Jurnal Kesehatan 14 . 2021, 68-78 FaktorAe Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Pada Akseptor Kb Di Puskesmas Purwosarikota Surakarta Ratnasari Hasibuan1. Izzatul Arifah2. Tanjung Anitasari Indah Kusumaningrum. Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. Yani. Pabelan. Kartasura. Surakarta. Email: ratnasarihsb@gmail. com1, izzatul. arifah@ums. anitasari@ums. Tanggal submisi: 2 Juni 2020. Tanggal penerimaan: 27 Februari 2021 ABSTRAK MKJP merupakan metode kontrasepsi cost efficien untuk mencegah kehamilan dan secara program efektif dalam menurunkan TFR serta menekan laju pertumbuhan penduduk. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan jumlah anak yang diinginkan, dukungan suami, dan efek samping dengan pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada Akseptor KB di Puskesmas Purwosari KotaSurakarta. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan SeptemberOktober 2019. Populasi penelitan 1. 502 PUS usia 17-49 tahun akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Purwosari. Jumlah sampel penelitian sebanyak 282 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik proportionate random Pengambilan data dengan cara wawancara terstruktur menggunakan kuesioner yang valid dan reliabel. Hasil analisis data berdasarkan uji Chi Square menunjukkan bahwa ada hubungan antara jumlah anak yang diinginkan . =0,. , dukungan suami . =0,. , dan efek samping . =0,. dengan pemilihan MKJP. Kesimpulannya adalah responden dengan jumlah anak yang diinginkan terpenuhi, mendapatkan dukungan suami, dan tidak mengalami efek samping cenderung memilih menggunakan MKJP. Disarankan bagi Bidan untuk memberikan Informed Choice kepada calon akseptor KB, sehingga dapat memilih kontrasepsi karena tahu kelebihan dan kekurangan dalam hal ini efek samping dari setiap metode kontrasepsi. Kemudian apabila ada efek samping yang dirasakan. PUS paham tentang cara mengatasinya. Katakunci : Dukungan Suami. Efek Samping. Jumlah Anak yang Diinginkan. MKJP ABSTRACT LTCM is a cost-efficient method of contraception to prevent pregnancy and is programmatically effective in reducing TFR and reducing the rate of population The purpose of this study was to analyze the relationship between the Ratnasari. I Arifah & T A I Kusumaningrum / Jurnal Kesehatan 14 . 2021, 68-78 number of children wanted, husband's support, and side effects with the selection of the Long-Term Contraception Method (LTCM) at the family planning acceptor at Purwosari Public Health Center. Surakarta. This type of research is observational with cross sectional approach. This research was conducted in September-October 2019. The research population was 1,502 aged 17-49 years old family planning acceptors in the working area of Purwosari Public Health Center. The number of research samples were 282 respondents who were selected using proportionate random sampling techniques. Retrieval of data by structured interview using a valid and reliable questionnaire. The results of data analysis based on the Chi Square test showed that there was a relationship between the number of children wanted . = 0. , husband's support . = 0. , and side effects . = 0. with the LTCM selection. The conclusion is that respondents with the desired number of children are met, have the support of their husbands, and do not experience side effects, they tend to choose using the LTCM. It is recommended for Midwives to give Informed Choice to prospective family planning acceptors, so they can choose contraception because they know the advantages and disadvantages in this case the side effects of each contraceptive Then if there are any side effects felt, childbearing age can understands how to overcome the side effects. Keywords : Husband Support. LTCM. Number of Children Wanted. Side Effects ISSN 1979-7621 (Prin. ISSN 2620-7761 (Onlin. DOI : 10. 