Combination of PVA Chitosan Collagen Membrane and Moringa oleifera Nano Gel for Oral Wound Healing (Literature Ni Putu Dian Cipta Dewi, 2Kadek Pradnya Paramita Rata, 3Maria Stella Gresitha, 4I Gede Pradnya Pramudya Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Jalan Kamboja 11A- 80233. Bali. Indonesia Bagian Ilmu Bedah Mulut FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar Email: ciptadewi@unmas. ABSTRAK Pendahuluan: Tindakan pencabutan gigi dapat menimbulkan trauma pada soket yang akan memicu mekanisme penyembuhan. Luka merupakan kerusakan pada struktur dan fungsi anatomi normal yang disebabkan oleh proses patologis baik dari dalam maupun luar organ tertentu. Luka dapat menyebabkan kontaminasi bakteri, kematian sel, perdarahan, pembekuan darah, serta hilangnya sebagian atau seluruh fungsi organ. Kitosan dan daun kelor dalam bidang kesehatan digunakan sebagai agen antioksidan, antikanker, antibakteria, antifungi, antiperdarahan dan penyembuh luka. Tujuan: untuk memberikan penjelasan lebih mendalam mengenai kombinasi kitosan membrane kolagen PVA dan nano gel daun kelor untuk wound healing. Diskusi: efek sinergis PVA dan kitosan, yang dikenal memiliki sifat antimikroba, biokompatibel, dan biodegradable, dalam menciptakan balutan luka yang efektif. Penambahan kolagen meningkatkan stabilitas struktural dan bioaktivitas balutan luka, sementara nano gel Moringa oleifera memberikan manfaat antibakteri dan antiinflamasi, mempercepat re-epitelisasi, dan mengurangi infeksi luka. Kombinasi bahan-bahan ini dalam bentuk hidrogel menjaga lingkungan luka tetap lembab, yang penting untuk penyembuhan optimal. Penambahan Moringa oleifera menawarkan hasil penyembuhan luka yang lebih baik dibandingkan dengan balutan tradisional. Kesimpulan: Kombinasi membran kolagen kitosan/PVA dengan ekstrak nano gel daun kelor efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Penggunaan membran kolagen kitosan/PVA dapat menjaga lingkungan tetap lembab sehingga meningkatkan reepitelisasi serta penambahan ekstrak daun kelor berperan sebagai antibakteri dan Kata kunci: Penyembuhan luka. PVA. Kitosan. Membran kolagen. Moringa oleifera. Antibakteri. Anti-inflamasi. PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara maritim dan memiliki keanekaragaman hewan laut sehingga memiliki potensi besar dalam menghasilkan devisa sekaligus limbah dari sektor perairan. Industri pengolahan hasil perikanan terus berkembang, namun perkembangan ini juga diiringi dengan peningkatan jumlah limbah yang dihasilkan. Limbah yang sangat melimpah dari industri pengolahan perikanan antara lain kulit udang windu, kulit udang vanamei, cangkang rajungan, cangkang kepiting bakau, cangkang kerang hijau, dan cangkang bekicot. Peningkatan jumlah limbah perikanan ini masih menjadi masalah yang perlu dicari solusinya melalui upaya pemanfaatan yang tepat. Melalui pendekatan teknologi yang tepat limbah perairan tersebut dapat diubah menjadi senyawa turunan kitin yaitu kitosan1. Selain itu Indonesia juga memiliki tumbuhan yang beranekaragam. LIPI . menyatakan bahwa Indonesia memiliki sekitar 15. tumbuhan yang berpotensi berkhasiat obat, namun baru sekitar 7. 000 spesies yang digunakan sebagai bahan baku obat3. Salah satu tanaman yang banyak ditemukan dimasyarakat yaitu daun kelor yang dipercaya memiliki banyak khasiat baik untuk kecantikan maupun untuk mengatasi berbagai macam penyakit termasuk penyembuhan Pencabutan gigi merupakan prosedur pengambilan gigi dari soket sebagai terapi yang diambil ketika terapi konservasi tidak bisa dilakukan. Tindakan pencabutan gigi dapat menimbulkan trauma pada soket yang akan memicu mekanisme penyembuhan5. Luka merupakan kerusakan pada struktur dan fungsi anatomi normal yang disebabkan oleh proses patologis baik dari dalam maupun luar organ tertentu. Luka dapat menyebabkan kontaminasi bakteri, kematian sel, perdarahan, pembekuan darah, serta hilangnya sebagian atau seluruh fungsi organ. Prevalensi infeksi luka di Indonesia tercatat mencapai 2,30 hingga 18,30% pada tahun 2001, dan meningkat menjadi 55,1% pada Proses penyembuhan luka pada setiap individu mengikuti tahapan yang sama, namun durasi dan hasil penyembuhan sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis masing-masing individu dan faktor lingkungan yang mendukung proses penyembuhan. Fisiologi