Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani1 Wayan Windia* Abstract The paper discusses the role and contribution of subak member . to the culture. Generally known that the subak system in Bali has been recognized as world heritage since year 2012. The recognition indicating that subak is a traditional organization originally existing in Bali, and take the important role and contribution as a buffer of Bali culture. Very important to note that the core of subak culture are harmony and togetherness. It is inline with basic philosophy of subak, namely Tri Hita Karana (THK), the three ways to obtain happiness. The world and human being certain need harmony and togetherness. There is the contribution of subak to the world, in term of how to implement the philosophy (Tri Hita Karan. , especially in the daily agricultural activities. Widely known that the existence of subak is strongly supported by farmers, as a member of subak. Farmers is a core of subak organization. Therefore is needed strong attention to the farmers life, in order to stimulate subak sustainability. Key words : subak, culture, farmer, and Tri Hita Karana. Wayan Windia adalah Guru Besar pada Fakultas Pertanian dan Ketua Puslit Subak Universitas Udayana. Buku-bukunya yang suda terbit adalah Transformasi sistem irigasi subak yang berlandaskan Tri Hita Karana. Analisis bisnis yang Berlandaskan Tri Hita Karana, dan Subak, warisan budaya dunia. Email: wayanwindia@ymail. Makalah yang dipresentasikan dalam Kongres Kebudayaan Bali ke-2 tahun 2013, pada tgl. 24-25 September 2013, di Hotel Grand Bali Beach. Sanur. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia Pengantar istem irigasi subak di Bali telah diakui dunia. UNESCO menetapkan subak sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) dalam suatu sidang di Pittsburg. Rusia pada tanggal 29 Juni Label resmi yang diberikan UNESCO untuk subak sebagai warisan budaya dunia adalah Cultural Landscape of Bali Province: Subak as Manifestation of Tri Hita Karana Philosophy. Pengakuan UNESCO itu mencerminkan beberapa hal, yaitu pengakuan terhadap . eksistensi lembaga subak, . sistem subak yang menerapkan konsep Tri Hita Karana (THK), dan . lanskap yang hadir di Bali dalam bentuk persawahansubak adalah lanskap yang berisikan muatan aktivitas Sejak berabad-abad lalu, secara faktual kita telah menerima berbagai teknologi dari belahan dunia lain. Tetapi, kini dunia mengakui bahwa kita telah memberi kepada belahan dunia lain dalam bentuk kebudayaan. Masalahnya adalah bagaimana kita harus dapat menjaga kepercayaan dunia ini, agar subak dapat abadi dan berlanjut sepanjang masa. Karena subak tidak saja menghadirkan kawasan sawah yang menghasilkan bahan makanan untuk umat manusia, tetapi kini subak juga diakui sebagai lembaga menghadirkan nilai-nilai kebudayaan. Tampaknya subak adalah sebagai lembaga yang bermanfaat untuk kepentingan jasmani dan rohani manusia, atau untuk kepentingan lahir-bathin. Kita tidak boleh silau pada kemajuan teknologi semata, yang kini sedang melanda dunia. Pada saat perkembangan teknologi terjadi sangat cepat, maka manusia merasa kewalahan untuk menerima dan mengantisipasinya. Kini kita dengar mulai banyak muncul wacana tentang pentingnya kebudayaan bagi umat manusia, khususnya kebudayaan lokal. Mulai disadari bahwa kebudayaan sangat penting maknanya sebagai landasan pembangunan. Hal ini secara emperik telah dibuktikan dalam proses kebangkitan Eropa. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani Buwono X . mencatat bahwa kebangkitan Eropa dimulai dengan adanya proses revitalisasi kebudayaan pada Abad ke-12-13. Peranan kebudayaan dinilai sangat penting dalam proses kebangkitan Eropa. Revitalisasi kebudayaan diikuti dengan adanya renaisans pada Abad ke-14 -17, revolusi sains pada abad ke-16-17, dan dilanjutkan dengan adanya revolusi industri pada abad ke-18-19. Hingga kini negara Barat tetap eksis dengan pembangunan industri dan teknologinya, yang menguasai dunia. Memang diakui bahwa kekuatan Barat adalah karena kemajuan ilmu pengetahuan, seni, filsafat, dan sastranya. Namun, modernitas yang terjadi di Barat kini telah kehabisan