JURNAL AWILARAS ISSN Daring: 2407-6627 | E-ISSN 2988-4098 | Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Desember 2024 Volume 11 Nomor 2 Pengembangan Keterampilan Bernyanyi Mahasiswa Difabel Nonfisik melalui Pelatihan Musik di Art Therapy Center Widyatama Yully Hidayah1. Soni Reffali2. Siti Khumairo3 Program Studi Seni Musik. Sekolah Tinggi Musik Bandung Jl. PH. Mustofa 55 Bandung. E-mail: yully. hidayah@stimb. id1 reffalisoni@gmail. com2 khumairositi@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses dan hasil pelatihan keterampilan bernyanyi pada mahasiswa difabel nonfisik di Art Therapy Center Widyatama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan observasi dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data utama. Penelitian ini menemukan bahwa pelatihan keterampilan bernyanyi dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengenalan teknik dasar, praktek bernyanyi, dan evaluasi performa. Meskipun terdapat kendala dalam proses pelatihan, seperti kesulitan adaptasi dengan metode pembelajaran, hasil menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengembangkan keterampilan vokal mereka secara signifikan. Temuan ini mendukung pentingnya adaptasi metode pengajaran sesuai dengan kebutuhan khusus siswa difabel untuk memaksimalkan potensi mereka dalam bidang seni musik. Kata kunci: pelatihan bernyanyi, difabel nonfisik, musik, pendidikan seni, pengajaran adaptif Abstract This study aims to describe the process and outcomes of singing skill training for non-physical disabled students at the Art Therapy Center Widyatama. The research used a descriptive qualitative method, with observation and interviews as the main data collection techniques. The study found that the singing skill training was conducted through several stages, including basic technique introduction, singing practice, and performance evaluation. Despite some challenges during the training process, such as difficulties in adapting to the learning methods, the results show that students were able to significantly develop their vocal skills. These findings support the importance of adapting teaching methods to meet the specific needs of disabled students to maximize their potential in the field of music Keywords: singing training, non-physical disabilities, music, arts education, adaptive teaching PENDAHULUAN Penelitian ini didasari oleh kebutuhan untuk mengembangkan keterampilan musikal pada mahasiswa difabel nonfisik di Art Therapy Center Widyatama, khususnya bagi mahasiswa yang mengambil keterampilan vokal. Bagi seorang penyanyi, teknik vokal seperti kontrol pernapasan, sensitivitas terhadap nada, penempatan suara, latihan pendengaran, dan artikulasi merupakan aspekaspek mendasar yang harus dikuasai. Menguasai teknik vokal dan panggung sangat penting bagi penyanyi untuk memastikan bahwa ide dan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik Jurnal Awilaras | 13 oleh pendengar. Ketika tampil di atas panggung, keterampilan lain yang penting untuk dipelajari oleh seorang penyanyi adalah teknik penguasaan panggung untuk menampilkan performa yang optimal. AySkill bernyanyi merupakan hal penting yang harus dimiliki dan diasah oleh para penyanyiAy (Bebbi Okatara, 2. Menurut Rosalina dan Dewi . alam Sahir, 2. Pelatihan adalah Auserangkaian aktivitas yang disusun secara terarah untuk meningkatkan keterampilan, pengalaman, keahlian, penambahan pengetahuan serta perubahan sikap seorang individuAy. Mempelajari teknik vocal dan penguasaan panggung membutuhkan waktu serta usaha yang tidak sedikit, terlebih bagi penyanyi difabel non fisik tentunya akan memerlukan lebih banyak waktu untuk menguasainya. Menurut Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, difabel adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Dalam klasifikasi tingkat intelektual, difabel nonfisik dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu low function, middle function, dan high function. Pelatihan yang diberikan kepada penyanyi difabel nonfisik ini tentunya disesuaikan dengan klasifikasi kemampuan mereka. Proses pembelajaran juga harus disesuaikan dengan perkembangan individu difabel nonfisik yang menerimanya. Oleh karena itu, diperlukan fasilitas yang mendukung, baik formal maupun nonformal, serta tenaga ahli yang mampu memberikan pendekatan dan pelatihan khusus untuk mereka. Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Art Therapy Center Widyatama adalah institusi yang dirancang khusus untuk memberikan pelatihan kerja kepada anak difabel fisik atau mental dengan kategori middle function hingga high function, yang merupakan lulusan SMALB atau SMA Inklusi Sistem pembelajaran di LPK ini menggunakan pendekatan audio, visual, visual motorik, dan bahasa, serta dilengkapi dengan fasilitas treatment psikologi untuk mendukung perkembangan peserta didik. LPK Art Therapy Center Widyatama memiliki tiga jurusan utama: LPK Jurusan Kriya: Fokus pada pelatihan keterampilan kerajinan tangan. LPK Jurusan Desain Grafis: Melatih peserta dalam keterampilan desain grafis digital. LPK Jurusan Musik: Menyediakan pelatihan dalam penciptaan lagu, jingle, produksi musik, dan pertunjukan musik. Program di jurusan musik memberikan kesempatan besar bagi difabel untuk bekerja sebagai musisi di era digital. LPK ini diakui sebagai LPK terbaik kedua se-Jawa Barat dan telah terakreditasi oleh Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung. Izin operasionalnya diberikan untuk jangka waktu tiga tahun, yang mencerminkan kebutuhan waktu yang lebih panjang dalam pelatihan peserta didik difabel Jurnal Awilaras | 14 dibandingkan dengan program pelatihan reguler yang biasanya hanya memerlukan waktu sekitar satu METODE Penelitian menggambarkan fenomena secara mendalam dan terperinci. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan para pengajar di Art Therapy Center Widyatama. Pendekatan wawancara semi-terstruktur memungkinkan fleksibilitas dalam menggali informasi, sehingga peneliti dapat menyesuaikan pertanyaan sesuai konteks yang muncul selama wawancara, tanpa kehilangan fokus utama penelitian. Selain itu, dilakukan juga observasi langsung pada sesi pelatihan bernyanyi. Teknik observasi ini bertujuan untuk mencatat secara langsung aktivitas, metode pelatihan, interaksi antara pengajar dan siswa, serta respons siswa selama sesi pelatihan berlangsung. Observasi memberikan data visual dan perilaku yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui wawancara. Pendekatan kualitatif ini dipilih karena mampu memberikan gambaran yang mendalam tentang proses pelatihan bernyanyi yang diterapkan di Art Therapy Center Widyatama. Fokus penelitian tidak hanya pada metode pelatihan yang digunakan, tetapi juga pada bagaimana siswa merespons pelatihan tersebut dan bagaimana keterampilan mereka berkembang selama mengikuti Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan yang komprehensif mengenai efektivitas pelatihan bernyanyi sebagai bagian dari terapi seni di pusat tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Siswa Difabel Nonfisik Menurut buku Pendidikan dan Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, istilah autism berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti aliran. Autisme berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dirinya sendiri. Ada pula yang menyebutkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan yang mencakup bidang komunikasi, interaksi, dan perilaku. Dalam buku ini dijelaskan pula bahwa difabel berdasarkan tingkat intelektualnya dapat dibagi menjadi tiga kategori: low function, middle function, dan high function. Difabel low function memiliki IQ 25-39, tidak bisa mengurus diri sendiri, dan tidak mampu Mereka memerlukan perawatan sepanjang hidup karena tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Difabel middle function memiliki IQ 36-51 dan kesulitan dalam belajar akademik. Mereka dapat dilatih untuk mengurus diri sendiri, seperti makan, berpakaian, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi terbatas pada aktivitas sehari-hari. Jurnal Awilaras | 15 c. Difabel high function memiliki IQ 52-68 dan masih bisa belajar membaca, menulis, serta berhitung sederhana. Meski tidak bisa mengikuti sekolah biasa, mereka tetap bisa berkembang melalui pendidikan dan bimbingan yang baik sehingga dapat memperoleh penghasilan sendiri. Terdapat beberapa karakteristik yang umum pada anak autis menurut Atmaja . 