ORIGINAL ARTICLE - AACENDIKIA: Journal of Nursing AACENDIKIA: Journal of Nursing. Volume 4 . Juli 2025, p. https://doi. org/10. 59183/aacendikiajon. The Relationship Between Knowledge and Preventive Behaviors Toward Diabetic Foot Ulcers Among Diabetes Mellitus Patients at UPTD Pengasinan Public Health Center. Bekasi City Rayssya Salwa Afivah Sholikah1*. Arabta Malem Peraten Pelawi2. Rotua Suriany Simamora2 Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan. STIKES Medistra Indonesia. Jl Cut Mutia. Kota Bekasi Program Studi Ilmu Keperawatan. STIKES Medistra Indonesia. Jl Cut Mutia. Kota Bekasi *Correspondence: Rayssya Salwa Afivah Sholikah. rasyasalwa2304@gmail. Address: Jl Cut Mutia. Kota Bekasi. Indonesia. Email: Received: 1 Mei 2025 U Revised: 20 Juni 2025 U Accepted: 3 Juli 2025 ABSTRACT The rising prevalence of diabetes mellitus as a major chronic disease poses a significant global health concern, particularly due to its potential complications such as diabetic foot ulcers. Adequate knowledge of diabetes is essential to promote effective preventive behaviors. This study aimed to examine the relationship between knowledge and preventive behaviors toward diabetic foot ulcers among diabetes mellitus patients at UPTD Pengasinan Public Health Center. Bekasi City. A descriptive analytic study with a cross-sectional design was conducted, involving 82 respondents selected from a population of 100 using SlovinAos formula. A simple random sampling technique was applied, and data were collected using a validated and reliable The results showed a significant relationship between knowledge level and diabetic foot ulcer prevention behavior, with a p-value of 0. < 0. based on the Chi-Square test. Most respondents were aged 31Ae45 years, predominantly female, had been living with diabetes for more than five years, held a high school education, and were mostly Univariate analysis indicated that the majority of patients had good knowledge and fairly good preventive These findings highlight the importance of patient education in the prevention of diabetic foot complications. ABSTRAK Meningkatnya prevalensi diabetes mellitus sebagai salah satu penyakit kronis yang signifikan di seluruh dunia, yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti luka kaki diabetik. Pengetahuan yang memadai tentang diabetes sangat penting untuk mendorong perilaku pencegahan yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dengan perilaku pencegahan luka kaki diabetik pada pasien diabetes mellitus di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif analitik dengan desain cross-sectional, melibatkan 82 responden yang dipilih dari populasi 100 orang menggunakan rumus Slovin. Teknik Pengambilan data dengan menggunakan jenis simple random sampling, data dikumpulkan melalui kuesioner yang diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan luka kaki diabetik, dengan nilai P = 0,000 . < 0,. menggunakan hasil uji chi-square Test. Mayoritas responden berusia 31-45 tahun, didominasi oleh perempuan, dan sebagian besar telah menderita diabetes lebih dari 5 tahun. Pendidikan terakhir responden paling banyak adalah SMA, dan mayoritas tidak bekerja. Hasil univariat menunjukkan bahwa pasien di UPTD Puskesmas Pengasinan sebagian besar memiliki pengetahuan yang baik, dan perilaku pencegahan juga tergolong cukup baik. Keywords: diabetes mellitus. preventive behavior. diabetic foot ulcer. primary health care Pendahuluan Diabetes mellitus adalah penyakit jangka panjang yang umum di seluruh dunia. Penyakit ini terjadi saat tubuh tidak bisa menggunakan insulin dengan baik atau pankreas tidak memproduksi cukup insulin. Salah satu dari empat penyakit tidak menular yang terus meningkat setiap tahunnya adalah diabetes, yang dianggap sebagai penyakit degeneratif yang penting. Ini menempatkannya dalam 39 | E-ISSN: 2963-6434 bahaya besar bagi kesehatan dunia saat ini(Putri et al. , 2. WHO melaporkan bahwa pada 2014, 8,5% orang dewasa menyebabkan 1,5 juta kematian pada 2019, dengan 48% di bawah usia 70 tahun. Dari 2000-2019, kematian akibat diabetes, kanker, penyakit pernapasan, dan kardiovaskular menurun 22% pada usia 30-70 tahun di negara berpenghasilan menengah ke bawah (WHO. A 2025 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Rayssya Salwa Afivah Sholikah et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Pada 2021, pengeluaran global untuk diabetes mencapai 966 miliar dolar dan diproyeksikan meningkat menjadi 1. 