Nursing Arts Vol 19. No 1. Juni 2025 ISSN: 1978-6298 (Prin. ISSN: 2686-133X . HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU ORANG TUA DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA Olga Veronika1*. Agnes Erlita Distriani Patade2. Nelky Suriawanto3 Universitas Widya Nusantara Email Korespondensi: pastiolga@gmail. Artikel history Dikirim. Jan 22nd, 2025 Ditinjau. Jan 24th, 2025 Diterima. Jan 26th, 2025 ABSTRACT Pneumonia, commonly known as wet lung, is an infectious disease affecting the air sacs of the lungs caused by viruses, bacteria, or fungi. The study aimed to determine the relationship between parents' knowledge and behavior and the incidence of pneumonia in toddlers at Anuntodea Tipo Health Center. The research utilized a correlational analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 54 parents who brought their children for treatment at Anuntodea Tipo Health Center, selected using purposive sampling techniques. The research instrument was a questionnaire, and data were analyzed using the Kruskal-Wallis test. The results showed a p-value of 0. 003 (<0. , indicating a significant relationship between parents' knowledge and the incidence of pneumonia, and a p-value of 0. 000 (<0. , indicating a significant relationship between parents' behavior and the incidence of pneumonia. Thus, it can be concluded that there is a relationship between parents' knowledge and behavior and the incidence of pneumonia in toddlers at Anuntodea Tipo Health Center. Keywords: Knowledge. Behavior. Pneumonia. Children ABSTRAK Pneumonia dikenal sebagai paru-paru basah yaitu penyakit infeksi pada kantung udara paruparu akibat virus, bakteri, atau jamur. Berdasarkan Studi pendahuluan di Puskesmas Anuntodea Tipo menunjukkan bahwa dari 5 orang tua yang diwawancarai, 3 tidak mengetahui penyakit pneumonia, sedangkan 2 lainnya mengetahui dengan baik. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku orang tua dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Anuntodea Tipo. Metode Penelitian desain analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 54 orang tua yang membawa anaknya berobat ke Puskesmas Anuntodea Tipo yang diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan uji Kruskal Wallis. Hasil Penelitian menunjukkan nilai p-value= 0. 003 <0. 05 artinya ada hubungan pengetahuan orang tua dengan kejadian pneumonia dan nilai p-value= 0. 000<0. 05 artinya ada hubungan perilaku orang tua dengan kejadian pneumonia. Sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan pengetahuan dan perilaku orang tua dengan kejadian pneumonia pada balita di puskesmas Anuntodea Tipo. Kata Kunci: Pengetahuan. Perilaku. Pneumonia. Anak Olga Veronika dkk. Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Orang Tua dengan Kejadian Pneumonia PENDAHULUAN Pneumonia, atau paru-paru basah, adalah infeksi virus, bakteri, atau jamur di kantung udara paru-paru yang dapat terjadi pada satu atau kedua sisi paru-paru. Penyakit ini lebih mudah menyerang anak-anak karena sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna, sehingga mereka rentan menderita pneumonia berulang, yang dapat menyebabkan komplikasi atau kematian (Putri dan Amalia, 2. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2022, terdapat 740. 180 anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena pneumonia pada tahun 2019, yang merupakan 14% dari semua kematian anak di bawah usia 5 tahun. Kasus tertinggi terjadi di Asia Selatan dan Afrika subsahara. Menurut Kemenkes RI . , di Indonesia pada tahun 2020 terdapat 320. 945 kasus pneumonia pada balita, yang menurun menjadi 278. 261 kasus pada 2021, namun kembali meningkat menjadi 386. 724 kasus pada 2022. Penurunan kasus pada 2021 dipengaruhi oleh stigma terhadap penderita COVID-19, yang mengakibatkan berkurangnya kunjungan balita batuk atau kesulitan bernapas ke puskesmas. Sedangkan. Menurut Dinkes Provinsi Sulteng . , di Provinsi Sulteng kasus pneumonia pada balita meningkat dari 4. 