Manajemen & Kewirausahaan, 2021, 2. :01-19 MANAJEMEN & KEWIRAUSAHAAN PENGARUH KUPON OBLIGASI. LIKUIDITAS OBLIGASI. DAN PROFITABILITAS TERHADAP IMBAL HASIL OBLIGASI KORPORASI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2014-2019 Meriska Mokoagouw1. Ramon Tumiwa2 dan Lihard Lumapow3 123Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Manado. Indonesia mokoagouwmeriska@gmail. com , 2 ramontumiwa@unima. id , 3lihard_lumapow@unima. Diterima : 09-04-2021 Direvisi : 20-04-2021 Disetujui : 24-04-2021 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kupon obligasi, likuiditas obligasi, profitabilitas terhadap imbal hasil obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2019. Imbal hasil yang diterima investor dari investasi obligasi selalu Data yang digunakan merupakan data sekunder dengan jenis penelitian yang bersifat kuantitatif, alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan model random effect serta menggunakan bantuan Eviews 10 untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain. Populasi dalam penelitian ini adalah 138 perusahaan yang menerbitkan obligasi korporasi dengan 1165 obligasi dalam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2019 dengan purposive sampling sebagai metode pengambilan sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa kupon obligasi (CPN) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Imbal Hasil Obligasi (YTM). Sebaliknya likuiditas obligasi (FR) dan profitabilitas (ROA) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Imbal Hasil Obligasi (YTM). Kata Kunci: kupon obligasi, likuiditas obligasi, profitabilitas, imbal hasil obligasi. Abstract This study aims to determine and analyze the effect of bond coupons, bond liquidity, profitability on corporate bond yields listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 20142019. The returns that investors receive from investing in bonds always fluctuate. The data used are secondary data with quantitative research types. The analytical tool used is panel data regression analysis with a random effect model and using the help of Eviews 10 to obtain a comprehensive picture of the relationship between one variable and another. The population in this study were 138 companies that issued corporate bonds with 1165 bonds listed on the Indonesia Stock Exchange in 2014-2019 with purposive sampling as the sampling method. The results showed that bond coupons (CPN) had a positive and significant effect on bond yields (YTM). On the other hand, bond liquidity (FR) and profitability (ROA) have a negative and insignificant effect on bond yields (YTM). Keywords: bond coupon, bond liquidity, profitability, bond yield. PENDAHULUAN Obligasi merupakan salah satu jenis instrument pembiayaan yang dapat berperan dalam dua sisi yaitu, sebagai instrumen pembiayaan dan sebagai instrumen investasi. Dalam peran sebagai issuer/penerbit, obligasi merupakan jenis perusahaan maupun bagi suatu negara. Obligasi juga dapat digunakan sebagai memberikan pendapatan dalam bentuk bunga maupun gain bagi para investor. Maka dari itu obligasi memiliki implikasi pengambilan keputusan perusahaan. Mokoagouw. Tumiwa, dan Lumapow . maupun untuk pengambilan kebijakan Menurut Samsul . , obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah ataupun pihak swasta kepada masyarakat atau investor dengan imbalan yang dapat berupa kupon/bunga dan pelunasan pokoknya yang dibayarkan lebih dari satu tahun. Kupon yang dibayarkan bisa bersifat tarif tetap . ixed rat. , tarif mengambang . loating rat. maupun kombinasi dari keduanya. Pembayaran kupon bisa dilakukan secara periodikal yaitu bulanan, triwulanan atau Banyak belakangi pemilihan investasi obligasi dibandingkan dengan jenis investasi lainnya seperti saham. Pertama, tingkat kerugian . cenderung lebih kecil karena tingkat pendapatan yang diterima bersifat tetap. Kedua, investor obligasi perusahaan mengalami kebangkrutan dibandingkan dengan pemegang saham (Listiawati & Paramita, 2. Berbeda pemerintah yang memiliki risiko gagal bayar mendekati nol karena jaminan ketersediaan dana setiap tahunnya dalam bentuk APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negar. dapat digunakan sebagai pembayaran kupon dan pokok obligasi sampai dengan jatuh tempo, obligasi korporasi memiliki risiko gagal bayar perusahaan penerbitnya, dan eksternal perusahaan seperti pasar atau bahkan kondisi politik negara tempat perusahaan berdomisili dan pemerintah tidak dapat Oleh karena itu investor obligasi harus dengan cermat dalam memilih obligasi korporasi. Risiko yang mempengaruhi tingkat return yang diharapkan oleh investor yang dikenal dengan yield atau imbal hasil obligasi. Menurut Surya & Nasher, . , imbal hasil . yang akan didapatkan oleh investor dari hasil penempatan dananya pada obligasi dinamakan imbal hasil atau yield. Menurut Samsul, . imbal hasil atau yield adalah bentuk keuntungan atas investasi obligasi yang dinyatakan dalam presentase. Sebagai instrument investasi, perubahan tingkat imbal hasil atau yield obligasi yang berjalannya waktu akan mengalami Perubahan imbal hasil tersebut dipengaruhi oleh tingkat harga pasar obligasi tersebut. Oleh sebab itu, investor dan emiten harus wajib memperhatikan fluktuasi harga obligasi termasuk faktor-faktor yang menentukan perubahan imbal hasil obligasi itu sendiri (Surya & Nasher, 2. Yield to maturity obligasi korporasi yang aktif beredar tahun 2014-2019 mengalami fluktuasi. Obligasi subordinasi I Bank UOB Indonesia Tahun 2014 dengan kode BBIA/BBIA01SB pada tahun 2014 memiliki yield to maturity 10. dan mengalami peningkatan pada tahun 2015 yaitu menjadi 11. 0242 dan kembali menurun pada tahun 2016 menjadi 0417 terus menurun di tahun 2017 6391 kemudian kembali naik di tahun 2018 menjadi 10. 3044 dan tahun 2019 yield to maturity PT Bank UOB Indonesia dengan kode BBIA/BBIA01SB Nilai rata-rata yield to maturity Obligasi Subordinasi I Bank UOB Indonesia Tahun 2014 dengan kode BBIA/BBIA01SB senilai 10. Hanya dua tahun pertama yaitu tahun 2014 dan tahun 2015 yang memiliki yield to maturity di atas rata-rata selain itu tahun 2016 sampai 2019 mimiliki yield to maturity di bawah nilai rata-ratanya. Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap II Tahun 2014 dengan kode BNLI2/BNLI02SBCN2 pada tahun 2014 memiliki nilai yield to maturity 5791 menurun di tahun 2015 menjadi 0640, tahun 2016 10. 0620 dan terus menurun tahun 2017 menjadi 9. kemudian tahun 2018 naik menjadi 4228 dan turun kembali di tahun 2019 Pengaruh Kupon Obligasi. Likuiditas Obligasi, dan Profitabilitas Terhadap Imbal Hasil Obligasi Korporasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 Nilai rata-rata yield to Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap II Tahun BNLI2/BNLI02SBCN2 10. 3425 dan hanya dua tahun yaitu tahun 2014 dan tahun 2018 yang memiliki nilai yield to maturity di atas rata-rata dan untuk tahun 2015, 2016, 2017 dan 2019 memiliki nilai yield to maturity di bawah rata-rata. Obligasi II Telkom Tahun 2010 dengan kode TLKM/TLKM02B padatahun 2014 memilki nilai yield to maturity 0804 mengalami peningkatan tahun 2015 menjadi 10. 3152 kemudian menurun di tahun 2016 menjadi 9. 6380 terus menurun tahun 2017 menjadi 9. kemudian kembali naik menjadi 9. tahun 2018 da tahun 2019 9. Nilai rata-rata yield to maturity Obligasi II Telkom Tahun 2010 dengan kode TLKM/TLKM02B yaitu 9. 8148 dan tiga tahun memiliki nilai yield to maturity di atas rata-rata dan tiga di bawah rata-rata. Untuk yang memiliki nilai yield to maturity di atas rata-rata yaitu tahun 2014, 2015 dan 2019 dan di bawah rata-rata tahun 2016, 2017 dan 2018. Menurut Sitorus . 5: . , terdapat sejumlah faktor yang menentukan yield obligasi, baik faktor eksternal maupun faktor internal. Faktor eksternal yang menentukan yield obligasi yaitu tingkat suku bunga, inflasi dan kurs. Sedangkan faktor internal yang menentukan yield perusahaan dan struktur instrument Dari berbagai faktor yang mempengaruhi yield atau imbal hasil obligasi, penulis hanya membahas mengenai 3 faktor yaitu kupon obligasi, likuiditas obligasi dalam struktur instrumen obligasi, dan profitabilitas dalam kinerja Kupon obligasi adalah faktor yang mempengaruhi yield atau imbal hasil Besaran yield obligasi diukur dari besaran kepemilikan kupon obligasi. Kupon obligasi adalah tingkat bunga yang kepada investor periodenya oleh perusahaan penerbit obligasi hingga batas jatuh tempo (Sari & Sudjarni, 2. Kupon yang tinggi menjadi daya tarik bagi investor karena semakin tinggi nilainya, semakin tinggi potensi yield yang akan diterima. Faktor selanjutnya yaitu likuiditas. Dalam investor memiliki beberapa pertimbangan, yang termasuk dalam pertimbangannya salah satunya adalah likuiditas. Likuiditas dari suatu obligasi menunjukkan seberapa cepat atau seberapa sering investor Menurut Hartono . , likuiditas obligasi yang tinggi mampu menarik penjual dan pembeli obligasi yang banyak, sehingga Hanafi . 5, hal . mengatakan bahwa likuiditas obligasi merujuk tingginya volume dan frekuensi transaksi perdagangan obligasi di pasar Volume dan frekuensi transaksi mendorong naiknya harga obligasi di masa depan. Likuiditas menggunakan frekuensi perdagangan obligasi korporasi tahun 2014 sampai tahun 2019 mengalami fluktuasi. Obligasi Subordinasi I Bank UOB Indonesia Tahun 2014 memiliki nilai frekuensi 19 dan tahun 2015 naik menjadi 53 kembali turun di tahun 2016 menjadi 25 selanjutnya tahun 2017 naik menjadi 34, tahun 2018 turun menjadi 22 selanjutnya tahun 2019 naik Obligasi Subordinasi I Bank UOB Indonesia Tahun 2014 memiliki ratarata nilai frekuensi sebesar 31. Tahun 2015 dan 2017 memiliki nilai frekuensi di atas rata-rata dan tahun 2014, 2016, 2018 dan 2019 memiliki nilai frekuensi di bawah rata-rata. Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap I Tahun 2012 BBTN2/BBTN01CN1 pada tahun 2014 memilki frekuensi obligasi senilai 4 naik di tahun 2015 menjadi 23, tahun 2016 turun menjadi 22 kemudian kembali naik di tahun 2017 menjadi 47 dan tahun 2018 terus naik menjadi 68 kemudian tahun 2019 menjadi Mokoagouw. Tumiwa, dan Lumapow . Nilai rata-rata frekuensi dari obligasi ini adalah 39 dan di tiga tahun pertama yaitu tahun 2014, 2015 dan 2016 memiliki nilai frekuensi di bawah rata-rata dan untuk tahun 2017, 2018 dan 2019 memiliki nilai frekuensi di atas rata-rata. Obligasi II Telkom Tahun 2010 TLKM/TLKM02B memiliki nilai frekuensi 85 dan menurun di tahun 2015 menjadi 38 terus menurun di 2016 menjadi 18 selanjutnya meningkat di tahun 2017 menjadi 54 kemudian kembali mengalami penurunan di tahun 2018 menjadi 46 dan di tahun 2019 meningkat menjadi 74. Obligasi ini memiliki nilai rata-rata frekuensi yaitu 53. Tahun 2014, 2017 dan 2019 memiliki nilai frekuensi di atas rata-rata dan untuk tahun 2015, 2016 dan 2018 memiliki nilai frekuensi di bawah rata-rata. Faktor lain yang harus diperhatikan oleh investor yaitu profitabilitas. Hal ini Profitabilitas digunakan oleh investor untuk menilai investasi dan risikonya, termasuk pemegang obligasi dalam menilai keputusan kredit. Husnan . 3: . menyatakan bahwa rasio profitabilitas merupakan faktor internal yang mempengaruhi yield obligasi. Semakin besar rasio maka semakin kecil yield obligasi. Profitabilitas dengan menggunakan rasio return on assets, obligasi korporasi mengalami fluktuasi. Obligasi II Telkom Tahun TLKM/TLKM02B memiliki return on assets 38 di tahun 2015 menurun menjadi 32 kemudian tahun 2016 meningkat 77, tahun 2017 menjadi 11. dan tahun 2018 menurun menjadi 8. dan tahun 2019 menjadi 8. Obligasi ini memiliki nilai rata-rata return on assets Tahun 2014, 2016 dan 2017 memiliki nilai return on assets di atas rata-rata sedangkan tahun 2015, 2018 dan 2019 memiliki nilai return on assets di bawah rata-rata. Obligasi Berkelanjutan I ANTAM Tahap I Tahun 2011 dengan kode ANTM/ANTM01BCN1 pada tahun 2014 memiliki nilai return on assets sebesar 3. 51 menurun di tahun 2015 menjadi -4. peningkatan menjadi 0. 21 terus meningkat di tahun 2017 menjadi 0. 45 selanjutnya tahun 2018 menjadi 2. 62 tahun 2019 kembali menurun menjadi 0. Nilai ratarata return on assets obligasi ini yaitu 0. Tahun 2014 dan 2015 memiliki nilai return on assets di bawah rata-rata sedangkan 2016 samapai 2019 memiliki return on assets di atas rata-rata. Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank BII Tahap I Tahun 2014 dengan kode BNII/BNII02SBCN1 pada tahun 2014 memiliki nilai return on assets 0. meningkat di tahun 2015 menjadi 0. dan tahun 2016 sebesar 1. 16 kemudian tahun 2017 menurun menjadi 1. 04 dan tahun 2018 kembali meningkat menjadi 23 selanjutnya menurun di tahun 2019 Obligasi ini memiliki nilai rata-rata return on assets sebesar 0. Tahun 2014 dan 2015 memiliki nilai return on assets di bawah rata-rata dan tahun 2016 sampai 2019 memiliki nilai return on assets di atas rata-rata. TINJAUAN LITERATUR Yield atau Imbal Hasil Obligasi Yield diperoleh atas investasi sejumlah dana pada suatu obligasi (Fahmi, 2012: . Menurut Tandelilin Susanti . , yield atau imbal hasil obligasi adalah faktor terpenting bagi investor dalam melakukan pembelian obligasi sebagai instrument investasinya. Menurut Gumanti . 1: . terdapat beberapa istilah definisi yield yang ada sejauh ini antara lain. Nominal yield Yield nominal atau kupon . oupon atau nominal yiel. adalah tingkat kupon tahunan yang dijanjikan. Current yield Yield yang dihitung dengan cara Pengaruh Kupon Obligasi. Likuiditas Obligasi, dan Profitabilitas Terhadap Imbal Hasil Obligasi Korporasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 membagi pembayaran kupon tahunan yang dijanjikan dengan harga pasar obligasi yang berlaku saat ini. Yield to maturity Yield to maturity adalah tingkat pengembalian dari obligasi yang dibeli dengan harga pasar sekarang dan disimpan hingga saat jatuh tempo. Yield to maturity dapat diperoleh dengan mencari tingkat diskonto dimana nilai aliran kas dan nilai pasar sekarang dari obligasi sama besarnya. Yield to call Yield to call mirip dengan yield to maturity namun. YTC berasumsi bahwa obligasi akan ditarik pada tanggal yang paling mungkin. Bentuk membeli kembali obligasi pada harga yang ditetapkan. Dalam hal ini yang digunakan bukannya nilai par pada pembayaran, melainkan harga callnya. Kupon Obligasi Menurut Tandelilin . 0: . kupon merupakan salah satu determinan yang menentukan yield obligasi. Menurut Hartono . , kupon obligasi adalah pendapatan bunga yang dibayarkan kepada pemegang obligasi oleh emiten penerbit obligasi pada setiap periode setengah tahun atau tahunan (Hartono. Menurut Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Coupon/kupon merupakan besaran bunga dalam bentuk persentase dari nilai nominal obligasi yang harus yang dibayarkan secara reguler. Setiap pengembalian pinjaman penerbit oblogasi berdasarkan nilai yang telah disepakati. Kesepakatan nilai berdasarkan tingkat suku bunga kemudian menjadi nilai tukar Semakin tinggi nilai kupon obligasi, semakin tinggi pula yield obligasinya. Akibatnya permintaan obligasi bertambah sehingga harga obligasi akan naik. Likuiditas Obligasi Yield obligasi bergantung juga pada likuiditas perusahaan. Tingkat likuiditas perusahaan yang tinggi akan menurunkan risiko gagal bayar. Likuiditas perusahaan yang tinggi akan menarik pembeli dan penjual obligasi sehingga memudahkan dalam transaksi jual beli (Favero et al. Hal ini sehubungan dengan pelunasan kewajiban-kewajiban finansial (Harjito & Martono, 2. Obligasi yang dikatakan likuid adalah obligasi yang banyak beredar di kalangan pemegang obligasi serta sering diperdagangkan oleh investor di pasar obligasi (Indarsih, 2. Dengan adanya likuditas obligasi yang tinggi dapat membuat harga obligasi cenderung stabil dan meningkat, sehingga menyebabkan yield obligasi menurun karena tingkat risiko lebih rendah. Profitabilitas Husnan . 3: . menyatakan bahwa rasio profitabilitas merupakan faktor lainnya yang mempengaruhi yield Karena mempengaruhi investasi jangka panjang termasuk obligasi (Sartono 2001:. Profitabilitas dipandang penting bagi investor karena karena profitabilitas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba/keuntungan. Profitabilitas menjadi sinyal bagi investor untuk menginvestasikan dananya pada obligasi yang diterbitkan perusahaan tersebut berdasarkan seberapa efisien perusahaan memanfaatkan asetnya dan mengelola kegiatan operasinya untuk menghasilkan laba. Pusat perhatian pada rasio ini adalah pada hasil akhir atau laba bersih (Ross et al. , 2. Sedangkan Sartono kemampuan perusahaan memperoleh penjualan, total aktiva maupun modal Perusahaan yang bertumbuh Mokoagouw. Tumiwa, dan Lumapow . mempunyai harapan untuk berkembang dan menghasilkan laba sehingga bisa digunakan untuk membayar pokok dan bunga obligasi dengan lancar karena jatuh tempo obligasi dalam jangka waktu yang Dengan melihat rasio profitabilitas, kreditur akan merasa aman karena perusahaan menghasilkan laba yang digunakan untuk membayar pokok dan bunga obligasi dengan lancar (Restuti dan Baridwan, 2. Kerangka Pemikiran Menurut Hartono . , kupon obligasi merupakan pendapatan bunga yang dibayarkan kepada pemegang obligasi atas perjanjian dengan penerbit obligasi untuk setiap periode tertentu, pada umumnya setiap tahun atau tiap Tendelilin menyatakan bahwa kupon berperan menentukan yield obligasi dan tingkat pengembalian bagi investor. Apabila nilai kupon tinggi maka yield obligasi juga tinggi, sehingga permintaan atas obligasi bertambah yang berujung pada kenaikan harga obligasi. Menurut hasil Penelitian Safitri & Yuniati, . kupon secara positif berpengaruh tidak signifikan terhadap yield obligasi. Hal Ini berbeda menunjukan bahwa kupon berpengaruh positif secara signifikan terhadap yield obligasi (Susanti & Permana, 2017. Zulfa & Nahar, 2. H1: Kupon obligasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap imbal hasil Likuiditas obligasi yang banyak beredar di kalangan investor dan masih aktif diperdagangkan di pasar obligasi yang digambarkan dengan frekuensi transaksi. Likuiditas obligasi yang tinggi dapat menyebabkan obligasi lebih menarik karena tersedianya pembeli dan penjual yang lebih banyak sehingga obligasi bisa diperjual belikan kapan saja. Dengan adanya likuditas obligasi yang tinggi membuat harga obligasi cenderung stabil dan meningkat, sehingga menyebabkan yield obligasi menurun karena tingkat risiko lebih Menurut hasil penelitian Zulfa & Nahar, . likuiditas tidak berpengaruh terhadap yield obligasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri et al. , . bahwa likuiditas pada penelitian ini menunjukan tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada variabel yield obligasi perbankan. H2: Likuiditas obligasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap imbal hasil Pada prinsipnya, rasio profitabilitas perusahaan dalam menghasilkan laba, baik dari penjualan yang ada maupun dari asset total yang dimiliki (Gumanti, 2011: Semakin besar rasio profitabilitas, semakin kecil risiko tidak terbayar, maka semakin kecil pula yield obligasi. Menurut hasil penelitian (Safitri & Yuniati, 2. disimpulkan bahwa profitabilitas memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap yield obligasi. Sedangkan menurut hasil penelitian lainnya menyatakan bahwa Profitabilitas tidak memiliki pengaruh secara parsial terhadap yield obligasi (Fauzani & Yahya, 2. H3: Profitabilitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap imbal hasil Kupon Obligasi Likuiditas Obligasi Profitabilitas Imbal Hasil Obligasi Gambar 1 Model Penelitian METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian Penelitian kuantitatif adalah Pengaruh Kupon Obligasi. Likuiditas Obligasi, dan Profitabilitas Terhadap Imbal Hasil Obligasi Korporasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan (Sugiyono, 2013, p. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kupon obligasi (X. , likuiditas obligasi (X. , dan profitabilitas (X. terhadap imbal hasil obligasi (Y). Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah 138 perusahaan yang menerbitkan obligasi korporasi dengan 1165 obligasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014 sampai tahun 2019. Metode penarikan sampel dalam penelitian ini yaitu purposive sampling. Purposive sampling merupakan metode pemilihan sampel dengan kriteria tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti terhadap objek yang akan diteliti (Sugiyono, 2014: . Adapun kriteria yang digunakan sebagai berikut. Obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2014-2019 dan hanya terdapat dalam Indonesia Bond Market Directory (IBMD) tergabung dalam Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Obligasi korporasi yang belum jatuh tempo selama periode penelitian yaitu Obligasi mengeluarkan kupon fixed rate dan kupon didistribusikan secara triwulan. Obligasi Korporasi yang memiliki frekuensi perdagangan obligasi setiap tahun atau aktif diperdagangkan selama periode penelitian yaitu 20142019 berupa data publikasi. Data tersebut sudah dikumpulkan oleh pihak lain. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari Website resmi Bursa Efek Indonesia w. Teknik Analisis Data Analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberikan deskriptif tentang data setiap variabel-variabel penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini. Analisis merupakan analisis regresi dengan struktur data yang adalah data panel. Data Panel merupakan gabungan antara data runtut waktu . ime serie. dan data silang . ross sectio. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis Deskriptif Statistik deskriptif merupakan alat mendeskripsikan atau menggambarkan bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi (Amirotun Sholikhah: 2. Statistik deskriptif dalam penelitian ini meliputi nilai mean, observasi dari sampel penelitian. Tabel 1 Deskriptif Statistik YTM CPN ROA Mean Dari kriteria-kriteria tersebut di atas korporasi dan 15 obligasi yang aktif diperdagangkan pada periode 20142019. Median Maximum Minimum Std. Dev. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa profitabilitas dan imbal hasil obligasi korporasi dengan menggunakan data bulanan tahun 2017-2019. Data sekunder adalah data dalam bentuk sudah jadi yaitu Observations Sumber: Data diolah . Keterangan: YTM = Yield to Maturity/Imbal Hasil Obligasi Mokoagouw. Tumiwa, dan Lumapow . CPN = Kupon Obligasi FR = Likuiditas Obligasi/Frekuensi ROA = Return on assets/Profitabilitas Dari deskriptif menunjukan gambaran dari hasil menunjukan bahwa variabel Y (YTM) sebanyak 90 memiliki rataAerata . 970347, dan nilai tengah . 06300, kemudian nilai terendah sebesar 8. 043800, sedangkan nilai tertinggi adalah 13. 17670 dan nilai standar deviasi Obligasi korporasi dengan nilai Yield to Maturity tertinggi adalah Obligasi Subordinasi Bank Mayapada i Tahun 2013 dengan kode MAYA dan untuk obligasi korporasi dengan nilai Yield to Maturity terendah adalah Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2013 dengan kode BBTN3. Gambar 1 9,826367 10,37193 9,561667 9,066133 9,2607 10,25478 10,33068 10,55582 10,34253 9,2048 9,600867 9,560167 11,6776 9,795167 9,814883 Rata-rata Yield To Maturity pada 15 Obligasi Korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 20142019 ANTM BBIA BBTN1 BBTN2 BBTN3 BNGA BNII BNLI1 BNLI2 ISAT1 ISAT2 JSMR MAYA PPLN TLKM Sumber: Data diolah . Dari gambar 1 di atas dapat dilihat bahwa nilai Yield to Maturity obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 berfluktuasi. Pada Obligasi Berkelanjutan I ANTAM Tahap I Tahun 2011 dengan kode ANTM 826367, dan pada Obligasi Subordinasi I Bank UOB Indonesia Tahun 2014 dengan kode BBIA mengalami peningkatan menjadi 10. 37193 kemudian terjadi penurunan kembali yang dialami oleh Obligasi XV Bank BTN Tahun 2011 dengan kode BBTN1 menjadi 9. selanjutnya dua obligasi dari Bank Tabungan Negara terus menurun yaitu Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap I Tahun 2012 dengan kode BBTN2 066133dan untuk Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2013 dengan kode BBTN3 naik menjadi Nilai Yield To Maturity pada Obligasi Subordinasi II Bank CIMB Niaga Tahun 2010 dengan kode BNGA Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank BII Tahap I Tahun 2014 dengan kode BNII memiliki nilai Yield To Maturity sebesar 10. 33068, dan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap I Tahun 2013 dengan kode BNLI1 senilai 10. Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap II Tahun 2014 dengan kode BNLI2 mengalami sedikit penurunan menjadi 34253 selanjutnya Obligasi Indosat Vi Tahun 2012 dengan kode ISAT1 menurun 2048 dan untuk nilai Yield To Maturity Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dengan kode ISAT2 Nilai Yield To Maturity Obligasi Jasa Marga XIV Seri JM-10 dengan kode JSMR 9. 