9, halaman 200. , di antaranya: Masalah di bidang komunikasi Masalah di bidang interaksi sosial Masalah di bidang sensoris Masalah di bidang perilaku Masalah di bidang emosi Masalah di bidang pola bermain Pelatihan Menurut Rosalina dan Dewi . alam Sahir, 2. pelatihan adalah Auserangkaian aktivitas yang disusun secara terarah untuk meningkatkan keterampilan, pengalaman, keahlian, penambahan pengetahuan serta perubahan sikap seorang individuAy. Para pakar pelatihan biasanya melaksanakan pelatihan dengan menggunakan langkah-langkah tersendiri berdasarkan dari model yang mereka kembangkan sesuai dengan kebutuhan. Berikut tahapan-tahapan GagneAos Nine Events of Instructions oleh Robert M. Gagne yang telah diterjemahkan dan dijelaskan kembali dalam buku Model-Model Pelatihan Dan Pengembangan SDM, yaitu di antaranya: Mendapatkan Perhatian Beberapa cara untuk mengatur minat peserta antara lain dengan memunculkan poin menarik dari topik yang dibahas, menstimulus visual yang menarik untuk dilihat, mengajukan pertanyaan yang tidak mereka duga, dan lain-lain. Langkah ini dilakukan untuk dapat memastikan bahwa peserta memusatkan perhatian dengan keadaan pikiran yang benar. Memberitahu Peserta Mengenai Tujuan Hal ini penting dilakukan untuk mendapatkan perhatian dari orang yang mendengarkan. Hal ini membuat peserta siap untuk menerima informasi dan memprediksi apa yang dapat dipahami pada Merangsang Ingatan Pembelajaran Sebelumnya Setelah mendapatkan perhatian dari peserta dan menjelaskan tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya adalah mengarahkan dan menggali pengetahuan yang telah disampaikan sebelumnya. Jurnal Awilaras | 16 Tujuannya adalah membuat peserta mengingat apa yang sudah diketahui untuk memberikan Menyajikan Materi Langkah selanjutnya adalah menyajikan materi yang perlu diberikan kepada para peserta berdasarkan basis pengetahuan sebelumnya. Pemateri harus berusaha untuk memberikan materi dengan menggunakan berbagai metode penyampaian, seperti media audiovisual, ceramah, dan praktik langsung bila memungkinkan. Memberikan Bimbingan Belajar Sebelum dan selama memberikan materi, ada baiknya memberi contoh-contoh hasil yang sesuai. Dengan cara ini, tidak ada kebingungan mengenai apa yang dianggap dapat diterima dengan apa yang berada tidak. Misalnya, jika peserta diminta untuk menulis esai, ada baiknya diberikan contoh seperti apa esai yang baik untuk tujuan pembelajaran. Memberi contoh tentang apa yang tidak boleh dilakukan adalah cara terbaik untuk memberikan kontras, sehingga kesalahan dapat Aspek lain dari langkah ini termasuk menyediakan segala sesuatu yang membantu pemateri untuk dapat mencapai tujuan, yaitu agar para peserta pelatihan memahami Memunculkan Performa (Latiha. Pada tahapan ini peserta diminta untuk mempraktikkan atau mendemonstrasikan pengetahuan yang baru diperolehnya dan diberikan penilaian. Tujuannya adalah untuk mengetahui kinerja, yaitu dengan memberikan peserta kesempatan untuk menunjukkan kepada pemateri bahwa mereka sudah melakukan tugas dan mempelajari apa yang sudah diajarkan. Langkah penting ini memungkinkan pendidik mengukur keberhasilannya dan membiarkan peserta untuk berlatih. Memberikan Umpan Balik Secara umum, umpan balik harus dipersonalisasi, konstruktif, positif, dan langsung. Ada beberapa jenis tanggapan dengan tujuan khusus seperti umpan balik konfirmasi, umpan balik evaluatif, umpan balik perbaikan, dan umpan balik deskriptif atau analitik. Umpan balik konfirmasi