Vol 2 No. 4 November 2025 P-ISSN : 3047-1931 E-ISSN : 3047-2334. Hal 14 - 29 JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jilak Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/c9d8t313 PERBEDAAN PERSEPSI ANTARA MAHASISWA SENIOR DAN MAHASISWA JUNIOR MENGENAI PROFESI AKUNTAN PADA PROGRAM STUDI S1 (PADA MAHASISWA AKUNTANSI UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA) Dinda Rolesa a*. Wiwin Wahyunib a Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Jurusan Akuntansi, dindarolesa07@gmail. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Jawa Timur b Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Jurusan Akuntansi, wiwinwahyuni@uwks. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Jawa Timur Korespondensi ABSTRACT The accounting profession plays a vital role in the business and economic world as a provider of accurate financial information to support decision-making. In the face of changes in the business environment and technological advances, students' perceptions of this profession are important because they are the future This study aims to compare the perceptions of senior and junior students in the Accounting Program at Wijaya Kusuma University in Surabaya toward the accounting profession. Differences in perspectives between the two groups are believed to be influenced by academic experience, exposure to the workplace, and understanding of the challenges of the accounting profession. The method used is descriptive comparative with a quantitative approach. Data was collected through questionnaires distributed to first-year and final-year students, then analyzed to identify differences in perceptions. The results show that senior students have more realistic and critical views, while junior students tend to be idealistic and optimistic. These differences are related to the greater internship experience and interaction with practitioners experienced by senior students. These findings emphasize the importance of practical experience and case-based learning in shaping mature perceptions. This study provides valuable insights for curriculum development and career development strategies to prepare graduates to face the dynamics of the accounting profession and strengthen the integration of theory and practice in accounting education. Keywords: Student Perceptions. Accounting Profession. Senior Students. Junior Students. Accounting Education Abstrak Profesi akuntan memiliki peran penting dalam dunia bisnis dan ekonomi sebagai penyedia informasi keuangan yang akurat untuk mendukung pengambilan keputusan. Dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis dan kemajuan teknologi, persepsi mahasiswa terhadap profesi ini menjadi penting karena mereka adalah calon tenaga profesional masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan persepsi mahasiswa senior dan junior Program Studi Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya terhadap profesi akuntan. Perbedaan pandangan antara kedua kelompok diduga dipengaruhi oleh pengalaman akademik, paparan dunia kerja, dan pemahaman terhadap tantangan profesi akuntan. Metode yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada mahasiswa angkatan awal dan akhir, kemudian dianalisis untuk melihat perbedaan persepsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa senior memiliki pandangan yang lebih realistis dan kritis, sementara mahasiswa junior cenderung idealis dan optimis. Perbedaan ini terkait dengan pengalaman magang dan interaksi praktisi yang lebih banyak dialami oleh mahasiswa Temuan ini menegaskan pentingnya pengalaman praktis dan pembelajaran berbasis kasus nyata dalam membentuk persepsi yang matang. Penelitian ini memberikan masukan berharga untuk pengembangan kurikulum dan strategi pembinaan karir agar lulusan siap menghadapi dinamika profesi akuntan serta memperkuat integrasi teori dan praktik dalam pendidikan akuntansi. Naskah Masuk 23 Agustus , 2025. Revisi 26 Agustus, 2025. Di terima 27 Agustus , 2025. Tersedia 30 Agustus, 2025 Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Kata Kunci : Persepsi Mahasiswa. Profesi Akuntan. Mahasiswa Senior. Mahasiswa Junior. Pendidikan Akuntansi PENDAHULUAN Profesi akuntan berfungsi sebagai pengelola informasi keuangan yang membantu pengambilan keputusan (Arens. Elder, & Beasley, 2. Persepsi positif mahasiswa terhadap profesi ini bisa memotivasi mereka untuk berkarya di bidang ini, sedangkan persepsi negatif bisa mengurangi minat dan kualitas tenaga kerja. Beberapa perguruan tinggi menunjukkan adanya perbedaan persepsi antara mahasiswa tingkat awal dan akhir mengenai profesi akuntan, termasuk di Program Studi Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Penelitian Kurniawan . menunjukkan bahwa perbedaan tersebut dipengaruhi oleh pengalaman belajar dan interaksi dengan dunia kerja. Namun, studi yang membandingkan persepsi antara mahasiswa senior dan junior di universitas ini masih terbatas, sehingga masih ada celah penelitian yang perlu diisi. Perubahan lingkungan bisnis dan kemajuan teknologi informasi juga memengaruhi persepsi mahasiswa. Menurut Warren. Reeve, dan Duchac . , perkembangan teknologi mengubah peran akuntan menjadi lebih strategis. Mahasiswa yang belum memahami perubahan ini mungkin memiliki persepsi yang berbeda dibandingkan dengan mahasiswa yang lebih dekat dengan dunia kerja. Celah penelitian yang muncul adalah kurangnya studi empiris yang membandingkan persepsi antara mahasiswa senior dan junior dalam konteks profesi akuntan. Penelitian sebelumnya lebih banyak mengeksplorasi persepsi secara umum, tanpa menyelidiki perbedaan berdasarkan tingkat kematangan akademik secara khusus. Perbedaan persepsi antara mahasiswa bisa memengaruhi kesiapan mereka memasuki dunia kerja. Susanto . menyatakan bahwa persepsi positif dapat meningkatkan kesiapan dan komitmen mahasiswa untuk berkarier di bidang akuntansi. Dengan