Vol 8. No 1. September 2025. org/10. 38189/jtbh. ISSN 2654-5691 . 2656-4904 . Available at: e-journal. id/index. php/jbh Berkhotbah dengan Kuasa: Pembacaan Matius 5-7 dari Perspektif Pentakostal Han Denny Harseno1 dennyharseno@gmail. Abstract Matthew chapters 5-7 are commonly called the Sermon of Christ on the Mount. The opening (Matt. 5:1-. and concluding verses (Matt. 7:28-. affirm that Jesus taught with divine Through a qualitative method with a literature review approach, this article interprets both passages from a Pentecostal point of view, relating them to homiletics. The findings of the study show that the delivery of the word is not just a human task, but an act of divinity because: the Holy Spirit anoints the preacher, the preacher has spiritual authority, and the powerful preaching causes wonder. The authority in the teaching of Jesus, became the inspiration for the powerful sermons of the Pentecostals. Its implications for today's homiletics include balancing biblical exegesis with spiritual readiness, delivering sermons with divine authority, and a style of preaching that is responsive to the work of the Holy Spirit. Keywords: authority. Matthew 5-7. Pentecostal. Abstrak Matius pasal 5-7 biasa disebut Khotbah Kristus di bukit. Ayat-ayat pembuka (Mat. 5:1-. dan penutupnya (Mat. 7:28-. menegaskan bahwa Yesus mengajar dengan otoritas ilahi. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan tinjauan pustaka, artikel ini menafsirkan kedua bagian tersebut dari sudut pandang Pentakostal, mengaitkan dengan homiletika. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penyampaian firman tidak sekadar tugas manusiawi, melainkan tindakan keilahian karena: Roh Kudus mengurapi penghotbah, pengkhotbah memiliki otoritas rohani, dan khotbah yang berkuasa menimbulkan ketakjuban. Kewibawaan dalam pengajaran Yesus, menjadi inspirasi bagi khotbah penuh kuasa dalam kaum Pentakostal. Implikasinya bagi homiletika masa kini meliputi: penyeimbangan eksegesis alkitabiah dengan kesiapan rohani, penyampaian khotbah dengan wibawa ilahi, dan gaya berkhotbah yang responsif terhadap kerja Roh Kudus. Kata-kata kunci: kuasa. Matius 5-7. Pentakostal. PENDAHULUAN Gereja-gereja Pentakostal-Karismatik mengalami perkembangan spektakuler hingga Abad ini, terutama di Amerika Latin. Afrika, hingga ke Indonesia. Dua ratusan . %) organisasi gereja di Indonesia saat ini adalah rumpun Pentakostal, baik gereja dengan Sekolah Tinggi Teologi Tiberias Jakarta CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Han Denny Harseno: Berkhotbah dengan Kuasa: Pembacaan Matius 5-7 dari Perspektif Pentakostal anggota jutaan orang . maupun hanya satu-dua orang. 2 Beberapa penelitian membahas pertumbuhan gereja yang pesat di kawasan perkotaan Indonesia, terutama dalam lingkup gerakan Pentakostal-Karismatik yang kemudian berkembang menjadi megachurch. Ternyata banyak stereotipe yang melekat pada gereja-gereja Pentakostal-Karismatik, yang kerap digambarkan layaknya pasar ritel pada umumnya, dengan kesan serupa pusat perbelanjaan modern, supermarket, atau toko suvenir. 3 Gereja-gereja besar ini seakan dirancang mengikuti pola persaingan pasar. Stereotipe ini muncul karena bentuk ibadah dan pelayanan mereka sering menggunakan gaya kontemporer, fasilitas megah, dan strategi manajemen yang mirip dunia bisnis. Namun, apakah anggapan ini sepenuhnya adil? Sebab di balik kemasan modern tersebut, gereja tetap berfungsi sebagai ruang spiritual yang berfokus pada penyembahan, pembinaan iman, dan pelayanan sosial. Stereotipe lainnya mengkritik konsep ibadah dan gedung gereja yang dianggap kurang sakral, penggunaan musik yang bernuansa hiburan, berpotensi menimbulkan ibadah yang dangkal secara teologis, praktik ibadah sering kali menampilkan Aukehadiran AllahAy melalui figur pengkhotbah ternama, musisi atau pemimpin pujian bergaya selebritas, serta berbagai ekspektasi jemaat yang kerap menyerupai perilaku penonton sebuah pertunjukan. Kritik terhadap gaya ibadah Pentakostal-Karismatik yang dianggap kurang sakral dan terlalu berpusat pada hiburan mencerminkan kekhawatiran akan pergeseran fokus dari Allah kepada Ketika ibadah lebih menonjolkan figur pengkhotbah atau musisi bergaya selebritas, ada risiko pengalaman iman dipersempit menjadi sekadar sensasi emosional tanpa kedalaman teologis. Simanjuntak menambahkan, gereja-gereja tersebut menghadirkan pengalaman rohani yang khas salah satunya melalui penyampaian khotbah bernuansa motivasional. 5 Ini dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan pengalaman rohani yang relevan dengan kebutuhan jemaat masa kini. Pesan yang menguatkan dan membangkitkan semangat hidup sering kali membantu jemaat menghadapi tantangan sehari-hari dengan iman yang lebih Namun Manafe dan kawan-kawan menyoroti bahwa perubahan zaman memperlihatkan adanya pergeseran fokus khotbah dari yang berpusat pada Kristus menuju Jan S. Aritonang. Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 204Ae5. Fredy Simanjuntak. AuMenelisik Spiritualitas Gerakan Pentakostal-Kharismatik Dalam Potret Megachurch Di Indonesia,Ay DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika 6, no. : 86Ae103. John Jefferson Davis. Worship and the Reality of God-An Evangelical Theology of Real Presence (USA: Intervarsity Press, 2. , 56. Simanjuntak. AuMenelisik Spiritualitas Gerakan Pentakostal-Kharismatik Dalam Potret Megachurch Di Indonesia. Ay CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 tema-tema pragmatis yang berorientasi pada kebutuhan manusia, sehingga berpotensi mengurangi kedalaman dan relevansi teologisnya. 6 Intinya gaya ini menuntut kehati-hatian agar motivasi tidak menggantikan inti teologis khotbah, sehingga penyampaian tetap berakar pada kebenaran Alkitab dan bukan sekadar inspirasi manusiawi. Tambunan dan Andrianti mengatakan, fenomena yang marak di era modern adalah munculnya banyak khotbah di mimbar gereja yang kurang berlandaskan pada kebenaran Alkitab. Kondisi ini menimbulkan kegelisahan bagi sejumlah hamba Tuhan dan jemaat yang setia berpegang pada ajaran Alkitab sebagai firman Allah yang tidak mengandung kesalahan dan memiliki otoritas penuh. 7 Fenomena khotbah yang kurang berlandaskan Alkitab menimbulkan kekhawatiran yang wajar, karena tanpa pijakan pada firman Allah, khotbah berisiko berubah menjadi opini pribadi atau wacana motivasional semata. Bagi jemaat yang meyakini Alkitab sebagai firman Allah yang berotoritas penuh, kondisi ini mengancam kemurnian iman dan arah pertumbuhan rohani. Oleh karena itu, penting bagi para pengkhotbah untuk kembali menegaskan dasar khotbah pada teks Alkitab, agar pesan yang disampaikan bukan hanya relevan secara praktis, tetapi juga setia pada kebenaran ilahi yang menjadi fondasi iman Kristen. Penelitian tentang berkhotbah bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Manafe menautkan khotbah Petrus dalam Kisah Para Rasul 2 dengan relevansi serta implikasinya bagi pengkhotbah masa kini. 8 Setiap pengkhotbah ditantang untuk meneladani kesetiaan Petrus dalam menyampaikan kebenaran Injil secara berani, kontekstual, dan tetap berpusat pada karya keselamatan Kristus, namun belum mengaitkan dengan kuasa Allah. Riset yang dilakukan Tambunan dan Andrianti berfokus pada pemahaman gereja Pentakostal mengenai khotbah topikal. Bagi gereja Pentakostal, khotbah topikal dipandang sebagai salah satu metode penyampaian firman yang tetap setia pada Alkitab sekaligus relevan dengan konteks kehidupan jemaat sehari-hari. 9 Pendekatan ini tidak mengurangi esensi maupun otoritas firman Allah, sebab Tuhan tidak membatasi cara manusia dalam memberitakan dan menyampaikan firman-Nya, namun juga belum mengaitkan dengan kuasa Allah. Ferdinan S. Manafe et al. AuKhotbah Kristosentris: Implikasi Kisah Para Rasul 2:14-40 Bagi Pengkhotbah Masa Kini,Ay Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) 6, no. : 192Ae205. Rexi Tambunan and Sarah Andrianti. AuTelaah Kekinian Kotbah Topikal Dari Perspektif Gereja Aliran Pentakosta,Ay RITORNERA: Jurnal Pentakosta Indonesia 1, no. : 25Ae40. Manafe et al. AuKhotbah Kristosentris: Implikasi Kisah Para Rasul 2:14-40 Bagi Pengkhotbah Masa Kini. Ay Tambunan and Andrianti. AuTelaah Kekinian Kotbah Topikal Dari Perspektif Gereja Aliran Pentakosta. Ay CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Han Denny Harseno: Berkhotbah dengan Kuasa: Pembacaan Matius 5-7 dari Perspektif Pentakostal Penelitian atas Matius 5-7 dilakukan oleh Runtung dan Bunga menyebut bahwa kompetensi pedagogik Yesus sebagaimana tercermin dalam Matius 5Ae7 perlu diwujudkan dengan kasih dan kepedulian terhadap peserta didik, mengarahkan mereka dengan bijaksana, mendasari setiap pengajaran dengan doa, serta menuntun mereka untuk hidup dalam 10 Mereka bertujuan mengungkap alasan mengapa kompetensi pedagogik Yesus yang bersumber dari Matius 5Ae7 belum memberikan dampak optimal, sekaligus mencari bentuk penerapannya dalam pengajaran Sekolah Minggu di Gereja KIBAID Jemaat Tombang. Saya belum menemukan penelitian yang berfokus pada topik berkhotbah dengan Kebaruan penelitian ini terletak pada perspektif Pentakostal yang berusaha menyeimbangkan sabda Kristus dengan penyertaan Roh-Nya. Bagi kaum Pentakostal, khotbah bukan semata penyampaian teks Alkitab secara intelektual, melainkan pengalaman ilahi yang dibalut kuasa Roh Kudus. Kaum Pentakostal menempatkan diri selaras dengan pengalaman gereja rasuli, menekankan secara doktrinal dan praktis dinamika karya Roh Kudus dalam hidup beriman. Karena itu. Khotbah di Bukit (Mat. 5Ae. yang diawali dan diakhiri dengan penegasan kuasa pengajaran Yesus menjadi teks ideal untuk menelaah Aukhotbah dengan kuasaAy. Kajian ini penting untuk memperkuat khotbah Pentakostal agar setia pada Alkitab sekaligus relevan dengan konteks kontemporer. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam Matius 5-7 tentang berkhotbah dengan kuasa dari perspektif Pentakostal. METODE PENELITIAN Penelitian ini memakai metode kualitatif melalui pendekatan tinjauan pustaka. Sumber utama penelitian adalah teks Injil Matius yang dianalisis secara eksegesis . istoris, literer, teologi. untuk menggali makna mendalam,12 sedangkan sumber pendukung diperoleh dari literatur teologi, jurnal akademik, dan hasil penelitian yang berkaitan dengan khotbah serta kuasa dalam perspektif Pentakostal. Fokus analisis diarahkan pada bagian awal Khotbah di Bukit (Mat. 5:1-. dan bagian penutupnya (Mat. 7:28-. yang menampilkan Yesus sebagai pengajar dengan kuasa ilahi. Kedua perikop ini ditafsirkan menurut Simon Runtung and Rini Bunga. AuKompetensi Pedagogik Yesus Berdasarkan Matius 5-7 Dan Implementasinya Dalam Pelayanan Sekolah Minggu,Ay Jurnal Misioner 1, no. : 99Ae120. Umrati and Hengki Wijaya. Analisis Data Kualitatif: Teori Konsep Dalam Penelitian Pendidikan (Jakarta: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2. , 12. Grant R. Osborne. Spiral Hermeneutika: Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab (Surabaya: Momentum, 2. , 255. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 pandangan Pentakostal, lalu dihubungkan dengan implikasi teologis yang relevan bagi pemberitaan firman di masa kini. PEMBAHASAN Matius pasal 5-7 biasa disebut Khotbah Kristus di bukit. 13 Oleh Bergant dan Karris, isi Matius 5-7 dibagi dalam empat bagian yaitu: bagian pertama (Mat. 5:1-. adalah gambaran orang yang berbahagia (Mat. 5:3-. , peranan para murid (Mat. 5:13-. , dan peranan Yesus (Mat. 5:17-. bagian kedua . :21-. mempertentangkan kebenaran para penafsir hukum PL dengan kebenaran yang diajarkan Yesus. bagian ketiga (Mat. 6:1-. menegor kesucian lahiriah yang dikerjakan orang Farisi. bagian keempat (Mat. 6:19 Ae 7:. , nasehat untuk mengejar kesucian. 14 Pembagian ini menolong pembaca memahami struktur Khotbah di Bukit sebagai ajaran Yesus yang komprehensif. Keempat bagian itu menunjukkan kesinambungan antara identitas murid, standar kebenaran yang melampaui hukum Taurat, kritik terhadap kesalehan yang semu, dan panggilan untuk hidup dalam kesucian sejati. Pada Matius 5:1Ae2 dicatat Yesus naik ke atas bukit, duduk, lalu berbicara dan mengajar orang banyak (TB). Posisi duduk mengisyaratkan kesungguhan pengajaran seorang rabi Yahudi. 15 Maksudnya adalah Matius mempersembahkan peran Yesus sebagai pemberi hikmat sejati. Kata aEA . didasken: teaching, mengaja. di Matius 5:2 menandai pembukaan khotbah esensial, tetapi yang lebih menonjol adalah cara penyampaiannya, seperti yang disimpulkan Matius dalam bagian penutup khotbah. Penutup khotbah. Matius 7:28Ae29 secara eksplisit menegaskan keunikan ajaran Yesus: AuTakjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Ay Kata aIE . ksousian: authority, berkuas. menekankan otoritas ilahi yang menyertai kata-kata-Nya. Sementara ahli Taurat menggantungkan otoritas pada tradisi dan teks leluhur16. Yesus menyampaikan firman dalam kapasitas-Nya sendiri. Yesus berulang kali menyatakan Aukamu telah mendengar bahwa dikatakan. tetapi Aku berkata kepadamuAy (Mat. 5:18, 22, . sebuah penegasan otoritas atas aturan-aturan lama. Dengan demikian, respons pendengar Donald C. Stamps. Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan, ed. Donald C. Stamps. Bahasa Ind (Malang: Gandum Mas, 2. , 1504. Dianne Bergant and Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Surabaya: Kanisius, 2. Stefan Leks. Tafsir Injil Matius (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2. , 118. Charles F Pfeiffer and Everett F Harrison. The Wycliffe Bible Commentary Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 3 Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2. , 45. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Han Denny Harseno: Berkhotbah dengan Kuasa: Pembacaan Matius 5-7 dari Perspektif Pentakostal yang AutakjubAy mencerminkan pengakuan akan perbedaan mendasar itu. Khotbah Yesus di Bukit dimaknai sebagai khotbah yang Audengan kuasaAy, bukan sekadar retorika biasa. Karena itu, ayat pembuka dan penutup ini menjadi landasan penting: publik menyaksikan kewibawaan rohani dalam pengajaran Yesus, yang kemudian menjadi inspirasi bagi khotbah penuh kuasa dalam kaum Pentakostal. Roh Kudus Mengurapi Pengkhotbah Sebagaimana Yesus mengajar dengan kuasa, para pengkhotbah Kristen pun sepatutnya berkhotbah dengan kuasa yang sama. Yesus sendiri telah memberi kuasa . kepada para murid-Nya (Mat. Bagi kaum Pentakostal, kuasa yang sama juga diberikan kepada setiap orang percaya, karena keberhasilan pemberitaan firman sejak zaman para rasul didukung dengan kenyataan bahwa hal itu terjadi di bawah pengurapan Roh Kudus. 