E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 MANAJEMEN PENDIDIKAN KREATIF PESANTREN DALAM MENUMBUHKAN SOFT SKILL SANTRI PESANTREN ASSALAFIE BABAKAN CIWARINGIN CIREBON Mohammad Faiz Ashocha Ilma Ashochailma98@gmail. UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Abstract The aim of this research is to determine the Creative Educational Management of Islamic Boarding Schools in Developing the Soft Skills of Assalafie Islamic Boarding School Students. The educational process in an educational institution including Islamic Boarding Schools. Apart from being equipped with intellectual intelligence in the realm of religious knowledge and Islamic boarding school education, the Santri also need to be equipped with creativity . oft skill. so that students Santri are ready to guard and face current developments. Because it can be said that creativity is an added value for Santri in learning, and can also foster multitalented Santri This research is field research using a qualitative approach method. Researchers collect descriptive data regarding the activities or behavior of the subjects under study, both their perceptions and opinions as well as other relevant aspects obtained through various activities such as interviews, observations and documentation studies. Judging from various reviews, the Assalafie Islamic Boarding School has creative educational management that covers many aspects, be it aspects of art that intersect with religion, or even pure art. Creative education management applications at Bakreas are based on various theories, which are then developed in such a way that is in accordance with local wisdom and the needs of Islamic boarding schools. The planning of learning models in Bakreas is of course adjusted to the needs of each branch, and the number of participants also influences how the model will be implemented. Researchers divide the implications into two: first, internal implications, namely that Santri are not only capable in religious matters. And secondly, externally, it is intended to develop students' soft skills, and it is also intended as a medium for preaching the spread of Islam through the arts. The creative education implemented at the Assalafie Islamic Boarding School is quite good, with several branches of creativity that really help the students in developing soft skills and developing interests and talents to produce ideas, thoughts and works. In its relatively short implementation, namely once a week, this is proven by the large Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 number of works produced, both works that appear in small form and works that are in large form or have competed with works that are already well known. Because in its implementation it always prioritizes professionalism so that the students who take part are required to be total. Keywords : Creative Education Management. Growing Soft Skills. Santri. Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Proses pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan termasuk Pesantren. Selain dibekali dengan kecerdasan intelektual di ranah ilmu agama dan pendidikan Pesantren, para Santri juga perlu dibekali kreativitas . oft skil. agar para Santri siap dalam mengawal dan menghadapi perkembangan zaman. Karena dapat dikatakan bahwa kreativitas menjadi nilai tambah untuk para Santri dalam belajar, dan juga bisa untuk menumbuhkan kepribadian Santri yang multitalent. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif. peneliti mengumpulkan data deskripsi mengenai kegiatan atau perilaku subyek yang diteliti, baik persepsinya maupun pendapatnya serta aspek-aspek lain yang relevan yang diperoleh melalui berbagai kegiatan seperti wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Menelaah dari berbagai ulasan, bahwa Pesantren Assalafie memiliki manajemen pendidikan kreatif yang mencakup banyak aspek, baik itu aspek kesenian yang bersinggungan dengan keagamaan, atau bahkan kesenian murni. aplikasi manajemen pendidikan kreatif di Bakreas berbasis pada berbagai teori, untuk kemudian dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan kearifan lokal dan kebutuhan Pesantren. Perencanaan model pembelajaran dalam Bakreas tentunya disesuaikan dengan kebutuhan setiap cabang, serta jumlah peserta juga mempengaruhi bagaimana model yang akan diterapkan. Peneliti membagi implikasi menjadi dua : pertama implikasi internal yakni Santri tidak hanya saja mampu dalam hal Dan kedua eksternal yakni diniatkan sebagai pengembangan soft skill Santri, juga diniatkan sebagai media dakwah syiar Islam melalui kesenian. Pendidikan Kreatif yang diterapkan di Pesantren Assalafie ini cukup baik, dengan beberapa cabang kreativitas yang dimiliki sangat membantu para Santri dalam menumbuhkan soft skill dan mengembangkan minat dan bakat untuk menghasilkan sebuah ide, gagasan maupun karya. Dalam pelaksanaanya yang Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 relatif singkat yakni satu minggu satu kali namun terbukti dengan beberapa banyak karya yang dihasilkan, baik karya yang dimunculkan bentuk kecil maupun karya yang dalam bentuk besar atau pernah bersaing dengan karyakarya yang sudah terkenal. Karena dalam pelaksanaanya selalu mengedepankan profesionalisme sehingga para Santri yang mengikuti pun dituntut untuk totalitas. Kata kunci : Manajemen Pendidikan Kreatif. Menumbuhkan Soft Skill. Santri. PENDAHULUAN Pesantren merupakan salah satu objek kajian yang menarik untuk diteliti, baik dalam konteks pembelajaran, kelembagaan, pembiayaan, kepemimpina, pergerakan eksternal, bahkan kegiatan kreativitas Pesantren. Dilihat dari sejarah keberadaannya. Pesantren hadir di Indonesia sejak abad ke-15 mengiringi masuknya Islam ke Nusantara. Namun, ada yang mengatakan bahwa berdirinya Pesantren, baru muncul pada sekitar abad ke18. Bila kita berdasarkan pada teori yang kedua saja, berarti usia Pesantren telah mencapai sekitar enam kali lipat usia rata-rata orang Indonesia. Sebuah usia yang sangat tua untuk ukuran lembaga pendidikan. (Qomar, 2014, . Pendidikan merupakan salah satu indikator bagi kemajuan suatu bangsa. Program pendidikan jelas merupakan program strategis jangka panjang, karena pendidikan merupakan salah satu faktor penentu nasib bangsa dan negara melalui para calon generasi penerus. Oleh karena itu, upaya perbaikan dan peningkatan bidang pendidikan ini tidak bisa dijalankan secara reaktif, melainkan harus dijalankan dengan cara intensif, praktif dan strategis. Pendidikan merupakan usaha yang bersifat mendidik, membimbing, membina, mempengaruhi, dan mengarahkan dengan seperangkat ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mentransformasikan keadaan suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik. (Hidayati, 2006, . Lebih lanjut, usia yang panjang ini telah dimanfaatkan pesantren untuk turut berpartisipasi dalam berbagai sektor kehidupan, baik dalam bidang pendidikan, kreativitas, dakwah, politik, maupun sosial-ekonomi. Namun, pemetaan penekanan ada sedikit perbedaan, yakni pendidikan dan dakwah sebagai garapan utama, sedangkan politik dan sosial-ekonomi merupakan garapan pengembangan, baik karena faktor kepedulian sosial, kebutuhan individu Kiai, tuntutan masyarakat, keharusan yang mendesak maupun hobi para Kiainya. (AAola, 2006, . Hal tersebut di atas, sekiranya menjadi salah satu alasan mengapa penelitian ini layak untuk dibahas. Dari sektor pendidikan. Pesantren telah berperan malakukan bimbingan dan didikan kepada para Santri, baik itu Santri mukim (Santri yang menetap di Pesantren dan Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 mengikuti seluruh aturan yang berlaku di Pesantre. , maupun Santri kalong (Santri yang tidak menetap di Pesantren, hanya mengikuti beberapa kegiatan mengaji