Memberitahu peserta pelatihan apakah cara penyelesaian tugas sudah sesuai dengan panduan yang diberikan, tanpa mengeksplorasi seberapa baik mereka melakukannya atau apa yang mungkin perlu dikerjakan. Umpan balik evaluatif Memungkinkan peserta mengetahui penilaian yang mereka dapatkan tentang kualitas tugas tanpa rinci tentang bagaimana mereka dapat melakukannya dengan lebih baik. Umpan balik perbaikan Jurnal Awilaras | 17 Jenis umpan balik yang dirancang untuk menyesuaikan garis pemikiran atau tindakan peserta pelatihan sehingga dapat menemukan jawaban sendiri tanpa memberi tahu jawaban sebenarnya secara langsung. Umpan balik deskriptif atau analitik Dirancang untuk meningkatkan kinerja peserta pelatihan dengan menawarkan bantuan tambahan, termasuk langkah tindakan tepat yang harus diambil. Menilai Kinerja Setelah tingkat pemahaman peserta pelatihan diketahui serta telah diberikan umpan balik, pemateri dapat melakukan penilaian komprehensif untuk mengukur sejauh mana tujuan telah Satu kinerja tidak dapat memberikan data yang cukup untuk mengukur keseluruhan pengetahuan dan kemampuan. Namun, hal ini akan memberikan wawasan yang cukup untuk mengukur seberapa baik peserta pelatihan sudah mempelajari dan menyimpan informasi yang diberikan selama pembelajaran. Meningkatkan Retensi Transfer Setelah mengembangkannya dan meningkatkan retensi serta transfer. Retensi menyiratkan kemampuan peserta untuk menginternalisasi kemudian mengingat apa yang telah dipelajari, sedangkan transfer menggambarkan kapasitas untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan di dunia nyata. Metode Sensasi Menurut Nurfarina . alam Husni, 2. metode sensasi adalah Aumetode belajar alternatif yang ditemukan pada tahun 2012 dengan memanfaatkan kepekaan anak-anak autis terhadap visual, bunyi atau gerak sebagai mediator untuk mengembangkan kemampuan respon komunikasi melalui proses kreatif. Kepekaan anak-anak autis terhadap visual, bunyi atau gerak merupakan hal paling natural yang diperoleh melalui panca indera atau sensori dari kejadian sehari-hari di lingkunganAy. Metode sensasi dimulai dengan mengenali stimulus natural pada anak. Jika stimulus tersebut tepat, maka stimulus bentukan dapat dirancang dengan benar. Sesuai dengan karakter anak yang peka terhadap audio atau visual. Untuk itu, langkah metode sensasi dalam membangun respon komunikasi adalah sebagai berikut: Mengidentifikasi kepekaan sensori anak melalui hal-hal auditif atau visual. Wilayah Belajar: Mengidentifikasi stimulus natural anak melalui film, iklan, suara, dan Stimulus natural merupakan dasar untuk membangun stimulus bentukan. Keduanya dikolaborasi menjadi proses belajar. Sebagai contoh, objek gambar dijadikan sebagai media stimulus bentukan. Menggambar tampilan objek sekaligus menyebutkan nama objek ditujukan untuk membangun respon komunikasi dan kognisi anak, dan anak tersebut yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Jurnal Awilaras | 18 c. Wilayah Komunikasi: Mengidentifikasi komunikasi internal dan eksternal dengan mengenali unsur-unsurnya. Unsur-unsur tersebut meliputi komunikasi internal dan komunikasi Komunikasi internal adalah suatu penyampaian pesan terhadap suatu individu atau individu-individu di dalam kelompok untuk suatu kepentingan tertentu. Komunikasi eksternal adalah komunikasi yang terjadi dengan diluar dari pribadi seperti individu dalam sebuah kelompok dengan individu lain dalam kelompok lain (Kurniasih, 2. Teknik-Teknik Vokal Menurut Sihombing . alam Okatara, 2. teknik vokal adalah teknik-teknik yang digunakan oleh penyanyi dalam membawakan sebuah karya musik vokal, yang bertujuan untuk memperoleh produksi suara yang baik sebagai media penyampaian gagasan musik sehingga dapat menghasilkan sajian vokal yang dapat menyampaikan ide-ide musik secara tepat dan indah. Untuk dapat memproduksi vokal dengan baik, kita harus mempelajari beberapa unsur dalam teknik vokal dengan baik dan benar. Berikut penjelasan unsur-unsur