620 kasus pada 2021 273 kasus pada 2022, dan 7. 873 kasus pada 2023. Di Kota Palu, jumlah kasus pneumonia balita juga meningkat dari 816 kasus pada 2021, menjadi 903 pada 2022, dan 1. pada 2023, menjadikan Kota Palu berada di urutan kedua dengan kejadian pneumonia tertinggi di Sulteng. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kejadian pneumonia pada balita masih mengalami peningkatan di Kota Palu. Pneumonia sering terjadi berulang pada anak karena kurangnya pengetahuan orang tua, yang mengakibatkan mereka tidak dapat menghindari perilaku yang menyebabkan anak menderita pneumonia berulang. Kurangnya pengetahuan tentang pneumonia membuat orang tua sulit membedakan kebiasaan yang perlu dihilangkan di lingkungan sekitar anak untuk mengurangi Orang tua yang tidak tahu tentang pneumonia cenderung kurang melakukan pencegahan, seperti mencuci tangan atau mengontrol kesehatan anak, yang dapat memperburuk kondisi anak jika tidak segera ditangani dengan benar (Wildayanti and Pratiwi. Penelitian Sitanggang dan Shintya . tentang korelasi perilaku orang tua dan frekuensi kekambuhan pneumonia pada balita menunjukkan bahwa 40% responden menunjukkan perilaku "baik," namun sebagian besar memiliki sikap "kurang. " Peneliti berpendapat bahwa tingkat pengetahuan memengaruhi perilaku kesehatan, dengan individu yang memiliki 3 Nursing Arts. Vol. Nomor 1. Juni 2025 hlm: 1-10 pengetahuan lebih tinggi cenderung membuat keputusan yang lebih tepat dalam menangani masalah kesehatan. Adapun laporan kunjungan pasien balita di Puskesmas Anuntodea Tipo tahun 2022 sebanyak 558 balita, dan yang terdiagnosa pneumonia berjumlah 200 balita, kemudian tahun 2023 sebanyak 619 balita, dan yang terdiagnosa pneumonia berjumlah 261 balita. Pada tahun 2024 dari bulan januari-juli dilaporkan kunjungan pasien balita sebanyak 116. Adapun survey awal yang dilakukan pada tanggal 2 juli 2024 melalui wawancara pada 5 orang tua di Puskesmas Anuntodea Tipo saat melakukan posyandu di Kelurahan Tipo, didapatkan 3 orang tua menyatakan tidak mengetahui apa itu penyakit pneumonia, bahkan ketika anak mengalami flu dan batuk, pengobatan hanya dilakukan dirumah melalui obat warung, kemudian anak dibawa ke puskemas ketika menunjukkan kondisi yang semakin parah seperti sesak, 2 orang tua lainnya mengetahui dengan baik terkait apa itu penyakit pneumonia tapi masih sulit untuk menghindari penyebabnya, seperti kondisi lingkungan yang padat akan polusi udara dan anggota keluarga yang merokok didekat anak-anak. Berdasarkan uraian masalah diatas maka peneliti tertarik meneliti Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Orang Tua Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Puskesmas Anuntodea Tipo. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku orang tua dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Anuntodea Tipo. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan Cross-Sectional untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku orang tua dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Anuntodea Tipo. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Anuntodea Tipo pada tanggal 28 September-15 Oktober 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua . apak/ib. yang memiliki balita usia 0-5 tahun yang berkunjung ke Puskesmas Anuntodea Tipo pada bulan januari-juli tahun 2024 berjumlah 116 balita. Sampel dalam penelitian ini ditentukan menggunakan rumus Slovin yang kemudian didapatkan jumlah sampel yaitu 54 orang yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu Orang tua yang memiliki balita usia 0-5 tahun yang berkunjung di Puskesmas Anuntodea Tipo pada bulan januari-juli tahun 2024. Bersedia menjadi responden, serta Bisa membaca dan menulis. Sedangkan kriteria eksklusi yaitu tidak bersedia menjadi responden, serta tidak bisa membaca dan menulis. Teknik pengambilan Olga Veronika dkk. Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Orang Tua dengan Kejadian Pneumonia sampel menggunakan teknik Purposive Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner pengetahuan dan perilaku orang tua terkait penyakit penumonia. Analisa data menggunakan uji statistik Kruskal Wallis. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Puskesmas Anuntodea Tipo Karakteristik Responden Usia 17-25 Tahun 26-35 Tahun 36-45 Tahun Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Pendidikan Terakhir SMP SMA Total Pekerjaan IRT Wiraswasta Honorer PNS Total Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Perilaku Baik Cukup Kurang Total Frekuensi Persentase (%) Sumber: Data Primer 2024 Berdasarkan uraian Tabel 1 menunjukkan bahwa distribusi frekuensi karakteristik responden yaitu orang tua berdasarkan kategori usia di dapatkan sebagian besar berusia 26-35 tahun dengan jumlah 27 orang . ,0 %). Berdasarkan Kategori jenis kelamin didapatkan sebagian 5 Nursing Arts. Vol. Nomor 1. Juni 2025 hlm: 1-10 besar perempuan berjumlah 49 orang . ,7 %). Berdasarkan Kategori berdasarkan pendidikan terakhir sebagian besar SMA berjumlah 31 orang . ,4 %). Berdasarkan Kategori pekerjaan sebagian besar merupakan IRT 42 orang . ,8 %). Berdasarkan Tingkat Pengetahuan sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori cukup sebanyak 21 . ,9%) responden. Berdasarkan kategori perilaku responden sebagian besar dengan perilaku kategori cukup sebanyak 44 . ,5%) responden. Distribusi Frekuensi Kejadian Pneumonia Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kejadian Pneumonia di Puskesmas Anuntodea Tipo Kejadian Pneumonia Pneumonia Tidak Pneumonia Total Frekuensi Persentase (%) Sumber: Data Primer 2024 Berdasarkan tabel 2 menunjukan distribusi frekuensi kejadian pneumonia di Puskesmas Anuntodea Tipo bahwa dari 54 responden yang memiliki anak balita terdapat 20 . %) anak dengan kategori pneumonia, dan 34 . %) anak dengan kategori tidak pneumonia. Analisis Bivariat Hubungan Pengetahuan Orang Tua Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Puskesmas Anuntodea Tipo Tabel 3. Hubungan Pengetahuan Orang Tua dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Anuntodea Tipo Pengetahuan Orang Tua Baik Cukup Kurang Total Kejadian Pneumonia Pneumonia Tidak Pneumonia Total P-Value 0,003 Sumber: Data Primer 2024 Berdasarkan Tabel 3 menunjukan bahwa dari 54 responden terdapat 15 . ,8%) responden memiliki pengetahuan kategori baik. Responden pengetahuan baik dengan pneumonia berjumlah 3 . 6%) responden. Pengetahuan baik dengan tidak pneumonia sebanyak 12 responden . ,2%). Kemudian 21 . ,9%) responden memiliki pengetahuan kategori cukup. Responden pengetahuan cukup dengan pneumonia berjumlah 8 responden . ,8%). Pengetahuan cukup dengan tidak pneumonia sebanyak 13 responden . ,1%). Kemudian 18 Olga Veronika dkk. Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Orang Tua dengan Kejadian Pneumonia . ,3%) responden memiliki pengetahuan kurang. Responden pengetahuan kurang dengan pneumonia berjumlah 9 responden . ,6%). Pengetahuan kurang dengan tidak pneumonia berjumlah 9 responden . ,7%). Hasil menggunakan Kruskal Wallis dengan nilai p value: 003 lebih kecil dari yang ditetapkan yaitu <0. 05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukan adanya hubungan pengetahuan orang tua dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Anuntodea Tipo. Menurut asumsi peneliti, tingkat pengetahuan orang tua yang baik tetapi pneumonia berjumlah 3 responden . ,6%) dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di kawasan pabrik tambang galian C, sehingga sulit menghindari paparan polusi udara yang membahayakan pernapasan. Sedangkan, tingkat pengetahuan orang tua yang baik dan tidak pneumonia sebanyak 12 responden . ,2%) dipengaruhi oleh pemahaman orang tua yang baik tentang pneumonia dan penerimaan edukasi kesehatan tentang anak dari berbagai sumber. Asumsi peneliti sejalan dengan penelitian Suhartono et al . yang menyatakan bahwa polusi udara, pencemar fisik yang mudah terhirup dan mengandung senyawa organik, dapat menyebabkan pneumonia serta masalah kesehatan