dan hanya mengikuti beberapa aturan saj. Di samping itu. Pesantren mengadakan pengajien bagi orang-orang tua yang berasal dari daerah sekitar Pesantren itu sendiri. Bimbingan atau didikan yang diberikan kepada Santri dan orang-orang tua itu, untuk membentuk kepribadian yang saleh, terutama dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Selain dibekali dengan kecerdasan intelektual di ranah ilmu agama dan pendidikan Pesantren, para Santri juga perlu dibekali kreativitas . oft skil. , agar para Santri siap dalam mengawal dan menghadapi perkembangan zaman global. Karena dapat dikatakan bahwa kreativitas menjadi nilai tambah untuk para Santri dalam belajar, dan juga bisa untuk menumbuhkan kepribadian Santri yang multitalent. Untuk itu, para Santri dituntut untuk memiliki kreativitas yang bisa dijadikan sebagai keahlian dalam mengelola dan mengembangkan soft skill dirinya, baik di dalam Pesantren maupun di luar Pesantren, terlebih Ketika memasuki dunia sosial-kemasyarakatan. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Universitas Harvard, menyebutkan bahwa 80% kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecakapan bagaimana mengelola emosinya . oft skil. dan 20% lagi ditentukan oleh faktor kecerdasan intelektualnya . ard Oleh karenanya, kesuksesan seseorang dalam bidang apapun yang sedang ditekuni tidak semata-mata karena kemampuan intelektual yang dimilikinya, namun juga kemampuan dalam mengelola emosinya. Dan juga berdasarkan riset yang dilakukan oleh Thomas J. Neff dan James M. Citrin, menyebutkan bahwa kunci kesuksesan ditentukan oleh 90% soft skill dan hanya 10% saja ditentukan oleh hard skill. (Basir. Juli, 2. Selanjutnya, bahwa setiap Pesantren memiliki strategi dan cara tersendiri dalam menumbuhkan inovasi dan kreativitas Santri, termasuk di Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon. Kreativitas tentu harus sesuai dengan kebutuhan, keahlian dan disesuaikan dengan kondisi para Santri, lingkungan serta karakteristik Pesantren, diantaranya pendidikan Pesantren salaf . dan khalaf . , yang sudah barang tentu memiliki kegiatan di luar kajian keagamaan yang bervarian, dengan ketentuan dan kebutuhan yang berlaku. Merujuk dari upaya sebuah Pesantren yang sepatutnya memiliki strategi dan manajemen pendidikan dalam menumbuhkan kreativitas Santri, maka salah satu hal yang dapat diungkapkan peneliti ialah adanya Manajemen Pendidikan Kreatif di Pondok Pesantren Assalafie Babakan. Ciwaringin. Cirebon. METODE PENELITIAN Artikel jurnal ini merupakan penelitian lapangan dengan metode pendekatan Penggunaan metode ini, diharapkan bisa mendapatkan gambaran yang Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 mendalam tentang tema penelitian, memperoleh data bukan sebagaimana seharusnya, bukan berdasarkan apa yang difikirkan oleh peneliti, tetapi berdasarkan bagaimana adanya yang terjadi, yang dialami, dirasakan, dan difikirkan oleh partisipan atau sumber data di lapangan tempat penelitian ini dilaksanakan. (Sugiyono, 2011, 295-. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik, karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah . Juga disebut sebagi metode etnografi karena pada awalnya, metode ini lebih banyak digunakan pada penelitian bidang antropologi budaya. Selain itu, disebut metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. (Kuswana, 2011, . Selain itu, jenis penelitian yang digunakan dalam penelitain ini ialah penelitian Creswell mengemukakan bahwa pendekatan fenomenologis digunakan untuk menggambarkan pengalaman yang dialami oleh beberapa invididu dari sebuah konsep atau fenomena. Fokus dari penelitian fenomenologis adalah menggambarkan apa yang dialami oleh semua orang dalam sebuah kelompok sebagaimana mereka alami sebagai sebuah (Creswell, 2007, . HASIL PEMBAHASAN Pengembangan Instrumen Auditing Mengelola sebuah lembaga pendidikan dengan segala derivasinya, tentu