Volume: 22 Nomor 2. September 2024 P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 PELESTARIAN BUDAYA LOKAL MELALUI PEKAN GAWAI DAYAK DI KABUPATEN SINTANG Emiliani Nindy Diana Rusega Sim Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Kapuas Sintang. Jl. Oevang Oeray No. Sintang. Indonesia, email: emilianinindy025@gmail. Abstract: The development of the global world has indirectly shifted the meaning of local culture within With the introduction of a more modern system of work and thinking, the traditional life system of society has changed. Even though people's lifestyles are becoming more modern, it doesn't mean that the traditional local culture is not preserved and just abandoned. This study was conducted with the aim of understanding the preservation of local culture through Pekan Gawai Dayak in Sintang District. The research approach used in this study is qualitative descriptive method with literacy study. Through literacy studies, researchers gather relevant information from various sources, such as journals, news portals and social media. The results of the study found that, the Government of the District of Sintang along with the Adelantary Council of Dayak district Sintang carried out a cultural celebration of Pekan Gawai Dayak as one of the efforts to preserve the local culture. In its implementation. Pekan Gawai Dayak presented various local cultural activities of the Dayak community in Sintang district. The effort to preserve the local culture is not an impossible thing to do, because the enthusiasm of the community is always high every Pekan Gawai Dayak carried out. Therefore, it is necessary to innovate and refine the location of the activities in order to encourage the participation of the public as participants and beneficiaries of the cultural celebrations by the Sintang District Government. Keywords: The preservation. Culture. Local. Pekan. Gawai. Dayak Abstrak: Berkembangnya dunia global secara tidak langsung sudah menggeser makna kebudayaan lokal di dalam masyarakat. Dengan masuknya sistem kerja dan pemikiran yang lebih modern menjadikan sistem hidup masyarakat yang tradisional sudah berganti. Meskipun gaya hidup masyarakat menjadi lebih modern, bukan berarti kebudayaan lokal yang tradisional tidak dilestarikan dan ditinggalkan begitu saja. Kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk memahami pelestarian budaya lokal melalui Pekan Gawai Dayak di Kabupaten Sintang. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan studi literasi. Melalui studi literasi, peneliti mengumpulkan informasi-informasi yang relevan dari berbagai sumber, seperti jurnal, portal berita dan media sosial. Hasil kajian menemukan bahwa. Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang bersama Dewan Adat Dayak Kabupaten Sintang melakukan pergelaran budaya berupa Pekan Gawai Dayak sebagai salah satu upaya pelestarian budaya lokal. Dalam pelaksanaannya. Pekan Gawai Dayak menyajikan berbagai kegiatan budaya lokal masyarakat Dayak di Kabupaten Sintang. Upaya pelestarian budaya lokal bukan hal yang tidak mungkin dilakukan, karena antusias masyarakat selalu tinggi setiap Pekan Gawai Dayak dilaksanakan. Maka dari itu, perlu inovasi dan pembenahan lokasi kegiatan guna mendorong partisipasi masyarakat sebagai peserta dan penikmat pergelaran budaya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang. Kata Kunci: Pelestarian. Budaya. Lokal. Pekan. Gawai. Dayak. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 PENDAHULUAN Indonesia dikatakan sebagai negara multikultural karena memiliki kebudayaan yang beragam di setiap daerahnya. Keberagaman budaya lokal ini menjadi ciri khas masyarakat daerah yang satu dengan yang lainnya secara khususnya. Sedangkan secara umumnya menjadi pembeda Indonesia dengan negara lainnya atau sebagai jatidiri bangsa. Berkembangnya dunia global secara tidak langsung sudah menggeser makna kebudayaan lokal di dalam masyarakat. Dengan masuknya sistem kerja dan pemikiran yang lebih modern menjadikan sistem hidup masyarakat yang tradisional sudah berganti. Meskipun gaya hidup masyarakat menjadi lebih modern, bukan berarti kebudayaan lokal yang tradisional tidak dilestarikan dan ditinggalkan begitu Budaya lokal merupakan produk yang berasal dari masa lalu. Produk ini merupakan kebiasaan atau pun adat istiadat yang sudah dilakukan sejak dulu. Sehingga budaya mengandung nilai-nilai kehidupan yang digunakan dalam hidup bermasyarakat oleh suatu kelompok atau bangsa (Iman, 2. Pemerintahan Indonesia melihat perkembangan global dan melakukan upaya untuk mempertahankan eksistensi budaya lokal dengan mengeluarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 42 Tahun 2009. No. 40 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan. Menurut kebudayaan dijelaskan sebagai keseluruhan gagasan, perilaku dan hasil karya manusia dan/atau kelompok manusia baik bersifat P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 fisik maupun nonfisik yang diperoleh melalui proses dan adaptasi terhadap Pelestarian kebudayaan dikatakan sebagai upaya perlindungan, kebudayaan yang dinamis. Dalam hal ini, kebudayaan lokal dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pariwisata. Pada pemanfaatan kebudayaan lokal dapat program/acara pemerintah daerah seperti penyebarluasan informasi. pengembangan wisata. Mengacu pada peraturan tersebut, maka pemerintah daerah harus membuat kebudayaan lokal secara berkelanjutan. Terkhususnya di Kabupaten Sintang, salah satu upaya pelestarian eksistensi budaya lokal dilakukan melalui pergelaran budaya berupa acara Pekan Gawai Dayak. Gawai dayak secara tradisi diartikan sebagai upaya pembacaan mantera . yang ditampilkan dalam bentuk budaya tradisional. Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Jubata (Tuha. (Syafrita & Murdiono, 2. Gawai dayak biasanya dilaksanakan setelah masyarakat mendapatkan hasil panen selama satu tahun. Dalam acara syukuran ini menampilkan berbagai kesenian yang ada, seperti lagu daerah, pakaian daerah dan perlombaan lainnya (Rengat dkk, 2. Pelestarian kebudayaan dilakukan karna hal tersebut dipahami sebagai sebuah sistem yang besar dan melibatkan FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 masyarakat dengan masuk ke dalam subsistem kemasyarakatan serta memiliki komponen yang saling terhubung. Sehingga pelestarian kebudayaan bukanlah gerakan atau sebuah aktivitas yang bisa dilakukan oleh individu dengan alasan memelihara sesuatu agar tidak punah dan hilang ditelan zaman saja. Melainkan sebuah pola hubungan yang saling berkaitan dan harus saling melengkapi (Koentjaraningrat dalam Triwardani & Rochayanti, 2. Kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk memahami bagaimana upaya pelestarian eksistensi budaya lokal melalui pekan gawai Dayak di Kabupaten Sintang. Selain itu, kajian ini juga akan memberikan gambaran kepada para pembaca yang memiliki ketertarikan terhadap pelestarian kebudayaan lokal masyarakat Dayak di Kabupaten Sintang. METODE PENELITIAN Pendekatan digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan studi Peneliti informasi-informasi yang relevan dari berbagai sumber, seperti jurnal, portal berita dan media sosial. Informasiinformasi tersebut kemudian dikutip, dianalisis dan dirangkum sehingga menjadi sebuah hasil penelitian yang HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Suku Dayak dan Budaya Gawai Dayak Kalimantan Barat penduduk yang berasal dari beragam etnis, seperti Dayak. Melayu. China. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Batak. Jawa. Sunda. Flores dsb. Suku Dayak merupakan suku yang paling dominan karena memang suku asli dari Kalimantan. Suku Dayak di Kalimantan Barat memiliki 151 induk suku dan terbagi kedalam sub-sub suku yang berjumlah C 405 sub suku dengan Bahasa yang berbeda. Suku-suku ini terbagi berdasarkan pada sejarah penyebaran, wilayah penyebaran, jumlah penutur. Bahasa dan berbagai adat yang dimiliki sub-sub suku (Rengat dkk, 2. Meskipun memiliki sub suku tetapi secara umum suku Dayak memiliki kesamaan pada budaya dan Ciri khas dari Dayak adalah rumah betang, pedang Mandau dan perisai . (Batubara, 2. Dayak Kalimantan Barat memiliki berbagai istilah yaitu Dayak. DayaAo dan Dauh yang artinya hulu atau manusia. Beberapa diantara masyarakat Dayak ini ada yang disebut sebagai Orang Hulu atau Orang Darat atau Orang Pedalaman. Selain itu ada juga Orang Kampung, alasannya adalah karena masyarakat Dayak tinggal diperkampungan (Syafrita & Murdiono. Suku Dayak memiliki banyak ritual adat istiadat, antara lain (Batubara, 2. Naik dango. Upacara naik dango merupakan kegiatan syukur atau pesta kepada Jubata . karena segala hasil panen yang telah Pelaksanaan dilakukan dengan pelantunan doa dan suguhan yang terbuat dari hasil panen seperti lemang atau pulut, tumpi cucur dll. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 . Sampore. Sampore merupakan ritual doa bagi orang yang mengalami cacata atau memiliki penyakit yang susah disembuhkan. Ritual ini biasanya dilakukan oleh para dukun. Lala. Lala pantangan atau larangan bagi masyarakat Dayak dalam melakukan Baik itu pantang makan, maupun mengucapkan kata-kata. Masa pantang biasanya 3 hari, 7 hari dan 44 hari. Tergantung dari tradisi masyarakat setempat. Tanung. Tanung merupakan tradisi masyarakat dalam menentukan jenis Misalnya rumah atau pun mencari jalan terbaik dalam situasi gawat atau perang. Baremah. Baremah merupakan ritual permohonan penutup atau ucapan syukur atas hasil pekerjaan, seperti pada baroah, babalak, muang rasi, bapipis, basingangi. Bacece. Bacece berunding di antara pada tokoh, sekampung mengenai hutang uang, hutang budi ataupun hal lainnya dari orang tua/kepala keluarga/tokoh adat/tokoh masyarakat yang sudah meninggal dunia. Adat istiadat yang diangkat pemerintah derah adalah naik dango atau gawai. Budaya naik dango gawai merupakan kegiatan yang memiliki makna dan nilai solidaritas yang tinggi Terutama pada nilai perasaan moral, seperti saling menghormati, kerja sama P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 dan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Seluruh kegiatan ini penting kehadirannya dalam proses pelestarian budaya dan kebudayaannya (Fusnika & Dua, 2. Gawai Dayak merupakan tradisi rutin tahunan yang di mana dilakukan oleh masyarakat dengan mengikuti ritual-ritual dan adat istiadat yang dianut oleh leluhur atau nenek moyang. Tradisi ini merupakan warisan budaya Kegiatan gawai Dayak dilakukan dengan membuat sesaji setelah panen padi atau hasil ladang lainnya (Hatta dkk, 2. Ritual gawai Dayak sangat lekat dengan budaya masyarakat Dayak. Budaya ini memiliki corak yang unik dan ilmu kebatinan yang sangat kuat. Kedua hal tersebut dapat dirasakan pada saat mengikuti ritual ini. Corak budaya yang bersahabat dengan alam, ciri khas nyanyian suku Dayak, tarian hingga mantra selalu ada saat ritual dilakukan. Masih dilakukannya ritual ini di masa modern akan mendorong pelestarian budaya Dayak, di satu sisi juga menggambarkan cara hidup masyarakat yang terkenal dengan ketaatan adat istiadatnya (Herlina dkk, 2. Makna lain dari gawai Dayak adalah perlindungan terhadap alam. Melalui tradisi ini masyarakat Dayak menyampaikan alam tidak boleh dirusak tanpa tujuan yang jelas, memohon agak tanah subur, tidak ada gangguan hama pada tanaman panen dsb. Seluruh doa dan harapan ini disampaikan melalui upacara ritual nyanyian AulemambangAy (Atok, 2. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 Gawai dayak juga dijelaskan memiliki kekuatan magis yang membuat setiapp orang tertarik untuk berkumpul dan bertemu. Selain itu, melalui gawai Dayak suasana menjadi meriah dan masyarakat Dayak. Dengan penjelasan lain, gawai Dayak merupakan media untuk menghibur masyarakat dan dapat meningkatkan komunikasi masyarakat yang terlibat dalam acara tersebut (Atok. Gawai Dayak di masa lalu identik membunuh babi dan kegiatan lainnya. Pada masa sekarang seluruh kegiatan tersebut sudah disesuaikan tanpa menghilangkan nilai dari tradisinya. Adapun tradisi yang sudah dihilangkan adalah tradisi ngayau atau bekayau. Dalam tradisi ini cara untuk mengukur kemampuan personal masyarakat Dayak adalah dengan membawa kepala Hal ini dikarenakan adanya prinsip apabila sesama masyarakat Dayak saling menganggap orang lain musuh maka orang tersebut harus bisa mengalahkan satu sama lain (Elyta. Makna gawai Dayak tidak hanya dipahami sebagai ucapan syukur atau sekedar pesta hasil panen saja. Tetapi berhubungan dengan bentuk kecintaan pada budaya dan adat istiadat. Pada pelaksanaan gawai Dayak, aktivitas yang berlangsung biasanya pembacaan doa, pertunjukan melalui pakaian adat, menggunakan Bahasa Dayak dan alat musik tradisional (Prihatink dkk, 2. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Pekan Gawai Dayak di Kabupaten Sintang Festival atau pekan gawai Dayak merupakan bagian dari kepercayaan Yang dilestarikan maka sebagai bentuk penghargaan terhadap nenek moyang pula (Atok, 2. Pekan Gawai Dayak sudah menjadi agenda tahunan pemerintah daerah Kabupaten Sintang bersama Dewan Adat Dayak Kabupaten Sintang. Acara ini dilakukan sejak tahun 2017 hingga tahun 2019. Pelaksanaan Pekan Gawai Dayak sempat terhenti selama 2 tahun pada tahun 2020 dan 2021 karena pandemi Covid-19, kemudian dimulai kembali pada tahun 2022. Pekan Gawai Dayak sebelumnya dilaksanakan di Stadion Sepak Bola Baning Sintang, karena belum ada Rumah Betang atau Rumah Panjang Dayak. Dengan diresmikannya Rumah Betang Dayak Tampun Juah pada tahun 2022, menandai Pekan Gawai Dayak di Kabupaten Sintang sudah memiliki tempat pelaksanaannya sendiri. Tampun Juah dalam tradisi masyarakat Dayak Ibanic Group berarti sebuah kawasan permukiman awal yang tertua di Kalimantan Barat sebelum menyebar ke berbagai daerah. Sehingga dengan mengusung nama tersebut harapannya masyarakat Dayak di Kabupaten Sintang mempertahankan serta melestarikan esksistensi adat istiadat Dayak itu FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 Pekan gawai Dayak di Kabupaten Sintang disajikan dalam berbagai pergelaran budaya Dayak. Pelaksanaan kegiatan biasanya berlangsung selama 3 s/d 5 hari, di bulan Juli. Seluruh pergelaran budaya ini diadakan dalam bentuk perlombaan. Karna bertujuan masyarakat dalam pelestarian budaya lokal sekaligus menarik perhatian masyarakat umum. Adapun kegiatan kesenian dan adat istiadat adalah sebagai berikut : Lomba menyanyikan lagu Dayak Pemilihan Bujang dan Dara Gawai Dayak Fashion show busana Dayak Lomba melukis perisai Lomba menangkap babi Lomba menganyam bambu, rotan dan tikar Lomba Lomba tari Dayak kreasi Lomba menyumpit Lomba tattoo Seluruh kegiatan ini sudah dan menjadi ciri khas masyarakat Dayak sejak dulu. Seperti perisai dan tattoo, perisai merupakan tameng yang digunakan sebagai alat perlindungan diri saat terjadi perang dan juga sebagai sarana untuk mengekspresikan kepercayaan, kekuatan dan identitas Dayak. Pada perisai terdapat ukiran-ukiran yang beragam, seperti naga, burung Enggang, kepala harimau, ataupun bunga dan daun. Seluruh motif ini memiliki makna kekuatan, perlindungan, keberanian, keagungan, hubungan dengan leluhur. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Sedangkan makna tattoo pada Dayak, memiliki arti yang mendalam. Tattoo bukan hanya merupakan seni tubuh saja tetapi juga mencerminkan status sosial, identitas budaya dan keyakinan spiritual. Kemudian menangkap babi dan menyumpit mengacu pada kebiasaan masyarakat Dayak dalam mencari makanan yaitu berburu di hutan. Selain untuk pemenuhan kebutuhan hidup, berburu juga berkaitan dengan aspek budaya dan spiritual. Aspek budaya dan spiritual yang dimaksud adalah sebelum melakukan kegiatan berburu masyarakat Dayak melakukan ritual atau doa untuk meminta izin terlebih dahulu kepada roh Ritual doa ini dilakukan dengan berlangsung sukses dan aman. Menyumpit, merupakan salah satu cara yang digunakan untuk Masyarakat Dayak menyumpit dengan menggunakan sumpit yang terbuat dari bambu dan dilengkapi dengan anak panah beracun dari getah tumbuhan atau racun serangga. Sedangkan kegiatan menganyam, sehari-hari Dayak. Masyarakat Dayak memenuhi tanaman yang ada di hutan beberapa di antaranya bambu dan rotan. Keduanya dianyam membentuk keranjang, topi dan tas serta tikar. Di kampung atau desa, seluruh hasil anyaman ini masih FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 digunakan untuk membawa peralatan dan perbekalan berkebun/berladang dan sebagai alas duduk/tidur. perkotaan, hasil anyaman dijadikan oleh-oleh kerajinan tangan. Kegiatan menumbuk padi dan menampik merupakan salah satu proses dari pengolahan padi hasil panen menjadi beras yang siap dikonsumsi. Proses dari kegiatan ini biasanya dimulai dari meletakan padi pada dulang untuk dipisahkan dari sekam. Setelah itu padi diletakan pada lesung dan penumbuk yang terbuat dari kayu atau batu, kemudian ditumbuk hingga butirannya terpisah dari sekam. Proses berikutnya adalah menampik, yaitu membersihkan padi dari sekam melalui cara diayak atau Di antara berbagai rangkaian pergelaran budaya yang ada, pemilihan Bujang dan Dara Gawai Dayak menjadi pertunjukan yang diadaptasi dari kegiatan yang lebih modern. Bujang dan Dara merupakan pemuda-pemudi yang dipilih melalui proses seleksi dan memiliki pengetahuan mengenai budaya Dayak. Pemilihan Bujang dan Dara Gawai Dayak bertujuan untuk memilih Duta Budaya Dayak tradisional dan kekayaan Dayak. Dengan masa kerja selama 1 tahun. Bujang dan Dara Gawai berperan besar dalam memperkenalkan budaya Dayak kepada dunia luar, ikut serta dalam berbagai kegiatan sosial dan upacara adat. Sehingga keduanya memiliki tanggung jawab secara sosial. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa budaya lokal P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 masyarakat Dayak memiliki makna yang masyarakat sekarang. Eksistensi budaya lokal masyarakat Dayak sudah beralih makna bukan lagi menjadi kebiasaan sehari-sehari melainkan sesuatu yang harus dipertahankan agar tidak hilang. Budaya Dayak memiliki fungsi sosial yang kuat karena dilakukan anggota keluarga dan komunitas masyarakat Dayak. Di masyarakat modern, kebiasaan ini sudah hampir tidak lagi dilakukan sehingga menjadi penting untuk melestarikannya. Upaya pelestarian bukan hal yang tidak mungkin dilakukan karena antusias masyarakat selalu tinggi setiap Pekan Gawai Dayak akan dilaksanakan maka dari itu upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat sebagai peserta dan penikmat pergelaran budaya sangat penting dilakukan pemerintah. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari kajian ini adalah pelestarian budaya lokal dilakukan melalui pergelaran budaya berupa Pekan Gawai Dayak. Pekan Gawai Dayak memiliki fungsi penting sebagai sebuah pengingat akan beberapa tradisi yang tidak dilakukan lagi di zaman modern terutama di perkotaan. Saran yang dapat diberikan adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang bersama Dewan Adat Dayak Kabupaten Sintang harus mampu melihat potensi dengan melakukan inovasi pergelaran budaya dan penataan lokasi pergelaran budaya yang lebih FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 DAFTAR PUSTAKA