jangka panjang seperti radang pernapasan, penyakit kardiovaskular, dan kanker paru-paru. Selanjutnya. Menurut asumsi peneliti, tingkat pengetahuan orang tua cukup tetapi pneumonia sebanyak 8 responden . ,8%) dipengaruhi oleh kondisi tempat tinggal di kawasan pabrik dengan paparan polusi udara dan pneumonia yang dianggap bukan penyakit berbahaya. Sedangkan, 13 responden . ,1%) dengan pengetahuan cukup dan tidak pneumonia dipengaruhi oleh anggapan bahwa meskipun pneumonia bukan penyakit berbahaya, mereka tetap menghindari paparan asap rokok karena rokok bukanlah hal yang baik dan menganggap pneumonia bukan penyakit menular. Asumsi peneliti sejalan dengan Franciska . yang menunjukkan bahwa pneumonia pada balita lebih umum di kawasan pemukiman industri . ,6%) dibandingkan di kawasan non-industri . ,9%). Menurut asumsi peneliti, pengetahuan orang tua yang kurang berjumlah 18 responden . ,3%) disebabkan oleh faktor pekerjaan, di mana orang tua yang bekerja memiliki waktu terbatas untuk mencari informasi kesehatan, fokus pada pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari, sehingga tidak cukup waktu untuk mengikuti edukasi kesehatan atau membaca literatur Asumsi peneliti ini sejalan dengan penelitian Mardani, . menyatakan bahwa anak balita dengan ibu yang bekerja memiliki risiko 4,571 kali lebih besar terkena pneumonia dibandingkan anak dengan ibu yang tidak bekerja. 7 Nursing Arts. Vol. Nomor 1. Juni 2025 hlm: 1-10 Selanjutnya. Menurut asumsi peneliti, tingkat pengetahuan orang tua kurang dan pneumonia sebanyak 9 responden . ,6%) dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan tentang penyakit paru yang rentan dialami balita, termasuk pneumonia, serta perilaku buruk seperti merokok dekat Sedangkan, tingkat pengetahuan orang tua kurang tetapi tidak pneumonia berjumlah 9 responden . ,7%) dipengaruhi oleh beberapa responden yang beranggapan walaupun pneumonia bukan penyakit yang tidak berbahaya, mereka tetap menghindari paparan asap rokok karena menyadari bahwa rokok tidak sebaiknya dihirup oleh anak-anak. Asumsi peneliti sejalan dengan penelitian Pramudyawati . yang menyatakan bahwa kurangnya pengetahuan dapat menyebabkan orang tua mengasuh balita dengan pneumonia secara tidak Hubungan Perilaku Orang Tua Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Puskesmas Anuntodea Tipo Tabel 4. Hubungan Perilaku Orang Tua Dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Anuntodea Tipo Perilaku Orang Tua Baik Cukup Kurang Total Kejadian Pneumonia Pneumonia Tidak Pneumonia Total P-Value 0,000 Sumber: Data Primer 2024 Berdasarkan Tabel 4 menunjukan bahwa dari 54 responden terdapat 5 . ,3%) responden memiliki perilaku kategori baik. Responden perilaku baik dengan pneumonia berjumlah 1 . 9%) responden. Perilaku baik dengan tidak pneumonia berjumlah 4 responden . ,4%). Kemudian 44 . ,5%) responden memiliki perilaku kategori cukup. Responden perilaku cukup dengan pneumonia berjumlah 17 responden . ,5%). Perilaku cukup dengan tidak pneumonia sebanyak 27 responden . ,0%). Kemudian 5 . ,2%) responden memiliki perilaku kurang. Responden perilaku kurang dengan pneumonia berjumlah 2 responden . ,6%). Perilaku kurang dengan tidak pneumonia berjumlah 3 responden . ,6%). Hasil dari uji statistik menggunakan Kruskal Wallis dengan nilai p value: 0. 000 lebih kecil dari yang ditetapkan yaitu <0. 05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukan adanya hubungan prilaku orang tua dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Anuntodea Tipo. Olga Veronika dkk. Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Orang Tua dengan Kejadian Pneumonia Menurut peneliti, tingkat perilaku orang tua yang baik sebanyak 5 responden . ,3%) dipengaruhi oleh kebiasaan aktivitas sehat, karena tidak ada anggota keluarga yang merokok, baik perokok pasif maupun aktif, yang dipengaruhi oleh pengetahuan, karena pengetahuan yang baik mempengaruhi perilaku individu. Asumsi peneliti sejalan dengan penelitian Purwati. Natashia and Aryanti . yang menunjukkan adanya korelasi signifikan antara pengetahuan orang tua tentang pneumonia pada balita dan jumlah kasus yang terjadi. Pengetahuan orang tua tentang pneumonia dan perilaku baik membantu mendeteksi masalah kesehatan lebih cepat, seperti membawa anak ke rumah sakit dan mengikuti saran dokter untuk perawatan tepat Hal ini sejalan dengan teori Green dalam (Fabanyo & Anggreini, 2. bahwa perilaku individu dibentuk oleh faktor predisposisi yaitu pengetahuan. Selanjutnya. Menurut asumsi peneliti, tingkat perilaku orang tua baik tetapi pneumonia berjumlah 1 responden . ,9%) dipengaruhi oleh kebiasaan buruk seperti tidak mengganti baju atau mencuci tangan setelah merokok dan langsung menyentuh anak, meskipun bahaya asap rokok diketahui. Sedangkan, tingkat perilaku orang tua baik dan tidak pneumonia sebanyak 4 responden . ,4%) dipengaruhi oleh perilaku baik orang tua yang tidak membiarkan keluarga merokok di dekat anak, mengawasi tempat bermain anak, dan membiarkan ventilasi rumah terbuka setiap pagi sebelum tambang beroperasi agar sirkulasi udara lancar. Asumsi peneliti sejalan dengan penelitian Muarabagja and Ernawati . yang menunjukkan bahwa meskipun banyak keluarga memiliki balita yang merokok, mereka cukup menyadari pentingnya menjauhkan perokok dari balita, dan hanya 30% . ,7%) responden yang membersihkan diri setelah merokok. Selain itu, sejalan dengan penelitian Pusvitasary . yang menyatakan bahwa kondisi bangunan rumah dapat berdampak pada kesehatan anak karena rumah adalah tempat bermain dan istirahat seluruh keluarga. Menurut asumsi peneliti, tingkat perilaku cukup dari 44 responden . ,5%) dipengaruhi oleh kurangnya pengawasan orang tua terhadap lingkungan bermain anak dari jangkauan keluarga yang merokok, serta polusi udara di lingkungan rumah yang sulit dihindari karena lokasi pemukiman di kawasan tambang galian C, dan kondisi bangunan rumah yang kurang diperhatikan kebersihannya. Asumsi peneliti sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Harahap . bahwa ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan pneumonia akibat kelembaban dan kurangnya sirkulasi udara. Orang tua balita sebaiknya membuka jendela dan lubang angin setiap hari serta membersihkan kotoran dan debu untuk mencegah penyakit tersebut. 9 Nursing Arts. Vol. Nomor 1. Juni 2025 hlm: 1-10 Selanjutnya. Menurut asumsi peneliti, tingkat perilaku orang tua cukup tetapi pneumonia sebanyak 17 responden . ,5%) dipengaruhi oleh kondisi tempat tinggal di kawasan pabrik, sulit menghindari polusi udara, dan kurangnya perhatian orang tua terhadap ventilasi udara. Sedangkan, tingkat perilaku orang tua cukup tidak pneumonia sebanyak 27 responden . ,0%) dipengaruhi oleh orang tua yang mencari penyuluhan kesehatan tentang pneumonia, sehingga mengurangi perilaku buruk yang dapat menyebabkan pneumonia pada balita. Asumsi peneliti sejalan dengan penelitian Pusvitasary . yang menyatakan bahwa kondisi bangunan rumah dapat berdampak pada kesehatan anak karena rumah adalah tempat bermain dan istirahat seluruh keluarga. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan orang tua dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Anuntodea Tipo dengan nilai p-value = 0,003 <0,05 dan ada hubungan perilaku orang tua dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Anuntodea Tipo dengan nilai p-value = 0,000 <0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan perilaku orang tua memainkan peran penting dalam mencegah terjadinya pneumonia pada balita. Oleh karena itu, disarankan agar Puskesmas meningkatkan program edukasi dan penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku orang tua ke arah yang lebih positif, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan balita mendapatkan imunisasi serta asupan gizi yang memadai. Selain itu, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor lain yang memengaruhi kejadian pneumonia, sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih komprehensif. UCAPAN TERIMA KASIH