ISSN: 2988-2850 Volume 3. Nomor 2. Juli 2025 DOI 10. 28926/pyschoaksara. Stereotip dan Self-Concept Lansia: Studi Fenomenologis di Panti Wredha Harapan Ibu Alya Azizah. Amarylis Rose Vi. Aqim Laila. Cahya Arofatun Nisa. Muhammad Alaudin Candra Pratama. Nelly Oktavia Rakhmadani. Siti Hikmah Anas. Retina Raharjo. Tsabita Maula Izzati. Zahra Nur Azizah. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 Universitas Islam Negeri Walisongo. Indonesia Email: 1alyazizah22@gmail. amarylisrosevi@gmail. com, 3aqimlailaa2935@gmail. nisachya362@gmail. com, 5candrapratama1314@gmail. nellyoviar00@gmail. com, 7hikmahanas@walisongo. raharjoretina31@gmail. com, 9tsabitaizzati541@gmail. zahraazizah2405@gmail. Abstract The purpose of this study is to find out how older people living in Harapan Ibu Nursing Home interpret stereotypes that exist in society and how these stereotypes affect their perceptions of Data were collected through semi-structured interviews with four purposively selected older people, and a qualitative approach with phenomenological methods was used. The results showed that parents understood various stereotypes, both positif and negatif. Positif stereotypes, such as wisdom and responsibility, are internalized from childhood and enhance self-concept. Negatif stereotypes, such as unproductiveness and physical weakness, are acknowledged, but some parents normalize them as part of the aging process to avoid psychological distress. The findings suggest that, in terms of self-concept, older people show awareness of physical and social changes, but they still maintain positif values in terms of moral, social, physical and psychological. The findings suggest that life experiences and social support are crucial for building and maintaining a positif self-concept in older people, and that a more inclusive approach should be used to look at aging. Keyword : Elderly. Stereotypes. Self-Concept Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana orang tua yang tinggal di Panti Wredha Harapan Ibu memaknai stereotip yang ada di masyarakat dan bagaimana stereotip tersebut memengaruhi persepsi subjek tentang diri subjek sendiri. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap empat orang tua yang dipilih secara purposive, dan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua memahami berbagai stereotip, baik positif maupun negatif. Stereotip positif, seperti kebijaksanaan dan tanggung jawab, diinternalisasi sejak kecil dan meningkatkan konsep diri. Stereotip negatif, seperti ketidak produktifan dan kelemahan fisik, diakui, tetapi sebagian orang tua menormalisasinya sebagai bagian dari proses penuaan untuk menghindari tekanan Temuan ini menunjukkan bahwa, dalam hal konsep diri, orang tua menunjukkan kesadaran atas perubahan fisik dan sosial, tetapi subjek tetap mempertahankan nilai-nilai positif dalam hal moral, sosial, fisik, dan psikis. Penemuan ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup dan dukungan sosial sangat penting untuk membangun dan mempertahankan konsep diri positif pada orang tua, dan bahwa pendekatan yang lebih inklusif harus digunakan untuk melihat usia lanjut. Kata Kunci : Lansia. Stereotip. Konsep Diri Received: 10 Februari 2025 Accepted: 24 Maret 2025 Published: 15 Juli 2025 Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Pendahuluan Banyak perubahan yang terjadi pada lansia seiring bertambahnya usia. Perubahan tersebut cenderung akan memengaruhi kualitas hidup pada lansia. Penurunan kondisi kesehatan yang terjadi pada lansia sering kali bertentangan dengan keinginan atau harapan subjek untuk tetap sehat, mandiri, dan mampu menjalani aktivitas sehari-hari sebagaimana biasanya (Courtin & Knapp dalam (Budiono & Rivai, 2. Berbagai stereotip atau persepsi masyarakat mengenai lansia akan sangat memengaruhi keberlangsungan hidup lansia. Stereotip yang negatif atau positif akan memengaruhi lansia dalam menilai dirinya sendiri atau yang disebut dengan konsep diri (Yentika. Penurunan konsep diri pada