Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci OBESITAS DAN SINDROM METABOLIK PADA PASIEN MEDICAL CHECK UP. SILOAM HOSPITALS LIPPO-KARAWACI Indriyani Wahyu. Ani Prasetyaningsih. Iskari Ngadiarti Department of Nutrition Faculty of Health Sciences. Esa Unggul Universit Jln. Arjuna Utara Tol Tomang. Kebun Jeruk. Jakarta 11510 ngadiarti@esaunggul. Abstract Metabolic syndrome is a collection of complaints and symptoms based on the presence of insulin resistance. The main factor which can cause insulin became resistance is obesity. The aims of this study was to understand the relationship between obesity and the metabolic syndrome indicators in patients undergoing medical check-up. Siloam Hospitals Lippo Karawaci. This study is associative with cross-sectional design. The total of population are patients who are obese at the medical check up of Siloam Hospitals Lippo Karawaci. Whereas, the total of sample are 50 people were patients with a BMI > 25 with the inclusive criteria, age above 35 years, had never been diagnosed the disease associated with the metabolic syndrome and had never received the treatment. We used CorrelationRegression Test. The results shows that the majority of male respondents . %), mean age . 6 A7. From the data, most of respondents did not smoke . %). The bivariate test results shows there is significant relationship between BMI and blood triglyceride levels and waist circumference (P <0. , but no significant relationship between BMI and fasting blood sugar levels. HDL cholesterol levels and blood pressure (POu0. We found also, there is no significant association between dietary intake and BMI of the respondents (POu0. BMI is an important indicator of the level of blood triglycerides and waist circumference. Key Words: Obesity. Metabolic Syndrome. BMI Abstrak Sindrom metabolik adalah sekumpulan keluhan dan gejala yang didasari oleh adanya resistensi insulin. Faktor penyebab resistensi insulin antara lain obesitas. Penelitian ini bertujuan mempelajari hubungan antara obesitas dan indikatorindikator sindrom metabolik pada pasien yang melakukan medical check up di Siloam Hospitals Lippo Karawaci. Jenis penelitian ini bersifat assosiatif dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah semua pasien yang obesitas di bagian medical check up Siloam Hospitals Lippo Karawaci. Sedangkan sampelnya sebanyak 50 orang adalah pasien dengan BMI > 25 dengan inclusive kriteria, usia di atas 35 tahun, belum pernah didiagnosa suatu penyakit yang berhubungan dengan sindrom metabolik dan belum pernah mendapatkan pengobatan. Uji yang digunakan Uji Korelasi. Berdasarkan hasil didapat bahwa sebagian besar responden pria ( 82 %), rata-rata usia 44,6 7. Dari seluruh responden, sebagian besar . %) responden tidak merokok. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara BMI dan kadar trigliserida darah dan ukuran lingkar pinggang . < 0. namun tidak ada hubungan yang bermakna antara BMI dan kadar gula darah puasa, kadar HDL dan tekanan darah. Juga tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan makanan dan BMI responden. BMI merupakan indikator penting tingkat trigliserida darah dan ukuran lingkar Kata Kunci: Obesitas. Sindrom Metabolik. BMI Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci . memperlihatkan bahwa 21,7 % sindroma metabolik akan mengalami kejadian penyakit kardiovaskuler . nfark miokard akut, stroke, atau kematian pengamatan 6,7 tahun (Bethesda Stroke Centre, 2. Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSCM, tahun 2005, didapatkan hasil bahwa 48. penderita penyakit jantung koroner (PJK) mengalami sindrom metabolik, atau bisa disimpulkan bahwa sindrom metabolik ditemukan pada sebagian besar populasi PJK (Firmansyah. Obesitas atau kegemukan terjadi karena ketidakseimbangan jumlah makanan yang masuk dibanding dengan pengeluaran energi oleh tubuh. Obesitas merupakan penyakit yang multifaktorial yang terjadi berlebihan sehingga dapat mengganggu Kegemukan/obesitas merupakan penyebab berbagai kelainan metabolik seperti profil lipid aterogenik, hiperurisemia, hiperfibrinogenemia, dan berbagai macam penyakit seperti DM tipe 2, hipertensi, kolelitiasis dan kolesistitis, gout, batu urat, osteoartritis, kematian mendadak, dan angka kematian total yang lebih tinggi (Waspadji, 2. Saat ini kita hidup pada . dan obesitas sudah menjadi peningkatan prevalensi obesitas akan mencapai 50 % pada tahun 2025 bagi negara-negara maju (Soegondo, 2. Indonesia, terutama di kota-kota besar, prevalensi kegemukan semakin meningkat Menurut hasil riset Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) pada memperlihatkan peningkatan. Prevalensi obesitas pada pria mencapai 9,16 %. Sedangkan kaum wanita yang menderita obesitas sebanyak 11,2 % (Suara Karya. Di Siloam Hospitals Lippo Karawaci (SHLK) karyawannya untuk medical check up di SHLK, pada tahun 2007, 25 % overweight. Pendahuluan Sindrom sekumpulan keluhan dan gejala yang didasari oleh adanya resistensi insulin. Semuanya Banyak nama lain yang diberikan untuk sindrom metabolik ini, kardiovaskular, deadly quartet, sindrom X dan sebagainya (Waspadji, 2. Faktor resiko sindrom metabolik antara lain adalah adanya dislipidemia, hipertensi, gangguan toleransi glukosa dan obesitas abdominal/sentral. Umumnya sindrom metabolik mulai terjadi pada usia dewasa pertengahan . ekitar 35 tahun sampai 40 tahu. di antara populasi penduduk yang memiliki kecenderungan untuk menderita penyakit ini (Siswono, 2. Etiologi sindrom metabolik belum dapat diketahui secara pasti. Suatu hipotesis menyatakan bahwa penyebab primer dari sindrom metabolik adalah resistensi Resistensi insulin mempunyai korelasi dengan timbunan lemak viseral yang dapat ditentukan dengan pengukuran lingkar pinggang atau waist to hipratio. Hubungan antara resistensi insulin dan penyakit kardiovaskular diduga dimediasi oleh terjadinya stres oksidatif yang menimbulkan disfungsi endotel yang akan menyebabkan kerusakan vaskular dan pembentukan atheroma. Hipotesis lain menyatakan bahwa terjadi perubahan hormonal yang mendasari terjadinya Suatu membuktikan bahwa pada individu yang mengalami peningkatan kadar kortisol didalam serum . ang disebabkan oleh dislipidemia (Shahab, 2. Prevalensi sindrom metabolik diperkirakan akan belakangan ini. Hal tersebut sangat berkait dengan perubahan pola hidup di Prevalensi sindrom metabolik pada populasi yang berusia 20 Ae 25 tahun ke atas di India sekitar 8 %, dan di Amerika Serikat sebanyak 24 %. Sindrom metabolik juga memiliki dampak yang Penelitian Klein, dkk Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci 16 % obesitas dan 70 % mengalami Penelitian ini diharapkan dapat obesitas/kegemukan terhadap terjadinya sindrom metabolik. Asupan makanan timbulnya obesitas akan diteliti pula Dengan penelitian ini diharapkan dapat dilakukan upaya preventif terhadap sindroma metabolik yang tentunya lebih murah dibandingkan upaya kuratifnya. Bila timbulnya sindroma metabolik dapat dicegah, diharapkan angka kesakitan dan kematian penyakit kardivaskular akibat aterosklerosis dapat diturunkan. Hasil dan Pembahasan Karakteristik Responden Data diperoleh dari pasien-pasien