Volume 5 No 2 July 2024 EISSN 2722-2861 Progress in Social Development ANALISIS MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PT PERTAMINA PATRA NIAGA AFT BIL DALAM PENANGGULANGAN PENURUNAN ANGKA STUNTING DI DESA PENUJAK KECAMATAN PRAYA BARAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH ANALYSIS OF THE COMMUNITY EMPOWERMENT MODEL OF PT PERTAMINA PATRA NIAGA AFT BIL IN OVERCOMING THE REDUCTION OF STUNTING RATES IN PENUJAK VILLAGE WEST PRAYA DISTRICT CENTRAL LOMBOK REGENCY Dian Fadhliana1. Muhammad Rizqi Hidayatullah2 Community Development Officer. Jr. HSSE & GA AFT BIL Email Correspondance: dianfadhliana10@gmail. com1, muh. hidayatullah@pertamina. ABSTRACT: Various studies that discuss Stunting in developing countries, especially in Indonesia, target the prevalence of stunting which is still at 30. 8% above the world average prevalence of 22. In other countries such as Ethiopia 52. 4%, followed by Congo at 40% and Africa which has a stunting rate of 34. This condition is still far from the figure set by the World Health Organization which targets a stunting rate of less than 20%. Stunting is a chronic nutritional problem in toddlers caused by inadequate nutritional intake for a long time and is caused by providing food that does not meet balanced nutritional needs. Stunting is caused by poor nutrition during pregnancy, anemia during pregnancy, not getting exclusive breastfeeding, children getting less nutrition during MPASI, poor sanitation, recurrent diarrhea, not routinely immunized, premature babies, poor parenting practices, and poverty. Meanwhile, stunting in toddlers has an impact on increasing the risk of mortality and morbidity, low cognitive abilities, the risk of chronic diseases in adulthood, reproductive health disorders and low productivity. Based on the results of the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in West Nusa Tenggara reached 32. 7% or 1. 3% of the stunting rate in 2021. In Central Lombok Regency, the prevalence of stunting was 37% based on e-PPGM data as of August 2022. The high figure has received attention from various parties, one of which is the community empowerment program implemented by PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL as a state-owned company that contributes to reducing the prevalence of stunting in Penujak Village. Central Lombok Regency. This study uses a qualitative descriptive approach that combines purposive sampling data collection techniques on program beneficiaries. The findings from the PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL community empowerment model apply a comprehensive model that can be used as an example of the implementation of a stunting-free program in Indonesia. Through the supplementary feeding program (PMT) for 12 months, it resulted in an increase in Nutrition of 47% in 2024. Keywords: Stunting. Community Empowerment. Supplemental Feeding (PMT) ABSTRAK: Berbagai riset yang membahas seputar Stunting di negara berkembang khususnya di Indonesia membidik prevalensi stunting yang masih berada di angka 30,8% di atas rata-rata prevalensi dunia yaitu 22,2%. Di negara lain seperti Ethiopia 52,4%, di susul peringkat berikutnya Congo sebesar 40% dan Afrika yang menduduki angka stunting sebesar 34,5%. Kondisi tersebut masih jauh dari angka yang ditetapkan oleh Word Health Organization yang menargetkan angka stunting kurang dari 20%. Stunting merupakan masalah gizi kronis pada Balita yang disebabkan oleh asupan gizi kurang dalam waktu cukup lama dan diakibatkan dari pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi seimbang. Stunting disebabkan karena gizi buruk saat ibu hamil, anemia pada masa kehamilan, tidak mendapatkan ASI eksklusif, anak kurang mendapatkan nutrisi saat MPASI, sanitasi buruk, diare berulang, tidak rutin imunisasi, bayi prematur, praktik pengasuhan kurang baik, dan kemiskinan. Sedangkan Balita stunting berdampak pada meningkatnya risiko mortalitas dan morbiditas, rendahnya kemampuan kognitif, risiko penyakit kronis saat dewasa, gangguan kesehatan reproduksi hingga rendahnya produktivitas. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, angka prevalensi stunting di Nusa Tenggara Barat mencapai 32,7% atau sebesar 1,3% dari angka stunting pada tahun 2021. Journal homepage: psd. fisip-unmul. id/index. php/psd Kabupaten Lombok Tengah prevalensi angka stunting menduduki angka 37% berdasarkan data e-PPGM per Agustus Tingginya angka tersebut mendapatkan atensi dari berbagai pihak salah satunya dari program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL sebagai perusahaan BUMN yang berkontribusi dalam pengurangan prevalensi stunting di desa Penujak kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang menggabungan teknik pengambilan data secara purposive sampling pada penerima manfaat program. Hasil temuan dari model pemberdayaan masyarakat PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL menerapkan model komprehensive yang mampu dijadikan sebagai contoh pelaksanaan program bebas stunting di Indonesia. Melalui program pemberian makanan tambahan (PMT) selama 12 bulan menghasilkan peningkatan Gizi sebesar 47% pada tahun Kata Kunci: Stunting. Pemberdayaan Masyarakat. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Article Info Received Januari 2024 Accepted Published DOI July 2024 July 2024 Copyright and License Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. PENDAHULUAN Peraturan Menteri Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting dijelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebabkan oleh kondisi gizi kronis, infeksi berulang yang menyebabkan kelainan tinggi atau panjang badan berdasarkan standart ketetapan menteri kesehatan. Stunting disebabkan karena kurangnya gizi pada bayi dalam janin dimasa 1000 hari pertama kehidupan. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian janin dan penurunan serta gangguan pertumbuhan otak, tumbuh kembang anak, gangguan metabolisme glukosa, lipid, protein dan hormone . el Carmen Casanovas et all. , 2. Berdasarkan WHO . stunting merupakan kategori pendek atau sangat pendek berdasarkan ukuran panjang atau tinggi badan menurut usia kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang disebabkan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan atau infeksi berulang kronis yang terjadi dalam 1000 HPK. Stunting masuk dalam agenda target pembangunan berkelanjutan dalam Sustainable Development Goals (SDG. 2 tahun 2030 yaitu menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi termasuk target yang disepakati internasional untuk anak pendek dan kurus di bawah usia lima tahun dan pemenuhan gizi bagi sasaran remaja perempuan, ibu hamil dan menyusui serta manula. Penetapan target tersebut di proyeksikan hingga 40% di tahun 2025 (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2. Berdasarkan penelitian serupa menurut Sumartini . anak mengalami kasus stunting di usia kurang dari dua tahun dan berisiko mengalami gangguan kognitif yang rendah. Anak yang berusaha meningkatkan keterlambatan pertumbuhan lebih berpotensi dan memiliki peluang meningkatkan skor kognitif lebih baik dibandingan dengan anak yang tetap terhambat. Perkembangan status gizi pada balita berusia 1-5 tahun membutuhkan asupan nutrisi lebih banyak sehingga masa ini disebut sebagai periode Pada periode ini anak mengalami perkembangan fisik, mental dan mengenal hal-hal baru sehingga asupan nutrisi di usia ini memberikan peran penting dalam pertumbuhannya (Hasdianah. Siyoto, & Peristyowati, 2. Pentingnya peran dan sikap dari ibu membawa pengaruh pada pengetahuan mengenai asupan gizi keluarga terutama pada anak. Prinsip ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Evan . yang menunjukkan pengaruh pendidikan gizi yang diperoleh orangtua maupun keluarga yang memiliki anak untuk merubah pola pemberian makanan. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan sebuah keterampilan dalam menciptakan menu makanan yang kreatif dan bergizi. Membentuk kebiasaan makan, menumbuhkan selera pada variasi makananan hingga kemampuan dalam menseleksi makanan sehat penting di terapkan dalam membentuk kebiasaan baik dalam keluarga. Kurangnya asupan gizi pada anak tentu akan mengakibatkan permasalahan nafsu makan dan berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembang anak dikemudian hari. Progress in Social Development: Volume 5 No 2 July 2024 METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang menggabungkan teknik pengambilan data secara purposive sampling pada penerima manfaat program. Sajian yang dipaparkan dalam penelitian ini membahas tentang model pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL yang berada di Desa Penujak. Kecamatan Praya Barat. Kabupaten Lombok Tengah. Model pemberdayaan masyarakat tersebut adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Balita di wilayah Ring 1 Perusahaan sebagai bagian dari kolaborasi stakeholder UPTD Puskesmas Penujak dengan PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL dan kader posyandu dalam upaya penurunan kasus stunting di Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini mendeskripsikan secara jelas mengenai distribusi PMT, jumlah sasaran penerima manfaat hingga dampak positif yang diterima oleh masyarakat. Penelitian ini menerapkan metode observasi partisipatoris dimana hasil pengamatan selama pelaksanaan program melibatkan pihak-pihak terkait yang memiliki korelasi sehingga mampu menjawab kebutuhan penelitian. Pihak tersebut antara lain petugas puskesmas, kader posyandu dan orang tua anak dengan kasus stunting. Penelitian mendeskripsikan variabel penelitian dengan total sampling berjumlah 6 populasi sebagai subyek penelitian yang menjalankan perannya sebagai aktor dalam distribusi PMT pada sasaran penerima manfaat yaitu kader posyandu. Proses pengambilan data yang dilakukan pada penelitian ini berasal dari wawancara mendalam dan pengumpulan data sekunder. Teknik analisis yang digunakan penelitian ini adalah deskriptif berdasarkan perolehan data yang diperoleh selama penelitian dan hasil reduksi data sekunder yang telah diperoleh dalam tahap validasi data. Selanjutnya dikembangkan dalam elaborasi teori dan konsep berdasarkan hasil implementasi kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Stunting dan Kondisi Status Gizi di Nusa Tenggara Barat Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 menunjukkan penurunan prevalensi stunting pada balita di tingkat nasional sebesar 64% selama periode 5 tahun sejak tahun 2013 sebsar 37,2% hingga tahun 2018 di angka 30,8%. Menurut Global Nutrition Report 2016 stunting di indonesia tercatat prevalensi stunting di indonesia menempati urutan ke 108 dari 132 negara di dunia. Stunting menurut WHO dalam BAPPENAS, 2020 mengartikan sebagai status gizi balita dengan panjang dan tinggi badan dalam golongan kurang berdasarkan umur balita lebih minus dua dari standar deviasi median. Jika mengacu pada data Riskesdas tahun 2018 prevalensi stunting masih berada pada tingkat tinggi dibandingkan dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) sebesar 19% pada tahun 2024. Adanya perbedaan intervensi dalam mengatasi kasus stunting dikarenakan stunting merupakan kasus serius yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak dan efeknya lebih besar dan significant dibandingkan dengan masalah gizi serupa seperti kasus gizi kurang, kurus dan gemuk pada anak. Stunting tidak hanya memberikan pengaruh pada pertumbuhan fisik anak namun stunting juga memberikan dampak pada kerentanan kesehatan anak sehingga mudah sakit, terjadi gangguan perkembangan otak dan kecerdasan. Ancaman ini tentu saja dapat menghambat kualitas sumber daya manusia (Khairani, 2. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Farisni dan Zakiyuddin . bahwa Status gizi balita menjadi salah satu indikator kualitas sumber daya Masyarakat (SDM) yang dapat menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Stunting merupakan masalah kesehatan serius yang mendapatkan perhatian level nasional maupun internasional bahkan kasus ini juga menjadi konsentrasi dunia yang masuk dalam target pembangunan berkelanjutan yang terus diupayakan oleh berbagai organisasi dan berbagai pihak dalam upaya Pada tahun 2030 permasalahan malnutrisi dan peningkatan ketahanan pangan dapat terealisasi sedangkan di Indonesia khusus kasus stunting ditargetkan turun hingga 40% pada tahun 2025 (Pusdatin Kemenkes RI, 2. Mengacu pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 prevalensi stunting di indonesia mencapai angka 21,5% mengalami penurunan sangat tipis di bandingkan dengan angka 21,6% pada tahun sebelumnya 2022. Status penurunan tersebut di gambarkan terjadi penurunan dari 5 orang balita terkena kasus stunting berkurang 1 orang balita menjadi 4 balita yang tersisa. Berikut gambaran rentan usia balita rata-rata yang menghadapi kasus stunting: Tabel 1 Rentan Usia Balita Terkena Kasus Stunting Nama Data 0-5 bulan 6-11 bulan 12-23 bulan 24-35 bulan 36-47 bulan 48-59 bulan Sumber: Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 Tabel tersebut menggambarkan bahwa tingginya kasus stunting dihadapi oleh kelompok balita berusia 24-35 bulan atau rata-rata dialami balita berusia 2 sampai 3 bulan yang terjadi dalam 3 tahun terakhir sebesar 26,2%-25,8% dalam dua tahun terakhir . Sedangkan rentan prevalensi terendah terjadi pada balita berusia 0-5 bulan dengan 11-7%-13-7% di tahun yang sama. Data Kemenkes RI menyebutkan prevalensi stunting tiap provinsi menunjukkan ketimpangan cukup besar antar wilayah antara 7,2% hingga 37,9%. Data tersebut juga mencatat sejumlah 38 provinsi di Indonesia sebanyak 15 provinsi masuk dalam angka terbawah nasional ditemukan kasus stunting antara lain Bali 7,2%. Jambi 13,5%. Riau 13,6%. Lampung 14,9% dan Kepulauan Riau 16,8%. Sedangkan provinsi yang tercatat menempati urutan teratas dari 18 provinsi di Indonesia antara lain Papua tengah 34,4%. Nusa Tenggara Timur 37,9%, dan Papua Pegunungan sebesar 37,3%. Berbeda halnya dengan provinsi Nusa Tenggara Barat yang tidak masuk dalam catatan terendah maupun tertinggi dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 pemerintah provinsi menetapkan kasus stunting sebagai topik priorotas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 dengan target pengentasan stunting sebesar 14%. Upaya penanggulangan stunting di provinsi NTB di dorong dengan terbitnya Peraturan Gubernur Nomor 68 Tahun 2020 tentang Aksi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi dengan menjalankan sejumlah program unggulan dan inovatif sebagai intervensi dalam menjawab kasus gizi di masyarakat. Program-program tersebut antara lain: Revitalisasi Posyandu Melalui Revitalisasi Posyandu menimbulkan perbaikan kelembagaan posyandu, peningkatan mutu kegiatan dan kehadiran sasaran serta pengembangan kegiatan lain. Kegiatan tersebut mampu mendorong status kesehatan dan gizi ibu hamil yang berdampak pada pencegahan stunting sehingga kasus stunting dapat ditekan sejak dini melalui sasaran ibu hamil. Generasi Emas NTB Program Generasi Emas NTB atau GEN merupakan program gagasan yang di laksanakan sebagai upaya peningkatan tumbuh kembang anak melalui program pola asuh keluarga. Upaya perbaikan ini dilakukan dengan memberikan pendidikan prenatal . untuk membentuk Pasangan Ramah Anak atau PARANA dalam mewujudkan pendampingan 1000 HPK sebagai pola asuh gizi prioritas. Aksi Bergizi Merupakan intervensi para remaja dengan memberikan suplemen gizi untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi, meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku remaja mengenai kesehatan reproduksi. Bentuknya antara lain sosialisasi dan penandatanganan komitmen pelaksanaan aksi bergizi di sekolah, pelatihan guru, distribusi modul guru, buku siswa dan alat bantu pembelajaran, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) setiap minggu untuk remaja putri dan sarapan di sekolah, pendidikan gizi dan kesehatan. Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi Merupakan bagian dari strategi dalam menanggulangi masalah kurang gizi akut atau wasting. Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) adalah program yang dilaksanakan untuk mengurangi angka kematian anak dan meningkatkan pemulihan anak-anak penderita Gizi buruk. Berikut agenda dari PGBT antara lain pelatihan PGBT se-NTB, mobilisasi masyarakat, rawat inap/jalan, konseling PMBA, sosialisasi penapisan mandiri oleh pengasuh/orangtua dengan pita LILA, pelatihan kader Posyandu dan Dasa Wisma di 3 Kab/kota, penggunaan Pita Lila, webinar Ayah ASI, pelatihan Managemen Gizi bencana bagi kesehatan, pemberian obat gizi RUTF (Ready to use Therapeutic Foo. untuk balita gizi buruk 6-59 bulan tanpa komplikasi medis dan nafsu makan baik dilayanan rawat inap. Pemberian Makan Bayi dan Anak Progress in Social Development: Volume 5 No 2 July 2024 PMBA merupakan upaya perbaikan pola asuh ibu hamil dan ibu menyusui, meliputi gizi ibu hamil, pemantauan pertumbuhan balita, inisiasi menyusu dini, pemberian ASI Ekslusif. Makanan Pendamping Ais Susu Ibu (MP-ASI) dan pemberian ASI sampai anak usia 2 tahun-lebih. Intervensi PMBA yang utama adalah pendidikan gizi untuk perbaikan pola asuh gizi dalam keluarga. Jamban Keluarga Kegiatan ini berupaya untuk merubah perilaku masyarakat dalam buang air besar di jamban untuk mencegah terjadinya penyakit berbasis lingkungan. Kegiatan ini antara lain pemicuan dan monitoring, dukungan kebijakan dalam regulasi dan penganggaran (Roadmap. Pergub, dan Reward BASNO), pemberdayaan masyarakat dalam wadah Wirausaha Sanitasi (Wusa. Air Bersih Untuk Semua Merupakan program perbaikan sistem penyediaan air minum yang di inisiasi, dipilih, dibangun dan di biayai masyarakat atau melalui bantuan pihak lain, dikelola berkelanjutan oleh masyarakat. Penyediaan air minum yang memenuhi syarat dapat memenuhi kesehatan dalam jumlah yang memadai. Rumah Layak Huni Program ini dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan keselamatan bangunan dan kecukupan minimum luas bangunan, dan kesehatan penghuni. Tujuannya meningkatkan ketersediaan rumah layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pekarangan Pangan Lestari Pekarangan Pangan Lestari (P2L) adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat secara bersama-sama memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan berkelanjutan. Tujuannya meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas dan pemanfaatan pangan rumah tangga sesuai kebutuhan pangan yang beragam, bergizi seimbang, aman dan mampu meningkatkan penghasilan rumah tangga melalui ketersediaan pangan berbasis pasar. Pendewasaan Usia Perkawinan. Program PUP merupakan upaya peningkatan usia perkawinan pertama yang mencapai usia minimal saat perkawinan yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Kegiatan ini antara lain. pembuatan buku saku/pedoman, modul PUP, sosialisasi dan pelatihan serta advokasi penyusunan Perdes tentang Perkawinan. Berdasarkan upaya-upaya tersebut yang diterbitkan melalui peraturan Gubernur. Provinsi Nusa Tenggara Barat berhasil menurunkan angka prevalensi stunting per september 2023 menjadi 13,49%. Jika menelisik jejak NTB dalam kasus stunting, pada tahun 2022 masuk dalam 12 provinsi prioritas pemerintah dalam penanggulangan stunting. Berdasarkan data yang dihimpun dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2022 Nusa Tenggara Barat memperoleh 32,7% kasus stunting. Selanjutnya NTB menempati urutan ke-16 dari 38 provinsi dengan progres penurunan tertinggi se-indonesia. Fakta tersebut dinyatakan dalam SKI yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan tahun 2023 dan menunjukan hasil angka stunting di NTB sebesar 24,6% mengalami penurunan 8,1% dibanding dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Progress inipun dinyatakan significant dari tahun ke tahun dan terus mengalami penurunan. Berikut grafik angka penurunan stunting berdasarkan hasil survei Riskesdas . Grafik 1 Angka Penurunan stunting berdasarkan survei Riskesdas 2018 Angka penurunan stunting berdasarkan hasil survei Riskesdas . Sumber: Olah data survei Riskesdas 2018 Mengacu pada grafik diatas mengenai status stunting, angka stunting di provinsi NTB pernah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebelum kemudian angka tersebut turun sangat drastis ditahun berikutnya. Pada tahun 2022 provinsi NTB dinyatakan sebagai salah satu dari 12 provinsi yang menjadi prioritas penanganan stunting oleh pemerintah. Hal