560167 dan Obligasi Subordinasi Bank Mayapada i Tahun 2013 dengan kode MAYA mengalami peningkatan nilai Yield To Maturity menjadi 11. kemudian mengalami penurunan oleh Obligasi PLN XII Tahun 2010 dengan kode PPLN senilai 9. 795167dan Yield To Maturity Obligasi II Telkom dengan Tahun 2010 dengan kode TLKM senilai Dari deskriptif menunjukan gambaran dari hasil menunjukan bahwa variabel X1 (CPN) sebanyak 90 memiliki rataAerata . 010173, dan nilai tengah . 010500, kemudian nilai tertinggi sebesar 0. 011750, sedangkan Pengaruh Kupon Obligasi. Likuiditas Obligasi, dan Profitabilitas Terhadap Imbal Hasil Obligasi Korporasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 nilai terendah adalah 0. 007900 dan nilai standar deviasi Obligasi korporasi dengan nilai CPN terendah adalah Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap I Tahun 2012 dengan kode BBTN2 dan Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2013 dengan kode BBT3 untuk obligasi korporasi dengan nilai CPN tertinggi adalah Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap II Tahun 2014 dengan kode BNLI2. Gambar 2 Rata-rata Kupon Obligasi Pada 15 Obligasi Korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2019 0,014 0,012 0,01 0,008 0,006 0,004 0,002 Sumber: Data diolah . Dari gambar 2 di atas dapat dilihat bahwa nilai kupon obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2019 berfluktuasi. Nilai kupon obligasi berkelanjutan I ANTAM Tahap I Tahun 2011 dengan kode ANTM senilai 00905 dan nilai kupon Obligasi Subordinasi I Bank UOB Indonesia Tahun 2014 dengan kode BBIA mengalami peningkatan menjadi 0. 01135 kemudian nilai kupon obligasi XV Bank BTN Tahun 2011 dengan kode BBTN1 menurun berkelanjutan I Bank BTN Tahap I Tahun 2012 dengan kode BBTN2 berjumlah 0079 dan kupon Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2013 dengan kode BBTN3 berjumlah 0. Nilai Kupon Obligasi Subordinasi II Bank CIMB Niaga Tahun 2010 dengan kode BNGA 0. kemudian nilai kupon Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank BII Tahap I Tahun 2014 dengan kode BNII meningkat 01135 selanjutnya terus Obligasi Subordinasi Berkelanjutan Bank Permata Tahap I Tahun 2013 dengan kode BNLI1 yaitu 0. 012 kemudian nilai kupon Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap II Tahun 2014 dengan kode BNLI2 menurun menjadi Obligasi Indosat Vi Tahun 2012 dengan kode ISAT1 memiliki kupon obligasi seniali 0. 00888 dan Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dengan kode ISAT2 memiliki kupon 0105 kemudian mengalami penurunan nilai kupon Obligasi Jasa Marga XIV Seri JM-10 dengan kode JSMR yaitu 0. Nilai kupon obligasi Obligasi Subordinasi Bank Mayapada i Tahun 2013 dengan kode MAYA 0. 011 dan mengalami penurunan yaitu Obligasi PLN XII Tahun 2010 dengan kode PPLN dengan nilai 0104 kemudian Obligasi II Telkom Tahun 2010 dengan kode TLKM Dari deskriptif menunjukan gambaran dari hasil menunjukan bahwa variabel X2 (FR) sebanyak 90 memiliki rata Ae rata . 84444, dan nilai tengah . 00000, kemudian nilai tertinggi sebesar 270. 0000, sedangkan nilai terendah adalah 1. 000000 dan nilai standar deviasi Obligasi korporasi dengan nilai FR terendah adalah Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dengan kode ISAT2 dan untuk obligasi korporasi dengan nilai FR tertinggi adalah Obligasi Subordinasi II Bank CIMB Niaga Tahun 2010 dengan kode BNGA. Dari gambar 3 di atas dapat dilihat bahwa nilai frekuensi obligasi Korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 terjadi kenaikan dan penurunan atau dengan kata lain Pada Obligasi Berkelanjutan I ANTAM Tahap I Tahun 2011 dengan kode ANTM nilai Frekuensi obligasi 101. kemudian mengalami penurunan yaitu Mokoagouw. Tumiwa, dan Lumapow . Dari deskriptif menunjukan gambaran dari hasil menunjukan bahwa variabel X3 (ROA) sebanyak 90 memiliki rataAerata . 618653, dan nilai tengah . 908022, kemudian nilai tertinggi sebesar 11. 15707, sedangkan nilai terendah adalah -4. 746382 dan nilai standar deviasi Obligasi korporasi dengan nilai ROA terendah adalah Obligasi Berkelanjutan I ANTAM Tahap I Tahun 2011 dengan kode ANTM dan untuk obligasi korporasi dengan nilai ROA tertinggi adalah Obligasi II Telkom Tahun 2010 dengan kode TLKM. Gambar 3 Rata-rata Frekuensi Obligasi Pada 15 Obligasi Korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2019 Sumber: Data diolah . Gambar 4 Rata-rata Return On Assets Pada 15 Obligasi Korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2019 ANTM BBIA BBTN1 BBTN2 BBTN3 BNGA BNII BNLI1 BNLI2 ISAT1 ISAT2 JSMR MAYA PPLN TLKM nilai frekuensi Obligasi Subordinasi I Bank UOB Indonesia Tahun 2014 dengan kode BBIA menjadi 30. 666670 selanjutnya Obligasi XV Bank BTN Tahun 2011 dengan kode BBTN1 memiliki nilai frekuensi Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap I Tahun 2012 dengan kode BBTN2 39. 333330 dan nilai frekuensi Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2013 dengan kode BBTN3 000000 dan mengalami peningkatan yang dialami oleh Obligasi Subordinasi II Bank CIMB Niaga Tahun 2010 dengan kode BNGA yaitu dengan nilai frekuensi Nilai frekuensi Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank BII Tahap I Tahun 2014 dengan kode BNII Obligasi Subordinasi Berkelanjutan Bank Permata Tahap I Tahun 2013 dengan kode BNLI1 20. 666670 dan nilai frekuensi Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap II Tahun 2014 dengan kode BNLI2 22. Nilai frekuensi Obligasi Indosat Vi Tahun 2012 dengan kode ISAT1 98. mengalami penurunan menjadi 7. untuk nilai Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dengan kode ISAT2. Obligasi Jasa Marga XIV Seri JM10 dengan kode JSMR memiliki nilai 666670 meningkat menjadi 000000 yang dialami oleh Obligasi Subordinasi Bank Mayapada i Tahun 2013 dengan kode MAYA kemudian menurun yang dialami oleh nilai frekuensi Obligasi PLN XII Tahun 2010 dengan kode PPLN 43. 