JESE Journal of Elementary School Education Volume 1, Nomor 1, Juni 2024, Hal. 50-59 PERAN GURU TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA MELALUI GERAKAN LITERASI SEKOLAH PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR Sasi Kirana Sugi Wiwikananda1, Diemas Aditya Briansyah2, 1 Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia 1 2 e-mail: sasikiranasw@gmail.com. diemasbriansyah920@gmail.com 2 ABSTRACT The reading ability of students in primary schools in Indonesia is still relatively low. One of the main causes is the lack of reading literacy movement which is a supporting factor for successful learning, especially in elementary schools. This study aims to describe the role of teachers in improving reading skills through the school literacy movement in grade III students of Karangsari State Elementary School. The research method used is qualitative, by collecting data through observation, interviews, and documentation. The results showed that the reading literacy movement initiated by teachers was able to improve reading skills and enrich students' vocabulary. Teachers play an important role in directing and guiding learners to be more active in literacy activities, which in turn improves their knowledge and ability to read. Thus, implementing the reading literacy movement in primary schools requires active involvement from teachers to achieve optimal results. Keywords: teacher's role, students' reading skills, school literacy movement. ABSTRAK Kemampuan membaca peserta didik di sekolah dasar di Indonesia masih tergolong rendah. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya gerakan literasi membaca yang merupakan faktor penunjang keberhasilan pembelajaran, khususnya di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dalam meningkatkan keterampilan membaca melalui gerakan literasi sekolah pada peserta didik kelas III SD Negeri 1 Banyuning. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan literasi membaca yang diinisiasi oleh guru mampu meningkatkan keterampilan membaca dan memperkaya kosakata peserta didik. Guru berperan penting dalam mengarahkan dan membimbing peserta didik untuk lebih aktif dalam kegiatan literasi, yang pada gilirannya meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam membaca. Dengan demikian, implementasi gerakan literasi membaca di sekolah dasar memerlukan keterlibatan aktif dari guru untuk mencapai hasil yang optimal. Kata Kunci: peran guru , keterampilan membaca peserta didik, gerakan literasi sekolah. Wiwikananda dan Briansyah, Keterampilan Membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah PENDAHULUAN Pendidikan memainkan peran krusial dalam kehidupan manusia, terutama dalam mempengaruhi dan mendukung perkembangan aspek kepribadian serta kehidupan individu. Di Indonesia, guru memegang peran sentral dalam memajukan pendidikan dan membentuk generasi penerus bangsa. Guru, sebagai pendidik, memiliki pengaruh besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan perkembangan generasi muda di sekolah(Rahmatun Hidayah et al., 2023). Kualitas pendidikan yang diterima peserta didik sangat bergantung pada kualitas guru yang mengajar mereka. Seperti yang diungkapkan oleh (Aeti et al., 2023), "Terselenggaranya pendidikan bermutu, sangat ditentukan oleh guru-guru yang bermutu pula," yakni guru yang mampu melaksanakan tugas dengan tepat, bertanggung jawab, dan memadai. Peran guru mencakup tiga aspek utama: sebagai pendidik, pengajar, dan pembimbing. Sebagai pendidik, guru harus memiliki kepribadian berkualitas yang mencerminkan tanggung jawab, kewibawaan, kemandirian, dan kedisiplinan. Sebagai pengajar, guru harus mampu menjelaskan materi pelajaran dengan baik, mendefinisikan konsep secara jelas, mengajukan pertanyaan yang menantang, memberikan tanggapan terhadap aktivitas peserta didik, mendengarkan secara aktif, dan membangun kepercayaan diri siswa. Terakhir, sebagai pembimbing, guru bertanggung jawab untuk mendampingi dan mengarahkan pertumbuhan