yang medical check up. Jumlah pasien yng diperoleh telah sesuai target yaitu 50 Adapun profile responden adalah sebagai berikut : responden pria sebanyak 41 orang ( 82 %) dan responden wanita 9 orang ( 18 %). Dengan rata-rata usia 44,6 7. Dari seluruh responden, sebanyak 17 responden ( 34%) merokok & 33 responden . %) responden tidak Kemudian responden ( 12% ) minum alkohol, dan 44 responden . %) tidak minum alkohol, dan sebanyak 32 responden . %) mempunyai tingkat aktivitas yang ringan dan 18 responden . % )mempunyai aktivitas yang sedang. Dari table 1 dapat dilihat, rata-rata . responden pria adalah 98. 3 cm, ini masih dibawah range normal yang dianjurkan . Namun untuk responden wanita, ukuran lingkar pinggang . rata-ratanya adalah 93. 16 cm, ini sudah melebihi dari batas normalnya ( 88 cm ). Akan tetapi jika melihat rasio lingkar pinggang dan panggul . aist & hips rati. , responden pria dan wanita, keduanya telah melebihi dari rasio yang dianjurkan, yaitu responden pria rata-rata rasionya, 96 . njurannya < 0. dan responden rata-rata . njurannya < 0. Rasio lingkar pinggang dan panggul ini juga merupakan indikator timbulnya penyakit kardiovaskular. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Siloam Hospitals Lippo Karawaci, pada bulan Juni Ae Juli 2008. Data di ambil pada pasien yang melakukan medical check up. Pasien yang datang dalam keadaan puasa, dilakukan pengukuran antropometri, berupa tinggi badan dan berat badan, dilakukan pengukuran lingkar pinggang, pengukuran tekanan diambil sampel darahnya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium dan diwawancara untuk mengetahui asupan makanannya dengan food record. Jenis penelitiannya adalah cross sectional, yaitu mencari hubungan antara faktor obesitas dengan sindrom metabolik. Populasinya adalah semua pasien obesitas yang melakukan medical chek up di Siloam Hospitals Lippo Karawaci. Samplenya adalah pasien pria dan wanita, yang BMI (Body Mass inde. atau IMT (Indeks Masa Tubu. > 25 kg/m2, dengan inclusive kriteria, berusia di atas 35 tahun, tidak pernah didiagnosa & belum pernah mendapatkan pengobatan akibat sindrom Karena umumnya jumlah pasien yang medical check up di SHLK dengan kriteria tersebut terbatas maka akan diambil sample sejumlah 50 pasien selama 2 bulan penelitian. Intrumen pengukuran antropometri pasien . inggi badan, berat badan dan lingkar pinggan. , formulir food record dan pemeriksaan Penelitian ini menggunakan Korelasi-Regresi keeratan hubungan dan permodelan dari variable-variabel penelitian. Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Dari tabel 2 dapat dilihat, bahwa pada responden pria, rata-rata tekanan darah sistole, gula darah puasa, dan kadar HDL & LDL cholesterol masih dalam batas normal, sedangkan untuk rata-rata tekanan darah diastole di atas sedikit dari anjuran, yaitu 85. 24 mmHg . njuran < 85 mm H. Rata-rata kadar trigliserida dan cholesterol total sudah melebihi batang rata-rata 98 mg/dL . njuran < 150 mg /dL) dan rata-rata cholesterol 206. mg/dL . njuran , 200 mg/dL). Sedangkan pada responden wanita, rata-rata hasil laboratorium dan tekanan darah masih dalam ambang normal yang dianjurkan. Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci kecuali cholesterol, yang sudah melebihi nilai normal, rata-rata 204 mg/dL . ormal < 200 mg/dL). Jadi bisa disimpulka sementara, meskipun responden sudah masuk kategori obesitas (BMI > . namun hasil pemeriksaan laboratorium, dan tekanan darahnya rata-rata masih dalam ambang normal. Dari tabel 3 dapat dilihat, baik responden pria dan wanita, rata-rata mengkonsumsi energi, protein, lemak, cholesterol, dan natrium lebih dari yang Ini membandingkan asupannya dengan nilai RDA (Recommended Dietary Allowance. Sedangkan asupan karbohidrat dan kalium masih dalam ambang normal, namun asupan serat lebih rendah dari anjuran, yaitu rata-rata baru berkisar 15 gr/ hari dari 30 gr/ hari yang dianjurkan. Prosentase asupan protein, baik pada responden pria dan wanita, kurang lebih 14 % dari total energi. Prosentase asupan lemak 41 % dari total energi pada repsonden pria, dan 46 % dari responden wanita, dan asupan karbohidrat 45 % dari total energi pada responden pria, dan 40 Ini menunjukkan responden wanita lebih mengkonsumsi karbohidrat lebih sedikit dari pria. Tabel 1 Data Antropometri Responden Data Antropometri Pria Nilai Normal Mean Mean Wanita Nilai Normal BMI Waist Hips Rasio Waist- Hips 45 6. < 25 < 102 < 0. < 25 < 88 < 0. Tabel 2 Data hasil laboratorium dan tekanan darah responden Hasil laboratorium dan tekanan darah Mean Sistole 76 13. Diastole Gula darah puasa Cholesterol Total Trigliserida HDL cholesterol LDL cholesterol Pria Wanita Nilai Normal Mean Nilai Normal < 130 < 130 < 85 < 110 < 200 < 150 > 40 Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 < 150 < 85 < 110 < 200 < 150 > 50 < 150 Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci Tabel 3 Asupan Makanan Responden Pria Mean Wanita % dari Asupan RDA Mean % dari 2200 Ae 1800 Ae 1900 Asupan Asupan Asupan Kal/hari 58 Ae 59 gr Kal/hari /hari 81 Ae 92 gr /hari 47 gr /hari 65 Ae 73 gr / 360 Ae 419 293 Ae 332 gr CHO RDA gr /hari / hari Asupan < 300 mg < 300 mg / / hari 30 gr / Asupan 56 5. 30 gr / hari Asupan 2000 mg / 2000 mg / Asupan 3500 mg / 3500 mg / Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa 64 % pasien mengkonsumsi energi > 100 % dari RDA. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengkonsumsi Dari tabel 5 dapat dilhat bahwa 68 % responden mengkonsumsi protein kurang dari 15 dari total energinya. Ini menunjukkan sebagian besar responden tidak terlalu banyak dalam mengkonsumsi Anjuran konsumsi protein adalah sekitar 10 Ae 15 % dari total energi yang Sedangkan untuk konsumsi Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 lemak, ternyata sebagian responden . %) mengkonsumsi lemak lebih dari 35 % dari total energinya. Ini menunjukkan responden mengkonsumsi lemak yang Karena konsumsi lemak yang sehat adalah berkisar antara 25 Ae 30 % dari total Dan untuk konsumsi karbohidrat, karbohidrat dalam jumlah yang rendah, yaitu kurang dari 40 % dari total energi yang dikonsumsi. Anjuran konsumsi karbohidrat adalah sekitar 55 Ae 60 % dari total energi. Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci Tabel 4 Prosentase konsumsi energi seluruh respoden terhadap Recommended Dietary Allowances (RDA) Asupan < 80 % RDA 80 Ae 99 % RDA > 100 % RDA Total (Kategori asupan berdasarkan Buku Penilaian Status Gizi. I Dewa Nyoman Supariasa. Penerbit Buku Kedokteran, 2. Tabel 5 Prosentase Asupan Protein. Lemak dan Karbohidrat Terhadap Total Energi Protein Lemak Karbohidrat Kategori < 15 % 15 Ae 20 % > 20 % < 25 % 25 Ae 35 % > 35 % < 40 % 40 Ae 50 % > 50 % Tabel 6 Asupan Serat. Cholesterol. Natrium dan Kalium Asupan Kategori Serat < 20 gr / hari 20 Ae 30 gr / hari > 30 gr/hari < 200 mg /hari 200 Ae 300 mg /hari > 300 mg / hari > 100 % dari RDA < 80 % RDA 80 Ae 100 % RDA > 100 % RDA Cholesterol Natrium Kalium Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci Tabel 7 Hasil Uji Statistik Profile Indikator Sindrom Metabolik pada 2 Kelompok Responden Group Variabel BMI < 27 Trigliserida BMI > 27 BMI < 27 BMI > 27 Gula darah BMI < 27 BMI > 27 HDL BMI < 27 Waist BMI > 27 BMI < 27 Sistole BMI > 27 BMI < 27 Mean Std Diastole BMI > 27 Sig. Tabel 8 Hasil Uji Statistik Asupan Energi dan Zat Gizi Dengan BMI Group ariable BMI < 27 BMI > 27 Variabel Asupan BMI < 27 BMI > 27 Asupan BMI < 27 BMI > 27 Asupan BMI < 27 BMI > 27 Asupan BMI < 27 BMI > 27 Asupan BMI < 27 Asupan serat BMI > 27 Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Mean Std Sig. Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci Tabel 9 Hasil uji statistik profile indikator sindrom metabolik dengan BMI Indikator Sindrom Sig. Metabolik Trigliserida Gula darah HDL Waist Sistole Diastole Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa . %) mengkonsumsi serat kurang dari 20 gr / hari, dan hanya 2 % responden yang mengkonsumsi serat lebih dari 30 gr / Anjuran konsumsi serat adalah 30 gram per hari. 54 % responden mengkonsumsi cholesterol lebih dari 300 mg / hari, sedangkan anjurannya maksimal adalah 300 mg/hari. Seluruh . natrium lebih dari RDA, yaitu lebih dari 2000 mg / hari. Sedangkan untuk kalium, 60 % responden mengkonsumsi kurang 80 % dari RDA. index (BMI) < 27 dan BMI > 27 . Dari table di dapat dilihat bahwa yang memiliki perbedaan yang bermakna pada rata-rata hasilnya, di dua kelompok responden, hanya pada variable trigliserida dan waist . kuran lingkar pinggan. , sedangkan pada variable lainnya tidak ada perbedaan yang bermakna. Rata-Rata Hasil Pemeriksaan Pengukuran Indikator Sindrom Metabolik Dua Kelompok Responden Dalam uji statistik ini, responden dibagi 2 kelompok, yaitu yang memiliki body mass Uji Korelasi dan Regresi Antara BMI dengan Indikator Sindrom Metabolik Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Rata-rata asupan makanan pada 2 kelompok responden Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan rata-rata asupan makanan . nergi, protein, lemak, karbohidrat, cholesterol dan serat ). Dari kolom R pada table 9, terlihat bahwa body mass index memberikan trigliserida , 0 % terhadap kadar gula Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci darah puasa, 4,8 % terhadap kadar HDL cholesterol darah, 22,5 % terhadap ukuran lingkar pinggang . , 0 % terhadap tekanan darah sistole dan 0,8 % terhadap tekanan darah diastole. Semua lebih besar dari kelompok BMI < 27. Dilihat dari nilai sig. pada kolom coefficients, diperoleh angka 0. < . , ini menunjukkan bahwa BMI secara Hal ini sesuai dengan beberapa literatur yang menyatakan bahwa obesitas, yang dalam hal ini diukur dengan nilai BMI, mempunyai efek terhadap kadar lemak darah. Hal ini disebabkan karena seseorang dengan obesitas, akan terjadi resistensi insulin. Resistensi insulin mempengaruhi sel lemak, menyebabkan enzim tertentu memecah lemak, membebaskan asam lemak yang kemudian berjalan ke dalam Di lever, asam lemak bebas trigliserida, yang dilepaskan ke dalam sirkulasi (Laporan Utama, 2. metabolik dengan BMI memiilki nilai < 1, artinya nilai keeratannya kurang. Dapat dilihat pula bahwa hanya variabel trigliserida dan ukuran lingkar pinggang . yang mempunyai hubungan yang bermakna dengan body mass index. Dari kolom coefficients pada tabel 9 dapat dibuat persamaan regresi sebagai BMI dan Trigliserida Y = 137. Artinya untuk kelompok BMI > 27 akan mempunyai kadar trigliserida 70. Gambar 1 Hubungan antara BMI dengan kadar trigliserida BMI dan Gula darah puasa Y = 89. 