Jurnal Kesehatan Marendeng http://e-jurnal. id/index Vol IX. No. November 2025, pp 210-225 p-ISSN:2850-0329 dan e-ISSN: 2809-2813 DOI:https://doi. org/jkm. ASOSIASI PENGETAHUAN DAN PRAKTIK SADARI PADA MAHASISWA DI KABUPATEN MAJENE Nurpadila1. Sarmini2. Aswar3. Nur Anita4. Nur Aisyah5. Mutmainnah6 1,3,5 Keperawatan. STIKes Marendeng Majene Email: nurpadilamunir@gmail. Kebidanan. STIKes Marendeng Majene Email: anita. nurssit90@gmail. UPT Puskesmas Tinambung Email : Sarmini123@gmail. Artikel info Abstract. Cancer is one of the leading causes of death Breast self-examination (BSE) is an effective and Artikel history: Received. 22-5-2025 straightforward method for the early detection of breast cancer. Revised. 8-10-2025 especially among young women. The level of knowledge plays an Accepted. 11-11-2025 important role in influencing BSE practices. This study aimed to determine the relationship between knowledge and breast selfexamination (BSE) practices among university students in Majene Regency. This research used a quantitative design with Kata Kunci: Kata Kunci satu. a cross-sectional approach. A total of 142 students were selected using stratified random sampling. Data were collected through Kata Kunci dua. questionnaires and analyzed using the Chi-square test with the SADARI help of SPSS software . ignificance level = 0. The results Kata Kunci tiga. showed that most respondents had low knowledge . 3%) and poor BSE practice . 2%). The Chi-square test indicated a Kata kunci empat: significant relationship between knowledge and BSE practices . = 0. A meaningful relationship exists between the level of knowledge and breast self-examination practices among Increasing education on BSE is necessary to encourage Keyword: Keyword one. better examination practices. Keyword two. breast selfAbstrak. Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama didunia. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah Keyword three: breast salah satu upaya deteksi dini kanker payudara yang efektif dan mudah dilakukan, terutama di kalangan perempuan muda. Keyword: students Tingkat pengetahuan diyakini berperan penting dalam menentukan praktik SADARI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan praktik pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada mahasiswa di kabupaten Majene. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan Cross-Sectional. Sampel sebanyak 142 mahasiswa dengan tehnik sampling Stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Chi-square dengan bantuan program Jurnal Kesehatan Marendeng | 210 SPSS . ingtkat signifikansi = 0,. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang . ,3%) dan praktik SADARI yang kurang . ,2%). Uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan praktik SADARI . = 0,. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan praktik pemeriksaan payudara sendiri pada mahasiswa. Peningkatan edukasi mengenai SADARI perlu dilakukan untuk mendorong praktik pemeriksaan yang lebih baik. Coresponden author: Email: nurpadilamunir@gmail. artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY -4. PENDAHULUAN Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama didunia (Kemenkes RI, 2. Kanker payudara salah satu dari sekian banyak kasus yang dilaporkan dan penyebab kematian paling umum dikalangan wanita disegala usia setelah pubertas (World Health Organization (WHO), 2. Pada tahun 2020, diperkirakan terdapat sekitar 2,3 juta kasus baru kanker payudara di dunia (Bray et al. , 2. Kanker payudara adalah penyakit di mana sel-sel payudara abnormal tumbuh diluar kendali dan membentuk tumor seperti benjolan yang dapat bermetastase keseluruh tubuh tanpa penangan yang tepat dan segera (WHO, 2. Di Indonesia, khususnya Provinsi Sulawesi Barat, dilaporkan prevalensi kanker payudara sebesar 1,14%. Insiden kanker payudara di Kabupaten Majene pada tahun 2021 sebanyak 13 orang dengan rentan usia dari 15 s/d 64 tahun. Prevelensi kanker payudara di RSUD Majene pada tahun 2020 sebanyak 7 orang . ,07%), pada tahun 