23917/jk. PENDAHULUAN MKJP kontribusi terhadap program KB yaitu peningkatan pemakaian kontrasepsi modern/Contraceptive Prevalence Rate (CPR) menurunkan angka kelahiran total/Total Fertility Rate (TFR) Indonesia. Selain dari sisi program. MKJP juga memiliki keuntungan dari sisi pengguna. MKJP dapat dipakai dalam waktu lama serta lebih aman dan efektif dalam menjarangkan kehamilan (Prawiro. Pada tahun 2017 akseptor KB aktifdi Indonesia sebagian besar didominasi oleh pengguna non MKJP yaitu suntik dan pil KB . ,23%) (Kemenkes, 2. Di Jawa Tengah menggunakan non MKJP . ,92%). Sedangkan Kota Surakarta jika dilihat dari proporsi jenis kontrasepsi, peserta KB aktif MKJP lebih tinggi dibandingkan dengan Jawa Tengah . ,6%) (Dinkes Surakarta, 2. Puskesmas Purwosari merupakan salah satu puskesmas yang ada di Kota Surakarta yang memiliki cakupan KB baru paling rendah . ,4%). Total penggunaan non MKJP mencapai 70,4% sedangkan penggunaan MKJP hanya 29,6% dari sasaran target 21,7%. Meskipun telah mencapai target, akan tetapi sebagian besar akseptor KB aktif yang ada di Puskesmas Purwosari mengguanakan suntik KB . %) (Puskesmas Purwosari. Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa MKJP bukanlah pilihan mayoritas pasangan usia subur akseptor KB di Puskesmas Purwosari. Faktor-faktor mempengaruhi akseptor KB dalam memilih metode kontrasepsi antara lain faktor ibu . aktor non kesehatan yaitu gaya hidup, jumlah anak yang Ratnasari. I Arifah & T A I Kusumaningrum / Jurnal Kesehatan 14 . 2021, 68-78 kontrasepsi yang lalu, faktor kesehatan yaitu umur, frekuensi senggama, status kesehatan, riwayat haid, riwayat keluarga, riwayat pemeriksaan fisik . ukungan suam. , dan faktor metode kontrasepsi . fektivitas, efek samping, dan biay. (Proverawati dkk, 2. Friedman, . mengemukakan bahwa jumlah anak yang diinginkan adalah salah satu menggunakan kontrasepsi. Berdasarkan penelitian Hartoyo dkk . , menunjukkan nilaiRA sebesar 0,24 artinya jumlah anak yang diinginkan berpengaruh pada keikutsertaan dalam KB sebesar 24%. Selain itu, faktor pasangan yaitu dukungan suami dapat pemilihan kontrasepsi (Proverawati dkk, 2. Suami memiliki pengaruh terhadap pilihan alat kontrasepsi KB yang akan dipakai istri. Akan tetapi. Alfiah menunjukkan variabel dukungan suami . , sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan penggunaan MKJP. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih alat kontrasepsi salah satunya yaitu adanya efek samping yang potensial terjadi (BKKBN, 2. Penelitian yang dilakukan Triana,dkk . menunjukkan alasan wanita tidak memakai KB 26% karena takut efek samping KB. Setelah melakukan wawancara dengan PUS di Puskesmas Purwosari menggunakan suntik KB dikarenakan masih muda, ingin memiliki anak lagi dalam waktu dekat, takut dengan prosedur pemasangan IUD ataupun menggunakan MKJP dikarenakan alasan sakit saat berhubungan seksual. Sedangkan bagi akseptor KB MKJP menggunakan IUD atau implan dikarenakan alasan tidak mempengaruhi berat badan, nyaman, merasa sudah cocok dan terbukti dapat menunda kehamilan sesuai dengan Kemudian alasan responden yang menggunakan MOW yaitu karena usia yang sudah tua, anak sudah banyak, dan rekomendasi oleh petugas Maka dapat disimpulkan masih banyak PUS yang menggunakan KB berdasarkan jumlah anak, arahan dari suami, dan efek samping KB yang Berdasarkan penelitian Finealia diperlukannya upaya meneliti lebih lanjut dan mendalam terhadap