juga tidak bisa dilepaskan dari proses auditing sebagai bagian dari pengembangan instrumen. Proses ini sendiri lebih bersifat pada administrasi operasional keuangan. Keberlakuan teknik auditing umumnya diterapkan hampir dalam setiap instansi, baik swasta maupun milik pemerintah. Menurut salah satu pendapat, bahwa pendidikan dilihat dari segi pengelolaannya, termasuk dalam organisasi sektor publik. (Teguh Triwiyanto. Ahmad Yusuf Sobri, 2013, . Auditing sendiri, perlu dilakukan sebagai upaya kontrol terhadap pergerakan mutu manajemen sebuah lembaga, baik itu lembaga umum maupun yang bersinggungan langsung degan keagamaan. Menurut Konrath, sebagaimana dikutip oleh Andi Rustam dan kawan-kawan, auditing didefinisikan sebagai suatu proses sistematis untuk secara objektif mendepatakan dan mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang kegiatan-kegiatan. (Rustam, 2018, . Salah satu referensi menyebutkan bahwa audit manajemen merupakan bagian dari sistem pengukuran kinerja untuk mengendalikan aktivitas Perguruan Tinggi. (Teguh Triwiyanto. Ahmad Yusuf Sobri, 2013, . Melihat pembacaan dari salah satu literatur lain, setidaknya tujuan auditing ialah untuk memastikan temuan-temuan yang sekiranya bersifat kurang layak, agar tidak terjadi lagi di kemudian hari, selain itu, mendukung Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 sistem pelaksanaan implementasi kegiatan pendidikan secara menyeluruh, baik internal maupun eksternal. (Islam, 2021, i. Maka, dalam penelitian ini, yang dimaksud ialah bagaimana pengukuran kinerja pendidikan kreatif Pesantren Assalafie yang tertuang dalam BAKREAS, yang berkaitan dengan teknik auiditing. Seperti yang diungkapkan di atas, bahwa proses teknik auditing dilakukan sebagai upaya kontroling mutu manajemen pendidikan, secara khusus yang mengerucut pada kegiatan-kegiatan ekstra Pesantren Assalafie. Oleh karenanya, melalui teknik auditing tersebut, keberlangsungan administratif BAKREAS akan menghasilkan berbagai macam evaluasi, khususnya yang bersinggungan dengan mutu manajemen, baik itu berupa opersional, akomodasi, pelaksanaan atau hal lainnya. Karena seperti yang sudah diungkapkan di awal, bahwa lembaga pendidikan merupakan sektor pelayanan publik, maka pertanggungjawaban kepada orang tua Santri juga patut menjadi Selain sebagai laporan, hasil auditing juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi untuk periode selanjutnya. Konsep Kreativitas Kemampuan seseorang dalam melahirkan atau memunculkan sesuatu yang baru baik berupa karya, gagasan, maupun ide, umumnya bersifat relatif berbeda. Kreativitas menunjukan seseorang cara berpikir dalam menyelesaikan masalah. Karena sikap kreatif bermula dari berpikir untuk menemukan suatu ide, untuk itu dalam memecahkan suatu permasalahan atau memunculkan suatu ide perlu beberapa konsep yang dibutuhkan. Tantangan yang perlu diperhatikan dalam lembaga pendidikan yang erat kaitannya dengan kreativitas adalah tingkat pengetahuan pendidik mengenai pembelajarn kreatif. Strategi pembelajaran yang bisa digunakan untuk mengembangkan kreatifitas peserta serta konsep kreativitas itu sendiri. Kreativitas adalah soft skill yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang karena sangat bermanfaat untuk aspek dan kepribadian seseorang itu sendiri. Orang yang mempunyai jiwa kreativitas yang tinggi tidak akan kehilangan peluang dan tidak kehabisan akal dalam menghasilkan karya atau produk, karena mereka dapat menciptakan peluang sendiri dengan segala kemampuan dan penunjang yang dimiliki. Mereka juga memiliki mental, akal, kepribadian dan tingkat emosional yang dapat dikendalikan sebaik mungkin, sehingga karya yang dihasilkan bisa maksimal. Ketika seseorang berhasil merangkum konsep kreativitas, maka akan muncul suatu kemampuan dan ide yang diproses dengan sedemikian rupa dan dengan segala penunjang yang memadai, sehingga