Vol 2 No. 4 Oktober 2025 P-ISSN : 3047-2806 E-ISSN : 3047-2075. Hal 82 - 87 JURNAL PADAMU NEGERI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jpn Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI:https://doi. org/10. 69714/ap17gy63 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI INTERAKSI ANTAR NEGARA ASIA DAN NEGARA LAINNYA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS IX-J MTsN 1 KOTA KEDIRI PADA SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2023-2024 Mardiah Hayatia* a MTs N 1 Kota Kediri, mardiahhayati13@gmail. Kota Kediri. Jawa Timur. Indonesia Korespondensi ABSTRACT Social Studies learning, particularly the ability to analyze interactions between Asian countries and other nations at MTsN 1 Kota Kediri, is still teacher-centered. Students are not accustomed to participating in discussions, tend to be passive, and their engagement remains low. They mostly wait for the teacher's explanation during the learning process without actively thinking. Moreover, students do not review the material at home and are often used to copying their peers' work during practice activities. The purpose of this research is to determine the improvement in studentsAo ability to analyze interactions between Asian countries and other nations in class IX-J of MTsN 1 Kota Kediri during the even semester of the 2023Ae2024 academic year by applying the Problem-Based Learning (PBL) model. This method is one of the enjoyable strategies that encourages students to be active in the learning process. The success indicator for improved student learning outcomes in this study is that more than 76% of students meet the Minimum Mastery Criteria (KKM), with a minimum score of 76. The research results show an increase in the number of students who achieved the minimum mastery criteria in each cycle. In the first cycle, 73. 3% . met the KKM, while in the second cycle, 86. 8% . met the KKM. These results demonstrate an improvement from the pre-cycle to the second cycle. The success criteria of the study were met in the second cycle, where more than 76% of the students achieved the KKM. Keywords: Learning Model. Problem-Based Learning. Interactions between Asian Countries Abstrak Pembelajaran IPS khususnya kemampuan menganalisis Interaksi Antar Negara Asia dan Negara Lainnya di MTsN 1 Kota Kediri masih berpusat pada guru. Peserta didik tidak dibiasakan untuk berdiskusi, peserta didik bersikap pasif sehingga keterlibatan peserta didik masih kurang, peserta didik lebih banyak menunggu sajian dari guru selama proses pembelajaran tanpa aktif berpikir. Selain itu peserta didik tidak mengulang pelajaran di rumah dan terbiasa menyalin pekerjaan temannya saat mengerjakan latihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan Kemampuan menganalisis Interaksi Antar Negara Asia dan Negara Lainnya peserta didik kelas IX-J MTsN 1 Kota Kediri di semester genap tahun pelajaran 2023-2024 menggunakan model Pembelajaran Problem Based Learning. Metode ini merupakan salah satu strategi yang menyenangkan yang akan mengajak peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran. Indikator keberhasilan peningkatan hasil belajar peserta didik pada penelitian ini dilihat lebih dari 76% peserta didik tuntas KKM . engan nilai . Hasil penelitian yang didapat memperlihatkan kenaikan jumlah peserta didik yang mencapai ketuntasan minimal di setiap siklus. Pada siklus I terdapat 73,3 % . peserta didik tuntas KKM. Pada siklus II terdapat 86,8 % . peserta didik tuntas KKM. Data tersebut memperlihatkan terjadi peningkatan dari prasiklus sampai siklus II. Keberhasilan penelitian sesuai dengan indikator keberhasilan didapat saat siklus II, yaitu lebih dari 76% peserta didik tuntas KKM. Kata kunci: Model Pembelajaran. Problem Based Learning. Interaksi Antar Negara Asia Received June 9, 2025. Revised July 7, 2025. Accepted August 4, 2025. Online Available August 7, 2025 Mardiah Hayati / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 82 Ae 87 PENDAHULUAN Proses pembelajaran IPS di MTsN 1 Kota Kediri, khususnya pada materi Interaksi Antar Negara Asia dan Negara Lainnya, masih didominasi oleh metode konvensional yang berpusat pada guru. Peserta didik belum terbiasa terlibat dalam diskusi, menunjukkan sikap pasif, serta cenderung hanya mencatat tanpa memahami isi materi. Selain itu, rendahnya motivasi belajar juga ditunjukkan oleh kebiasaan menyalin pekerjaan teman dan tidak mengulang pelajaran di rumah. Akibatnya, penguasaan materi dan capaian nilai banyak yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) . Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Model Problem Based Learning (PBL) dipilih karena menekankan pada pemecahan masalah nyata, mendorong siswa untuk berpikir kritis, bekerja sama dalam kelompok, dan aktif mencari solusi. Dengan penerapan model PBL, diharapkan hasil belajar peserta didik meningkat dan mereka lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran IPS secara menyenangkan dan bermakna . TINJAUAN PUSTAKA Letak dan Luas Benua Asia dan Benua Lainya Benua Asia merupakan benua terluas di dunia, dengan wilayah yang membentang dari Turki di barat hingga Rusia di timur, serta Indonesia di selatan. Letaknya strategis karena berbatasan langsung dengan berbagai benua lainnya seperti Eropa. Afrika, dan Australia. Interaksi antarnegara di kawasan ini terjadi karena faktor geografis, sosial, budaya, dan ekonomi. Selain Asia, negara-negara di Benua Eropa. Amerika. Afrika, dan Australia juga memiliki hubungan erat dalam bidang perdagangan, pendidikan, dan politik yang penting dipahami oleh siswa sebagai bagian dari materi pembelajaran IPS. Problem Based Learning Model Problem Based Learning (PBL) adalah pendekatan pembelajaran yang menempatkan masalah sebagai fokus utama pembelajaran. Siswa diajak untuk menyelesaikan masalah nyata dengan proses berpikir kritis, diskusi kelompok, dan eksplorasi informasi. PBL mendorong keterlibatan aktif siswa dan menumbuhkan keterampilan pemecahan masalah, komunikasi, serta kolaborasi . Tujuan Model Problem Based Learning Tujuan utama PBL adalah meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran melalui keterlibatan langsung dalam proses penyelesaian masalah. PBL juga bertujuan mengembangkan sikap mandiri, kemampuan analisis, serta meningkatkan pemahaman konsep secara bermakna. Kelebihan dan Kekurangan dari Model Problem Based Learning Kelebihan PBL antara lain membuat siswa lebih memahami materi, meningkatkan motivasi belajar, dan mendorong pembelajaran bermakna. Model ini juga melatih kerja sama dan berpikir kritis. Namun. PBL juga memiliki kekurangan, seperti memerlukan waktu lebih panjang, kesiapan guru yang tinggi, serta kesulitan dalam menemukan masalah yang relevan dan kontekstual . METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaboratif dan reflektif dengan tujuan meningkatkan hasil belajar IPS peserta didik melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Subjek penelitian adalah peserta didik kelas IX-J MTsN 1 Kota Kediri tahun pelajaran 2023Ae2024 yang berjumlah 36 siswa. Penelitian dilakukan dalam dua siklus selama bulan Juli hingga Agustus 2023, masing-masing terdiri dari tiga pertemuan pembelajaran dan satu posttest. Setiap siklus melibatkan empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi sesuai model Kemmis dan McTaggart. Teknik pengumpulan data mencakup tes hasil belajar, observasi guru dan siswa, serta dokumentasi. Instrumen penelitian meliputi soal pilihan ganda, lembar observasi guru dan siswa. Data dianalisis secara kuantitatif untuk menghitung rata-rata nilai dan persentase ketuntasan belajar, serta secara deskriptif untuk menilai keaktifan siswa dalam pembelajaran. Indikator keberhasilan penelitian ditentukan jika minimal 76% siswa mencapai nilai KKM Ou 76 dan menunjukkan peningkatan partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Interaksi Antar Negara Asia Dan Negara Lainnya Mata Pelajaran IPS di Kelas IX-J MTSN 1 Kota Kediri Pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2023-2024 (Mardiah Hayat. Mardiah Hayati/ Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 82 Ae 87 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan masing-masing terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menganalisis Interaksi Antar Negara Asia dan Negara Lainnya melalui model Problem Based Learning (PBL). Berikut pemaparan hasil penelitian setiap siklus: 1 Laporan Siklus I Perencanaan Pada tahap ini, peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan pendekatan Problem Based Learning. Materi yang dipelajari adalah "Interaksi Antar Negara Asia dan Negara Lainnya". Disiapkan pula instrumen berupa lembar observasi guru, lembar observasi siswa, serta soal evaluasi untuk mengukur hasil belajar. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan sesuai skenario PBL. Guru memulai dengan pemaparan masalah kontekstual tentang interaksi antarnegara. Siswa dibagi menjadi kelompok kecil dan diberikan waktu untuk mendiskusikan solusi berdasarkan sumber belajar yang telah disediakan. Guru berperan sebagai fasilitator dan pengarah diskusi. Observasi Observasi dilakukan terhadap aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung. A Aktivitas guru menunjukkan skor rata-rata 86,7% atau masuk kategori sangat baik, meliputi kesiapan mengajar, penyampaian masalah, fasilitasi diskusi, dan refleksi akhir. A Aktivitas siswa memiliki rata-rata 70,7% atau kategori cukup aktif. Beberapa siswa masih menunjukkan ketergantungan pada guru dan kurang berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok. Aspek Pengamatan Verbal Nonverbal Tabel 4. 1 Hasil observasi peserta didik siklus I Hasil Pengamatan dalam Ada / Jumlah Hitungan Peserta didik Uraian Aspek Pengamatan Tidak 11 Ae < 6 6 Ae 10 > 15 Peserta didik bertanya Peserta didik mengobrol sendiri di luar materi Peserta didik dapat menjawab pertanyaan guru Peserta didik bercanda Peserta didik menyahut asalX Peserta didik antusias belajar Peserta didik percaya diri Peserta didik malu Peserta didik bermain-main Peserta didik tidur-tiduran Peserta didik menyimak guru Peserta didik terlibat aktif Peserta didik menghargai hasil kerja teman Peserta didik terlambat masuk Hasil Evaluasi Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dari 36 siswa, 26 orang . ,3%) mencapai nilai Ou76, sedangkan 10 siswa belum tuntas. Rata-rata nilai kelas sebesar 78,6. Refleksi Dari hasil refleksi, diketahui bahwa meskipun sebagian besar siswa telah aktif, namun masih ada siswa yang pasif dan kurang berkontribusi dalam kelompok. Beberapa kelompok juga belum mampu JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Oktober 2025, pp. 82 - 87 Mardiah Hayati / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 82 Ae 87 memecahkan masalah secara mandiri. Oleh karena itu, perbaikan dilakukan pada tahap selanjutnya dengan menekankan peran setiap anggota kelompok dan pemberian waktu diskusi yang lebih terstruktur. 2 Laporan Siklus II Perencanaan Perencanaan pada siklus II dilakukan dengan perbaikan berdasarkan refleksi siklus I. Guru menambahkan panduan kerja kelompok yang lebih jelas, menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS), dan memberikan penugasan individu agar setiap siswa berperan aktif. Pelaksanaan Pembelajaran kembali dilakukan dengan pendekatan PBL. Permasalahan yang diberikan lebih bervariasi dan kontekstual. Guru memberikan arahan lebih jelas tentang peran dan tugas masing-masing anggota Penekanan juga diberikan pada diskusi mendalam dan presentasi hasil pemikiran kelompok. Observasi Observasi dilakukan terhadap aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung. A Aktivitas guru meningkat menjadi 93,3% atau kategori sangat baik. Guru lebih responsif dan mampu mengarahkan jalannya diskusi dengan efektif. A Aktivitas siswa juga meningkat menjadi 86,6% atau kategori aktif. Seluruh kelompok terlibat aktif dan menunjukkan kemampuan menganalisis serta menyajikan hasil diskusi dengan baik. Aspek Pengamatan Verbal Nonverbal Tabel 4. 