tenaga, dan karenanya kita perlu kembali ke-paradigma Dalam konteks inilah, maka nilai-nilai budaya yang tercermin dalam sistem subak, perlu dipersembahkan pada tatanan nasional dan dunia. Inilah persembahan mahapenting dari sistem subak yang diusung oleh kaum tani yang justru terpinggirkan, yakni kepada kepada bangsanya dan dunia. Agar subak dapat tetap mempersembahkan nilai-nilai budayanya, maka subak memerlukan berbagai tindakan yang strategis berupa kebijakan protektif dan subsidif, untuk melawan Aumusuh-musuhAy-nya yakni berbagai resiko dan ketidakpastian, dalam kehidupan ber-usaha tani. Pemberdayaan petani dan usaha tani sangat penting artinya agar budaya subak semakin kuat, dan tetap dapat berperan dalam proses pembangunan Di samping itu, budaya subak yang semakin kuat, dapat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya. Terbentuknya Subak Dalam bahasan sebelumnya telah disinggung tentang persembahan nilai-nilai subak kepada bangsa dan dunia. Nilai-nilai subak tampaknya tak bisa dilepaskan dari proses JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia terbentuknya sistem subak di Bali. Karena terbentuknya sistem subak di Bali melalui proses yang berat, memerlukan kerja keras, harmoni, dan kebersamaan. Tanpa didasari oleh nilai-nilai tersebut, maka akan sulit terbentuknya subak di Bali. Tercatat bahwa terbentuknya sawah dan subak di Bali didahului dengan merabas hutan, ikut campurnya peranan kerajaan, dan kemudian menyesuaikannya dengan tradisi dan budaya lokal setempat, di antaranya dengan membangun pura subak di kawasan subak. Semuanya itu dilaksanakan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kaum Alkisah, pada akhir awal Abad ke-10, terjadi bencana dahsyat di Jawa akibat meletusnya Gunung Merapi. Penduduk eksodus ke arah timur, di antaranya dipimpin oleh Mpu Sendok yang kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan. Kerajaan ini dibangun di hulu Sungai Berantas, sekitar kaki Gunung Semeru. Di pihak lain, karena adanya pewisik, maka satu rombongan lainnya dipimpin oleh Raja Sri Kesari Warmadewa atau Sri Ugrasena Warmadewa menuju Sanur (Bal. Beliau didampingi oleh seorang bagawanta, yakni Rsi Markandya (Sutedja 2. Selanjutnya. Warmadewa telah menguasai Bali ditandai dengan adanya Prasasti Belanjong, tahun 913, yang menyebutnyebut tentang kawasan darat, di antaranya menyebut kata Walidwipa. Dengan menyebut kata Walidwipa (Pulau Bal. , maka hal itu dianggap sebagai petanda bahwa pada saat itu Warmadewa telah mengalahkan musuh-musuhnya dan menguasai Pulau Bali. Patut dicatat penetapan sebuah prasasti merupakan perlambang dari sebuah kemenangan (Astra 1997 dalam Ardana dkk. Setelah mengalami proses panjang dalam sejarah rajaraja di Bali, maka akhirnya muncul berbagai prasasti yang menyebut kata sawah . , parlak atau mal . , dan kebwan . Prasasti itu muncul dalam masa pemerintahan Raja Udayana tahun 989-1011 (Ardana dkk. , 2. Namun JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani kata subak mulai muncul dalam Prasasti Pandak Bandung. Sementara itu, patut dicatat pula bahwa bercocok tanam dengan sistem pengairan yang teratur telah diyakini ada beberapa abad sebelumnya, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Sukawana . dan Prasasti Bebetin . ahun Selanjutnya, pembuatan terowongan telah dikenal di Bali pada tahun 896 (Purwita 1. Sementara itu Purwita . juga menyebutkan bahwa Rsi Markandya adalah adik kandung dari Rsi Trinawindhu, yang hidup pada zaman Kerajaan Kediri. Jawa Timur. Berkait dengan cerita itu. Rsi Markandya disebutkan datang ke Bali pada Abad ke 12-13. Kalau keterangan ini benar, maka Rsi Markandya yang dikenal sebagai arsitek pembangunan sawah dan subak di Bali, harus mungkin bolak-balik Jawa-Bali, pada Abad ke 10-13 . atatan: ada banyak wacana yang menyatakan bahwa umur manusia pada zaman itu, sangat panjang. Tidak seperti zaman sekarang, di mana umur manusia maksimal 100 tahu. Tentu juga dapat dibayangkan betapa susahnya membangun sawah dan subak di Bali. Karena masyarakat harus merabas hutan, membangun trowongan, dan lain-lain. Diperlukan komitmen, kerja keras, disiplin, bahkan mungkin tetesan