lansia dapat menyebabkan perubahan dalam peran sosal subjek, baik dalam lingkungan masyarakat maupun keluarga. Lansia yang mengalami hal ini cenderung menunjukkan sikap egois dan kurang terbuka terhadap pendapat orang lain, yang kemudian berujung pada keterasingan sosial dan perasaan tidak lagi memiiliki nilai atau peran. Kondisi seperti ini akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis (Nugroho dalam (Yentika. Pemilihan tempat tinggal menjadi sesuatu yang penting bagi lansia. Umumnya lansia memilih hidup dengan anak-anaknya tetapi tak jarang juga dia memilih hidup terpisah dari anak-anak subjek. Di indonesia salah satu tempat tinggal untuk lansia adalah panti wredha atau panti jompo (Pali dalam (Yentika, 2. Panti wredha sebagai tempat tinggal bagi lansia memunculkan dinamika sosial yang unik. Di satu sisi, keberadaan panti memberikan perlindungan dan pelayanan dasar. Di sisi lain, tinggal di panti juga dapat menimbulkan rasa keterasingan atau penurunan peran sosial yang dipengaruhi terhadap konstruksi konsep diri (Yentika, 2. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana lansia memaknai stereotip yang subjek terima serta bagaimana hal tersebut terkait dengan gambaran konsep diri subjek. (Machado & Sousa, 2. melakukan penelitian tentang representasi orang tua dalam iklan digital Brasil dan menemukan bahwa stereotip masih digunakan untuk menggambarkan orang tua. Dari 104 iklan yang menampilkan orang dewasa 19 di antaranya secara eksplisit menggunakan stereotip dengan 12 di antaranya menampilkan stereotip positif seperti kebijaksanaan, pengalaman hidup, dan peran sebagai figur yang dihormati, sementara 7 iklan lainnya menampilkan stereotip negatif seperti kesulitan menggunakan teknologi, keterasingan sosial, dan penampilan fisik yang lemah dan ketinggalan zaman. Studi ini menunjukkan bahwa stereotip positif lebih umum, tetapi stereotip negatif lebih jelas dan berbeda dan subjek mungkin lebih mendukung keyakinan ageis (Nurofiqhoh et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh (Santi Susilawati. Agus Setyo Utomo, 2. mengenai konsep diri lansia yang tinggal di Panti Wredha Pangesti Lawang menjelaskan bahwa konsep diri lansia dipengaruhi oleh faktor psikososial di mana aspek psikologis berhubungan dengan stereotip yang dirasakan oleh lansia itu sendiri seperti persepsi negatif terhadap diri dan peran Berdasarkan studi terdahulu tersebut, peneliti melihat adanya celah penelitian mengenai bagaimana lansia memaknai stereotip yang ditujukan kepada lansia sehingga Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi peneliti juga akan memberi gambaran self-concept lansia disamping pemaknaan stereotip yang telah diterima tadi. Stereotip adalah menyamaratakan citra tentang kelompok lain, terutama tentang karakteristik psikologis atau ciri dari suatu kelompok, sehingga meski tidak jelas kebenarannya stereotip akan tetap melekat pada suatu kelompok. Hal ini ndapat mempengaruhi interaksi dan menghambat komunikasi antarbudaya (Rumondor dalam (Amna & Aflah, 2. Menurut Porter & Samover dalam (Wicaksono et al. , 2. stereotip merupakan suatu kepercayaan yang terlalu digeneralisasikan, terlalu sederhana, atau terlalu dilebih-lebihkan mengenai suatu kategori atau kelompok orang Stereotip ini lahir dari kepercayaan budaya dan terbentuk di dalam pikiran masing-masing orang, sehingga meskipun dua orang memiliki gambaran umum yang sama tentang lansia, namun detail pandangan subjek bisa sangat berbeda. Komponen Ae komponen dalam perwujudan stereotip lansia menurut Levy dalam (Shimizu, 2. antara lain. Internalisasi stereotip usia sejak dini, . Operasi bawah sadar, . Relevansi Diri, dan . Penggunaan beberapa jalur. Menurut Rogers. Hall dan Lindzey dalam (Hartanti, 2. menyatakan bahwa konsep diri terdiri dari ide, nilai, dan persepsi yang berhubungan dengan kesadaran akan diri Proses pembentukan konsep diri dipengaruhi oleh pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Jika seseorang tidak memiliki pengalaman sosial, maka pemahamannya tentang dirinya dan bagaimana orang lain melihatnya akan terbatas. Menurut Burns dalam (Hartanti, 2. menjelaskan bahwa komponen dalam konsep diri antara lain. Aspek fisik, bagaimana seseorang menilai dan memandang kondisi tubuh atau penampilan fisiknya sendiri, . Aspek social, peran dan fungsi sosial yang dijalani oleh individu dalam kehidupan bermasyarakat, . Aspek moral, keyakinan yang dianut dalam kehidupan individu, dan . Aspek psikis, terkait pikiran, perasaan, serta sikap individu terhadap dirinya sendiri. Metode Subjek Tabel 1. 