17 Keberhasilan pemberitaan firman tidak semata-mata hasil kemampuan retorika atau strategi manusia, melainkan karena pengurapan Roh Kudus yang bekerja sejak zaman para rasul. Dari perspektif Pentakostal, penyampaian firman Tuhan harus dikuatkan oleh Roh Kudus. Roh Kudus mengurapi pengkhotbah dengan kuasa supranatural, urapan itu memberi pengkhotbah kemampuan khusus untuk memahami maksud Alkitab, meneguhkan isi firman, dan mengoptimalkan manifestasi karunia-Nya dalam khotbah. Tambunan dan Andrianti menyebut bahwa mereka meyakini Roh Kudus berperan menuntun pengkhotbah dalam mempersiapkan sekaligus menyampaikan khotbah, sehingga pesan yang disampaikan dapat mengenai sasaran dengan tepat. 18 Konsep iluminasi Roh Kudus ini berimplikasi bahwa pengkhotbah tidak hanya mengandalkan logika atau metode akademis, tetapi menantikan tuntunan dan kekuatan dari Roh. Kaum Pentakostal memandang hal ini sebagai lanjutan dari kuasa yang menyertai pengajaran Yesus. Karya Roh Kudus mengurapi pengkhotbah, bukan berarti mengabaikan usaha si pengkhotbah untuk mempersiapkan khotbah alkitabiah seperti dituduhkan sekelompok orang sebagaimana disebutkan di bagian pendahuluan tulisan ini. Penilaian terhadap hermeneutika dan pemberitaan Pentakostal menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang patut diapresiasi dari kalangan Pentakostal. Di antaranya adalah relevansi pesan mereka dengan pengalaman dan kehidupan jemaat serta cara penyampaian yang baik dan menghibur. Namun, tulisan Enyinnaya mengangkat sejumlah keprihatinan, seperti kurangnya French L. Arrington. Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta (Yogyakarta: Andi, 2. , 520. Tambunan and Andrianti. AuTelaah Kekinian Kotbah Topikal Dari Perspektif Gereja Aliran Pentakosta. Ay CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 penghargaan mereka terhadap otoritas Alkitab, ketidaktahuan akan prinsip dan perangkat hermeneutika yang muncul akibat sikap meremehkan pendidikan teologi formal, serta kecenderungan untuk lebih menekankan kemasan daripada isi. 19 Hal-hal ini merupakan persoalan serius yang menuntut refleksi mendalam dan tindakan segera untuk memperbaiki Persiapan khotbah yang benar merupakan suatu keharusan bagi setiap orang yang terpanggil untuk berkhotbah dan mengajar. Seperti dalam banyak aspek kehidupan, peninjauan dan evaluasi yang terus-menerus diperlukan agar kemajuan dapat dicapai. Roh Kudus memiliki peranan utama dalam mengurapi pengkhotbah agar khotbah yang disampaikan bukan hanya sebatas informasi, melainkan firman yang hidup dan Urapan menjadikan pemberitaan firman mengandung kuasa, menyentuh hati jemaat, dan membuka jalan bagi pertobatan serta pembaruan hidup. Tanpa urapan Roh Kudus, khotbah berisiko kering secara rohani, hanya berhenti pada tataran kognitif, dan gagal menyampaikan pesan Allah secara autentik. Namun, pengkhotbah juga dipanggil untuk mengembangkan kemampuan akademis melalui studi teologi, hermeneutik, dan ilmuilmu pendukung lainnya. Untuk menghasilkan khotbah alkitabiah yang berdaya guna, diperlukan eksegesis yang akurat, pendekatan yang berpusat pada Kristus, kontekstualisasi yang arif, serta ketergantungan penuh kepada Roh Kudus. 20 Pemahaman akademis yang mendalam membantu memastikan tafsiran Alkitab tetap setia pada konteks dan makna asli Dengan demikian, khotbah tidak hanya menyentuh emosi jemaat, tetapi juga memiliki bobot intelektual dan ketajaman teologis yang dapat menolong jemaat memahami firman secara benar. Integrasi antara urapan Roh Kudus dan kemampuan akademis justru saling Urapan Roh Kudus memberi kuasa rohani, sedangkan kemampuan akademis menyediakan kerangka berpikir yang sehat dan landasan eksegesis yang kuat. Sebagai pengkhotbah dan penyampai Firman Tuhan di berbagai konteks, perlu senantiasa berupaya mengasah kompetensi dalam menyampaikan inspirasi, perenungan, serta gagasan alkitabiah yang digali melalui hermeneutik yang tepat dari ayat-ayat Alkitab, dan kemudian diimplementasikan dalam kuasa Roh Kudus, baik bagi diri pengkhotbah sendiri maupun bagi 21 Tanpa akademis, khotbah bisa terjebak dalam subjektivitas atau bahkan John O. Enyinnaya. AuPentecostal Hermeneutics and Preaching: An Appraisal,Ay Ogbomoso Journal of Theology 13, no. : 144Ae53. Derry Wiranto. Rikardo P Sianipar, and Selviawati Selviawati. AuAnalisis Khotbah Alkitabiah Berkemenangan Di Dunia Pluralisme,Ay Jurnal Teologi Cultivation 8, no. : 390Ae406. Ayub Rusmanto. AuUrgensi Khotbah Ekspositori Dalam Mewartakan Firman Bagi Kemuliaan Tuhan Di Tengah-Tengah Jemaat Masa Kini,Ay Alucio Dei: Jurnal Teologi 6, no. : 150Ae67. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Han Denny Harseno: Berkhotbah dengan Kuasa: Pembacaan Matius 5-7 dari Perspektif Pentakostal penyalahgunaan teks Alkitab. Sebaliknya, tanpa urapan, khotbah bisa berubah menjadi sekadar kuliah atau wacana intelektual yang kering. Karena itu, pengkhotbah masa kini menyinergikannya dalam pelayanan. Ketika pengkhotbah dengan rendah hati mengandalkan Roh Kudus sekaligus mempersiapkan diri secara serius melalui studi yang mendalam, maka khotbah yang disampaikan akan berdampak lebih luas: setia pada teks, relevan dengan konteks, dan penuh kuasa untuk membangun kehidupan jemaat. Pengkhotbah Memiliki Otoritas Rohani Matius menonjolkan perbedaan tajam antara otoritas yang dimiliki Yesus dengan ketidak-berwenangan para ahli kitab. 22 Perbedaan otoritas antara Yesus dan ahli Taurat menunjukkan bahwa Yesus tidak sekadar menyampaikan tradisi atau penafsiran manusia, melainkan berbicara dengan wibawa ilahi yang berasal dari diri-Nya sendiri. Ahli Taurat pada waktu mengajar berkali-kali mengutip pandangan para rabi yang terkemuka dan berbagai penafsiran tradisional, sementara Yesus berkhotbah dengan wibawa-Nya sendiri dengan ucapan AuAku berkata kepadamu. Ay23 Ucapan AuAku berkata kepadamuAy menegaskan identitas Yesus sebagai sumber kebenaran, bukan hanya penafsir Hukum Taurat. Hal ini memperlihatkan keunikan pelayanan Yesus yang melampaui para rabi, sekaligus menegaskan bahwa otoritas pengajaran-Nya bersifat final dan mutlak bagi murid-muridNya. Bagi kaum Pentakostal, otoritas rohani juga mendapat penekanan. Otoritas rohani oleh Allah memberi pengkhotbah keberanian memberitakan firman. Otoritas rohani seorang pengkhotbah bukanlah hasil dari status sosial, gelar akademis, atau kemampuan retorika, melainkan berasal dari Allah yang memanggil dan mengurapi dia untuk memberitakan Ketika berdiri di mimbar, pengkhotbah membawa otoritas Injil yang hidup, yang tidak bergantung pada kekuatan manusia. Otoritas ini memampukan pengkhotbah berbicara dengan keyakinan bahwa firman yang disampaikan bukan sekadar kata-kata manusia, melainkan pesan Allah yang berkuasa mengubahkan hidup jemaat. Khotbah kristosentris, misalnya ditunjukkan dalam Kisah Para Rasul 2:14Ae40, merupakan bentuk pemberitaan firman yang menitikberatkan pada pribadi dan karya Yesus Kristus, dengan dampak transformatif yang nyata bagi jemaat. Mogoane. Nel, dan Dreyer menegaskan bahwa khotbah yang berfokus pada Kristus sangat penting guna Bergant and Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, 45. Pfeiffer and Harrison. The Wycliffe Bible Commentary Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 3 Perjanjian Baru, 45. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 mempertahankan otoritas sekaligus relevansi Injil. 24 Efek langsung dari khotbah kristosentris tampak dalam pertobatan jemaat dan pembaruan hidup yang mereka alami. Khotbah kristosentris berperan penting dalam membangun gereja yang sehat dan bertumbuh secara rohani. 25 Khotbah semacam ini memadukan aspek-aspek teologis utama, meliputi penggenapan nubuat Perjanjian Lama, kematian dan kebangkitan Kristus, serta ajakan untuk bertobat dan menerima keselamatan. Khotbah seperti ini menjadi pedoman praktis bagi pengkhotbah masa kini dalam menyampaikan Injil secara relevan tanpa mengurangi inti Pengkhotbah dipanggil untuk menyampaikan kebenaran firman meskipun pesan itu terkadang keras, menegur, atau tidak populer bagi pendengarnya. Keberanian ini bukanlah sikap agresif atau arogan, melainkan wujud kesetiaan kepada Allah yang berfirman. Dengan demikian, seorang pengkhotbah berani menyuarakan kebenaran, bukan karena dirinya lebih hebat, melainkan karena ia menjadi corong bagi kehendak Allah. Meski demikian, ibadah tidak boleh menonjolkan figur pengkhotbah daripada muatan khotbah, seperti yang dituduhkan sekelompok orang sebagaimana disinggung dalam bagian pendahuluan. Hal ini berpotensi mereduksi Allah menjadi Auobjek konsumsi rohaniAy sesuai ekspektasi jemaat. Karena itu, penting bagi gereja untuk menyeimbangkan ekspresi ibadah yang kreatif dan kontekstual dengan fondasi teologi yang kuat, agar khotbah tetap terarah pada Allah sebagai pusat ibadah, bukan pada performa atau hiburan. Otoritas pengkhotbah bukan menuntun pada kesombongan, melainkan kerendahan Yesus sendiri sebagai model tertinggi, menunjukkan kerendahan hati, sehingga ajaranNya memiliki kredibilitas. Yesus secara teratur meluangkan waktu untuk berdoa, seperti tercatat dalam Matius 14:23. Pengkhotbah menyadari bahwa dirinya hanyalah alat yang dipakai Allah, bukan pusat perhatian atau sumber kuasa. Rendah hati berarti menempatkan Kristus sebagai pusat khotbah, sambil mengakui keterbatasan manusiawi yang membutuhkan bimbingan Roh Kudus. Di samping mengandalkan kuasa Allah, seorang pengkhotbah juga perlu senantiasa mengasah keterampilan berkhotbah agar mampu memberitakan Injil dengan lebih jelas dan efektif. 