darah, air mata, dan tentu saja tetesan keringat. Demikianlah pembentukan subak di Bali mencatat keterlibatan para resi, raja, pemuka masyarakat, para ahli di bidangnya, dan tentu saja rakyat setempat. Dimulai dengan hamparan lahan yang sempit, dan kemudian berkembang sesuai dengan ketersediaan sumber air irigasi (Lansing 2. Nilai-nilai yang lahir dari terbentuknya subak, adalah dari proses struktural, dan spiritual. Oleh karenanya, terbangunlah hamparan sawah dengan pura-nya, yang dikelola oleh petani. Inilah embrio nilai-nilai yang ada pada subak, yang kini dikenal dengan Tri Hita Karana. Yakni sebuah nilai yang menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, dengan sesamanya, dan dengan alam lingkungannya. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia Persembahan Nilai Subak Nilai adalah sesuatu yang dianggap berharga dan kemudian dapat menjadi pegangan hidup pada masa depan. Nilai-nilai harmoni dan kebersamaan yang diterapkan subak, yang dikenal sebagai THK, pada dasarnya adalah nilai universal bagi semua umat manusia. Disamping itu, nilai-nilai tersebut sangat penting untuk pegangan hidup dan masa depan umat manusia di dunia. Semua umat manusia dari semua suku, agama, dan ras tampaknya pasti bisa menerima konsep harmoni dan kebersamaan (THK) tsb. Namun, hanya di Bali ada lembaga . yang secara jelas menerapkan konsep THK itu dalam kegiatan kelembagaannya (Arif 1. Oleh karenanya, berhubung dengan pengalaman subak di Bali dalam menerapkan THK, maka subak perlu mempersembahkan kembali pengalaman menerapkan THK itu kepada bangsa dan Demi dunia yang aman, damai, dan sejahtera. Kalau saat ini bangsa Indonesia dan juga dunia masih penuh dengan konflik sosial, maka hal itu bermakna bahwa kita masih belum menerapkan konsep THK dengan baik dan Pesona subak Bali. Foto Komang Suryawan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani benar, seperti halnya yang dilakukan sistem subak di Bali. Subak di Bali menerapkan THK yang dibuktikan antara lain dengan . membangun sawah dengan tetap memperhatikan kontur tanah, meskipun petak sawahnya harus menjadi sempit, serta membangun komplek sawah dengan sistem satu inlet dan satu outlet . omponen palemaha. , . adanya aturan/awigawig, dan mengijinkan saling pinjam air irigasi antar subak dan antar petani . omponen pawonga. , dan . dibangunnya pura subak pada setiap subak, yang digunakan untuk kegiatan persembahan/upacara ritual . omponen parhyanga. Jadi, kata kunci dari penerapan THK adalah pembuktian dalam berbagai kegiatan di lapangan. Kalau persembahan nilai-nilai budaya subak dalam bentuk THK dapat dipahami, diterima, dan diterapkan pada level nasional dan dunia, maka konflik horisontal dan vertikal akan dapat dicegah dan dihindari. Wibawarta . menyatakan bahwa meningkatnya sinergi antar-budaya akan dapat mereduksi konflik, dan lanjut akan dapat berdampak Sawah berundak yang indah sebagai keunikan subak Bali. Foto Widnyana Sudibya JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia Aktivitas ritual melintas di persawahan. Foto Widnyana Sudibya positif pada perekonomian. Nilai-nilai budaya akan dapat menjadi titik singgung dengan kebudayaan lain di tingkat nasional dan global. Akhirnya diharapkan titik singgung itulah yang akan menjadi perekat dalam proses interaksi sosial. Proses globalisasi akan sangat memungkinkan adanya saling-silang budaya. Dalam proses itu, maka yang dapat berperan global adalah nilai-nilai yang sifatnya lentur, dan golongan yang memiliki identitas yang kuat. Kedua komponen itu tampaknya dimiliki oleh sistem subak yang menerapkan konsep THK. Demikianlah, dalam proses persembahan nilai THK subak kepada bangsa dan dunia akan mungkin terjadi proses akulturasi . ersentuhan dua nilai budaya yang menghasilkan nilai budaya yang bar. dan asimilasi . ersentuhan dua nilai buaya yang tidak menghasilkan nilai budaya bar. Apa pun yang terjadi, namun yang paling penting adalah bahwa nilai-nilai THK yang intinya adalah harmoni dan kebersamaan dapat terwujud. Harapannya adalah agar konflik sosial yang kini banyak terjadi di muka bumi akan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani dapat