Analisis Finansial Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Putih Di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur (Financial Analysis And Factors Affecting Garlic Farming Production In Sembalun District. East Lombok Regenc. Yusuf1, dan I GN Aryawan Asasandi2 Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Mataram12 Jl. Majapahit No. Gomong. Kec. Selaparang. Kota Mataram. NTB. *Korespondensi: asasandi@staff. ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk: . Menganalisis biaya dan pendapataan usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lomok Timur. Menganlisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani bawang Putih di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian in adalah metode deskriptif, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: . Ratarata biaya produksi usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur sebesar Rp 16. 877/luas lahan garapan (LLG) atau Rp 49. 294/ha dengan pendapatan sebesar Rp 59. 123/LLG atau Rp 181. 433/ha dan R/C= 4,64. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani bawang putih secara nyata . di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur adalah penggunaan benih dan pestisida. ----------------------Kata kunci: biaya. usahatani bawang putih. ABSTRACT The aims of this research are to: . Analyze the costs and income of garlic cultivation in Sembalun District. East Lomok Regency. Analyze the factors influencing agricultural production of garlic in Sembalun District. East Lombok Regency. The method used in this research is a descriptive method, while data collection was carried out using survey techniques. The research results show that: . The average production cost of garlic cultivation in Sembalun District. East Lombok Regency is Rp 16,455,877/arable land area (LLG) or Rp 49,866,294/ha with an income of Rp 59,864,123/LLG or Rp 181,406,433/ha and R/C= 4. The factors that significantly influence garlic agricultural production in Sembalun District. East Lombok Regency are the use of seeds and pesticides. ----------------------Keywords: Costs. cultivation of garlic. PENDAHULUAN Salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi adalah bawang putih. Penggunaan bawang putih tidak hanya sebagai bahan penyedap rasa, tetapi juga sebagai kosmetik, obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit (Wijaya 2014. Sari et al. Selain itu bawang putih juga dapat digunakan pada bidang pertanian, perikanan, dan peternakan yaitu sebagai pestisida nabati, pengawet makanan, dan sebagai aditif pada pakan untuk meningkatkan manfaat dari ternak itu sendiri (Dharmawati et al. Syakir & Wahyuni 2017. Hendra 2. Bawang putih merupakan salah satu komoditas yang menjadi sektor unggulan di sebagian wilayah Indonesia terutama di wilayah dataran tinggi (Harinta & Basuki, 2. Wilayah dataran tinggi di Indonesia yang menjadi pusat budidaya bawang putih yaitu Jawa Tengah (Temanggun. Jawa Timur (Malan. Jawa Barat (Cianju. Sumatera (Solo. Nusa Tenggara Barat (Sembalu. , dan lainya (BPS, 2. Yusuf1, dan I GN Aryawan Asasandi2 : Analisis Finansial Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Putih Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap bawang putih juga Pada periode 2016-2020, rata-rata konsumsi bawang putih nasional 054 ton per tahun dengan rata-rata peningkatan sebesar 4,3 Namun, rata-rata kebutuhan konsumsi tersebut tidak mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri yang rata-rata produksinya hanya mencapai 42. 194 ton pada periode yang sama (Kementerian Pertanian, 2. Ketidakmampuan produksi dalam negeri memenuhi kebutuhan pasar menyebabkan 95 persen pemenuhan konsumsi bawang putih nasional berasal dari impor yairu 270 ron/tahun dan sisanya 5 persen dipenuhi oleh produksi dalam negeri (Kementerian Pertanian, 2. Negara pengipor bawang putih di Indoensesia adalah Cina. India. Amerika Serikat. Malaysia. Switzerland. Jerman, dan Australia (Hadianto et al, 2. Produksi bawang putih di Indonesia cenderung mengami penurunan selama periode 2018-2022, kecuali tahun 2019. Produksi tahun 2018 300 ton meningkat menjadi 817 ton tahun 2019, kemudian menurun menjadi 81. 805 ton tahun 2020 ton, tahun 2021 menjadi 45. 092 ton dan tahun 2022 turun lagi menjadi 30. 