P a g e | 139 [Open Acces. STT Baptis Indonesia Semarang PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia Semarang ISSN: (Onlin. 2622-1144, (Prin. 2338-0489 Volume 21. Nomor 2. Nov 2025, 139-144 Book Review: Kembali Ke Masa Lalu. Solusi Masa Kini Davin Giovanni* Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta *davin@sttekumene. Abstract The book AuKembali ke Masa Lalu. Solusi Masa KiniAy by Agustinus M. Batlajery was born out of concern over two issues: the tendency of contextual theology to disregard the Bible and church tradition, and the threat of radical groups seeking to replace Pancasila as the foundational ideology of the Indonesian state. Batlajery invites readers to learn from the 16th-century church reformation led by Martin Luther and John Calvin, who returned to the sources of Christian faithAinamely, the Bible and the writings of the Church Fathers, especially Augustine. The second chapter highlights the importance of a contextual theology that remains rooted in the tradition of faith while being relevant to the realities of society, particularly in Indonesia. In the third chapter. Batlajery offers a solution in the form of the concept of a AuPancasila Renaissance,Ay a call to return to Pancasila as the foundation of national and societal life. Just as the church reformation was grounded in the past. Batlajery emphasizes that IndonesiaAos future must be built by returning to the authentic values of Pancasila. Keywords: luther, calvin, reformation, pancasila. Indonesia. DOI: 10. 46494/psc. Copyright: A 2025. The Authors. Licensee:This work is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. InternationalLicense. Submited: 4 Oct 2025 Accepted: 28 Nov 2025 Published: 30 Nov 2025 http://journal. Volume 20 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access P a g e | 140 [Open Acces. STT Baptis Indonesia Semarang Book Review: Kembali Ke Masa Lalu. Solusi Masa Kini Abstrak Buku AuKembali ke Masa Lalu. Solusi Masa KiniAy karya Agustinus M. Batlajery lahir dari kegelisahan terhadap dua hal: kecenderungan berteologi kontekstual yang mengabaikan Alkitab dan tradisi gereja, serta ancaman kelompok radikalisme yang ingin mengganti Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Batlajery mengajak pembaca untuk belajar dari reformasi gereja abad ke-16 oleh Martin Luther dan Yohanes Calvin, yang kembali ke sumber iman Kristen, yaitu Alkitab dan tulisan para Bapa Gereja, khususnya Augustinus. Bab kedua mengangkat pentingnya teologi kontekstual yang tetap berakar pada tradisi iman namun relevan dengan realitas masyarakat, khususnya di Indonesia. Dalam bab ketiga. Batlajery menawarkan solusi berupa konsep AuPancasila RenaissanceAy, yaitu semangat kembali kepada Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti halnya reformasi gereja yang berakar pada masa lalu. Batlajery menegaskan bahwa masa depan Indonesia perlu dibangun dengan kembali pada nilai-nilai Pancasila yang autentik. Kata-kata kunci: luther, calvin, reformasi gereja, pancasila. Indonesia. Halaman ISBN : 80 xvi Halaman : 978-623-415-099-5 Penulis Agustinus M. Batlajery lahir di Saumlaki pada 28 Oktober 1958. Ia merupakan seorang Pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM) yang ditugaskan mengajar sebagai Guru Besar bidang Teologi Sistematika pada Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM). Ia memperoleh gelar Doctor of Theology (D. dari The South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST-STT Jakart. tahun 2002 dan gelar Doctor of Philosophy (Ph. D) dalam ilmu teologi diperolehnya dari Fakultas Teologi Free University Amsterdam pada tahun 2010 dengan disertasi berjudul AuThe Unity of the Church according to Calvin and its meaning for the Churches in IndonesiaAy. Ringkasan