PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. November - Januari e-ISSN : 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Manajemen Sumber Daya Manusia Anak Panti Asuhan: Strategi Pemberdayaan Menuju Kemandirian dan Daya Saing Sosial Rastina Kalla1*. Tenriwaru2. Muh. Haerdiansyah Syahnur3 email korespondensi: rastina. kalla@umi. Universitas Muslim Indonesia. Indonesia1*,2,3 Abstract Human resource management (HRM) in orphanages plays a crucial role in fostering childrenAos independence and social competitiveness. This study aims to analyze HRM practices and empowerment strategies implemented to support the capacity development of children living in orphanages. The research adopts a descriptive qualitative approach, with data collected through interviews, observation, and documentation. The informants consist of orphanage managers, caregivers, and foster children. The findings indicate that HRM is implemented through structured developmental planning, skill development programs, and continuous evaluation oriented toward character building and self-reliance. Empowerment strategies are carried out through formal and non-formal education, life-skills training, social value development, and the strengthening of social The application of structured and empowerment-based HRM contributes positively to enhancing the independence and social competitiveness of foster children. This study provides practical implications for orphanage administrators in designing sustainable human resource management models. Keyword: Human Resource Management. Orphanages. Child Empowerment. Life Skills Development. Social Competitiveness. Independence This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Abstrak Manajemen sumber daya manusia (SDM) anak panti asuhan memiliki peran penting dalam membentuk kemandirian dan daya saing sosial anak asuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik manajemen SDM serta strategi pemberdayaan yang diterapkan dalam mendukung pengembangan kapasitas anak panti asuhan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas pengelola panti, pengasuh, dan anak asuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen SDM dilaksanakan melalui perencanaan pembinaan, pengembangan keterampilan, serta evaluasi berkelanjutan yang berorientasi pada pembentukan karakter dan kemandirian. Strategi pemberdayaan dilakukan melalui pendidikan formal dan nonformal, pelatihan keterampilan hidup, pembinaan nilai sosial, serta penguatan jejaring sosial. Penerapan manajemen SDM yang terarah dan berbasis pemberdayaan berkontribusi positif terhadap peningkatan kemandirian dan daya saing sosial anak asuh. Penelitian ini memberikan implikasi bagi pengelola panti asuhan dalam merancang model pengelolaan SDM yang Kata kunci: Manajemen SDM. Panti Asuhan. Pemberdayaan. Kemandirian. Daya Saing Sosial Pendahuluan Panti asuhan merupakan lembaga sosial yang memiliki peran strategis dalam memberikan perlindungan, pengasuhan, dan pembinaan bagi anak-anak yang mengalami keterbatasan dukungan keluarga. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemenuhan kebutuhan dasar, panti asuhan juga bertanggung jawab dalam Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 1131 mempersiapkan anak asuh agar mampu hidup mandiri dan berperan aktif dalam Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya manusia (SDM) anak panti asuhan menjadi aspek penting yang menentukan keberhasilan proses pembinaan dan pemberdayaan anak asuh (Damayanti, 2. , (Ulwiyah et al. , 2. Dalam konteks pembangunan sosial, manajemen SDM tidak hanya dipahami sebagai pengelolaan tenaga kerja, tetapi juga sebagai upaya sistematis untuk mengembangkan potensi, kompetensi, dan karakter individu. Pada panti asuhan, anak asuh merupakan subjek utama pengembangan SDM yang memerlukan pendekatan khusus, mengingat latar belakang sosial, psikologis, dan ekonomi yang beragam (Putri, 2. , (Damayanti. Tantangan yang dihadapi panti asuhan tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, tetapi juga dengan kebutuhan untuk membekali anak asuh dengan keterampilan hidup . ife skill. , nilai sosial, serta kemampuan beradaptasi agar memiliki daya saing sosial setelah keluar dari panti. Berbagai studi menunjukkan bahwa rendahnya kemandirian anak