penyembuhan luka dapat dibagi ke dalam 3 fase utama, yaitu fase inflamasi, fase proliferasi dan fase remodelling6. Pada fase proliferasi, terdapat proses pembentukan ulang epitel . e-epitelisas. Proses ini merupakan salah satu parameter penyembuhan Menurut Prastika dkk dan Herdiani dkk, kitosan dan daun kelor dalam bidang kesehatan digunakan sebagai agen antioksidan, antikanker, antibakteria, antifungi, antiperdarahan dan penyembuh luka. Berdasarkan hal tersebut, tujuan dari tinjauan pustaka ini adalah untuk memberikan penjelasan lebih mendalam mengenai kombinasi kitosan membrane kolagen PVA dan nano gel daun kelor untuk wound healing. Literature review Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adala metode literature review untuk menguraikan pengetahuan yang ada mengenai suatu fenomena atau masalah secara menyeluruh, dengan merangkum hasil-hasil penelitian sebelumnya5. Dalam hal ini, penelitian lebih memfokuskan pada jenis kandungan dan zat yang terdapat dalam bahan-bahan alami yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Pencarian literatur dilakukan menggunakan basis data elektronik seperti: Neliti. Wiley. NIH. ResearchGate. Elsevier, dan Google scholar menggunakan kata kunci AuLuka. PVA, kitosan. Daun kelor. Penyembuhan lukaAy Records identified from*: Identification Neliti . = . Wiley . = . Records removed before screening: Duplicate records removed . = . Elsevier . NIH . ResearchGate . Google schoolar . = . Articles Collected . = . Records screened Include Screening . = . Article not relevant on reading tittles and abstract . = . Reports sought for retrieval Reports not relevant . = . = . Studies included in review . = . PEMBAHASAN Penggunaan penutup luka konvensional sering kali tidak efektif dalam mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan luka. Oleh karena itu, diperlukan penutup luka modern yang memiliki sifat antibakteri dan dapat mempercepat penyembuhan luka8. PVA dan kitosan adalah polimer yang memenuhi kriteria ini tetapi memerlukan peningkatan sifat untuk aplikasi yang lebih efektif9. Polivinil Alkohol (PVA) adalah salah satu polimer yang digunakan sebagai material blending untuk kitosan untuk meningkatkan kestabilan termal dan mekanik. Sifat-sifat PVA seperti mudah larut dalam air, kestabilan mekanik dan fleksibel, mudah dibentuk menjadi film dan tidak beracun, menjadi dasar pilihan penggunaan PVA untuk aplikasi di dunia medis, kosmetik dan Gambar 1. PVA24 Kitosan merupakan polimer alami dengan sifat antibakteri dan hemostatik yang dapat digunakan dalam berbagai bentuk seperti film, gel, dan sponge dalam mempercepat proses penyembuhan luka11,12. Kitosan memiliki sifat antimikroba, tidak toksik, biokompatibel, biodegradable, dan hemostatik sehingga banyak digunakan sebagai topikal dressing pada manajemen luka. Selain itu kitosan memiliki kemampuan memodulasi fungsi dari sel-sel inflamasi seperti sel PMN, makrofag, dan sel limfosit serta mendukung proses granulasi dan organisasi luka13. Kitosan berperan dengan meningkatkan proses re-epitelisasi dalam penyembuhan luka dan aktivitas sel inflamasi. Kitosan mampu meningkatkan matriks ekstraseluler dan meningkatkan kolagenasi serta berperan sebagai akselerator dalam proses penyembuhan luka seperti sel makrofag. Transforming Growth Factor Beta 1 (TGF y. Platelet Derived Growth Factor (PDGF) dan Fibroblast Growth Factor (FGF- . , sel leukosit polimorfonuklear (PMN), fibroblas dan osteoblast14. Kitosan dengan berat molekul lebih tinggi dan derajat deasetilasi cenderung memberikan hasil hemostasis dan penyembuhan luka yang lebih Peningkatan berat molekul berkontribusi dalam merangsang berbagai sitokin, seperti TNF-y. TGF-y1, dan FGF2, yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka15. Pada penelitian Dai dkk. menyatakan hasil penelitian yaitu dressing berbasis kitosan secara signifikan mengurangi waktu penyembuhan, mengurangi risiko infeksi, dan meningkatkan regenerasi jaringan11. Penggunaan kitosan memiliki keuntungan lainnya yaitu waktu penyembuhan lebih cepat dengan mempercepat regenerasi jaringan sehingga meningkatkan kualitas jaringan12. Pasien yang diobati dengan kitosan menunjukkan peningkatan yang lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional11,12. Penggunaan kitosan efektif dalam proses penyembuhan luka dan