Recoms: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 2 Desember 2025 E-ISSN: 2987-0909 KONSEP TAZKIYATUN NAFS DALAM KIDUNG WAHYU KOLOSEBO KARYA SRI NARENDRA KALASEBA Wisnu Mahendra Ramadhani. Muhammad RifaAoi Subhi Universitas Islam Negeri KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Indonesia E-Mail Correspondence: wisnu. ramadhani@mhs. ABSTRACT This study explores the concept of Tazkiyatun Nafs . piritual purificatio. in Kidung Wahyu Kolosebo by Sri Narendra Kalaseba as a form of integration between Islamic spirituality and Javanese culture. Using a qualitative approach with hermeneutic and Sufistic methods, the research interprets the symbolism and spiritual meaning contained in the songAos lyrics in relation to Imam al-GhazaliAos Sufi teachings, particularly the three stages of soul purification: Takhalli . mptying oneself of negative trait. Tahalli . dorning oneself with virtuous qualitie. , and Tajalli . ivine The findings reveal that Kidung Wahyu Kolosebo serves not merely as a cultural artifact of aesthetic value but also as a medium of daAowah and spiritual education, guiding individuals to control their desires, cultivate noble character, and attain closeness to Allah SWT. Its lyrics portray the inner journey from self-restraint to spiritual enlightenment, symbolized by the phrase Auwahyu kolosebo,Ay representing the unification of the servantAos will with the Divine will. This study concludes that Javanese traditional literature can function as an effective medium for moral and spiritual development in contemporary society, demonstrating harmony between Sufi values and the local wisdom of the Nusantara. Keywords: Kidung Wahyu Kolosebo. Tazkiyatun Nafs. Sufism This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license. DOI: 10. 59548/rc. JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang beragam, di mana nilai-nilai keagamaan, khususnya ajaran Islam, tertanam kuat dalam kehidupan masyarakatnya (Biantoro, 2. Kidung merupakan salah satu bentuk karya sastra dan budaya Jawa yang mengandung nilai religius yang mendalam. Sebagai produk budaya, kidung tidak hanya hadir dalam bentuk lagu, tetapi juga terejawantahkan melalui tindakan, kisah, dan pertunjukan yang sarat dengan pesan moral dan spiritual. Keindahan seni yang terkandung di dalamnya berperan penting dalam menumbuhkan motivasi untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama, mencintai diri sendiri, serta mempererat hubungan spiritual dengan Tuhan. Dengan demikian, seni dan budaya seperti kidung memiliki daya hidup yang kuat dan tetap lestari sepanjang waktu (Puspitorin, 2. Salah satu wujud nyata dari kekayaan tersebut adalah Kidung Wahyu Kolosebo, sebuah karya musik berbahasa Jawa yang telah menjadi bagian penting dari khazanah budaya bangsa (Biantoro, 2. Kidung Wahyu Kolosebo merupakan bagian dari musik tradisional Jawa yang dinyanyikan dengan iringan instrumen khas gamelan. Kidung ini dipandang sebagai karya sakral yang memiliki kekuatan spiritual untuk menggugah kesadaran batin manusia dan membuka pemahaman terhadap hakikat kehidupan. Sebagai bentuk ekspresi seni. Kidung Wahyu Kolosebo tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya yang bernilai estetis, tetapi juga sebagai media dakwah yang digunakan oleh para wali dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Isi teks kidung ini sarat dengan pesan moral dan nasihat tentang bagaimana manusia seharusnya berperilaku sesuai dengan tuntunan agama. Melalui ajarannya, pencipta kidung berharap dapat menuntun manusia untuk menundukkan hawa nafsu, memperbaiki diri, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT (Susanti, 2. Nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam kidung ini memiliki kesesuaian dengan ajaran tasawuf yang