panti asuhan sering kali disebabkan oleh pola pengasuhan yang belum terintegrasi dengan sistem manajemen SDM yang terencana dan berorientasi pada pemberdayaan (Akuntansi & Udayana, 2. , (Sabarini & Hendayana, 2. Program pembinaan yang bersifat rutinitas dan kurang berkelanjutan berpotensi menjadikan anak asuh bergantung pada lembaga, sehingga kurang siap menghadapi kehidupan mandiri. Oleh karena itu, diperlukan strategi manajemen SDM yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga pada pengembangan kapasitas jangka panjang anak asuh. Strategi pemberdayaan dalam manajemen sumber daya manusia anak panti asuhan mencakup pendidikan formal dan nonformal, pelatihan keterampilan, pembinaan karakter, serta penguatan jejaring sosial sebagai satu kesatuan yang saling terintegrasi. Pendidikan formal berperan dalam meningkatkan kapasitas akademik dan membuka akses anak asuh terhadap jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sementara pendidikan nonformal berfungsi sebagai sarana penguatan nilai, minat, dan bakat anak asuh. Pelatihan keterampilan, khususnya keterampilan hidup dan keterampilan vokasional, menjadi instrumen penting dalam membekali anak asuh dengan kemampuan praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan kehidupan sosial. Selain itu, pembinaan karakter dilakukan melalui penanaman nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan etika sosial yang menjadi fondasi dalam pembentukan kepribadian anak asuh. Penguatan jejaring sosial, baik dengan dunia pendidikan, dunia usaha, komunitas, maupun lembaga sosial lainnya, berperan dalam memperluas kesempatan belajar, magang, dan integrasi sosial anak asuh setelah keluar dari panti. Pendekatan pemberdayaan yang komprehensif ini diharapkan mampu membentuk anak asuh yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga percaya diri, adaptif, dan memiliki daya saing sosial yang memadai. Penerapan manajemen SDM yang terarah dan berbasis pemberdayaan, panti asuhan dapat bertransformasi dari lembaga yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar menjadi institusi pengembangan manusia yang berkelanjutan (Tanjungpura et al. , 2. Peran panti asuhan tidak lagi terbatas pada fungsi pengasuhan, tetapi juga sebagai agen pembangunan sosial yang berkontribusi dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing dalam masyarakat. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik manajemen sumber daya manusia anak panti asuhan serta strategi pemberdayaan yang diterapkan dalam meningkatkan kemandirian dan daya saing sosial anak asuh. Hasil Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 1132 penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengelola panti asuhan dan pemangku kepentingan dalam merancang model pengelolaan SDM yang berkelanjutan. Panti asuhan tidak hanya berperan sebagai lembaga pelayanan sosial, tetapi juga sebagai institusi pengembangan sumber daya manusia yang memiliki tanggung jawab dalam membentuk kemandirian dan daya saing sosial anak asuh. Namun, praktik manajemen sumber daya manusia serta strategi pemberdayaan yang diterapkan dalam konteks panti asuhan masih belum banyak dikaji secara mendalam dan sistematis. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji bagaimana praktik manajemen sumber daya manusia anak panti asuhan dalam mendukung proses pembinaan, pengembangan, dan pembentukan kemandirian anak asuh, serta bagaimana strategi pemberdayaan yang diterapkan dalam manajemen sumber daya manusia panti asuhan berkontribusi terhadap peningkatan daya saing sosial anak asuh. Landasan Teori Teori Pemberdayaan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Penelitian ini berpijak pada teori pemberdayaan . mpowerment theor. dalam manajemen sumber daya manusia sebagai landasan teori utama (Mandasari & Nurmala. Teori pemberdayaan menekankan bahwa individu merupakan aset utama organisasi yang perlu dikembangkan kapasitas, kompetensi, dan kepercayaan dirinya agar mampu mengelola kehidupan dan lingkungannya secara mandiri. Dalam konteks manajemen sumber daya manusia, pemberdayaan dipahami sebagai proses sistematis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan individu melalui pendidikan, pelatihan, pembinaan, serta pemberian kesempatan berpartisipasi secara aktif dalam proses