serta perkembangan peserta didik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik(Jariah & Marjani, 2019). Menjalankan ketiga peran ini secara optimal, guru dapat meningkatkan mutu pendidikan dan membantu peserta didik berkembang secara menyeluruh. Selain itu, peran guru sangat penting dalam membentuk kebiasaan membaca pada peserta didik, khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD). Kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini memberikan dampak positif terhadap kecerdasan dan perilaku siswa, serta meningkatkan pengetahuan dan memperkaya kosakata mereka(Asnewastri et al., 2023). Membaca adalah kegiatan memahami makna, isi, dan arti dari teks atau bacaan. (Kurniawan & Putri, 2020) menyatakan bahwa membaca adalah proses yang digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan dan informasi yang ingin disampaikan penulis melalui kata-kata atau bahan tulis. Dengan membaca, peserta didik dapat memperoleh informasi penting, menambah ilmu pengetahuan, dan mendukung proses belajar mengajar secara keseluruhan. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting dalam mendorong dan membimbing peserta didik untuk membiasakan diri membaca, sehingga mereka dapat memaksimalkan potensi akademik dan personal mereka. Implementasi gerakan literasi membaca di sekolah dasar memerlukan keterlibatan aktif dari guru untuk mencapai hasil yang optimal, membantu peserta didik menjadi pembelajar yang lebih baik dan individu yang lebih JESE: Journal of Elementary School Education berpengetahuan.Kemampuan membaca dan literasi di Indonesia masih dikategorikan rendah(Ramadhanti et al., 2023). Berdasarkan beberapa hasil survei lembaga internasional seperti PISA 2018 (Programme for International Student Assessment), kemampuan literasi peserta didik Indonesia mengalami penurunan dibandingkan dengan hasil PISA tahun 2015. Menurut (Huljannah, 2020), pada tahun 2015, kemampuan membaca di Indonesia berada pada peringkat 74 dari 79 negara. Data statistik UNESCO 2012 juga menunjukkan bahwa indeks minat membaca di Indonesia hanya mencapai 0,001, yang berarti dari 1.000 orang, hanya satu orang yang memiliki minat membaca. Rendahnya kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar di Indonesia disebabkan oleh kurangnya gerakan literasi membaca sebagai penunjang keberhasilan pembelajaran, khususnya di Sekolah Dasar(Anjani et al., 2019). Guna meningkatkan minat serta keterampilan membaca peserta didik, pemerintah mengeluarkan kebijakan penumbuhan budi pekerti peserta didik melalui tujuh kebiasaan, salah satunya adalah gerakan literasi sekolah(Purwo, 2020). Kebijakan ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai.” Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan minat baca peserta didik dan keterampilan membaca agar pengetahuan mereka dapat dikuasai dengan baik. Namun, berdasarkan hasil observasi, ditemukan masalah mengenai kemampuan membaca pada peserta didik kelas III SD Negeri 1 Banyuning. Kemampuan membaca peserta didik kelas III masih sangat rendah; mereka belum bisa membaca secara lancar dan harus dieja, bahkan ada yang belum bisa membaca sama sekali dan memerlukan bantuan guru kelas. Minimnya penguasaan perbendaharaan kosakata menyebabkan kesulitan dalam memahami bacaan. Kebanyakan dari peserta didik masih menggunakan bahasa daerah mereka untuk berkomunikasi, sehingga perbendaharaan dan penguasaan kosakata dalam pembelajaran bahasa Indonesia masih rendah. Penelitian ini perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana peran guru terhadap keterampilan membaca melalui gerakan literasi sekolah pada peserta didik kelas III SD Negeri 1 Banyuning. Implementasi gerakan literasi sekolah yang lebih efektif, diharapkan peserta didik dapat meningkatkan kemampuan membaca dan literasi mereka. Peran guru sangat krusial dalam mengarahkan dan mendukung siswa dalam kegiatan literasi, termasuk memberikan motivasi, menyediakan materi bacaan yang menarik, serta mengajarkan strategi membaca yang efektif(Safitri & Dafit, 2021). Guru harus berperan aktif dalam mendampingi siswa, memberikan bimbingan yang diperlukan, dan memastikan setiap siswa terlibat dalam kegiatan membaca. Melalui upaya yang berkesinambungan dan terencana dengan baik, diharapkan kemampuan membaca dan literasi peserta didik akan meningkat, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia secara keseluruhan. Vol. 1, No.1, Juni 2024, Hal. 50-59 52 Wiwikananda dan Briansyah, Keterampilan Membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah Dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah, sekolah, dan masyarakat, juga diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan budaya membaca(Juanda et al., 2023). METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, yang bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan secara objektif, sistematis, dan akurat. Penelitian kualitatif, seperti yang dijelaskan oleh (Sugiyono, 2013), dilakukan untuk memahami masalah manusia dan sosial secara mendalam, berbeda dengan penelitian kuantitatif yang cenderung mendeskripsikan bagian permukaan dari suatu realitas. (Sugiyono, 2013) menambahkan bahwa penelitian kualitatif merupakan bentuk penelitian yang paling mendasar, digunakan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi di lapangan, baik fenomena buatan manusia maupun fenomena alami. Berdasarkan penjelasan tersebut, penelitian kualitatif fenomenologi dapat disimpulkan sebagai strategi penelitian yang meneliti hakikat pengalaman manusia tentang suatu fenomena tertentu. Menurut (Eka Purwanti, 2020), dalam proses penelitian ini, peneliti perlu mengesampingkan pengalaman pribadi mereka agar dapat memahami pengalaman partisipan dengan lebih objektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan kosakata sebagai bagian dari literasi membaca peserta didik kelas III SD Negeri 1 Banyuning, pada 13 Mei hingga 10 Juni 2024 di SD Negeri 1 Banyuning. Sampel penelitian ini meliputi kepala sekolah, guru kelas III, dan 20 peserta didik kelas III SD Negeri 1 Banyuning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran guru terhadap keterampilan membaca peserta didik serta mendapatkan informasi mengenai tingkat ketertarikan peserta didik terhadap membaca. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Melalui wawancara, peneliti mengumpulkan informasi langsung dari kepala sekolah, guru, dan peserta didik, sementara melalui observasi, peneliti mengamati langsung proses pembelajaran di kelas untuk melihat bagaimana keterampilan membaca dan penguasaan kosakata peserta didik dikembangkan dan diterapkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang pengaruh peran guru dalam meningkatkan keterampilan membaca dan penguasaan kosakata peserta didik. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam upaya meningkatkan literasi membaca di sekolah dasar, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan program literasi di masa mendatang. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pemahaman akademik tentang literasi membaca, tetapi juga memberikan manfaat praktis bagi peningkatan kualitas pendidikan di SD Negeri 1 Banyuning khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Melalui JESE: Journal of Elementary School Education pendekatan kualitatif fenomenologi, penelitian ini diharapkan mampu menggali secara mendalam pengalaman dan pandangan partisipan terkait literasi membaca, sehingga dapat memberikan solusi yang lebih efektif dan aplikatif dalam upaya peningkatan literasi di tingkat sekolah dasar. Peran guru, sebagai pendidik, pengajar, dan pembimbing, menjadi fokus utama dalam penelitian ini, mengingat pentingnya peran mereka dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung pengembangan keterampilan membaca peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, ada beberapa peran kepala sekolah dan guru terhadap keterampilan membaca melalui gerakan literasi sekolah peserta didik kelas III SD Negeri 1 Banyuning. Peran Kepala Sekolah Peran kepala sekolah dalam