054 miliar dolar pada 2045. Indonesia menempati peringkat kelima dengan 19,47 juta penderita . ,7% Sekitar 15% mengalami luka diabetik, dengan amputasi 30% dan mortalitas 32%, serta menyumbang 80% kunjungan rumah sakit (Supardi et al. , 2. Menurut Rikesdas 2018, prevalensi diabetes melitus di Jawa Barat mencapai 1,74% atau 611 penderita. Pada 2021, tercatat 837 kasus diabetes, namun 37,1% di antaranya tidak menerima perawatan medis yang memadai (Lestari, 2. Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa jumlah korban sepanjang tahun di Bekasi lalu mencapai 47. 018 orang, mayoritas korban usia produktif. Menurut perkiraan, ada 3. penderita diabetes setiap bulan di kota Bekasi (Dudun, 2. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat pengobatan diabetes mellitus yang tidak tepat adalah ulkus diabetik, luka pada kaki (Apriliyani, 2. Komplikasi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecacatan, risiko amputasi, atau bahkan kematian yang dapat mencapai 15 hingga 40 kali lipat lebih tinggi (Arifin, 2. Data survei di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi menunjukkan bahwa pada bulan Februari 2024, terdapat 117 pasien diabetes mellitus. Angka ini sedikit menurun menjadi 101 pasien pada bulan Maret. Trend tahunan menunjukkan jumlah pasien diabetes terus meningkat, dari 865 pasien pada tahun 2021 menjadi 1. 291 pada tahun 2022, dan 031 pasien pada tahun 2023. Selain itu, terdapat peningkatan jumlah pasien yang mengalami luka yang perlu diperhatikan. Kesadaran ditingkatkan, tetapi banyak orang enggan melakukan deteksi dini karena faktor ekonomi dan kurangnya pemahaman akan seriusnya penyakit Edukasi tentang tanda, gejala, risiko, pengobatan, dan pencegahan sangat penting (Suryati et al. , 2. Perawatan kaki harus dilakukan oleh semua orang karena mencakup mencegah terutama bagi mereka yang menderita diabetes mellitus karena mereka sangat rentan terhadap luka pada kaki yang memerlukan waktu yang lama untuk sembuh. Dengan melakukan perawatan kaki yang tepat, risiko komplikasi pada kaki dapat dikurangi (Arifin, 2. Dalam perawatan kaki diabetik, faktor risiko yang dapat diubah termasuk obesitas, hipertensi, kurang aktivitas fisik, dislipidemia (HDL <35 mg/dL), dan pola makan tinggi glukosa dan rendah serat. Faktor risiko diabetes yang tidak dapat diubah termasuk usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, etnis, dan berat lahir di bawah 2500 gram. Gaya hidup yang tidak aktif, merokok, dan mengonsumsi alkohol berlebihan juga berkontribusi (Suputra et al. , 2. Merawat kaki secara rutin adalah cara efektif mencegah cedera pada kaki diabetik. Ini termasuk melakukan pemeriksaan dini, memotong kuku dengan benar, menggunakan alas kaki yang tepat, dan tetap bersih. Pengetahuan yang baik tentang perawatan kaki dapat mengurangi risiko ulkus diabetik hingga lima puluh hingga enam puluh persen dan mencegah amputasi. (Maryana et al. , 2. Pendidikan tentang gaya hidup sehat harus diberikan sebagai bagian dari pencegahan dan merupakan bagian penting dari pengendalian Mendapatkan pendidikan yang tepat tentang perawatan dan membantu mencegah infeksi (Fau, 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dengan perilaku pencegahan luka kaki diabetik pada pasien diabetes mellitus di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi. Metode Dalam rangka menganalisis data secara mendalam, penelitian ini menggunakan pendekatan https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 40 Rayssya Salwa Afivah Sholikah et al. deskriptif analitik serta teknik kuantitatif deskriptif. Selain itu, analisis persentase dan pengamatan Mengingat bahwa pendekatan cross-sectional merupakan penelitian yang berlangsung dalam periode tertentu dan di lokasi tertentu, metode pengumpulan data diintegrasikan dengan penelitian yang ada (Sujarwerni, 2. Populasi dalam penelitian ini ada 100 responden pasien di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi. Lalu Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 82 orang penderita Diabetes Mellitus Di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi. Setelah dilakukannya perhitungan dengan rumus slovin. Metode pengambilan sampel yang diterapkan dalam studi ini adalah melalui Probability Sampling sederhana, di mana semua individu dalam