pengembangan diri. Penerapan teori pemberdayaan dalam lembaga sosial, khususnya panti asuhan, menempatkan anak asuh sebagai subjek pengembangan sumber daya manusia, bukan sekadar objek pengasuhan (Milad et al. , 2. Melalui pendekatan pemberdayaan, manajemen sumber daya manusia diarahkan pada penguatan potensi anak asuh agar mampu mencapai kemandirian dan memiliki daya saing sosial. Dengan demikian, panti asuhan berperan sebagai institusi pengembangan manusia yang berorientasi pada pembentukan individu yang adaptif, produktif, dan berdaya saing dalam kehidupan bermasyarakat. Manajemen sumber daya manusia dan Daya Saing Sosial Proses perencanaan, pengorganisasian, pengembangan, pembinaan, dan pengendalian individu untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan berkelanjutan. Dalam panti asuhan, manajemen sumber daya manusia diarahkan pada pembinaan dan pengembangan anak asuh sebagai sumber daya manusia yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara optimal. Pemberdayaan anak asuh merupakan proses peningkatan kapasitas anak melalui penguatan kemampuan, keterampilan, dan kepercayaan diri agar mampu mengambil keputusan serta mengelola kehidupan secara Pemberdayaan tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi pendidikan, sosial, dan karakter. Kemandirian adalah kemampuan individu untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri, mengambil keputusan, serta memenuhi kebutuhan hidup tanpa ketergantungan berlebihan pada pihak lain. Kemandirian menjadi indikator keberhasilan pemberdayaan anak panti asuhan dalam proses pembinaan jangka panjang. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 1133 Daya saing sosial merupakan kemampuan individu untuk beradaptasi, berinteraksi, dan berkontribusi secara positif dalam lingkungan sosial. Daya saing sosial mencerminkan kesiapan anak asuh untuk hidup bermasyarakat dengan mengandalkan keterampilan, etika, dan jejaring sosial yang dimiliki. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif sebagaimana direkomendasikan dalam penelitian sosial yang berorientasi pada pemahaman mendalam terhadap fenomena kontekstual (Aprilia et al. , 2024. Assyakurrohim et al. , 2. Pendekatan kualitatif dipilih untuk menggali secara komprehensif praktik manajemen sumber daya manusia anak panti asuhan serta strategi pemberdayaan yang diterapkan dalam membentuk kemandirian dan daya saing sosial anak asuh. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan fenomena secara sistematis, faktual, dan kontekstual sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Penelitian ini dilaksanakan pada panti asuhan sebagai lembaga kesejahteraan sosial yang menjalankan fungsi pengasuhan dan pembinaan anak. Subjek penelitian meliputi pengelola panti asuhan, pengasuh, dan anak asuh yang dipilih secara purposive, dengan pertimbangan tingkat keterlibatan dan pemahaman mereka terhadap praktik manajemen sumber daya manusia serta program pemberdayaan yang dijalankan di panti Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan Wawancara mendalam dilakukan kepada pengelola panti, pengasuh, dan anak asuh untuk memperoleh informasi terkait praktik manajemen sumber daya manusia dan strategi pemberdayaan yang diterapkan. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung proses pembinaan, pelatihan, serta aktivitas pemberdayaan anak asuh dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan panti asuhan. Dokumentasi digunakan untuk menelaah dokumen pendukung, seperti program pembinaan, laporan kegiatan, dan arsip lain yang relevan dengan pengelolaan panti asuhan. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola praktik manajemen sumber daya manusia serta strategi pemberdayaan yang berkontribusi terhadap pembentukan kemandirian dan peningkatan daya saing sosial anak asuh. Keabsahan data dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta mengonfirmasi informasi yang diperoleh dari berbagai informan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kredibilitas, konsistensi, dan keandalan temuan penelitian. Hasil dan Pembahasan Praktik Manajemen Sumber Daya Manusia Anak Panti Asuhan dalam Mendukung Kemandirian Anak Asuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik manajemen sumber daya manusia anak panti asuhan dilaksanakan secara bertahap dan berorientasi pada pembinaan jangka panjang anak asuh. Pengelola panti menerapkan fungsi perencanaan pembinaan yang mencakup pengaturan kegiatan pendidikan, pengasuhan, dan pengembangan keterampilan sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Anak asuh tidak hanya diarahkan untuk mengikuti pendidikan formal, tetapi juga dilibatkan dalam kegiatan rutin yang melatih tanggung jawab dan kemandirian. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 1134 Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola panti, diketahui bahwa anak asuh diperlakukan sebagai individu yang sedang dipersiapkan untuk hidup mandiri, bukan sekadar penerima bantuan. Salah satu informan menyatakan: AuKami berusaha membiasakan anak-anak untuk bertanggung jawab sejak dini, mulai dari mengatur jadwal belajar, menjaga kebersihan, sampai terlibat dalam kegiatan panti. Tujuannya supaya mereka siap ketika nanti tidak lagi tinggal di sini. Ay Hasil observasi lapangan memperkuat temuan tersebut, di mana peneliti menemukan adanya pembagian tugas harian kepada anak asuh, seperti pengelolaan kebersihan, dapur, dan kegiatan ibadah bersama. Aktivitas ini menjadi bagian dari proses pembinaan karakter dan pembelajaran kemandirian yang terintegrasi dalam manajemen SDM panti. Selain itu, pengembangan kapasitas anak asuh dilakukan melalui evaluasi berkala terhadap perkembangan akademik dan perilaku anak. Pengasuh secara rutin melakukan pendampingan dan memberikan umpan balik kepada anak asuh terkait sikap, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Praktik ini menunjukkan bahwa manajemen SDM di panti asuhan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga bersifat pembinaan dan pendampingan personal (Mandasari & Nurmala, 2. , (Akuntansi & Udayana, 2. Strategi Pemberdayaan dalam Meningkatkan Daya Saing Sosial Anak Asuh. Strategi pemberdayaan dalam manajemen sumber daya manusia anak panti asuhan diwujudkan melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, pembinaan karakter, dan penguatan jejaring Hasil wawancara dengan pengasuh menunjukkan bahwa panti secara aktif memberikan pelatihan keterampilan hidup . ife skill. , seperti keterampilan komunikasi, pengelolaan diri, dan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan sosial dan Seorang pengasuh menyampaikan: AuKami tidak hanya fokus pada sekolah, tetapi juga membekali anak-anak dengan keterampilan agar mereka bisa mandiri dan percaya diri ketika berinteraksi di luar panti. Ay Hasil observasi menunjukkan bahwa anak asuh dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial, seperti kerja bakti lingkungan, kegiatan keagamaan, dan interaksi dengan masyarakat sekitar. Keterlibatan ini menjadi sarana pembelajaran sosial yang efektif dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi anak asuh. Penguatan jejaring sosial juga menjadi bagian dari strategi pemberdayaan. Panti asuhan menjalin kerja sama dengan sekolah, komunitas sosial, dan lembaga pelatihan untuk membuka akses pembelajaran dan pengalaman sosial bagi anak asuh. Berdasarkan wawancara dengan anak asuh, keterlibatan dalam kegiatan di luar panti memberikan pengalaman baru dan meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemberdayaan yang terintegrasi dalam manajemen SDM panti asuhan berkontribusi positif terhadap peningkatan kemandirian dan daya saing sosial anak asuh. Anak asuh tidak hanya memiliki kesiapan akademik, tetapi juga kemampuan sosial dan mental yang lebih baik dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat (Sabarini & Hendayana, 2. Praktik manajemen sumber daya manusia yang melibatkan perencanaan pembinaan, pendampingan, serta evaluasi berkelanjutan sejalan dengan konsep pemberdayaan yang menekankan proses penguatan kapasitas . apacity buildin. Pembagian tanggung jawab harian dan pembiasaan pengelolaan diri yang ditemukan dalam observasi lapangan menunjukkan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 1135 adanya upaya sistematis untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab anak asuh. Hal ini selaras dengan pandangan teori pemberdayaan yang menyatakan bahwa pemberian peran dan kepercayaan merupakan fondasi dalam membentuk kemandirian individu. Strategi pemberdayaan melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pembinaan