menekankan pada penyucian jiwa dan pengendalian nafsu. Dalam upaya mengembalikan manusia kepada fitrahnya atau jalan kebenaran, diperlukan usaha yang dilakukan secara berkelanjutan, salah satunya melalui penerapan ajaran dan praktik tasawuf. Tujuan esensial dari ajaran tasawuf adalah mengantarkan manusia untuk kembali mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui proses penyucian jiwa yang dikenal dengan istilah tazkiyah an-nafs. Proses ini menjadi sarana spiritual bagi individu untuk membersihkan diri dari sifat-sifat duniawi serta menumbuhkan kesadaran ilahiah guna mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Tazkiyatun Nafs merupakan salah satu konsep fundamental dalam ajaran Islam yang bermakna pensucian jiwa atau pembersihan diri secara spiritual. Konsep ini menekankan pada upaya sistematis untuk membersihkan hati dan jiwa manusia dari berbagai sifat RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM tercela, seperti kesombongan, kebencian, dan keegoisan, serta menumbuhkan sifat-sifat terpuji, seperti keikhlasan, kesabaran, dan kebijaksanaan. Dengan demikian. Tazkiyatun Nafs menjadi proses pembinaan moral dan spiritual yang bertujuan untuk mencapai kesucian batin sekaligus kedekatan dengan Allah SWT (Zakia et al. , 2. Nilai-nilai penyucian jiwa ini juga tercermin dalam Kidung Wahyu Kalasebo, sebuah karya spiritual yang telah banyak diadaptasi dan dinyanyikan ulang oleh berbagai pihak karena keindahan lirik serta melodinya yang menyentuh. Melalui lantunan nadanya, pendengar seolah diajak untuk melakukan refleksi diri atas segala perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Kidung ini memiliki kekuatan spiritual yang mampu menggugah kesadaran manusia untuk senantiasa mengingat Allah SWT, menjauhi segala laranganNya, serta berupaya melaksanakan perintah-Nya dengan penuh keikhlasan (Susanti. Sejauh ini, kajian terhadap Kidung Wahyu Kolosebo lebih banyak difokuskan pada aspek estetika, simbolik, dan nilai moralnya. Namun, penelitian yang menelaah karya ini dari perspektif tasawuf, khususnya terkait nilai-nilai tazkiyatun nafs, masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji secara mendalam nilai-nilai tazkiyatun nafs dalam Kidung Wahyu Kolosebo karya Sri Narendra, serta relevansinya dengan ajaran tasawuf sebagai upaya penyucian diri menuju kedekatan dengan Allah SWT. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu tasawuf dan memperkaya pemahaman tentang integrasi antara budaya lokal dan spiritualitas Islam. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif adalah sejauh mana kemampuan peneliti dalam mendeskripsikan teori-teori yang berkaitan dengan bidang serta konteks sosial yang sedang diteliti (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini dengan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. berhubungan dengan telaah teoritis serta berbagai referensi yang relevan dengan nilai, budaya, dan norma yang tumbuh dan berkembang dalam konteks sosial yang menjadi objek penelitian (Sugiyono, 2. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian terletak pada kajian makna, nilai-nilai spiritual, dan ajaran tasawuf yang terkandung dalam Kidung Wahyu Kolosebo karya Sri Narendra. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami fenomena makna dan simbolisme secara mendalam tanpa menggunakan data statistik. Tujuan utamanya adalah memperoleh pemahaman komprehensif mengenai pesan-pesan spiritual yang terkandung dalam karya sastra bernuansa religius tersebut. Selain bersifat kualitatif, penelitian ini juga menggunakan pendekatan hermeneutik dan sufistik. Pendekatan hermeneutik berfungsi untuk menafsirkan teks dan simbolsimbol yang ada dalam lirik kidung, sedangkan pendekatan sufistik digunakan untuk RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM menguraikan nilai-nilai tazkiyatun nafs . enyucian jiw. berdasarkan pandangan tasawuf. Melalui perpaduan kedua pendekatan ini, peneliti berupaya mengungkap makna yang tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga spiritual dan moral. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah teks Kidung Wahyu Kolosebo karya Sri Narendra yang dijadikan sebagai bahan utama dalam analisis. Sumber sekunder berasal dari berbagai literatur yang relevan, seperti buku, jurnal, dan artikel ilmiah mengenai konsep tazkiyatun nafs, nilai-nilai sufistik, kajian sastra Islam, dan penelitian sebelumnya tentang karya Sri Narendra atau kidung bernuansa religius. Seluruh sumber diperoleh dari perpustakaan kampus dan jurnal ilmiah daring seperti Google Scholar yang relevan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan dokumentasi. Studi literatur dilakukan dengan cara menelusuri berbagai referensi yang relevan dengan konsep penyucian jiwa, nilai-nilai tasawuf, serta kajian terhadap sastra keagamaan. Teknik dokumentasi dilakukan dengan menyalin, mencatat, dan mengklasifikasikan liriklirik dalam Kidung Wahyu Kolosebo yang mengandung makna moral dan spiritual. Setiap data kemudian dianalisis secara mendalam melalui pembacaan berulang agar ditemukan hubungan antara makna simbolik dalam teks dengan ajaran tazkiyatun nafs dalam tasawuf. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis isi . ontent analysi. merupakan bentuk analisis mendalam yang dapat menggunakan teknik kuantitatif maupun kualitatif terhadap pesan-pesan dengan menggunakan metode ilmiah serta tidak terbatas pada jenis variabel yang dapat diukur maupun pada konteks tempat pesan-pesan tersebut diciptakan atau disajikan (Naamy, 2. Analisis isi dalam interprestasi hermenutika digunakan untuk menyeleksi dan menafsirkan bagian-bagian teks yang relevan dengan tema penyucian jiwa, sedangkan pendekatan hermeneutik membantu dalam memahami makna yang tersembunyi di balik simbol-simbol bahasa. Proses analisis dilakukan dengan menafsirkan nilai-nilai takhalli . embersihan diri dari sifat tercel. , tahalli . enghiasan diri dengan sifat-sifat terpuj. , dan tajalli . enyingkapan nur Ilah. yang tercermin dalam lirik-lirik kidung. Hasil interpretasi kemudian dibandingkan dengan teori tasawuf klasik untuk memperoleh pemahaman yang Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teori aitu untuk menguji keabsahan dan kevalidan dari berbagai sudut pandang sehingga diperoleh data yang baik, absah, valid, dan bernilai (Sugiyono. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan hasil temuan dari teks Kidung Wahyu Kolosebo dalam pandangan para tokoh sufi Al-Ghazali. Sedangkan triangulasi teori dilakukan dengan mengombinasikan teori tasawuf, teori hermeneutik, dan teori semiotik sastra agar hasil penelitian bersifat valid, objektif, dan dapat RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Hasil dan Pembahasan Kidung Wahyu Kolosebo dalam Makna dan Struktur Simbolik Kidung wahyu kolosebo secara maknawi, istilah wahyu diartikan sebagai anugerah atau pemberian Ilahi, sedangkan kolo berarti waktu, dan sebo bermakna menghadap kepada Sang Pencipta (Fran Siska, 2. Berikut lirik beserta makna dari Kidung Wahyu Kolosebo: AuRumekso ingsun laku nisto ngoyo woro kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro. Senajan setan gentayangan, tansah gawe rubedo Hinggo pupusing jaman. Ay Maknanya: Dengan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan, manusia berjuang menjaga diri dari perilaku tercela dan hina yang bersumber dari hawa nafsu. Dengan sepenuh kesadaran, seseorang berusaha mengendalikan dorongan angkara murka yang menyesatkan, meskipun godaan setan akan terus ada hingga akhir . AuHameteg ingsun, nyirep geni wiso murko, meper