JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 08 NOMOR 02 DESEMBER 2025 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN Hubungan self-management dengan tekanan darah pada pasien hipertensi The relationship between self-management and blood pressure in hypertension patients Fitriani . Titi Iswanti Afelya . Diyah Astuti NurfaAoizah Program Studi Profesi Ners. Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih. Jayapura. Indonesia Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran. Universitas Cenderawasih. Jayapura. Indonesia Abstrak Article history Received date: 24 September 2025 Revised date: 28 Oktober 2025 Accepted date: 21 November 2025 *Corresponding author: Fitriani. Universitas Cenderawasih. Jayapura. Indonesia, fitrianhy2512@gmail. Self-management merupakan komponen penting dalam pengelolaan hipertensi untuk menjaga tekanan darah tetap terkontrol dan mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-management dan tekanan darah pada pasien hipertensi di Kota Jayapura. Penelitian menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada MeiAeJuli 2025 di tiga puskesmas di Kota Jayapura dengan jumlah sampel 80 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Selfmanagement diukur menggunakan Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ) yang telah tervalidasi, sedangkan tekanan darah diukur menggunakan sfigmomanometer digital. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki self-management kategori baik . ,5%), dengan tekanan darah sistolik dan diastolik dominan pada kategori hipertensi derajat I . asing-masing 42,5% dan 38,8%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara selfmanagement dan tekanan darah pada pasien hipertensi . = 0,. Penelitian ini menyimpulkan bahwa self-management berhubungan dengan tingkat tekanan darah pada pasien hipertensi, sehingga penguatan self-management melalui edukasi dan pendampingan berkelanjutan perlu dilakukan untuk mendukung pengendalian tekanan darah secara optimal. Kata Kunci : Self-management, hipertensi, tekanan darah Abstract Copyright: A 2025 by the authors. This is an open access article distributed under the terms and conditions of the CC BY-SA. Self-management is a crucial component in hypertension management to maintain controlled blood pressure and prevent complications. This study aimed to analyze the relationship between self-management and blood pressure among hypertensive patients in Jayapura City. This study employed an analytical correlational design with a cross-sectional approach. The research was conducted from May to July 2025 at three community health centers in Jayapura City, involving 80 respondents selected using accidental sampling. Self-management was measured using the validated Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ), while blood pressure was measured using a digital sphygmomanometer. Data were analyzed using the Chi-square test. The results showed that most respondents had good selfmanagement . 5%), with systolic and diastolic blood pressure predominantly classified as stage I hypertension . 5% and 38. 8%, respectivel. Bivariate analysis demonstrated a significant relationship between self-management and blood pressure among hypertensive patients . = 0. Self-management is significantly associated with blood pressure levels in hypertensive patients, highlighting the need for strengthening self-management through continuous education and support to achieve optimal blood pressure control. Keywords : Self-management, hypertension, blood pressure PENDAHULUAN Hipertensi merupakan penyakit kronik yang dapat menimbulkan komplikasi dan kematian, namun sering tidak bergejala sehingga banyak penderita tidak menyadari kondisinya (Fernalia et al. , 2. Hipertensi ditandai oleh tekanan darah sistolik Ou140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik Ou90 mmHg. Selain hipertensi primer, kondisi ini juga dapat bersifat sekunder, antara lain berkaitan dengan penyakit ginjal dan kelainan jantung tertentu (Fernalia et al. , 2. Secara global, prevalensi hipertensi pada tahun 2019 dilaporkan mencapai 33,1% (World Health Organization, 2. Di Indonesia, prevalensi hipertensi sekitar 30,8% pada penduduk usia Ou18 tahun berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Di Provinsi Papua, angka kejadian hipertensi dilaporkan sebesar 25,8% pada tahun 2023 (Kementerian Kesehatan, 2. Fitriani. Titi Iswanti Afelya. Diyah Astuti NurfaAoizah. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 134-139 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Tingginya prevalensi hipertensi memerlukan perhatian karena hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya gangguan kardiovaskular dan penyakit ginjal kronik. Upaya deteksi dini dan pencegahan perlu dilakukan untuk menurunkan risiko komplikasi (Sonia et al. , 2. Pengelolaan hipertensi meliputi konsumsi obat secara rutin serta penerapan pola hidup sehat untuk mencegah komplikasi kardiovaskular dan ginjal akibat tekanan darah yang tidak terkontrol (Sonia et al. , 2. Pengendalian tekanan darah berkontribusi dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi (Ameliani et al. , 2. Kepatuhan minum obat merupakan salah satu determinan penting dalam pengendalian tekanan darah, namun pengelolaan diri melalui perubahan gaya hidup dan aktivitas juga memiliki peranan yang signifikan (Sonia et al. , 2. Self-management merupakan kemampuan individu dalam mengelola penyakit kronik melalui perilaku kesehatan yang mendukung pengendalian gejala dan pencegahan komplikasi (Mulyati et al. , 2013. Akhter, 2. Penerapan self-management yang baik membantu pasien dan keluarga dalam mempertahankan kesehatan serta mencegah komplikasi akibat tekanan darah yang tidak terkontrol (Ameliani et al. , 2023. Sonia et al. , 2. Selfmanagement pada pasien hipertensi diperlukan untuk mencegah penurunan kondisi kesehatan yang berulang (Fernalia et al. , 2. Seiring waktu, pemeliharaan kesehatan yang konsisten melalui self-management dapat membantu mengontrol tekanan darah. Kemampuan self-management pasien hipertensi dilaporkan berhubungan dengan hasil klinis, termasuk tekanan darah (Rantetondok et al. , 2. Self-management mencakup beberapa komponen yang saling berkaitan, yaitu integritas diri, regulasi diri, kepatuhan terhadap pengobatan, pemantauan tekanan darah, serta interaksi dengan tenaga kesehatan (Sonia et al. , 2. Studi sebelumnya di Kota Jayapura menunjukkan bahwa self-management pasien hipertensi berada pada kategori baik, namun masih ditemukan perilaku yang belum optimal, seperti tidak membatasi konsumsi makanan tinggi natrium, tidak berhenti merokok, dan tidak menghentikan konsumsi alkohol (Fitriani & Afelya, 2. Penelitian tersebut masih berfokus pada aspek deskriptif, sehingga diperlukan kajian lanjutan untuk menganalisis hubungan antara self-management dan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan selfmanagement dengan tekanan darah pada pasien hipertensi. METODE Desain Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli 2025 di tiga fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Kota Jayapura, yaitu Puskesmas Kotaraja. Puskesmas Abepura, dan Puskesmas Abepantai. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada tingginya kasus hipertensi serta kemudahan aksesibilitas pasien di wilayah tersebut. Sampel Jumlah sampel penelitian sebanyak 80 responden yang ditentukan menggunakan rumus Cochran. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling, yaitu pemilihan responden yang memenuhi kriteria penelitian dan hadir pada saat pengumpulan data berlangsung. Kriteria inklusi meliputi pasien berusia Ou18 tahun, terdiagnosis hipertensi selama lebih dari satu tahun, dan bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi meliputi pasien dengan penyakit penyerta berat serta pasien yang menolak berpartisipasi. Responden dipilih dari pasien yang berkunjung ke lokasi penelitian dan ditetapkan sebagai sampel apabila memenuhi kriteria inklusi dan Variabel penelitian Variabel independen dalam penelitian ini adalah self-management, yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu baik . kor 120Ae. , cukup . kor 100Ae. , dan kurang . kor O. Variabel dependen adalah tekanan darah responden, yang meliputi tekanan darah sistolik dan diastolik. Kategori tekanan darah mengacu pada klasifikasi WHO . , yaitu normal . istolik <120 mmHg dan diastolik <80 mmH. , prehipertensi . istolik 120Ae139 mmHg dan diastolik 80Ae89 mmH. , hipertensi derajat I . istolik 140Ae159 mmHg dan diastolik 90Ae99 mmH. , serta hipertensi derajat II . istolik Ou160 mmHg dan diastolik Ou100 mmH. Pengumpulan data Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel self-management adalah hypertension selfmanagement behavior questionnaire (HSMBQ) yang terdiri dari 40 butir pertanyaan, meliputi 13 item integritas diri, 9 item regulasi diri, 9 item integrasi dengan tenaga kesehatan, 4 item pemantauan tekanan darah, dan 5 item kepatuhan terhadap anjuran. Kuesioner ini telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dan dinyatakan valid dengan nilai r-hitung berkisar antara 0,375Ae0,781 serta reliabel dengan nilai CronbachAos alpha sebesar 0,949. Pengukuran tekanan darah dilakukan menggunakan sfigmomanometer digital merek TensiOne yang telah dikalibrasi sebelum digunakan. Pengumpulan data dilakukan secara langsung oleh peneliti. Setiap responden terlebih dahulu diberikan penjelasan penelitian dan diminta menandatangani lembar informed consent. Selanjutnya dilakukan pengukuran tekanan darah, kemudian responden diminta mengisi kuesioner penelitian. Pengukuran tekanan darah dilakukan pada pagi hari saat responden datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Analisis data Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 25. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden serta variabel penelitian. Analisis Fitriani. Titi Iswanti Afelya. Diyah Astuti NurfaAoizah. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 134-139 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara self-management dan tekanan darah menggunakan uji ChiSquare dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. Etika Penelitian Penelitian ini telah memperoleh persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Poltekkes Kemenkes Jayapura dengan nomor 069/KEPK-J/VI/2025. Seluruh responden memberikan persetujuan tertulis sebelum Kerahasiaan data dijaga dengan menggunakan kode numerik pada setiap responden selama proses pengumpulan dan analisis data. HASIL Tabel 1. Karakteristik responden . Karakteristik Usia Dewasa . Ae 59 tahu. Lansia ( Ou60 tahun ) Pendidikan Tidak Sekolah Sekolah dasar Sekolah menengah pertama Sekolah menengah atas Perguruan tinggi Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Status perkawinan Menikah Belum menikah Pekerjaan Pensiunan Aparatur sipil negara (PNS/TNI/Polr. Karyawan swasta Wiraswasta Ibu rumah tangga Tidak bekerja Lama Terdiagnosis <5 tahun Ou 5 tahun Tabel 1 menyajikan karakteristik responden penelitian sebanyak 80 pasien hipertensi. Berdasarkan kelompok usia, responden sebagian besar berada pada kategori dewasa . Ae59 tahu. sebanyak 42 orang . ,2%), sedangkan lansia (Ou60 tahu. sebanyak 38 orang . ,5%). Tingkat pendidikan terakhir responden didominasi oleh lulusan sekolah menengah atas . ,0%), diikuti sekolah menengah pertama . ,3%) dan sekolah dasar . ,3%). Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 65 orang . ,3%), hampir seluruhnya berstatus menikah . ,3%). Berdasarkan pekerjaan, sebagian besar responden merupakan ibu rumah tangga . ,8%). Lama terdiagnosis hipertensi menunjukkan bahwa mayoritas responden telah menderita hipertensi selama Ou5 tahun . ,0%). Tabel 2. Distribusi self-management dan tekanan darah . Karakteristik Self management Baik Cukup Kurang Tekanan darah sistolik Normal Pre hipertensi Hipertensi derajat I Hipertensi derajat II Tekanan darah diastolik Normal Pre hipertensi Hipertensi derajat I Hipertensi derajat II Fitriani. Titi Iswanti Afelya. Diyah Astuti NurfaAoizah. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 134-139 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Tabel 2 menunjukkan distribusi tingkat self-management dan kategori tekanan darah responden. Hampir setengah responden memiliki self-management dalam kategori baik . ,5%), sementara 36,3% berada pada kategori kurang dan 16,3% pada kategori cukup. Berdasarkan tekanan darah sistolik, sebagian besar responden berada pada kategori hipertensi derajat I . ,5%), diikuti prehipertensi . ,8%). Sementara itu, tekanan darah diastolik juga didominasi oleh kategori hipertensi derajat I . ,8%) dan prehipertensi . ,0%). Tekanan Sistolik Diastolik Selfmanagement Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang Tabel 3. Hubungan self-management dengan tekanan darah Normal, n Prehipertensi, n Hipertensi I, n Hipertensi II, n (%) (%) (%) (%) 2 . Nilai p 0,001 0,001 Tabel 3 menunjukkan bahwa pada kelompok dengan self-management baik, sebagian besar responden berada pada kategori tekanan darah sistolik prahipertensi . ,0%) dan hipertensi derajat I . ,7%), serta tekanan darah diastolik prahipertensi . ,8%). Sebaliknya, pada kelompok dengan self-management kurang, proporsi responden lebih banyak ditemukan pada kategori hipertensi derajat I dan II, baik pada tekanan darah sistolik . ,0% dan 12,5%) maupun diastolik . ,5% dan 7,5%). Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara self-management dengan tekanan darah sistolik dan diastolik . = 0,. , yang mengindikasikan bahwa perbedaan tingkat self-management berkaitan dengan variasi tingkat tekanan darah pada pasien hipertensi. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah responden memiliki self-management dalam kategori Temuan ini menggambarkan bahwa sebagian pasien hipertensi telah mampu menerapkan perilaku pengelolaan diri dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya mengendalikan tekanan darah. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa mayoritas pasien hipertensi memiliki tingkat selfmanagement yang baik (Fitriani & Afelya, 2023. Ameliani et al. , 2. Self-management yang efektif berperan dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi pasien untuk mengenali masalah kesehatan, merencanakan tindakan, serta mengevaluasi keberhasilan pengelolaan penyakit secara mandiri (Adriani et al. Meskipun demikian, masih ditemukan proporsi responden dengan self-management yang kurang, yang mencerminkan adanya variasi kemampuan pengelolaan diri antar pasien. Variasi ini dapat dipengaruhi oleh faktor usia, pekerjaan, dan lama menderita hipertensi (Fitriani et al. , 2. Dalam penelitian ini, lansia cenderung memiliki self-management yang lebih baik dibandingkan kelompok usia dewasa, yang dapat dikaitkan dengan pengalaman hidup dan adaptasi yang lebih panjang terhadap penyakit kronis. Selain itu, responden dengan lama terdiagnosis hipertensi Ou5 tahun menunjukkan kecenderungan self-management yang lebih baik, sejalan dengan temuan bahwa durasi penyakit berhubungan dengan peningkatan kesiapan dan kemampuan pasien dalam mengelola kondisi kesehatannya (Tursina et al. , 2. Terkait tekanan darah, sebagian besar responden berada pada kategori hipertensi derajat I, baik pada tekanan darah sistolik maupun diastolik. Temuan ini konsisten dengan penelitian Azizah et al. yang melaporkan bahwa hipertensi derajat I merupakan kategori yang paling sering ditemukan pada pasien hipertensi di layanan kesehatan primer. Usia dan jenis kelamin diduga turut berperan dalam distribusi ini. Mayoritas responden merupakan perempuan dan berada pada rentang usia dewasa hingga lansia, kelompok yang secara fisiologis rentan mengalami peningkatan tekanan darah akibat perubahan hormonal dan penurunan elastisitas pembuluh darah (Sonia et al. , 2023. Tursina et al. , 2. Analisis hubungan menunjukkan adanya keterkaitan yang bermakna antara self-management dengan tekanan darah sistolik dan diastolik. Hasil ini mengindikasikan bahwa perbedaan tingkat self-management berasosiasi dengan variasi tingkat tekanan darah pada pasien hipertensi. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan hubungan signifikan antara perilaku self-management dan pengendalian tekanan darah (Ameliani et al. , 2023. Azizah et al. , 2. Self-management yang lebih baik umumnya berkaitan dengan tekanan darah yang lebih terkendali, meskipun hubungan ini bersifat asosiatif dan tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung. Secara konseptual, self-management mencakup integritas diri, regulasi diri, interaksi dengan tenaga kesehatan, pemantauan tekanan darah, dan kepatuhan terhadap anjuran pengobatan (Akhter, 2. Namun, temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa self-management yang tergolong baik tidak selalu diikuti oleh tekanan darah normal. Analisis respons kuesioner mengindikasikan bahwa beberapa komponen gaya hidup, seperti pembatasan konsumsi garam dan aktivitas fisik teratur, belum dijalankan secara optimal oleh sebagian Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan self-management sangat bergantung pada keterpaduan Fitriani. Titi Iswanti Afelya. Diyah Astuti NurfaAoizah. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 8 . , 2025: 134-139 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. seluruh komponennya, bukan hanya pada kepatuhan pengobatan semata (Lestari & Isnaini, 2018. Sonia et al. Selain faktor perilaku, usia lanjut juga menjadi faktor yang membatasi optimalisasi pengendalian tekanan darah melalui self-management. Proses penuaan menyebabkan perubahan struktural dan fungsional pembuluh darah yang tidak sepenuhnya dapat dikompensasi oleh perilaku kesehatan. Oleh karena itu, pengelolaan hipertensi pada populasi ini memerlukan pendekatan komprehensif yang mengombinasikan intervensi medis dengan penguatan self-management, dukungan keluarga, serta pendampingan berkelanjutan dari tenaga IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Temuan ini dapat dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan khususnya bagi pasien hipertensi. pasien dapat mengetahui bahwa pengontrolan tekanan darah dapat dilakukan dengan self management yang baik. Demikian pula dalam bidang keperawatan, dalam praktik keperawatan informasi ini dapat menjadi referensi saat perencanaan asuhan keperawatan untuk pasien hipertensi agar tekanan darah tetap terkontrol. Untuk bidang keilmuan, hasil studi berimplikasi terhadap ilmu keperawatan komunitas dan promosi kesehatan dalam memberikan gambaran pemberian edukasi kesehatan pada pasien hipertensi. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah self-management diukur hanya dengan menganalisis jawaban responden dengan kuesioner tanpa adanya validasi tambahan melalui wawancara dan pengamatan langsung terhadap perilaku responden. KESIMPULAN Hasil penelitian menemukan adanya hubungan antara self-management dengan tekanan darah yang dimiliki pasien hipertensi. Semakin baik self-management maka semakin rendah kategori tekanan darah. Selfmanagement yang baik dapat lebih ditingkatkan dengan kegiatan edukasi oleh tenaga kesehatan, sehingga perilaku pengontrolan tekanan darah dapat terwujud. Penelitian lanjutan dapat melibatkan pengamatan langsung dan wawancara untuk mendapatkan hasil yang lebih dalam tentang self-management pada pasien hipertensi. UCAPAN TERIMA KASIH