580 ton. Menurut Hadianto et al, . hal yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi bawang putih ini dikarenakan kurangnya minat petani untuk melakukan usahatani bawang putih, produk bawang putih lokal yang dihasilkan kalah bersaing dengan produk impor yang memiliki harga yang lebih rendah. Putri et al, . juga mengungkapkan bahwa penurunan produksi bawang di Indonesia juga disebakan oleh : . belum terbangunnya industri perbenihan, sehingga benih bawang putih lokal yang tersedia sangat terbatas, sedangkan benih impor tidak cocok dengan iklim Indonesia, . kurang penguasaan teknologi budidaya bawang putih ditingkat petani sehingga produktivitas dan efisiensi produksi rendah, . tingginya harga pestisida dan pupuk, . keterbatasan modal, . lemahnya daya tawar petani terhadap produk yang dihasilkan. Guna mengurangi impor bawang putih tersebut, pemerintah telah memacu laju peningkatan kuantitas dan kualitas produksi bawang putih antara lain melalui usaha intensifikasi dan Namun secara umum masih terdapat masalah yang dihadapi dalam upaya pengembangan bawang putih di Indonesia antara lain: . belum terbangunnya industri perbenihan, sehingga benih bawang putih lokal yang tersedia sangat terbatas, sedangkan benih impor tidak cocok dengan iklim Indonesia, . kurang penguasaan teknologi budidaya bawang putih ditingkat petani sehingga produktivitas dan efisiensi produksi rendah, . harga bawang putih lokal kalah bersaing dengan harga bawang putih impor, sementara performa bawang putih impor lebih menarik yaitu besar dan putih bersih, . tingginya harga pestisida dan pupuk, . keterbatasan modal, . lemahnya daya tawar petani terhadap produk yang dihasilkan. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menempati uturan kedua penghasil bawang putih terbesar kedua di Indonesia dengan kontribusi 32% dari produksi nasional. Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur merupakan sentra utama pengahasil bawang putih di Kabupaten Lombok Timur dan NTB. Hal ini disebakan karena wilayah Kecamatan Sembalun memiliki agroklimat yang cocok untuk pengembangan bawang putih dan petani sudah terbiasan mengusahakan tanaman tersebut. Jumlah areal pengembangan bawang putih di Kecamatan Sembalun tahun 2023 seluas 405 ha dengan produksi 452 ton dan produktivitas mencapai mencapai 8,2 ton/ha (BPS NTBa, 2. Vol. No. 2 September 2025 Secara umum produksi dan luas panen bawang putih di wilayah ini cenderung menurut terutama pada jangka waktu 2018-2022 (BPS NTB, 2023. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah untuk mengembangkan bawang putih di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur antara lain melalui intensikasi dan ekstensifikasi guna mendorong peningkatn produksi dan pertumbuhan sektor pertanian yang akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi (Murty et al. Untuk menunjang kegiatan intensikasi dan ekstensikasi bawang putih tersebut perlu didukung oleh sarana produksi saran produksi yang cukup serta dukungan inovasi teknologi yang memadai Permasalahan utama yang dihadapi petani di wilayah ini adalah harga input usahatani yang tinggi terutama bibit, pupuk, dan pestisida, keterbatasan modal usahatani, luas lahan yang dimiliki petani < 0,50 ha, dan harga jual yang kalah bersaing dengan produk impor (Setiawan, et al, 2. Hal ini inilah yang menyebakan produksi bawang putih mengalami kelambatan dan pendapatan petani yang diterima relatif kecil dan tidak Berdasarkan uraian di atas, maka telah dilakukan penelitian yanag berjudul: Analisis Finansial dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Putih di Kecamatan Sembalun Lombok Timur. Penelitian bertujuan untuk: . menganalisis biaya dan pendapataan usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lomok Timur. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani bawang Putih di Kecamatan Sembalum Kabupaten Lombok Timur. METODE PENELITIAN Penelitian ini didesain sebagai penelitian eksploratif-deskriptif . ksplorative-deskriptive researc. (Effendi. dan Tukiran. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei. Selain itu untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari responden dilakukan pula wawancara mendalam . n-depth intervie. terhadap informasi kunci serta pengamatan faktual secara langsung di lokasi penelitian . rounded researc. (Sugion, 2. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur menggunakan data tahun 2023. Kecamatan Sembalun terdiri atas 5 . desa (BPS NTB, 2023. , dan dari lima desa tersebut ditetapkan 2 . desa sebagai sampel yaitu Sebalun Lawang dan Desa Sembalum Bumbung secara purposive sampling pertimbangan bahawa kedua desa tersebut yang terluas lahan dan terbanyak produksi bawang putih. Populasi sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan rumahtangga petani bawang putih di dua lokasi sampel Jumlah rumahtangga sampel sebanyak 44 responden dengan masingmasing lokasi penelitian ditetapkan sebanyak 15 rumahtangga petani. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data kuantitatif dan data Sumber data meliputi data primer dan data sekunder. Data dianalisis secara desktiptif, yang meliputi analisis biaya dan pendapatan, serta analisis regresi linier berganda. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Bawang putih Biaya produksi dan pendapatan merupakan beberapa hal yang dapat memengaruhi petani untuk melakukan alih usahatani suatu komoditas (Nurmedika et al. , demikian juga pada komoditas bawang putih. Telah disebutkan sebelumnya bahwa petani enggan menanam bawang putih karena harga sarana produksi dan harga produksi . yang tidak dapat bersaing dengan bawang putih impor. Yusuf1, dan I GN Aryawan Asasandi2 : Analisis Finansial Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Putih Dengan adanya program swasembada bawang putih yang dilakukan oleh pemerintah saat ini, maka setidaknya hasil bawang putih petani sudah dipastikan akan dibeli untuk digunakan sebagai benih. Namun, perlu dipastikan juga harga yang akan diberlakukan agar masih dapat memberikan keuntungan yang layak bagi petani. Biaya produksi usahatani bawang putih yang dikeluarkan petani di lokasi penelitian meliputi biaya variabel dan biaya tetap. Rinciannya disajikan pada Tabel 1 Tabel 1. menunujukkan bahwa rata-rata biaya produksi usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur sebesar Rp 877/LLG atau Rp 49. 294/ha. Biaya produksi usahatani bawang putih meliputi biaya variabel dan biaya tetap. Uraian masing-masing komponen biaya produksi tersebut sebagai berikut: Biaya Variabel rata-rata yang dikeluarkan petani pada usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalun Kabupaten . Vol. No. 2 September 2025 L o m b o k Ti m u r s e b e s a r Rp. 400/LLG atau Rp. 394/ha yang meliputi biaya saranan produksi Rp 13. 400/LLG atau Rp 40. 000/ha . ,84%) dan biaya tenaga kerja Rp 2. 000/LLG atau Rp 8. 394/ha . ,16%). Biaya sarana produksi terbesar untuk usahatani bawang putih adalah biaya bibit yaitu sebesar Rp 9. 000/LLG atau Rp 970/ha . ,72%). Besarnya biaya pembelian bibit tersebut disebabkan karena jumlah bibit yang dibutuhkan sebanyak 742 kg/ha dengan harga Rp 000/kg. Dengan demikian benih merupakan komponen biaya usahatani yang penting. Hal ini sejalan dengan yang ditemukan pada budidaya bawang merah yang mana tenaga kerja juga merupakan komponen biaya usahatani terbesar (Nurasa & Darwis 2007. Aldila et al. Penyediaan benih dengan harga murah merupakan salah satu faktor yang menentukan keberlanjutan usahatani bawang putih. Komponen biaya sarana produksi terbesar kedua adalah biaya pembelian plastik mulsa sebesar Rp 000/LLG atau Rp 5. 091/ha . ,43 %) dengan jumlah plastik musla sebanyak 51 kg/ha. Selanjutnya diikuti biaya untuk pembelian pupuk sebesar Rp 400/LLG atau Rp 3. 455/ha . ,75 %). Pupuk yang digunakan meliputi: pupuk Urea. NPK Poska. SP36. ZA, dan pupuk organik. Sementara itu biaya obatobatan yang dikeluarkanuntuk pembelian obat-obatan sebanyak Rp 411. 000/LLG atau Rp 1. 455/ha . ,10%), yang meliputi: Dithane. Abasel. Goal, dan Winder. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi sebesar Rp 2. 000/LLG atau Rp 8. 394/ha. Jenis kegiatan menggunakan tenaga kerja terbanyak adalah persiapan dan pengolahan lahan yaitu sebesar Rp 1. 000/LLG atau Rp 424 . ,20%), diikuti kegiatan panen Rp 600. 000/LLG atau Rp 182/ha . ,30%), pengangkutan Rp 550. 000/LLG atau Rp 1. ,60%), penanaman Rp 500. 000/LLG atau Rp 1. ,90%), pemupukan 7,78%, peninyiangan dan pengairan masing-masing . ,80%), pengendalian hama dan penyakit 3,59%, dan jenis kegiatan yang menggunakan nbiaya tenaga kerja terkecil adalah kegiatan pemasangan plastik mulsa sebesar Rp 50. 000/LLG atau Rp 151. ,69%). Banyaknya tenaga kerja yang digunakan pada pada kegiatan persiapan dan pengolahan lahan disebabkan karena banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan yaitu sebesar 10,70 HOK/LLG atau 32,40 HOK/ha dengan upah tenaga kerja Rp 000/HOK. Biaya Tetap Biaya Tetap. Rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan pada usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalun Lombok Timur sebesar Rp 213. 477/LLG atau Rp 649. 900/ha . ,30%). Komponen biaya tetap terbesar berasal dari iuran irigasi sebesar Rp 100. 