ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. PERAN PRIA PASANGAN USIA SUBUR DALAM MENDUKUNG PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NAIONI James Yadson Tuan1*,Deviarbi Sakke Tira2. Sigit Purnawan3. Amelya B. Sir4 1*,2,3,4 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana yadsontuan@gmail. ABSTRAK Puskesmas Naioni merupakan salah satu puskesmas yang berada di kecamatan Alak, dibawah lingkup pemerintahan Kota Kupang dengan jumlah partisipan pengguna alat kontrasepsi yang cukup rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pria pasangan usia subur dalam mendukung program Keluarga Berencana (KB) di wilayah kerja Puskesmas Naioni. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan snowball sampling dengan metode wawancara. Lokasi penelitian berada diwilayah kerja Puskesmas Naioni. Kota Kupang. waktu penelitian dimulai dari bulan Februari tahun Informan penelitian berjumlah 9 orang informan utama dan 6 orang sebagai inforan Hasil penelitian menunjukan bahwan adanya peran pria pasangan usia subur dalam mendukung program Keluarga Berencana (KB) dengan peran sebagai Promotor. Motivator. Edukator,dan Fasilitator. Walaupun ditemukan peran-peran pria pasangan usia subur tersebut namun masih banyak pasangan usia subur terkhususnya laki-laki yang tidak menggunakan alat kontrasepsi. Kata kunci: Pria Pasangan Usia Subur. Alat Kontrasepsi. Program KB ABSTRACT Naioni Health Center is one of the Health Center in Alak Subdictrict, under the scope of the Kupang City goverment with a fairly low number of participant using contraceptives. The suty aims to determine the role of male couples of childbearing age the supporting Family Planning (KB) program in the Naioni community Health Center working area. This type of research is qualitative research with a snowball sampling approach using the interview The research location is in the working area of Naioni Health Center. Kupang City. The research period start from February 2024. The research informants totaled 9 main informan and 6 people as supporting informants. The research result show that there is a role for male couples of childbearing age in supporting the Family Planning (KB) programs with the role of Promoter. Motivator. Educator and Facilitator. Even though the role of male couples of childbearing age have been found, there are still many couples of childbearing age, ecpecially man, who us not contraception. Key word: Male Couples Of Childbearing Age. Contraceptive Devices. Family Planning Programs. PENDAHULUAN Keluarga Berencana (KB) merupakan sebuah tindakan yang dapat membantu keluarga atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif tertentu, seperti mengatur interval di antara kehamilan, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan suami istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 24 tahun 2017 tentang pelayanan keluarga berencana pasca persalinan dan pasca keguguran pada pasal 41 tentang metode kontrasepsi pelayanan KB PP dan PK terdiri atas: metode operasi wanita (MOW), metode operasi pria (MOP), alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD). ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK/Impla. , suntikan KB, pil KB, kondom, metode amenoroe laktasi (MAL). Jumlah peserta KB aktif di Kota Kupang pada tahun 2018 sebanyak 31. 452 pasangan, tahun 2020 sebanyak 33. 971 dan di tahun 2021 sebanyak 35. 568 pasangan. Jumlah pasangan yang ber-KB ini terbagi dalam beberapa jenis metode ber-KB antara lain : Metode IUD tahun 2018 sebanyak 422, tahun 2020 sebanyak 5. 454, tahun 2021 sebanyak 5. Metode MOW tahun 2018 sebanyak 2. 645, tahun 2020 sebanyak 2. 