memahami perbedaan persepsi ini, para akademik bisa merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif. Penelitian ini penting untuk memberikan kontribusi akademis dan praktis dalam pengembangan tenaga kerja di bidang akuntansi. Diharapkan, temuan dari penelitian ini bisa menjadi alat penilaian untuk Program Studi Akuntansi di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pembinaan mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan profesi akuntan di masa depan. TINJAUAN PUSTAKA KONSEP TEORI Persepsi adalah proses mental yang melibatkan penerimaan, pengorganisasian, dan interpretasi rangsangan melalui panca indera, yang membantu individu memahami objek atau peristiwa di sekitar mereka (Anaeto et at 2021. Zoltan & James, 2. Proses ini bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh konteks situasional, kondisi psikologis, dan pengalaman sebelumnya (Brown & Smith 2. Faktor-faktor seperti rangsangan yang diterima, konteks lingkungan, dan sifat individu, termasuk kemampuan kognitif dan kondisi emosional, memengaruhi cara seseorang menafsirkan informasi. Konteks sosial dan budaya juga membentuk cara individu memahami stimulus (Goldstein, 2021 Neisser Dalam psikologi kognitif, persepsi diartikan sebagai hubungan antara proses mental internal dan rangsangan fisik dari lingkungan luar, yang memungkinkan individu mengenali objek dan membentuk pemahaman sesuai konteks budaya mereka. Persepsi sangat penting dalam pendidikan dan karir, karena memengaruhi sikap, motivasi, dan keputusan Bagi mahasiswa akuntansi, persepsi terhadap profesi akuntan dapat memengaruhi minat dan kesiapan mereka untuk berkarir di bidang tersebut. Proses persepsi yang aktif dan selektif menjelaskan perbedaan pandangan antara mahasiswa tahun pertama dan tahun kedua, yang disebabkan oleh perbedaan pengetahuan dan pengalaman (Santrock 2021,Myers 2. PROFESI AKUNTANSI Profesi akuntan memiliki peran strategis dalam bisnis dan pemerintahan, terutama dalam penyediaan informasi keuangan yang dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan (Mulyadi, 2. Akuntan diharapkan memiliki kemampuan teknis, integritas, dan etika profesional yang tinggi (IAI, 2. Namun, persepsi masyarakat, termasuk mahasiswa, terhadap profesi ini seringkali negatif, dengan pandangan bahwa pekerjaan akuntan monoton, penuh tekanan, dan berisiko terkait kecurangan pelaporan keuangan (Sari. Perbedaan Persepsi Antara Mahasiswa Senior Dan Mahasiswa Junior Mengenai Profesi Akuntan Pada Program Studi S1 (Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabay. (Dinda Roles. Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Persepsi negatif ini dapat memengaruhi minat mahasiswa untuk berkarir di bidang akuntansi, sehingga penting bagi institusi pendidikan untuk memahami dan membentuk citra profesi yang lebih baik. Persepsi terhadap profesi akuntan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti perkembangan teknologi informasi dan perubahan regulasi yang kompleks (Warren. Reeve, dan Duchac, 2. Mahasiswa perlu dibekali pemahaman yang komprehensif untuk menghadapi tantangan ini. Pengenalan profesi melalui magang dan interaksi dengan praktisi dapat membantu membentuk persepsi yang lebih realistis dan positif (Nurhayati, 2. Stereotip dan mitos tentang profesi akuntan perlu diluruskan melalui pendidikan yang tepat. Pendidikan akuntansi harus mengintegrasikan aspek teknis, etika, dan soft skills agar lulusan siap menghadapi tuntutan profesi yang dinamis (Chan, 2. Dengan demikian, persepsi mahasiswa terhadap profesi akuntan dapat menjadi lebih positif dan realistis, meningkatkan minat dan komitmen mereka untuk berkarir di bidang ini. Persepsi adalah gambaran mental individu terhadap objek, yang dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, dan interaksi sosial (Sugiyono, 2. Mahasiswa yang memiliki kesempatan magang dan mengikuti seminar profesi cenderung memiliki persepsi yang lebih positif (Nurhayati, 2. Oleh karena itu, universitas perlu menyediakan program-program yang mendukung pengembangan pemahaman mahasiswa terhadap profesi akuntan secara menyeluruh. Persepsi Mahasiswa Senior Terhadap Profesi Akuntan Mahasiswa senior memiliki pandangan yang lebih matang dan realistis tentang profesi akuntan dibandingkan mahasiswa junior. Hal ini disebabkan oleh pengalaman yang lebih luas yang diperoleh melalui kegiatan akademik dan praktik kerja nyata, seperti magang dan proyek profesional, yang memperkenalkan mereka pada kebutuhan dan kerumitan pekerjaan akuntan (Smith & Johnson, 2. Menurut teori pembelajaran experiential Kolb . 5 dikutip dalam Brown 2. , pengalaman praktis meningkatkan pemahaman kognitif mahasiswa senior, memungkinkan mereka untuk menilai profesi akuntan dengan cara yang lebih kritis dan tidak bias. Penelitian oleh Hasanah dan Santoso . menyatakan bahwa mahasiswa senior cenderung memiliki pandangan negatif yang lebih tinggi tentang tekanan kerja dan tanggung jawab etis akuntan, membuat mereka lebih skeptis dan realistis terhadap pekerjaan mereka. Selain itu, kesadaran akan kemajuan teknologi akuntansi, seperti penggunaan big data dan sistem informasi akuntansi, juga memengaruhi persepsi mahasiswa senior (Kusuma & Rahman, 2. Hal ini menuntut kemampuan analitis dan teknis yang kuat, sehingga mereka lebih fokus pada tantangan dan kebutuhan kompetensi yang dihadapi dalam Dengan demikian, sudut pandang mahasiswa senior terbentuk dari kombinasi pengalaman praktis dan pemahaman teoritis, menghasilkan persepsi yang lebih kritis dan kompleks terhadap profesi akuntan. Hipotesis: Ada perbedaan yang nyata dalam pandangan mahasiswa senior tentang pekerjaan akuntan di Program Studi Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Persepsi Mahasiswa Junior Terhadap Profesi Akuntan Mahasiswa junior seringkali memiliki pandangan yang lebih idealis tentang profesi akuntan dibandingkan mahasiswa senior, dipengaruhi oleh