populasi kesempatan yang setara untuk dipilih secara acak tanpa memandang kelompok tertentu (Sahir, 2. Alat yang dimanfaatkan dalam studi ini adalah kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas, terdiri dari: Kuesioner pengetahuan tentang diabetes mellitus dan kuesioner perilaku pencegahan terhadap luka kaki pada pasien Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan pengisian Teknik menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan ujichi-square. Hasil Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik . Karakteristik Frekuensi Usia Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Lama Menderita <5 Tahun >5 Tahun Pendidikan Terakhir SMP SMA Pekerjaan Tidak Bekerja Pegawai Swasta Buruh/sopir Lainnya Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik responden usia didapatkan mayoritas penderita diabetes mellitus terbanyak di usia 31-45 41 | E-ISSN: 2963-6434 Presentase % yaitu berjumlah 44 orang . ,7%). Karakteristik menunjukkan bahwa responden dengan jenis Rayssya Salwa Afivah Sholikah et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing kelamin terbanyak yaitu perempuan sebanyak 57 responden . ,5%) dan terendah laki-laki sebanyak 25 responden . ,5%). Lalu berdasarkan karakteristik lama menderita diabetes mellitus menunjukkan bahwa responden dengan lama menderita diabetes terbanyak yaitu <5 Tahun 81 responden . ,8%). Karakteristik berdasarkan pendidikan terakhir bahwa responden terbanyak dengan pendidikan terakhir adalah SMA berjumlah 32 responden . Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan pekerjaan terbanyak ialah yang tidak bekerja berjumlah 45 responden. Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan dan perilaku pencegahan luka diabetik pada penderita diabetes mellitus . Variabel Pengetahuan Baik Cukup Kurang Perilaku Baik Cukup Kurang Berdasarkan tabel 2 didapatkan hasil pengetahuan dalam kategori baik, hal ini dibuktikan dengan pernyataan yang dihasilkan dari 82 responden. Sebagian besar menunjukkan pengetahuan dalam kategori baik dengan jumlah sebanyak 34 responden . ,5%). Sedangkan perilaku pencegahan sebagian besar dalam kategori cukup dengan jumlah sebanyak 31 responden . ,8%). Tabel 3. Hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan luka diabetik pada pasien diabetes mellitus . Berdasarkan tabel 4 hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan luka kaki diabetik pada pasien diabetes mellitus di UPTD Puskesmas Kota Bekasi didapatkan hasil dari 82 responden https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 42 Rayssya Salwa Afivah Sholikah et al. %). Pengetahuan kategori baik perilaku pencegahan kategori baik sebanyak 23 responden . ,0%) responden pengetahuan kategori baik dengan pencegahan kategori cukup responden . ,0%). Pengetahuan dengan kategori baik dengan perilaku pencegahan kategori kurang 2 responden . ,4%), pengetahuan kategori cukup dengan pencegahan kategori baik sebanyak 1 responden . ,2%) Pengetahuan dengan kategori cukup dengan perilaku pencegahan kategori cukup sebanyak 21 responden . ,6%). Pengetahuan dengan kategori cukup dengan perilaku pencegahan kategori kurang sebanyak 1 responden . ,2%). Pengetahuan dengan kategori kurang dengan perilaku pencegahan dengan kategori baik sebanyak 2 responden . ,4%) pengetahuan dengan perilaku pencegahan kurang dengan kategori cukup sebanyak . ,2%) kategori kurang dengan perilaku pencegahan kategori kurang sebanyak . Berdasarkan analisis statistik hasil P value = 0,000 dengan taraf signifikansi . ,000 < 0,. yang berarti berhubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan luka kaki pada pasien diabetes mellitus. Pembahasan Pengetahuan tentang Diabetes Mellitus Di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi didapatkan hasil pengetahuan dalam kategori baik, hal ini dibuktikan dengan pernyataan yang dihasilkan dari 82 responden. Sebagian besar menunjukkan pengetahuan dalam kategori baik dengan jumlah sebanyak 34 responden . ,5%). Banyak faktor mempengaruhi pengetahuan Usia, pendidikan dan pekerjaan, 43 | E-ISSN: 2963-6434 serta lingkungan dan sosial budaya adalah (Hendrawan et al. , 2. Pasien diabetes mellitus dapat memiliki pemahaman yang baik tentang penyakit mereka. Pengetahuan sangat penting untuk menentukan perilaku yang utuh karena akan membentuk cara melihat kenyataan, keputusan, dan menentukan perilaku tertentu. Akibatnya, pengetahuan akan mempengaruhi perilaku seseorang (Juwariyah & Priyanto, 2. Untuk masyarakat harus tahu. Perilaku dipengaruhi oleh Pengetahuan juga terkait dengan Dengan pendidikan seseorang, mereka memiliki lebih banyak informasi, yang berdampak pada perilaku mereka (Ramadhani et al. , 2. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Silalahi et al. menunjukkan bahwa pengetahuan dari 70 responden didapatkan hasil tingkat pengetahuan baik sebanyak 32 responden . ,7%). Penelitian ini pula tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh (Anwariyah, 2. yang menunjukkan bahwa sebanyak 44 responden . ,3%) dari 60 responden pasien menjadi responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai pengetahuan ini. Menurut diatas tindakan responden cukup baik dan kurang baik dapat dilihat besar dari siswa tersebut dibekali pengetahuan tentang diabetes mellitus dalam kategori baik. Keberhasilan pengobatan bergantung pada pengetahuan tentang penyakit yang terjadi di lingkungan keluarga. Terbatasnya pengetahuan tentang kondisi kesehatan seringkali menyebabkan rendahnya keinginan individu untuk mengejar pendidikan kesehatan dan rendahnya dukungan keluarga dan sosial. Oleh karena itu, pasien Rayssya Salwa Afivah Sholikah et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing keterbatasan literasi harus dapat menerima dan memahami informasi tentang diabetes dari tenaga kesehatan di lingkungan Oleh karena itu, upaya untuk mencegah komplikasi, terutama luka diabetes, dapat lebih efektif (Amelya & Surdayanto. Analisis di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi pengetahuan pasien diabetes tentang perawatan kaki umumnya baik, karena mereka telah memahami pencegahan dan perawatan luka Namun, jumlah responden terbatas, kemungkinan akibat kurangnya akses informasi kesehatan atau minimnya sosialisasi tenaga Pasien yang pengetahuan baik biasanya mengenali tanda-tanda luka diabetik dan menjaga kebersihan kaki mereka untuk menghindari cedera. Dalam masyarakat di mana ulkus kaki diabetik sangat umum, pengetahuan mungkin menjadi komponen yang dapat memengaruhi cara orang berperilaku. Dengan demikian, peneliti berpendapat bahwa penderita perawatan kaki karena pemahaman yang baik mencegah cedera. Perilaku pencegahan terhadap luka kaki diabetik di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi didapatkan hasil pengetahuan dalam kategori baik, hal ini dibuktikan dengan pernyataan yang dihasilkan dari 82 responden. Sebagian besar menunjukkan perilaku pencegahan dalam kategori cukup dengan jumlah sebanyak 31 responden . ,8%). Pembentukan perilaku baru pada orang dewasa dimulai dari aspek kognitif, di mana individu terlebih dahulu memahami stimulus dari lingkungan sekitar. Pengetahuan yang diperoleh kemudian membentuk sikap dan berlanjut dalam Pengendalian komplikasi ulkus kaki pada penderita diabetes bergantung pada motivasi serta pemahaman pasien terhadap penyakit dan Dengan pengetahuan yang memadai, pasien dapat menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk mencegah ulkus diabetik (Rohmah, 2. Mengukur perilaku pencegahan terbuka secara langsung dengan mengamati atau mengobservasi perilaku pencegahan subjek yang Perilaku ini kemudian dimasukkan atau dibuat ke dalam kuesioner, yang memungkinkan penilaian langsung kualitas, cukup, dan kurangnya perilaku (Nurmala et al. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nisak & Widyaningrum, 2. menunjukkan pengetahuan dari 77 responden didapatkan hasil tingkat perilaku pencegahan cukup sebanyak 43 responden . ,1%). Menurut analisis peneliti, mayoritas pasien diabetes mellitus di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi memiliki perilaku pencegahan luka kaki diabetik yang Ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien menyadari pentingnya mencegah komplikasi kaki diabetik. Namun, masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan untuk mencapai kategori yang baik. Ini menunjukkan banyak pasien yang berpengetahuan, tidak semua menerapkan perilaku pencegahan dalam tindakan sehari-hari mereka. Dalam kelompok ini, perilaku pencegahan luka kaki diabetik menunjukkan bahwa pasien sudah melakukan tindakan pencegahan, tetapi belum secara optimal. Hubungan pengetahuan dengan pencegahan luka kaki diabetik pada pasien diabetes mellitus di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa 82 orang yang menjawab di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi pada tahun 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa 23 responden . tau https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 44 Rayssya Salwa Afivah Sholikah et al. 28,0%) menunjukkan pengetahuan baik tentang perilaku pencegahan yang baik. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa nilai 5% . diperoleh dari uji chi-square, dan nilai P . kurang dari nilai 5% . Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dari hasil tersebut H0 ditolak, yang berarti bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan perilaku yang dilakukan pasien diabetes mellitus di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi untuk mencegah luka pada kaki mereka. Penelitian ini mengkaji hubungan antara pengetahuan dan perilaku pencegahan luka kaki diabetik pada pasien diabetes mellitus. Hasil meskipun sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik, tidak semuanya memiliki perilaku Sebanyak 26,8% responden dengan pengetahuan kurang juga menunjukkan perilaku pencegahan yang kurang. Temuan ini menegaskan bahwa pengetahuan yang baik tidak selalu berbanding lurus dengan praktik pencegahan yang maksimal. Pasien mellitus harus memahami apa yang mereka ketahui tentang penyakit tersebut, seperti cara mencegah dan mengobatinya, serta kemungkinan Pengetahuan ini sangat penting untuk membentuk perilaku pasien secara keseluruhan karena akan membangun keyakinan yang berpengaruh terhadap cara mereka melihat Selain itu, pengetahuan sangat penting untuk pengambilan keputusan dan memengaruhi perasaan dan tindakan pasien terhadap kondisi kesehatannya (Juwariyah & Priyanto, 2. Mengalami diabetes mellitus secara teratur dapat meningkatkan kemungkinan munculnya Pasien yang menderita diabetes selama 5 tahun atau lebih memiliki risiko 4,121 kali lebih besar untuk mengalami komplikasi dibandingkan dengan pasien yang menderita diabetes kurang dari 5 tahun. Diabetes mellitus jangka panjang, neuropati, penyakit arteri 45 | E-ISSN: 2963-6434 perifer, perawatan kaki yang tidak memadai, dan penggunaan alas kaki yang tidak sesuai adalah penyebab tambahan luka kaki diabetik (Fortuna et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Anwariyah, 2. bahwa uji bivariate dari hasil uji statistik diperoleh nilai P-Value . ,0. < nilai 5% . maka H0 ditolak yang berarti terdapat bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan luka kaki Di Puskesmas Tlugosari Kulon pasien yang mendapatkan perawatan kaki. Penelitian ini diperkuat dengan hasil penelitian yang sama yang didapatkan oleh (Diputro, 2. bahwa analisa bivariat dari hasil uji statistik nilai P-Value . ,001 < 0,. sehingga keputusan uji adalah H0 ditolak, sehingga dapat terdapat hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan ulkus diabetikus pada pasien diabetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo. Pengetahuan membentuk perilaku seseorang, dan salah satu faktor penyebab tingginya angka kasus penyakit, termasuk diabetes mellitus tipe 2, adalah tingkat pengetahuan dan pendidikan yang rendah. Hal ini juga berlaku untuk mencegah yang memerlukan pemahaman tentang definisi, tanda dan gejala, faktor risiko, dan metode untuk penyakit itu sendiri (Silalahi et al. , 2. Untuk menghindari luka diabetik. Anda harus memeriksa kaki Anda setiap hari untuk melihat apakah ada kemerahan, memar, luka, infeksi jamur, atau iritasi. mencuci kaki dengan air dan sabun setiap hari. memotong kuku sesuai dengan bentuknya, tidak terlalu pendek atau terlalu dekat dengan daging. menggunakan lotion untuk melembapkan area kering di kaki Anda. dan tetap bersih secara keseluruhan (Silalahi et , 2. Rayssya Salwa Afivah Sholikah et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Kesimpulan Berdasarkan kesimpulan penelitian ini diperoleh karakteristik responden penderita diabetes mellitus di UPTD Puskesmas Pengasinan Kota Bekasi menunjukkan bahwa mayoritas berusia 31Ae45 tahun, didominasi oleh perempuan, dengan sebagian besar telah menderita diabetes kurang dari 5 tahun. Pendidikan terakhir terbanyak adalah tingkat SMA, dan mayoritas responden tidak bekerja. Sebagian besar pasien memiliki pengetahuan yang baik, serta menunjukkan perilaku pencegahan luka kaki diabetik yang tergolong cukup baik. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan luka kaki diabetik pada pasien Referensi