diselesaikan dengan optimal. Sejatinya, inilah makna yang paling hakiki dari pengakuan UNESCO terhadap subak di Bali. Bahwa Bali perlu mempersembahkan nilai kearifan lokalnya yang ada pada subak kepada bangsa dan dunia. Subak yang menerapkan THK dapat disebut sebagai suatu kearifan lokal, karena berbagai aktivitas yang dilakukan subak dalam sistemnya telah mampu menjawab berbagai persoalan dalam kehidupan mereka. Kalau penerapan THK di subak sudah terbukti mampu menyelesaikan masalah, lalu kenapa tidak diterapkan di tingkat nasional dan dunia? Untuk itu sangat diperlukan adanya diplomasi kebudayaan yang intensif. Beberapa rombongan tamu asing yang mengunjungi subak dan belajar tentang subak terlihat sangat mengagumi filosofi yang diterapkan oleh subak. Diharapkan dengan kedatangan mereka mempelajari subak akan dapat merangsang nurani mereka, sehingga bisa terjadi proses assimilasi dan akulturasi nilai budaya subak. Sementara itu, pembangunan nasional dan daerah sangat perlu memperhatikan dan memelihara kearifan lokal yang sedang berkembang. Dengan demikian masyarakat setempat tidak tercabut dari akar budayanya. Dalam konteks ini, sistem subak yang sudah diakui sebagai WBD haruslah dijamin eksistensinya agar dapat eksis sepanjang massa. Dengan demikian subak dan nilai-nilainya akan tetap menjadi AuapiAy dalam proses pembudayaan . umat manusia. Ukuran keberhasilan dalam konsep enkulturasi adalah perubahan prilaku. Perilaku manusia harus dapat berubah dalam konteks persembahan nilai subak bagi bangsa dan dunia. Hanya demikianlah akan terjadi harmoni dan kebersamaan di dunia, sebagimana halnya subak dapat memecahkan masalah-masalahnya sendiri. Kalau subak sudah mampu mempersembahkan nilai harmoni dan kebersamaan (Tri Hita Karan. , maka imbalannya adalah agar subak dan petani perlu terus eksis dan sejahtera. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia Inti hakiki dalam proses globalisasai adalah untuk membangun harmoni dan kebersamaan di jagat raya ini. antaranya memberantas penyakit secara bersama, membangun pendidikan secara bersama, dan lain-lain. Namun, globalisasi telah salah arah, di mana berkembang menjadi alat kapitalis dan liberalisasi, yang memicu jurang sosial-ekonomi di antara penduduk. Jurang perbedaan inilah yang memicu konflik sosial. Karenanya, dengan persembahan THK subak, diharapkan manusia bisa terbangun kembali kesadarannya tentang manusia yang satu sebagai ciptaan Tuhan. Oleh karenanya harus dikembangkan harmoni dan kebersamaan. Mengembangkan Ke-Khas-an Lokal Dalam era globalisasi saat ini, setiap daerah tampaknya berlomba untuk mengembangkan ke-khas-an lokalnya. Kemudian berusaha untuk disumbangkan untuk kepentingan nasional dan internasional. Kegiatan ini tidak saja akan dapat memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga sebagai sebuah kebanggaan nurani bagi daerah ybs. Buwono X . kini sedang berusaha menggali dan mengembangkan modal sejarah pendidikan di Yogyakarta, dengan tujuan untuk bisa bermanfaat bagi kepentingan Yogyakarta, bangsa dan negara, serta dunia. Yogyakarta kini sedang menggali modal sosial sistem pendidikan keraton, pendidikan Muhammadiyah, pendidikan Taman Siswa, pendidikan pesantren, dan pendidikan Barat. Kemudian akan dilaksanakan konvergensi . , dan selanjutnya diharapkan akan bermanfaat bagi bangsa dan Yogya yang dikenal karena pendidikannya diharapkan akan tetap berkembang sebagai daerah pendidikan, yang akan membawa manfaat bagi penduduknya. Seperti halnya Yogyakarta. Bali pun penting juga menggali modal sosial budayanya, untuk kepentingan pembangunan ekonomi daerah Bali, dan juga untuk kepentingan bangsa dan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani Potensi modal sosial budaya ada di Bali. Bahkan, sudah diterapkan oleh sistem subak. Untuk itu, pembangunan yang dilaksanakan di Bali tidak hanya harus pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga harus dilaksanakan pembangunan Hal ini semakin perlu di tengah-tengah masyarakat yang dilanda perkembangan teknologi dan kondisi interaksi global, ketika masyarakat menjadi kapitalistik, hedonis, dan lain-lain. Apa yang dilaksanakan Yogya dan