pemahaman awal yang lebih sederhana tentang pekerjaan ini. Menurut teori pengolahan kognitif Mayer dan Wittrock . , mahasiswa junior memiliki skema kognitif yang terdiri dari harapan dan ekspektasi normatif, yang membuat mereka lebih positif dan menganggap profesi akuntan sebagai pekerjaan yang stabil dan bergengsi. Penelitian oleh Lestari dan Nugroho . mendukung temuan ini, menunjukkan bahwa mahasiswa junior mengasosiasikan profesi akuntan dengan status sosial dan keunggulan finansial yang tinggi, meskipun mereka belum sepenuhnya memahami kompleksitas dan tekanan kerja di lapangan. Elemen sosial dan budaya di kampus juga memengaruhi cara mahasiswa melihat profesi akuntan. Sumber informasi seperti guru, senior, dan media sosial sering kali memberikan pandangan yang normatif (Wahyuni et al. , 2. Karena mahasiswa junior belum menghadapi tantangan profesional secara langsung, mereka cenderung memiliki persepsi yang optimis dan kurang kritis. Meskipun demikian, pandangan ini memberikan motivasi awal yang kuat untuk memulai karier di bidang akuntansi. Seiring JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 14 - 29 Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 waktu, persepsi mereka kemungkinan akan berubah menjadi lebih realistis seiring dengan pengalaman yang mereka peroleh. Hipotesis: Ada perbedaan yang signifikan dalam pandangan mahasiswa tingkat awal tentang profesi akuntan di Program Studi Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Kerangka Konseptual Model berpikir dalam penelitian ini mencoba memahami perbedaan cara melihat profesi akuntan antara mahasiswa senior dan mahasiswa juniornya. sebagai variabel independen yang memengaruhi pemahaman dan sikap mereka terhadap profesi tersebut. Mahasiswa senior, yang telah menjalani pendidikan akuntansi lebih lama dan mengalami mata kuliah lanjutan serta praktik profesional, cenderung memiliki persepsi yang lebih realistis dan kritis dibandingkan mahasiswa junior yang masih dalam tahap awal pembelajaran (Irfay & PD, 2020 Dewi Nurpar 2. Kerangka berpikir ini mengasumsikan bahwa perbedaan persepsi tidak hanya dipengaruhi oleh durasi studi, tetapi juga oleh faktor-faktor seperti kurikulum, pengalaman praktis, dan pemahaman etika profesi (Jackling & Keneley 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis sejauh mana perbedaan persepsi antara mahasiswa senior dan junior, serta bagaimana perbedaan tersebut dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pendidikan akuntansi yang lebih efektif dan relevan. Secara keseluruhan, model ini menggambarkan hubungan antara persepsi mahasiswa senior dan junior dengan pemahaman mereka terhadap profesi akuntan, yang dapat memengaruhi minat dan kesiapan mereka untuk berkarir di bidang akuntansi (Aziz, 2020. Juliana et al. , 2. Pendekatan ini membantu menjelaskan dinamika perubahan persepsi selama masa studi dan implikasinya bagi pengembangan pendidikan dan profesi akuntan METODOLOGI PENELITIAN PENDEKATAN PENELITIAN Penelitian ini menggunakan cara kuantitatif dengan survei sebagai metode utama untuk mengumpulkan Metode kuantitatif dipilih karena dapat memberikan hasil yang lebih jelas dan mudah diukur. Ini bisa mengukur dan melihat hubungan antara variabel secara objektif melalui data numerik (Sugiyono. Metode survei memungkinkan pengumpulan data dari banyak responden dengan instrumen kuesioner terstruktur yang hasilnya dapat dianalisis secara statistik. Menurut Creswell . , pendekatan kuantitatif sesuai untuk menguji hipotesis serta menggeneralisasi hasil ke populasi yang lebih luas. Dalam penelitian ini, persepsi mahasiswa senior dan junior mengenai profesi akuntan diukur menggunakan skala Likert untuk melihat perbedaan signifikan antar kelompok. Selain efisien dari segi waktu dan biaya (Arikunto, 2. , metode survei juga memungkinkan peneliti menjangkau responden dari latar belakang berbeda secara representatif. Instrumen kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya memastikan data yang diperoleh akurat (Sekaran & Bougie, 2. Hal ini didukung oleh penelitian Sity Handayani . yang menegaskan bahwa survei efektif dalam mengkaji persepsi mahasiswa terhadap profesi tertentu secara sistematis dan terukur. Populasi dan Sampel Menurut Sugiyono . , populasi adalah wilayah yang mencakup seluruh subjek atau objek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu, yang ditentukan oleh peneliti untuk dianalisis dan diambil Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Mahasiswa junior yang dipilih meliputi semester 2 dan 4, sedangkan mahasiswa senior meliputi semester 6 dan 8 tahun akademik 2025. Pemilihan populasi ini didasarkan pada relevansi karakteristik mereka dengan variabel yang diteliti, sehingga dapat menggambarkan perbedaan persepsi berdasarkan tingkat pendidikan dalam program studi yang sama. Sampel penelitian terdiri dari mahasiswa yang mengisi kuesioner melalui Google Form yang disebarkan lewat media sosial, dengan jumlah responden terkumpul sebanyak 104 orang. Untuk memastikan representasi seimbang antara mahasiswa junior dan senior, digunakan teknik sampling acak sederhana atau stratifikasi Penentuan ukuran sampel dilakukan dengan rumus Slovin karena jumlah populasi sudah jelas, dengan memperhatikan tingkat kepercayaan dan kesalahan batas yang diinginkan (Maimunah. Akbar & Heni, 2. Perbedaan Persepsi Antara Mahasiswa Senior Dan Mahasiswa Junior Mengenai Profesi Akuntan Pada Program Studi S1 (Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabay. (Dinda Roles. Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Definisi Operasional Variabel Penelitian ini terdapat tiga variabel yaitu variabel dependen yang berjumlah satu dan variabel independen berjumlah dua. Definisi operasional variabel adalah cara untuk mengukur suatu variabel dalam penelitian melalui aspek atau indikator yang relevan (Suyanto, 2. Definisi operasional diperlukan agar hasil penelitian dapat diinterpretasikan dengan tepat dan data yang dikumpulkan konsisten. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah divalidasi digunakan untuk mengukur dimensi persepsi mahasiswa akuntansi junior dan senior. Dengan adanya definisi operasional yang jelas, penelitian dapat menghindari kesalahan pengukuran serta memastikan data yang didapat sesuai dengan tujuan penelitian dan benar-benar mencerminkan konsep persepsi yang diteliti. Variabel Dependen Y Ae Profesi Akuntan Persepsi tentang profesi akuntan merupakan variabel dependen dalam penelitian ini, yang mencerminkan bagaimana mahasiswa menilai dan menginterpretasikan profesi akuntan dari berbagai perspektif, seperti citra profesi, tantangan pekerjaan, tanggung jawab etis, dan prospek karier. Persepsi ini dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, nilai sosial, serta informasi yang diperoleh dari lingkungan akademik maupun profesional, sehingga membentuk konstruksi psikologis yang kompleks (Lestari & Hartono, 2. Terdapat beberapa indikator yang digunakan sebagai pengukuran persepsi mahasiswa terhadap profesi akuntan antara lain status sosial profesi, tingkat kesulitan dan tekanan pekerjaan, manfaat finansial, peluang pengembangan karier, serta relevansi profesi dengan perubahan regulasi dan teknologi akuntansi. Persepsi mahasiswa dipandang sebagai gambaran potensi motivasi dalam menempuh studi akuntansi dan berkarier di bidang tersebut, sekaligus memengaruhi keputusan mereka untuk melanjutkan pendidikan profesional (Budi et al, 2. Variabel Independen Variabel independen pertama menggambarkan persepsi mahasiswa senior atau mahasiswa tingkat akhir terhadap profesi akuntan. Persepsi ini dipengaruhi oleh pengalaman praktis yang mereka peroleh melalui kegiatan magang, studi kasus, maupun interaksi langsung dengan profesional di lapangan. Mahasiswa senior cenderung menilai profesi akuntan berdasarkan kompleksitas pekerjaan, tekanan kerja, serta tanggung jawab moral yang nyata. Alat yang dipakai untuk menilai variabel ini mencakup pemahaman terhadap tantangan pekerjaan, sikap kritis terhadap etika profesi, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi akuntansi (Aditya, 2. Variabel independen kedua mencerminkan persepsi mahasiswa junior atau mahasiswa tingkat awal terhadap profesi akuntan. Karena belum memiliki pengalaman praktis, persepsi mereka umumnya dibentuk oleh informasi normatif dan pengetahuan awal yang diperoleh selama perkuliahan. Mahasiswa junior cenderung memiliki pandangan yang lebih optimis dan idealis mengenai profesi akuntan. Indikator pengukurannya meliputi pandangan terhadap stabilitas karier, penghargaan sosial, kemudahan pekerjaan, serta harapan gaji yang menjanjikan (Aditya, 2. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Menurut Sugiyono . , data kualitatif berbentuk kata-kata, kalimat, atau gambar yang memiliki makna lebih mendalam dibandingkan angka, dan biasanya diperoleh melalui observasi, wawancara, atau dokumentasi untuk memahami fenomena secara mendalam, termasuk perilaku, persepsi, motivasi, atau interaksi sosial. Namun, penelitian ini berfokus pada data kuantitatif yang dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur sehingga dapat dianalisis secara statistik. Sumber informasi dalam studi ini terdapat dua macam, yakni data yang didapatkan langsung dan data yang sudah ada. Menurut Sugiyono . , data yang didapat langsung adalah informasi yang diperoleh langsung dari sumber aslinya oleh peneliti. Dalam penelitian ini, data yang didapat langsung berasal dari mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, baik junior . emester 2 dan . maupun senior . emester 6 dan . Data dikumpulkan melalui kuesioner berstruktur dengan pertanyaan tertutup dan terbuka, mencakup aspek citra profesi, tantangan pekerjaan, prospek karier, dan tanggung jawab etis seorang akuntan. Penggunaan data primer penting untuk memperoleh informasi yang aktual mengenai persepsi mahasiswa sebagai responden utama. JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 14 - 29 Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Sementara itu, data sekunder menurut pernyataan Sugiyono . adalah Data yang didapat tidak langsung dari sumber utama, tetapi melalui pihak ketiga atau dokumen. Dalam penelitian ini, data sekunder diperoleh dari literatur ilmiah seperti buku, jurnal, dan artikel penelitian. , serta dokumen kebijakan terkait profesi akuntan dan persepsi mahasiswa. Selain itu, laporan akademik dan data statistik dari institusi pendidikan juga digunakan sebagai referensi pendukung. Sumber data sekunder ini memberikan landasan konseptual sekaligus memperkuat analisis empiris. Sejalan dengan Creswell . , penggunaan data primer dan sekunder secara bersamaan dapat meningkatkan kredibilitas serta validitas penelitian kuantitatif, karena memberikan gambaran menyeluruh baik dari perspektif responden langsung maupun dari referensi Teknik Pengumpulan Data Dua metode utama digunakan dalam penelitian ini untuk pengumpulan data, yaitu riset pustaka dan riset Riset pustaka dilakukan pada tahap awal untuk mengkaji teori, konsep, dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik. Literatur akademik, jurnal ilmiah, artikel terbaru, serta dokumen kebijakan dipelajari guna memahami persepsi mahasiswa terhadap profesi akuntan dan faktor-faktor yang Riset pustaka berperan penting dalam membangun kerangka teori yang kuat serta memperjelas ruang lingkup penelitian agar fokus pada tujuan yang telah ditetapkan (Creswell, 2. Selanjutnya, riset lapangan dilakukan untuk memperoleh data empiris dari mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, baik mahasiswa junior maupun senior. Data dikumpulkan melalui survei berstruktur yang memungkinkan pengumpulan informasi kuantitatif secara sistematis dan konsisten. Sebelum penyebaran secara luas, instrumen kuesioner diuji coba pada kelompok kecil