833330 dan Obligasi II Telkom Tahun 2010 dengan kode TLKM Sumber: Data diolah . Dari gambar 4 di atas dapat dilihat bahwa nilai profitabilitas obligasi Korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 terjadi kenaikan dan penurunan atau dengan kata lain Pengaruh Kupon Obligasi. Likuiditas Obligasi, dan Profitabilitas Terhadap Imbal Hasil Obligasi Korporasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 Nilai ROA Obligasi Berkelanjutan I ANTAM Tahap I Tahun 2011 dengan kode ANTM -0. meningkat menjadi 0. 516379 yaitu nilai ROA Obligasi Subordinasi I Bank UOB Indonesia Tahun 2014 dengan kode BBIA. Nilai ROA dengan kode BBTN1 0. Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap I Tahun 2012 dengan kode BBTN2 seniali 86754 dan Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2013 dengan kode BBTN3 senilai 0. Nilai ROA Obligasi Subordinasi II Bank CIMB Niaga Tahun 2010 dengan kode BNGA 966169 mengalami penurunan yaitu nilai ROA Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank BII Tahap I Tahun 2014 dengan kode BNII yaitu 0. 957683 dan terus Obligasi Subordinasi Berkelanjutan Bank Permata Tahap I Tahun 2013 dengan kode BNLI1 -0. 1503 dan nilai ROA Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap II Tahun 2014 dengan kode BNLI2 -0. Nilai ROA Obligasi Indosat Vi Tahun 2012 dengan kode ISAT1 --0. 61779 dan nilai ROA Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dengan kode ISAT2 -0. kemudian terjadi peningkatan nilai ROA Obligasi Jasa Marga XIV Seri JM-10 dengan kode JSMR 3. 221079 kembali mengalami penurunan yaitu nilai ROA Obligasi Subordinasi Bank Mayapada i Tahun 2013 dengan kode MAYA menjadi 983848 dan nilai ROA Obligasi PLN XII Tahun 2010 dengan kode PPLN 0. 803951 yang dialami oleh Obligasi II Telkom Tahun 2010 dengan kode TLKM. Analisis Regresi Data Panel Uji Chow Dalam menentukan model mana yang terbaik antara common effect atau fixed effect, hasil yang diperoleh dalam pengujian yaitu Near Singular Matrix yang mengindikasikan bahwa variabel bebas yang ada dalam model memiliki hubungan multikolinearitas . sempurna berdasarkan data yang digunakan dalam hal ini yaitu Profitabilitas. Dikarenakan perusahaan yang dijadikan sampel memiliki beberapa obligasi yang diterbitkan yang membuat beberapa obligasi memiliki nilai profitabilitas Sehingga pemilihan model melalui uji Hausman dan uji Lagrange Multiplier Uji Hausman Uji Hausman menentukan apakah model apa yang mengestimasi data panel apakah Random effect model atau Fixed Effect model. Apabila probabilitas > 0,05 maka H0 diterima, berarti model Random effect yang digunakan. Jika probabilitas < 0,05 maka H1 diterima, berarti menggunakan model fixed Tabel 2 Uji Hausman Correlated Random Effects - Hausman Test Pool: Untitled Test cross-section random effects Test Summary Chi-Sq. Chi-Sq. Statistic d. Prob. Cross-section random 5. Sumber: data diolah . Berdasarkan hasil dari uji Hausman pada tabel 2 dapat diketahui (Pro. cross section random sebesar 0. 0602 > 0,05. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, hal ini berarti bahwa model random effect lebih baik dari pada model fixed effect. Uji Lagrange Multiplier Uji Lagrange Multiplier dilakukan guna menentukan apakah model apa yang mengestimasi data panel apakah Mokoagouw. Tumiwa, dan Lumapow . Random effect model atau Common Effect model. Apabila probabilitas Breusch-Pagan > 0,05 maka H0 diterima, berarti model common effect yang digunakan. Jika probabilitas < 0,05 maka H1 diterima, berarti menggunakan model Random effect. disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, hal ini berarti bahwa model Random effect lebih baik dari pada model common effect model. Hasil menganalisis pengaruh kupon obligasi, likuiditas obligasi, profitabilitas terhadap imbal hasil obligasi korporasi. Maka model yang terpilih dalam penelitian ini adalah model Random effect. Berdasarkan hasil dari uji Lagrange Multiplier pada tabel 3 dapat diketahui (Pro. Breusch-Pagan sebesar 0. 0,05. Dari Tabel 3 Uji Lagrange Multiplier Lagrange multiplier (LM) test for panel data Date: 02/18/21 Time: 10:02 Sample: 2014 2019 Total panel observations: 90 Probability in () Null . o rand. Cross-section Period Alternative One-sided One-sided Breusch-Pagan . --- --- Honda King-Wu SLM GHM Both . --142. Sumber: Data diolah . Pengujian Hipotesis Hasil pengujian antara kupon obligasi, likuditas obligasi dan profitabilitas terhadap imbal hasil obligasi dengan menggunakan random effect model dapat disajikan pada tabel data berikut ini: Berdasarkan tabel 4 hasil pengujian Random effect model menunjukkan bahwa kupon obligasi memiliki koefisien 0467 dengan probabilitas 0008 < 0,05. Disimpulkan bahwa kupon obligasi CPN berpengaruh positif dan signifikan terhadap imbal hasil Mokoagouw. Tumiwa, dan Lumapow . Tabel 4 Hasil Pengujian Random Effect Model Dependent Variable: YTM? Method: Pooled EGLS (Cross-section random effect. Date: 02/17/21 Time: 12:57 Sample: 2014 2019 Included observations: 6 Cross-sections included: 15 Total pool . observations: 90 Swamy and Arora estimator of component variances Variable CPN? FR? ROA? Random Effects (Cros. _ANTMAiC _BBIAAiC _BBTNAiC _BBTNAiC _BBTNAiC _BNGAAiC _BNIIAiC _BNLIAiC _BNLIAiC _ISATAiC _ISATAiC _JSMRAiC _MAYAAiC _PPLNAiC _TLKMAiC Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. Rho Mean dependent var dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat Effects Specification Cross-section random Idiosyncratic random Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared of regression F-statistic Prob(F-statisti. Unweighted Statistics R-squared Sum squared resid Sumber: Data diolah . Mean dependent var Durbin-Watson stat Pengaruh Kupon Obligasi. Likuiditas Obligasi, dan Profitabilitas Terhadap Imbal Hasil Obligasi Korporasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 Berdasarkan tabel 4 hasil pengujian Random effect model menunjukkan bahwa likuiditas obligasi memiliki koefisien 001973 dengan probabilitas 2991 > 0,05. Disimpulkan bahwa likuiditas obligasi FR berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap imbal hasil Berdasarkan tabel 4 hasil pengujian Random effect model menunjukkan bahwa profitabilitas memiliki koefisien sebesar -. 