2021 sebanyak 14 orang . ,14%) dan pada tahun 2022 sebanyak 2 orang . ,02%) (Wahyuni, 2. Hal ini menjadi kecemasan yang tidak berkesudahan mulai dari terdiagnosa sampai harus melakukan pengobatan (He et al. , 2023. Santini et al. , 2. Kanker payudara memiliki dampak bagi fisik, emosional, maupun psikososial (Agarwal et al. Bargon et al. , 2023. Lyu et al. , 2. Dampak bagi fisik dan efek sampingnya seperti kelelahan, nyeri, mual, dan limfedema, pasien umumnya mengalami tekanan psikologis termasuk kecemasan, depresi, dan ketakutan akan kekambuhan (Dronavalli et al. , 2024. Sauls et al. , 2025. Soqia et al. , 2. Pada perawatan pasien kanker payudara seperti kemoterapi, pembedahan . astektomi atau lupektom. , terapi radiasi dapat menimbulkan efek samping misalnya, dapat menyebabkan mual, muntah, rambut rontok, kelelahan, nyeri, jaringan parut, perubahan citra tubuh, iritasi pada kulit, dan perubahan pada payudara yang pada akhirnya akan mempengaruhi citra tubuh dan harga diri dari pasien (Dronavalli et , 2024. Loving et al. , 2024. Nurpadila et al. , 2021. Tommasi et al. , 2. Beban Ae beban ini secara signifikan mengganggu kualitas hidup pasien (Banegas et al. , 2019. Ee et al. , 2022. Meernik et al. , 2021. Rosenberg et al. , 2016. Smith et al. , 2022. Valle et al. , 2015. van de Wal et al. , 2017. Verrill et al. , 2020. Wagner et al. , 2. , untuk itu pemerintah mengusahakan jalan alternatif untuk deteksi dini kanker Jurnal Kesehatan Marendeng | 211 Dari sekian banyak tindakan pencegahan, deteksi dini menjadi langkah awal guna mengurangi peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat kanker payudara. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) merupakan tindakan yang tepat dan mudah dilakukan sebagai upaya deteksi dini kanker payudara (Kemenkes RI, 2. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah cara skrining yang berguna untuk memberdayakan wanita dan meningkatkan kesadaran tentang jaringan payudara mereka serta membantu mendeteksi segala kelainan pada payudara (America Cancer Society, 2. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Szukis et al . melaporkan bahwa melakukan SADARI dikaitkan dengan peningkatan deteksi dini kanker payudara (Szukis et al. , 2. Hal ini mendorong pemerintah untuk menerapkan program pelatihan untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya kanker payudara mencakup pengetahuan tentang tanda gejala, faktor resiko, penyebab, pencegahan sampai dengan pengobatannya, serta mempraktikkan SADARI sebagai metode deteksi dini. Ditegaskan pula pada setiap individu akan kesadaran betapa pentingnya melakukan pencegah secara aktif dengan menggunakan segala sumber sebagai informasi, baik dari perpustakaan, media tradisional . isalnya radio dan TV), pengalaman orang lain . eluarga, teman, rekan kerja, dan rekan sejawat/ti. , sosial media . itus web terpercaya, aplikasi khusus, pamfle. kerabat, maupun profesional pelayan kesehatan (Lu et al. , 2020. Zou et al. , 2. Untuk memetakan kebutuhan penelitian, peneliti melakukan studi awal pada mahasiswi STIKes Marendeng Majene. Hasil studi awal menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan praktik SADARI masih rendah, hanya sekitar 10% responden yang mengetahui waktu pelaksanaan SADARI yang tepat dan melakukan SADARI secara rutin setiap bulan. Sebagian responden menyatakan ragu atau tidak yakin ketika menemukan perubahan pada payudara dan cenderung tidak berkonsultasi ke fasilitas Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan pengetahuanAetindakan di lingkungan kampus tenaga kesehatan, padahal mahasiswi bidang kesehatan diharapkan menjadi role model perilaku pencegahan bagi masyarakat. Kesenjangan tersebut menegaskan urgensi penelitian kuantitatif yang menilai hubungan pengetahuan dengan praktik SADARI pada populasi mahasiswi di Kabupaten Majene. METODE Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel ditarik dengan stratified random sampling berdasarkan program studi/semester. Dari daftar mahasiswi aktif, 142 responden dialokasikan proporsional ke setiap strata, lalu dipilih secara acak sederhana. Responden yang menolak/tidak hadir diganti dengan nomor acak berikutnya dalam strata yang sama. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan mengisi lembar kuesioner yang telah disediakan. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan program SPSS dengan uji Chi-Square. Analisis data, meliputi coding, editing, skoring, dan entering. Penelitian ini bersifat non-intervensi dan menggunakan kuesioner anonim pada orang dewasa, tanpa mengumpulkan identitas pribadi . NIM, alamat, nomor konta. maupun data sensitif medis. Jurnal Kesehatan Marendeng | 212 Risiko bagi partisipan dinilai minimal. Seluruh responden memperoleh penjelasan tujuan, manfaat, dan hak partisipasi, serta menyatakan persetujuan sukarela . nformed consen. sebelum pengisian kuesioner. Partisipasi bersifat sukarela, dapat dihentikan kapan saja, dan tidak ada insentif yang berpotensi menimbulkan paksaan. Sejalan dengan karakteristik tersebut, studi ini tidak memerlukan persetujuan komite etik dan diperlakukan sebagai pengecualian etik . thical exemptio. di lingkungan institusi tempat penelitian Peneliti memperoleh izin tertulis dari program studi/institusi untuk pelaksanaan pengumpulan data di kampus. Prinsip-prinsip etik umum: respect for persons, beneficence, dan justice tetap diterapkan selama seluruh proses penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel. Karakteristik responden berdasarkan Usia. Riwayat individu. Riwayat Keluarga, dan Lifestyle (N=. Karakteristik Usia Local Perkotaan Perdesaan Status pernikahan Belum menikah Menikah Riwayat Keluarga Tidak Lifestyle Merokok Alkohol Total DEMOGRAFI Jumlah (N) Persentase (%) Berdasarkan table. 1 menunjukkan bahwa dari 142 responden , lebih banyak berada pada usia 18-25 tahun yaitu 140 orang . 6%), tinggal diperdesaan sebanyak 91 . 1%) selebihnya diperkotaan. Berdasarkan status pernikahan sebanyak 139 . 9%) belum berumah tangga. Responden yang memiliki riwayat individu dan riwayat dari keluarga sebanyak 12 . 1%) dan 10 . 0%). Persentase berdasarkan gaya hidup untuk kategori merokok sebanyak 2 orang . 4%) dan tidak ada responden yang mengkomsumsi alkohol. Jurnal Kesehatan Marendeng | 213 Tabel. Distribusi Pengetahuan dan Praktik Tentang Periksa Payudara Sendiri (SADARI) Pada Mahasiswi sebagai responden Kategori Pengetahuan Kurang Cukup Baik Praktik Kurang Cukup Baik Total Jumlah (N) Persentase (%) Berdasarkan tabel 2 menunjukkan dari 142 responden didapatkan pada kategori pengetahuan, sebagian besar responden dengan pengetahuan kurang yaitu 80 . 3%), sedangkan untuk pengetahuan baik hanya 15 . 6%). Pada kategori praktik responden yang menerapkannya berjumlah 17 . %), sedangkan selebihnya mengetahui namun tidak menerapkannya. Tabel. Hubungan Pengetahuan dengan Praktik Tentang Periksa Payudara Sendiri (SADARI) Pada Mahasiswi sebagai responden Pengetahuan Kurang Cukup Baik Total Kurang Praktik Cukup Baik Total Nilai p Berdasarkan tabel 3 hubungan pengetahuan dan praktik responden tentang SADARI didapatkan hasil yaitu responden dengan pengetahuan dan praktik yang kurang sebanyak 43. 8%), sedangkan responden dengan pengetahuan dan praktik yang cukup sebanyak 16 . 0%), serta responden dengan pengetahuan dan praktik yang baik jauh lebih sedikit yaitu sebanyak 2 . 3%). Adapun responden memiliki pengetahuan baik tapi praktik kurang sebanyak 4 . 0%). Jurnal Kesehatan Marendeng | 214 PEMBAHASAN Karakteristik responden pada penelitian ini meliputi usia, lokal, ,status pernikahan, riwayat individu, riwayat keluarga, merokok, dan komsumsi alkohol. Hasil penelitian menunjukan bahwa ratarata usia responden berada pada usia 18-25 tahun. Rata-rata responden berada pada rentang usia 18Ae25 Temuan ini sejalan dengan literatur yang menyebutkan bahwa risiko kanker payudara meningkat pada usia yang lebih tua, khususnya Ou50 tahun (Khotimah, 2. Namun, pada kelompok usia muda kemampuan daya ingat dan minat terhadap perilaku pencegahan cenderung lebih baik, sehingga edukasi yang tepat berpotensi meningkatkan praktik pencegahan, termasuk SADARI (K. Astuti et al. , 2. Selain usia, data lain diperoleh sebagian besar responden berasal dari pedesaan yaitu sebanyak 91 . 