JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 63 Ae 70 PENGARUH LATIHAN PUSH-UP TERHADAP KECEPATAN PUKULAN GYAKU-TSUKI CABANG OLAHRAGA KARATE PADA EKSTRAKURIKULER KARATE DI SMA KEBANGSAAN LAMPUNG SELATAN Alfinto Kurniawan1. Marta Dinata2. Candra Kurniawan3. Fransiskus Nurseto4 Universitas Lampung1,2,3,4 Jalan Prof Sumantri Brojonegoro. No. Bandar Lampung, 3511 Sur-el Korespondensi: alkuniawan08@gmail. Dr. MartaDinata@gmail. kurniawan@fkip. Fransiskus. nurseto@fkip. Article info ABSTRACT Article history: Received: 18-04-2025 Revised : 25-04-2025 Accepted: 04-05-2025 The method used was quantitative based on experiments. The instrument used was a stopwatch. The resultsof this study showed that . There was a significant effect of the push-up training treatment group on the speed of Gyaku-tsuki strikes in karate extracurricular students at SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan. With a t-test result of 5% significance . , the calculated t-value was 10. the table t-value = 2. There is a significant effect of the control group or no treatment on the Gyaku-tsuki punch speed of karate extracurricular students at SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan. With a t-test at the 5% significance level . , the calculated t-value is 3. 643 > the table t-value = . There is a significant difference between the treatment group and the control group in terms of the speed of the Gyaku-tsuki punch among karate extracurricular students at SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan. With a two-tailed test . ignificance level = 0. , the calculated t-value is 2. 101 > ttable = 2. Keywords: Karate. Speed. PushupTraining. Gyakutsuki Punches ABSTRAK Kata Kunci: Karate. Kecepatan. Latihan Push-up . Pukulan Gyaku-tsuki Metode yang digunakan adalah kuantitatif berbasis eksperimen. Instrumen yang digunakan yaitu Stopwatch. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa . Ada pengaruh yang signifikan dari kelompok treatment latihan Push-up terhadap kecepatan pukulan Gyaku-tsuki pada siswa ekstrakurikuler karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan. Dengan hasil uji t taraf signifikan 5% . diperoleh nilai t hitung sebesar 10,555 > nilai t tabel =2,145. Ada pengaruh yang signifikan dari kelompok terkontrol atau tanpa perlakuan terhadap kecepatan pukulan Gyaku-tsuki pada siswa ekstrakurikuler karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan. Dengan hasil uji t taraf signifikan 5% . diperoleh nilai t hitung sebesar 3,643 > nilai t tabel = 2,145. Ada perbedaan yang signifikan antara kelompok treatment dan kelompok terkontrol terhadap kecepatan pukulan Gyaku-tsuki pada siswa ekstrakurikuler karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan. Dengan analisis data pengujian 2 sisi . ignifikan = 0,025 ) diperoleh nilai t hitung sebesar 2,101> t tabel =2,048. Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Bina Darma. Alfinto Kurniawan. Marta Dinata. Candra Kurniawan, dan Fransiskus Nurseto (Pengaruh Latihan Push-Up terhadap Kecepatan Pukulan Gyaku-Tsuki Cabang Olahraga Karate pada Ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Lampung Selata. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 63 Ae 70 PENDAHULUAN Pada prinsipnya, manusia melakukan aktivitas olahraga dengan tujuan untuk mencapai tingkat kesegaran jasmani tertentu, mengisi waktu senggang dan meningkatkan pertahanan diri melalui olahraga Dalam mencapai tujuan tersebut yang akan melahirkan manusia yang kompetitif sebagaimana yang diharapkan, oleh karena itu tujuan melakukan aktivitas jasmani sebagai berikut: pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan total yang mencoba mencapai tujuan untuk mengembangkan kebugaran jasmani, mental, sosial, serta emosional bagi masyarakat, dengan aktifitas jasmani. Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2022 Tentang Keolahragaan berbunyi Olahraga adalah segala kegiatan yang melibatkan pikiran, raga, dan jiwa secara terintegrasi dan sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, sosial, dan budaya di Indonesia olahraga sudah sangat berkembang. Olahraga telah diminati semua kalangan, baik remaja, dewasa dan Olahraga juga sudah tersebar luas di berbagai daerah, baik perkotaan maupun pedesaan. Menurut Bangun . olahraga adalah kegiatan pelatihan jasmani, yaitu kegiatan jasmani untuk memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar maupun gerak keterampilan . ecabangan Khairuddin . mengemukakan bahwa olahraga merupakan kebutuhan hidup manusia, sebab apabila seseorang melakukan olahraga dengan teratur akan membawa pengaruh yang baik terhadap perkembangan jasmani. Olahraga adalah semua bentuk kegiatan yang direncanakan, guna untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial (Destriana,2. Olahraga juga adalah kebutuhan hidup manusia yang apabila dilakukan oleh seseorang dengan teratur maka akan membawa pengaruh yang baik terhadap perkembangan jasmani, serta memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan, dan olahraga juga dapat membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial. Pada tiap cabang olahraga memiliki perbedaan komponen kondisi fisik, hal ini disebabkan oleh karena adanya perbedaan karakteristik gerak pada setiap cabang olahraga. Kondisi fisik khusus merupakan kemampuan fisik yang khusus untuk cabang olahraga tertentu, setiap cabang olahraga memiliki karakteristik dan kekuatan sehingga dibutuhkan kondisi fisik yang khusus (Maliki dkk,2. Menurut Sukendro dan Indrayana . Komponen kondisi fisik pada olahraga karate meliputi: Kecepatan. Kekuatan otot. Daya ledak otot. Kelincahan. Kelentukan, dan Daya tahan. Karate masuk di Indonesia pada tahun 1963 dibawa oleh mahasiswa Indonesia yang kembali ke tanah air, setelah menyelesaikan pendidikannya di Jepang. Kuantitas cabang olahraga Karate dapat berkembang baik sampai ke-pelosok daerah, dibuktikan dengan jumlah 34 Pengda se-Indonesia dan 25 perguruan Karate yang aktif (Kongres PB FORKI 2. dan pada kongres PB FORKI 2019 . - 19 Februari 2. perguruan yang hadir 24 dari 25 perguruan. Karate merupakan olahraga beladiri yang banyak digemari di Indonesia, olahraga beladiri Karate ini berbeda dengan olahraga beladiri lainnya karena olahraga ini yang diutamakan adalah seni gerakan dan prestasi atlet, artinya olahraga ini tidak melukai lawan atau sering dikatakan tidak full kontek waktu bertanding yang dinilai adalah seni gerakan atlet terlihat pada pertandingan kata dan kumite. Alfinto Kurniawan. Marta Dinata. Candra Kurniawan, dan Fransiskus Nurseto (Pengaruh Latihan Push-Up terhadap Kecepatan Pukulan Gyaku-Tsuki Cabang Olahraga Karate pada Ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Lampung Selata. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 63 Ae 70 Karate telah masuk di program sekolah, melalui ekstrakurikuler. Karate juga merupakan suatu cabang olahraga prestasi yang dipertandingkan baik di area nasional maupun internasional. Olahraga Karate dihidupkan perannya di masyarakat dan juga di sekolah. Karate adalah olahraga yang dikenal sangat berkaitan dengan gerakan yang cepat, baik dalam menangkis memukul maupun tendangan. Karate merupakan bentuk ideal pada seni beladiri yang dapat menjaga kesehatan dan meningkatkan pemikiran. Teknik pertama yang dipelajari pada awal mengikuti karate adalah pukulan . , teknik pukulan ada berbagai macam salah satunya adalah pukulan Gyaku-tsuki. Menurut Quinzi dalam Amertha . teknik pukulan dalam bela diri Karate yang mengarah lurus ke depan dengan keras dan cepat, menggunakan tenaga secara maksimal, pukulan Gyaku-tsuki menggunakan tangan memukul yang berlawanan dengan kaki kudakuda yang menopang di depan sehingga tangan dan kaki yang memukul ada pada sisi berlawanan. Pukulan Gyaku-tsuki adalah pukulan yang melibatkan lengan belakang dan bahu sering disebut dengan pukulan terbalik, dilakukan dengan posisi berlawanan dengan posisi kuda-kuda zenkutsu dachi misalnya, kaki kiri di depan dengan demikian memukul dengan tangan kanan, pukulan Gyaku-tsuki sering digunakan pada saat pertarungan . karena pukulan Gyaku-tsuki sangat efektif dan aman untuk mendapatkan point dalam pertarungan. Teknik Gyaku-tsuki lebih variatif dan sangat efisien dalam perolehan nilai, hal ini diakui oleh para atlet karate nasional, mereka merasa lebih yakin mengunakan tekni Gyakutsuki dibandingkan teknik lainnya apalagi saat belum memperoleh nilai atau dalam keadaan seri. 70% dari semua teknik karate banyak menggunakan pukulan sebagai senjata yang cukup ampuh, oleh sebab itu seorang karateka harus memiliki pukulan yang benar-benar baik untuk dapat memperoleh angka atau point bila dalam pertarungan atau kumite. (Purba 2. Bentuk latihan Push-up jika dilakukan secara cepat, teratur, dan berkesinambungan melalui program latihan yang terarah serta mengikuti pedoman prinsipprinsip latihan maka dapat meningkatkan kondisi fisik kekuatan dan kecepatan lengan yang sangat mendukung untuk meningkatkan kecepatan pukulan (Melerand 2. Kekuatan otot lengan merupakan hal penting dalam kecepatan pukulan Gyaku- tsuki, karena tanpa kekuatan otot lengan maka kecepatan pukulan Gyaku-tsuki tidak berarti apa-apa sehingga power yang dihasilkan sangat lemah (Ruskin 2. Jika kekuatan otot lengan lemah dapat dikatakan pukulan Gyaku-tsuki lemah, dibutuhkan latihan-latihan beban untuk melatih kecepatan pukulan (Yarmani 2. Pemberian beban dengan latihan Push-up dapat meningkatkan kekuatan yang sangat berpengaruh terhadap kecepatan pukulan (Hendrayana 2. Kontraksi konsentris merupakan perpindahan segmen- segmen otot dalam keadaan memanjang, sedangkan dalam kontraksi eksentris terjadi pemendekan otot, sehingga terjadi penambahan gerakan kekuatan, daya ledak, kecepatan, dan daya tahan pukulan (Putri 2. Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan diatas. Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh latihan Push-up terhadap kecepatan pukulan Gyaku-tsuki cabang olahraga karate pada ekstrakulikuler di SMA Kebangsaan Lampung Selatan. Alfinto Kurniawan. Marta Dinata. Candra Kurniawan, dan Fransiskus Nurseto (Pengaruh Latihan Push-Up terhadap Kecepatan Pukulan Gyaku-Tsuki Cabang Olahraga Karate pada Ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Lampung Selata. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 63 Ae 70 METODOLOGI PENELITIAN Metode adalah suatu cara yang sistematis yang digunakan untuk mencapai tujuan sehingga dicapai suatu cara yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan (Dinata 2. Metodologi penelitian adalah salah satu cara yang dilakukan seseorang untuk menjawab suatu masalah atau keingintahuan seseorang atau menjelaskan sebuah fenomena yang terjadi. Menurut Sugiyono . Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data penelitiannya. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Eksperimen adalah cara untuk mencari hubungan sebab akibat antara dua faktor yang disengaja ditimbulkan oleh peneliti dilakukan dengan memberikan treatment ataupun perlakuan kepada sampel, sampai dilihat ada perubahan yang terjadi atau tidak (Arikunto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Kelompok Latihan Push-up Hasil tes awal kemampuan pukulan Gyaku-tsuki pada siswa ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan kelompok treatment latihan Push-up diperoleh nilai rata-rata adalah 6,67, standar deviasi 1,5, nilai minimum 4, dan nilai maksimum adalah 9. Sedangkan pada tes akhir kelompok latihan Push-up pada siswa ekstrakurikuler karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan diperoleh nilai rata-rata mengalami peningkatan yang signifikan yaitu nilai rata-rata mengalami peningkatan adalah 8,00, jumlah siswa yang berada di atas rerata kelas adalah 11 siswa, jumlah siswa di bawah rerata kelas adalah 5 siswa, standar deviasi 1,75 nilai minimum 5, dan nilai maksimum adalah 11. 6,67 1,5 1,75 Tes Awal Tes Akhir Rerata Min Max 6,67 1,75 Gambar 1. Diagram Tes Awal dan Akhir Kemampuan pukulan Gyaku-tsuki pada Kelompok Treatment Latihan Push-up. Berdasarkan gambar 1 di atas diperoleh nilai rata-rata mengalami peningkatan yang signifikan yaitu nilai rata-rata mengalami peningkatan adalah 8,00, jumlah siswa yang berada di atas rerata kelas adalah 11 siswa, jumlah siswa di bawah rerata kelas adalah 5 siswa, standar deviasi 1,75 nilai minimum 5, dan nilai Alfinto Kurniawan. Marta Dinata. Candra Kurniawan, dan Fransiskus Nurseto (Pengaruh Latihan Push-Up terhadap Kecepatan Pukulan Gyaku-Tsuki Cabang Olahraga Karate pada Ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Lampung Selata. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 63 Ae 70 maksimum adalah 11. Gambaran tentang tes awal dan akhir kemampuan pukulan Gyaku-tsuki pada kelompok treatment (Latihan Push-u. yang berjumlah 15 berdasarkan hasil penelitian setelah dikelompokan dan diklasifikasikan berdasarkan tes kemampuan pukulan Gyaku-tsuki dapat dilihat pada tabel berikut Distribusi Frekuensi Pukulan Gyaku-tsuki pada Kelas Eksperimen Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pukulan Gyaku-tsuki pada Kelas Eksperimen Distribusi Frekuensi Pukulan Gyaku-tsuki pada Kelas Eksperimen Frekuensi . Presentase (%) Interval Kategori Tes Awal Tes Akhir Tes Awal Tes Akhir Sangat Kurang Kurang Cukup Baik Sangat Baik Total 13,3% Tabel di atas menunjukan hasil persentase hasil kecepatan pukulan gyaku- tsuki pada siswa ekstrakurikuler karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan yang berjumlah 15 siswa pada tes awal kelompok treatment adalah sebanyak 0 siswa atau 0% pada kategori sangat baik, sebanyak 5 siswa atau 3% pada kategori Baik, sebanyak 3 siswa atau 20% pada kategori cukup, sebanyak 6 atau 40% pada kategori kurang, sebanyak 1 siswa atau 6. 7% pada kategori sangat kurang. Sedangkan presentase hasil kecepatan pukulan Gyaku-tsuki pada siswa ekstrakurikuler karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan yang berjumlah 15 siswa pada tes akhir kelompok treatment adalah sebanyak 2 siswa atau 13. pada kategori sangat baik, sebanyak 7 siswa atau 46. 7% pada kategori Baik, sebanyak 2 siswa atau 13. pada kategori cukup, sebanyak 4 atau 2. 