Bali dalam rangka mengembangkan kearifan lokalnya adalah seirama dengan wacana yang berkait dengan proses globalisasi tsb. Bahwa globalisasi akan merangsang pengembangan pemikiran kearifan lokal yang perlu diperkokoh secara terus menerus. Hal ini perlu terjadi dan dilaksanakan agar kita tidak tergerus oleh arus globalisasi tsb. Demikianlah, kehidupan akan terus mengalami transformasi sesuai dengan tantangan zamannya. Ki Hadjar Dewantara . jauh-jauh hari sudah menyatakan bahwa pergantian alam, keadaan zaman, dan keadaan masyarakat akan membawa perubahan pada cara hidup dan penghidupan masyarakat. Kearifan lokal yang kini sedang dimiliki oleh suku-suku bangsa perlu dikembangkan terus, agar bermanfaat bagi bangsa dan dunia. Dalam bahasan di atas disebutkan bahwa pengembangan modal pendidikan dan juga modal sosial tidak terlepas dari tujuan ekonomi. Oleh karenanya, petani dan subak perlu tetap eksis dan sejahtera. Tentu saja dengan berbagai program Akulturasi. Multikultur, dan Pluralisme Persembahan nilai-nilai subak dalam bentuk THK kepada bangsa dan dunia bukanlah tanpa alasan. Budaya memang akan selalu melakukan persentuhan, dan memungkinkan adanya akulturasi, yakni munculnya budaya baru sebagai akibat persentuhan tsb. Kebudayaan memang sangat JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia transformatif, dan selalu berkembang sesuai kelompok manusia yang mendukungnya. Joesoef . menyebutkan bahwa kebudayaan adalah sistem nilai yang dihayati oleh kelompok manusia yang mengembangkannya. Ide-ide besar tak akan pernah muncul dari sebuah kebudayaan yang tua. Harmoni dan kebersamaan THK sebagai nilai hakiki dari budaya subak, yang dalam persentuhannya mengalami akulturasi yang luwes dan dinamis, akan menyebabkan terjadinya multikultur dan masyarakat majemuk . Multikultur dan masyarakat plural sebagai akulturasi dari THK harus dikembangkan di Indonesia dan di dunia, sebagai bahan perekat untuk persatuan dan kesatuan. Dalam sejarah masyarakat dan bangsa di dunia, ternyata masyarakat dan bangsa itu bisa rapuh, karena tidak ditopang oleh kebudayaan. Dengan demikian diyakini bahwa kalau nilai budaya THK mampu mengalami proses akulturasi, maka problema yang menciptakan komflik yang abadi di dunia dan di Negara kita akan dapat diatasi. Kebudayaan atau budaya lokal tak boleh hilang, harus terus dipelihara. Tilaar . menyebutkan bahwa bangsa yang kehilangan kebudayaannya akan kehilangan identitas, dan kemudian akan hanyut dalam perubahan global yang tanpa jiwa. Bahkan, disebutkan bahwa kearifan lokal akan dapat menginspirasi perubahan global. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena kebudayaan adalah kekuatan yang bersifat soft Kekuatan yang berupa soft power mengandung nilainilai, budaya, dan kebijakan lembaga, yang berhasil ditransfer ke luar batas negara. Oleh karenanya, dalam konteks pengaruh kekuatan soft power, maka pemerintah harus melakukan diplomasi publik, diplomasi bilateral, dan diplomasi multilateral (Nye 2004 dalam Wibawarta 2. Dalam posisi Bali yang harus mampu AumemberiAy kepada dunia, maka melalui kekuatan dan nilai yang dimiliki subak yang sudah teruji secara empirik, maka perlu ada diplomasi JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani kebudayaan di satu pihak, dan memperkuat/memberdayakan subak di Bali di lain pihak. Untuk itu diperlukan juga kemampuan soft skill . ntra dan inter personal skil. dari kalangan pelaku diplomasi. Dengan demikian diharapkan nilai-nilai subak yakni THK . armoni dan kebersamaa. dapat mengalami proses akulturasi, dan kemudian menghasilkan multikultur dan masyarakat mejemuk yang kokoh sebagai penunjang peradaban bangsa-bangsa. Adapun proses akulturasi dan multikultur/plural, dapat digambarkan sesuai Gambar 1. MASYARAKAT NASIONAL DAN DUNIA DALAM HARMONI DAN KEBERSAMAAN DIPLOMASI KEBUDAYAAN PLURAL DAN MULTIKULTUR ASSIMILASI DAN AKULTURASI THK/HARMONI DAN KEBERSAMAAN BUDAYA LAIN BUDAYA SUBAK SUBAK UNESCO Gambar 1. Proses persembahan budaya subak untuk budaya nasional dan JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia Gambar 1 menunjukkan bagaimana budaya subak dapat memberikan sumbangan bagi kebudayaan