EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 PENANAMAN NILAI-NILAI RELIGIUS DALAM PEMBINAAN AKHLAK PESERTA DIDIK AGUS SUSANTI Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Email:agussusanti@radenintan. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penanaman nilai-nilai religius dalam pembinan akhlak peserta didik di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang. Penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan bersifat kualitatif. SMA Negeri 1 Tanjung Bintang sebagai sumber data untuk penelitian studi yang dilakukan. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, metode analisis data yang digunakan dengan tiga langkah analisis data kualitatif, yaitu: reduction data, display data, dan verifikasi data. Uji keabsahan data dengan menggunakan triangulasi. Penelitian menunjukkan bahwa penanaman nilai-nilai religius pada peserta didik di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang yaitu melalui program- program kegiatan keagamaan di sekolah. Hasil implementasi penanaman nilai-nilai religius pada peserta didik dengan mengunakan metode pembiasaan, keteladanan, pengawasan, nasihat dan metode pemberian sanksi. Nilai-nilai religius yang ditanamkan meliputi nilai keimanan, kejujuran, kedisiplinan, saling menghormati, tanggung jawab, dan kasih sayang. Penelitian ini juga ditemukan faktor penghambat dalam penanaman nilai-nilai religius, seperti: Latar belakang anak yang berbeda tentu mempengaruhi sikap dan perilaku peserta didik, kurangnya perhatian peserta didik dalam melakukan kegiatan penanaman nilai-nilai religius menjadikan nilai-nilai karakter tidak dapat tertanam dengan baik. Sedangkan faktor pendukung dalam penanaman nilai-nilai religius, seperti: Program kegiatan harian sekolah, peraturan atau tata tertib yang dibuat sekolah. Peran aktif guru serta orang tua dalam penanaman nilai-nilai religius berdampak pada terbiasanya peserta didik melaksanakan Ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. Kata Kunci : Penanaman. Nilai-nilai Religius. Pembinaan Akhlak. ABSTRACT This study aims to determine the cultivation of religious values in the moral development of students at SMA Negeri 1 Tanjung Bintang. This research is included in qualitative field SMA Negeri 1 Tanjung Bintang as a source of data for the research studies conducted. Methods of data collection using interviews, observation, and documentation. The data analysis used was a qualitative descriptive approach, the data analysis method used was three steps of qualitative data analysis, namely: data reduction, data display,and data verification. Test the validity of the data using triangulation. The research indicates that religious values are cultivated in students at SMA Negeri 1 Tanjung Bintang through religious activity programs at The implementation of cultivation of religious values in students involves the method of habituation, exemplary behavior, supervision, advice, and sanctioning. The religious values instilled include faith, honesty, discipline, mutual respect, responsibility, and compassion. This study found inhibiting factors in instilling religious values, such as the influence of children's backgrounds on students' attitudes and behavior, and the lack of attention given to activities aimed at instilling religious values, which prevents character values from being properly Supporting factors in the cultivation of religious values include the school's daily activity program and rules or regulations established by the school. The role of teachers and parents in cultivating religious values can impact students' habits of carrying out worship and other religious activities. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Keyword : cultivation, religious values, moral development PENDAHULUAN Masa sekolah tingkat SMA (Sekolah Menengah Ata. /MA (Madrasah Aliya. sederajat, adalah masa remaja, masa pubertas, dimana pada masa ini menjadi masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Masa remaja merupakan masa-masa sulit bagi remaja maupun orang Karena pada usia remaja ini, remaja mulai menyampaikan kebebasan dan haknya, mengalami perubahan fisik baik pertumbuhan maupun seksualitasnya, dan lebih mudah terpengaruh teman-temannya (Jahja, 2. Para ahli perkembangan membagi usia remaja menjadi 3 kelompok usia remaja, yaitu (Yusuf , 2. A Masa remaja awal . sia 12 Ae 15 tahu. A Masa remaja pertengahan . sia 15 Ae 18 tahu. A Masa remaja akhir . sia 18 Ae 21 tahu. Dalam hal ini, orang tua terkadang melemah dikarenakan kebanyakan remaja lebih mendengarkan teman daripada keluarganya/orangtuanya. Remaja akan memiliki kesenangan sendiri atau bahkan bertentangan dengan keluarga. Contohnya yaitu potongan rambut, mode berpakaian, membolos sekolah, rasa ingin tahu seksual dan coba-coba, suka mengganggu, berbohong, dan penyalahgunaan obat-obat terlarang serta lain sebagainya. Maka dari itu, peran orangtua sangat penting dalam mendidik anaknya yang telah menginjak usia remaja, karena dengan adanya pendidikan yang baik di dalam keluarga anak dapat tumbuh dan berkembang baik pula. Selain perubahan yang terjadi dalam diri remaja terdapat pula perubahan dalam lingkungan seperti sikap orangtua atau anggota keluarga lain, guru, teman sebaya, maupun masyarakat pada umumnya. Kondisi ini merupakan reaksi terhadap pertumbuhan remaja . remaja dituntut untuk menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai dengan orang-orang seusianya. Untuk memenuhi kebutuhan soaial dan psikologisnya, remaja memperluas lingkungan sosialnya, di luar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat (Fithri, 2. Fenomena yang terjadi di kalangan remaja sangat beragam. Berbagai hal positif maupun negatif berpadu menjadikan warna tersendiri dalam kehidupan remaja saat ini. Beberapa hal dilandasi oleh rasa ke-ingintauan akan sesuatu yang terkadang menyimpang dari norma-norma & nilai-nilai religius. Perubahan zaman, digitalisasi, akses media tanpa batas, merupakan sebagian instrument yang turut serta ikut andil dalam proses ini. Bahkan, melakukan sesuatu demi tetap menjaga eksistensi di lingkungannya ataupun sekedar mengikuti trend yang ada. Adapun bentuk-bentuk kenakalan remaja sangat beragam. Dalam hal ini dikelompokkan menjadi 4 jenis (Zurriyatun, 2. A Perilaku kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada oranglain, seperti perkelahian, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan. A Perilaku kenakalan yang menimbulkan korban materi, seperti pertaruhan, perjudian, perampokan, perusakan, pemerasan. A Perilaku kenakalan yang tidak menimbulkan korban di pihak lain, seperti melihat pornografi, narkoba, seks bebas. A Perilaku kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari statusnya sebagai seorang pelajar dengan melanggar aturan sekolah. Menyikapi hal tersebut, orangtua tentu mengambil langkah-langkah bijak untuk membentengi anak-anaknya dari pengaruh negatif pergaulan remaja. Penanaman nilai-nilai religius yang konsisten merupakan salah satu cara yang dirasa ampuh untuk mengatasi Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 fenomena yang ada. Agar kelak anak-anak mereka lebih terarah kepada suatu hal yang positif di kehidupan mereka. Namun, tidak semua tugas pendidikan dapat dilaksanakan oleh orangtua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu, dikirimlah anak ke sekolah. Sekolah memiliki tanggungjawab atas pendidikan anak selama mereka diserahkan kepadanya. Dalam hal ini, selain sekolah berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal yang memberi bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan bagi peserta didik, sekolah juga membantu orang tua dalam mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan pendidikan setelah keluarga, karena pada lingkungan ini terdapat peserta didik, guru, administrator, konselor, kepala sekolah, penjaga dan lain sebagainya yang hidup bersama dan melaksanakan pendidikan secara teratur dan terencana dengan baik. Dari lingkungan sekolah, anak akan lebih banyak mendapat pendidikan, baik dari guru, teman sebaya maupun stakeholder yang ada di dalamnya. Bahkan, ketika anak sudah masuk dalam lingkungan sekolah, ia akan lebih mementingkan pendidikan yang ada di sekolah dari pada pendidikan yang ada di rumah. Penanaman nilai-nilai