26 Dengan kerendahan hati, pengkhotbah Motsepe L. Mogoane. Malan Nel, and Yolanda Dreyer. AuPentecostal Preaching and Christology: An Empirical Study,Ay HTS Teologiese Studies/Theological Studies 79, no. : 1Ae7. Manafe et al. AuKhotbah Kristosentris: Implikasi Kisah Para Rasul 2:14-40 Bagi Pengkhotbah Masa Kini. Ay Ivan Christian. AuBerkhotbah Kepada Kaum Muda: Memaknai Usaha Pengkhotbah Menurut Perspektif Teologi Khotbah Dari Paulus,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 8, no. : 236Ae51. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Han Denny Harseno: Berkhotbah dengan Kuasa: Pembacaan Matius 5-7 dari Perspektif Pentakostal mempersiapkan khotbah dengan sebaik-baiknya, otoritas yang dijalankan tidak menjadi alat untuk meninggikan diri, melainkan sarana untuk melayani jemaat dan memuliakan Allah. Bagi teologi Pentakostal. Auberkhotbah dengan kuasaAy berarti lebih dari sekadar demonstrasi karunia-karunia rohani. Meskipun fokus pada pengalaman rohani adalah ciri khas Pentakostalisme, ada risiko bahwa hal ini dapat mengorbankan pendalaman Alkitab yang sejati, yang berpotensi menciptakan kesan bias dalam penafsiran. Maka pengkhotbah harus senantiasa bergantung penuh pada Tuhan dan menyadari kehadiran-Nya dalam proses Suriawan memperingatkan bahwa seorang pengkhotbah dapat kehilangan Tuhan dalam pendalaman teks jika terlalu asyik pada mekanika persiapan kotbah, oleh karena itu ia harus mengembangkan praktik ibadah pribadi yang bergairah dan ketergantungan doa. Ini menegaskan bahwa otoritas khotbah dari perspektif Pentakostal tidak datang dari gelar atau kecakapan manusia, melainkan dari bersekutu intensif dengan Roh Kudus. Keberanian dan kerendahan hati ini harus berjalan seimbang. Jika hanya berani tanpa rendah hati, pengkhotbah bisa jatuh dalam kesombongan rohani. sebaliknya, jika rendah hati tanpa keberanian, khotbah akan kehilangan daya tegur profetisnya. Karena itu, pengkhotbah dipanggil untuk memegang otoritas rohani dengan berani menyampaikan kebenaran, sekaligus dengan rendah hati menyerahkan hasilnya kepada karya Allah yang bekerja melalui firman-Nya. Khotbah yang Berkuasa Menimbulkan Ketakjuban Respons pendengar juga menjadi indikator berkhotbah dengan kuasa. Dalam Khotbah di Bukit, pendengar ae . kseplessonto: were astonished, takju. pada cara Yesus mengajar (Mat. Bagi jemaat Pentakostal, takjub semacam ini sepatutnya tetap hadir ketika khotbah dibawa dalam kuasa Roh. Mereka sering mengaitkan khotbah dengan tanda-tanda ilahi atau penggerakan hati mendalam. Prinsip ini sejajar dengan kesaksian awal gereja bahwa keberhasilan gereja mula-mula tidak hanya terletak pada penginjilan tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus, tetapi juga pada Aupengalaman hidup bersama Roh KudusAy yang menjadikan karya Kristus nyata dalam hidup 28 Roh Kudus adalah faktor utama di balik pertumbuhan iman jemaat dan reaksi mendalam para pendengarnya. Suriawan. AuKebergantungan Pengkhotbah Terhadap Peran Roh Kudus Dalam Persiapan Dan Penyampaian Firman Tuhan,Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen Dan Musik Gereja 2, no. : 105Ae22. Elkana Chrisna Wijaya. AuRoh Kudus Dan Pertumbuhan Gereja Di Masa Kini,Ay Elshaday: Jurnal Teologi 2, no. : 33Ae46. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 Khotbah yang berkuasa selalu menimbulkan ketakjuban karena ia bukan sekadar menyampaikan pengetahuan teologis, melainkan menghadirkan firman Allah yang hidup dan bekerja dalam hati pendengar. Ketakjuban ini lahir ketika jemaat menyadari bahwa firman yang disampaikan memiliki otoritas ilahi, menyentuh batin mereka, serta menggerakkan hati untuk merespons dengan iman dan pertobatan. Sama seperti respons orang banyak terhadap pengajaran Yesus (Mat. 7:28Ae. , khotbah yang berkuasa memberi dampak yang melampaui kata-kata manusia. Karena itu pengkhotbah tidak hanya dituntut untuk menggali kebenaran dari teks dan menyampaikannya dengan baik, tetapi juga perlu memiliki kepekaan serta kesiapan dalam menanggapi isu dan tantangan yang dihadapi jemaat dalam kehidupan sehari-hari. Pengkhotbah dipanggil bukan hanya sebagai penafsir teks Alkitab, tetapi juga sebagai pemimpin yang peka terhadap realitas kehidupan jemaat. Kebenaran firman yang disampaikan harus mampu menjawab kebutuhan dan tantangan aktual yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan demikian, khotbah tidak berhenti pada teori teologis, melainkan menjadi pesan yang relevan, aplikatif, dan menuntun jemaat untuk menghidupi iman dalam konteks Kekuatan Firman Allah memang bersifat kekal, tetapi harus disampaikan dalam bahasa, contoh, dan pendekatan yang sesuai dengan realitas pendengar. Khotbah yang kontekstual menjembatani teks Alkitab dengan situasi konkret jemaat, sehingga pesan firman tidak terasa jauh, melainkan hadir sebagai jawaban bagi pergumulan hidup seharihari. Dengan demikian, konteks pendengar menjadi ruang di mana firman menemukan titik temu dengan kebutuhan