Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam Vol 2. No 2, 10-13. Juni 2024 https://journal. id/index. php/Abdi-Dharma/ Pembinaan Aklak Santri Di Pondok Pesantren Al-Furqon Pisang Baru Way Kanan Melalui Pembelajaran Kitab Kuning Muhamad Ikhsanudin1. Marlina2 . Nur Rokhim2 Universitas Nurul Huda OKU Timur ikhsanudin@unuha. id, 2marlina@unuha. id, 3nurrokhim. 98@gmail. Info Artikel Article history: Available online DOI: 10. 30599/AbdiDharma. How to cite (APA): Ikhsanudin. Marlina. , & Rokhim. Pembinaan Akhlak santri di Pondok Pesantren Al-Furqon Pisang Baru Way Kanan Melalui Pembelajaran Kitab Kuning. Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam 2. ,10-13. Abstrak Abstrak Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat pembinaan akhlak santri di Pondok Pesantren Al-Furqon Pisang Baru Way Kanan melalui pendekatan pembelajaran kitab kuning. Kitab-kitab klasik seperti TaAolim al-MutaAoallim dan Bidayatul Hidayah dipilih karena kandungannya yang kaya akan nilai-nilai etika, spiritualitas, dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan utama yang diidentifikasi adalah belum optimalnya internalisasi nilai-nilai akhlak dari kitab kuning ke dalam perilaku santri. Kegiatan dilakukan melalui metode pendampingan intensif, diskusi reflektif, dan praktik langsung dalam aktivitas pesantren. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman santri terhadap nilai-nilai akhlak Islam serta perubahan sikap yang lebih positif dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini membuktikan bahwa pembelajaran kitab kuning yang kontekstual dan aplikatif dapat menjadi model efektif dalam pembinaan karakter santri secara berkelanjutan. Kata kunci: akhlak santri, kitab kuning, pesantren, pembinaan karakter, pendidikan Islam Abstract ISSN x-x This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License PENDAHULUAN This community service initiative aims to strengthen the moral development of students at Pondok Pesantren Al-Furqon Pisang Baru. Way Kanan, through guided learning of classical Islamic texts . itab kunin. Selected texts such as TaAolim al-MutaAoallim and Bidayatul Hidayah were chosen for their rich content on ethics, spiritual discipline, and Islamic manners. The core issue identified was the limited internalization of these moral teachings into the studentsAo daily behavior. The program was implemented through intensive mentoring, reflective discussions, and practical integration of values into daily pesantren activities. The results showed a significant improvement in studentsAo understanding and application of Islamic moral values, reflected in more responsible and ethical behavior. This initiative demonstrates that contextual and experiential learning of classical texts can serve as an effective model for sustainable character education in Islamic boarding schools. Keywords: student character, classical Islamic texts, pesantren, moral education. Islamic values Pondok pesantren merupakan institusi pendidikan Islam yang telah lama menjadi benteng moral dan spiritual masyarakat Indonesia. Sebagai lembaga yang mengintegrasikan pendidikan, pembinaan akhlak, dan penguatan nilai-nilai keislaman, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Dalam era modern yang ditandai oleh arus globalisasi dan degradasi moral, keberadaan pesantren menjadi semakin penting sebagai ruang pembentukan nilainilai luhur yang berakar pada tradisi Islam (Azra, 2012. Zuhdi, 2. Pondok Pesantren Al-Furqon Pisang Baru Way Kanan merupakan salah satu pesantren yang konsisten menjalankan misi tersebut. Dengan pendekatan tradisional berbasis kitab kuning. Pembinaan Aklak Santri Di Pondok Pesantren Al-Furqon . Melalui Pembelajaran Kitab Kuning Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam, 2. , 2024 pesantren ini berupaya menanamkan nilai-nilai etika dan spiritual kepada para santri. Namun, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memastikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kitab kuning tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diinternalisasi dalam perilaku sehari-hari Hal ini sejalan dengan temuan Hidayat . bahwa pembelajaran kitab kuning sering kali bersifat tekstual dan belum sepenuhnya berdampak pada pembentukan karakter. Kitab kuning seperti TaAolim al-MutaAoallim karya Imam Az-Zarnuji dan Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali dipilih sebagai materi utama dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kedua kitab tersebut kaya akan nilai-nilai pendidikan, etika belajar, dan akhlak dalam kehidupan Menurut Nasution . , kitab kuning memiliki kekuatan pedagogis yang dapat membentuk kepribadian santri secara komprehensif jika dipadukan dengan metode pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual. Kegiatan PkM ini bertujuan untuk membangun model pembinaan akhlak terintegrasi melalui pendampingan pembelajaran kitab kuning. Model ini menggabungkan pemahaman teks dengan praktik langsung dalam kehidupan pesantren, seperti interaksi sosial, kegiatan ibadah, dan tanggung jawab harian. Pendekatan ini didasarkan pada teori pembelajaran kontekstual . ontextual teaching and learnin. yang menekankan keterkaitan antara materi ajar dan pengalaman nyata peserta didik (Johnson, 2. Dengan demikian, internalisasi nilai-nilai akhlak dapat terjadi secara lebih mendalam dan berkelanjutan. Hasil awal dari kegiatan ini menunjukkan bahwa santri lebih responsif terhadap materi kitab kuning ketika dikaitkan dengan aktivitas keseharian mereka. Pendekatan reflektif dan partisipatif dalam pembelajaran mendorong santri untuk tidak hanya memahami isi kitab, tetapi juga menghayatinya dalam tindakan nyata. Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Ghazali . , ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi beban, bukan cahaya. Oleh karena itu. PkM ini menjadi langkah strategis dalam menghidupkan kembali tradisi pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi juga pada pembentukan akhlak mulia. METODE PELAKSANA Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif dan kontekstual yang dirancang untuk mendukung internalisasi nilai-nilai akhlak melalui pembelajaran kitab kuning. Metodologi yang digunakan terdiri dari beberapa tahapan berikut: Identifikasi Masalah dan Kebutuhan Mitra Tahap awal dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara dengan pengasuh serta ustadz Pondok Pesantren Al-Furqon. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa meskipun kitab kuning telah menjadi bagian dari kurikulum pesantren, pemahaman santri terhadap nilai-nilai akhlak belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sehari-hari. Kebutuhan utama mitra adalah model pembinaan yang mampu menghubungkan pemahaman teks dengan praktik nyata. Desain Program Pembinaan Akhlak Terintegrasi Program dirancang dengan mengacu pada pendekatan contextual teaching and learning (CTL) yang menekankan keterkaitan antara materi ajar dan pengalaman hidup peserta didik (Johnson. Kitab TaAolim al-MutaAoallim dan Bidayatul Hidayah dipilih sebagai sumber utama karena kandungannya yang kaya akan nilai-nilai etika, adab, dan spiritualitas (Az-Zarnuji, 2003. Al-Ghazali. Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan dilaksanakan selama tiga minggu dengan metode: Pendampingan belajar kitab kuning secara klasikal dan kelompok kecil Diskusi reflektif untuk mengaitkan isi kitab dengan pengalaman santri Simulasi praktik akhlak dalam kegiatan harian seperti kebersihan, ibadah, dan interaksi Monitoring dan evaluasi perilaku santri melalui observasi dan jurnal refleksi Pembinaan Aklak Santri Di Pondok Pesantren Al-Furqon . Melalui Pembelajaran Kitab Kuning Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam, 2. , 2024 Evaluasi dan Refleksi Evaluasi dilakukan secara kualitatif melalui wawancara, observasi perilaku, dan analisis jurnal Indikator keberhasilan meliputi peningkatan pemahaman nilai-nilai akhlak, perubahan sikap, dan kemampuan santri dalam menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Refleksi bersama dilakukan di akhir kegiatan untuk merumuskan tindak lanjut pembinaan. HASIL Kegiatan PkM dilaksanakan mulai tanggal 2 September 2023 selama tiga minggu dengan melibatkan 40 santri tingkat menengah di Pondok Pesantren Al-Furqon Pisang Baru. Proses pembinaan dilakukan melalui tiga pendekatan utama: pendampingan pembelajaran kitab kuning, diskusi reflektif, dan praktik nilai-nilai akhlak dalam aktivitas harian pesantren. Peningkatan Pemahaman Santri terhadap Nilai Akhlak Islam Berdasarkan pre-test dan post-test yang diberikan, terjadi peningkatan pemahaman santri terhadap isi kitab TaAolim al-MutaAoallim dan Bidayatul Hidayah. Rata-rata skor pemahaman meningkat dari 62% menjadi 