772, tahun 2021 sebanyak Metode MOP pada tahun 2018 sebanyak 80, tahun 2020 sebanyak 81, tahun 2021 sebanyak 77. Metode Kondom tahun 2018 sebanyak 755, tahun 2020 sebanyak 844, tahun 2021 sebanyak 892. Metode Implant tahun 2018 sebanyak 243, tahun 2020 sebanyak 6. 434, tahun 2021 sebanyak 7. Metode Suntikan pada tahun 2018 sebanyak 13. 694, tahun 2020 sebanyak 14. 971, tahun 2021 621, metode Pil KB pada tahun 2018 sebanyak 3. 613, pada tahun 2020 sebanyak 3. 415 dan tahun 2021 sebanyak 3. Puskesmas Naioni merupakan salah satu puskesmas yang mengalami peningkatan jumlah ibu hamil selama tiga tahun terakhir. Dimana jumlah ibu hamil pada tahun 2020 sebanyak 80 ibu hamil, pada tahun 2021 sebanyak 102 ibu hamil dan pada tahun 2022 tercatat hingga bulan agustus sebanyak 46 ibu hamil . Jumlah peserta KB aktif yang tercatat pada tahun 2020 sebanyak 294, di tahun 2021 meningkat menjadi 307 dan pada tahun 2022 hingga bulan Agustus sebanyak 330 pasangan yang mengikuti program Keluarga Berencana. Dengan rincian pada tahun 2022 yaitu 20 perempuan menggunakan Implant, 245 perempuan menggunakan Suntik, 50 perempuan menggunakan Pil KB, 5 pria menggunakan Kondom, 10 perempuan menggunakan mow sedangkan untuk pria tidak ada yang menggunakan mop. Tercatat pada tahun 2022 sebanyak 445 pasangan usia subur yang masuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Naioni. Berdasarkan data yang di dapat dari Puskesmas Naioni, keputusan pasangan suami istri untuk mengikuti program Keluarga Berencana tidak terlepas dari peran pria pasangan usia subur dalam mendukung program Keluarga Berencana. Peran pria pasangan usia subur dalam mendukung program Keluarga Berencana terbagi dalam beberapa peran yakni peran sebagai Promotor, peran sebagai Edukator, peran sebagai Motivator dan peran sebagai Fasilitator. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data secara deskriptif yang berupa lisan atau tulisan dari orang-orang yang diamati. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Snowball Sampling. Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel non-probabilitas yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk memilih sampel dalam jaringan atau rantai hubungan yang berkelanjutan Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 9 orang pria pasangan usia subur sebagai informan utama dan 6 pasangan dari informan utama yang dijadikan sebagai informan pendukung. Teknik pengumpulan data dengan interview wawancara dan kuesioner. Pengolahan data lewat data redication, display data, conclusion/ferification. Data yang telah dianalisis akan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi untuk membahas hasil penelitian serta ditarik kesimpulan. ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Nama Umur Tabel 1 Karakteristik Informan Penelitian Jenis Peran Alat Kelamin Kontrasepsi Informan Utama Informan Utama Informan Utama Informan Utama Informan Utama Informan Utama Informan Utama Informan Utama Informan Utama Informan Pendukung Informan Pendukung Informan Pendukung Informan Pendukung Informan Pendukung Informan Pendukung Sumber : Primer ( Hasil Wawancara ) Kondom Kondom Kondom Kondom Kondom Pil KB Implant Pil KB Implant Jumlah Anak 3 Anak 3 Anak 2 Anak 3 Anak 1 Anak 3 Anak 4 Anak 3 Anak 2 Anak 3 Anak 3 Anak 2 Anak 3 Anak 1 Anak 4 Anak Tabel 1 menunjukan 9 orang sebagai informan utama dan 6 orang sebagai informan pendukung yang di pilih melalui teknik snowball sampling. Peran Pria Pasangan Usia Subur Dalam Mendukung Program Keluarga Berencana Di Wilayah Kerja Puskesmas Naioni Peran Pria Pasangan Usia Subur Sebagai Promotor Hasil wawancara dari sembilan informan penelitian menunjukan lima dari sembilan pria pasangan usia subur >35 tahun menggunakan alat kontrasepsi berupa kondom, sedangkan empat pria pasangan usia subur