hardaning ponco, saben ulesing netro. Linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan Sang Hyang Jati Pengeran. Ay Maknanya: Dengan tekad yang kuat, manusia berusaha memadamkan gejolak amarah dan mengendalikan pancaindra dalam setiap gerak dan Semua dilakukan dengan dilandasi oleh kasih sayang dan welas asih dari Tuhan Yang Maha Mulia. Sang Pemberi Kemuliaan Sejati. AuJiwanggo kalbu samudro pepuntoning laku, tumuju dateng Gusti Dzat Kang Amurbo Dumadi. Manunggaling kawulo Gusti, krenteg ati bakal dumadi, mukti ingsun tanpo Ay Maknanya: Hati menjadi samudra penuntun segala perilaku manusia menuju Tuhan. Sang Pencipta dan Pemelihara seluruh makhluk. Ketika seorang hamba telah mencapai penyatuan dengan Tuhannya . anunggaling kawula Gust. , setiap kehendak dan doa akan terwujud, serta kebahagiaan sejati tercapai tanpa batas dan penghalang. AuSumebyar ing sukmo madu sarining perwito, maneko warno prodo mbangun projo Sengkolo tido mukso kolobendu nyoto sirno, tyasing roso mardiko. Ay Maknanya: Kekuatan spiritual menyebar ke dalam jiwa seperti sari madu yang murni, membentuk kesempurnaan diri sebagaimana motif prada yang indah pada batik. Segala kesialan dan penderitaan sirna, sehingga melahirkan kemerdekaan dan kebebasan batin dalam diri manusia. AuMugiyo den sedyo pusoko kalimosodo, yekti dadi mustiko sak jeroning jiwo rogo. Bejo sigro-sigro. Ay Maknanya: Semoga kalimat syahadat menjadi pusaka spiritual yang menjadi pelindung jiwa dan raga. Melalui kekuatan kalimat tersebut, keberkahan. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM kemuliaan, kebijaksanaan, kekuatan, dan kewibawaan akan terwujud secara nyata dalam kehidupan manusia. AuAmpuh sepuh wutuh tan keno iso paneluh, gagah bungah sumringah ndadar ing wayah Satriyo toto sembodo, wirotomo katon sewu kartiko. Ketaman wahyu kolosebo. Ay Maknanya: Manusia yang telah mencapai kesempurnaan spiritual akan memiliki jiwa yang kuat, tidak mudah terpengaruh oleh keburukan atau sihir. tampil gagah, berani, penuh semangat, dan bahagia setiap waktu. Sosok tersebut menjadi kesatria pembawa kebenaran, penebar kedamaian, dan memperoleh wahyu kalasebo sebagai simbol kedekatan dengan Tuhan. AuMemuji ingsun kanthi suwito linuhung. Segoro gondo arum, suh rep dupo kumelun. Ginulah niat ingsun hangidung sabdo kang luhur Titahing Sang Hyang Agung. Ay Maknanya: Aku mempersembahkan pujian dengan penuh ketundukan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi. Lautan kehidupan tercium harum seperti dupa yang semerbak, melambangkan kemurnian hati, niat, dan tekad dalam melantunkan sabda yang luhur sesuai dengan perintah Tuhan Yang Maha Agung. AuRembesing tresno tondho luhing netro roso, roso rasaning ati kadyo tirto kang suci. Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang, palilahing Sang Hyang Wenang. Ay Maknanya: Rembesan kasih Ilahi melahirkan air mata keharuan yang suci, menggambarkan penyucian hati dan perasaan. Doa dan mantra yang tulus menjadi cahaya penerang kehidupan berkat anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. AuNowo dewo jawoto, tali santiko bawono, prasido sidhikoro ing sasono asmoroloyo. Sri Narendro koosebo winisudo ing gegono, datan gingsir sewu warso. Ay Maknanya: Sembilan manifestasi dewa Jawa, yang melambangkan sembilan penjuru mata angin, menjadi simbol kekuatan alam semesta yang menjaga Di langit spiritual. Sang Raja Kalasebo dimuliakan dan dibaiat secara abadi, tidak akan tergantikan atau sirna bahkan hingga seribu tahun lamanya (Fran Siska 2. Dengan demikian. Kidung Wahyu Kalasebo dapat dipahami sebagai tembang yang berfungsi untuk mengarahkan hati manusia agar senantiasa kembali dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan harapan memperoleh limpahan rahmat, petunjuk, serta anugerah dari-Nya. Kidung