faktorfaktor lain yang mungkin berhubungan dengan penggunaan MKJP dan penelitian ini juga mendorong lebih dilakukan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan pemilihan MKJP pada PUS. Sehingga dari pembahasan diatas peneliti tertarik untuk meneliti mengenai jumlah anak yang diinginkan, dukungan suami, dan efek samping dengan pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada akseptor KB di Puskesmas Purwosari Kota Surakarta. METODE PENELTIAN Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross Penelitian ini dilakukan pada September-Oktober Tempat penelitian di tiga wilayah kerja Puskesmas Purwosari yaitu: Kelurahan Purwosari. Kerten, dan Jajar. Populasi dalam penelitian ini yaitu 1. 502 PUS usia 17-49 tahun yang merupakan aksptor KB yang ada di Puskesmas Purwosari. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 282 responden. Sampel diambil menggunakan teknik Sehinga Purwosari 93 responden, kelurahan Kerten 94 responden, dan kelurahan Jajar Penelitian Ratnasari. I Arifah & T A I Kusumaningrum / Jurnal Kesehatan 14 . 2021, 68-78 inimenetapkan kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi responden, bertempat tinggal di Kelurahan Purwosari. Kerten, dan Jajar, dan dapat ditemui saat penelitian maksimal 3 kali Jenis data pada penelitian ini pemilihan MKJP, jumlah anak yang diinginkan, dukungan suami, dan efek Sumber data pada penelitian ini menggunakan data primer dan data Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner dan teknik wawancara door to door ke rumah Analisis data penelitian ini adalah analisis univariat responden penelitian dalam bentuk disribusi frekuensi dan persentase. Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara jumlah anak yang diinginkan, dukungan suami, dan efek samping dengan pemilihan MKJP dengan menggunakan uji statistik ChiSquare. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan karakteristik usia, rata-rata usia responden adalah 35,68A6,95 tahun, sebagian besar berusia >35 tahun sebanyak 149 orang . %). Usia responden termuda yaitu 17 tahun dan tertua berusia 49 tahun. Berdasarkan karakteristik pendidikan respondentamatan SMA . ,5%) dan pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga . ,1%). Distribusi karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Usia Istri Pendidikan terakhir Istri Pekerjaan Istri Kategori <20 >35 RerataASD Median . in:mak. Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perguruan Tinggi IRT Swasta PNS Dagang/wiraswasta Jumlah Pada Tabel 2. bahwa mayoritas responden menggunaan kontrasepsi yaitu non MKJP 207 orang . ,4%). Mayoritas penggunaan kontrasepsi sebanyak 156 orang . %). Distribusi frekuensi jumlah anak yang dimiliki oleh responden 35,68A6,95 36,50 . mayoritas telah memiliki 2 anak sebanyak 125 orang . %)dan yang paling sedikit dengan 1 orang anak sebanyak 118 orang . %). Harapan jumlah anak mayoritas responden ingin memiliki 2 orang anak sebanyak 191 . %) dan yang paling sedikit dengan harapan jumlah anak 1 anak sebanyak 19 Ratnasari. I Arifah & T A I Kusumaningrum / Jurnal Kesehatan 14 . 2021, 68-78 menjawab AuTidakAy sebanyak 223 orang . %). %). Pada keinginan menambah anak kembali waktu 2 tahun, mayoritas Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Penggunaan Kontrasepsi dan Preferensi Fertilitas Karakteristik Jenis Kontrasepsi Efek samping Jumlah anak yang dimiliki Harapan jumlah anak Ingin anak lagi dalam 2 tahun Kategori MKJP Non MKJP Tidak Ou3 Ou3 Tidak Jumlah Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Hubungan Antara Jumlah Anak Yang Diinginkan. Dukungan Suami. Dan Efek Samping Dengan Pemilihan MKJP Pemilihan