JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X PROFIL LITERASI DIGITAL SISWA SEKOLAH DASAR PADA KURIKULUM MERDEKA: DITINJAU DARI AKSES. ANALISIS. KREASI. DAN ETIKA Nurdin1*. Widia2 & Jessy Parmawati Atmaja3 STKIP Harapan Bima. Bima. Indonesia. Email:nurdinbima24@gmail. Artikel Info Abstrak Sejarah Artikel Diterima: 27 Sep 2025 Direvisi: 08 Okt 2025 Dipublikasi: 15 Okt 2025 Penelitian ini bertujuan memetakan profil literasi digital siswa kelas V SD Negeri Sanolo berdasarkan empat dimensi UNESCO, yaitu akses, analisis, kreasi, dan etika, dalam konteks implementasi Kurikulum Merdeka. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain survei cross-sectional terhadap 20 siswa sebagai responden melalui teknik total sampling. Instrumen berupa angket skala Likert empat poin yang terdiri dari 24 butir pernyataan terdistribusi ke empat dimensi literasi digital. Data dianalisis dengan menghitung skor rata-rata dan mengkategorikannya menjadi tinggi, sedang, dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor literasi digital sebesar 78,23 . ategori sedan. , dengan 66,7% siswa berada pada kategori sedang dan 33,3% kategori tinggi. Dimensi akses memperoleh skor tertinggi . ,22%), diikuti etika . ,31%), sedangkan dimensi analisis . ,56%) dan kreasi . ,83%) berada pada kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa siswa memiliki kemampuan baik dalam mengoperasikan perangkat, mengakses informasi, dan menjaga etika digital, namun masih memerlukan penguatan dalam keterampilan berpikir kritis dan kreasi konten digital. Rekomendasi penelitian menekankan integrasi pembelajaran berbasis proyek untuk meningkatkan dimensi analisis dan kreasi, penyediaan fasilitas pendukung, serta pelatihan literasi digital bagi guru. Kata kunci: Digital Literacy. Merdeka Curriculum. Elementary School Students. UNESCO Dimensions Article Info Article History Received: Sep 27st, 2025 Revised: Oct 08st, 2025 Published: Oct 15st, 2025 Keywords: Literasi Digital. Kurikulum Merdeka. Siswa Sekolah Dasar. Dimensi UNESCO. Abstract This study aims to map the digital literacy profile of fifth-grade students at SD Negeri Sanolo based on the four UNESCO dimensions: access, analysis, creation, and ethics, within the context of the implementation of the Merdeka Curriculum. A descriptive quantitative approach with a cross-sectional survey design was employed, involving 20 students as respondents using a total sampling technique. The research instrument consisted of a fourpoint Likert scale questionnaire comprising 24 items distributed across the four dimensions of digital literacy. Data were analyzed by calculating the average scores and categorizing them into high, medium, and low levels. The results showed an average digital literacy score of 23 . edium categor. , with 66. 7% of students in the medium category and 33. 3% in the high category. The access dimension achieved the highest score . 22%), followed by ethics . 31%), while analysis . 56%) and creation . 83%) were in the medium These findings indicate that students possess good skills in operating devices, accessing information, and maintaining digital ethics, but still require improvement in critical thinking and digital content creation. The study recommends integrating project-based learning to enhance the analysis and creation dimensions, providing adequate supporting facilities, and offering digital literacy training for teachers. PENDAHULUAN Transformasi digital yang pesat di abad ke-21 memberikan tantangan dan peluang yang signifikan bagi Dalam konteks ini, penguasaan literasi digital sejak usia dini menjadi sangat penting. Salah satu alasan utama adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang mengubah cara interaksi dan pembelajaran di seluruh dunia. Pendidikan diharapkan untuk beradaptasi dengan perubahan ini agar peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga inovator yang kreatif (Anthonysamy et , 2022. Wahyuningtyas et al. , 2. Keterampilan abad 21, yang mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi . C), harus terintegrasi dalam kurikulum pendidikan. Penelitian menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga sebagai sumber belajar yang berperan penting dalam pengembangan keterampilan tersebut. Misalnya, penggunaan aplikasi pendidikan yang dirancang khusus untuk anak usia dini dapat meningkatkan penguasaan keterampilan motorik dan literasi digital pada anak61 JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X anak (Nurazka et al. , 2. Pengembangan dan pemanfaatan media belajar berbasis teknologi menjadi krusial dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global di era digital (Dianah & Tetep. Suharti & Faidin, 2022. Yusuf et al. , 2. Selanjutnya, pendidikan guru juga memainkan peranan penting dalam transformasi ini. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi juga dituntut untuk meningkatkan kurikulumnya agar selaras dengan kebutuhan abad ke-21 yang menekankan pemanfaatan teknologi digital dan inovasi dalam pembelajaran (Yuangga, 2. Penerapan literasi digital yang kuat tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Hal ini penting untuk mengatasi masalah ketidaksetaraan akses informasi dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam ekonomi digital (Nikmah et al. , 2. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk keluarga dan komunitas, dalam mendukung upaya pendidikan literasi digital bagi anak-anak sejak dini, dalam rangka mencapai tujuan ini, implementasi program yang komprehensif dan kolaboratif antara sekolah, orang tua, dan masyarakat luas akan sangat diutamakan untuk memastikan setiap individu dapat berkontribusi dan bersaing dalam masyarakat yang semakin digital. Literasi digital, sebagaimana didefinisikan oleh Gilster . , mencakup kemampuan untuk mengakses, memahami, menganalisis, mencipta, dan beretika dalam menggunakan teknologi informasi. Literasi digital tidak hanya terkait dengan penggunaan teknologi, tetapi juga menekankan pada pemahaman dan kemampuan kritis terhadap informasi yang tersedia di dunia digital (Sufrianto et al. , 2022. Bajuri & Permana, 2. Dengan perkembangan yang pesat dalam teknologi informasi, kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam format digital menjadi krusial bagi generasi muda saat ini. Menurut Sufrianto et al. , . bahwa literasi digital merupakan konstelasi pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang diperlukan untuk beradaptasi dalam budaya yang didominasi oleh teknologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Bajuri dan Permana, yang menyebutkan bahwa literasi digital juga meliputi keterampilan dalam mengoperasikan alat digital serta kemampuan untuk mengevaluasi dan mengkritisi media berbasis digital (Bajuri & Permana, 2. Tanpa keterampilan ini, individu mungkin mengalami kesulitan dalam menavigasi informasi yang tersebar di internet, yang sering kali dibanjiri oleh data yang tidak akurat atau Literasi digital juga memainkan peranan penting dalam pendidikan, di mana penguasaan atas informasi digital mendorong pengembangan pengetahuan dan kreativitas di kalangan mahasiswa (Naufal, 2021. Ismail et al. , 2. Dalam konteks pendidikan tinggi, pengajaran literasi digital dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk tidak hanya mengakses informasi, tetapi juga memproses dan menciptakan konten baru berdasarkan apa yang telah mereka pelajari. Hal ini menjadi semakin relevan dalam menghadapi tantangan era digital yang semakin menuntut keterampilan kritis dan inovasi. Lebih lanjut, definisi literasi digital diperluas untuk mencakup sikap etis dalam penggunaan teknologi. Minimnya literasi digital dapat menyebabkan masalah serius, seperti penyalahgunaan informasi atau perilaku yang tidak sesuai di dunia maya (Ismail et al. , 2. Oleh karena itu, pendekatan holistik terhadap literasi digital harus diintegrasikan ke dalam pendidikan di semua tingkat untuk mempersiapkan individu menghadapi tantangan dalam masyarakat yang semakin tergantung pada teknologi. Penelitian lain menunjukkna bahwa literasi digital dapat membantu anak-anak dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, kognitif, emosional, serta sosial, yang kesemuanya berkontribusi pada perkembangan holistik anak (Yunita & Watini, 2. Melalui pendekatan Kurikulum Merdeka, siswa diajak untuk berinteraksi dengan berbagai sumber informasi digital yang mendukung pembelajaran mereka, mempersiapkan mereka untuk tantangan di era digital. Namun, meskipun ada kemajuan, tantangan masih ada dalam implementasi literasi digital yang efektif. Data menunjukkan bahwa kompetensi literasi digital di kalangan pendidik di Indonesia masih perlu ditingkatkan (Wiguna, 2023. Hardiyanti & Alwi, 2. Oleh karena itu, pelatihan dan peningkatan kompetensi guru dalam literasi digital sangat penting agar mereka dapat memanfaatkan teknologi secara optimal dalam mengajar dan membimbing siswa mereka (Hardiyanti & Alwi, 2. Dengan demikian, kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan literasi digital di sekolah. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, perlu ada program-program peningkatan kapasitas yang sistematis untuk JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X guru dan pengintegrasian teknologi dalam proses pembelajaran sehari-hari. Hal ini penting agar siswa dapat belajar di lingkungan yang mendukung kreativitas dan inovasi, serta mempersiapkan mereka untuk berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat digital yang semakin kompleks (Rohmani & Pambudi, 2023. Sipahutar et al. , 2. Dengan pendekatan yang tepat. Kurikulum Merdeka dapat menjadi wahana penting untuk mengembangkan literasi digital di Indonesia, sehingga siswa siap menghadapi tantangan masa depan. Siswa sekolah dasar (SD) di Indonesia menunjukkan kemampuan yang cukup baik dalam mengakses informasi digital. Namun, kelemahan utama mereka terletak pada analisis dan kreasi konten digital. Hal ini mencerminkan sifat dasar dari literasi digital yang lebih kompleks dan menuntut keahlian lebih dari sekadar penggunaan teknologi untuk mengakses informasi (Alakrash & Razak, 2. Menurut penelitian, meskipun siswa digital native, banyak dari mereka yang masih menghadapi kesulitan dalam memahami dan membuat konten digital secara efektif (Alakrash & Razak, 2. Integrasi literasi digital ke dalam mata pelajaran di sekolah dasar sangat penting untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa. Pendekatan berbasis proyek dalam pembelajaran memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar yang lebih mendalam melalui aplikasi praktis dari teori (Bupu et al. , 2. Pengembangan kurikulum yang mencakup literasi digital mutlak diperlukan untuk membekali siswa dengan keterampilan yang diperlukan di era informasi saat ini. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa integrasi literasi digital dalam kurikulum pendidikan dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam hasil pembelajaran siswa (Quraishi et al. , 2. Dengan mengarahkan pengajaran pada analisis dan kreasi konten digital, guru dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih memahami substansi dan konteks informasi, sehingga mereka mampu berpikir kritis dan kreatif. Selain itu, implementasi program pelatihan untuk guru terkait literasi digital sangat penting. Guru yang terampil dalam media literasi dapat lebih efektif dalam mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan (Fadlillah et al. , 2. Oleh karena itu, penting bagi sistem pendidikan untuk memfasilitasi transfer pengetahuan dan keterampilan literasi digital dengan cara yang mendukung pengembangan berpikir kritis dan kreatif siswa. Integrasi literasi digital ke dalam proses pembelajaran akan memberikan manfaat jangka panjang bagi siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Minimnya data empiris terkait profil literasi digital siswa sekolah dasar (SD) dalam implementasi Kurikulum Merdeka menjadi isu penting yang perlu dipecahkan. Meskipun Kurikulum Merdeka memberikan kesempatan untuk pengembangan literasi digital dengan pendekatan yang berpusat pada siswa dan berbasis proyek, masih sedikit penelitian yang memetakan secara komprehensif keterampilan literasi digital siswa SD, terutama berdasarkan empat dimensi utama UNESCO: akses, analisis, kreasi, dan etika. Beberapa studi menunjukkan bahwa fokus pada literasi digital di kalangan siswa SD belum sepenuhnya diintegrasikan dalam pembelajaran sehari-hari. Penggunaan pendekatan proyek dalam Kurikulum Merdeka seharusnya dapat mendukung pengembangan keterampilan ini. Pemanfaatan literasi digital sebagai metode pembelajaran dapat menarik minat siswa dan mendukung pemahaman yang lebih mendalam tentang materi pelajaran, tetapi studi sistematis tentang dimensi literasi digital masih jarang dilakukan (Sindar et al. , 2. Perlunya penekanan pada pemahaman literasi digital dalam konteks pembelajaran berbasis masalah, yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan analitis dan kreatif siswa (Aliyah & Sapitri, 2. Pentingnya integrasi literasi digital dalam kurikulum dapat berkontribusi pada peningkatan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa. Penerapan Kurikulum Merdeka pada sekolah penggerak pun masih memerlukan evaluasi yang lebih mendalam mengenai pengaruhnya terhadap kemampuan literasi digital siswa (Sumarsih et al. , 2. Selain itu, pelatihan literasi digital untuk guru dapat berkontribusi pada peningkatan kompetensi pengajaran di bidang ini, meskipun evaluasi dampaknya terhadap siswa masih minim (Tungka, 2. Dengan demikian, ada kebutuhan mendesak untuk melakukan penelitian yang fokus pada profil literasi digital siswa SD di Indonesia dan mengevaluasi kemampuan mereka dalam mengakses, menganalisis, menciptakan, dan beretika di lingkungan digital. Tanpa data empiris yang kuat, sulit untuk merumuskan strategi pengajaran yang efektif dan merumuskan kebijakan yang mendukung peningkatan literasi digital di tingkat dasar pendidikan. Berdasarkan tujuan penelitian ini pertama memetakan profil literasi digital siswa kelas V SD pada empat dimensi UNESCO . kses, analisis, kreasi, etik. , serta JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X memberikan dasar pengembangan strategi pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan literasi digital METODE PENELITIAN Pendekatan kuantitatif deskriptif merupakan metode penelitian yang mengandalkan pengumpulan data angka dan statistik untuk menjelaskan fenomena yang diamati. Sebagaimana dijelaskan oleh Creswell . , penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji teori atau hipotesis dengan menggunakan data numerik dan analisis statistik. Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan akan digunakan untuk menguraikan tingkat literasi digital siswa, termasuk kemampuan mereka dalam mengakses, menganalisis, menciptakan, dan bersikap etis dalam penggunaan teknologi informasi. Desain survei cross-sectional mengacu pada pengumpulan data dari subjek yang beragam pada satu titik waktu tertentu. Menurut Fowler . , desain ini sangat efektif untuk mendapatkan gambaran umum tentang populasi yang lebih besar, dengan cara yang lebih efisien dan yang memerlukan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan desain longitudinal yang melibatkan pengumpulan data berulang selama periode waktu tertentu. Dalam penelitian ini, survei dilakukan untuk mendapatkan profil literasi digital siswa SD yang terlibat dalam Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain survei cross-sectional, yaitu pengumpulan data dilakukan satu kali pada satu kelompok populasi dalam kurun waktu tertentu. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh gambaran profil literasi digital siswa secara faktual tanpa melakukan manipulasi variabel. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri Sanolo yang berjumlah sekitar 20 orang. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik total sampling, sehingga seluruh anggota populasi menjadi responden penelitian. Instrumen penelitian berbentuk angket dengan skala Likert empat poin yang terdiri dari pilihan jawaban AuSelaluAy . AuSeringAy . AuKadangAy . , dan AuTidak PernahAy . Angket ini memuat 24 butir pernyataan yang terbagi ke dalam empat dimensi literasi digital sesuai kerangka UNESCO, yaitu: akses, analisis, kreasi, dan etika. Masing-masing dimensi memiliki indikator khusus, seperti kemampuan mengoperasikan perangkat digital dan mengakses informasi . imensi akse. , mengevaluasi dan memilah informasi . imensi analisi. , membuat dan mengedit konten digital . imensi kreas. , serta menjaga keamanan digital dan menerapkan etika komunikasi . imensi etik. Setiap indikator diwakili oleh 2Ae4 butir pernyataan yang disusun berdasarkan kisi-kisi instrumen. Validitas instrumen diuji melalui validitas isi dengan meminta penilaian dari dua dosen ahli di bidang literasi digital. Selanjutnya, dilakukan uji coba angket pada 20 siswa di sekolah lain yang memiliki karakteristik serupa. Data hasil uji coba dianalisis menggunakan uji korelasi butir-total dengan kriteria rit Ou 0,30 untuk menentukan kelayakan setiap butir. Reliabilitas instrumen dihitung menggunakan koefisien CronbachAos Alpha dengan target nilai Ou 0,70 agar instrumen dianggap reliabel. Proses pengumpulan data diawali dengan pengurusan izin penelitian kepada pihak sekolah dan orang tua siswa. Setelah itu, peneliti memberikan penjelasan singkat mengenai tujuan penelitian kepada responden sebelum pengisian angket. Pengisian dilakukan di kelas selama 15Ae20 menit dalam pengawasan peneliti agar jawaban sesuai dengan kondisi sebenarnya. Teknik analisis data dilakukan dengan menghitung skor total setiap siswa, kemudian menjumlahkan skor per Skor tersebut dikonversi ke dalam kategori tinggi (Ou . , sedang . Ae. , dan rendah (< . Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan diagram batang atau diagram lingkaran untuk memudahkan interpretasi. Selanjutnya, peneliti mengidentifikasi dimensi dengan skor rata-rata terendah sebagai dasar penyusunan rekomendasi program peningkatan literasi digital siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengolahan data angket literasi digital yang diisi oleh 30 siswa kelas V SD Negeri X, diperoleh skor total literasi digital dengan rata-rata sebesar 78,23 . ategori sedan. Sebaran kategori menunjukkan bahwa sebanyak 20 siswa . ,7%) berada pada kategori sedang, sedangkan 10 siswa . ,3%) berada pada kategori tinggi. Tidak ada siswa yang termasuk dalam kategori rendah. Jika dilihat per dimensi, hasilnya dirangkum pada Tabel 1 berikut: JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X Tabel 1. Rata-rata Skor Literasi Digital per Dimensi Dimensi Rata-rata Skor (%) Kategori Akses Tinggi Analisis Sedang Kreasi Sedang Etika Tinggi Visualisasi hasil penelitian per dimensi disajikan pada Gambar 1 dan Proporsi kategori tingkat literasi digital siswa dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini: Gambar 1. Rata-rata skor literasi digital per dimensi. Gambar 2. Proporsi