53 Ae 0. Artinya untuk kelompok BMI > 27, akan memiliki kadar gula darah puasa 127 lebih kecil dari kelompok BMI < 27. Dilihat dari nilai sig. pada kolom coefficients, diperoleh angka 0. > . , ini menunjukkan bahwa BMI tidak signifikan menjelaskan variabel kadar gula darah puasa. Hal ini mungkin dapat hiperglikemia . adar gula darah yang tingg. hanyalah puncak dari gunung es. Hanya sekitar 20 Ae 25 % pasien dengan resistensi insulin akan berkembang menjadi kadar glukosa darah puasa Sementara, 80 % lainnya mengkompensasi, sehingga kadar glukosa Kenyataannya, mayoritas pasien dengan Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 sindroma resistensi insulin akan memiliki kadar gula darah yang normal. Hanya mereka yang mengalami kerusakan sel beta, yang akan mengalami diabetes tipe 2 (Laporan Utama, 2. Oleh karena itu kemungkinan responden meskipun sudah mengalami resistensi insulin, namun mengalami kerusakan sehingga masih mampu memproduksi insulin dengan baik, maka kadar gula/glukosa puasanya masih dalam ambang normal. BMI dan HDL-Cholesterol Y = 53. 010 Ae 8. Artinya untuk kelompok BMI > 27 akan memilik kadar HDL-cholesterol 187 lebih kecil dari kelompok BMI < 27. Dilihat dari nilai sig. pada kolom coefficients, diperoleh angka 0. > Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci . , ini menunjukkan bahwa BMI tidak signifikan menjelaskan variabel kadar HDL-cholesterol. Pada obesitas, akan terdapat kelebihan asam lemak bebas yang relatif dibandingkan dengan orang yang tidak gemuk. Asam lemak bebas ini trigliserida, yang dilepaskan ke dalam Ini menstimulasi produksi protein pembawa very low density lipoprotein (VLDL). Ketika trigliserida berada dalam sirkulasi, dibawa oleh VLDL, ester kolesterol dari HDL ditransfer ke dalam VLDL. Trigliserida meninggalkan VLDL dan mengganti ester kolesterol dalam HDL. Sementara itu trigliserida dalam VLDL saling bertukar ester kolesterol dalam LDL,membentuk LDL padat dan berukuran kecil. Transfer dua Pemindahan HDL membuat HDL menjadi mudah pecah dan diekskresikan oleh ginjal sehingga kadar HDL menurun (Laporan Utama, 2. Dalam Bahri Anwar. Universitas Sumatera Utara, berjudul Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner, disebutkan merokok dapat memberikan pengaruh pada kadar HDL, meskipun mekanismenya belum jelas. Disebutkan bahwa semakin banyak rokok yang dihisap, maka akan semakin menurun kadar HDL cholesterolnya. Artinya dengan berhenti merokok, kadar HDL diharapkan dapat naik, yang tentunya hal ini harus diimbangi dengan pola makan yang benar dan latihan jasmani yang memadai. Dari uji statistik dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan bermakna antara obesitas dengan kadar HDL. Ini bisa dilihat dari nilai mean . HDL responden yang masih bagus . idak renda. , yaitu 48. Akan tetapi dari hasil uji statistik korelasi antara kadar HDL dengan merokok, diperoleh hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara kadar HDL dengan status merokok. Sehingga kemungkinan rata-rata kadar HDL responden bagus . 4 ) karena sebagian responden tidak merokok ( 66% responden tidak meroko. Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 BMI dan Ukuran Lingkar Pinggang . Y = 93. Artinya untuk kelompok BMI > 27, akan memiliki ukuran lingkar pinggang . 