menumbuhkan budaya literasi membaca di sekolah sangat krusial dan mencakup beberapa strategi utama yang didukung oleh berbagai teori pendidikan. Pertama, menggiatkan para peserta didik untuk gemar membaca buku di setiap pojok baca yang ada di setiap sudut kelas merupakan langkah strategis. Menurut (Dwi Aryani & Purnomo, 2023), lingkungan yang kaya akan stimulasi kognitif dapat meningkatkan perkembangan anak. Pojok baca di setiap sudut kelas menyediakan lingkungan yang mendukung siswa untuk terlibat dalam aktivitas membaca secara mandiri dan rutin. Hal ini tidak hanya meningkatkan akses terhadap bahan bacaan tetapi juga menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar dan mengeksplorasi. Kedua, menyiapkan berbagai varian buku-buku bacaan di setiap kelas adalah aspek penting lainnya. Menurut teori literasi emergent, akses ke beragam buku sejak dini dapat menumbuhkan minat dan keterampilan literasi pada anak-anak. Buku-buku yang bervariasi tidak hanya membantu siswa menemukan topik yang menarik minat mereka tetapi juga memperluas wawasan dan pemahaman mereka tentang dunia. Keberagaman bahan bacaan juga penting untuk mendukung diferensiasi pembelajaran, di mana setiap siswa dapat menemukan buku yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan minat mereka. Ketiga, memberikan keleluasan kepada guru kelas untuk ikut aktif mengajarkan dan mendidik para peserta didik untuk gemar membaca adalah langkah strategis yang efektif. Menurut (Wati et al., 2023) otonomi dalam pengajaran dapat meningkatkan motivasi intrinsik guru, yang pada gilirannya mempengaruhi efektivitas pengajaran mereka. Dengan memberi guru kebebasan untuk mengembangkan dan menerapkan strategi literasi yang kreatif, kepala sekolah mendorong inovasi dan keterlibatan aktif guru dalam proses literasi. Guru yang termotivasi dan memiliki kebebasan untuk berinovasi cenderung lebih efektif dalam menanamkan kebiasaan membaca pada siswa. Vol. 1, No.1, Juni 2024, Hal. 50-59 54 Wiwikananda dan Briansyah, Keterampilan Membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah Peran kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan juga mencakup menciptakan visi dan budaya sekolah yang mendukung literasi. Menurut (Siahaan & Meilani, 2019) pemimpin yang inspiratif dan visioner dapat membawa perubahan positif dalam organisasi. Kepala sekolah yang aktif mempromosikan pentingnya membaca dan memberikan dukungan yang diperlukan menciptakan lingkungan sekolah yang menghargai literasi sebagai bagian integral dari pendidikan. Dengan mendukung guru dan siswa, serta menyediakan sumber daya yang memadai, kepala sekolah memainkan peran penting dalam menciptakan ekosistem literasi yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, peran kepala sekolah dalam mendorong budaya membaca di sekolah dasar sangat signifikan dan memerlukan pendekatan yang komprehensif. Menggiatkan membaca di pojok baca, menyediakan berbagai varian buku, dan memberi keleluasaan kepada guru untuk berinovasi adalah langkah-langkah yang saling melengkapi dan mendukung. Dengan memanfaatkan teori-teori pendidikan yang relevan, kepala sekolah dapat secara efektif meningkatkan kemampuan literasi siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk pengembangan keterampilan membaca. Ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan di sekolah tetapi juga membantu siswa mengembangkan kebiasaan membaca yang akan bermanfaat sepanjang hidup mereka. Peran Guru Sedangkan peran guru terhadap keterampilan membaca melalui gerakan literasi sekolah meliputi : (1) Harus membangun dan menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, serta mensukseskan para peserta didik dapat lancar, serta aktif dalam kegiatan membaca; (2) Guru mengajak para peserta didik untuk membaca buku literasi non pelajaran selama 15 menit terlebih dahulu, karena dengan membaca buku literasi non pelajaran 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung dapat membantu peserta didik lebih cepat menangkap informasi