ini juga dinilai memiliki nilai sufistik dan mistis (Fitriyati, 2. Konsep Tazkiyatun Nafs dalam Kidung Wahyu Kolosebo Setelah dilakukan analisis terhadap lirik Kidung Wahyu Kolosebo, penulis menemukan bahwa karya sastra religius ini sarat dengan ajaran ketauhidan dan nilai-nilai spiritual yang berorientasi pada penyucian jiwa . azkiyah an-naf. Kidung ini mengandung tuntunan moral bagi manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan Setiap RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM pengendalian diri, pembersihan hati, dan peningkatan kesadaran spiritual sebagaimana diajarkan dalam tasawuf Islam. Melalui penelusuran makna-makna simbolik dan pesanpesan moral yang tersirat di dalamnya, dapat diidentifikasi nilai-nilai tazkiyah yang sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran Imam al-Ghazali tentang takhalli, tahalli, dan tajalli. Oleh karena itu. Kidung Wahyu Kolosebo dapat dipahami sebagai ekspresi penyucian jiwa dalam tradisi spiritual Jawa yang berpadu dengan nilai-nilai Islam. Berikut tazkiyatun nafs dalam kidung wahyu kolosebo: Tazkiyatun Nafs Takhali dalam Kidung Wahyu Kolosebo Takhali, dimaknai sebagai proses pembersihan diri dari berbagai sifat tercela seperti hasad, suAouzan, takabur, ujub, riyaAo, dan ghadzab, serta menjauhi segala bentuk maksiat lahir maupun batin. Dalam pandangan para sufi, maksiat lahir berkaitan dengan perilaku buruk yang dilakukan melalui anggota tubuh atau pancaindra, sedangkan maksiat batin berakar dari penyakit hati (Musyrifah, 2. Nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam konsep takhali tersebut tercermin dalam lirik Kidung Wahyu Kolosebo, sebagaimana pada lirik AuRumekso ingsun laku nisto ngoyo woro kelawan mekak howoAAy lirik ini yang bermakna AuDengan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan, manusia berjuang menjaga diri dari perilaku tercela dan hina yang bersumber dari hawa nafsu. Ay Lirik ini menggambarkan usaha manusia dalam menahan dan mengendalikan dorongan hawa nafsu yang menjadi sumber dari berbagai sifat tercela. Dengan demikian, pesan moral dalam kidung tersebut sejalan dengan ajaran tazkiyatun nafs pada tahap takhali, yaitu proses penyucian diri dari segala bentuk perilaku pada pembersihan diri dari sifat-sifat. Keterkaitan antara ajaran tasawuf dan pesan spiritual dalam kidung ini semakin diperkuat oleh pandangan Al-Ghazali dalam Bahrul Abu Bakar yang menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat lathifah, yakni esensi terdalam dari hakikat kemanusiaan yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk hidup lainnya (Bahrun, 2. Tazkiyatun Nafs Tahalli dalam Kidung Wahyu Kolosebo Tahalli merupakan tahap berikutnya dalam proses penyucian jiwa setelah takhalli, yakni upaya menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji serta meninggalkan kebiasaan buruk melalui latihan spiritual yang dilakukan secara konsisten (Siregar. Nilai-nilai tahalli ini tercermin dalam lirik Kidung Wahyu Kolosebo pada lirik AuHameteg ingsun, nyirep geni wiso murko, meper hardaning poncoAAy yang bermakna AuDengan tekad yang kuat, manusia berusaha memadamkan gejolak amarah dan mengendalikan pancaindra dalam setiap gerak dan pandangan. Ay Lirik tersebut menggambarkan proses pengendalian diri dan penaklukan emosi, yang menjadi esensi dari tahalli sebagai bentuk Aukembali,Ay yakni meninggalkan dosa dan kemaksiatan menuju ketaatan dan amal kebajikan setelah menyadari akibat buruk RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM dari perbuatan dosa. Menurut Al-Ghazali dalam Bahrul Abu Bakar, taubat menjadi pondasi utama dalam proses penyucian diri sebagai langkah awal menuju kesucian jiwa dan kedekatan dengan Allah SWT (Bahrun, 2. Jiwa yang berhasil melewati proses takhalli dan tahalli akan bergerak