7% pada kategori kurang, sebanyak 0 siswa atau 0% pada kategori kurang sekali. Kelompok Terkontrol (Tanpa Treatmen. Hasil tes awal kemampuan pukulan Gyaku-tsuki pada siswa ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan kelompok terkontrol . anpa treatmen. diperoleh nilai rata-rata adalah 6,33 jumlah siswa yang berada di bawah rerata kelas adalah 8 siswa, jumlah siswa yang berada di atas rerata kelas adalah 7 siswa, standar deviasi 1,6, nilai minimum 3, dan nilai maksimum adalah 9. Sedangkan pada tes akhir pukulan Gyaku-tsuki pada siswa ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan kelompok kontrol . anpa treatmen. diperoleh nilai rata-rata, jumlah siswa yang berada di bawah rerata kelas rata-rata mengalami peningkatan yang signifikan yaitu nilai rata-rata adalah 6,80, jumlah siswa yang berada di bawah rerata kelas adalah 6 siswa, jumlah siswa yang berada di atas rerata kelas adalah 9 siswa, standar deviasi 1. Perbandingan tes awal dan tes akhir pukulan Gyaku-tsuki pada siswa Alfinto Kurniawan. Marta Dinata. Candra Kurniawan, dan Fransiskus Nurseto (Pengaruh Latihan Push-Up terhadap Kecepatan Pukulan Gyaku-Tsuki Cabang Olahraga Karate pada Ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Lampung Selata. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 63 Ae 70 ekstrakurikuler karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan kelompok kontrol . anpa treatmen. digambarkan dalam diagram batang sebagai berikut : Tes Awal 1,6 1,9 Rerata Min Max Tes Awal Tes Akhir Gambar 2. Presentase Tes awal dan Tes Akhir Kelas Kontrol Berdasarkan penelitian dan kegiatan selama penelitian pada siswa ekstrakurikuler karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan, sebelum diberikan perlakuan penulis melakukan tes awal atau pre-test, merangking untuk membagi menjadi dua kelompok dengan menggunakan ordinal pairing. Setelah itu kelompok A diberikan kelompok kontrol atau tanpa diberikan perlakuan, sedangkan kelompok B mendapat latihan Push-up, kemudian diberikan perlakuan atau treatment selama 6 minggu dengan 3 kali pertemuan dalam seminggu. Untuk meningkatkan kecepatan pukulan Gyaku-tsuki dilakukan melalui latihan Push-up yang di rencanakan baik, sistematis, dan ditujukan untuk meningkatkan kecepatan pukulan Gyakutsuki sehingga memungkinkan seorang siswa mencapai target yang sudah penulis harapkan dan mendapatkan prestasi yang ingin dicapai. Proses pembelajaran siswa dengan menggunakan latihan Push-up dilakukan secara cermat dan berulang-ulang memungkinkan keterampilan pukulan Gyaku-tsuki pada siswa semakin meningkat hal ini menyebabkan siswa semakin terampil, efisien, dan kuat dalam melakukan gerakannya. Dalam penelitian ini terlihat adanya peningkatan dari tes awal dan tes akhir kecepatan pukulan Gyakutsuki siswa yang meningkat secara signifikan. Untuk kelompok treatment setelah diberikan perlakuan mengalami peningkatan yang signifikan terhadap kecepatan pukulan Gyaku-tsuki pada siswa. Hal ini dipengaruhi oleh intensitas latihan, memaksimalkan kesempatan saat latihan, keingingan siswa untuk melakukan gerakan secara benar, serta kondisi lapangan yang sangat mendukung dan memadai. Adapun beberapa siswa tidak mengalami peningkatan yang signifikan, hal ini dipengaruhi karena kelompok kontrol ini tidak diberikan treatment atau perlakuan selama penelitian berlangsung dikarenakan untuk menjadi kelompok pembanding atau menjadi acuan apakah kelompok treatment atau kelompok yang diberikan perlakuan ini mengalami peningkatan setelah mendapatkan latihan juggling tersebut. Jika dikaitkan dengan teori atau pendapat dari ahli menurut Stacey Penney . Push-up merupakan gerakan yang menggabungkan seluruh tubuh, meskipun gerakannya dilakukan oleh sendi pergelangan Alfinto Kurniawan. Marta Dinata. Candra Kurniawan, dan Fransiskus Nurseto (Pengaruh Latihan Push-Up terhadap Kecepatan Pukulan Gyaku-Tsuki Cabang Olahraga Karate pada Ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Lampung Selata. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 63 Ae 70 tangan, siku, dan bahu yang melibatkan anggota tubuh bagian atas dengan target utama otot pectoralis major, deltoid anterior, rhomboidus, trapezius, coracobrachialis, serratus anterior, bisep, dan trisep. Tetapi gerakan Push-up juga melibatkan otot abdominal yang mempertahankan kekuatan tulang belakang serta otot gluteus dan quadriceps yang menjaga pinggul dan lutut tetap lurus, bahkan otot betis juga ikut terlibat dalam gerakan Push-up. Selain manfaat secara fisik, latihan ini juga memiliki dampak positif bagi perkembangan mental siswa. Melalui rutinitas latihan yang konsisten, siswa belajar untuk disiplin dan tekun dalam mencapai tujuan mereka. Proses ini mengajarkan pentingnya usaha dan kerja keras untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ketika siswa melihat peningkatan kemampuan fisik mereka dari waktu ke waktu, hal tersebut dapat memberikan rasa percaya diri yang lebih besar. Latihan push-up juga memiliki nilai sosial yang penting. Dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti Karate, latihan ini sering dilakukan bersama-sama dalam kelompok atau tim. Hal ini mendorong interaksi sosial yang positif di antara siswa, membangun rasa kebersamaan, dan memperkuat hubungan antar anggota tim. Latihan bersama menciptakan suasana saling mendukung dan memotivasi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama. Secara keseluruhan, latihan push-up bukan hanya sekadar aktivitas fisik. ia merupakan sarana untuk membentuk karakter siswa. Melalui latihan ini, siswa tidak hanya meningkatkan kekuatan fisik mereka tetapi juga mengembangkan sikap disiplin, percaya diri, dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Makna di balik latihan push-up bagi siswa adalah pelajaran hidup yang berharga untuk menghadapi tantangan di masa depan dengan tubuh yang sehat dan mental yang kuat. Praktik ini telah menjadi bagian integral dari pelatihan Karate untuk mendapatkan kecepatan pukulan yang maksimal. Seorang siswa yang dapat melakukan Push-up dengan baik, maka dia akan dapat mudah dan tanpa merasa kelelahan yang berarti akan menghasilkan pukulan Gyaku-tsuki dengan maksimal. Jadi berdasarkan pendapat di atas latihan Push-up merupakan latihan yang dapat mendorong dan menunjung dalam peningkatan kecepatan pukulan Gyakutsuki dengan baik dan semaksimal mungkin yang dalam pelaksanaan latihan tersebut harus memiliki fokus terhadap kekuatan tangan dan harus memiliki koordinasi antara badan dan tangan yang baik juga agar tetap seimbang dan tidak terjatuh saat melakukan latihan Push-up. SIMPULAN Kesimpulan kecepatan penelitian dan pembahasan, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa . Ada pengaruh yang signifikan dari kelompok treatment . atihan Push-u. terhadap kecepatan pukulan Gyakutsuki pada siswa ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan. Ada pengaruh dari kelompok kontrol . anpa perlakuan/treatmen. terhadap kecepatan pukulan Gyaku-tsuki kepada siswa ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan. Ada perbedaan yang . atihan Push-u. anpa perlakuan/treatmen. terhadap kecepatan pukulan Gyaku-tsuki pada siswa ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Kabupaten Lampung Selatan. Alfinto Kurniawan. Marta Dinata. Candra Kurniawan, dan Fransiskus Nurseto (Pengaruh Latihan Push-Up terhadap Kecepatan Pukulan Gyaku-Tsuki Cabang Olahraga Karate pada Ekstrakurikuler Karate di SMA Kebangsaan Lampung Selata. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 63 Ae 70 DAFTAR PUSTAKA