MKJP Total Variabel MKJP Non MKJP P value CC Jumlah anak yang diinginkan Terpenuhi 65,9 123 100 0,012 0,149 Tidak Terpenuhi 20,8 126 79,2 159 100 Dukungan Suami Mendukung 67,7 130 100 0,045 0,119 Kurang Mendukung 21,7 119 78,3 152 100 Efek Samping Ada efek samping 18,6 127 81,4 156 100 0,001 0,198 Tidak ada efek samping 63,5 126 100 Berdasarkan Tabel 3, didapatkan hasil uji chi-square dengan nilai p-value 0,012> 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara jumlah anak yang diinginkan dengan pemilihan MKJP pada akseptor KB di Puskesmas Purwosari Kota Surakarta. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Paskaria . dengan nilaip p=0,0078 hubungan yang bemakna antara jumlah anak yang diinginkan dengan pemilihan MKJP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang menggunakan MKJP cenderung memiliki jumlah anak yang diinginkan telah terpenuhi yaitu . ,1%). Sedangkan responden yang menggunakan non MKJP cenderung memiliki jumlah anak yang diinginkan tidak terpenuhi yaitu sejumlah 126 orang . ,2%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fienalia . dengan nilai p=0,000 yang menunjukan ada hubungan antara jumlah anak hidup Ratnasari. I Arifah & T A I Kusumaningrum / Jurnal Kesehatan 14 . 2021, 68-78 dengan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang di Puskesmas Pancoran Mas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden MKJP mayoritas memiliki 2 orang anak dan mayoritas jumlah anak harapan yaitu 2 anak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah anak yang dimiliki saat ini telah sesuai dengan harapan responden. Ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Singh et . , bahwa banyak keluarga akan terus memiliki anak sampai mencapai Berdasarkan responden yang berusia >35 tahun . ,8%) dan tidak menginginkan anak kembali dalam waktu 2 tahun . ,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni . , dimana ada hubungan antara usia >30 tahun dengan menggunakan MKJP. Keluarga yang memiliki anak satu keluarga tersebut untuk menambah anggota keluarga. Keinginan mempunyai anak lagi memengaruhi penggunaan KB yang dipakai. Penelitian ini didukung oleh Maryatun . , yang menyatakan bahwa keinginan memiliki anak disesuaikan dengan jumlah anak yang ideal yang sebelumnya sudah ditentukan. Sehingga bagi pengelola program KB perlu melakukan upaya yang intensif dalam menetapkan pemetaan segmentasi sasaran program KB khususnya MKJP. Dimana akseptor KB MKJP memiliki karakteristik seperti telah memiliki jumlah anak yang diinginkan terpenuhi dan berumur >35 tahun. Maka bagi PUS yang telah berumur >35 tahun dan telah memiliki anak sesuai dengan harapan dapat diarahkan oleh Bidan/PLKB untuk menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dalam membatasi kelahiran anak karena memiliki efektivitas tinggi dan dapat digunkan hingga 5-10 Berdasarkan Tabel 3, didapatkan hasil uji chi-squaredengan nilai p-value 0,045> 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan suami dengan pemilihan MKJP pada akseptor KB di Puskesmas PurwosariKota Surakarta. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari . , bahwa dukungan suami berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi pada PUS di Puskesmas Ngoresan. Kota Surakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang menggunakan MKJP cenderung mendapat dukungan suamiyang baik yaitu sejumlah 42 ,3%), sedangkan responden MKJP suami yaitu sejumlah 119 responden . ,3%). Pada penelitian ini didapatkan mayoritas responden MKJP mendapat 32,3%. Hasil rekapitulasi kuesioner didapatkan rata-rata responden MKJP mendapat dukungan informatif sebesar 76%. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Arini . , dimana sebagian besar ibu mendapat MKJP baik . ,4%). Dukungan informatif yang diberikan suami untuk istri saat berKB yaitu suami memberitahu Ibu tentang macam-macam KB MKJP. Akan tetapi dalam penelitian ini hanya sedikit suami yang mencari informasi tentang MKJP dari media cetak ataupun internet. Berdasarkan penelitian,rata-rata responden MKJP mendapat dukungan penilaian sebesar 81%. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Arini . , dimana sebagian besar ibu mendapat dukungan penilaian penggunaan MKJP baik . ,4%). Dukungan penilaian suami untuk istrinya mayoritasberupa suami ikut menentukan jenis kontrasepsi yang Ibu Akan tetapi hanya sedikit suami yang menyarankan istri untuk ganti keluhan/ketidaknyamanan berKB. Pada aspek dukungan instrumental, rata-rata responden MKJP mendapat dukungan sebesar 85%. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Putri . , dimana sebagian besar ibu mendapat Ratnasari. I Arifah & T A I Kusumaningrum / Jurnal Kesehatan 14 . 2021, 68-78 dukungan instrumental penggunaan MKJP baik . ,4%). Dukungan instrumental yang mayoritasberupa suami menyediakan dana untuk menggunakan KB. Namun terdapat dukungan dari suami yang sebagian besar kurang yaitu menemanike Dokter/Bidan saat kunjungan ulang KB. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata-rata responden MKJP mendapat dukungan emosional sebesar 89,3%. Hal ini berbeda dengan penelitian oleh Putri . , dimana sebagian besar ibu mendapat dukungan emosionalpenggunaan MKJP kurang . %). Dukungan emosional yang mendengarkan keluhanibu saat terjadi efek sampingKB dan membantu mengurus rumah ketika ibu sakit efek menggunaan KB. Namun terdapat dukungan emoional dari suami yang sebagian besar kurang yaitu suami marah apa bila menstruasi ibu menjadi lebih lama. Berdasarkan responden, dukungan suami yang paling rendah yaitu berupa menyarankan ibu untuk ganti kontrasepsi saatmengalami keluhan/ketidaknyamanan berKB . ,9%) dan menemani ke dokter/bidan saat kunjungan ulang KB . ,1%), dan suami marah apabila menstruasi ibu menjadi lebih lama . ,7%). Hal ini sejalan dengan penelitian Putri . , dimana sebagian besarsuami tidak meluangkan waktunya untuk mengantar atau mendampingi istri ketika istri ingin kembali kontrol IUD atau implant dan suami tidak memperhatikan kondisi kesehatan istri walaupun istri tidak menggunakan alat kontrasepsi IUD atau Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dukungan yang paling banyak diberikan suami dalam penggunaan MKJP yaitu dukungan Sedangkan dukungan yang paling rendah diberikan yakni dukungan Sehingga diharapkan bagi Bidan dan PLKB dapat meningkatkan promosi dan penyuluhan kepada suami pengetahuan, informasi, dan dukungan suami untuk akseptor KB mengenai kesehatan reproduksi dan MKJP. Berdasarkan Tabel 3, didapatkan hasil uji chi-square dengan nilai p-value 0,001> 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara efek samping dengan pemilihan MKJP pada akseptor KB di Puskesmas PurwosariKota Surakarta. Hasil penelitian inisejalandengan hasil penelitian Sumartini dan Indriani . , menunjukkan ada hubungan antara efek samping denngan penggunaan MKJP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang menggunakan MKJP cenderung tidak mengalami efek samping yaitu sejumlah 46 responden . ,5%), sedangkan responden yang menggunakan non MKJP cenderung mengalami efek samping yaitu sejumlah 127 responden . ,4%). Hal ini dapat disebabkan karena akseptor MKJP sebenarnya merasakan efek samping saat penggunaan KB MKJP akan tetapi berpersepsi bahwa tidak mengalami efek samping. Hasil penelitian