menuju kondisi nafs al-muthmainnah, yaitu jiwa yang tenang, tenteram, dan penuh kepasrahan dalam kedekatannya kepada Allah. Namun, sebelum mencapai derajat tersebut, manusia harus melewati beberapa tingkatan jiwa. Pertama, nafs alammarah bi as-suAo, yaitu jiwa yang cenderung mendorong manusia kepada keburukan dan belum mampu membedakan antara kebenaran dan kesesatan. Kedua, nafs al-lawwamah, yaitu jiwa yang menyesali perbuatan dosa dan berupaya menundukkan hawa nafsu. Tingkatan nafs al-lawwamah ini menjadi fase peralihan menuju nafs al-muthmainnah, di mana manusia mulai menemukan ketenangan batin melalui dzikrullah . engingat Alla. sebagai sarana penyucian spiritual (Bahrun. Nilai tahalli juga tampak dalam lirik AuMugiyo den sedyo pusoko kalimosodoAAy yang bermakna sebagai penguatan iman dan dzikrullah melalui kalimat syahadat yang disebut sebagai pusaka kalimosodo, yaitu pusaka spiritual yang menjaga kesucian jiwa dan raga. Dalam pandangan Al-Ghazali dalam Bahrul Abu Bakar, tahap ini mencerminkan proses pengisian hati dengan cahaya keimanan, ketaatan, dan cinta Ilahi setelah terbebas dari sifat-sifat tercela. Ketika jiwa mencapai kejernihan dan ketenangan melalui dzikrullah, pengaruh nafsu syahwat dan sifatsifat buruk akan tersucikan darinya. Dengan demikian. Kidung Wahyu Kolosebo tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra bernilai estetika dan spiritual, tetapi juga sebagai media pendidikan moral dan tasawuf yang menuntun manusia menuju penyempurnaan jiwa serta kedekatan hakiki dengan Allah SWT (Bahrun, . Tazkiyatun Nafs Tajalli dalam Kidung Wahyu Kolosebo Tajalli Merupakan tahap tajalli, yaitu keadaan ketika seseorang mencapai pencerahan spiritual setelah melalui proses takhalli dan tahalli secara sungguhsungguh. Pada fase ini, jiwa telah terbebas dari dorongan nafsu amarah serta perilaku tercela, dan dipenuhi dengan sifat-sifat ilahiah yang menumbuhkan rasa cinta serta kerinduan yang mendalam kepada Allah SWT (Itris, 1. Lirik AuJiwanggo kalbu samudro pepuntoning lakuAAy yang bermakna AuHati menjadi samudra penuntun segala perilakuAy lirik tersebut menggambarkan tahap tajalli, ketika hati yang telah suci menjadi cermin bagi cahaya Ilahi. Pada tahap ini, seorang hamba mencapai manunggaling kawula Gusti atau kesadaran spiritual tertinggi yang mencerminkan maAorifatullah. Dalam hubungan dengan sifat-sifat jiwa RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM yang ada dalam diri manusia, tazkiyatun nafs menurut Al-Ghazali berarti pembersihan diri dari sifat kebuasan, kebinatangan, dan setan yang kemudian mengisi dengan sifat-sifat ketuhanan (Ependi et. , 2. Selaras dengan hal tersebut, menurut Al-Ghazali jalan menuju maAorifat adalah menggabungkan antara ilmu dan amal dengan memfungsikan keutamaankeutamaan di dunia. Secara psikis dengan memperhatikan kesucian jiwa, yang dilakukan dengan dua hal. Pertama Al-Mujahadat yang berarti kesungguhan menghilangkan segala hambatan, dan kedua Al-Riyadhat yaitu latihan pendekatan diri kepada Allah SWT. Usaha pembersihan diri tersebut dilakukan secara terusmenerus melalui beberapa maqam, yaitu taubat, sabar dan syukur, khouf dan rajaAo, faqir dan zuhud, tauhid dan tawakal, dan mahabbah. Setelah hal-hal tersebut terpenuhi, sampailah ia pada tingkatan paling tinggi yaitu al-maAorifat atau pengetahuan tertinggi tentang Tuhan (Al Ghazali, 1. Selanjutnya, lirik AuSumebyar ing sukmo madu sarining perwitoAAy yang bermakna AuKekuatan spiritual menyebar ke dalam jiwa seperti sari madu yang murniAy lirik ini menggambarkan manifestasi dari kesempurnaan spiritual: jiwa yang bersih memancarkan kekuatan, kedamaian, dan kebahagiaan sejati. Ini merupakan hasil dari tajalli, di mana segala kesengsaraan duniawi lenyap dan digantikan oleh ketenangan batin. Jadi setiap