aktual. Seorang pengkhotbah dituntut memiliki kepekaan terhadap kebutuhan jemaat, dan kepekaan ini hanya dapat terbentuk melalui ketaatan pada tuntunan Roh Kudus, yang diwujudkan dalam kesetiaan berdoa serta kedalaman mempelajari firman Tuhan. Kepekaan seorang pengkhotbah terhadap kebutuhan jemaat tidak muncul secara otomatis, melainkan dibentuk melalui ketaatan pada Roh Kudus. Melalui kesetiaan berdoa dan kedalaman dalam mempelajari firman, pengkhotbah dipimpin untuk memahami pergumulan jemaat secara rohani, bukan sekadar dengan analisis manusiawi. Dengan demikian, khotbah Lisaldy. Pakpahan, and Tony Suhartono. AuKhotbah Ekspositori Yang Kekinian,Ay JURNAL IMPARTA 2, no. : 113Ae26. Asturo G Azurdia i. Spirit Empowered Preaching: Menyampaikan Khotbah Dengan Ilham Roh Dan Kuasa Ilahi (Yogyakarta: Andi Offset, 2. , 142Ae43. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Han Denny Harseno: Berkhotbah dengan Kuasa: Pembacaan Matius 5-7 dari Perspektif Pentakostal yang disampaikan mampu menjadi jawaban ilahi yang relevan sekaligus meneguhkan iman Inilah yang menimbulkan ketakjuban pada pendengar khotbah. Selain kontekstual, khotbah juga perlu relevan agar benar-benar berdaya guna. Relevansi khotbah tampak ketika isi firman mampu menolong jemaat mengambil keputusan praktis, menguatkan dalam pencobaan, atau mengarahkan dalam menghadapi tantangan Khotbah yang relevan tidak berhenti pada pemahaman intelektual, tetapi menyentuh ranah etis, emosional, dan spiritual jemaat. Dari sinilah ketakjuban muncul: ketika firman Allah dirasakan berbicara langsung kepada situasi hidup mereka. Khotbah bukanlah hasil ciptaan manusia, melainkan karya Allah sendiri. hanya melalui kuasa Roh Kuduslah hidup manusia dapat diubahkan. Alkitab yang menjadi landasan khotbah diilhami dan diterangi oleh Roh Kudus, sementara kemampuan untuk berkhotbah merupakan anugerah atau karunia yang diberikan oleh Roh Kudus. 31 Khotbah memiliki otoritas ilahi karena bersumber dari Allah sendiri, bukan sekadar kreasi manusia. Kuasa untuk mengubahkan hidup terletak pada karya Roh Kudus yang mengilhamkan Alkitab sebagai dasar khotbah dan menerangi pengkhotbah dalam menyampaikannya. Bahkan, kemampuan berkhotbah pun merupakan karunia Roh Kudus, sehingga keberhasilan khotbah sepenuhnya bergantung pada anugerahNya, bukan pada kecakapan manusia semata. Khotbah harus berguna dalam mengubah kehidupan jemaat. Artikel Taniady menyoroti konstruksi nilai-nilai pendidikan karakter Kristen yang terdapat dalam khotbah Yesus di Bukit sebagaimana tercatat dalam Matius 5Ae7. Nilai-nilai tersebut dipandang sebagai ajaran Yesus yang berfungsi sebagai pendidikan karakter, yang kemudian diinternalisasi oleh para murid dan pengikut-Nya sehingga membentuk identitas dan karakter khas yang membedakan mereka dari individu lain. 32 Khotbah Yesus di Bukit (Mat. 5Ae. berfungsi sebagai dasar pendidikan karakter Kristen karena berisi nilai-nilai yang membentuk identitas murid Kristus. Nilai-nilai tersebut, ketika diinternalisasi, melahirkan cara hidup yang khas dan membedakan pengikut Yesus dari pola hidup dunia. Maka khotbah gerejawi masa kini bukan hanya pedoman etis, tetapi juga sarana pembentukan karakter rohani yang menegaskan identitas Kristen di tengah masyarakat. Dengan demikian, khotbah yang berkuasa adalah khotbah yang setia pada teks Alkitab, tetapi sekaligus kontekstual dan relevan dengan kehidupan jemaat. Ketika firman Suriawan. AuKebergantungan Pengkhotbah Terhadap Peran Roh Kudus Dalam Persiapan Dan Penyampaian Firman Tuhan. Ay Vicky Taniady. AuNilai-Nilai Pendidikan Karakter Kristen Dalam Khotbah Di Bukit Pada Matius 5-7,Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen Dan Musik Gereja 6, no. : 39Ae54. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 disampaikan dengan urapan Roh Kudus, serta dihubungkan dengan realitas nyata, maka jemaat bukan hanya mendengar pesan, tetapi mengalami perjumpaan dengan Allah yang Inilah yang menjadikan khotbah menimbulkan ketakjuban, membangun iman, dan mendorong perubahan hidup yang sejati. Implikasi bagi Pemberitaan Firman Masa Kini Pendekatan homiletik Pentakostal berimplikasi jelas dalam pelaksanaan khotbah masa kini. Pertama, pengkhotbah harus menyeimbangkan eksegesis alkitabiah dengan kesiapan rohani. Waktu yang banyak dihabiskan di atas kitab harus diimbangi dengan waktu intens berdoa di hadapan Tuhan. Suriawan menekankan perlunya bertekun dalam doa dengan kitab terbuka agar kekuatan Roh terus mengalir pada penyampaian pesan. 33 Artinya, khotbah disiapkan bukan dari kekuatan diri sendiri, melainkan dalam ketergantungan penuh kepada Allah agar setiap firman menjadi hidup. Seorang pengkhotbah harus berkomitmen untuk memberitakan atau memaparkan kebenaran firman Allah secara runtut, mulai dari tema, pokok-pokok utama hingga bagianbagian kecil, yang semuanya bersumber dan terintegrasi dengan teks Alkitab. 