Identitas Buku Judul Penulis Penerbit Tahun Kota Terbit Cetakan : Kembali Ke Masa Lalu. Solusi Masa Kini : Agustinus M. Batlajery : BPK Gunung Mulia : 2023 : Jakarta : Pertama http://journal. Pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam buku kecil ini lahir dari kegelisahan penulis akan adanya kecenderungan berteologi kontekstual dengan mengabaikan Alkitab dan Hal ini disebabkan karena Alkitab dan tradisi dipandang oleh beberapa orang secara tidak mutlak untuk menjadi acuan dalam Kegelisahan lainnya dari penulis sebagai warga negara Indonesia adalah ia juga Volume 20 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 141 STT Baptis Indonesia Semarang melihat adanya kecenderungan dari beberapa kelompok ekstremis tertentu yang ingin membangun Indonesia dengan mengabaikan keempat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila. Undang-Undang Dasar 1945. Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena dua alasan atau kegelisahan inilah maka Agustinus M. Batlajery menuliskan buku ini. Batlajery memberi judul untuk buku ini. AuKembali Ke Masa Lalu. Solusi Masa KiniAy hendak menjelaskan bahwa belajar dari sejarah gereja maupun sejarah bangsa dapat menyumbang bagi upaya kita dalam menyikapi realitas-realitas dalam kehidupan bergereja maupun bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara masa kini. Atas dasar pemikiran inilah maka Batlajery memilih dua tokoh besar dalam sejarah gereja, yaitu Martin Luther dan Yohanes Calvin. Melalui kedua tokoh sejarah gereja inilah Batlajery menuliskan buku ini agar orang Kristen di Indonesia dapat mempelajari sejarah gereja guna kehidupan bernegara saat ini. Buku kecil ini berisi tiga bab utama. Bab pertama berjudul AuKembali ke Masa Lalu: Reformasi Abad ke-16. Luther dan CalvinAy. Pada bab pertama ini Batlajery mengajak pembaca untuk kembali melihat masa lalu tentang pengalaman Luther dan Calvin dalam melakukan reformasi gereja. Menurut Th. den End, penyebab timbulnya pembaruan gereja adalah perbedaan antara teologi dan praktik gereja dengan ajaran Alkitab sesuai penemuan Luther. Sementara itu, peristiwa yang memicu diadakannya reformasi adalah penjualan surat-surat penghapusan siksa oleh Tetzel di Jerman. 1 Oleh karenanya, persoalan pokok yang memicu terjadinya reformasi gereja terletak pada teologi dan praktik gereja, yang menurut Luther, tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab. Secara teologi, doktrin yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab itu adalah bahwa keselamatan manusia ditentukan oleh gereja, dalam hal ini Paus. Seseorang dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti Dalam hal ini, keselamatan tidak sepenuhnya bergantung pada anugerah atau rahmat Allah. Selain teologi, secara praktik gereja yang tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab surat-surat penghapus siksa oleh Tetzel. Menurut gereja, bila seseorang ingin selamat melintasi purgatorium . pi penyucia. maka ia harus banyak berbuat amal kebaikan bagi gereja. Salah satunya adalah dengan membeli surat penghapus siksa yang dijual oleh pejabat gereja, sesuai dengan timbangan dosanya. Teologi dan praktik gereja inilah yang menurut Luther, tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Bersamaan dengan kondisi gereja yang secara teologi dan praktiknya sedang berjalan tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab. Luther pada masa itu juga hidup pada zaman Renaissance yang memiliki semangat ad fontes, yaitu Aukembali ke sumberAy. Semangat ad fontes ini melambangkan studi baru terhadap karya-karya klasik Yunani dan Latin pada masa humanisme Renaisans, yang kemudian diperluas ke teks-teks Alkitab. Semangat ad fontes ini pun mempengaruhi Luther ketika ia menafsirkan Kitab Suci. Ketika menafsirkan