lainnya tidak menggunakan alat Empat non akseptor kb dipilih karena mendukung pasangannya untuk ikut menggunakan alat kontrasepsi antara lain menggunakan satu orang menggunakan pil kb, dua orang menggunakan suntik kb dan satu orang menggunakan implant. Berikut kutipan hasil wawancara: AuBapa ada pake kondom adeAy, (ML, 2. AuBapa ada pake kondom kakaAy, (MB, 2. AuBeta ada pake kondom adeAy, (DF,2. Hal yang sama juga diungkapkan oleh dua orang akseptor kb lainnya yang menggunakan metode kontrasepsi berupa kondom dengan berbagai alasan menggunakan kontrasepsi kondom seperti beberapa kutipan wawancara berikut: AuAwih pas suh kaka e, kasi makan 3 orang sah suh setengah mati nah mau tambah lehAy, (NT, 2. AuB tau dari kawan dong deng maitua juh suruh nah kakaAy, (MB, 2. AuNeu tergantung tuhan kasi ko sonde kaka, mah untuk saat ini beta belum mau kakaAy, (AL, 2. AuBeta tau e, makanya b pake ko supaya tunda kehamilan dolo, supaya fokus ame ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. urus ini ana buah 1 orang deng sibuk kerja juh dehAy, (DF, 2. Dari beberapa kutipan hasil wawancara bisa disimpulkan informan penelitian menggunakan kondom dikarenakan untuk membatasi jumlah anak dalam keluarga meski tidak menutup kemungkinan untuk menambah jumlah anak lagi. Rentang penggunaan kontrasepsi beragam ada yang baru menggunakan dan sudah lama menggunakan alat kontrasepsi kondom, berikut beberapa kutipan hasil AuSuh agak lama juh kaka e keknya suh mau 3 tahun kokAy, (NT, 2. AuSuh lumayan lama juh sekitar 2 tahun mengkaliAy. (MB, 2. AuDari abis anak buah lahir juh sonde lama maitua duluan pake pil kb, kalo beta nah baru sah belom sampe 1 tahun juhAy, (DF, 2. Dua akseptor kb lainnya juga menegaskan bahwa mereka sudah cukup lama menggunakan metode kontrasepsi kondom, sehingga ini menunjukan bahwa lima orang pria pasangan usia subur yang merupakan akseptor kb atau peran pria yang aktif dalam mendukung program keluarga berencana. Peran Pria Pasangan Usia Subur Sebagai Motivator Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap informan penelitian yang merupakan akseptor kb dan non akseptor kb didapatkan hasil bahwa suami sangat mendukung untuk mengikutsertakan keluarga dalam program kb, berikut beberapa kutipan hasil wawancara: AuBapa talalu dukung bapa punya istri untuk ikut kb, kan kebetulan mama juh pake pilAy, (ML,2. AuAda kaka, soalnya maitua juh kan ada pake implant deh biasa b dukung supaya pake terus teh belum mau punya anak lagi nah kakaAy, (MB, 2. AuBeta dukung deng cara be juh ikut pake kondom nih kakaAy, (AL, 2. AuSuh pasti bapa dukung, ko itu waktu pas mau pake pertama mama kasi tau juh makanya bapa setuju ko mama pake kakaAy, (BT, 2. AuSelagi kalo masi aman buat kesehatan nah aman sah bapa pasti dukung kakaAy,(YL. Dari kutipan hasil wawancara yang diberikan oleh informan baik akseptor kb maupun non akseptor kb didapati resepon yang baik dengan mendukung program keluarga berencana dengan menggunakan kontrasepsi maupun memberikan ijin serta mendukung istri untuk menggunakan metode kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan anjuran tenaga kesehatan dari puskesmas Naioni. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara responden lainnya yang juga setuju dan mau untuk mendukung program keluarga berencana. Dari hasil wawancara ditemukan bahwa beberapa pria pasangan usia subur memberikan berbagai jenis bentuk dukungan pria pasangan usia subur mendukung program keluarga berencana, berikut beberapa kutipan hasil wawancara: AuBeta dukung dia dengan cara b ikut ini program kb kaka, karna b tau ini program bagus buat ketong pumya keluarga kakaAy, (NT, 2. AuBapa talalu dukung bapa punya istri untuk ikut kb, kan kebetulan mama juh pake