2 Hasil Observasi Peserta didik Siklus II Hasil Pengamatan dalam Jumlah Ada / Hitungan Peserta didik Uraian Aspek Pengamatan Tidak 6Ae 11 Ae 15 > 15 Peserta didik bertanya Peserta didik mengobrol sendiri di luar materi Peserta didik dapat menjawab pertanyaan guru Peserta didik bercanda Peserta didik menyahut asalX Peserta didik antusias belajar Peserta didik percaya diri Peserta didik malu Peserta didik bermain-main Peserta didik tidur-tiduran Tidak Peserta didik menyimak guru Peserta didik terlibat aktif Peserta didik menghargai hasil kerja teman Peserta didik terlambat masuk Tidak Hasil Evaluasi Pada siklus II, terjadi peningkatan signifikan dalam ketuntasan belajar. Sebanyak 33 siswa . ,6%) telah mencapai nilai Ou76, dengan rata-rata kelas meningkat menjadi 85,4. Refleksi Refleksi pada siklus II menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model PBL telah berhasil meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa. Interaksi antarsiswa dalam kelompok menjadi lebih dinamis, dan kemampuan berpikir kritis meningkat. Indikator keberhasilan penelitian, yaitu lebih dari 76% siswa tuntas KKM, telah tercapai sehingga tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Interaksi Antar Negara Asia Dan Negara Lainnya Mata Pelajaran IPS di Kelas IX-J MTSN 1 Kota Kediri Pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2023-2024 (Mardiah Hayat. Mardiah Hayati/ Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 82 Ae 87 3 Pembahasan Penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran IPS kelas IX-J MTsN 1 Kota Kediri dilakukan untuk mengatasi rendahnya keaktifan dan hasil belajar peserta didik, khususnya dalam memahami materi Interaksi Antar Negara Asia dan Negara Lainnya. Sebelumnya, pembelajaran bersifat teacher-centered, dengan peserta didik yang cenderung pasif dan hanya menerima informasi tanpa keterlibatan aktif dalam diskusi. Kondisi ini berdampak pada rendahnya pencapaian nilai, di mana banyak siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 76. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas ini diarahkan untuk mengetahui apakah model PBL dapat meningkatkan hasil belajar secara signifikan . Model pembelajaran PBL dipilih karena menekankan pada keterlibatan aktif peserta didik melalui proses pemecahan masalah yang nyata dan kontekstual. Dalam pelaksanaannya, peserta didik tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi didorong untuk mengeksplorasi informasi, berdiskusi dalam kelompok, dan mengembangkan solusi atas permasalahan yang diberikan. Hal ini sejalan dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang menekankan pengembangan keterampilan abad ke-21, yaitu berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas. PBL juga dipercaya mampu meningkatkan motivasi belajar karena siswa merasa dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran . Pada siklus I, model PBL mulai diterapkan dalam tiga pertemuan. Guru memberikan stimulus berupa permasalahan terkait hubungan antarnegara Asia dan negara lainnya, kemudian siswa didorong untuk mencari jawaban melalui diskusi kelompok. Namun, dalam pelaksanaannya ditemukan beberapa kendala. Banyak peserta didik yang masih malu berbicara, belum terbiasa bekerja dalam kelompok, dan hanya mengandalkan jawaban dari teman lain. Guru juga belum sepenuhnya maksimal dalam memfasilitasi diskusi, serta manajemen waktu pembelajaran masih kurang efektif. Meskipun demikian, hasil belajar menunjukkan adanya peningkatan awal, dengan 13 siswa . ,3%) mencapai nilai KKM . Refleksi dari siklus I menjadi dasar penting untuk perbaikan di siklus berikutnya. Beberapa langkah perbaikan yang dilakukan antara lain: mengelompokkan siswa berdasarkan tempat duduk untuk mengurangi kegaduhan, memberikan motivasi dan peran yang jelas dalam kelompok, serta mengoptimalkan waktu diskusi. Guru juga lebih aktif dalam memberikan bimbingan langsung kepada setiap kelompok dan menciptakan suasana yang menyenangkan agar siswa tidak merasa takut salah. Selain itu, guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang aktif berkontribusi. Siklus II menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam seluruh aspek pembelajaran. Aktivitas siswa meningkat secara drastis, ditandai dengan keberanian dalam menyampaikan pendapat, diskusi yang berjalan dinamis, dan partisipasi aktif dari hampir seluruh siswa. Guru pun semakin terampil dalam memfasilitasi diskusi, menyampaikan materi dengan efektif, serta memberikan umpan balik secara langsung. Suasana kelas menjadi lebih kondusif dan kolaboratif. Pembelajaran tidak hanya menjadi proses transfer informasi, tetapi juga menjadi ruang berpikir, berdialog, dan saling menghargai . Hasil evaluasi di siklus II memperlihatkan peningkatan ketuntasan belajar yang sangat baik. Seluruh siswa . mencapai nilai di atas KKM, dengan rata-rata kelas meningkat menjadi 86,8. Dibandingkan dengan siklus I, kenaikan ini menunjukkan keberhasilan penerapan model PBL secara efektif. Kenaikan ini bukan hanya dari aspek kognitif, tetapi juga dari aspek afektif dan psikomotor. Peserta didik menunjukkan peningkatan dalam hal tanggung jawab, kerja sama tim, kepercayaan diri, dan rasa ingin tahu terhadap materi yang diajarkan . Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah sangat sesuai diterapkan dalam pembelajaran IPS, khususnya materi yang bersifat analitis dan membutuhkan kemampuan berpikir tingkat Melalui PBL, siswa diajak untuk tidak hanya menghafal fakta, tetapi memahami konsep melalui pengalaman belajar yang bermakna. Selain itu, diskusi kelompok juga menjadi sarana efektif untuk membangun komunikasi, toleransi, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara akademis. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, tetapi lebih berperan sebagai fasilitator pembelajaran . Penerapan model PBL juga sejalan dengan teori konstruktivisme, di mana pembelajaran dianggap sebagai proses aktif yang membangun pemahaman berdasarkan pengalaman dan interaksi sosial. Dalam hal ini, siswa membangun pengetahuannya melalui diskusi, pencarian data, dan eksplorasi sumber belajar. Model ini menekankan bahwa belajar adalah proses sosial yang terjadi dalam konteks dunia nyata. Oleh karena itu. JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Oktober 2025, pp. 82 - 87 Mardiah Hayati / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 82 Ae 87 keberhasilan PBL dalam penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk penerapan metode pembelajaran aktif lainnya yang berorientasi pada siswa . Keberhasilan model PBL dalam meningkatkan hasil belajar juga menunjukkan pentingnya peran guru dalam melakukan inovasi pembelajaran. Guru harus mampu menganalisis kondisi kelas, memahami karakter siswa, dan memilih strategi pembelajaran yang tepat. Guru yang terbuka terhadap perubahan dan reflektif terhadap proses pembelajarannya akan lebih mudah meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi strategi yang baik, perencanaan yang matang, dan keterlibatan siswa dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Secara keseluruhan, penelitian tindakan kelas ini berhasil mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan, yaitu lebih dari 76% peserta didik mencapai nilai di atas KKM. Hasil ini membuktikan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar, keterlibatan, dan motivasi siswa dalam pembelajaran IPS. Oleh karena itu, model ini direkomendasikan untuk diterapkan secara lebih luas, baik dalam pembelajaran IPS maupun mata pelajaran lain yang menuntut pemahaman konseptual dan analisis PBL bukan hanya sekadar metode, tetapi pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada siswa dan relevan dengan kebutuhan pendidikan abad 21. KESIMPULAN Berdasarkan seluruh kegiatan penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada peserta didik kelas IX-J MTsN 1 Kota Kediri pada pelajaran IPS di semester ganjil tahun pelajaran 2023-2024 dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran Model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar pelajaran IPS. Hal ini terbukti, pada siklus I nilai rata-rata 73,3 %. Kemudian meningkat pada siklus II yaitu menjadi 86,8 %. Setelah dilakukan tindakan, ketuntasan dari 36 peserta didik yang nilainya tuntas KKM hanya 13 peserta didik pada siklus I. Kemudian pada siklus II ketuntasan meningkat menjadi 36 dari 36 peserta didik yang nilainya tuntas KKM. Hal ini sudah memenuhi indikator keberhasilan yaitu lebih dari 76% nilai peserta didik tuntas KKM. Nilai KKM yang ditetapkan pada pelajaran Bahasa Indonesia kelas IX-J MTsN 1 Kota Kediri adalah 76. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning mampu meningkatkan hasil belaar IPS pada peserta didik kelas IX-J MTsN 1 Kota Kediri di semester ganjil tahun pelajaran 2023-2024. DAFTAR PUSTAKA