nasional dan internasional. Sumber inspirasinya adalah petani dan Oleh karenanya petani dan subak tak boleh hilang dari peradaban dunia. Petani dan subak harus mendapatkan perhatian, subsidi, dan juga proteksi, agar elemen masyarakat ini dapat tetap eksis. Untuk itu kesejahteraan petani dan eksistensi sistem subak sangat perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Secara teoritis, sistem subak dapat ditransformasi (Windia 2. , dan lembaga subak yang wataknya sosio kultural pada dasarnya mampu beradaptasi dalam bidang ekonomi (Sedana dan Windia 2. Pemberdayaan Petani dalam Sistem Subak Di atas telah dibahas tentang sumbangan sistem subak bagi Oleh karenanya, subak harus mendapatkan perhatian yang baik. Perhatian kepada subak berarti perhatian kepada petani. Tanpa ada petani yang berdaya, maka tidak ada subak yang eksis dengan baik. Namun saat ini permasalahan yang dihadapi petani dan subak sangat komplek. Sutawan . mencatat tantangan dari keberlanjutan sistem subak dewasa ini, disebabkan karena hal-hal sebagai Tantangan/ancaman yang langsung atau tidak langsung bersumber dari pariwisata Bali. Hal ini tercermin dari . semakin menurunnya minat pemuda untuk menjadi . menciutnya lahan sawah karena adanya alih fungsi lahan. pencemaran air sungai dan air pada saluran air irigasi. Tantangan/ancaman akibat berbagai dampak negatif revolusi hijau. Hal ini tercermin dari . hilangnya berbagai varitas padi lokal, yang berarti hilangnya kearifan lokal. pencemaran lingkungan. terancamnya keanekaragaman hayati di lahan sawah. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani menurunnya kesehatan petani dan masyarakat sebagai adanya keracunan dari proses penggunaan pestisida. Libralisasi perdagangan dan investasi di bidang Hal ini tercermin dari . membanjirnya produk pertanian masuk ke Bali, dan petani Bali kehilangan banyak kesempatan untuk memasok berbagai produk pertanian ke sektor pariwisata . hususnya hotel dan restoran internasiona. petani lokal semakin tidak mampu bersaingan dengan petani di negara asing yang teknologi jauh lebih maju. Dalam hal ini, diperlukan fair trade dan bukan free trade. berkembangnya konsep Hak Atas Kepemilikan Intelektual (HAKI) yang mengancam petani dalam proses penggunaan benih yang mungkin saja ditemukan oleh para pengusaha internasional. Tantangan/ancaman sebagai akibat perkembangan Hal ini tercermin dari . adanya dampak negatif terhadap ekosistem. hasil rekayasa genetika yang belum tentu aman bagi manusia. meningkatnya ketergantungan petani dari rekayasa genetika yang dihasilkan oleh perusahan internasional. semakin tergantungnya petani pada obat-obat kimiawi. membesarnya jurang antara petani kaya dan petani . tergusurnya bahan baku alamiah yang dihasilkan oleh petani lokal. Selanjutnya patut dikemukakan bahwa kondisi subak di Bali pada dasarnya sepadan dengan kondisi sistem pertanian di daerah ini. Sebab, landasan dari pembangunan pertanian di Bali adalah subak. Perhatian yang lemah terhadap subak di Bali menyebabkan sistem pertanian menjadi terpuruk, demikian pula sebaliknya. Adapun kajian tentang subak di Bali, dan sekaligus kajian tentang apa yang perlu dilakukan, untuk keberlanjutan sistem subak di Bali, kiranya dapat diuraikan sebagai berikut. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia Aspek Pola Pikir (Parhyanga. Dalam kaitan ini terlihat belum adanya pola pikir dari pihak pengambil kebijakan yang secara mendasar memihak pada keberlanjutan eksistensi subak dan sektor pertanian pada Banyak wacana yang mengkhawatirkan adanya alih fungsi lahan sawah yang sudah berkembang sangat pesat, yakni rata-rata sekitar 750 ha/tahun (Sutawan 2. Bahkan, dalam data BPS tahun 2010 tercatat bahwa alih fungsi lahan sawah dalam periode tahun 2005-2009, rata-rata lebih dari 1000 ha/tahun. Dalam kaitan ini tampaknya diperlukan pelaksanaan tata ruang yang tegas . esuai dengan hukum yang berlak. , dengan menentukan jumlah sawah yang harus ada di Bali . awah abad. , dan dijabarkan dalam setiap kabupaten/kota di Bali. Selanjutnya, jumlah sawah . yang seharusnya ada di setiap kawasan, diberikan subsidi dan proteksi yang memadai, yang mampu