842 cm lebih besar dari kelompok BMI < 27. Dilihat dari nilai sig. pada kolom coefficients, diperoleh angka 001 ( p < 0. , ini menunjukkan bahwa BMI variabel ukuran lingkar pinggang . BMI . ody mass inde. atau Indeks masa Tubuh merupakan salah satu indikator Demikian pula dengan ukuran lingkar pinggang, dan rasio antara ukuran lingkar dan panggul . aist Ae hips rati. dapat digunakan sebagai indikator untuk Sehingga sangat wajar bila ada hubungan yang erat antara BMI dengan Banyak penelitian klinis yang tidak hanya menggunakan BMI sebagai indikator Penelitian Booth, dkk . di Australia, menyimpulkan bahwa ukuran lingkar pinggang yang digunakan untuk indikator prevalensi overweight di populasi Australia kaukasian, dilaporkan hasilnya lebih signifikan dibandingkan dengan ukuran tinggi dan berat badan. Pengukuran lingkar pinggang dalam survey di sebuah populasi, mungkin lebih akurat untuk monitoring epidemiologi overweight dan obesitas (Booth, et. , 2. Beberapa ahli menyarankan tidak hanya ukuran lingkar pinggang saja yang diukur, melainkan rasio antara pinggang dikaji, sebagai indikator obesitas, dalam kaitannya Ukuran lingkar pinggang . mungkin merupakan refleksi dari tingkat aktivitas dan sensitivitas insulin. Penelitian Keri, dkk, menyimpulkan bahwa, peningkatan ukuran lingkar pinggang akan menyebabkan peningkatan kadar insulin puasa rata-rata. Dan karena kadar insulin puasa berkorelasi langsung disimpulkan pula bahwa peningkatan menyebabkan semakin memburuknya (Lestari. Penelitian Welborn et al, di Australia, pada Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci jangka waktu tahun 1986 Ae 2000, menyimpulkan bahwa pada obesitas yang di lihat dari nilai rasio waist Aehips merupakan prediktor yang lebih baik penyakit Coronary Heart Diseases dan Cardiovascular Diseases. (Welborn, 2. Gambar 2 Hubungan antara BMI dengan Ukuran Lingkar Pinggang BMI dan tekanan darah systole Y = 124. Artinya untuk kelompok BMI > 27, akan memiliki tekanan darah sistole 0. lebih tinggi dari kelompok BMI < 27. Dilihat dari nilai sig. pada kolom coefficients, diperoleh angka 0. 974 ( p > . , ini menunjukkan bahwa BMI tidak signifikan menjelaskan variabel tekanan Beberapa menyimpulkan adanya hubungan yang bermakna antara obesitas dengan tekanan Ada peningkatan yang bermakna pada populasi obesitas untuk terjadi hipertensi pada dekade terakhir. Hampir 29 % penderita obesitas mengalami Tapi tidak semua penderita obesitas mengalami hipertensi. Jadi hal ini bersifat individual. Faktor genetik juga berpengaruh pada hal ini (Bethesda. Dalam penelitian ini disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara BMI dengan tekanan darah, baik tekanan darah sistole maupun diastole. Hal ini dapat dilihat pada penjelasan di atas, bahwa kejadian hipertensi pada obesitas bersifat invidual. Faktor genetik bisa mempengaruhinya. Artinya untuk kelompok BMI > 27, akan memiliki tekanan darah diastole: 667 lebih tinggi dari kelompok BMI < 27. Hubungan Asupan Makanan dengan BMI R2 = 0. 5 %), ( F = 0. p > 0. Dari uji statitisk table 12, diperoleh nilai R2 : 0. 025, artinya bahwa asupan zat gizi secara bersama-sama . nergi, protein, lemak, karbohidrat dan cholestero. hanya berpengaruh 2,5 % terhadap BMI. Dan dapat dilihat dari nilai sig. bahwa variabel asupan makanan . nergi, protein, lemak, karbohidrat dan cholesterol ) secara bersama-sama BMI Banyak membuktikan bahwa dalam melakukan penilaian konsumsi makanan . urvei dieteti. banyak terjadi bias tentang hasil yang diperoleh. Hal ini disebabkan oleh ketidaksesuaian dalam mengunakan alat ukur, waktu pengumpulan data yang tidak tepat, instrumen tidak sesuai dengan tujuan, ketelitian alat timbang makanan, kemampuan petugas pengumpulan data, daya ingat responden, daftar komposisi makanan yang digunakan tidak sesuai responden dan interpretasi hasil yang kurang tepat (Supariasa, 2. Ada pula BMI dan tekanan darah diastole Y = 84. Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci pendapat yang menyatakan bahwa pada umumnya anamnesis diet pada pasien gemuk cenderung lebih sedikit dari apa yang sebenarnya dimakan (Waspadji. Dari penjelasan di atas, mungkin memang terjadi bias dalam hasil asupan Berdasarkan pengamatan penulis, responden umumnya kurang begitu senang saat dilakukan Hal ini tentunya menyulitkan penulis untuk menggali informasi lebih detail akan kebiasaan dan pola makan responden, dan daya ingat responden akan jenis dan porsi makanan yang dikonsumsi umumnya memang kurang. Inilah yang mungkin menyebabkan hasil survey konsumsi makanan menjadi bias hasilnya, dan pada akhirnya pada uji statistik ditemukan tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan makanan dan BMI responden . Tabel 12 Hasil Uji Statistik Asupan Energi dan Zat Gizi dengan BMI Coefficients . Variabel Unstandardized Coefficients Sig. Std. 57 Error BMI 22E0. Keterbatasan Penelitian Pada keterbatasan dan permasalahan yang Kesimpulan dihadapi penulis. Yaitu keterbukaan Dari hasil penelitian ini diperoleh responden saat pengambilan data food kesimpulan sebagai berikut, bahwa ada Penulis hubungan yang bermakna antara BMI, sebagai indikator obesitas, dengan kadar memberikan jawaban yang sebenarnya. trigliserida darah, dan antara BMI dengan Asumsi penulis adalah kemungkinan ukuran lingkar pinggang . Namun responden pernah memperoleh edukasi tidak ada hubungan yang bermakna tentang pola makan yang sehat dan ingin antara BMI dengan kadar gula darah memberikan kesan bahwa mereka telah puasa, dengan kadar HDL-cholesterol, dan mengikuti pola makan yang sehat dengan tekanan darah, baik sistole Hal ini tentunya menyebabkan maupun diastole. Kemudian ditemukan data asupan makanan menjadi bias. tidak ada hubungan yang bermakna Demikian pula untuk riwayat obat yang antara asupan makanan dengan BMI sebagai indikator obesitas. semakin tinggi responden pernah mengkonsumsi obatkadar trigliserida maka akan semakin obatan untuk menurunkan tekanan darah tinggi pula resiko timbulnya sindrom atau menurunkan lemak darah namun Demikian pula, semakin besar ukuran lingkar pinggang akan semakin Sehingga tinggi pula resiko timbulnya sindrom responden yang diambil kurang mendekati Sindrom (Constan. Asupan Asupan Asupan CHO Nutrire Diaita Volume 3 Nomor 2. Oktober 2011 Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up. Siloam Hospitals Lippo-Karawaci bersifat individual dengan beberapa faktor yang mempengaruhinya, antara lain faktor merokok, faktor organ sel beta pankreas yang masih bisa mengkompensasi insulin, dan mungkin faktor genetik berpengaruh pula disini. sangat penting dilakukan intervensi pada pasien dengan obesitas, yang telah memiliki satu dari lima indikator sindrom metabolik. Hal ini untuk mencegah timbulnya sindrom metabolik yang lebih berat di kemudian Tindakan preventif tentunya akan lebih murah daripada tindakan kuratif. Tindakan diberikan kepada pasien obesitas berupa edukasi tentang pola hidup yang sehat, seperti meningkatkan aktivitas fisik, mengurangi asupan lemak, mengurangi karbohidrat simpel, menambah serat dan mengurangi natrium. Selain itu anjuran berhenti merokok dan minum alkohol juga penting untuk ditekankan. RSCM. Perpustakaan Pusat UI. Diakses 14 April 2008 http://w. edu/opac/the mes/libri2/abstrakpdf. jsp?id=1073 37&lokasi=lokal AyHati-hati. Lingkar Pinggang Jadi Barometer KesehatanAy. Diakses 19 Agustus http://w. com/news. html?id=174344 Laporan Utama. Ethical Digest. Nomor 51 Thn VI. Mei 2008. Lestari. Keri, dkk. Hubungan Lingkar Pinggang dengan Resistensi Insulin pada Penderita Obesitas Sentral. Diakses Agustus http://farmasiunpad. net/konten. hp?nama=Farmaka&op=detail_farm aka&id=26. Daftar Pustaka