kategori literasi digital siswa Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum literasi digital siswa kelas V SD Negeri X berada pada kategori sedang. Tingginya skor pada dimensi akses mengindikasikan bahwa siswa sudah terbiasa menggunakan perangkat digital dan mengakses informasi melalui internet. Temuan ini mendukung hasil penelitian Sarnita et. yang menekankan pentingnya pendidikan karakter digital sejak sekolah dasar, namun demikian skor rendah pada dimensi analisis dan kreasi mengindikasikan adanya tantangan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif di ranah digital. Rendahnya kemampuan analisis kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pembelajaran yang menekankan keterampilan mengevaluasi dan memverifikasi informasi, sebagaimana diungkapkan oleh Kamaluddin et al. , . , sementara itu keterbatasan fasilitas dan kesempatan untuk membuat konten digital kreatif dapat menjadi faktor yang mempengaruhi skor dimensi kreasi. Guru sebagai pendidik harus mampu membangun literasi digital dan keterampilan lainnya agar dapat menyiapkan siswa untuk sukses di dunia yang semakin terdigitalisasi (Kusumawati et al. , 2021. Safitri et al. , 2. Program pelatihan untuk guru, seperti pelatihan komputer dan literasi digital, sangat diperlukan untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam menggunakan teknologi sebagai media pengajaran (Ariyana, 2023. Riady, 2. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan perlunya strategi pembelajaran yang lebih menekankan pada penguatan kemampuan analisis informasi digital dan pembuatan konten kreatif, misalnya melalui pembelajaran berbasis proyek yang terintegrasi dalam Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka yang diimplementasikan di Indonesia memberikan peluang signifikan untuk pengembangan literasi digital di kalangan siswa. Kebijakan ini dirancang untuk menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan berbasis proyek, yang sejalan dengan kebutuhan keterampilan abad ke-21, termasuk literasi digital. Dengan kurikulum ini, siswa didorong untuk mengambil peran aktif dalam proses belajar mengajar, berkolaborasi dalam proyek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka, serta mengembangkan keterampilan kritis dan kreatif melalui penggunaan teknologi (Wiguna, 2023. Ewisahrani et JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X , 2. Pengembangan literasi digital dalam konteks Kurikulum Merdeka juga dapat dilihat melalui proyek-proyek berbasis teknologi yang mengintegrasikan kompetensi literasi digital secara langsung. Misalnya, penelitian oleh Adnyana et al. , . menyebutkan bahwa media pembelajaran berbasis digital, seperti digital phonics, dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa dengan cara yang menarik dan interaktif, serta membangun keterampilan literasi digital yang esensial bagi mereka (Adnyana et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa kurikulum berbasis proyek dapat membantu siswa tidak hanya dalam pembelajaran akademik mereka tetapi juga dalam menguasai teknologi yang diperlukan untuk sukses di masa depan. Lebih jauh lagi, pentingnya pengembangan literasi digital dalam pendidikan anak usia dini dan pengaruhnya terhadap perkembangan kecerdasan dan keterampilan sosial anak diakui. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai profil literasi digital siswa kelas V SD Negeri Sanolo, dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki kemampuan yang baik dalam mengoperasikan perangkat, mengakses informasi, serta menjaga etika dan keamanan digital, namun masih perlu penguatan pada kemampuan mengevaluasi informasi dan menciptakan konten digital kreatif. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan kepada guru untuk mengintegrasikan keterampilan analisis dan kreasi digital ke dalam proses pembelajaran, misalnya melalui pendekatan berbasis proyek yang mendorong siswa memverifikasi informasi dan menghasilkan karya digital. Pihak sekolah diharapkan menyediakan sarana pendukung berupa perangkat dan aplikasi kreatif yang memadai serta mengadakan pelatihan literasi digital bagi guru agar pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan terarah. Orang tua juga diharapkan berperan aktif dalam mengawasi penggunaan perangkat digital di rumah, membiasakan anak memeriksa kebenaran informasi, serta memberi kesempatan bagi anak untuk berkreasi membuat karya digital. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengkaji lebih dalam faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya skor pada dimensi analisis dan kreasi, serta mempertimbangkan penggunaan metode penelitian campuran . ixed method. agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perilaku literasi digital siswa. DAFTAR PUSTAKA