memberikan manfaat yang sebaikbaiknya bagi petani. Misalnya, dengan memberikan subsidi pajak PBB, merubah konsep pajak PBB menjadi pajak hasilbumi, mendorong pendirian koperasi-tani pada setiap subak . ooperative based on subak syste. , dan bahkan dalam kawasankawasan yang dianggap sangat penting, para petani diberikan subsidi input dan/atau subsidi output. Sejak tahun 2006, semua subak sudah mendapatkan bantuan . lock gran. dari Pemda Bali, masing-masing sebesar Rp. 15 juta. Bahkan semakin tahun, bantuannya meningkat. Tahun 2013 bantuan tersebut sudah mencapai Rp. 30 juta per subak. Hal ini adalah sebuah langkah yang sangat baik. Diusulkan agar bantuan ini diarahkan untuk membangun koperasi-tani. Oleh karenanya, diperlukan program pendampingan untuk membangun koperasi tani pada setiap Dalam kaitan ini, kiranya perlu dipertimbangkan agar Perda Subak mengakomodasi perkembangan yang kini sudah Misalnya, harus disesuaikan dengan UU No. 7 Tahun JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani 2004 tentang Sumberdaya Air, dan PP No. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi. Dalam perda yang baru, perlu pula dicantumkan tentang peranan pemda dalam hal pemberdayaan subak, dan tentang keberadaan sedahan agung yang mandiri pada setiap pemkab/ Disamping itu, perlu dimasukkan peran subak-gde dan subak-agung di Bali dalam pengelolaan irigasi. Sementara itu, perlu mengembangkan peran Pusat Studi Subak (PSS). Hal ini penting, kiranya Unud mampu memberikan sumbangan pemikiran untuk keberlanjutan sistem subak di Bali. Sementara itu, konsep lainnya yang perlu dikembangkan adalah agar kawasan subak dikembangkan dan diberdayakan sebagai kawasan agrowisata. Agrowisata pada dasarnya adalah usaha untuk menempatkan sektor primer . di sektor tersier . Dengan demikian sektor pertanian akan lebih maju, dan dapat berlanjut. Aspek Sosial (Pawonga. Dalam kaitan ini, dirasakan bahwa subak di Bali sudah kehilangan induknya. Lembaga sedahan agung yang dahulu pernah eksis di Bali, kini sudah kehilangan maknanya untuk membela kepentingan subak. Lembaga sedahan agung seolaholah sudah menjadi subordinat dari dinas pendapatan daerah . yang ada di setiap kabupaten/kota. Bahkan, pada beberapa daerah, lembaga sedahan dan sedahan agung sudah Sementara itu, lembaga dinas pendapatan daerah tampaknya cenderung lebih berkonsentrasi pada peningkatan pendapatan daerah, dan bukan pada peningkatan eksistensi Banyak kasus-kasus subak di daerah pinggiran kota yang mengalami konflik dengan penduduk sekitarnya. Subak tidak tahu entah kemana harus mengadu, karena memang tidak ada sebuah lembaga yang secara khusus menangani kelembagaan subak (Windia 2. JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia Kelembagaan subak yang lemah, menyebabkan petani selalu dalam posisi yang terkalahkan. Hal ini adalah salah satu kondisi . isamping faktor-faktor lainny. , yang menyebabkan petani sangat enggan untuk bertani, dan kemudian memutuskan untuk menjual sawahnya. Padahal, mereka sebetulnya masih senang hidup sebagai petani, meski dengan segala kekurangannya. Keadaan sektor pertanian yang tersisihkan yang menyebabkan subak menjadi lemah. Selanjutnya dalam beberapa kasus, menyebabkan pimpinan subak . ekaseh/ kelian suba. menjadi enggan untuk mengurus subaknya. Konflik-konflik kecil yang berkembang dalam subaknya tidak mendapatkan penanganan yang memadai, atau tidak dilaporkan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. Sementara itu, awig-awig tampaknya tidak terlaksana dengan sebaik-baiknya. Semua bahasan yang disebutkan sebelumnya . ermasuk kondisi sektor pertanian yang secara umum dapat disebutkan dalam keadaan yang tersisihka. terakumulasi sedemikian rupa, yang akhirnya menyebabkan kalangan muda akhirnya banyak yang enggan untuk terjun ke sektor pertanian. Petani juga enggan anaknya untuk menjadi petani. Aspek Artefak (Palemaha. Aspek artefak/kebendaan yang paling berkait dengan eksistensi subak adalah kondisi persawahan, air irigasi, dan sarana irigasi yang ada di kawasan persawahan. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa kondisi persawahan di Bali sudah compang-camping. Banyak terjadi alih fungsi Hal ini menyebabkan terjadinya sarana irigasi yang rusak, dan tidak lagi dapat berfungsi secara efektif. Implikasi lainnya adalah iuran yang didapatkan subak menjadi sangat Dengan demikian, subak menjadi kewalahan untuk membiayai pelaksanaan upacara keagamaan pada pura yang JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani menjadi tanggung-jawabnya. Dalam kaitan ini, perda tentang subak perlu mengatur masalah ini, agar beban petani anggota subak tidak semakin berat dalam proses pelaksanaan kegiatan upacara di kawasannya. Dalam masalah air irigasi, saat ini petani anggota subak mengalami banyak persaingan, khususnya persaingan dengan kebutuhan air bersih untuk keluarga, dengan pihak industri termasuk sektor pariwisata. Banyak sumber air yang dahulu diperuntukkan untuk kepentingan pertanian, kemudian dialihkan untuk kepentingan PDAM, atau untuk kepentingan sektor pariwisata. Kasus seperti ini hampir terjadi di seluruh Bali. Namun, yang pernah mencuat di permukaan dan menjadi wacana publik adalah kasus mata air Yeh Gembrong di Kabupaten Tabanan, yang sebelumnya sepenuhnya untuk kepentingan petani yang mendapatkan air dari Yeh Ho, namun kemudian diambil untuk kepentingan PDAM dan pariwisata. Hal yang sepadan terjadi pula di Buleleng dan Gianyar. Kasus di Gianyar terjadi pada subak di kawasan Kluse. Tegallalang. Di kawasan Ubud. Kabupaten Gianyar, juga terjadi kasus air irigasi yang sekarang harus digunakan untuk kepentingan rafting, dan tampaknya menjadi tempat pembuangan sampah seperti plastik dan botol minumanoleh hotel-hotel yang dibangun di sepanjang tebing sungai di kawasan Desa Sayan. Payangan, dan seterusnya. Dalam konteks inilah perlu dibangun dan diberdayakan subak-gde dan subak-agung tersebut, agar subak lebih berdaya untuk memperjuangkan hak-haknya. Penutup Dari uraian di atas, maka berbagai hal dapat dilaksanakan untuk pemberdayaan petani demi untuk penguatan lembaga dan budaya subak. Pemerintah harus mampu membangun program agar menjadi petani adalah hal yang menguntungkan, berpendapatan yang baik setara dengan sektor lainnya, membanggakan, dan memiliki citra yang tinggi. Adapun halJURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Wayan Windia hal yang harus dilaksanakan adalah sebagai beriikut. No. Aspek Kegiatan Stakeholders Pola Pikir/ Kebijakan Implementasi tata ruang wilayah yang tegas, konsisten, dan berkelanjutan. Pemda dan DPRD Perda tentang Subak Abadi Pemda dan DPRD Subsidi penuh pajak PBB bagi petani yang ber-usahatani. Pemkab/Pemkot dan DPRD Pemda dan DPRD Pembentukan Dewan Sumberdaya Air dan Komisi Irigasi sesuai amanat UU No. tahun 2004 dan PP No. 20 tahun 2006, tentang Irigasi. Sosial Moratorium pembangunan sarana untuk pengembangan Pemda dan DPRD Pembentukan badan pengelola warisan budaya dunia di Bali, dengan landasan Perda. Pemda dan DPRD Pembentukan forum komunikasi semua stakeholders, pada semua kawasan . yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Pemda,DPRD. Pengembangan agrowisata di kawasan subak yang relevan. Pemda, organaisasi Pendampingan dan Pembentukan koperasi tani pada setiap subak di Bali. Pemda. Perguruan Tinggi (PT). LSM. Diskop. Pembentukan subakgde dan Pemda. Kem-PU. Dis-PU. PT. Revitalisasi lembaga dan/atau peran lembaga sedahan dan sedahan agung. Pemda dan DPRD Pendampingan untuk pemberdayaan subak Pemda,PT,BPTP. LSM JURNAL KAJIAN BALI Volume 03. Nomor 02. Oktober 2013 Penguatan Budaya Subak Melalui Pemberdayaan Petani Artefak/ Kebendaan Hentikan pengambilan air, mata Pabrik air kemasan, air, sumber air. Pengambilan PDAM, hotel, harus direkomendasi Dewan SDA dan Komisi Irigasi (Komi. Hentikan polusi air sungai Hotel, restoran. Pengembangan teknologi . n far. di lahan sempit Pemda,PT,BPTP. Pengembangan teknologi hulu dan hilir dalam kegiatan Pemda. PT,BPTP. Dalam alih fungsi lahan, maka pihak BPN dalam pembuatan sertifikat, tidak mematok saluran irigasi yang ada di kawasan subak. Pemda,BPN. DPRD Air irigasi dan sistem irigasi harus dijamin, khususnya pada subak yang berada di kawasan warisan dunia. Pemda,Kem-PU. Kawasan hutan, dan danau di Bali harus dijamin Pemda,DPRD. Kemhut. DAFTAR PUSTAKA