000/LLG atau Rp 030/ha, diikuti penyusutan alat Rp 477/LLG atau 243. 870/ha, dan pajak lahan Rp 33. 000/LLG atau Rp 000/ha. Analisis Pendapatan Usahatani Bawang putih Untuk dapat mengetahui seberapa besar keuntungan yang berpotensi dapat diperoleh oleh petani bahwang putih maka dilakukan analisis pendapatan usahatani bawang putih di Kecamtan Sembalun Kabupaten Lombok Timur tahun 2023 yang disajikan pada Tabel 2 berikut: Yusuf1, dan I GN Aryawan Asasandi2 : Analisis Finansial Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Putih Tabel 2. menunjukkan rata-rata produksi usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalun. Lombok Timur 816 kg/LLG atau 11. 563,64 kg/ha dengan harga Rp 20. 000/kg, maka diperoleh nilai produksi sebesar Rp 000/LLG atau Rp 727/ha. Nilai produksi tersebut setelah dikurangi biaya produksi Rp 877/LLG atau Rp 49. 294/ha, maka diperoleh nilai pendapatan sebesar Rp 59. 123/LLG atau Rp 433/ha. R/C ratio usahatani bawang putih sebesar 4,64. Nilai tersebut mengandung makan bawa setiap penggunan biaya produksi sebesar Rp 000, akan mengakitkan meningkatnya nilai penerimaan sebesar Rp 4. Dengan demikian usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur layak dikembangkan karena nilai R/C (> . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Putih Hipotesis dalam penelitian ini adalah Au diduga faktor-faktor yang mempengaruhi peroduksi usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalum Kabupaten Lombok Timur adalah luas lahan, benih, pupuk urea, pupuk NPK, pupuk SP36, pupuk ZA, pupuk organik, obata-obatan . , dan tenaga kerja kerja. Ay Untuk membuktikan hipotesis tersebut dilakukan dengan analisis regresi linier berganda dalam bentuk logaritma dengan fungsi produksi cobb-douglas. Model matematis fungsi produksi CobbDouglas dengan metode Ordinary Least Square. Fungsi Cobb-Douglas digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel independen terhadap produksi bawang putih. Faktor yang dijabarkan X dalam bentuk variabel yakni variabel bebas (X) yang mempengaruhi variabel terikat (Y). Dalam penelitian ini terdapat 9 . variabel bebas (X) yaitu luas lahan (X. , benih (X. , pupuk urea, (X. , pupuk NPK (X. , pupuk SP36 (X. , pupuk ZA (X. , pupuk organik (X. , obat-obatan . (X. dan Tenaga Kerja (X. , yang mempengaruhi (Y) jumlah produksi bawang putih. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 44 petani responden. Adapun persamaan fungsi Cobb-Douglas faktor produksi bawang putih di Kecamatan Sembalun kabupaten Lombok Timur disajikan pada Tabel 3 berikut. Vol. No. 2 September 2025 M. Yusuf1, dan I GN Aryawan Asasandi2 : Analisis Finansial Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Putih Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa nilai adj RA adalah 0,870. Artinya, 87% produksi bawang puti di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur (Y) dapat dijelaskan oleh luas lahan (X. , benih (X. , pupuk urea, (X. , pupuk NPK (X. , pupuk SP36 (X. , pupuk ZA (X. , pupuk organik (X. , pestisida (X. , tenaga Kerja (X. dan 13% dijelaskan oleh faktor lain di luar model yang tidak dianalisis. Uji Simultan (Uji F) Uji F statistik ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama mampu mempengaruhi peningkatan variabel Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai F-Tabel dengan F-hitung. Jika nilai pada Fhitung>Ftabel maka Hi diterima, artinya variabelvariabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen dan jika nilai Fhitung O Ftabel maka H0 diterima, artinya variabel independen . aktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatan. tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen, yaitu luas lahan, benih, pupuk urea, pupuk NPK, pupuk SP36, pupuk ZA, pupuk organik, obata-obatan . , dan tenaga kerja kerja a terhadap variabel dependen produksi bawang putih seperti pada Tabel 5. Vol. No. 2 September 2025 M. Yusuf1, dan I GN Aryawan Asasandi2 : Analisis Finansial Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Putih KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: . ) Ratarata biaya produksi usahatani bawang putih di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur sebesar Rp 877/luas lahan garapan (LLG) atau Rp 49. 294/ha dengan pendapatan sebesar Rp 59. 123/LLG atau Rp 181. 433/ha dan R/C= 4,64. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani bawang putih secara nyata . di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur adalah penggunaan benih dan pestisida. Saran: .