Kitab Suci. Luther pun memeriksa naskah asli Alkitab dalam bahasa Ibrani dan Yunani. Selain itu, ia juga mempelajari teologi para bapa gereja, secara khusus Augustinus. Menurut Luther, untuk dapat menafsirkan Kitab Suci dengan benar diperlukan dua hal, yaitu: . kembali kepada naskah asli Alkitab . ahasa Ibrani dan Yunan. untuk mengerti isi Kitab Suci, dan . kembali kepada tulisan para Bapa Gereja, khususnya Augustinus. Luther berpendapat bahwa tulisan dari para Bapa Gereja ditulis pada zaman keemasan gereja, yaitu zaman dimana gereja menjaga imannya secara totalitas kepada Tuhan Yesus Kristus ditengah-tengah aniaya atau penderitaan yang Oleh karena itu, pemahaman Luther akan doktrin Kristen sangat dipengaruhi oleh tulisan para Bapa Gereja . hususnya Augustinu. dan semangat ad fontes untuk menafsirkan Kitab Suci berdasarkan naskah aslinya. Melalui kemunculan semangat ad fontes pada zaman reformasi gereja, maka hingga suatu ketika saat Luther sedang membaca T van den End. Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 166. http://journal. J S Aritonang. Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 29. Volume 20 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 142 Roma 1:16-17, ia menafsirkan ayat tersebut sebagai ayat dalam Kitab Suci yang Allah membenarkan manusia oleh iman kepada Tuhan Yesus. Injil tidak menunjukkan penghukuman dan murka Allah, tetapi penyelamatan dan pembenaran-Nya. Oleh karenanya. Luther mengembangkan gagasan teologis bahwa manusia diselamatkan karena anugerah Allah saja dan itu diterimanya dalam iman kepada Tuhan Yesus, bukan karena melakukan perbuatan baik. Gagasan Luther ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sebagaimana telah dikatakan bahwa semangat ad fontes mendorong penggalian terhadap sumber-sumber asli, antara lain Alkitab dan tulisan para Bapa Gereja . Oleh karena itu. Luther tidak mendasarkan pandangan teologinya pada Alkitab saja, tetapi juga melihat bahwa pandangannya itu sudah diletakkan oleh para Bapa Gereja, khususnya Augustinus. Serupa dengan Luther. Yohanes Calvin yang adalah reformator gelombang kedua juga mendasarkan pemikiran teologinya kepada kepada para Bapa Gereja, khususnya Augustinus. Oleh karenanya. Calvin tidak pernah memperkenalkan suatu ajaran yang sama sekali baru. Pokok-pokok ajaran yang ia tekankan sebenarnya sudah diajarkan oleh para Bapa Gereja serta tokoh-tokoh reformasi sebelum Calvin. Hal ini dapat dilihat melalui salah satu karya humanisnya yang pertama AuCommentary on the ClementiaAy, dimana Calvin banyak mengutip para patristik terutama Augustinus. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam upaya membarui gereja, yang pada gilirannya berdampak pada masyarakat. Luther dan Calvin kembali ke masa lalu, kepada para patristik. Pembaruan gereja dan masyarakat abad ke-16 dapat berhasil mereka lakukan adalah karena mereka kembali ke masa lalu, yakni abad ke-5, khususnya kepada Augustinus. Masa lalu tidak mereka lupakan, dalam upaya memecahkan persoalan masa kini yang mereka hadapi. Setelah membahas reformasi yang dilakukan oleh Luther dan Calvin pada abad ke-16. Batlajery melanjutkan bab kedua dari bukunya dengan judul AuMasa Kini KitaAy. Pada bab kedua ini. Batlajery menjelaskan mengenai pentingnya membangun sebuah teologi http://journal. STT Baptis Indonesia Semarang kontekstual yang bertitik tolak dari realitas konteks Asia sendiri. Menurut Batlajery, teologi yang berpredikat kontekstual merasa perlu memaknai Firman Allah dalam situasi hidup kaum beriman dan masyarakat secara Teologi yang sadar konteks berakar dalam masa lampau, prihatin dengan masa kini, serta terarah pada masa depan. Secara konkret, teologi kontekstual menjemput masyarakat dalam pergumulannya demi memekarkan kemanusiaannya serta