manusia perlu melakukan pembersihan jiwa, supaya dekat dengan sang Pencipta serta menjadi insan kamil. Tazkiyatun nafs diperlukan untuk menumbuhkan spiritual di hati manusia, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, memperoleh kebahagiaan abadi, hati bersinar dan suci (Mulkhan, 1. Adapun lirik AuAmpuh sepuh wutuh tan keno iso paneluhAAy yang bermakna AuManusia yang telah mencapai kesempurnaan spiritual akan memiliki jiwa yang kuatAy lirik ini menggambarkan keadaan jiwa yang telah mencapai maqAm al-insAn al-kAmil, yaitu manusia paripurna yang memiliki kekuatan spiritual tinggi, tidak mudah tergoda oleh keburukan, serta senantiasa berada dalam limpahan cahaya Jiwa pada tingkatan ini telah mencapai keseimbangan antara dimensi lahir dan batin, serta mampu mengendalikan dorongan hawa nafsu melalui penguatan iman dan kesadaran ilahiah. Dalam perspektif Imam al-Ghazali dalam Solchan Ghozali menjelaskan kesempurnaan spiritual tersebut hanya dapat dicapai melalui pemurnian iman, sebab keimanan yang tercemar oleh sifat riyaAo . amer dalam beribada. dan nifaq . akan menghalangi seseorang dari kedekatan dengan Allah SWT. Imam menurut al-Ghazali, merupakan keyakinan yang tertanam kuat di dalam hati, yang terejawantahkan dalam pelaksanaan amal saleh . l-aAomAl aAliua. Ia menjelaskan bahwa iman memiliki tingkatan atau lapisan yang RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM diibaratkan seperti tujuh puluh pintu . abAon bA. , dan menegaskan bahwa iman merupakan seperempat dari keseluruhan bentuk ibadah . ubAoal-AoibAdA. Lebih lanjut, al-Ghazali menempatkan kesabaran sebagai unsur esensial dalam iman, bahkan menyebutnya sebagai separuh dari keimanan itu sendiri . -abr nif almA. Dengan demikian, makna simbolik dalam lirik kidung tersebut selaras dengan pandangan al-Ghazali, bahwa kesempurnaan jiwa . l-kamAl an-naf. hanya dapat dicapai melalui iman yang murni, kesabaran dalam menjalani ujian spiritual, dan pengendalian diri dari segala bentuk sifat tercela (Ghozali, 2. Kemudian, lirik AuMemuji ingsun kanthi suwito linuhung. Segoro gondo arum, suh rep dupo kumelun. Ginulah niat ingsun hangidung sabdo kang luhur Titahing Sang Hyang Agung. Rembesing tresno tondho luhing netro roso, roso rasaning ati kadyo tirto kang suci. Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang, palilahing Sang Hyang Wenang. Ay Yang bermakna AuAku mempersembahkan pujian dengan penuh ketundukan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi. Lautan kehidupan tercium harum seperti dupa yang semerbak, melambangkan kemurnian hati, niat, dan tekad dalam melantunkan sabda yang luhur sesuai dengan perintah Tuhan Yang Maha Agung. Rembesan kasih Ilahi melahirkan air mata keharuan yang suci, menggambarkan penyucian hati dan perasaan. Doa dan mantra yang tulus menjadi cahaya penerang kehidupan berkat anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Ay Lirik ini menggambarkan pengalaman spiritual ekstatis, di mana pujian, air mata, dan rasa kasih menjadi simbol penyatuan antara hamba dan Tuhan. Ini adalah ekspresi tajalli ruhani, yakni tersingkapnya kehadiran Ilahi di dalam kesadaran hamba. Jadi setiap manusia perlu melakukan pembersihan jiwa, supaya dekat dengan sang Pencipta serta menjadi insan kamil. Tazkiyatun nafs diperlukan untuk menumbuhkan spiritual di hati manusia, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, memperoleh kebahagiaan abadi, hati bersinar dan suci. Menurut Al-Ghazali dalam Mulkhan menjelaskan bahwa pengetahuan batin dengan obyeknya adalah ruh dan alatnya adalah hati nurani/batin manusia, adalah pengetahuan yang sejati dan dapat menghasilkan kebenaran yang sejati (Mulkhan, 1. Terakhir, lirik AuNowo dewo jawoto, tali santiko bawono, prasido sidhikoro ing sasono asmoroloyo. Sri Narendro koosebo