87%. Santri mampu mengidentifikasi nilai-nilai seperti keikhlasan, adab terhadap guru, pentingnya niat belajar, dan tanggung jawab sosial. Perubahan Perilaku Harian Santri Melalui observasi dan jurnal refleksi, ditemukan perubahan perilaku positif seperti peningkatan kedisiplinan, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, dan sikap saling menghormati antar sesama santri. Beberapa ustadz menyampaikan bahwa santri mulai menunjukkan inisiatif dalam menerapkan nilai-nilai yang dipelajari secara mandiri. Terbentuknya Kelompok Diskusi Akhlak Sebagai luaran tambahan, terbentuk satu kelompok diskusi mingguan yang difasilitasi oleh santri senior. Kelompok ini membahas isi kitab kuning secara tematik dan mengaitkannya dengan tantangan kehidupan santri sehari-hari. Modul Pembinaan Akhlak Berbasis Kitab Kuning Tim pengusul menyusun satu modul pembinaan akhlak yang berisi ringkasan isi kitab, panduan refleksi, dan lembar praktik harian. Modul ini digunakan sebagai alat bantu pembinaan lanjutan oleh pengasuh pesantren. PEMBAHASAN Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran kitab kuning yang dikemas secara kontekstual dan aplikatif mampu meningkatkan pemahaman sekaligus internalisasi nilai-nilai akhlak Hal ini sejalan dengan teori contextual teaching and learning (CTL) yang menekankan pentingnya keterkaitan antara materi ajar dan pengalaman nyata peserta didik (Johnson, 2. Dalam konteks pesantren. CTL dapat diterapkan melalui pengaitan isi kitab dengan praktik harian seperti kebersihan, ibadah, dan interaksi sosial. Kitab TaAolim al-MutaAoallim dan Bidayatul Hidayah secara substansi mengandung prinsip-prinsip pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan zaman. Az-Zarnuji . menekankan pentingnya niat, adab, dan keikhlasan dalam proses belajar, sementara Al-Ghazali . menyoroti pentingnya pengendalian diri dan penguatan spiritualitas. Ketika nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan secara tekstual tetapi juga dipraktikkan, maka pembinaan akhlak menjadi lebih efektif dan Pembahasan ini juga dikonsultasikan dengan hasil PkM serupa yang dilakukan oleh Hidayat . di pesantren wilayah Jawa Barat, yang menunjukkan bahwa pendekatan reflektif dan partisipatif dalam pembelajaran kitab kuning mampu membentuk kesadaran moral santri secara lebih Pembinaan Aklak Santri Di Pondok Pesantren Al-Furqon . Melalui Pembelajaran Kitab Kuning Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam, 2. , 2024 Selain itu, studi oleh Rahmat . menegaskan bahwa pembinaan akhlak yang melibatkan praktik langsung lebih berdampak dibandingkan metode ceramah semata. Kegiatan ini juga memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan karakter yang tidak hanya mempertahankan tradisi keilmuan Islam, tetapi juga mampu menjawab tantangan moral generasi muda. Dengan pendekatan yang adaptif dan berbasis nilai, pesantren dapat menjadi ruang transformatif bagi pembentukan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi positif bagi KESIMPULAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini berhasil menunjukkan bahwa pembinaan akhlak santri melalui pembelajaran kitab kuning dapat menjadi pendekatan yang efektif dan berkelanjutan dalam membentuk karakter Islami. Kitab TaAolim al-MutaAoallim dan Bidayatul Hidayah terbukti relevan sebagai sumber nilai-nilai etika dan spiritualitas yang dapat diinternalisasi secara mendalam apabila dikemas dengan metode kontekstual dan aplikatif. Pendekatan partisipatif yang menggabungkan pendampingan belajar, diskusi reflektif, dan praktik nilai dalam kehidupan harian pesantren mampu mendorong perubahan perilaku positif di kalangan santri. Peningkatan pemahaman, terbentuknya kelompok diskusi, serta penyusunan modul pembinaan menjadi indikator keberhasilan kegiatan ini. Secara teoritis, kegiatan ini memperkuat gagasan bahwa pendidikan karakter dalam pesantren tidak cukup hanya bersifat tekstual, tetapi harus menyentuh aspek praksis dan pengalaman nyata peserta didik. Dengan demikian, pesantren dapat terus berperan sebagai pusat pendidikan moral yang adaptif terhadap tantangan zaman. Kegiatan ini juga membuka peluang untuk pengembangan model pembinaan akhlak berbasis kitab kuning yang dapat direplikasi di pesantren lain, serta menjadi bahan kajian lebih lanjut dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan akhlak mulia. UCAPAN TERIMAKASIH