menegakkan keadilan dan perdamaian serta agama-agama yang hidup berdampingan. Dalam konteks Asia, maka Batlajery melihat Indonesia sebagai konteks negaranya untuk berteologi secara Batlajery melihat bahwa dalam konteks Indonesia, isu keinginan mengganti Pancasila sebagai dasar negara dengan dasar yang lain yang dilakukan oleh golongan radikalisme . eberapa organisasi keagamaan tertent. merupakan isu yang sangat nyata di Indonesia. Oleh karena hal inilah maka Batlajery memberikan solusi teologis yang berkonteks Indonesia pada bab ketiga dari bukunya ini. Pada bab ketiga atau terakhir dari bukunya. Batlajery memberikan judul AuSolusi Masa KiniAy. Bab ini merupakan jawaban atau solusi dari permasalahan yang dialami oleh bangsa Indonesia terkait dengan isu keinginan untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara dengan dasar yang lain oleh golongan Solusi tersebut adalah sebuah teologi kontekstual yang dibangun oleh Batlajery Indonesia. Batlajery mengemukakan sebuah istilah AuPancasila RenaissanceAy. Sama seperti Luther dan Calvin yang kembali ke masa lalu, yaitu kepada para patristik . hususnya Augustinu. , demikian pula Indonesia harus kembali kepada Pancasila sebagai pilar dari kehidupan berbangsa dan Inilah yang dimaksud dengan Pancasila Renaissance, yang berarti semangat kembali kepada Pancasila sebagai sumber autentik nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Evaluasi Meski buku ini tidak tebal secara halaman, namun isi dari buku ini sangatlah baik untuk Pertama, penulis buku hendak Volume 20 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 143 menjelaskan di dalam buku ini mengenai cara membangun sebuah teologi kontekstual yang baik, yaitu dengan menggunakan Alkitab, tradisi, dan konteks. Kedua, bukan hanya sekadar teologi kontekstual, namun penulis juga memusatkan perhatiannya pada isu yang sangat spesifik di Indonesia, yaitu adanya keinginan untuk menggantikan Pancasila sebagai dasar negara dengan dasar yang lain yang dilakukan oleh golongan radikalisme. sini pembaca melihat bahwa penulis membangun teologi kontekstualnya secara baik dengan memperhatikan konteks lokal dimana ia berada. Sehingga, muncullah sebuah teologi yang berefleksi melalui pengalaman Luther dan Calvin dalam sejarah gereja untuk menjawab isu atau permasalahan utama tentang golongan radikalisme yang ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar negara. Teologi kontekstual tersebut adalah Pancasila Renaissance, yang berarti semangat kembali kepada Pancasila sebagai sumber autentik nilai-nilai berbangsa, dan bernegara. Melalui Pancasila Renaissance inilah maka diharapkan banyak Indonesia mengajarkan, dan melakukan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan mereka. Gagasan Pancasila Renaissance juga membuka ruang penting bagi pendidikan iman Kristen agar kembali pada sumber-sumber autentik yang telah membentuk identitas bangsa Indonesia. Sama seperti Luther dan Calvin yang kembali ke masa lalu untuk menemukan fondasi teologis yang murni, gereja dan lembaga pendidikan teologi di Indonesia dapat meneladani pola yang sama dengan kembali menggali nilai-nilai Pancasila sebagai pilar etis dan sosial yang selaras dengan iman Kristen. Integrasi ini tidak berarti mempolitisasi agama, tetapi menegaskan bahwa kehidupan beriman selalu berdiri dalam konteks sosial yang nyata. Nilai-nilai seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan dapat dipahami sebagai ruang dialog tempat iman Kristen dapat bertemu dengan panggilannya untuk membangun masyarakat yang damai, adil, dan inklusif. Dengan demikian, pendidikan iman tidak lagi berdiri di ruang hampa, tetapi bertolak dari sejarah bangsa sendiri, sehingga orang Kristen dapat memahami bahwa kesalehan pribadi terkait http://journal. STT Baptis Indonesia Semarang erat dengan kontribusi mereka dalam kehidupan publik. Dalam kerangka teologi kontekstual. Pancasila Renaissance berfungsi sebagai Auad fontesAy Indonesia, yaitu suatu ajakan untuk kembali kepada dasar ideologi bangsa agar mampu menanggapi persoalan masa kini secara relevan dan bertanggung jawab. Pendidikan Pancasila sebagai lensa etis untuk menilai bukan hanya isu radikalisme dan intoleransi, tetapi juga ketidakadilan sosial, kerusakan lingkungan, dan tantangan multikulturalisme. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam proses pembelajaran iman Kristen, gereja dan lembaga pendidikan teologi akan membentuk generasi yang mampu berteologi dengan akar yang kuat, yaitu berakar pada Kitab Suci dan tradisi gereja, namun sekaligus berakar dalam ideologi bangsa sendiri (Pancasil. Pada Pancasila Renaissance menjadi sebuah teologi yang menjawab kebutuhan spiritual dan intelektual orang Kristen yang menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab umat untuk memelihara keutuhan dan martabat bangsanya. Selain dari isi buku ini yang baik, desain pada cover buku juga terlihat indah, yaitu dimana pada bagian cover tersebut tertera gambar Luther dan Calvin. Walau desain cover buku sudah indah, namun bagi pembaca alangkah baiknya bila ditambahkan unsur keindonesiaan dalam cover buku. Misalnya, seperti pemberian warna merah dan putih pada cover buku. Hal ini bertujuan agar desain cover buku bisa sesuai dengan isi dari buku Selain itu, pembaca juga melihat bahwa pada bab ketiga dari buku tersebut pembahasannya masih sangat sedikit, dimana seharusnya penulis buku masih dapat Pancasila Renaissance. Meski desain cover dan isi buku ini baik, namun saya memberikan kritik terhadap ruang lingkup teologi Batlajery dalam buku ini. Pertama. Batlajery menekankan bahwa Luther dan Calvin berhasil membarui gereja karena mereka Aukembali ke masa laluAy, khususnya tulisan-tulisan Bapa Gereja. Augustinus. Namun, pendekatan ini terlalu Volume 20 Nomor 2 Tahun 2025 Open Access [Open Acces. P a g e | 144 STT Baptis Indonesia Semarang Reformasi gereja saat itu. Padahal. Reformasi Gereja tidak hanya soal kembali ke para Bapa Gereja, tetapi juga lahir dari dinamika sosial, politik, ekonomi, dan pergumulan spiritual personal (Luther secara khusu. yang sangat Dengan menjadikan ad fontes sebagai pola yang harus diikuti di Indonesia, maka sesungguhnya Batlajery berisiko menarik analogi sejarah yang tidak sepenuhnya setara atau sama, yaitu pembaruan teologi abad ke-16 tidak otomatis dapat diparalelkan dengan tantangan kebangsaan abad ke-21. Di sini saya melihat bahwa teologi Batlajery tampak terlalu mengandalkan romantisasi masa lalu dan kurang memberi ruang bagi kreativitas teologi baru yang lahir dalam konteks Indonesia itu sendiri, bukan hanya dari pola historis gereja Barat. Kritik kedua yang saya berikan kepada buku ini adalah model teologis dari Pancasila Renaissance itu sendiri. Meski konteks Indonesia menjadi fokus utamanya, namun Batlajery tetap menggantungkan model teologisnya pada tokoh-tokoh Barat, khususnya Augustinus. Luther. Calvin. Ini menciptakan ketegangan dimana ia ingin membangun sebuah teologi kontekstual Asia. Indonesia, metodologis tetap bersandar pada tradisi teologi Eropa. Teologi Indonesia seharusnya mampu menggali sumber-sumber lokal seperti tradisi adat, spiritualitas Kristen di Asia, atau pengalaman sejarah bangsa, bukan hanya memindahkan pola teologi Barat ke dalam persoalan Indonesia. Oleh karenanya menurut saya pribadi buku ini belum sepenuhnya memampukan pembaca untuk dapat melihat bagaimana teologi Indonesia dapat berdiri dari akar tradisinya sendiri. Sebab, teologi merupakan kehidupan dari orang-orang beriman dalam konteks zaman dan negara dimana mereka berada. Referensi