1%) sedangkan yang berada diperkotaan sebanyak 51 . 9%). Hasil Riskesdas 2018 menunjukan bahwa seseorang yang tinggal di perkotaan cenderung lebih tinggi mengalami kanker payudara dari pada tinggal dipedesaan (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan status pernikahan sebagian besar responden berstatus lajang sebanyak 139 . 9%) sedangkan yang bersatus telah menikah sebanyak 3 . 1%). Menurut Black JM. Hawks JH . wanita yang memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun beresiko 2 kali lipat terkena kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada usia sebelum 20 tahun (Black & Hawks, 2. Seseorang dengan riwayat kanker payudara sebelumnya, beresiko mengalami kanker payudara kembali (Schacht et al. , 2. , sedangkan dari riwayat keluarga seseorang yang memiliki hubungan darah satu tingkat pertama . bu, saudara perempuan, atau anak perempua. penderita kanker payudara, faktor resiko meningkat sekitar 2 kali lipat lebih besar (Han et al. , 2022. Liu et al. , 2021. Aukasiewicz et al. , 2. Gaya hidup berperan besar menjadi salah satu penyebab kanker payudara. Hal ini menyoroti faktor-faktor seperti obesitas, makan makanan rendah nutrisi, merokok, dan mengkomsumsi alcohol (Armenta-Guirado et al. , 2023. Fakhri et al. , 2022. Freudenheim, 2020. Hoxha et al. , 2024. Scherybl. Starek-owiechowicz et al. , 2. Pada sampel ini mayoritas responden berusia 18Ae25 tahun dan belum menikah, sehingga karakteristik berbasis usia reproduktif . usia saat melahirkan pertam. belum relevan dievaluasi sebagai faktor risiko. Proporsi riwayat kanker keluarga 7,0% dan riwayat kanker pribadi 8,5% menunjukkan hanya sebagian kecil responden memiliki karakteristik risiko yang jelas. Kebiasaan merokok 1,4% dan alkohol 0% sangat rendah, sehingga keduanya tidak menjadi pendorong utama risiko pada populasi ini. Variabel domisili lebih merefleksikan konteks perilaku/akses layanan dibanding faktor biologis. Dengan demikian, temuan menegaskan bahwa peningkatan pengetahuan tetap strategis untuk mendorong praktik SADARI yang benar dan rutin pada kalangan mahasiswi. Pengetahuan Responden Menurut Swarjana . Pengetahuan merupakan hasil pengindraan manusia atau hasil tahu manusia melalui indra yang dimilikinya baik telinga, mata, hidung dan sebagainya. Pengetahuan Jurnal Kesehatan Marendeng | 215 dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pendidikan, pengalaman, atau informasi dari orang lain (Swarjana, 2. Pada penelitian ini tingkat pengetahuan dapat dibedakan dalam tiga kategori yaitu pengetahuan kurang, pengetahuan cukup, dan pengetahuan baik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pengetahuan tentang SADARI pada mahasiswa, dari 142 responden didapatkan pada kategori pengetahuan, sebagian besar responden dengan pengetahuan kurang yaitu 80 . 3%), sedangkan untuk pengetahuan baik hanya 15 . 6%). Minimnya pengetahuan mahasiswa tentang SADARI dipengaruhi oleh kurangnya pendidikan dan informasi. Akibat kurangya pengetahuan tentang SADARI akan meningkatkan kasus kanker payudara dan angka kematian pada wanita (Purnamaningtyas, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai SADARI. Kondisi ini sejalan dengan temuan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman tentang SADARI masih menjadi hambatan utama pelaksanaan deteksi dini kanker payudara pada perempuan usia muda. Penelitian Astuti et al. mencatat bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang, yang berdampak pada rendahnya praktik SADARI. Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Fitriwati & Meinarisa . , yang melaporkan bahwa pengetahuan berkorelasi dengan praktik dan ketepatan waktu pelaksanaan SADARI pada remaja. Studi lain juga menunjukkan fenomena serupa. Meskipun sebagian besar perempuan mengetahui tentang kanker payudara dan SADARI, pemahaman mendalam terkait faktor risiko dan prosedur pelaksanaan masih terbatas (Makinde et al. , 2. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara pengetahuan dasar dan keterampilan praktis. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya praktik SADARI adalah lupa, kurangnya pemahaman teknis, serta minimnya paparan praktik langsung (ApatiN & LovriN, 2. Selain itu, penelitian Sebayang . menegaskan bahwa pengetahuan dan sikap negatif dapat berpengaruh terhadap rendahnya kepatuhan melakukan SADARI. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Sujindra & Elamurugan . dan Mohammed et al. , yang menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan yang memadai menghambat perempuan dalam memahami pentingnya SADARI sebagai upaya deteksi dini kanker payudara. Hal ini menunjukkan bahwa informasi saja tidak cukup. perempuan perlu diberikan edukasi yang bersifat aplikatif agar memahami prosedur SADARI dan manfaatnya secara nyata. Dengan demikian, konsistensi hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan tidak hanya berdampak pada kesiapan kognitif, tetapi juga menjadi pendorong penting dalam pembentukan sikap dan perilaku kesehatan positif, termasuk pelaksanaan SADARI secara mandiri (Soepardan & Wirakusumah, 2. Oleh karena itu, intervensi pendidikan kesehatan perlu difokuskan pada peningkatan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan praktik untuk memastikan perubahan perilaku yang lebih efektif dan berkelanjutan. Praktik SADARI Responden Jurnal Kesehatan Marendeng | 216 Menurut Notoatmodjo S . Praktik adalah suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan . vert behaviou. (Notoatmodjo, 2. Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbedaan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah pengetahuan, pengalaman, dan fasilitas(Notoatmodjo, 2. Pada penelitian praktik SADARI dapat dibedakan dalam tiga kategori yaitu praktik kurang, praktik cukup, dan praktik baik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa praktik SADARI pada responden yang menerapkannya berjumlah 17 . %), sedangkan selebihnya mengetahui namun tidak Pada penelitian Nurfitri . mengatakan bahwa bila seseorang tanpa pengetahuan yang baik tentang SADARI maka tidak dapat melakukan praktik SADARI dengan benar (Nurfitri. Adapun hambatan lain untuk tidak melakukan SADARI seperti, meskipun tingkat pengetahuan SADARI tinggi kurangnya persyaratan untuk melakukan pemeriksaan terus Ae menerus, dan tidak memiliki masalah pada payudara (Zongo et al. , 2. , alasan lain karena lupa (Kssal et al. , 2. ketakutan terhadap hal yang tidak diketahui (Haruna et al. , 2. , ketakutan mendeteksi anomali . ,3%), kurang keahlian . ,7%), dan kurangnya keberanian . ,8%) sebagai alasan tidak melakukan SADARI (Chimoyi Anne Kulundu, 2. Pada penelitian Khairunnisa . menjelaskan hasil penelitiannya tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada mahasiswi Fakultas Kedokteran UPN AuVeteranAy Jakarta. Pvalue = 0,014 menunjukkan adanya hubungan sikap dengan praktik pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) (Khairunnissa et al. , 2. Berdasarkan hasil uji korelasi kendal Tau-b diperoleh hasil ada hubungan antara dukungan keluarga dengan deteksi dini kanker payudara cara SADARI dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,906 dan nilai signidikan 0,000(Kasanah et al. , 2. Sejalan dengan penelitian I Gusti menyatakan hasil uji terhadap 124 responden, diperoleh hasil yang signifikan antara hubungan dukungan keluargadengan perilaku pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada remaja putri. Begitupun dengan penelitian Yunidar . terdapat hubungan peran keluarga dengan pengetahuan dan SADARI pada remaja putri (Puspitasari et al. , 2. Berdasarkan hasil dari peneliti diketahui responden yang melakukan praktik SADARI dengan kategori cukup menggambarkan adanya perlakuan yang acuh dari mereka, artinya informasi yang mereka ketahui dan dapatkan sekedar dijadikan informasi, tapi tidak sebagai gaya hidup. Pada penelitian Siagian Huriya A. H . mengatakan sebagian besar mahasiswi mempunyai pengetahuan yang sangat baik namun tidak dengan perilaku SADARI yang mendapatkann hasil yang buruk. Masih ada beberapa responden yang mengatakan tidak perlu melakukan dan mengaggap SADARI tidak berguna (Chimoyi Anne Kulundu, 2. Ini berarti menunjukkan bahwa upaya untuk memperluas tingkat pengetahuan mengenai SADARI sangatlah penting untuk menggugah kesadaran masyarakat (Siagian et al. , 2. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian (Deska et al. , 2019. dengan judul AuHubungan Pengetahuan Tentang Kanker Payudara Dengan Perilaku SADARIAy menyatakan bahwa praktik SADARI dalam kategori kurang. Pada penelitian Mohammed sekitar 37,4% respoden tidak melakukan Jurnal Kesehatan Marendeng | 217 SADARI dan 26,2% masih tidak mengetahui apa itu SADARI (Mohammed et al. , 2. Penelitian Omar. Abdullah et al . yang menyatakan 86,7% responden mengetahui SADARI, 94,8% menganggap penting, namun hanya 32,7% yang melakukannya (Omar et al. , 2. , sejalan dengan penelitian Ali Abdul Nazer . sebanyak 91% yang mengetahu tentang SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara, namun 24% praktik buruk (Ali et al. , 2. Hubungan Pengetahuan Dengan Praktik SADARI Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan praktik SADARI pada mahasiswa STIKes Marendeng Majene, yang ditunjukkan oleh nilai p=0,014 (<0,. Temuan ini memperkuat konsep bahwa pengetahuan merupakan salah satu determinan utama terbentuknya perilaku kesehatan preventif. Sebagian besar responden dengan pengetahuan kurang juga menunjukkan praktik SADARI yang kurang . ,8%). Hal ini menandakan bahwa keterbatasan pemahaman mengenai prosedur, tujuan, dan manfaat SADARI berdampak langsung pada rendahnya pelaksanaan deteksi dini kanker payudara. Menariknya, terdapat sebagian kecil responden yang memiliki pengetahuan baik namun praktiknya masih kurang . %). Fenomena ini mengindikasikan bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup untuk mendorong tindakan. Faktor psikologis seperti rendahnya kesadaran diri, kurangnya rasa urgensi, serta persepsi risiko yang rendah pada usia muda dapat menjadi penghambat praktik kesehatan preventif, meskipun informasi sudah dimiliki. Selain itu, faktor kebiasaan, motivasi pribadi, dan kepercayaan diri dalam melakukan teknik SADARI turut memengaruhi konsistensi perilaku. Hal ini sejalan dengan teori Health Belief Model yang menyatakan bahwa pengetahuan perlu diikuti persepsi kerentanan, keyakinan terhadap manfaat, dan dorongan internal agar dapat berubah menjadi tindakan Temuan bahwa hanya 13,3% responden dengan pengetahuan baik disertai praktik yang baik menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif dalam pendidikan kesehatan. Edukasi teoritis tanpa penguatan keterampilan praktik memungkinkan mahasiswa memahami konsep SADARI, tetapi belum mampu menginternalisasi keterampilan teknisnya. Di lingkungan akademik, pembelajaran berbasis praktik, pelatihan berulang, dan demonstrasi langsung sangat diperlukan untuk memastikan mahasiswa tidak hanya tahu, tetapi juga mampu dan mau melakukan SADARI secara mandiri dan rutin. Selain itu, proporsi responden yang memiliki pengetahuan cukup dan praktik cukup . %) menggambarkan bahwa tingkatan pengetahuan berbanding lurus dengan pola perilaku yang Namun, proporsi ini masih jauh dari optimal sehingga diperlukan strategi edukasi kesehatan yang tidak hanya fokus pada peningkatan kognitif, tetapi juga penguatan motivasi dan selfefficacy. Media pembelajaran interaktif, kampanye kesehatan, serta pengingat berkala dapat membantu meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam praktik SADARI. Jurnal Kesehatan Marendeng | 218 Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan merupakan langkah penting, namun harus diikuti intervensi yang mampu meningkatkan kesadaran, motivasi, dan kemampuan teknis mahasiswa. Pengetahuan yang tinggi tanpa kesadaran yang kuat tidak akan menghasilkan perubahan perilaku yang bermakna. Dengan demikian, strategi pendidikan promotif di perguruan tinggi kesehatan perlu menekankan integrasi materi edukasi dengan praktik langsung serta pendekatan psikososial untuk memperkuat komitmen mahasiswa dalam penerapan SADARI sebagai bagian dari upaya deteksi dini kanker payudara. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian dari Nurfitri E . menyatakan ada hubungan antara pengetahuan dengan praktik *deteksi dini kanker payudara dengan uji bivariat chi square adalah 0,000 (Nurfitri, 2. , didukung dengan penelitian Siagian HAH et al . sebagai metode deteksi dini kanker payudara, hasil menunjukkan adanya korelasi antara tingkat pengetahuan SADARI dengan perilaku SADARI pada mahasiswi (Siagian et al. , 2. Begitupun dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmatika . menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan penatalaksanaan SADARI Rahmatika . Ardhana EN . memaparkan bahwa pengetahuan dengan praktik SADARI yang diterima dengan baik maka akan berdampak pula pada praktik SADARI itu sendiri (Ardhana, 2. , sejalan dengan penelitian Astuti DY et. menyatakan meskipun sebagian besar remaja putri memiliki pengetahuan baik dan sikap positif terhadap kanker payudara,namun faktor Ae faktor tersebut tidak mempengaruhi praktik SADARI mereka (Astuty et al. , 2. Berbanding terbalik dengan penelitian Deska R . mendapatkan hasil tidak adanya hubungan yang signifikasi antara pengetahuan tentang kanker payudara dengan perilaku SADARI . eriksa payudara sendir. (Deska et al. , 2019. Begitupun dengan hasil peneltian ini tidak ada hubungan antara pengetahuan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dengan perilaku SADARI pada mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana tahun 2020 (Jetna et al. , 2. Meskipun terdapat perbandingan dari beberapa peneliti hal tersebut tidak menjadi masalah, tetapi dapat menjadi pengajaran bagi peneliti ataupun pembaca bahwa meskipun individu menerima banyak informasi tidak akan menjadi solusi jika tidak adanya kesadaran dari diri sendiri. Menurut peneliti semakin baik dan banyak informasi yang diterima maka mampu mempengaruhi pola pikir kita baik dalam bersikap maupun berperilaku yang positif hal ini pula yang menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga kesehatan dimulai dari perubahan gaya hidup yang positif. Melakukan Praktik SADARI menjadi alternatif deteksi dini kanker payudara. Penelitian menginterpretasikan hasil. Desain penelitian yang menggunakan pendekatan cross-sectional tidak memungkinkan peneliti untuk menentukan hubungan sebab-akibat antara variabel, melainkan hanya menggambarkan asosiasi pada saat pengukuran dilakukan. Selain itu, data diperoleh melalui kuesioner self-report, sehingga kemungkinan terjadinya bias respon, seperti bias sosial atau kecenderungan responden untuk memberikan jawaban yang dianggap benar, tidak dapat sepenuhnya dihindari. Jurnal Kesehatan Marendeng | 219 Penelitian ini juga dilaksanakan pada satu institusi pendidikan, sehingga temuan yang diperoleh mungkin belum sepenuhnya merepresentasikan mahasiswa di wilayah atau institusi lain. Oleh karena itu, generalisasi hasil penelitian ini harus dilakukan secara hati-hati, serta diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan sampel yang lebih luas dan desain yang lebih kuat untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. KESIMPULAN Penelitian pada mahasiswi di Kabupaten Majene menunjukkan adanya asosiasi bermakna antara tingkat pengetahuan dan praktik pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Mayoritas responden memiliki pengetahuan yang kurang dan praktik SADARI yang rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengetahuan yang lebih baik berkorelasi dengan praktik SADARI yang lebih baik pada populasi Mengingat desain potong lintang, kesimpulan tidak menyiratkan kausalitas. namun, hasil mendukung perlunya edukasi terstruktur untuk meningkatkan praktik SADARI yang benar dan UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada STIKes Marendeng Majene dan seluruh responden yang berpartisipasi. REFERENSI