Hutaminingsih ketika mengalami efek samping ada dua Persepsi yang petama yaitu alat kontrasepi menjadipembebas perempuan dari efek samping yang ditimbulkan alat kontrasepi sebelumnya. Persepsi yang ke kedua perempuan tidak apa-apa dengan efek samping yang dirasakannya. Berdasarkan riwayat penggunaan KB yang lalu, mayoritas pengguna MKJP sebelumnya menggunakan kontrasepi non MKJP . ,7%). Kemudian alasan berhenti menggunakan KB yang lalu mayoritas dikarenakan mengalami efek samping . ,7%). Berdasarkan hasil jawaban responden mayoritas efek samping sekarang yang dialami akseptor MKJP sama seperti saat menggunakan non MKJP yaitu haid tidak teratur dan darah haid yang menjadi lebih banyak. Efek samping yang paling banyak mereka alami yaitu haid lebih lama dan darah haid yang lebih Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amran . , diman PUS yang merasakan efek Ratnasari. I Arifah & T A I Kusumaningrum / Jurnal Kesehatan 14 . 2021, 68-78 samping pada kontrasepsi sebelumnya memiliki peluang lebih sebesar4,27 kali . % CI: 3,21-5,. untuk berpindah dari non MKJP keMKJP. Meskipun memiliki efek samping yang sama, responden MKJP tetap memilih menggunakan IUD atau implan dikarenakan memiliki efektivitas tinggi, dapat digunakan dalam waktu 5-10 tahun, dan sangat praktis karena tidak perlu mengingat-ingat waktu kontrol ulang. Hal ini sejalan dengan penelitian Purnandias dan Dharminto . , menunjukkan bahwa ada hubungan kepraktisan IUD dengan keikutsertaan akseptor IUD. Sehingga kepraktisan menggunakan MKJP dapat menutupi kekurangan dari penggunaan MKJP yaitu berupa efek samping yang Akan tetapi, hasil dari penelitian mayoritas tindakan yang dilakukan responden saat mengalami efek samping KB saat ini adalah dibiarkan . ,7%). Dari hasil wawancara didapatkan bahwa responden berpersepi bahwa efek samping yang sebenarnya dialami saat ini bukan merupakan keluhan. Sehingga responden tetap nyaman menggunkan kontrasepsi yang digunakannya saat ini serta tidak ingin berhenti atau ganti metode Maka disarankan bagi Bidan untuk memberikan Informed Choicekepada calon akseptor KB agar calon akseptor KB dapat mengenali kebutuhannya, memilih solusi terbaik, dan buat membuat keputusan yang paling sesuai dengan kondisi apabila mengalami efek samping dalam penggunaan KB. 156 orang . %). Sebagianbesar responden memilki 2 orang anak yaitu sebanyak125 responden . %). Mayoritas responden memiliki harapan jumlah anak 2 orang yaitu sebanyak 191 responden . %). Sementara pada aspek menginginkan anak kembali dalam waktu 2 tahun, mayoritas responden menjawab AuTidakAy yaitu sebanyak 223 orang . %). Variabel yang berhubungan dengan pemilihan MKJP adalah jumlah anak yang diinginkan . value=0,. , value=0,. , dan efek samping . value=0,. Diperlukan upaya Bidan dan PLKB untuk meningkatkan target segmentasi pengguna MKJP. Seperti mengarahkan PUS yang telah berusia >35 tahun dan telah memiliki jumlah anak yang diinginkan terpenuhi untuk menggunakan MKJP. Dalam meningkatkan peserta KB aktif MKJP. Bidan dan PLKB perlu memberikan promosi kesehatan dan konseling tentang MKJP serta menekankan macam-macam efek samping dari KB. Promosi kesehatan dan konseling tidak hanya dilakukan pada istri saja tetapi juga melibatkan suami. Upaya meningkatkan pengetahuan juga dapat dilakukan oleh akseptor KB dengan mengajak suami saat konsultasi pemilihan KB. Bidan juga perlu memberikan Informed Choice kepada calon akseptor KB sehingga calon akseptor KB dapat mengenali kebutuhannya, memilih solusi terbaik, dan buat membuat keputusan yang paling sesuai dengan kondisi apabila mengalami efek samping dalam penggunaan KB. UCAPAN TERIMA KASIH