religius merupakan hal penting yang harus dilakukan untuk menanggulangi dan mengatasi berbagai hal diatas. Sikap religius dapat dipahami sebagai suatu tindakan yang didasari oleh dasar kepercayaan terhadap nilai-nilai kebenaran yang diyakininya. Kesadaran ini muncul dari produk pemikiran secara teratur, mendalam dan penuh penghayatan. Religiusitas atau rasa agama merupakan kristal nilai agama . eligious conscienc. dalam diri yang terdalam dari seseorang yang merupakan produk dari internalisasi nilai-nilai agama yang dirancang oleh lingkungannya (Danis, 2. Nilai Islami yang melekat dalam diri seseorang akan terlihat dari cara berpikir dan bertindak, yang selalu dijiwai dengan nilai-nilai Islam. Apabila dilihat dari cara berperilakunya, orang yang memiliki nilai Islami akan menunjukkan keteguhannya dalam keyakinan, kepatuhannya dalam beribadah, dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dan alam Apabila dilihat dari cara berbicaranya, orang yang memiliki nilai Islami akan berbicara dengan bahasa yang sopan, selalu mengucapkan salam saat berjumpa maupun berpisah. Nilai religius sangat dibutuhkan oleh peserta didik untuk menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral (Megawangi, 2. Manusia yang beriman dan berakhlak mulia diharapkan mampu berdiri tegak ditengah perubahan yang muncul dalam pergaulan dunia ini. Tujuan dari penanaman nilai-nilai relgius yaitu untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bemasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi (Achmad, 2. Sebagaimana diisyaratkan Allah SWT dalam firman-Nya . a a a a eIaEA a aA aAEA a A aEaOAaU n aCEaO a a ea aE AaONa aII Oa e aA a AaONa aOOA a aAE aI a aOIae aI IA a AaOua aC aE aacEa aE eE aI aEaa aE a uaIaO a a UE AaO ea eA a EaEa n aC aE uaIaO aEa aI aI aE aEa aIOIA a AaOIaCaA Au Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat : "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. " mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan . di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Allah berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu " (Q. S Al-Baqarah ayat . Penanaman nilai-nilai religius sudah sepatutnya dibentuk & terealisasikan dengan baik di lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti Madrasah. Sekolah Islam Terpadu. Pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Dinamika kegiatan yang dibentuk didalamnya Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 didominasi penuh akan nilai-nilai religius muslim, karena mutlak bahwa seluruh peserta didik maupun tenaga pendidik adalah muslim. Secara tidak langsung, itu menjadi nilai tersendiri dalam proses penanaman nilai-nilai religius pada peserta didik. Bertitik tolak dari fenomena tersebut, salah satu lembaga pendidikan yang menurut penulis, pantas & menarik untuk dijadikan objek penelitian akan penanaman nilai-nilai religius dalam pembinaan akhlak terhadap peserta didik adalah SMA Negeri 1 Tanjung Bintang. Pada masa saat ini, lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal, negeri maupun swasta, pendidikan umum maupun berbasis asrama . , semua turut memperhatikan & sadar akan pentingnya penanaman nilai-nilai religius pada peserta didik. SMA Negeri 1 Tanjung Bintang bertempat di Jl. Antara Desa Jatibaru Kec. Tanjung Bintang Kab. Lampung Selatan Prov. Lampung. Berkaitan dengan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti kegiatan-kegiatan sekolah, melihat & mengamati fenomena yang mendukung terbentuknya nilai-nilai religius dalam pembinaan akhlak pada peserta didik. Berhubung di sekolah itu sendiri terdapat keberagaman dalam hal keyakinan . yang dianut oleh guru maupun peserta didik. Maka dari itu, penulis dalam hal ini lebih memfokuskan penelitian kepada peserta didik muslim. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian dan Pendekatan yang Digunakan penelitian ini berbentuk field research atau penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang dilakukan untuk memahami fenomena sosial dan mengutamakan Teknik pengumpulan data melalui observasi realita keadaan di sekitar. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisa keadaan yang sebenarnya di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang saat pelaksanaan penerapan penanaman nilai-nilai religius pada peserta didik. Metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti pada penelitian kali ini adalah dengan triangulasi metode, yaitu gabungan atau kombinasi berbagai metode yang dipakai untuk mengkaji fenomena yang saling terkait dari sudut pandang dan perspektif yang berbeda untuk meningkatkan pemahaaman peneliti terhadap apa yang telah ditentukan. Adapun data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif Teknik analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman, mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Penanaman Nilai-nilai Religius di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang Penanaman nilai-nilai religius di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang dapat di tanamkan melalui program kegiatan yang dilakukan mulai dari awal KBM sampai dengan berakhirnya KBM. Macam-macam kegiatan yang ada disekolah sangat berperan penting dalam menanamkan nilai relgius disekolah. Sehingga kegiatan-kegiatan yang ada disekolah harus dikembangkan dengan baik. Terdapat beberapa kegiatan pengembangan nilai-nilai religius di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang. Kegiatan tersebut diantaranya yaitu . Kegiatan Rutin Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat (Zainal, 2. Berdasarkan hasil temuan yang telah dibahas pada pembahasan sebelumnya, kegiatan rutin yang dilakukan di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang ialah seperti kegiatan Literasi keagamaan diawal pembelajaran, shalat dzuhur berjamah, berdoa bersama diawal dan diakhir pembelajaran, membaca Al-QurAoan, shalat dhuha pada waktu istirahat, kegiatan JumAoat Taqwa (Istighosah/Shalawat/Cerama. , serta menerapkan budaya 3S Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 (Senyum. Sapa. Sala. Kegitan rutin yang dilakukan setiap hari mulai dari awal KBM hingga akhir KBM tersebut diharapkan menjadi suatu pembiasaan kepada anak, untuk terus melakukan hal tersebut walaupun berada di luar sekolah. Proses pembiasaan dalam pendidikan merupakan suatu cara yang penting untuk dilakukan terutama untuk anak-anak remaja saat ini. Perhatian mereka akan mudah beralih kepada hal-hal yang baru dan disukainya. Dalam kondisi ini mereka perlu dibiasakan dengan tingkah laku, keterampilan, kecakapan dan pola pikir tertentu sesuai dengan ajaran agama Islam. Pembiasaan tersebut dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu tersebut menjadi sebuah adat kebiasaan sehingga menjadi bagian tidak terpisahkan dari kepribadiannya. Dalam pembinaan melalui pembiasaan ini sebenarnya sudah cukup efektif dalam menanamkan nilai- nilai religius pada anak, apabila anak sudah terbiasa melakukan hal yang baik, maka akan terbiasa pula untuk melakukan suatu kebiasaan yang baik pula meskipun sudah berada diluar pembinaan atau pengawasan (Nurul, 2. Keteladanan. Berdasarkan hasil temuan yang telah dibahas pada pembahasan sebelumnya, kegiatan keteladanan dalam penanaman nilai-nilai religius pada peserta didik di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang yaitu, guru selalu memberikan contoh selalu berpakaian rapi. Guru selalu memberi contoh saat berbicara dan juga berperilaku sopan santun ketika sedang mengajar dikelas atau di luar kelas. Selalu mengajarkan kepada anak ketika memasuki ruangan mengucapkan salam, saling menyapa minimal memberikan senyuman saat berjumpa kawan, menundukkan kepala saat berjalan didepan orang yang lebih tua. Guru yang baik adalah guru yang mampu memberikan teladan pada peserta didik dalam upaya pembentukan pribadi yang baik, melalui sikap, tindakan atau perbuatan, tutur kata, serta kepribadian baik yang diperlihatkan (Vianita, 2. Dalam Al-QurAoan Allah SWT berfirman: e AcEEa aO eEOa eO aIA AcEEa aEaO UeA a AEaCae aEIa Ea aE eI Aa eO aA AeEa a aOaE aa NA AIaU aEca aI eI aEIa Oa e aO NA A eO aE NA a AcEEa a aeO U aA Artinya: AuSesungguhnya telah ada pada . Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, . bagi orang-orang yang mengharap . Allah SWT dan . hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah SWT. Ay (QS. al- Ahzab: . Ayat ini merupakan pengakuan teladan kebaikan Nabi Muhammad SAW. Dengan gelar teladan kebaikan yang diberikan oleh Allah SWT sebagai contoh untuk semua umatnya dalam berperilku, tutur kata, atau karakternya yang menyiratkan kebaikan. Nilai-Nilai Religius Yang Ditanamkan di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang. Sebagaimana yang telah dikutip dalam landasan teori terkait nilai-nilai religius, diantaranya ialah . Nilai Ibadah. Nilai Jihad . uhul Jiha. Nilai Amanah & Ikhlas. Nilai Kedisiplinan, dan Nilai Keteladanan. Apabila kita implementasikan dalam konsep penanaman nilai-nilai religius di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang, maka dapat kita kategorikan menjadi 3 macam, diantaranya yaitu nilai-nilai religius yang berkaitan dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, dan sesama manusia. Nilai-Nilai Religius Yang Berkaitan Dengan Tuhan. Berdasaran hasil temuan yang telah dibahas pada pembahasan sebelumnya, nilai-nilai religius berhubungan dengan Tuhan yang telah tertanam pada peserta didik ialah nilai-nilai religius ibadah, akhlak, ikhlas, dan sabar. Dengan adanya serangkaian kegiatan keagamaan yang telah di lakukakan tersebut sangat membentu tumbuhnya nilai-nilai religius yang berhubungan dengan tuhan ini. Manusia sebagai ciptaan tuhan mempunyai kewajiban terhadap tuhan dan juga sesama. Kewajiban terhadap tuhan ialah melaksanaka perintah dan menjauhi larangan Allah. Perbuatan yang dilakukan karena perintah-Nya disebut ibadah. Ibadah kepada Allah dapat Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari seperti sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Dalam melaksanakan ibadah tersebut harus sesuai dengan petunjuk Allah SWT, agar ibadah yang kita lakukan diterima dan mendapat nilai di sisi Allah SWT. Dalam Al-QurAoan Allah SWT AO aIac aI e ua Ea aN aE eI ua EaNU aOa U n Aa aII aEIa Oa e aA AA aE U aO aeE Oa e a eE a a aca a eN a a UUA a AO aECa e a aca aN Aa eEOa e aI eEA a A aI UUEA ca aACa eE uaIac aI e aI a a Ua a caIeEa aE eI OaO a eO uaEA Artinya: AuUntuk itu barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan (Alla. dengan seorangpun dalam beribadah kepada TuhannyaAy (QS. Al-Kahfi: . Nilai ibadah sangat perlu ditanamkan kepada seorang anak didik, agar mereka mengetahui seberapa pentingnya beribadah dan taat kepada Allah SWT. Nilai-nilai Religius Yang Berhubungan Dengan Diri Sendiri. Selain kepada Allah SWT, dalam diri peserta didik di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang juga dikembangkan nilai-nilai religius yang berhubungan dengan diri sendiri. Nilai-nilai religius tersebut ialah seperti nilai, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, percaya diri, mandiri dan Jujur merupakan nilai penting yang harus dimiliki setiap orang. Jujur tidak hanya diucapkan, tetapi juga tercermin pada pribadi sehari- hari. Oleh karena itu, semua peserta didik juga harus memiliki sikap jujur, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan. Perilaku kejujuran ini didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya oleh orang lain maupun pada diri sendiri. Nilai-Nilai Religius Yang Berhubungan Dengan Sesama Manusia. Berdasaran hasil temuan yang telah dibahas pada pembahasan sebelumnya, nilai-nilai religius berhubungan dengan sesama manusia yang telah tertanam pada anak ialah seperti nilainilai religius menghargai perbedaan, demokratis, dan santun. Menghargai perbedaan merupakan sebuah perilaku yang dapat mempererat hubungan antar sesaman manusia. Seperti halnya ketika dalam pembelajaran, peserta didik diberi tugas untuk diselesaikan secara berkelompok, dan setiap kelompok tentu memiliki latar belakang yang berbeda-beda, dengan adanya kegiatan kelompok tersebut guru selalu mengarahkan kepada peserta didik untuk merundingkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan secara bersamasama, hal ini akan menjadikan peserta didik untuk bertukar pendapat dan mengemukakan jawaban mereka masing-masing agar dapat menjawab pertanyaan yang telah diberikan. Metode Penanaman Nilai-Nilai Religius Di Sma