018929 dengan probabilitas 5279 > 0,05. Disimpulkan bahwa profitabilitas ROA berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap imbal hasil Dengan hasil penelitian Adjusted Rsquare (R. Hal ini berarti bahwa 10,06%. Imbal hasil dapat independen yaitu kupon obligasi, likuiditas obligasi, profitabilitas dan sisanya 89,94% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian ini. bahwa setiap peningkatan 1% maka akan mengalami penurunan imbal hasil sebesar -0. Profitabilitas (ROA) X3 Berdasarkan analisis regresi di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien untuk variabel profitabilitas (ROA) bahwa setiap peningkatan 1% maka akan mengalami penurunan imbal hasil sebesar -0. Dari hail estimasi di atas dengan menggunakan metode random effect model, maka dapat diperoleh persamaan regresi data panel berikut ini: Y = b1CPN b2FR b3ROA e YTM =6. 001973- 0. 018929 e Uji Parsial . Berdasarkan regresi yang diperoleh menggunakan metode random effect model penafsiran dari regresi tersebut Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pengaruh antar variabel independen terhadap variabel dependen pada tingkat signifikan dibawah 0,05 . %) dan tidak signifikan diatas 0,05 . %) dengan menggunakan random effect Konstanta Berdasarkan analisis regresi di atas menunjukkan bahwa apabila variabel kupon obligasi, likuiditas obligasi profitabilitas = nol . atau berada dititik nol, maka nilai imbal hasil Hipotesis pertama dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kupon obligasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap imbal hasil obligasi. Hal ini dapat dilihat pada hasil dari pengujian pada tabel 4 yang menggunakan menunjukkan bahwa variabel kupon obligasi mempunyai nilai koefisien probabilitas probabilitas 0. 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa kupon obligasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap imbal hasil obligasi atau dengan kata lain hipotesis 1 (H. Kupon obligasi (CPN) X1 Berdasarkan analisis regresi di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien untuk variabel kupon obligasi (CPN) 0467 menyatakan bahwa setiap peningkatan 1% maka akan meningkatkan imbal Hasil sebesar Likuiditas obligasi (FR) X2 Berdasarkan analisis regresi di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien untuk variabel likuiditas obligasi (FR) Kupon Obligasi terhadap Imbal Hasil Obligasi (Yield To Maturit. Kupon Obligasi terhadap Imbal Hasil Obligasi (Yield To Maturit. Hipotesis kedua dalam penelitian ini Mokoagouw. Tumiwa, dan Lumapow . obligasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Imbal hasil Hal ini dapat dilihat pada hasil dari pengujian pada tabel 4 yang menggunakan random effect model yang menunjukkan bahwa variabel likuiditas obligasi mempunyai nilai koefisien sebesar -0. 2991 > 0,05. Hal tersebut obligasi FR berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Imbal hasil obligasi atau dengan kata lain hipotesis 1 (H. Profitabilitas terhadap Imbal Hasil Obligasi (Yield To Maturit. Hipotesis ketiga dalam penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas ROA berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Imbal hasil Hal ini dapat dilihat pada hasil dari pengujian pada tabel 4 yang menggunakan random effect model yang menunjukkan bahwa koefisien sebesar -0. 018929 dengan 5279 > 0,05. Hal ROA negatif dan tidak signifikan terhadap Imbal hasil obligasi atau dengan kata lain hipotesis 1 (H. Pembahasan Pengaruh Kupon Obligasi Terhadap Imbal Hasil Obligasi Berdasarkan hasil penelitian dapan diketahui bahwa kupon obligasi (CPN) terhadap imbal hasil obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2019. Hartono . Kupon obligasi adalah pendapatan bunga yang dibayarkan kepada pemegang obligasi atas perjanjian dengan penerbit obligasi untuk setiap periode tertentu, pada umumnya tiap setengah tahun atau Dari deskriptif menunjukan gambaran dari hasil menunjukan bahwa variabel X1 (CPN) sebanyak 90 memiliki rataAerata . 010173, dan nilai tengah . 010500, kemudian nilai tertinggi sebesar 0. 011750, sedangkan nilai terendah adalah 0. 007900 dan nilai standar deviasi Obligasi korporasi dengan nilai CPN terendah yaitu 007900 memberikan yield sebesar 066133 adalah Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap I Tahun 2012 dengan kode BBTN2 dan Obligasi dengan nilai CPN memberikan yield sebesar 9. Obligasi adalah Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2013 dengan kode BBT3 untuk obligasi korporasi dengan nilai CPN 342530 tertinggi adalah Obligasi Subordinasi Berkelanjutan Bank Permata Tahap II Tahun 2014 dengan kode BNLI2. Adanya permintaan obligasi yang tinggi dan dengan penawaran yang tetap akan membuat harga obligasi naik. Jika kupon obligasi tersebut cukup tinggi maka yield obligasi semakin tinggi pula, sehingga permintaan obligasi akan semakin meningkat. Atau Semakin tinggi kupon maka semakin tinggi pula yield obligasi yang didapatkan. Berdasarkan data penelitian tersebut membuktikan bahwa, naik turunnya kupon obligasi berpengaruh pada besarnya imbal hasil obligasi, semakin besar kupon yang ditawarkan semakin besar pula imbal hasil obligasi yang diberikan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang membuktikan bahwa kupon obligasi berpengaruh positif terhadap imbal hasil obligasi (Putri et al. Zulfa & Nahar, 2. Pengaruh Likuiditas Obligasi Terhadap Imbal Hasil Obligasi Berdasarkan hasil penelitian dapan diketahui bahwa likuiditas obligasi (FR) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap imbal hasil obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2019. Likuiditas obligasi dapat dipandang sebagai obligasi yang banyak beredar di kalangan pemegang saham dan masih aktif diperdagangkan di Pengaruh Kupon Obligasi. Likuiditas Obligasi, dan Profitabilitas Terhadap Imbal Hasil Obligasi Korporasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 pasar obligasi yang digambarkan dengan frekuensi transaksi. Dari deskriptif menunjukan gambaran dari hasil menunjukan bahwa variabel X2 (FR) sebanyak 90 memiliki rata Ae rata . 84444, dan nilai tengah . 00000, kemudian nilai tertinggi sebesar 270. 0000, sedangkan nilai terendah adalah 1. 