tersebut dilatar belakangi akibat peningkatan sebesar 1,3% di tahun 2022 sedangkan di tahun 2024 sudah harus mengejar target 14% kasus stunting teratasi berdasarkan target capaian RPJMN 2022-2024 yang di tuangkan secara jelas pada Pergub Nomor 68 tahun 2020 tentang Aksi pencegahan dan percepatan penanggulangan penurunan stunting melalui program unggulan dan inovatif yang menyasar pada perubahan gizi secara spesifik dan gizi sensitif yang berhubungan dengan kasus stunting. Upaya tersebut dalam implementasi program stunting provinsi NTB mampu menorehkan prestasi di september 2023 menjadi 13,49%. Program PMT Sebagai Alternatif Peningkatan Gizi Balita Khususnya Stunting Anak usia lima tahun pertama merupakan individu dengan fase tumbuh kembang yang sangat pesat. Pertumbuhan ini berkaitan dengan bertambahnya ukuran berat badan, tinggi dan lingkar kepala tentu perkembangan tersebut berpengaruh pada berubahnya pola pikir dan kecerdasan anak. Anak usia lima tahun yang memiliki gizi seimbang berada pada fase tumbuh kembang yang dicirikan dengan tubuh sehat, kekebalan tubuhnya meningkat, serta pertumbuhan neurologis dan kognitifnya baik. Handayani, dkk, . Sehingga perlu adanya perhatian terhadap pemenuhan gizi anak pada masa lima tahun pertama melalui intervensi peningkatan status gizi yang diberikan oleh orang tua. Wahyuningtias dan Zainafree . menjelaskan status gizi merupakan tolok ukur kesehatan bagi balita karena membawa pengaruh pada kesehatan fisik anak dikemudian hari. Implementasi stunting masuk dalam agenda prioritas yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, salah satu bentuk kegiatanya berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita. Pusdatin Kemenkes RI. Konsep PMT sebagai layanan yang di siapkan dalam menuntaskan stunting didasarkan pada jaminan pemenuhan gizi seimbang melalui program Isi Piringku yang dimana dalam satu piring makan anak harus terpenuhi 30% karbohidrat, 20% protein dan 50% buah dan sayur sehingga dengan terimplementasinya program Isi Piringku di masyarakat akan menjawab tantangan kesehatan, gizi dan pertumbuhan anak dimasa yang akan datang. Implementasi program PMT dilakukan sebagai tahap pemulihan dalam intervensi gizi seimbang yang diproyeksikan dalam penanganan masalah gizi buruk dan kurang bagi balita keluarga miskin. Upaya ini bertujuan sebagai bentuk peningkatan kebutuhan gizi balita melalui PMT namun bukan sebagai pengganti makanan utama Kemenkes RI . Pendistribusian PMT memperlihatkan kebermanfaat dalam peningkatan berat badan dan tinggi badan bagi balita yang ada di Kabupaten Lombok Tengah tepatnya di Desa Penujak. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang dilaksanakan oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL berkerja sama dengan posyandu Mantung mendistribuskan bantuan paket PMT sejak tahun 2022 hingga saat ini. Berikut hasil laporan distribusi PMT yang diberikan kepada 305 peserta posyandu yang diantaranya adalah sasaran balita stunting: Tabel 2 Distribusi PMT bagi Balita di desa Penujak . Jenis Kegiatan Output Outcome Pemberian PMT sebanyak 6 kali dalam satu tahun Penurunan angka stunting dari 305 sasaran posyandu 51 diantaranya adalah balita stunting mengalami penurunan menjadi 44 Pemberian PMT sebanyak 12 kali dalam satu tahun Penurunan angka stunting dari 305 sasaran posyandu 44 diantaranya adalah balita stunting dan kini Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Sumber: Olah data Posyandu Penujak Menurut penjelasan dari tabel diatas, program pemberian makanan tambahan (PMT) memberikan manfaat bagi segala aspek pertumbuhan dan perkembangan anak berdasarkan grafik dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Pencatatan ini dilakukan secara rutin untuk mengetahui progres berat badan anak berdasarkan usia pertumbuhan. Sehingga dari 305 peserta posyandu, sejak tahun 2022 hingga 2024 maka diketahui bahwa tersisa 20 catatan balita stunting yang masih ditangani dan perlu perhatian lebih dari kader posyandu agar dapat mewujudkan posyandu Mantung bebas stunting. Pada tahun 2022 menurut data pemerintah desa, kasus balita stunting masih cukup tinggi hal tersebut dibuktikan dari banyaknya jumlah sasaran peserta posyandu yakni 1210, 239 diantaranya merupakan peserta dengan kondisi stunting. Sehingga berbagai langkah kegiatan Progress in Social Development: Volume 5 No 2 July 2024 dilakukan pemerintah dan perusahaan untuk dapat menurunkan angka tersebut. Pada tahun 2024 menurut data yang diperoleh dari pemerintah desa, kini angka stunting di Desa Penujak mengalami penurunan yang cukup signifikan sebab dapat menghapus 116 kasus balita stunting dalam dua tahun. Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Intervensi Stunting Pemberdayaan masyarakat menurut Edi Suharto . adalah sebuah cara sekaligus tujuan sebagai bentuk aktivitas dalam mendukung daya maupun keberdayaan kelompok rentan dalam masyarakat sebagai bentuk penyelesaian masalah kemiskinan. Pemberdayaan dicirikan dengan adanya kondisi ataupun perubahan sosial dari berbagai segi yaitu materi, ekonomi dan sosial termasuk kepercayaan diri aspirasi, mata pencaharian, kontribusi melalui kegiatan sosial dan bertujuan dalam kemandirian. Salah satu contoh program yang di laksanakan dimasyarakat ring 1 PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL adalah Program Peduli Stunting. Program yang di awali dari revitalisasi posyandu di desa Penujak ini menjadi langkah awal yang di lakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL dalam rangka penyediaan fasilitas kesehatan terpadu yang mudah dijangkau serta nyaman bagi masyarakat. Program intervensi stunting ini sudah berjalan selama 2 tahun sejak 2022 sebagai bentuk respon terhadap permasalahan sosial di wilayah Ring 1 perusahaan yaitu stunting. Masalah kesehatan yang menjadi locus utama baik dari level pemerintah daerah hingga program yang masuk dalam target agenda nasional hingga organisasi dunia WHO juga mengkritisi upaya penyelesaian permasalahan gizi pada balita usia lima tahun pertama. Melalui program penurunan stunting dimasyarakat. PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL memiliki kegiatan-kegiatan yang di fokuskan dalam penyelesaian masalah stunting, seperti penyediaan alat-alat kesehatan serta bantuan-bantuan pendukung lainnya yang diberikan sebagai penunjang fasilitas dan meningkatkan kunjungan masyarakat ke posyandu. Adapun program gagasan perusahaan yang bertujuan dalam mereduksi kasus stunting di desa Penujak kabupaten Lombok tengah ini di implementasikan selama dua tahun terakhir sejak tahun 2022. Berikut agenda kegiatan yang melibatkan kader posyandu sebagai mitra binaan yang menjadi kepanjangan tangan dari perusahaan dalam mentransfer pengetahuan dan bantuanbantuan dalam upaya penanganan penurunan angka stunting di Desa Penujak: Posyandu dan Pemberian Makanan Tambahan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan program paling awal yang dimulai oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL yang dilaksanakan pada akhir tahun 2022. Kegiatan yang dijalankan setiap bulan ini mendistribusikan makanan tambahan dengan nilai gizi terpenuhi ke empat posyandu di Desa Penujak. PMT yang diberikan yaitu makanan tambahan berbentuk biskuit dengan formula khusus dan difortifikasi dengan vitamin dan mineral untuk bayi dan balita usia 6-59 bulan dengan kategori AukurusAy serta pemberian makanan tambahan melalui olahan makanan yang tinggi akan protein hewani. Program ini bertujuan sebagai bentuk peningkatan kebutuhan gizi balita melalui PMT namun bukan sebagai pengganti makanan utama Kemenkes RI . Pemberian Makanan Tambahan digolongkan menjadi 2 kategori yaitu PMT Penyuluhan dan PMT Pemulihan. Upaya yang dilakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL ialah melalui kegiatan PMT Pemulihan dimana kegiatan ini merupakan pemberian makanan bergizi yang bertujuan untuk memulihkan gizi balita dengan memberikan makanan bergizi cukup untuk balita sebagai kelompok sasaran balita dengan gizi buruk dan balita dengan gizi kurang usia 6-59 bulan (Kemenkes RI: Penanggulangan gizi kurang pada balita salah satunya dengan memberikan makanan tambahan Gambar 1. Pelayanan Posyandu dan Pemberian PMT Balita Program PMT pemulihan memberikan dampak pada perubahan status gizi balita berdasarkan kualitas makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan sasaran sebagai upaya peningkatan perbaikan status gizi balita. Program PMT pemulihan diberikan selama 12 kali dalam satu tahun. Berdasarkan hasil pengamatan dari posyandu setempat, bentuk intervensi PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL dalam PMT pada tingkat desa telah mampu menurunkan angka stunting sebesar 46,44% pada tahun 2022. Kemudian sepanjang tahun 2023 tercatat kegiatan ini mampu menurunkan angka stunting di Desa Penujak sebesar 66%. Hal tersebut sejalan dengan hasil pendataan kader posyandu atas nilai tinggi badan dan berat badan balita stunting yang menjadi sasaran program. Bulan januari 2023 terhitung sebanyak 44 balita stunting yang mendapatkan bantuan PMT pemulihan hingga bulan desember 2023 tercatat mengalami kenaikan terhadap perkembangan status gizi hingga menyisakan 35 balita stunting yang perlu diberi perhatian lebih. Pendistribusian PMT dilakukan selama kurun waktu 1 bulan kepada sasaran dalam mempertahankan status gizi normal balita Pemberian bibit TOGA (Kebun Giz. Pemberian bibit TOGA (Tanaman Obat Keluarg. untuk kader posyandu sebagai bagian dari implementasi KRPL. Kawasan Rumah Pangan Lestari atau KRPL merupakan program yang digagas oleh pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat dalam mengembangkan model rumah pangan suatu kawasan . usun, desa, kecamata. dengan memanfaatkan pekarangan ramah lingkungan dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga melalui penyediaan aneka sayur dan buah serta protein hewani. Program ini termasuk salah satu dari Aksi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi yang tertulis dalam Peraturan Gubernur Nomor 68 Tahun 2020. Kegiatan ini diselenggarakan ditahun 2023 dengan pemberian bantuan bibit tanaman seperti kumis kucing, kunyit, jahe, kencur, tomat, dan cabai sebanyak 300 bibit sebagai upaya meningkatkan kemandirian kader melalui