winisudo ing gegono, datan gingsir sewu warsoAy yanng bermakna AuSembilan manifestasi dewa Jawa, yang melambangkan sembilan penjuru mata angin, menjadi simbol kekuatan alam semesta yang menjaga Di langit spiritual. Sang Raja Kalasebo dimuliakan dan dibaiat secara abadi, tidak akan tergantikan atau sirna bahkan hingga seribu tahun lamanyaAy lirik ini menggambarkan puncak spiritualitas simbolik, di mana kekuatan alam dan manusia bersatu dalam harmoni kosmis. Ini melukiskan keseimbangan batin dan eksternal yang menjadi tanda seseorang telah mencapai RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM ketenangan dan kemerdekaan jiwa dalam pandangan al-Ghazali. Al-Ghazali dalam Hayu AAola Aslami menjelaskan bahwa kitab Jawahirul QurAoan berisi tentang rahasia di balik berbagai amal ibadah dan muamalah. Kitab ini terdiri dari bagian ilmu dan amal-amal lahiriah, bagian ilmu dan amal-amal batiniah, bagian akhlak tercela yang harus dibersihkan, dan bagian akhlak-akhlak terpuji yang harus dijadikan Begitu pula kitab Ihya Ulumuddin yang berisikan ajaran tentang adab, ibadah, tauhid, akidah, dan tasawuf. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ciri khas dalam karya beliau adalah membangkitkan kesadaran diri untuk menjadi insan kamil yang taat pada Sang Pencipta serta bermanfaat bagi sesama makhluk (Aslami, 2. Simpulan Penelitian terhadap Kidung Wahyu Kolosebo karya Sri Narendra menunjukkan bahwa karya sastra Jawa ini merupakan representasi mendalam dari spiritualitas dan ajaran penyucian jiwa yang selaras dengan konsep tazkiyatun nafs dalam tasawuf Islam. Kidung ini tidak hanya berfungsi sebagai produk estetika budaya, melainkan juga sebagai sarana transendental yang merefleksikan perjalanan batin manusia menuju penyempurnaan diri dan kedekatan dengan Allah SWT. Melalui pendekatan hermeneutik-sufistik, penelitian ini mengungkap bahwa struktur naratif dan simbolisme dalam Kidung Wahyu Kolosebo menggambarkan tiga tahapan penyucian jiwa sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli. Tahap takhalli tercermin dalam bagian awal kidung yang menggambarkan perjuangan manusia untuk melepaskan diri dari sifat-sifat tercela seperti amarah, kesombongan, serta nafsu duniawi. Tahap ini merupakan pondasi spiritual yang menyiapkan jiwa untuk menerima nilai-nilai ilahiah. Selanjutnya, tahap tahalli ditunjukkan melalui ajaran moral dan spiritual yang menekankan pentingnya menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji seperti sabar, ikhlas, dan Proses internalisasi nilai-nilai luhur ini menjadi bentuk realisasi dari kesadaran etis dan spiritual yang lahir dari hati yang telah dibersihkan. Kemudian, tahap tajalli digambarkan sebagai puncak pengalaman spiritual ketika tokoh utama memperoleh Auwahyu kolosebo,Ay simbol dari pencerahan batin dan penyatuan kehendak manusia dengan kehendak Ilahi. Pada tahap ini, jiwa mencapai keadaan tenang, tunduk, dan damai sepenuhnya di hadapan Allah SWT. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa Kidung Wahyu Kolosebo tidak hanya berisi pesan moral dan keindahan bahasa, tetapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan spiritual yang mendalam. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran tasawuf klasik dan berfungsi sebagai media dakwah serta pembinaan akhlak yang relevan bagi masyarakat modern. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Dengan demikian, karya ini membuktikan bahwa sastra tradisional Jawa dapat menjadi jembatan antara ajaran Islam dan kearifan lokal, menghadirkan harmoni antara nilai-nilai sufistik dengan budaya spiritual Nusantara. Kidung Wahyu Kolosebo merupakan manifestasi kesatuan estetika, etika, dan spiritualitas yang menjadikan sastra sebagai wahana penyucian jiwa dan pembentukan karakter insan kamil. Referensi