menghasilkan suatu produk atau karya yang bisa dijadikan sebagai Auproduk unggulanAy. Dalam kaitannya dengan manajemen pendidikan kreativ pada sebuah lembaga, dari pemaparan ulasan di atas, dapat pula diaplikasikan kepada anak-anak sesuai dengan ide atau bakat yang terlihat dalam diri anak atau Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 peserta didik sehingga bisa lebih cepat dalam menghasilkan suatu produk dan karya yang berkualitas. Konsep Pendidikan Kreativitas Pesantren Kebutuhan terhadap tumbuh kembangnya kreativitas semakin terasa dalam kehidupan yang memasuki era modern saat ini, baik dalam dunia perusahaan, entertaimen, kesehatan, politik, budaya dan sosial maupun bidang lainnya. Tanpa adanya kreativitas yang bermakna, bukan tidak mungkin bahwa nasib bangsa dan negara akan tertinggal oleh perkembangan dunia yang sangat dinamis. Sebagai contoh, jika ada suatu produk perusahaan atau entertaint yang selalu monoton dan tidak memunculkan kreativitas baru, maka bisa jadi konsumennya akan semakin menghilang karena bosan dan beralih ke produk lain. Kreativitas merupakan salah satu kemampuan manusia yang menakjubkan dalam memahami dan menghadapi situasi atau masalah secara berbeda dengan yang bisa dilakukan oleh orang lain pada umumnya. Kemampuan berkreasi memungkinkan manusia untuk mempertemukan, menghubungkan, atau menggabungkan berbagai kenyataan-kenyataan, gagasan atau hal-hal berbeda yang sebelumya tidak berhubungan, menjadi satu dan berguna untuk menjawab masalah yang dihadapi. Dalam konteks Pendidikan Anak, melalui kreativitas pula, anak dapat mengkreasikan sesuai dengan bakat ataupun kemampuan, sehingga diharapkan, dapat memecahkan suatu masalah, dan dapat meningkatkan kualitas hidupnya di masa yang akan datang. Dan kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk meningkatkan sejumlah objekobjek yang ada, dan mengkombinasikannya menjadi sebuah bentuk yang layak untuk ditempatkan sebagai sebuah karya seseorang dalam beberapa bidang. Embrio kreativitas seperti apa yang telah dipaparkan di atas, juga perlu diterapkan kepada para Santri yang berada di Pesantren. Mengajarkan kreativitas kepada para Santri, selain sebagai alat untuk mengasah keterampilan dan kemampuan baru di luar kegiatan keagamaan yang notabene sebagai ciri khas Pesantren, juga sebagai sarana menumbuhkan soft skill (Aukemampuan tambahanAy selain kemampuan bidang pokok yang sedang dijalani atau ditekuni seseoran. Hal tersebut dilakukan tentu karena salah satu faktornya ialah, agar para Santri setelah lulus dari Pesantren, kemudian masuk dalam dunia bermasyarakat yang praksis, para alumni Santri ini memiliki kemampuan untuk merespon zaman yang semakin majemuk, global dan saratakan tantangan peradaban. Bentuk dan pola menumbuhkan kreativitas Santri ini, setidaknya sudah terdapat dalam beberapa lembaga pendidikan Pesantren. Terlebih ketika sebuah Pesantren bertransformasi menjadi lembaga yang progresif dengan tetap memegang teguh turats . keilmuan keislaman kepesantrenan. Para era sekarang, bentuk kreativitas Santri banyak bermunculan di Pesantren khalaf . yang tersebar di seluruh Indonesia. Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 Di antara Pesantren yang memiliki wadah kreatifitas Santri ialah Pondok Pesantren Assalafie Babakan. Ciwaringin. Cirebon. Meski demikian, tidak hanya pada Pesantren modern saja, yang menerapkan pola Lembaga kreativitas, di Pesantren-pesantren salaf . , juga terdapat kegiatan atau kelembagaan yang mengatur kegiatan tambahan untuk menumbuhkan dan mengasah soft skill Santri. Hanya saja, biasanya Pesantren salaf tersebut melebarkan sayapnya dengan membuat Pesantren. Lembaga, atau sejenisnya yang nantinya tetap akan berada dalam satu naungan Yayasan. Manajemen Kreativitas Pesantren Assalafie Istilah AumanajemenAy memiliki banyak arti, tergantung pada orang yang Istilah manajemen madrasah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi madrasah. Berkaitan dengan itu, terdapat tiga pandangan berbeda. pertama, mengartikan lebih luas dari pada manajemen . anajemen merupakan inti dari kedua, melihat Manajemen lebih luas dari pada administrasi dan ketiga, pandagan yang menggangap bahwa Manajemen identik dengan administrasi. Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah AumanajemenAy dan AuadministrasiAy mempunyai fungsi yang sama. Karena itu, perbedaan kedua istilah tersebut tidak konsisten dan tidak (Mulyasa, 2004, . Kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir setelah kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Kreativitas sebagai keseluruhan kepribadian merupakan hasil interaksi dengan Lingkungan yang merupakan tempat individu berinteraksi itu dapat mendukung berkembangnya kreativitas, tetapi ada juga yang justru menghambat berkembangnya kreativitas individu. Kreativitas yang ada pada individu itu digunakan untuk menghadapi berbagai permasalahan yang ada ketika berinteraksi dengan lingkungannya dan mencari berbagai alternatif pemecahannya sehingga dapat tercapai penyesuaian diri secara kuat. Kreativitas seseorang dapat dilihat dari tingkah laku atau kegiatannya yang kreatif . ada proses penempaa. , tidak melulu pada apa yang dihasilkan dari oleh pikiran dan Menurut Slamet, bahwa yang penting dalam kreativitas bukanlah penemuan sesuatu yang belum pernah diketahui orang sebelumnya, melainkan bahwa produk kreativitas merupakan sesuatu yang baru bagi diri sendiri dan tidak harus merupakan sesuatu yang baru bagi orang lain atau dunia pada umumnya. (Slamet, 2010. Menelaah dari berbagai ulasan di atas, dapat dinyatakan bahwa BAKREAS memiliki manajemen pendidikan kreatif yang mencakup banyak aspek, baik itu aspek kesenian yang bersinggungan dengan keagamaan, atau bahkan kesenian murni. Artinya bahwa. Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 aplikasi manajemen pendidikan kreatif di BAKREAS berbasis pada berbagai teori, untuk kemudian dikembangakan sedemikian rupa sesuai dengan kearifan lokal dan kebutuhan Pesantren. Adapun para peserta BAKREAS juga berasal dari Santri Assalafie itu sendiri, belum merambah rekrutmen anggota dari luar Pesantren. Nampaknya, rekrutmen secara umum juga perlu dilakukan sebagai upaya Aupelebaran sayapAy dakwah. Jadi, dapat dikatakan bahwa, konsep dakwah yang diusung Pesantren Assalafie tidak hanya berhenti pada pertunjukan performa semata, akan tetapi diletakkan pada kegiatan rutin dalam Manajemen pengambilan pengampu juga nyaris sama, yaitu mengambil pengampu dari internal Pesantren, meski ada beberapa cabang BAKREAS yang diampu oleh pihak atau orang dari luar Pesantren, atau berkolaborasi dengan pihak luar. Akan tetapi, lebih daripada itu, secara umum bahwa penerapan manejemen pendidikan kteatif di BAKREAS tergolong baik. Hal itu terbukti dari cukup banyaknya cabang kesenian yang dikelola sedemikian rupa, dan secara umum, semuanya berjalan dengan baik. Model Pembelajaraan Kreativitas Pesantren Assalafie Pesantren Assalafie yang memiliki organisasi pendidikan kreatifitas dalam wadah BAKREAS, tentu menerapkan pembelajaran kreatifitas yang sudah direncanakan untuk memberikan dan memfasilitasi para Santri dalam menumbuhkan jiwa kreatifitas dan soft skill yang baik. Perencanaan model pembelajaran dalam BAKREAS tnetunya disesuaikan dengan kebutuhan setiap cabang, serta jumlah peserta juga mempengaruhi bagaimana model yang akan diterapkan. Model pembelajaran BAKREAS ini menggunakan model layaknya pembelajaran pada umumnya, namun konsep belajarnya tentu memiliki ciri khas tersendiri, seperti contoh kelas yang dipisah antara santri perempuan dan laki-laki, waktu belajar yang dipisah juga, dan tentu proses belajarnya pun diselaraskan dengan nuansa pesantren yang tetap mengedepankan akhlakul karimah santri. Model pembelajaran yang dilakukan pesantren Assalafie dalam hal ini dibawah kendali BAKREAS, salah satunya dilakukan dengan bimbingan dan konsultasi full 24 jam disamping pembelajaran kelas yang dilaksanakan pada setiap hari jumat. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa BAKREAS berada dilingkungan pondok pesantren yang mana murid dan tutornya berada dilingkungan yang sama atau tidak berjauhan. Hal ini secara otomatis dapat menjadikan system konsultasi dan bimbingan di BAKREAS bisa pada waktu yang tidak terbatas. Tujuan dari pengembangan tersebut tentunya untuk menumbuhkan dan mengembangkan soft skill para Santri sebagai upaya merespon perkembangan zaman yang semakin kompleks. Karena kebutuhan dunia global, tidak hanya soal agama, akan tetapi lebih daripada itu, melingkup hampir segala aspek kehidupan. Salah satu model Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 pembelajaranya yaitu dilakukan dengan mengelompokan kelas dan waktu tertentu, proses ini dilaksanakan tentu dengan penyesuaian anatar tutor dan murid. ketentuan ini menjadikan system pelatihan yang konsisten agar anak-anak mampu menyelesaikan dengan target yang telah ditentukan. Pengembangan Kreativitas Pengembangan kreativitas merupakan rangkaian unsur yang akan membantu Santri untuk lebih berkembang bakat dan kreativitasnya, sehingga Santri bisa menghasilkan suatu karya dari berbagai kegiatan yang disajikan oleh guru dalam pembelajaran. Secara eksplisit dikatakan, pada setiap tahap perkembangan anak dan jenjang Pendidikan, mulai dari sejak tingkat dasar sampai tingkat yang lebih tinggi, bahwa kreativitas perlu dipupuk, diasah, dikembangkan dan ditingkatkan disamping mengembangkan kecerdasan. Alasan kreativitas penting dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak, yaitu pertama, karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan diri termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. kedua, kreativitas atau berpikir kreatif, sebagai kemarmpuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap Buatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal. ketiga, bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu. serta keempat, kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. (Munandar, 2. Dengan adanya kegiatan BAKREAS ini tentu berdampak pada pola pikir dan skill santri, karena BAKREAS melakukan pembinan yang sesuai dengan kadar kemampuan juga minat santri, seperti contoh berawal santri yang tidak memiliki keahlian dan bakat di kreativitas itu seiring berjalannya waktu dengan adanya kegiatan yang diinisiasi oleh BAKREAS menjadikan santri ini memiliki skill yang tentu sangat baik dibandingkan sebelum santri itu menimba ilmu kreativitas. Implikasi Pembelajaraan Kreatif Pesantren Assalafie Dalam mengembangkan dan mewujudkan potensi kreatifnya, seseorang dapat mengalami berbagai hambatan yang dapat merusak bahkan mematikan kreativitasnya (Amabile, 1. Seperti yang diungkap dalam Nashori & Mucharam, 2002, mengemukakan bahwa ada empat hal yang bisa saja mematikan kreativitas, yaitu evaluasi, hadiah, persaingan, dan lingkungan yang membatasi. Oleh karena itu, hendaknya guru dan orang tua bertindak secara seimbang. Anak memerlukan pengendalian sehingga mereka merasa aman dalam lingkungan yang stabil dan andal, tetapi tidak sedemikan jauh bahwa mereka merasa seakan-akan apapun yang mereka lakukan adalah karena diharuskan. Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 Melalui pemaparan di atas, peneliti mendapatkan satu abstraksi terkait implikasi dari manajemen kreatif BAKREAS. Peneliti membagi implikasi menjadi dua bagian secara umum, yaitu implikasi internal dan eksternal. Melalui BAKREAS, secara internal memiliki implikasi sebagai berikut. bahwa para Santri tidak hanya saja mampu dalam hal keagamaan seperti mengajiAimengkajiAimenghafalAimenafsirkan al-QurAoan dan Kitab Kuning, akan tetapi, nantinya Santri akan memiliki daya saing yang cukup tinggi dan luas, karena memiliki soft skill yang diasah dengan rutin melalui BAKREAS, tentunya sesuai kemampuan, kemauan, minat dan bakat para Santri atau peserta BAKREAS. Sedangkan implikasi eksternalnya ialah. bahwa melalui BAKREAS, yang diniatkan sebagai pengembangan soft skill Santri, selain itu juga diniatkan sebagai media dakwah syiar Islam melalui kesenian. Maka hal ini menjadi penting dilakukan. Karena dakwah dengan cara mengkolaborasikan antara agama dan kesenian, umumnya banyak diminati masyarakat, hal itu dikarenakan dakwah model demikian tidak memberikan kesan AukakuAy dan AusaklekAy. Yang terpenting adalah pengelolaannya tidak sampai melanggar ketentuan KESIMPULAN Dari bidang pendidikan. Pesantren sangat berperan melakukan bimbingan dan didikan baik berupa pendidikan maupun pengawasan kepada para Santri. Selain dibekali dengan kecerdasan intelektual di ranah ilmu agama dan pendidikan Pesantren, para Santri juga sangat berpotensi memiliki sebuah kreativitas . oft skil. agar para Santri siap dalam mengawal dan menghadapi perkembangan zaman. Karena dapat dikatakan bahwa kreativitas menjadi nilai tambah untuk para Santri dalam belajar, dan juga bisa untuk menumbuhkan kepribadian Santri yang multitalent. Kreativitas akan dihasilkan atas dasar kemampuan yang dimiliki setiap orang baik berupa ide, gagasan maupun karya. Namun, sebenarnya setiap orang adalah kreatif apabila orang tersebut mampu dan memeiliki daya juang yang tinggi. Untuk itu untuk mendorong seseorang agar memunculkan kreativitasnya perlu didukung dengan beberapa aspek dan faktor yang mampu membuat seseorang itu bisa menghasilkan Kreativitas mencerminkan dinamika seseorang untuk mampu melakukan sesuatu yang baru atau dengan pembaharuan. Hasil secara umum dari penelitian terhadap Santri yang belajar dalam proses menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas menunjukan hasil yang baik, dengan diterapkannya manajemen dan tata kelola organisasi yang mengatur jalannya proses pembelajaran dengan berbagai strategi dan masing-masing metode yang digunakan pada setiap kreativitasnya. Hal ini membuktikan bahwa setiap hasil karya, ide, gagasan Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 maupun kreativitas yang dimunculkan itu perlu didorong dengan semaksimal mungkin dan dengan pengawasan yang sesuai dengan standar organisasi. Manajemen Pendidikan Kreatif yang diterapkan di Pesantren Assalafie ini cukup baik, melalui wadah organisasi yang diberi nama BAKREAS (Badan Kreativitas Santri Assalafi. dengan beberapa cabang kreativitas yang dimiliki sangat membantu para Santri dalam menumbuhkan soft skill dan mengembangkan minat dan bakat untuk menghasilkan sebuah ide, gagasan maupun karya. Model pengembangan pendidikan kreatif yang dilakukan ini tentu dengan berbagai strategi dan beberapa terobosan baru. Hal ini tidak terlepas dari evaluasi yang dilakukan pada setiap 3 bulannya, sehingga BAKREAS ini selalu tampil eksis dan sangat memperhatikan karya-karya para Santri. Sehingga bisa mengetahui sejauh mana karya atau ide yang dihasilkan pada sebelumnya sampai hasil yang sesudahnya. Implikasi yang dirasakan sangatlah mempengaruhi daya pikir dan kreativitas Santri, sebagaimana diketahui, bahwa Pesantren yang tidak dilengkapi dengan pendidikan kreatif ini, sepertinya akan sulit bersaing dengan Pesantren yang melakukan terobosan dengan adanya pendidikan kreatif, seperti yang diterapkan pada Pesantren Assalafie ini, sehingga para Santri memiliki jiwa yang kreatif, bukan hanya dalam kegiatan pendidikan kreatifnya saja, namun berimbas pada pendidikan agama dan lain sebagainya. Manajemen Pendidikan Kreatif Pesantren Dalam Menumbuhkan Soft Skill Santri Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon Mohammad Faiz Ashocha Ilma E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 Tanzhimuna Vol 4. No 1 Juni 2024 DAFTAR PUSTAKA