gerakan pangan lokal berbasis keluarga. Pemberian bibit cabai merupakan tantangan bagi masyarakat dikarenakan fluktuasi harga cabai yang tidak menentu sehingga harapannya mampu mendistribusikan hasil panen sebagai kebutuhan pangan yang tercukupi serta membudayakan masyarakat mengkonsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman (B2SA). Gambar 2. Pemberian Bibit di Kebun Gizi Pelatihan Mengolah Menu MPASI Faktor ekonomi merupakan bagian dasar dari permasalahan pokok kebutuhan manusia begitupula kaitannya dengan pengaruh gizi pada anak. Kondisi ekonomi yang buruk menghambat pemberian asupan makanan bergizi cukup sehingga penghasilan orang tua menjadi faktor berpengaruh dan menentukan daya beli makanan bagi anak. Faktor lain yang membawa pengaruh terhadap status gizi anak dijelaskan dalam penelitian Hestuningtyas & Noer, . terdapat pengaruh edukasi gizi pada ibu tentang pemberian makanan tambahan terhadap status gizi mendorong dampak positif pada penambahan berat badan, tinggi badan dan penurunan prevalensi gizi kurang dan stunting. Jika transformasi pengetahuan dan perilaku ibu mengenai pemberian makanan tambahan diperoleh dengan baik dampak positif terhadap kasus kekurangan gizi dapat diatasi. Menjawab hal tersebut untuk dapat meningkatkan pendapatan ekonomi dan pemberian gizi yang mudah didapatkan. PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL bekerjasama dengan BKKBN provinsi NTB mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas bagi kader posyandu dalam mengolah menu MPASI yang diselenggarakan pada juli 2023. Kegiatan tersebut meliputi pemberian sosialisasi gizi, pemberian pedoman dan pelatihan pengolahan menu MPASI yang memperhatikan kecukupan gizi dari protein hewani yang dibutuhkan dalam mengawal pertumbuhan anak. Pelatihan ini diselenggarakan sebagai dorongan kreatifitas untuk kader posyandu dalam menciptakan variasi olahan makanan sehat berdasarkan takaran gizi yang terukur sehingga garda terdepan sebagai eksukutor rumah tangga ini mampu menyebarluaskan pengetahuannya kepada orangtua anak dengan status gizi kurang dan stunting. Selain itu kegiatan ini juga memberikan stimulan bagi peserta pelatihan bahwa makanan bergizi tidak sepenuhnya berasal dari makanan yang mewah dan mahal akan tetapi banyak bahan makanan disekitar lingkungan kita yang mudah didapatkan Progress in Social Development: Volume 5 No 2 July 2024 dan ditemui kemudian diolah menjadi makanan sehat bergizi seperti contoh ikan tongkol yang dapat diolah menjadi nugget ikan. Gambar 3. Pelatihan Mengolah Menu MPASI Demo MPASI Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengemukakan bahwa angka kesehatan dunia hanya sebesar 44% bayi yang mendapatkan ASI ekslusif dalam kurun waktu 2015-2020. Beberapa faktor yang melatar belakangi permasalahan gizi antara lain sebab kondisi sosial budaya, ekonomi, dan pendidikan (Khoirunnisah, 2. Pemberian ASI ekslusif diberikan kepada bayi saat uisa 6 bulan. Bayi dalam perkembangannya sudah dapat merangsang dan menerima perbedaan secara fisik jenis makanan serta sudah siap dalam menerima transisi pemenuhan makanan selain ASI. Masa transisi inilah yang dinamakan MPASI atau makanan pendamping air susu ibu. Pentingnya ASI diberikan secara maksimal disertai makanan pendamping ASI dengan benar agar pertumbuhan bayi tidak terhambat (Raden dkk, 2. Ni Komang dkk . menambahkan bahwa MPASI yang diberikan perlu memperhatikan porsi yang dibutuhkan yaitu kecukupan, waktu, tekstur, variasi, metode pemberian dan kebersihannya Edukasi Makanan Pendamping ASI diberikan oleh kelompok sasaran sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting melalui penyebarluasan pengetahuan. Ibu yang memiliki pengetahuan kurang dalam memberikan MPASI melakukan jalan pintas dengan kebiasaan memberikan susu kental manis pada balita agar mudah kenyang. Meskipun demikian, balita akan rentan terkena penyakit infeksi akibat asupan makanan yang tidak sesuai dengan kecukupan gizi yang diberikan (Yunita et al. ,2. Menanggapi fenomena yang masih dianggap lumrah tersebut oleh sebagian masyarakat dalam pemenuhan asupan gizi balita PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL melakukan langkah edukasi berbentuk demo memasak MPASI yang diselenggarakan pada Agustus 2023 dengan sasaran ialah kader posyandu dan ibu balita. Harapannya sasaran kegiatan ini mampu memenuhi asupan gizi anak baik secara dtekstur, porsi dan variasi yang diberikan sesuai dengan perkembangan tumbuh kembang anak berdasarkan usianya. Gambar 4. Demo MPASI Agenda tersebut menjelaskan resep MPASI yang di demonstrasikan antara lain nasi tim ikan patin untuk bayi berusia 9-11 bulan dan bubur ayam tempe bayam brazil untuk balita berusia 6-8 bulan. Kedua resep tersebut merupakan resep simple yang dapat di praktikan oleh peserta pelatihan karena dari segi bahan dan cara pembuatan mudah dan terjangkau. Selain cara memasak menu yang simple. MPASI yang di demokan juga memperhatikan kelengkapan gizi masing-masing menunya seperti karbohodrat, protein hewani, lemak dan zat gizi mikro lainnya. Salah satu faktor dalam memenuhi tumbuh kembang bayi adalah asupan nutrisi. Nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi secara optimal dapat memenuhi fungsi dan pertumbuhan organ tubuh secara menyeluruh. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai acuan pemenuhan gizi bayi. Usia 6-8 bulan bayi membutuhkan 200 kalori/hari dengan frekuensi pemberian makan 2-3 kali sehari. Sedangkan usia 9-11 bulan membutuhkan 300 kalori/hari dengan frekuensi pemberian makan 3-4 kali sehari. MPASI yang diberikan secara teratur mampu memberikan pengaruh terhadap perkembangan kemampuan anak dalam menerima berbagai variasi makanan dari rasa dan bentuknya sehingga dapat merangsang kemampuan bayi untuk mengunyah, menelan dan beradaptasi dengan makanan baru (Santi, 2. Pada program demo memasak MPASI yang di selenggarakan oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL ini menampilkan ide resep yang sebagian besar berasal dari pangan lokal antara lain umbi-umbian, kacang-kacangan, daging, ikan, susu, telur, sayuran dan buah-buahan. Selain itu, ibu balita dan kader posyandu dibekali poster-poster kesehatan baik tentang gizi seimbang AuIsi PiringkuAy maupun poster pola hidup bersih dan sehat. Lomba Cipta Menu MPASI Peran orang tua dalam pemenuhan gizi anak sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan anak dimasa Hal ini sebagian besar ditentukan oleh keberpihakan seorang ibu dalam pengasuhan utama pemenuhan gizi pada anak (Leda et al,. Tentunya hal ini menjadi pengalaman berharga untuk terus belajar dan mendalami kebutuhan anak utamanya pada makanan sebagai investasi di masa mendatang. Tidak hanya sebatas memberikan pengetahuan dan pembelajaran sebagai bekal dalam menyongsong masa depan anak, keterlibatan PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL menyusun agenda perencanaan, evaluasi hingga tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya. Sebagai aksi tindak lanjut yang dilakukan, sasaran penerima manfaat diberikan kesempatan untuk mengasah kemampuan dalam lomba memasak menu MPASI. Kegiatan ini ditujukan untuk menarik minat dan perhatian orangtua khususnya ibu-ibu untuk lebih memahami dan membangun kesadaran terhadap bahaya stunting pada anak. Selain itu, melalui konsep adaptasi dan kebiasaan baru posyandu sebagai mitra perusahaan dilibatkan dalam pemetaan sasaran kegiatan tersebut antara lain mampu menghadirkan 19 posyandu yang berada di Desa Penujak untuk turut aktif dan berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan. Gambar 5. Lomba Cipta Menu MPASI Kegiatan lomba cipta MPASI tidak sebatas praktik memasak variasi menu MPASI terbaik namun juga mencetak buku resep MPASI rekomedasi dari Puskesmas UPTD Penujak bagi seluruh peserta yang Buku MPASI yang dibagikan tersebut harapannya mampu menjadi pedoman bagi orang tua dalam membuat resep MPASI yang berkualitas dari rumah. Tidak hanya itu, buku dan resep terbaik ini menjadi acuan PMT bagi beberapa posyandu di Desa Penujak. KESIMPULAN Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh pemangku kepentingan yang memiliki kekuasaan dan sumber pendanaan untuk melakukan suatu program dan kegiatan sebagai bentuk kontribusi. Salah satu bentuk pengabdian pada masyarakat yang dilakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai tindakan dalam merespon isu kesehatan yang ada di Desa Penujak. Kecamatan Praya Barat. Kabupaten Lombok Tengah terkait isu Sebuah inovasi dalam penurunan stunting ini dimulai dari upaya promotif dengan sasaran kader posyandu setempat di Ring 1 sekaligus upaya-upaya penunjang lain seperti tindakan preventif melalui revitalisasi posyandu, pemberian edukasi gizi, bantuan kebun gizi sebagai ketahanan pangan lokal masyarakat, ada pula demo MPASI yang merupakan bagian dari promosi kesehatan secara langsung pada sasaran, pemberian edukasi ini tidak sebatas materi lisan saja namun sasaran dipandu untuk memasak menu MPASI yang mudah dijangkau dan dibuat serta memenuhi takaran gizi seimbang untuk anak. Sebagai tolok ukur keberhasilan program. PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL juga mengadakan lomba kreasi MPASI yang di ikuti oleh seluruh kader posyandu dan orang tua sasaran posyandu dalam hal ini keterlibatan ibu-ibu. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut merupakan bukti dari komitmen perusahaan dalam rencana pembangunan berkelanjutan dan target pengentasan stunting nasional pada tahun 2030 mendatang. Progress in Social Development: Volume 5 No 2 July 2024 Melalui program pemberian makanan tambahan (PMT) yang diberikan selama 12 bulan menghasilkan peningkatan Gizi sebesar 47% pada tahun 2023 dari 305 Balita yang menerima pemberian makanan tambahan dan edukasi pemberian MPASI pada ibu dengan anak penderita stunting. Jumlah Balita stunting di desa Penujak yang menjadi sasaran posyandu berjumlah 1210 balita dengan temuan kasus stunting sejumlah 239 balita di tahun 2023 dan secara significant mengalami peningkatan penurunan hingga 123 balita di tahun Berdasarkan intervensi yang dilakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL mampu memberikan kontribusi kecukupan gizi pada balita stunting sebesar 47% di masyarakat. DAFTAR PUSTAKA