pilAy, (ML, 2. AuBeta dukung deng cara be juh ikut pake kondom nih kakaAy, (AL, 2. Auko itu waktu pas mau pake pertama mama kasi tau juh makanya bapa setuju ko mama pake kakaAy, (BT, 2. Bentuk-bentuk dukungan yang diberikan dari suami seperti turut ikut serta dalam program keluarga berencana, atau memberikan ijin agak istri menggunakan alat kontrasepsi. Ada juga beberapa alasan mengapa suami mendukung program keluarga berencana antara lain terdapat dalam kutipan beberapa hasil wawancara: AuSonde ada alasan khusus sih, hanya memang suh sonde mau tambah anak leh. ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. baru kan pil nih juh kadang sonde efektik jadi lebih bae b pake tambah deng kondom sah adeAy, (ML, 2. AuAii kaka e, b bukan kek orang lain dong ha, memang anak banyak juh b mau hanya nanti juh ketong punya keluarga yang setengah matiAy, (MB, 2. AuKo ini anak baru 1 sah, jadi nnti ko ini satu suh agak besar sedikit baru tambah leh, pake pil juh sonde ada efek samping kalo ketong lepas masih bisa ada anak lebih gampang nahAy, (DF, 2. AuNah kalo itu program bagus nah suh pasti ketong dukung dukung mama punya pilihanAy, (AD, 2. dari hasil kutipan wawancara, didapati hasil bahwa alasan pria pasangan usia subur mendukung ada informan yang hanya sekedar mendukung pilihan pasangan, ada informan yang mau untuk membatasi jumlah anak dan ada juga informan yang mau untuk menjaga jarak kelahiran serta alasan kesehatan. Peran Pria Pasangan Usia Subur Sebagai Edukator Wawancara yang dilakukan juga bertujuan untuk mencari tau pengetahuan yang sudah dimiliki keluarga terkhususnya pria pasangan usia subur mengenai program keluarga berencana. Berikut didapati hasil didalam kutipan wawancara: AuSetau bapa tuh untuk orang yang suh sonde mau punya anak leh deng untuk orang yang mau atur jarak kehamilanAy, (AL, 2. AuYang bapa tau tuh untuk orang yang suh sonde mau punya anak leh kokAy, (ON. AuYang bapa tau tuh itu untuk pasangan yang suh sonde mau tambah anak leh, deng bagus juh buat kesehatan yang bapa dengarAy, (BT, 2. AuOiaa kaka, bapa juh sonde terlalu tau nahAy, (YL, 2. Rata-rata pengetahuan pria pasangan usia subur baik akseptor kb maupun non aksepto kb mengetahui secara umum tentang apa itu manfaat program keluarga berencana meskipun ada sebagian yang tidak mengetahui secara pasti apa itu manfaat dan kegunaan menggunakan alat kontrasepsi. Adapun juga pengetahuan tentang berbagai jenis kontrasepsi yang tersedia, seperti kutipan hasil wawancara berikut ini: AuYang bapa tau ada kondom, pil, suntik deng implantAy, (MB, 2. AuYang beta tau tuh ade ada kondom, pil, suntik deng implant sah, kan kebetulan maitua juh ada minum pil kb nahAy, (DF, 2. AuBapa hanya tau, kondom, pil deng suntik sahAy, (ON, 2. dari beberapa kutipan hasil wawancara diatas menunjukan bahwa kebanyakan informan baik akseptor maupun non akseptor mengetahui beberapa jenis alat kontrasepsi yang banyak dipakai oleh masyarakat, sedangkan beberapa jenis alat kontrasepsi seperti Intera Uterine Device (IUD). Vasektomi dan tubektomi tidak disinggung jadi kemungkinan informan tidak mengetahui beberapa jenis kontrasepsi tersebut. Peran Pria Pasangan Usia Subur Sebagai Fasilitator Hasil wawancara menunjukan bahwa informan penelitian baik akseptor kb maupun non akseptor kb bersedia untuk memberikan fasilitas kepada pasangan, berikut beberapa kutipan hasil wawancara dari beberapa informan penelitian: AuIya bapa suh pasti memfasilitasiAy, (NT, 2. AuBeta suh pasti jamin ketong punya keluargaAy, (DF, 2. dari wawancara dengan informan didapat bahwa pria pasangan usia subur bersedia untuk memfasilitasi dengan berbagi bentuk fasilitas yang diberikan oleh suami antara lain tertera dalam hasil kutipan wawancara berikut: AuKadang bapa kalo sonde sibuk bapa antar pi puskesmas, deng kadang bapa juh ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. biasa kasi ingat untuk minum pilAy, (ML, 2. AuKadang beta antar pi puskesmas atau posyandu kalo be sonde sibuk mah b sonde tunggu nanti dong suh pulang baru telpon ko pi jemputAy, (AL2. AuBeta usaha ko ketong jang bisa makan yang agak sehat, kadang juh kalo beta sonde sibuk nah b antar jemput maitua pi posyandu nahAy. (DF, 2. AuKadang juh kalo bapa sonde sibuk mama kalo minta tolong nah bapa antarAy, (BT. Fasilitas yang disediakan oleh pria pasangan usia subur kepada pasangan biasanya lebih untuk menemani istri, mengantarkan ke puskesmas serta menyediakan makan yang sehat dan berkecukupan untuk memenuhi asupan gizi Adapun beberapa alasan mengapa pria memberikan fasilitas yang baik kepada pasangannya, seperti kutipan hasil wawancara berikut: AuKo abis mau harap sapa leh, ini ketong punya rumah tangga toh jadi ketong lakilaki suh pasti wajib tanggung jawab kakaAy, (MB, 2. AuNamanya juh ketong pung istri jadi dia butuh apa kalo bisa ketong lakukan kakaAy, (ON, 2. dari beberapa kutipan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa pria pasangan usia subur bersedia untuk memberikan fasilitas kepada pasangan dikarenakan untuk menghargai pasangan serta mempermudah kegiatan pasangan. Pembahasan Peran Pria Pasangan Usia Subur Sebagai Promotor Informan penelitian cukup antusias atau memiliki niat untuk mendukung program keluarga berencana dengan hasil penelitian menunjukkan lima dari sembilan informan penelitian merupakan akseptor KB dengan menggunakan alat kontrasepsi berupa kondom, sedangkan empat informan penelitian lainnya merupakan non akseptor KB yang tidak menggunakan alat kontrasepsi tetapi pasangan dari informan yang diwawancarai termasuk akseptor KB dengan menggunakan Pil KB. Suntik KB dan Implant. Peran suami dalam menentukan pilihan atau mengambil keputusan untuk keluarga bisa mengikuti program keluarga melalui penggunaan alat kontrasepsi juga sangat diperlukan untuk mengsukseskan program keluarga berencana tersebut. Berbagai macam sitiuasi yang melatarbelakangi informan penelitian untuk menggunakan alat kontrasepsi berupa kondom seperti kesibukan dalam pekerjaan, sudah merasa cukup dengan jumlah anak, masih fokus untuk mengurus anak dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan penelitian, yang mengatakan bahwa suami sebagai promotor sangat mendorong terjadinya pengambilan keputusan dalam keluarga mengenai pemakaian alat kontrasepsi. Peran pria pasangan usia subur dalam menggunakan alat kontrasepsi juga bisa membantu menurunkan angka kelahiran, menjarangkan jarak kelahiran sehingga mengurangi resiko kematian pada anak dan ibu, membatasi jumlah anak, meningkatkan status kesehatan ibu dan anak. Menurut suami dipandang sebagai kepala keluarga, pelindung keluarga, pencari nafkah dan seseorang yang dapat mengambil keputusan dalam keluarga. Dukungan yang diberikan yang diberikan oleh sumai berupa dukungan moral dan material dalam hal mewujudkan program keluarga berencana. Peran pria pasangan usia subur sebagai promotor diwilayah kerja Puskesmas Naioni masih dikatakan rendah. Oleh karena itu peneliti menganjurkan untuk pria pasangan usia subur yang berada di lingkup wilayah kerja Puskesmas Naioni agar dapat ikut berperan aktif dalam mewujudkan program keluarga berencana dengan cara menggunakan alat kontrasepsi. Sebagai promotor program Keluarga Berencana suami diwajibkan mampu memberikan dukungan informasi berupa pengetahuan untuk diri sendirii mengenai pentingnya ikut memakai alat kontrasepsi, suami ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. diharapkan mampu memberikan dukungan penghargaan