1 deskripsi subjek Tabel deskripsi subjek Usia 77 tahun Jenis Kelamin Perempuan 72 tahun 60 tahun 51 tahun Perempuan Perempuan Perempuan Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis menggunakan wawancara semi terstruktur dengan data primer sebagai jenis data yang Penelitian ini berfokus pada lansia yang tinggal di panti Wredha Harapan Ibu Semarang sebagai populasi. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria usia 50 sampai 80 tahun dan lansia yang dapat berkomunikasi dengan baik, adapun sampel dari penelitian ini berjumlah 4 orang lansia perempuan, yaitu U . A . M . , dan D . Penelitian ini menganalisis tentang bagaimana pandangan dan pemaknaan lansia terhadap stereotip yang ditujukan kepada Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi lansia dan gambaran self-concept pada lansia. Penelitian ini dilaksanakan pada hari Rabu, 23 April 2025 di Panti Wredha Harapan Ibu Semarang, pemilihan tempat penelitian ini di dasari pada kebutuhan penelitian untuk mengeksplorasi lebih luas dan dalam mengenai kasus yang sedang di teliti. Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Analisis Fenomenologi Interpretatif adalah metode penelitian kualitatif untuk mengungkap kebutuhan dan mempelajari pengalaman narasumber (Snyder et al. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang terbuka dan fleksibel. Wawancara dirancang untuk menggali pemahaman mendalam mengenai pengalaman yang dialami oleh lansia di Panti Wredha Harapan Ibu mengenai stereotip dan konsep Proses analisis dimulai dengan verbatim, mengubah percakapan verbal menjadi teks yang dapat dianalisis lebih lanjut. Selanjutnya, dilakukan pengkodean awal untuk mengidentifikasi makna-makna penting yang muncul. Kode-kode ini kemudian dikelompokkan ke dalam tema-tema utama yang menggambarkan pengalaman dan interpretasi partisipan. Hasil analisis disajikan dalam bentuk narasi tematik yang diperkuat dengan kutipan langsung dari partisipan untuk menjaga keaslian data dan memberikan pemahaman yang mendalam mengenai pemaknaan stereotip dan gambaran self-concept lansia di Panti Wredha Harapan Ibu. Hasil dan Pembahasan Hasil dan pembahasan disajikan dengan mengikuti konsep dari komponen-komponen stereotip lansia yang dikemukaan oleh Levy dalam (Shimizu, 2. dan aspek-aspek self-concept yang dikemukakan oleh Burns dalam (Hartanti, 2. Stereotip Lansia Stereotip mengenai lansia terinternalisasi sejak individu belum menempuh masa lansia. Dalam hasil wawancara ini subjek A AuSama orang tua dulu yaa gapapa bagus, ya orang tua orang yang pengen anaknya menjadi orang yang benar, disekolahkan supaya menjadi pekerja yang baiklah, maksudnya orang tua tu bertanggung jawab penuhAy Pernyataan lansia menunjukkan bahwa sejak muda telah menginternalisasi stereotip positif lansia sebagai sosok yang bertanggung jawab dan pembimbing, yang membentuk beragam hingga tua dan berpengaruh pada konsep diri dirinya saat ini. Pernyataan tersebut menyoroti peran orang tua dalam membentuk nilai anak sejak dini, khususnya mengenai pentingnya menjadi pribadi yang AubaikAy dan Aupekerja yang baik. Ay Sesuai dengan teori Stereotype Embodiment Theory, stereotip usia (AS) diyakini mulai terinternalisasi sejak usia muda dan menjadi semakin signifikan secara pribadi seiring bertambahnya usia. Hal ini dapat membentuk cara pandang individu terhadap penuaan dan memengaruhi hasil perkembangan di masa mendatang (Levy, 2009 dalam (Brothers et al. , 2. Kesimpulannya, meski niat orang tua positif, nilai yang ditanamkan dapat berkontribusi terhadap terbentuknya stereotip negatif tentang usia lanjut yang terbawa hingga dewasa. Kemudian adapun subjek M Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi AuKalo itu saya ga suka karena pasti semua orang ada kesalahan, orang tua yang saya temui ramah dan suka memberi buah- buahan" Pada saat muda, lansia menolak stereotip negatif tentang lansia, karena merasa tidak adil menilai orang dari kesalahan, dan justru menginternalisasi citra positif berdasarkan pengalaman bertemu lansia yang ramah dan dermawan. Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa pengalaman langsung dapat menjadi alat penting dalam menolak dan mengoreksi stereotip usia yang negatif. Hal ini mendukung penemuan (Brothers et , 2. , yang menyatakan bahwa stereotip usia dapat ditanamkan sejak kecil tetapi pengalaman pribadi yang positif dapat membantu melawan atau mengubah stereotip Lansia akan memiliki proses menyadari dirinya adalah seorang lansia secara otomatis tanpa proses berpikir yang panjang. Selain itu, perasaan relevan antara dirinya dengan stereotip lansia saat individu telah berumur lanjut juga akan terjadi. Operasi bawah sadar salah satunya dirasakan oleh subjek U mengenai waktu ketika subjek U merasa telah menjadi lansia. Subjek U menyatakan AuPas cucu pertama saya lahirAy menggambarkan untuk pertama kalinya, subjek berpikir ketika dipanggil nenek artinya ia sudah dalam kategori lanjut usia. Jawaban atau pernyataan yang disampaikan oleh subjek selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni & Abidin dalam (Astuti et al. , 2. bahwa menyadari akan perubahan yang terjadi dalam hidup subjek maka termasuk menyadari penurunan secara fisik. Pengakuan telah memasuki masa lansia melalui operasi bawah sadar dan tanpa penolakan dari subjek Sementara subjek A menyatakan AuHarus parcaya diri si aslinya, waktu ngejalani kehidupan berbagai macam yaa kita harusnya kuat, kaya misalnya saya pernah hidup di hutan yang sangat lebat dan binatang buas yaa disitu saya seolah olah takut, tapi kalau takut terus mundur saya ya payah dan rugi sendiri karena itu emang untuk masa depan saya itu, saya jalani, ada monyet ada ketek ada macem macem yauda saya jalani dengan tekun, sehingga sampe sini" dari pernyataan tersebut menunjukkan jika alam bawah sadar mendorong agar tetap terlihat kuat, menekan rasa takut pada diri sendiri dan mendorong rasa kepercayaan diri sebagai bentuk perlindungan diri terhadap kemungkinan rasa tidak percaya diri. ini diperkuat dengan penelitian (Putri et al. , 2. yakni kepercayaan diri adalah penampilan fisik. Orang yang merasa puas dengan penampilan fisiknya akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, sedangkan orang yang merasa kurang puas akan memiliki kepercayaan diri yang rendah. Subjek M ketika ditanya mengenai pandangannya ketika orang lain mulai memperlakukannya sebagai lansia jawaban subjek M Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi AuBiasa aja, karena itu hal logis karena itu udah tua ga muda lagiAy. Pernyataan subjek M menunjukkan penerimaan yang realistis pada status lansia, yang mencerminkan peningkatan relevansi diri melalui penyesuaian identitas sesuai usia tanpa penolakan atau krisis diri. Subjek A juga sependapat dengan subjek M terkait perlakuan orang lain yang membuat merasa berbeda, karena menurut subjek A mau tidak mau pandangan yang berbeda tersebut diterimanya dengan alasan umur yang memang sudah masuk di fase lansia. Hal ini menunjukkan relevansi diri pada lansia yang diterima secara positif. Subjek U menyatakan setuju dengan stereotip bahwa lansia pelupa dan tidak produktif, namun disamping itu juga memberikan justifikasi bahwa bukan hanya lansia yang bisa pelupa dan tidak produktif tapi anak muda juga Hal ini menunjukkan adanya pengakuan terhadap stereotip negatif secara umum dan menormalisasikan kondisi tersebut semata- mata agar tidak menjadi beban identitas bagi lansia. Pengakuan selektif