34 Komitmen pengkhotbah untuk menyampaikan firman Allah secara runtut dan terintegrasi dengan teks Alkitab sangat penting agar khotbah tetap setia pada maksud ilahi. Penyajian yang sistematis dari tema hingga bagian kecil menolong jemaat memahami firman dengan jelas, terarah, dan Dengan demikian, khotbah tidak hanya teratur secara retoris, tetapi juga memiliki fondasi alkitabiah yang kuat sehingga membangun iman jemaat secara benar. Kedua, khotbah seharusnya disampaikan dengan wibawa ilahi, artinya pembawa firman tampil bukan semata sebagai sarjana Alkitab, melainkan sebagai utusan yang diurapi. Pengkhotbah harus meyakini bahwa otoritas utama ada pada Allah, seperti yang Yesus Hal ini mendorong pengkhotbah Pentakostal untuk membentuk sikap rendah hati sekaligus penuh keberanian rohani: rendah hati karena bergantung pada Roh Kudus, dan berani karena membawa pesan Tuhan dengan kuasa. Pengkhotbah harus dengan rendah hati belajar aspek penyusunan dan penyampaian khotbah secara deskriptif dari beragam sumber, lalu merumuskan argumen praktis terkait penerapan pada masa kini. 35 Kerendahan hati pengkhotbah dalam belajar dari berbagai sumber sangat penting agar khotbah tidak bersifat sempit atau subjektif. Dengan memperhatikan aspek penyusunan dan penyampaian secara Suriawan. AuKebergantungan Pengkhotbah Terhadap Peran Roh Kudus Dalam Persiapan Dan Penyampaian Firman Tuhan. Ay Rusmanto. AuUrgensi Khotbah Ekspositori Dalam Mewartakan Firman Bagi Kemuliaan Tuhan Di Tengah-Tengah Jemaat Masa Kini. Ay Lisaldy. Pakpahan, and Suhartono. AuKhotbah Ekspositori Yang Kekinian. Ay CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Han Denny Harseno: Berkhotbah dengan Kuasa: Pembacaan Matius 5-7 dari Perspektif Pentakostal deskriptif, pengkhotbah dapat menyusun pesan yang jelas sekaligus aplikatif. Hal ini memungkinkan khotbah tidak hanya setia pada teks, tetapi juga relevan bagi kehidupan jemaat masa kini melalui argumen praktis yang membumi. Ketiga, gaya khotbah mestinya responsif terhadap kerja Roh Kudus. Dalam pengalaman Pentakostal, respons jemaat bukan hanya ketakjuban pasif, tetapi berupa respons aktif: pertobatan, pemahaman baru, atau mukjizat. Khotbah di Bukit ditutup dengan orang banyak yang AutakjubAy khotbah kontemporer juga diharapkan mendatangkan Autandatanda ajaibAy (Mat. dan pembaruan hati. Dengan demikian, pengkhotbah dapat memasukkan unsur-unsur devosional, doa spontan, atau manifestasi rohani . arunia Ro. sesuai kepekaan Tuhan. Bagi kaum Pentakostal gereja yang hidup adalah gereja yang mempercayakan hidup dan pertumbuhannya pada kuasa Roh Kudus. 36 Khotbah masa kini pun perlu menghadirkan kuasa tersebut, agar Firman tidak hanya didengar secara intelektual, melainkan dirasakan dan dihayati oleh pendengar. Di samping itu, pengkhotbah harus bersedia mengenali pendengarnya, sehingga dapat menyesuaikan gaya berkhotbahnya dengan situasi dan kebutuhan pendengar. Simanjuntak menulis, gereja-gereja besar beraliran Pentakostal-Karismatik cenderung meninggalkan bentuk khotbah tradisional, lalu menggantinya dengan penyampaian kutipankutipan Alkitab yang ringkas dan mudah dipahami melalui tampilan slide PowerPoint maupun cuplikan Youtube. 37 Peralihan gereja-gereja besar Pentakostal-Karismatik dari khotbah tradisional menuju penyampaian yang ringkas dengan bantuan media digital mencerminkan upaya menyesuaikan diri dengan pola komunikasi jemaat modern. Kutipan singkat melalui slide atau video membuat firman lebih mudah diingat dan menjangkau audiens yang terbiasa dengan visual. Namun, pendekatan ini perlu diimbangi dengan kedalaman penjelasan agar khotbah tidak tereduksi menjadi sekadar potongan inspiratif tanpa pijakan teologis yang kuat. KESIMPULAN Kajian teks Matius 5:1Ae2 dan 7:28Ae29 menunjukkan bahwa Yesus menyampaikan Khotbah di Bukit dengan otoritas ilahi. Dari perspektif Pentakostal, penekanan pada Roh Kudus sebagai Yang Mengurapi menjadikan penyampaian firman tidak sekadar tugas manusiawi, melainkan tindakan keilahian karena: Roh Kudus mengurapi pengkhotbah. Wijaya. AuRoh Kudus Dan Pertumbuhan Gereja Di Masa Kini. Ay Simanjuntak. AuMenelisik Spiritualitas Gerakan Pentakostal-Kharismatik Dalam Potret Megachurch Di Indonesia. Ay CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 pengkhotbah memiliki otoritas rohani, dan khotbah yang berkuasa menimbulkan ketakjuban. Yesus adalah teladan utama berkhotbah dengan kuasa. Implikasinya bagi homiletika masa kini meliputi: penyeimbangan eksegesis alkitabiah dengan kesiapan rohani, penyampaian khotbah dengan wibawa ilahi, dan gaya berkhotbah yang responsif terhadap kerja Roh Kudus. Pembaruan dan pertumbuhan jemaat tercapai ketika firman Tuhan dibawakan dalam cara yang sama dengan Yesus: berbicara dengan kuasa Allah, bukan menyuarakan tradisi REFERENSI