osteogenesis awal pada soket gigi yang dicabut, hal ini ditunjukkan pada hasil radiografi pada penggunaan kitosan pembentukan tulang yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kitosan disarankan untuk digunakan pada soket gigi yang dicabut tetapi harus dihindari pada kasus gigi yang tidak erupsi atau impaksi karena terjadi karena terdapat infeksi yang lebih tinggi pada gigi yang tidak erupsi16. Kombinasi dari PVA dan kitosan seringkali digunakan sebagai bahan yang digunakan untuk membuat penutup luka dalam bentuk hydrogel kitosan/PVA10. Bentuk sediaan penutup luka membrane hydrogel juga berpengaruh terhadap penyembuhan luka. Film hydrogel dapat mengabsorbsi dan menahan sejumlah volume air ketika kontak dengan luka basah. Hydrogel secara efektif menjaga luka tetap lembab agar tidak terjadi infeksi luka dan menstimulus regenerasi sel kulit. Hydrogel dengan morfologi permukaan yang berpori memungkinkan terjadinya transport sel perancah untuk membentuk jaringan yang baru8. Pada penelitian Rupiasih dkk. , pengaruh konsentrasi kolagen pada morfologi Nanofiber PVA/kitosan telah ahli17. Nanofiber yang dihasilkan dari proses elektrospinning menunjukkan komposit dari nanofiber PVA/Kitosan dengan variasi tegangan, pada tegangan 21 kV komposit nanofiber PVA/Kitosan memiiliki nilai absorbansi yang tinggi dengan rentang panjang gelombang 200-300 nm18. Rasio PVA/chitosan/kolagen terbaik untuk membuat nanofiber yang baik adalah 8:2:2, dengan morfologi nanofiber adalah jumlah butiran dan tetesan larutan paling sedikit, serat paling kontinyu, dan rata-rata diameter 145,55A8,64 nm. Hasil ini menunjukkan bahwa, penambahan kolagen bisa memperbaiki morfologi PVA/kitosan nanofibers, dimana karakteristik serat dibuat tergantung pada konsentrasi kolagen ditambahkan. Penambahan kolagen menyebabkan peningkatan perlekatan rantai dalam larutan sehingga dapat menjaga kelangsungan aliran larutan17. Nanofiber berbasis kitosan secara inheren menampilkan stabilitas dan sifat mekanik yang lebih rendah dalam aplikasi tertentu. Untuk aplikasi biomedis, biomaterial diharapkan memiliki ketahanan mekanis yang cukup untuk mempertahankan karakteristiknya selama aplikasi dan mendukung pembebanan fisiologis19. Gambar 2. Membran Hydrogel Kitosan25 Menurut Inayatullah dkk. , hasil uji aktivitas antibakteri membran komposit kitosan-PVA dengan ekstrak cincau hijau dan daun kelor secara deskriptif mempunyai aktivitas antibakteri lebih baik dibandingkan tanpa ekstrak. Penambahan ekstrak sebagai kombinasi dari penggunaan membran kolagen kitosan berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka20. Ekstrak dari berbagai bagian kelor menunjukkan sifat antibakteri aktivitas melawan Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans, meskipun tidak ada penghambatan secara oral jamur Candida albicans. Moringa oleifera memiliki efek penyembuhan yang ditunjukkan oleh tingkat deposisi fibroblast dan serat kolagen yang lebih cepat selama fase awal penyembuhan luka. Proses yang lebih cepat disebabkan oleh sifat antibakteri dan antiinflamasi yang dimiliki M. Aktivitas penurunan luas luka bakar dipengaruhi oleh kandungan metabolit sekunder pada daun kelor. Flavonoid berfungsi sebagai antibakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein ekstraseluler yang mengganggu integritas membran sel bakteri. Flavonoid melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah, sebagai antiinlamasi, antioksidan dan membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau Ekstrak daun kelor memberikan aktivitas antiinflamasi secara in vitro dengan mekanisme penurunan kadar TNF- melalui penghambatan NF-kB23. Dressing hydrogel berbasis polisakarida M. oleifera mampu menjaga lingkungan lembab di atas dasar luka untuk meningkatkan re-epitelisasi dan penyembuhan luka. Nanopartikel emas hijau yang disintesis M. oleifera sebagai zat penstabil aktif secara biologi kurang sitotoksik terhadap sel darah dan membantu regenerasi sel saraf pada model tikus21. SIMPULAN Kombinasi membran kolagen kitosan/PVA dengan ekstrak nano gel daun kelor efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Penggunaan membran kolagen kitosan/PVA dapat menjaga lingkungan tetap lembab sehingga meningkatkan re- epitelisasi serta penambahan ekstrak daun kelor berperan sebagai antibakteri dan DAFTAR PUSTAKA