yang wawasan baru, selain itu dengan membaca literasi non pelajaran selama 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung, dapat memperbanyak kosakata dan perbendaharaan kata peserta didik, meningkatkan daya ingat, dan akan lebih cepat menyerap ilmu saat proses pembelajaran dimulai; (3) Guru mengajak para peserta didik membaca buku non pelajaran seperti buku cerita dongeng, fable, dan lain-lain. (4) Sebelum memulai pembelajaran guru seperti biasa akan mengulas materi yang telah dipelajari pada hari sebelumnya untuk dikaitkan dengan materi yang akan dipelajari pada hari tersebut. Selanjutnya peserta didik akan mendengarkan guru membaca materi terlebih dahulu, setelah itu guru akan menunjuk peserta didik untuk membaca materi pembelajaran dalam buku tematik satu persatu. (5) Dalam pendekatan dengan peserta didik, guru akan memahami karakter peserta didik satu persatu. Dengan begitu guru akan dapat mengetahui JESE: Journal of Elementary School Education karakter peserta didik yang keterampilan dasarnya sudah baik atau masih rendah ; Saat peneliti melakukan observasi, guru menggunakan berbagai metode pembelajaran dikelas. Metode yang digunakan guru kelas III SD Negeri 1 Banyuning saat pembelajaran membaca adalah metode mengeja buku, metode pengenalan kata, dan metode drill peserta didik. Metode drill peserta didik adalah suatu metode pembelajaran mengajar membaca yang dilakukan secara lebih rutin dan lebih teratur agar peserta didik memiliki keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari. Metode drill diterapkan oleh guru kelas III SD Negeri 1 Banyuning kepada peserta didik yang masih terhambat dalam keterampilan membaca, biasanya metode drill diterapkan sebelum memulai pembelajaran dan setelah kegiatan pembelajaran selesai ( sepulang sekolah ). Selain dalam pembelajaran dikelas, guru juga berperan sebagai organisator, mediator, fasilitator, motivator dan evaluator. Sebagai organisator adalah guru membantu peserta didik untuk menemukan buku bacaan yang tepat di baca oleh peserta didik. Terdapat pojok baca di dalam kelas, yang memudahkan untuk mendapatkan bahan bacaan sambil belajar dan juga dapat menumbuhkan minat baca. Buku-buku yang tersedia di ruang baca kelas berkisar dari fiksi hingga non-fiksi. Siswa dibebaskan dalam memilih bacaan sesuai minat dan bakat dan diarahkan oleh guru. Guru sebagai mediator adalah dalam proses literasi guru ikut berperan untuk ikut membantu menjelaskan bacaan yang kurang dipahami oleh peserta didik(Ramadhan & Usriyah, 2021). Selain perpustakaan dan buku literasi, guru juga merupakan salah satu fasilitas bagi peserta didik, agar peserta didik dapat bertanya materi yang telah dibaca. Guru membantu pemahaman agar peserta didik untuk lebih mengerti informasi tersebut. Guru sebagai fasilitator adalah dengan memberikan pelayanan yang mendukung peserta didik dalam beraktivitas proses pembelajaran membaca, termasuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada para peserta didik, selanjutnya guru sebagai motivator dengan memotivasi peserta didik agar dapat membangkitkan semangat peserta didik untuk belajar membaca, sehingga tujuan pembelajaran pembelajaran dapat tercapai. Dan yang terakhir adalah guru sebagai evaluator adalah guru memberikan penghargaan kepada para peserta didik untuk menunjukkan bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan materi untuk hari itu. Hadiah atau penghargaan dapat diberikan pada saat atau di akhir pembelajaran sebagai bentuk evaluasi pembelajaran peserta didik. Faktor Pendukung dan Penghambat Faktor pendukung dalam menumbuhkan kemampuan literasi membaca peserta didik melibatkan berbagai aspek yang berperan signifikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang optimal. Pertama, menjalin kerja sama yang baik antara guru dan peserta didik serta menciptakan rasa nyaman bagi peserta didik merupakan kunci utama. Menurut (Kartikasari, Vol. 1, No.1, Juni 2024, Hal. 50-59 56 Wiwikananda dan Briansyah, Keterampilan Membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah 2022) interaksi sosial yang efektif antara guru dan siswa dapat mempercepat perkembangan kognitif dan keterampilan belajar. Dengan menciptakan suasana yang nyaman dan penuh kepercayaan, siswa akan lebih terbuka untuk belajar dan lebih termotivasi untuk terlibat dalam kegiatan literasi. Guru yang mampu membangun hubungan positif dan mendukung siswa secara emosional dapat membantu mengatasi hambatan psikologis yang mungkin dihadapi siswa dalam proses belajar membaca. Kedua, fasilitas buku bacaan yang lengkap dan bervariasi juga merupakan faktor pendukung yang penting. Menurut (Ramadhan, 2021) paparan terhadap beragam bahan bacaan sejak dini dapat meningkatkan minat baca dan keterampilan literasi anak. Ketika siswa memiliki akses mudah ke berbagai jenis buku yang menarik dan sesuai dengan minat mereka, motivasi untuk membaca secara alami akan meningkat. Buku yang menarik dan variatif tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa tetapi juga membantu mereka menemukan kesenangan dalam membaca, yang pada gilirannya akan membangun kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Namun, terdapat juga faktor-faktor penghambat yang dapat menghalangi perkembangan kemampuan literasi membaca peserta didik. Salah satu faktor penghambat utama adalah waktu yang tersedia terbatas. Kurikulum sekolah yang padat, seringkali waktu yang dialokasikan untuk kegiatan membaca tidak cukup. Menurut teori manajemen waktu dalam pendidikan, alokasi waktu yang efektif sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ketika waktu untuk membaca terbatas, Peserta didik tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan membaca mereka secara optimal. Faktor penghambat lainnya adalah kurangnya motivasi dan peran orangtua dalam mendukung proses belajar membaca peserta didik. (Kartikasari, 2022) menekankan pentingnya peran lingkungan keluarga dalam perkembangan anak. Orangtua yang kurang mendukung atau tidak menunjukkan minat terhadap kegiatan membaca anak dapat berdampak negatif pada motivasi anak untuk membaca. Dukungan orangtua sangat penting dalam membangun kebiasaan membaca di rumah, sehingga tanpa dukungan tersebut, upaya sekolah untuk meningkatkan literasi membaca mungkin tidak akan mencapai hasil yang diharapkan. Berdasarkan analisis tersebut, untuk menumbuhkan kemampuan literasi membaca peserta didik secara efektif, diperlukan upaya kolaboratif antara guru, peserta didik, dan orangtua. Menjalin hubungan yang baik antara guru dan siswa, menyediakan fasilitas bacaan yang memadai, serta melibatkan orangtua dalam proses literasi merupakan langkah-langkah strategis yang dapat membantu mengatasi hambatan dan mendukung pengembangan keterampilan membaca peserta didik JESE: Journal of Elementary School Education KESIMPULAN DAN SARAN Keterampilan membaca peserta didik kelas III SD Negeri 1 Banyuning menggunakan buku literasi membaca, berpengaruh terhadap kemampuan membaca peserta didik, setiap sebelum dan sesudah pembelajaran, guru meminta peserta didik membaca buku literasi non pelajaran selama 15 menit agar peserta didik dapat meningkatkan daya ingat dan menambah penguasaan kosakata mereka. Metode pembelajaran dalam pengajaran membaca dikelas III SD Negeri 1 Banyuning menggunakan tiga metode yaitu metode mengeja, metode penguasaan kata, dan metode drill peserta didik. Ketiga metode ini berhasil meningkatkan kemampuan peserta didik, terutama metode drill. Metode drill dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran dengan memberikan latihan membaca secara teratur kepada peserta didik yang masih terhambat dalam membaca. DAFTAR PUSTAKA Aeti, S., Handayani, A., & Rahmawati, D. (2023). Peranan Guru Dalam Mengembangkan Kegiatan Literasi Sekolah Sekolah Di SDN Kubangjati 02 (PGMLS). Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 08. Anjani, S., Dantes, N., & Artawan, G. (2019). Pengaruh Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Terhadap Minat Baca. PENDASI: Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 3(2), 74–83. Asnewastri, A., M. Ginting, A., Hutauruk, A. F., Resmi, R., & Nasution, A. A. B. (2023). Peran Guru dan Gerakan Literasi Sekolah dalam Meningkatkan Literasi Sejarah Siswa Kelas XI di SMA Negeri 3 Pematangsiantar. MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, Dan Ilmu-Ilmu Sosial, 7(1), 166–172. https://doi.org/10.30743/mkd.v7i1.6729 Dwi Aryani, W., & Purnomo, H. (2023). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Dalam Meningkatkan Budaya Membaca Siswa Sekolah Dasar. JEMARI (Jurnal Edukasi Madrasah Ibtidaiyah), 5(2), 71–82. https://doi.org/10.30599/ jemari.v5i2.2682 Eka Purwanti, dkk. (2020). Kedisiplinan Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar, 5(2), 112–117. Huljannah, M. (2020). Peran Guru Pai Dalam Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Di Smpn 5 Teluk Kuantan. Jom Ftk Uniks, 2(1), 21–32. http://www.ejournal.uniks.ac.id/ index.php/JOM/article/view/1031 Jariah, S., & Marjani. (2019). Peran Guru dalam Gerakan Literasi Sekolah. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, 846–856. https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/ Prosidingpps/article/view/ 2643 Juanda, J., Aslan Abidin, Salam, Sunaely, Reskiana, Asri Ismail, & Asis Nojeng. (2023). PKM Gerakan Literasi Sekolah Dalam Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Peran Vol. 1, No.1, Juni 2024, Hal. 50-59 58 Wiwikananda dan Briansyah, Keterampilan Membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah Guru Di Tingkat Sekolah Dasar Se-desa Goarie. Vokatek : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(2), 72–81. https://doi.org/10.61255/vokatekjpm. v1i2.92 Kartikasari, E. (2022). Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Gerakan Literasi Sekolah. Jurnal Basicedu, 6(5), 8879–8885. Kurniawan, S. J., & Putri, R. D. P. (2020). Peran Guru dan Pustakawan dalam Gerakan Literasi Sekolah Ditinjau dari Tahap Pengembangan di SD Muhammadiyah Sumbermulyo. Literasi Dalam Pendidikan Di Era Digital Untuk Generasi Milenial, 477– 492. http://103.114.35.30/index.php/Pro/issue/view/460/showToc Purwo, S. (2020). Peran Gerakan Literasi Sekolah Dalam Pembelajaran Kreatif-Produktif Di Sekolah Dasar. Suparyanto Dan Rosad (2015, 5(3), 248–253. Rahmatun Hidayah, Nurhasanah, & Sobri, M. (2023). Evaluasi Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah Pada Kemampuan Membaca Siswa Di Sdn 2 Kuta Tahun Ajaran 2023/2024. Concept and Communication, null(23), 301–316. Ramadhan, F. A. (2021). Vektor : Jurnal Pendidikan IPA Dalam Pembelajaran IPA Di Pendidikan Sekolah Dasar. Vektor: Jurnal Pendidikan IPA, Volume 02,(nomor 2), 56– 66. http://vektor.iain-jember.ac.id Ramadhan, F. A., & Usriyah, L. (2021). Strategi Guru dalam Mengimplementasikan Pendidikan Multikultural pada Sekolah Dasar Pada Masa Pandemi Covid-19. AKSELERASI: Jurnal Pendidikan Guru MI, 2(2), 59–68. https://doi.org/10.35719/ akselerasi.v2i2.114 Ramadhanti, T. P., Rakhman, P. A., Rokmanah, S., Guru, P., Dasar, S., Keguruan, F., & Pendidikan, I. (2023). Peran Guru Dalam Meningkatkan Minat Membaca Peserta Didik Melalui Gerakan Literasi Sekolah. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia, 12(2), 154–166. Safitri, V., & Dafit, F. (2021). Peran Guru Dalam Pembelajaran Membaca Dan Menulis Melalui Gerakan Literasi Di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5(3), 1356–1364. https://jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/938 Siahaan, Y. L. O., & Meilani, R. I. (2019). Sistem Kompensasi dan Kepuasan Kerja Guru Tidak Tetap di Sebuah SMK Swasta di Indonesia. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 4(2), 141. https://doi.org/10.17509/jpm.v4i2.18008 Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Alfabeta. Wati, M. L. K., Subyantoro, S., & Pristiwati, R. (2023). Peran Guru Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran Membaca dan Menulis Gerakan Literasi di Sekolah Menengah Pertama. SeBaSa, 6(2), 447–461. https://doi.org/10.29408/sbs.v6i2.21999