teknik vokal seperti pernapasan, artikulasi, frasering, resonansi, intonasi, vibrato, dan improvisasi yang penulis ambil dari buku Enam Jam Jago Teknik Vokal. Pernapasan: Pernapasan yang baik sangat penting dalam teknik vokal. Pernapasan yang tepat dapat membantu menghasilkan suara yang stabil dan kuat. Pernapasan yang baik juga dapat membantu mengurangi kelelahan saat bernyanyi. Artikulasi: Artikulasi adalah kemampuan untuk mengucapkan kata-kata dengan jelas dan tepat. Artikulasi yang baik dapat membantu meningkatkan kualitas suara dan membuatnya lebih mudah dipahami oleh pendengar. Frasering: Frasering adalah kemampuan untuk mengatur ritme dan tempo dalam bernyanyi. Frasering yang baik dapat membantu menciptakan suasana yang tepat dalam lagu dan membuatnya lebih menarik. Resonansi: Resonansi adalah kemampuan untuk menghasilkan suara yang kaya dan beragam. Resonansi yang baik dapat membantu meningkatkan kualitas suara dan membuatnya lebih Intonasi: Intonasi adalah kemampuan untuk menghasilkan nada yang tepat dalam bernyanyi. Intonasi yang baik dapat membantu meningkatkan kualitas suara dan membuatnya lebih mudah dipahami oleh pendengar. Vibrato: Vibrato adalah kemampuan untuk menghasilkan suara yang bergetar dan dinamis. Vibrato yang baik dapat membantu meningkatkan kualitas suara dan membuatnya lebih menarik. Improvisasi: Improvisasi adalah kemampuan untuk menciptakan lagu atau melodi secara spontan. Improvisasi yang baik dapat membantu meningkatkan kreativitas dan membuatnya lebih menarik. Jurnal Awilaras | 19 Pembahasan Mahasiswa dengan disabilitas mental atau autisme yang menjadi subjek dalam penelitian ini memiliki kategori autisme middle to high function, yang mampu berkomunikasi dengan pengajar dan mengikuti instruksi dengan baik dan mahasiswa lain dengan kategori autisme middle to low function, yang mengalami kesulitan berkomunikasi. Proses pelatihan mahasiswa semester akhir jurusan seni musik di Art Therapy Center Widyatama dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Data yang penulis ambil adalah hasil observasi langsung mengenai proses pelatihan yang dilakukan selama empat kali pertemuan dalam satu minggu di Art Therapy Center Widyatama serta wawancara yang penulis lakukan dengan empat pengajar yang mengajar mahasiswa semester akhir. Berikut hasil penelitian proses pelatihan, di antaranya: Tahap Persiapan Pada tahapan persiapan, pengajar memberikan pemanasan vokal melalui video berjudul Au5 Minute Vocal Warm UpAy yang diunggah oleh kanal Jacobs Vocal Academy di website YouTube. Pengajar memberikan contoh pemanasan humming dengan menyentuh hidung agar mahasiswa dapat merasakan getarannya serta menjelaskan apa itu dengung melalui video mangkuk yang didengungkan dengan sendok. Setelahnya, pengajar bertanya kepada mahasiswa mengenai lagu apa yang ingin dijadikan bahan latihan untuk hari itu. Hal ini disesuaikan dengan metode sensasi bahwa untuk mengembangkan kemampuan dan respon anak-anak autis maka perlu merangsang stimulus natural pada anak agar dapat membuat stimulus bentukan. Stimulus natural yang dirangsang oleh pengajar, yaitu dengan memberikan lagu yang disukai oleh mahasiswanya. Kemudian stimulus bentukan yang dilakukan adalah dengan menggunakan lagu yang disukai tersebut sebagai bahan agar siswa dan siswi tertarik dan mau mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal tersebut membantu siswa lebih terlibat dan termotivasi karena mempelajari apa yang mereka sukai. Sebelum melakukan sesi latihan, pengajar meminta mahasiswa untuk menonton video klip dari lagu yang dipilih tersebut agar mahasiswa mampu memahami apa yang ingin disampaikan oleh penyanyi dari lagunya. Pengajar mengarahkan mereka untuk berlatih menyanyikan lagu tersebut dengan karaoke yang terdapat pada website YouTube. Bersamaan dengan itu, pengajar juga mengajarkan teknik vokal artikulasi untuk melatih siswa mengucapkan lirik dengan jelas. Untuk menjaga fokus dari mahasiswa berkategori