terhadap stereotip penuaan sambil mempertahankan interpretasi pribadi yang positif merupakan strategi adaptif yang membantu lansia mengelola identitas subjek (Marquet et al. , 2. Proses ini memungkinkan lansia untuk mengakui realitas perubahan terkait usia tanpa membiarkan stereotip tersebut mendefinisikan keseluruhan identitas subjek. Dalam hasil wawancara ini subjek D ketika ditanya mengenai apakah tubuh subject lebih lemah hanya karena usia, sebagai jawaban subject menjawab. AuLumayan merasa lemah karena badan itu ga terlalu kenceng, ga terlalu kuat dan saya juga istirahat terusAy. Pernyataan yang disampaikan oleh subjek D sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Prahasasgita & Lestari, 2. tentang penurunan kemampuan berpikir dan kondisi fisik pada orang-orang tua. Perasaan tubuh yang dianggap Aulumayan merasa lemah karena badan itu ga terlalu kenceng, ga terlalu kuat dan saya juga istirahat terusAy menunjukkan adanya penurunan kekuatan otot dan energi, yang sering ditemukan pada lansia karena sarcopenia atau berkurangnya aktivitas fisik. Di sisi lain, semakin besarnya kebutuhan untuk beristirahat bisa mencerminkan turunnya fungsi metabolisme dan daya tahan yang berkaitan dengan proses penuaan. Ketidakseimbangan fisik yang dialami juga dapat mempengaruhi tingkat kewaspadaan mental, membuat orang tua lebih hati-hati dan lebih memilih untuk beristirahat dibandingkan beraktivitas demi menghindari kelelahan atau cedera. Hal ini memperkuat pemahaman bahwa perubahan fisik yang terjadi pada lansia sangat terkait dengan perubahan kognitif dan perilaku sehari-hari. Self-Concept Seiring bertambahnya usia, manusia akan mengalami penurunan fungsi tubuh seperti badan terasa cepat lelah, penglihatan yang kabur, bahkan fungsi pendengaran yang Dalam hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada empat informan lansia menunjukkan bahwa adanya penurunan yang terlihat dalam fungsi fisik yang dirasakan oleh lansia. Lansia mengalami keterbatasan gerak, khususnya pada bagian Sesuai dengan pernyataan dari lansia A . Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi "Kaki buat berdiri lama kaku mbak" pernyataan tersebut menjadi hal dominan dalam penilaian atau perubahan fisik pada lansia itu sendiri. Lansia A . menyadari adanya perubahan fisik pada dirinya dan beranggapan bahwa perubhan tersebut merupakan bagian dari proses penuaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Santi Susilawati. Agus Setyo Utomo, 2. yang menyatakan bahwa semakin bertambahnya usia individu maka akan mempengaruhi kesehatan fisik, dan menurunkan fisik pada individu. Dalam hal ini informan yang memiliki rentang usia 50-80 tahun, menyadari bahwa semakin bertambahnya usia seseorang maka akan semakin menurun pula fungsi fisik, dan kesehatan fisiknya, misalnya tidak kuat berdiri terlalu lama dikarenakan kaki lansia tersebut cepat kaku. Lanjut usia atau penuaan merupakan fase kehidupan yang alamiyah, fase penuaan seringkali memiliki banyak tantangan salah satunya adalah tantangan dalam aspek sosial, banyak lansia yang memiliki perubahan yang signifikan dan habatan pada aspek sosial subjek, seperti berkurangnya peran lansia pada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar, serta berkurangnya intensitas dalam bersosialisasi. Berdasarkan pernyataan lansia D . ketika peneliti mengajukan pertanyaan terkait hubungan dengan keluarga dan teman-teman panti jomponya, lansia D . AuHubungan saya dengan lansia lainnya disini baik dan akrab walaupun berbicara jika ada perlu saja, dan hubungan dengan keluarga baik tapi selama saya disini keluarga tidak pernah menelepon ataupun menjengukAy Jawaban dari lansia ini menunjukan jika ia memiliki keterbatasan peran dalam keluarganya, namun interaksi dan perannya pada lansai lainnya masih tergolong baik. Lalu pada saat sesi wawancara berlangsung peneliti mengajukan pertanyaan kepada para informan terkait bagaimana pandangan lania terhadap diri subjek sendiri tentang peran subjek di panti jompo, lansia A . menjawab, "Saya masih bisa ngepel, nyapu, dan bantu bantu semampu saya". Menunjukkan bahwa lansia masih merasa memiliki peran dan tanggung jawab sosial, walaupun mengalami penurunan kemampuan fisiknya. Meskipun tidak lagi menjalankan peran sosial secara produktif, lansia tetap menunjukkan semangat dan kepeduliaan terhadap lingkungan sekitar. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh (Kodaruddin et al. , 2. yang menyatakan bahwa penurunan dan perubahan pada kondisi fisik orang lanjut usia seringkali menurunkan aktifitas sehari hari subjek. Lansia banyak yang mengalami pegal linu, nyeri sendi, dan penyakit lainnya yang dapat menghambat subjek dapat beraktivitas sehingga peranan sosial pada lansia menurun jika dibandingkan usia madya. Selain mengalami perubahan dalam hal fisik lansia juga mengalami perubahan dalam memandang kehidupan dan membentuk makna terhdapap pengalaman yang telah Bedasarkan hasil wawancara Lansia U menyatakan. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi "Jalani aja apa yang ada di depan, gausah mengingat masa lalu" pernyataan tersebut menunjukkan adanya prinsip hidup lansia yang berfokus pada penerimaan dan orientasi pada masa sekarang, dan memilih untuk tidak berlarut-larut pada masa lalu. Pertanyaan tersebut juga mencerminkan bahwa lansia tidak menunjukkan penyesalam terhadap masa lalu dan lebih memfokuskan diri pada masa Lansia tersebut membentuk makna hidup melalui nilai moral pribadi sebagai bentuk penerimaan diri yang ada. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Sustrami, 2. yang menyatakan bahwa lansia yang memiliki penerimaan diri terhadap konsinya saat ini cenderung memiliki konsep diri yang positif dan stabil secara Lansia dapat mengembangkan makna hidup yangg lebih dalam dan tetap merasa berharga meskipun menghadapi berbagi keterbatasan akibat penuaan. Hasil wawancara dengan lansia D menunjukkan bahwa beliau telah mencapai tahap penerimaan terhadap kondisi dirinya saat ini. Pernyataan, "Sudah gini nasibnya mbak, jadi terima aja" Menggambarkan kesadaran dan penerimaan lansia D terhadap keterbatasan dan perubahan yang terjadi pada dirinya seiring dengan proses penuaan. Beliau tidak menunjukkan adanya penolakan atau perlawanan terhadap apa yang terjadi, melainkan menerima keadaan tersebut dengan lapang dada. Penerimaan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Santi Susilawati. Agus Setyo Utomo, 2. Penelitian tersebut menyatakan bahwa lansia yang dapat menerima ketidaksempurnaan dan kehilangan pada dirinya serta hidupnya di masa tua merupakan bentuk self-concept yang positif. Self-concept yang positif ini dapat membantu lansia untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dan meningkatkan kualitas hidup subjek. Simpulan Para lansia di panti Wredha Harapan Ibu memiliki keberagaman pandangan terhadap stereotip yang ada di masyarakat, baik yang bersifat positif maupun negatif. Beberapa lansia telah menginternalisikan stereotip positif sejak awal, seperti citra lansia sebagai sosok yang bijaksana dan bertanggung jawab, yang kemudian memperkuat konsep diri subjek seiring bertambahnya usia. Namun, stereotip negatif seperti kemalasan, tidak produktif, dan kelemahan fisik juga diterima oleh sebagian lansia meskipun subjek cenderung menormalkan hal-hal tersebut agar tidak menjadikan beban psikologis. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, para lansia tetap memiliki sikap yang positif terhadap diri subjek sendiri dan berbagai aspek konsep diri, termasuk aspek fisik, sosial, moral, dan psikologis. Subjek menyadari adanya perubahan dalam kehidupan fisik dan sosial, walaupun banyak dari subjek yang tetap menunjukkan rasa syukur atas kondisi diri dan kedamaian dalam lingkungan sosial sekitar subjek. Perlunya penguatan citra positif lansia melalui program di panti agar konsep diri tetap sehat. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi stereotip pada lansia yang berada di luar panti. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Referensi