000000 dan nilai standar deviasi Obligasi korporasi dengan nilai FR terendah yaitu 000000 memberikan yield 10,431800 adalah obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dengan kode ISAT2 dan untuk obligasi korporasi dengan nilai FR tertinggi yaitu 270. 0000 memberikan yield sebesar 10. 090200 adalah Obligasi Subordinasi II Bank CIMB Niaga Tahun 2010 dengan kode BNGA. Likuiditas obligasi yang tinggi menyebabkan obligasi lebih menarik karena tersedianya pembeli dan penjual yang lebih banyak sehingga obligasi dapat diperjual belikan kapan saja. Berdasarkan data penelitian tersebut membuktikan bahwa, semakin tinggi likuiditas obligasi, semakin rendah imbal hasil yang diterima. Atau semakin aktif obligasi diperjualbelikan akan menarik pelanggan untuk membeli obligasi yang akan berpengaruh pada nilai harga obligasi yang tinggi dan menurunkan yield obligasi. Aset yang memiliki likuiditas rendah akan dinilai dengan harga lebih rendah. Harga obligasi yang lebih rendah, menghasilkan imbal hasil obligasi tinggi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktavian et , . sebagaimana temuan Favero et al. , . yang menyatakan bahwa likuiditas berpengaruh negatif terhadap yield obligasi. Profitabilitas Obligasi Terhadap Imbal Hasil Obligasi Berdasarkan hasil penelitian dapan diketahui bahwa profitabilitas (ROA) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap imbal hasil obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, baik dari penjualan yang ada maupun dari asset total yang dimiliki (Gumanti, 2011: . Kemampuan perusahaan menghasilkan laba memberikan sinyal positif bagi para investor untuk menginvestasikan dananya pada obligasi yang diterbitkan perusahaan tersebut karena nantinya perusahaan akan mampu untuk melunasi bunga dan pokok obligasi. Dari deskriptif menunjukan gambaran dari hasil menunjukan bahwa variabel X3 (ROA) sebanyak 90 memiliki rataAerata . 618653, dan nilai tengah . 908022, kemudian nilai tertinggi sebesar 11. 15707, sedangkan nilai terendah adalah -4. 746382 dan nilai standar deviasi Obligasi korporasi dengan nilai ROA terendah yaitu 746383 memberikan yield sebesar 361500 adalah Obligasi Berkelanjutan I ANTAM Tahap I Tahun 2011 dengan kode ANTM dan untuk obligasi korporasi dengan nilai ROA tertinggi yaitu 11. memberikan yield sebesar 9. adalah Obligasi II Telkom Tahun 2010 dengan kode TLKM. Menurut Mahfudhoh & Cahyonowati, . semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka arus kas untuk membayar pokok dan bunga obligasi menjadi lebih lancar dan risiko kegagalan bayar menjadi lebih rendah. Hal ini memberikan sinyal bahwa perusahaan dalam kondisi baik dan mengindikasikan bahwa risiko investasi rendah serta keamanan dalam berinvestasi lebih Berdasarkan data penelitian ini membuktikan bahwa, semakin investor merasa aman dalam menanamkan modalnya maka investor cenderung tidak mengharapkan imbal hasil obligasi yang perusahaan cenderung berfluktuasi, hal ini menyebabkan sulitnya menilai risiko Mokoagouw. Tumiwa, dan Lumapow . obligasi hanya sekedar dari profitabilitas perusahaan saja. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sari & Abundanti, . ) menunjukkan hasil bahwa profitabilitas berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap yield obligasi. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada obligasi korporasi dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Kupon obligasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap imbal hasil Hal turunnya kupon obligasi berpengaruh pada besarnya imbal hasil obligasi, ditawarkan semakin besar pula imbal hasil obligasi yang diberikan. Likuiditas negatif dan tidak signifikan terhadap imbal hasil obligasi korporasi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa, semakin tinggi likuiditas obligasi, semakin rendah imbal hasil yang akan diterima. Aset yang memiliki likuiditas rendah akan dinilai dengan harga lebih rendah. Harga obligasi yang lebih rendah, menghasilkan imbal hasil obligasi tinggi. Profitabilitas berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap imbal hasil obligasi korporasi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa, semakin mengharapkan imbal hasil obligasi yang tinggi, dikarenakan keuntungan perusahaan cenderung berfluktuasi, hal ini menyebabkan sulitnya menilai risiko obligasi hanya sekedar dari tingkat profitabilitas perusahaan saja. Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, maka dapat diberikan saransaran yang merupakan sumbangan dari hasil penelitian ini sebagai berikut: Bagi investor, dalam berinvestasi obligasi korporasi perlu memahami sekaligus mengetahui market timing yaitu kapan saat beli obligasi dan kapan saat jual obligasi karena hal ini mempengaruhi tingkat keuntungan obligasi yang akan diraih. Bagi investor dengan orientasi pada imbal hasil obligasi tinggi, investor dapat memilih obligasi korporasi yang memiliki fitur kupon tinggi dan jatuh tempo obligasi jangka panjang. Bagi peneliti selanjutnya, untuk memperkuat penelitian selanjunya perlu adanya perlu penambahan teori lainnya yang diduga kuat relevan dengan analisis obligasi. Hal lain yaitu penambahan periode penelitian agar hasilnya lebih dapat mewakili kondisi yang ada dengan menggunakan sampel yang lebih besar dan menambah variabel atau determinan lain yanhg diduga mempengaruhi imbal hasil obligasi. Sampel penelitian ini terbatas pada obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tetapi hanya yang termasuk dalam Indonesia Bond Market Directory (IBMD) Hal tersebut masih kurang menggambarkan keseluruhan obligasi korporasi, karena penerbit obligasi korporasi tidak hanya yang termasuk Indonesia Bond Market Directory (IBMD). Peneliti selanjutnya yang menggunakan objek obligasi korporasi dapat menggunakan obligasi korporasi yang diterbitkan oleh termasuk dalam Indonesia Bond Market Directory (IBMD) tetapi semua obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia agar lebih mengambarkan obligasi korporasi. Pengaruh Kupon Obligasi. Likuiditas Obligasi, dan Profitabilitas Terhadap Imbal Hasil Obligasi Korporasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2019 DAFTAR PUSTAKA