autism middle to low function, pengajar menggunakan sistem reward dan punishment. Penggunaan suara blender sebagai punishment didasarkan pada teori yang menyatakan bahwa anak autis sering kali sensitif terhadap suara keras. Tahap Pelatihan Jurnal Awilaras | 20 Pengajar mulai melatih vokal dengan memainkan karaoke dari lagu pilihan tersebut melalui website YouTube. Beberapa kali pengajar mengubah key dari karaoke yang dinyalakan agar mahasiswa mampu menangkap nada yang tepat sehingga dapat langsung menyanyikan dalam key yang benar. Hal tersebut termasuk ke dalam pelatihan teknik intonasi. Terdapat tantangan dalam lagu pilihan tersebut, yaitu perbedaan dinamika yang cukup signifikan dari verse ke chorus. Pengajar mengarahkan mahasiswa untuk lebih mengeluarkan power suaranya ketika bernyanyi namun tetap rileks melalui teknik pernapasan yang benar. Gambar 1 Tahap Pelatihan Sumber: Dokumentasi Pribadi . Tahap Evaluasi Evaluasi dilakukan setiap akhir pelatihan untuk mengukur kemajuan siswa. Berkaitan dengan teori tahapan pelatihan, pengajar memberikan umpan balik positif dan koreksi yang diperlukan. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mengetahui area mana yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara Salah satu contohnya adalah salah satu mahasiswa dievaluasi atas penggunaan power suaranya yang kurang optimal, juga bagaimana mahasiswa lain mendapatkan arahan untuk lebih fokus selama sesi pelatihan. Pada tahap ini pula, salah seorang mahasiswa mendapatkan kesulitan ketika menyanyikan beberapa bagian lagu yang seharusnya menggunakan suara yang Jurnal Awilaras | 21 lantang, namun mahasiswa masih menggunakan suara falsetto sehingga menyebabkan perbedaan timbre suara. Evaluasi juga memungkinkan pengajar untuk menilai efektivitas metode pengajaran yang digunakan, sehingga mereka dapat menyesuaikan strategi dan pendekatan untuk meningkatkan kualitas pelatihan di masa depan. Pembahasan ini menunjukkan bagaimana pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa difabel dapat membantu mereka berkembang dan mencapai potensi mereka dalam bidang Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa difabel nonfisik di Art Therapy Center Widyatama mengalami peningkatan yang signifikan dalam keterampilan bernyanyi setelah mengikuti program Tahapan pelatihan yang melibatkan pengenalan teknik dasar, praktek, dan evaluasi performa, terbukti efektif dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan vokal mereka. Kendala yang dihadapi selama proses pelatihan termasuk adaptasi terhadap metode pengajaran dan hambatan psikologis siswa, namun hal ini dapat diatasi dengan pendekatan pengajaran yang fleksibel dan adaptif. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan keterampilan bernyanyi yang adaptif dan terstruktur memiliki dampak positif yang signifikan terhadap pengembangan keterampilan vokal mahasiswa difabel nonfisik di Art Therapy Center Widyatama. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun terdapat tantangan dalam proses adaptasi metode pengajaran, siswa mampu mengembangkan keterampilan musik mereka secara signifikan, baik dalam hal teknik vokal, ekspresi, maupun kreativitas. Temuan ini menegaskan bahwa pengajaran adaptif dan inklusif dapat memberikan hasil yang berarti dalam pendidikan musik, terutama untuk siswa dengan kebutuhan khusus, karena dapat membantu meningkatkan keterampilan, kepercayaan diri, dan kesejahteraan mereka. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan yang adaptif dan terstruktur dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa untuk mengatasi tantangan dan mengembangkan keterampilan yang lebih baik dalam menghadapi situasi yang tidak terduga. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan bahwa pendekatan pelatihan keterampilan bernyanyi yang adaptif dan terstruktur dapat dijadikan sebagai model yang efektif dalam pendidikan musik untuk siswa dengan kebutuhan khusus. Jurnal Awilaras | 22 DAFTAR PUSTAKA