untuk memastikan kejelasan bahasa dan ketepatan pertanyaan. Pemilihan sampel dilakukan secara representatif, sementara pelaksanaan survei memperhatikan etika penelitian, termasuk transparansi informasi dan persetujuan partisipasi responden. Kombinasi riset pustaka dan lapangan menjadikan data yang diperoleh tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis. Integrasi kedua metode ini memperkuat dasar analisis serta interpretasi hasil penelitian. Sejalan dengan pendapat Sugiyono . , penggabungan riset pustaka dan lapangan mampu menghasilkan data yang komprehensif, relevan, serta mendukung validitas dan akurasi penelitian. Teknik analisis data Hipotesis dalam penelitian ini diuji melalui analisis data menggunakan metode statistik. Tahap awal dilakukan pengolahan data secara deskriptif untuk menggambarkan persepsi umum mahasiswa akuntansi senior dan junior terhadap profesi akuntan. Statistik deskriptif disajikan dalam bentuk nilai rata-rata, distribusi frekuensi, standar deviasi, dan persentase guna memberikan pemahaman awal mengenai pola dan kecenderungan persepsi responden. Selanjutnya, dilakukan pengujian asumsi statistik yang meliputi uji normalitas, homogenitas, dan independensi, sebelum melaksanakan pengujian hipotesis inferensial. Pengujian ini bertujuan memastikan bahwa data memenuhi syarat penggunaan uji statistik parametrik, sehingga hasil analisis dapat dipercaya dan tidak menimbulkan kesalahan interpretasi (Hair et al. , 2. Apabila data tidak memenuhi asumsi parametrik, maka digunakan teknik non-parametrik sebagai alternatif untuk menjaga validitas hasil Statistik deskriptif Statistik deskriptif adalah cara menganalisis data dengan angka-angka untuk merangkum dan menjelaskan data secara singkat. Tujuannya adalah agar kita bisa memahami dengan jelas tentang sifat-sifat dan bentuk dari data yang diperoleh. Dalam metode ini, dihitung beberapa angka seperti rata-rata, median, modus, nilai tertinggi dan terendah, serta standar deviasi (Arendra, 2. Statistik Deskriptif Digunakan untuk memahami gambaran umum data : Ukuran pemusatan: Rata-rata . , median, modus Ukuran penyebaran: Standar deviasi, varians, rentang, maksimum, minimum Distribusi data: Skewness . , kurtosis Visualisasi . : Histogram, boxplot, dll Perbedaan Persepsi Antara Mahasiswa Senior Dan Mahasiswa Junior Mengenai Profesi Akuntan Pada Program Studi S1 (Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabay. (Dinda Roles. Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Uji Asumsi Klasik Penelitian ini melakukan beberapa uji asumsi statistik untuk memastikan hasil analisis valid dan dapat Uji normalitas dilakukan dengan cara Kolmogorov-Smirnov atau Shapiro-Wilk, yang bertujuan mengetahui apakah data memiliki distribusi normal. Uji normalitas ini merupakan syarat penting sebelum menggunakan analisis parametrik seperti uji t atau ANOVA (Arendra, 2. Selanjutnya, dilakukan uji homogenitas varian guna memastikan kesamaan varians antar kelompok mahasiswa senior dan junior. Homogenitas diperlukan agar perbandingan antar kelompok dapat dilakukan secara adil tanpa bias varians. Salah satu metode yang umum digunakan adalah LeveneAos Test. Apabila data tidak memenuhi asumsi normalitas dan homogenitas, maka analisis menggunakan metode non-parametrik, yaitu uji Mann-Whitney, sebagai alternatif pengujian hipotesis. Dengan melakukan uji asumsi secara menyeluruh, penelitian ini dapat memastikan bahwa metode analisis yang dipilih tepat sehingga hasilnya valid dan dapat diterima secara ilmiah (Arendra, 2. Uji Beda Uji beda independen sample, juga dikenal sebagai uji t untuk dua sampel independen, adalah cara statistik untuk mengetahui apakah ada perbedaan nyata antara rata-rata dua kelompok yang tidak saling terhubung. Uji ini biasanya digunakan dalam penelitian untuk membandingkan dua kelompok yang berbeda, misalnya mahasiswa senior dan junior (Sugiyono 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Masing-Masing Variabel Penelitian ini mempelajari dua hal, yaitu X yang mencakup pandangan mahasiswa senior dan junior tentang profesi akuntan, serta Y yang menggambarkan persepsi umum terhadap profesi akuntan. Peserta penelitian adalah 96 mahasiswa program sarjana Akuntansi di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. , yang terdiri dari 52 mahasiswa senior . emester 6 dan . dan 52 mahasiswa junior . emester 2 dan . Pemilihan jumlah yang seimbang bertujuan agar perbandingan persepsi kedua kelompok dapat dilakukan secara proporsional. Variabel X adalah variabel independen yang menunjukkan elemen deskripsi: persepsi mahasiswa senior dan junior terhadap profesi akuntan. Pengalaman akademik dan paparan terhadap dunia profesional yang berbeda dengan mahasiswa senior sering memengaruhi persepsi pada tingkatan ini Variabel Y merupakan variabel dependen yang menunjukkan hasil dari pandangan yang dibangun tentang profesi akuntan. Variabel Y dalam kasus ini mencakup elemen sikap, minat, dan pemahaman mahasiswa tentang pekerjaan tersebut. Karakteristik Responden Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Mahasiswa junior yang dijadikan populasi adalah mahasiswa semester 2 dan semester 4, sedangkan mahasiswa senior adalah mahasiswa semester 6 dan semester 8 pada tahun akademik 2025. Jumlah responden yang dijadikan sampel sebanyak 104 mahasiswa, sesuai dengan jumlah kuesioner yang disebarkan dan diisi kembali oleh responden. Penyebaran kuesioner dilakukan melalui Google Forms selama kurang lebih dua minggu. Seluruh kuesioner yang kembali memenuhi persyaratan sebagai sampel sehingga dapat diproses lebih lanjut. Data yang diperoleh dari kuesioner mencakup karakteristik responden . enis kelamin dan tingkat semeste. serta jawaban atas pernyataan-pernyataan terkait variabel penelitian. Karakteristik Responden Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Mahasiswa junior yang dijadikan responden adalah mahasiswa semester 2 dan semester 4, sedangkan mahasiswa senior adalah mahasiswa semester 6 dan semester 8 pada tahun akademik 2025. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 104 mahasiswa, sesuai dengan jumlah kuesioner yang disebarkan dan diisi kembali secara lengkap. Penyebaran kuesioner dilakukan selama kurang lebih dua minggu melalui Google Forms, dan seluruh responden yang mengisi kuesioner memenuhi persyaratan sampel sehingga data dapat diproses lebih lanjut. JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 14 - 29 Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Data yang diperoleh meliputi karakteristik responden . enis kelamin dan tingkat semeste. serta jawaban atas pernyataan terkait variabel penelitian. Distribusi responden menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa junior dan senior seimbang, masing-masing sebanyak 52 orang . %). Komposisi ini menggambarkan bahwa penelitian dilakukan pada kelompok yang setara dari sisi jumlah responden dan dapat mewakili populasi secara proporsional. Statistik Deskriptif Pengujian hipotesis dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara mahasiswa senior dan junior mengenai profesi akuntan. Uji statistik yang digunakan adalah independent sample t-test, karena sesuai untuk membandingkan rata-rata dua kelompok independen. Selain itu, dilakukan analisis deskriptif untuk memberikan gambaran umum mengenai persepsi responden. Instrumen penelitian menggunakan skala Likert 1Ae5, dengan interval interpretasi sebagai berikut: 1,00 Ae 1,80 = Sangat rendah / Sangat tidak setuju 1,81 Ae 2,60 = Rendah / Tidak setuju 2,61 Ae 3,40 = Sedang / Netral 3,41 Ae 4,20 = Tinggi / Setuju 4,21 Ae 5,00 = Sangat tinggi / Sangat setuju Kategori tersebut digunakan untuk mengelompokkan dan menafsirkan hasil jawaban responden, sehingga dapat diketahui distribusi persepsi mahasiswa dalam setiap kategori. Deskripsi Jawaban Responden Variabel X Tabel 1. Deskripsi Jawaban Responden Variabel X Pernyataan Profesi yang bergengsi di Profesi menawarkan prospek karir yang menjanjikan saya memahami tugas dan tanggung jawab seorang akuntan Saya tertarik untuk akuntan setelah lulus Profesi memiliki peran penting dalam dunia bisnis dan dan etika kerja yang Saya percaya profesi peluang kerja yang Penilaian STS Total Mean 3,26 3,28 3,38 3,80 4,50 3,16 3,30 Perbedaan Persepsi Antara Mahasiswa Senior Dan Mahasiswa Junior Mengenai Profesi Akuntan Pada Program Studi S1 (Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabay. (Dinda Roles. Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 luas diberbagai sektor. Saya pengembangan karir di . konsultan, ds. Perkembangan secara signifikan Saya merasa praktik lapangan/magang pemahaman tentang profesi akuntan. TOTAL Rata-Rata 3,39 3,71 4,40 3,61 Berdasarkan pada tabel 1, dapat dilihat bahwa dari pernyataan-pernyatan di setiap variabel X menunjukkan bahwa jawabanan responden memiliki rata-rata sebesar 3,61 yang berada pada interval 3,41 Ae 4,20 yang berarti keseluruhan dari jawaban responden menyatakan AuSetujuAy atas pernyataan dalam variabel Hal ini dibuktikan dengan nilai pernyataan yang paling banyak yaitu responden menilai profesi akuntan memiliki peran penting, peluang kerja luas, dan praktik magang sangat bermanfaat dalam memahami Deskripsi Jawaban Responden Variabel Y Tabel 2. Deskripsi Jawaban Responden Variabel Y Pernyataan Penilaian Perkembangan secara signifikan. Profesi Profesi Total Mean 3,18 3,28 3,53 STS JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 14 - 29 Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Saya percaya profesi akuntan memberikan kontribusi besar bagi Saya percaya profesi akuntan memberikan keseimbangan antara kehidupan kerja dan Profesi memiliki peluang karir Saya percaya profesi Saya merasa optimis dengan prospek karir sebagai akuntan di masa depan. Profesi memungkinkan untuk sendiri di bidang jasa Profesi akuntan selalu pekerjaanya sebagai jarang bekerja dengan orang lain TOTAL Rata-Rata 3,80 4,36 2,91 3,30 3,42 3,80 4,38 3,59 Berdasarkan pada tabel 2, dapat dilihat bahwa dari pernyataan-pernyatan di setiap variabel Y menunjukkan bahwa jawabanan responden memiliki rata-rata sebesar 3,59 yang berada pada interval 3,41 Ae 4,20 yang berarti keseluruhan dari jawaban responden menyatakan AuSetujuAy atas pernyataan dalam variabel Hal ini dibuktikan dengan nilai pernyataan yang paling banyak yaitu Mahasiswa memandang profesi akuntan memberi kontribusi penting bagi perusahaan, prospek karier yang baik, serta kesempatan pengembangan diri yang berkelanjutan. Hasil Uji Instrumen Hasil Uji Validitas Uji validitas dilakukan untuk mengecek seberapa baik alat pengukur dapat mengukur hal yang seharusnya diukur (Ghozali, 2. Dalam penelitian ini, uji validitas dilakukan pada 104 responden. Uji ini menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 5% atau 0,05. Untuk mendapatkan nilai r tabel, terlebih dahulu Perbedaan Persepsi Antara Mahasiswa Senior Dan Mahasiswa Junior Mengenai Profesi Akuntan Pada Program Studi S1 (Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabay. (Dinda Roles. Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 dicari nilai Df = N-2 = 95 - 2 = 93, sehingga diperoleh nilai r tabel sebesar 0,202. Data dianggap valid jika nilai r hitung lebih besar dari r tabel dan nilai signifikansi kurang dari 0,05 Tabel 3. Hasil Uji Validitas Dari tabel di atas terlihat bahwa semua item dalam variabel X menunjukkan nilai r hitung lebih besar daripada r tabel . dan memiliki tingkat signifikansi kurang dari 0,05, sehingga semua item tersebut dianggap valid. Hasil Uji Reabilitas Hasil pengujian reliabilitas menggunakan SPSS akan memberikan nilai Cronbach Alpha. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika memiliki nilai Cronbach Alpha di atas 0,6. Jika nilai Cronbach Alpha kurang dari 0,6, maka pertanyaan dalam kuesioner tidak dapat dipercaya. Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas Variabel CronbachAos Alpa 0,714 0,705 Reabilitas Minimum Keterangan Reliabel Reliabel Hasil uji reliabilitas pada table diatas menggunakan CronbachAos Alpha yang menunjukkan nilai sebesar 0,714 untuk variable X dan 0,705 untuk variable Y. Nilai CronbachAos Alpha dikategorikan dapat diterima atau reliabel karena lebih besar dari nilai cronbachAoc alpha 0,6. Uji Normalitas Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan memiliki distribusi normal atau tidak. Uji ini dilakukan dengan metode Kolmogorov Smirnov menggunakan program SPSS. Berdasarkan panduan dari Ghozali . , cara mengambil keputusan dalam uji normalitas adalah sebagai JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 14 - 29 Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Jika nilai probabilitas (Sig. ) lebih besar dari 0,05, maka data memiliki distribusi normal. Jika nilai probabilitas (Sig. ) lebih kecil dari 0,05, maka data tidak memiliki distribusi normal. Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Tests of Normality Mahasiswa Junior Senior Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. Shapiro-Wilk Statistic Sig. Persepsi Profesi Akuntan This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai signifikansi kedua kelompok lebih besar dari 0,05, yang menunjukkan bahwa data memiliki distribusi normal. Uji Homogenitas Uji homogenitas adalah prosedur statistik yang digunakan untuk menentukan apakah dua atau lebih kelompok sampel berasal dari populasi yang memiliki varians sama. Uji ini perlu dilakukan sebelum melanjutkan ke pengujian hipotesis dengan analisis parametrik. Dasar untuk menentukan hasil pada uji homogenitas adalah sebagai berikut: Jika nilai signifikansi (Sig. lebih besar dari 0,05, maka varians antar kelompok data dianggap sama. Jika nilai signifikansi (Sig. lebih kecil dari 0,05, maka varians antar kelompok data dianggap berbeda. Tabel 6. Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic Sig. Profesi Based on Mean Based on Median 2. Based on Median 2. and with adjusted Based on trimmed 2. Dari tabel tersebut diketahui bahwa nilai Signifikansi pada Based on Mean kedua variabel hasil lebih besar maka dapat dikatakan varians dari dua atau lebih kelompok populasi data adalah sama . Persepsi Akuntan Uji Perbedaan Rata-Rata Uji Independent Sample t-Test digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan rata-rata antara dua kelompok sampel yang tidak saling terkait Uji ini sesuai digunakan apabila peneliti ingin membandingkan persepsi mahasiswa akuntansi junior dan senior terhadap profesi akuntan. Persyaratan utama uji Independent Sample t-Test adalah data berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen. Namun demikian, jika syarat homogenitas tidak terpenuhi, uji ini tetap dapat digunakan dengan menyesuaikan pada baris output AuEqual variances not assumedAy. Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: Jika nilai Sig. -taile. < 0,05, maka terdapat perbedaan signifikan antara hasil kelompok 1 dan Jika nilai Sig. -taile. > 0,05, maka tidak terdapat perbedaan signifikan antara hasil kelompok 1 dan kelompok 2 Perbedaan Persepsi Antara Mahasiswa Senior Dan Mahasiswa Junior Mengenai Profesi Akuntan Pada Program Studi S1 (Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabay. (Dinda Roles. Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Tabel 7. Hasil Uji Beda Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Persepsi Profesi Akuntan Equal Equal Sig. 95% Confidence Interval of the Sig. - Mean Std. Error Difference taile. Difference Difference Lower Upper Dari tabel tersebut diketahui bahwa nilai signifikansi menunjukan sebesar 0. 000 lebih kecil dari 0. 05 maka dapat diambil keputusan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan persepsi profesi akuntan antara kelompok mahasiswa junior dan senior. Pembahasan Hasil penelitian ini mengungkap bahwa persepsi mahasiswa senior dan junior terhadap profesi akuntan relatif sama. Keduanya sama-sama memiliki penilaian positif yang berada pada kategori AusetujuAy. Adapun perbedaan kecil yang muncul dapat dijelaskan melalui beberapa aspek berikut: Persepsi Mahasiswa Terhadap Profesi Akuntan Hasil analisis menunjukkan bahwa baik mahasiswa tingkat junior maupun senior memiliki persepsi positif terhadap profesi akuntan. Rata-rata skor yang diperoleh berada pada kategori AusetujuAy. Hal ini mengindikasikan bahwa sejak awal perkuliahan, mahasiswa sudah memandang profesi akuntan sebagai pekerjaan yang penting, dibutuhkan, dan memiliki prospek karier yang menjanjikan. Mahasiswa juga menilai bahwa profesi akuntan menuntut integritas, ketelitian, serta tanggung jawab yang Pandangan ini sejalan dengan materi perkuliahan, khususnya pada mata kuliah etika profesi, akuntansi keuangan, dan auditing, yang menekankan pentingnya menjaga kejujuran dan profesionalisme dalam praktik akuntansi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa persepsi positif mahasiswa merupakan hasil dari kurikulum yang konsisten menanamkan nilai etika dan tanggung jawab profesi. Perbandingan Persepsi Mahasiswa Junior dan Senior Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara persepsi mahasiswa junior dan senior. Rata-rata skor kedua kelompok hampir sama, sehingga perbedaan tingkat semester tidak memengaruhi pandangan mereka terhadap profesi akuntan. Hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor berikut: Kurikulum yang seragam. Mahasiswa junior maupun senior mendapatkan materi yang sama terkait profesi akuntan, sehingga pengetahuan dasar mereka relatif seimbang. Pengalaman praktis yang terbatas. Walaupun mahasiswa senior berpeluang lebih besar mengikuti magang atau seminar, pengalaman tersebut tidak dirasakan secara merata oleh seluruh mahasiswa, sehingga tidak cukup berpengaruh untuk menciptakan perbedaan signifikan. Lingkungan akademik yang homogen. Budaya akademik di Program Studi Akuntansi menekankan nilai profesionalisme, integritas, dan tanggung jawab yang sama bagi semua mahasiswa, baik junior maupun senior. Hal ini membuat persepsi mereka terhadap profesi akuntan tetap konsisten. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini untuk memeriksa perbedaan pandangan antara mahasiswa tingkat akhir dan mahasiswa tingkat awal di Program Studi S1 Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. profesi akuntan. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari 104 responden . mahasiswa senior dan 52 mahasiswa junio. melalui kuesioner, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : JURNAL ILMIAH AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 14 - 29 Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Persepsi mahasiswa senior dan junior terhadap profesi akuntan sama-sama positif. Nilai rata-rata skor persepsi mahasiswa senior sebesar 3,61 dan mahasiswa junior sebesar 3,59 menunjukkan bahwa kedua kelompok responden berada pada kategori AusetujuAy terhadap pernyataan-pernyataan yang menggambarkan profesi akuntan. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa, baik di tingkat awal maupun akhir, memandang profesi akuntan sebagai pekerjaan yang penting, memiliki prospek karier yang baik, dan menuntut integritas tinggi. Tidak ada perbedaan yang berarti antara pandangan mahasiswa tingkat akhir dan mahasiswa tingkat Hasil dari uji Mann-Whitney menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,620, yang lebih besar dari 0,05, yang mengindikasikan bahwa perbedaan tingkat semester tidak menjadi faktor pembeda utama dalam membentuk persepsi terhadap profesi akuntan. Kesamaan kurikulum, metode pembelajaran, serta sumber informasi yang diterima kedua kelompok menjadi faktor yang mempengaruhi homogenitas pandangan tersebut. Temuan ini berbeda dengan sebagian penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa mahasiswa senior memiliki pandangan lebih realistis dan kritis dibandingkan mahasiswa junior. Dalam konteks penelitian ini, perbedaan persepsi tidak muncul secara signifikan, kemungkinan karena pengalaman praktis mahasiswa senior, seperti magang atau interaksi dengan praktisi, belum berbeda secara signifikan dari yang dialami mahasiswa junior. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa pembentukan persepsi positif dapat dimulai sejak awal masa studi, namun untuk menghasilkan persepsi yang lebih matang dan realistis diperlukan pengalaman pembelajaran berbasis praktik yang lebih intensif, studi kasus dunia nyata, serta peningkatan interaksi langsung dengan praktisi akuntansi. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa faktor tingkat semester saja belum cukup untuk menciptakan perbedaan persepsi yang signifikan terhadap profesi akuntan. Perlu adanya strategi pembelajaran dan pembinaan karier yang lebih variatif dan berbasis pengalaman agar persepsi mahasiswa dapat berkembang secara optimal sesuai tuntutan dunia kerja. Saran Mengacu pada temuan dan kesimpulan yang telah didapat, berikut adalah rekomendasi yang bisa Bagi Program Studi S1 Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Perlu meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis praktik . xperiential learnin. melalui kegiatan magang yang terstruktur, studi kasus dari dunia nyata, serta simulasi pekerjaan akuntan. Memperluas kesempatan mahasiswa untuk berinteraksi dengan praktisi dan organisasi profesi, misalnya melalui seminar, pelatihan, atau program mentoring, sehingga mahasiswa memperoleh gambaran langsung tentang dinamika profesi akuntan. Bagi Mahasiswa Mahasiswa, baik di tingkat awal maupun akhir, perlu proaktif mencari pengalaman tambahan di luar perkuliahan, seperti mengikuti pelatihan sertifikasi, kegiatan organisasi profesi, atau proyek akuntansi berbasis komunitas. Mahasiswa senior dapat membagikan pengalaman magang atau kegiatan profesional kepada mahasiswa junior untuk memperkaya pemahaman dan mempersiapkan mereka menghadapi dunia Bagi Peneliti Selanjutnya Disarankan untuk memperluas objek penelitian ke beberapa universitas agar hasilnya lebih representatif dan dapat digeneralisasi secara luas. Menambahkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi persepsi mahasiswa, seperti motivasi berkarier, minat akademik, atau pengaruh lingkungan keluarga. Menggunakan metode campuran . ixed method. untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif melalui kombinasi data kuantitatif dan wawancara mendalam. Perbedaan Persepsi Antara Mahasiswa Senior Dan Mahasiswa Junior Mengenai Profesi Akuntan Pada Program Studi S1 (Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabay. (Dinda Roles. Dinda Rolesa dkk / Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol 2 No. 14 Ae 29 Keterbatasan Penelitian Beberapa batasan dalam penelitian ini perlu diperhatikan. Pertama, kelompok peserta yang digunakan dalam penelitian ini hanya berasal dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Oleh karena itu, hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasi secara luas ke mahasiswa akuntansi di universitas lain. Kedua, alat pengukuran persepsi yang digunakan mengalami masalah reliabilitas. Ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, alat ukur harus divalidasi dan diubah. Ketiga, karena Penelitian ini hanya menggunakan variabel independen berupa semester dan mata kuliah lanjutan. Penelitian ini tidak mengecek variabel lain yang mungkin mempengaruhi pandangan siswa. Karena batasan tersebut, penelitian berikutnya dapat mencakup lebih banyak variabel dan sampel. penelitian ini hanya menggunakan variabel independen semester dan mata kuliah lanjutan, penelitian ini tidak memeriksa variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap pandangan siswa. karena keterbatasan ini, penelitian selanjutnya dapat mencakup lebih banyak variabel dan sampel DAFTAR PUSTAKA