Happy Wahyu Nizar. Marvin Launic Wenno. Korneles Paradi yang menutup diri, melainkan membuka ruang dialog: keunikan Yesus ada pada kasih-Nya yang ditawarkan bagi semua orang. KESIMPULAN Kajian atas Yohanes 5:18 memperlihatkan bahwa konflik yang muncul antara Yesus dan otoritas Yahudi bukan sekadar perdebatan tentang hukum Sabat, melainkan menyentuh inti identitas-Nya. Tuduhan bahwa Yesus menyamakan diri dengan Allah menjadi titik balik naratif yang menggeser konflik dari ranah legal-etis menuju persoalan teologis yang lebih Melalui kerangka eksegesis teologis, ditemukan bahwa Yohanes menggunakan peristiwa ini untuk menyingkapkan Kristologi ilahi yang menegaskan relasi unik dan eksklusif Yesus dengan Bapa. Konflik yang lahir dari klaim Kristologis ini tidak dapat dihindari, sebab dalam konteks monoteisme Yahudi, pernyataan Yesus dianggap menghujat. Namun, justru dalam ketegangan tersebut Injil Yohanes menyingkapkan kebenaran teologis bahwa Yesus bukan sekadar nabi atau guru, melainkan Firman yang berinkarnasi dan setara dengan Allah. Dengan demikian. Yohanes 5:18 bukan hanya catatan historis, tetapi fondasi teologis yang menjelaskan mengapa jalan Yesus menuju salib menjadi konsekuensi logis dari pengungkapan identitas-Nya. Ayat ini sekaligus membuka horizon teologis bagi gereja mulamula dalam merumuskan pemahaman tentang Allah Tritunggal. Gereja masa kini dipanggil untuk melihat bahwa konflik iman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesaksian Kristiani. Sebagaimana Yesus menghadapi penolakan karena identitas-Nya, umat Kristen juga dipanggil untuk tetap setia mengakui Kristus di tengah pluralitas pandangan teologis maupun tekanan sosial. Pengakuan akan keilahian Yesus bukanlah hasil kompromi teologis, melainkan inti pewahyuan yang harus terus dipertahankan. Dalam konteks kehidupan modern yang sering merelatifkan kebenaran. Yohanes 5:18 mengingatkan gereja bahwa iman Kristiani berdiri di atas pengakuan bahwa Yesus adalah satu dengan Bapa, sebuah pengakuan yang memberi dasar bagi kesatuan gereja dan pengharapannya akan keselamatan. REFERENSI