karakter juga mencerminkan dimensi struktural dan psikologis dalam teori pemberdayaan. Pendidikan dan pelatihan keterampilan berfungsi sebagai sarana peningkatan kompetensi, sementara pembinaan karakter berperan dalam membentuk kesadaran diri, nilai, dan motivasi internal anak asuh. Temuan ini mendukung konsep pemberdayaan yang menekankan bahwa peningkatan kemampuan teknis harus diiringi dengan penguatan mental dan nilai agar individu mampu berdaya secara berkelanjutan. Penguatan jejaring sosial yang dilakukan panti asuhan melalui kerja sama dengan sekolah, komunitas, dan lembaga sosial juga sejalan dengan teori pemberdayaan yang menempatkan akses terhadap sumber Praktik manajemen sumber daya manusia yang melibatkan perencanaan pembinaan, pendampingan, serta evaluasi berkelanjutan sejalan dengan konsep pemberdayaan yang menekankan proses penguatan kapasitas . apacity buildin. Pembagian tanggung jawab harian dan pembiasaan pengelolaan diri yang ditemukan dalam observasi lapangan menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab anak asuh. Hal ini selaras dengan pandangan teori pemberdayaan yang menyatakan bahwa pemberian peran dan kepercayaan merupakan fondasi dalam membentuk kemandirian individu (Ulwiyah et al. Strategi pemberdayaan melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pembinaan karakter juga mencerminkan dimensi struktural dan psikologis dalam teori pemberdayaan. Pendidikan dan pelatihan keterampilan berfungsi sebagai sarana peningkatan kompetensi, sementara pembinaan karakter berperan dalam membentuk kesadaran diri, nilai, dan motivasi internal anak asuh. Temuan ini mendukung konsep pemberdayaan yang menekankan bahwa peningkatan kemampuan teknis harus diiringi dengan penguatan mental dan nilai agar individu mampu berdaya secara berkelanjutan (Tanjungpura et al. , (Ulwiyah et al. , 2. Penguatan jejaring sosial yang dilakukan panti asuhan melalui kerja sama dengan sekolah, komunitas, dan lembaga sosial juga sejalan dengan teori pemberdayaan yang menempatkan akses terhadap sumber daya dan jaringan sebagai elemen penting dalam proses pemberdayaan. Jejaring sosial membuka peluang belajar, pengalaman sosial, serta integrasi anak asuh dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, daya saing sosial anak asuh tidak hanya dibangun dari kemampuan individual, tetapi juga dari dukungan dan akses sosial yang dimiliki. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menguatkan teori pemberdayaan bahwa manajemen sumber daya manusia yang terarah dan berbasis pemberdayaan mampu meningkatkan kemandirian dan daya saing sosial individu. Dalam konteks panti asuhan, penerapan teori pemberdayaan menjadikan lembaga tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengasuhan, tetapi juga sebagai institusi pengembangan manusia yang mempersiapkan anak asuh untuk hidup mandiri dan berpartisipasi aktif dalam masyarakat. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia anak panti asuhan yang diterapkan telah mengarah pada Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 1136 pendekatan berbasis pemberdayaan. Praktik manajemen sumber daya manusia dilaksanakan melalui perencanaan pembinaan, pendampingan, dan evaluasi berkelanjutan yang berorientasi pada pengembangan kapasitas dan kemandirian anak Anak asuh diposisikan sebagai subjek pengembangan sumber daya manusia, bukan sekadar objek pengasuhan. Strategi pemberdayaan yang mencakup pendidikan formal dan nonformal, pelatihan keterampilan, pembinaan karakter, serta penguatan jejaring sosial terbukti berperan dalam meningkatkan kemandirian dan daya saing sosial anak asuh. Pemberian tanggung jawab, penguatan kompetensi, dan keterlibatan anak asuh dalam aktivitas sosial menjadi faktor penting dalam membentuk kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan anak asuh untuk hidup bermasyarakat. Penerapan manajemen sumber daya manusia berbasis pemberdayaan menjadikan panti asuhan tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pengasuhan, tetapi juga sebagai institusi pengembangan manusia yang berkontribusi dalam menciptakan sumber daya manusia yang mandiri dan berdaya saing Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan pemberdayaan dalam pengelolaan panti asuhan secara berkelanjutan. Daftar Pustaka