Negeri 1 Tanjung Bintang. Berdasarkan hasil temuan di lokasi penelitian, metode yang diterapkan untuk membina akhlak peserta didik dengan cara menanamkan nilai-nilai religius. Tentunya perlu disusun dengan beberapa strategi agar dapat tercapai dengan baik. Terdapat 5 strategi yang diterapkan guna memaksimalkan metode penanaman nilai-nilai religius di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang. Strategi-strategi tersebut antara lain adalah . Keteladanan. Keteladanan dalam Bahasa Arab disebut uswah, iswah, qudwah, qidwah, yang berarti perilaku yang baik yang dapat ditiru oleh orang lain. Secara psikologis seorang anak itu memang senang untuk meniru, tidak hanya hal baik saja yang ditiru oleh anak bahkan terkadang anak juga meniru yang buruk. Dalam hal ini, yang berperan penting ialah guru. Para guru di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang menjadi pelopor keteladanan dari segi sikap, perilaku, akhlak maupun tata tertib di sekolah. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Bagaimana ber-muammalah antara para guru, saling menghormati, saling membantu sesama guru apabila mengalami kesulitan. Dari segi penampilan, guru memberikan contoh bagaimana cara berpakaian yang baik & sopan. Tidak menggunakan perhiasan yang berlebihan, tidak bersolek berlebihan, tidak memakai pakaian yang terlalu ketat bagi guru wanita. Potongan rambut yang rapih, bagi guru pria. Tidak memakai cincin atau gelang atau kalung saat di sekolah, tidak merokok di lingkungan sekolah. Dari segi kedisiplinan, jam masuk sekolah, guru tidak diperkenankan untuk terlambat. Guru tidak diperkenankan untuk meninggalkan kelas kecuali ada hal yang mendesak. Dalam kata lain, peraturan yang melekat pada peserta didik, melekat pula pada Guru. Tentunya pasti ada pelanggaran-pelanggaran dari para guru dan dalam hal ini, kepala sekolah yang akan menindak dilakukan dengan cara yang humanis, pendekatan kekeluargaan namun tetap dalam lingkup profesionalitas. Agar tetap terjaganya marwah dan wibawa seorang guru. Pembiasaan. Metode ini dilaksanakan dalam bentuk rutinitas yang harapannya agar peserta didik bisa terbentuk secara perlahan dan bertahap dan tentunya bisa membentuk kepribadian mereka. Pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan selama KBM (Kegiatan Belajar Mengaja. berlangsung guna membina akhlak peserta didik diantaranya ialah kegiatan literasi keagamaan . embaca Al-qurAoa. diawal masuk kelas , sholat dhuha, sholat Dzuhur berjamaAoah, agar mereka terbiasa dalam melaksanakannya. Sekolah juga membiasakan peserta didik untuk berperilaku baik dengan menerapkan 3S (Senyum. Sapa. Sala. kepada seluruh warga sekolah, guru, tenaga kependidikan, maupun sesama peserta didik. Membiasakan peserta didik untuk disiplin, tidak terlambat berangkat ke sekolah, disiplin berpakaian, disiplin di dalam kelas. Itu semua dilakukan dengan skala rutinitas di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang. Nasehat. Nasehat timbul biasanya dari 2 sumber, yaitu untuk pencegahan agar hal itu tidak terjadi dan untuk evaluasi karena hal itu telah terjadi. Dalam hal ini, guru BK (Bimbingan Konselin. biasanya banyak mengambil peran. Menurut temuan yang peneliti dapat dari wawancara guru BK di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang, bahwasanya gedung BK tidak hanya dikunjungi oleh peserta didik yang memiliki permasalahan saja, namun ada juga beberapa peserta didik yang datang untuk meminta pendapat, bercerita, meminta nasehat, meminta saran, atau bercerita tentang permasalahan yang sedang dihadapi. Namun bukan menjadi keharusan bagi peserta didik untuk dating kepada guru BK. Biasanya peserta didik terlebih dahulu berinteraksi dengan wali kelas, karena lebih sering berinteraksi secara langsung. Wali kelas juga berkolaborasi dengan guru BK dalam hal ini. Fungsi nasehat adalah untuk menunjukkan kebaikan dan keburukan, karena tidak semua orang bisa menangkap nilai kebaikan dan keburukan. Metode nasehat akan berjalan baik pada anak jika seseorang yang memberi nasehat juga melaksanakan apa yang dinasehatkan yang dibarengi dengan keteladanan. Nasehat dilakukan dengan cara yang baik, tanpa menghakimi. Pengawasan. Segala sesuatu yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang tidak luput dari unsur pengawasan. Itu karena agar segala yang telah direncanakan berjalan sesuai yang Pengawasan peserta didik dalam kegiatan disekolah merupakan upaya agar tercapainya nilai-nilai yang diharapkan. Dalam hal pengawasan kedisiplinan, terdapat 16 CCTV yang tersebar di berbagai sudut disekolah. Ada juga 2 satpam yang bertugas menjaga gerbang & berkeliling di seluruh area sekolah. Hal itu agar peserta didik selalu terawasi dan ikut dalam kegiatan disekolah. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Adapun pengawasan dari program-program penanaman nilai-nilai religius bertujuan agar terlaksana dengan baik, sesuai konsep, dan menuju ke titik yang diharapkan. Mengawasi bagaimana program itu berjalan, contohnya seperti program literasi dimana ada lantunan ayat suci Al-qurAoan yang dibacakan oleh peserta didik melalui pengeras suara pada pukul dimulai 15 WIB dan berakhir pada pukul 07. 29 WIB. Guru PAI memastikan pembaca (QoriA. siap dilokasi, memastikan bacaannya benar, dan membuat siklus jadwal membaca Al-qurAoan melalui pengeras suara secara bergantian. Dan Kepala Sekolah ataupun Waka Kurikulum berkeliling ke tiap-tiap kelas guna pengawasan terhadap guru-guru dalam kegiatan literasi. Pemberian Sanksi. Pemberian sanksi harus didasari dengan hal-hal yang mendidik dan tidak berlebihan. Pada mulanya bagi siswa yang melanggar hanya diberikan sanksi ringan berupa bersih-bersih halaman atau menyepu, tetapi ternyata masih saja ada anak yang tidak jera terhadap hukuman tersebut, sehingga sekolah memberikan hukuman yang sekiranya dapat membuat efek jera pada Untuk hukuman bagi anak yang terlambat atau tidak mengikuti kegiatan hukuman yang di berikan adalah seperti membaca Al-QurAoan sekitar 1 juz, ataupun membaca surat yasin 3 kali, menulis surah Al-Fatihah sebanyak 17 kali, membaca istighfar 100 kali. Adanya sanksi bertujuan agar terjadinya efek jera terhadap pelanggaran yang dilakukan dan berharap itu tidak terulang kembali. Namun tetap ada tahapan-tahapan dalam pemberian Apabila sudah masuk dalam kategori berlebihan, maka pihak sekolah akan memberikan surat panggilan ataupun melakukan kunjungan rumah (Home Visi. kepada wali murid untuk bersilaturahmi dan menjelaskan tentang perkembangan anaknya disekolah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang penanaman nilai-nilai religius dalam pembinaan akhlak peserta didik di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang, dapat diambil kesimpulan sebagai Pertama. SMA Negeri 1 Tanjung Bintang memiliki visi dan misi Au Meningkatkan Keimanan Dan Ketaqwaan Serta Kedisiplinan Bagi Seluruh Warga Sekolah. Au Visi dan misi dari sekolah tersebut sudah sejalan dengan tujuan dari pendidikan, tujuan pendidikan sendiri ialah menjadikan peserta didik manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kretif dan mandiri. Kedua, program kegiatan penanaman nilai-nilai religius dimulai dari awal KBM sampai dengan berakhirnya KBM serta kegiatan yang dilakukan di luar KBM. Penanaman nilainilai religius tidak hanya melalui proses belajar mengajar Agama Islam, dapat pula ditanamkan dalam proses pembelajaran umum. Ketiga, nilai-nilai religius yang ditanamkan terbagi menjadi 3 macam, nilai-nilai religius yang berkaitan dengan Tuhan, nilai-nilai religius yang berkaitan dengan diri sendiri, dan nilainilai religius yang berkaitan dengan sesama manusia. Keempat, program-program yang diciptakan bertujuan agar nilai-nilai religius dapat tertanam pada diri peserta didik. Nilai-nilai religius yang dimaksud yaitu seperti halnya dengan adanya program sholat berjamaah, membaca Al- QurAoan, sholawat, dan bakti social. Maka dengan adanya kegiatan tersebut tertanamlah nilai-nilai religius seperti nilai ibadah, ruhul jihad, akhlak dan kedisiplinan, keteladanan, amanah dan ikhlas. Kelima, metode yang digunakan dalam penanaman nilai-nilai religius pada peserta didik di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang adalah . keteladanan, pembiasaan, nasehat, pengawasan, dan pemberian sanksi. DAFTAR PUSTAKA