kepada pasangan yang tidak bisa untuk menggunakan alat kontrasepsi dengan berbagai alasan kesehatan, serta suami diharapkan untuk bisa menyediakan waktu luang bagi istri dan anaknya. Peran Pria Pasangan Usia Subur Sebagai Motivator Motivasi yang diberikan suami kepada pasangan juga dipengaruhi oleh pengetahuan suami tentang program keluarga berencana, manfaat dan tujuan menggunakan alat kontrasepsi, niat untuk membuat keluarga yang lebih sehat dan sejahtera, situasi yang mengharuskan keluarga untuk menggunakan alat kontrasepsi. Hasil wawancara dari informan penelitian menunjukan bahwa informan telah memiliki pengetahuan mendasar atau pengetahuan umum tentang apa yang di maksudkan dengan program keluarga berencana, informan juga sudah mengetahui beberapa jenis alat kontrasepsi yang tersedia seperti kondon, pil, implant dan suntik. Hasil penelitian menunjukan bahwa informan telah mengetahuii manfaat dan tujuan program keluarga berencana seperti membatasi jumlah anak, menjarangkan kehamilan dan lain sebagainya. Niat yang timbul dari peran sebagai motivator bisa diperoleh dari memprioritaskan kebutuhan keluarga, mengjaga kesehatan keluarga, mengijinkan istri untuk menggunakan alat kontarsepsi, dari empat non akseptor KB memberikan istri ijin atau mendukung istri menggunakan alat kontrasepsi berupa Pil KB. Implant dan Suntik KB. Sedangkan kelima akseptor KB lainnya mendukung program keluarga berencana dengan menggunakan alat kontrasepsi berupa kondom. Hasil penelitian, mengatakan bahwa motivasi atau dukungan yang diberikan oleh pria pasangan usia subur sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam pengambilan keputusan keluarga memilih alat kontrasepsi yang sesuai dan cocok Dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh. Dukungan keluarga merupakan salah satu jenis dari dukungan sosial, interaksi timbal balik antara individu atau anggota keluarga dapat menimbulkan hubungan ketergantungan satu sama lain. Dukungan keluarga dapat berupa informasi atau nasehat verbal dan non verbal, bantuan nyata, tindakan yang diberikan menimbulkan perasaan bahwa kehadiran orang lain mempunyai manfaat emosional atau peran pada yang diberikan Peran suami sebagai motivator merupakan dorongan atau dukungan yang diberikan pada anak maupun istri untuk membangkitkan, membangun kualitas, membentuk dan mencapai tujuan hidup yang lebih baik. Kuatnya motivasi yang diterima dalam keluarga dapat meningkatkan daya potensi lebih berkembang. Peran pria pasangan usia subur sebagai motivator di wilayah kerja Puskesmas Naioni sudah terbilang tinggi dengan jumlah total kunjungan di Pelayanan KB sebanyak 1346 kunjungan di tahun 2023. Angka ini sudah termasuk banyak mengingat populasi pasangan usia subur di wilayah kerja Puskesmas Naioni yang tidak banyak. Motivasi yang diberikan oleh pasangan mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan keluarga dalam memilih dan menggunakan alat kontrasepsi. Dukungan yang diberikan oleh pria pasangan usia subur di wilayah Puskesmas Naioni bisa berupa Dukungan Informasional seperti pemberian nasihat, saran, pengertahuan, informasi serta petunjuk. Dukungan Penilaian atau Penghargaan berupa perhatian dan rasa cinta kasih. Dukungan Emosional berupa rasa aman, nyaman, damai dan penguasaan emosi. Dukungan Instrumental berupa memberika makan dan minum serta tempat beristirahat. Peran Pria Pasangan Usia Subur Sebagai Edukator Hasil penelitian menunjukan peran pria pasangan usia subur sebagai edukator merupakan peran untuk memberikan pengetahuan kepada pasangan berupa pentingnya mengikuti memakai alat kontrasepsi, manfaat serta tujuan mengikuti program keluarga berencana. Peran suami sebagai edukator tergolong kedalam peran pria pasif atau Non akseptor KB. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa peran ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. suami sebagai edukator ini dipengaruhi oleh informasi yang mendukung seperti pada pernyataan informan terkait mengetahui program keluarga berencana melalui internet, melalui teman ataupun dari pasangan. Pentingnya mengakses sistem informasi kesehatan juga berpengaruh untuk memberikan wawasan atau pengetahuan kepada pasangan sehingga tidak tertinggal dalam informasi kesehatan. Sistem informasi kesehatan sangat penting untuk menyelenggarakan prorgam keluarga berencana yang efektif dan efisien. Menurut peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2014: Sistem Informasi Kesehatan adalah seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi, indikator, prosedur, perangkat, teknologi, dan sumber daya manusia yang saling berkaitan dan dikelola secara terpadu untuk mengarahkan tindakan atau keputusan yang berguna dalam mendukung pembangunan kesehatan. Sistem informasi kesehatan yang baik akan meningkatan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya mengikuti program keluarga berencana. Suami sebagai edukator juga bisa menentukan pilihan kapan harus menggunakan alat kontrasepsi dan jenis kontrasepsi apa yang cocok buat keluarga, seperti dalam hasil penelitian menunjukan bahwa baik akseptor KB maupun Non akseptor KB ini sudah lama menggunakan alat kontrasepsi berkisar satu tahun keatas. Dalam penelitian, mengatakan bahwa Pengetahuan suami yang kurang baik dalam kesehatan reproduksi khususnya alat kontrasepsi menyebabkan kemampuan suami dalam memberikan edukasi kepada istrinya menjadi kurang. Seringkali tidak adanya keterlibatan suami memberikan edukasi mengakibatkan kurangnya informasi yang dimilki seorang istri mengenai kesehatan reproduksi terutama alat kontrasepsi. Pengetahuan suami tentang kontrasepsi yang kurang disebabkan karena tidak ada informasi yang mendukung mengenai kontrasepsi di lingkungan. Didalam penelitian, mengatakan bahwa peran pria pasangan usai subur sebagai edukator terbilang cukup baik meskipun masih terdapat banyak pria pasangan usia subur yang kurang dalam pemahaman dan pengetahuan tentang manfaat dan tujuan penggunaan alat kontrasepsi. Pengetahuan pria pasangan usia subur di wilayah kerja Puskesmas Naioni sangatlah penting dan diperlukan untuk dapat memberikan edukasi, pengetahuan, informasi serta wawasan bagi pasangan. Pengetahuan yang baik dapat mempengaruhi pola pikir dan pengambilan keputusan dalam menggunakan alat kontrasepsi, dapat membantu pasangan memilih alat kontrasepsi yang aman dan cocok digunakan sesuai dengan keaadan kesehatan pengguna KB. Informasi tentang KB bisa didapat melalui media internet, masyarakat sekitar, petugas kesehatan dan lain sebagainya. Ketersedian sistem informasi kesehatan juga sangat mempengaruhi tingkat peningkatan penggunaan alat kontrasepsi di wilayah kerja Puskesmas Naioni. Peran Pasangan Usia Subur Sebagai Fasilitator Peran pria pasangan usia subur sebagai fasilitator termasuk kedalam peran pasif atau Non akseptor KB. Suami dalam peran ini bertugas memberikan fasilitas kepada pasangan, dalam hasil wawancara dari informan penelitian baik akseptor KB maupun Non akseptor KB didapati hasil bahwa suami mampu memberikan fasilitas bagi istri berupa meluangkan waktu buat keluarga, mempermudah transportasi pasangan untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan, dan menjamin pola makan keluarga yang sehat dan berkecukupan. Dalam penelitian, menunjukkan bahwa peran pria pasangan usia subur sebagai fasilitator dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan program Keluarga Berencana. Pemberian fasilitas dari suami yang memadai dari suami bisa membantu melancarkan saat menggunakan alat kontrasepsi. Faktor yang berhubungan dengan ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. peran suami sebagai fasilitator adalah pekerjaan suami. Karakteristik pekerjaan suami menunjukkan bahwa sebagian besar bekerja sebagai wiraswasta atau pedagang sehingga tergolong dalam kategori menengah keatas. Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik berupa uang maupun barang baik dari pihak lain maupun dari hasil sendiri dengan dinilai sejumlah uang atas harga yang berlaku pada saat itu. Pendapatan keluarga diukur dengan banyaknya akumulasi pendapatan semua anggota keluarga, setelah dikonversi menjadi per bulan, jadi satuannya adalah rupiah per bulan (Rp/bula. Hasil penelitian, mengatakan bahwa Peran lain suami adalah memfasilitasi . ebagai orang yang menyediakan fasilita. , memberi semua kebutuhan istri saat akan memeriksakan masalah kesehatan reproduksinya. Hal ini dapat terlihat saat suami menyediakan waktu untuk mendampingi istri memasang alat kontasepsi atau kontrol, suami bersedia memberikan biaya khusus untuk memasang alat kontrasepsi, dan membantu istri menentukan tempat pelayanan atau tenaga kesehatan yang sesuai. Pria pasangan usia subur yang berperan sebagai fasilitator di wilayah kerja Puskesmas Naioni sebaiknya mampu memberikan fasilitas yang memadai bagi istri agak saat dalam menggunakan alat kontrasepsi bisa merasa aman dan nyaman. Fasilitas yang diberikan tidak hanya berupa materi saja tetapi bisa berupa perhatian, memberikan rasa cinta kasih, rasa percaya, rasa aman dan nyaman saat dirumah, memenuhi kebutuhan dasar dalam keluarga seperti makan, minum serta tempat Makanan yang cukup dapat membantu memenuhi kebutuhan asupan gizi dalam keluarga. Peneliti menganjurkan pria pasangan usia subur yang berperan sebagai fasilitator sebaiknya menyiapkan segala kebutuhan sebelum siap mengikuti program KB agar tidak ada hambatan yang dapat mempengaruhi pasangan dalam memakai alat kontrasepsi ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. SIMPULAN Peran Pria Pasangan Usia Subur sebagai Promotor, yaitu suami berperan aktif dalam menggunakan alat kontrasepsi. Suami sebagai penggerak program keluarga berencana harus aktif dalam menggunakan alat kontasepsi sehingga bisa dikatakan sebagai akseptor KB. Kondom yang merupakan pilihan utama sebagai alat kontasepsi diharapkan mampu untuk mencegah, menjarangkan dan mengatur jumlah anakdan kelahiran sehingga tujuan dan manfaat program keluarga berencana dapat berjalan dengan efektik dan efisiesn. Peran Pria Pasangan Usia Subur sebagai Motivator, yaitu suami yang mampu untuk memberikan dukungan dan motivasi kepada pasangan untuk ikut mengikuti program keluarga berencana. Motivasi atau dukungan bisa berupa dukungan dalam hal pengetahuan, ekonomi, informasi dan dukungan sosial. Sebagai motivator suami diharapkan mampu memberikan penilaian atau penghargaan kepada pasangan berupa waktu dan mampu memprioritaskan keluarga terlebih dulu. Peran Pria Pasangan Usia Subur Sebagai Edukator, yaitu suami memiliki pengetahuan yang baik tentang apa itu program keluarga berencana, macam-macam jenis alat kontrasepsi, dan tujuan serta manfaat menggunakan alat kontrasepsi. Suami sebagai edukator diharapkan mampu memberikan wawasan dan pengetahuan kepada pasangan sehingga dalam keluarga memiliki informasi yang jelas tentang program keluarga Peran Pria Pasangan Usia Subur sebagai Fasilitator, yaitu suami yang diharapkan mampu memberikan fasilitas penunjang untuk keluarga, diantaranya mampu meluangkan waktu, mampu memberikan transportasi untuk mengunjungi fasilitas kesehatan dan memberikan makanan yang sehat, bergizi serta berkecukupan buat keluarga DAFTAR PUSTAKA