76 STUDI EMPIRIS: INTELLECTUAL CAPITAL DAN KINERJA BISNIS HOTEL DAN RESTORAN DI INDONESIA Yuniarti. Arina Azwani sadikin@gmail. IBE Indonesia Pontianak ABSTRACT Since some parts of the world have experienced a tendency to decline in he economic environment from the impact of the Covid-19 pandemic. Companies are again intensifying knowledge and innovation through various means, to increase the value of their companies again so that they can boost the economy back to be more stable. Among the strategies carried out through the development of intellectual capital (IC) which is indeed very important in the world of tourism, besides technology, partnerships, creativity, and the quality of products/services, as well as company finances, which are strongly influenced by the proper use of human Intellectual capital is intangible capital, it is one of the knowledge studied by many researchers because it is important for almost any organization or industry. This study aims to explore the influence of Intellectual Capital (IC) on the performance of the hotel and restaurant business in Indonesia, through Return On Assets (ROA) as an appraiser of business performance. This work will evaluate and compare intellectual capital that is limited in three dimensions including: . human resources. structural capital. the capital used. The research design used the Value Added Intellectual Capital (VAIC) coefficient model by observing financial data from 84 financial statements of hospitality and restaurant companies during 2019-2021. Multiple regression analysis with panel data was used to identify and reveal that IC through the Human Capital Efficiency (HCE). Structural Capital Efficiency (SCE), and Capital Employed Efficiency (CEE) coefficients are related and contribute to the performance of the hospitality and restaurant business in Indonesia. The results of the analysis can confirm the influence of IC on the business performance of hospitality and restaurant companies in Indonesia. And recommends the importance of intellectual capital for sustainable organizational productivity. Keywords: Value Added Intellectual Capital. Human Capital Efficiency. Structural Capital Efficiency. Capital Employed Efficiency. Return On Assets PENDAHULUAN Menjadi industri secara langsung tergantung pada kinerja kegiatan, keterampilan, profesionalisme, kualitas dan daya saing. Oleh karena itu, penting untuk menjawab dengan politik perencanaan yang tepat, yang seharusnya paling mendekati kebutuhan riil sektor ini. Sub sektor perhotelan dan restoran tidak hanya memiliki kebutuhan yang intensif terhadap tenaga kerja tetapi juga memberikan kesempatan kerja untuk berbagai kualifikasi. Perkembangan sosial dan teknologi dalam perekonomian seperti informasi dan teknologi komunikasi, perluasan jejaring sosial, dampak milenial, tingkat informasi dan permintaan konsumen yang lebih tinggi dan perubahan kebutuhan pariwisata, semua ini menghasilkan serangkaian peluang dan tantangan baru yang mengarah pada organisasi yang mencari keunggulan kompetitif dan tingkat keterampilan tinggi dalam modal manusia (Kwon, 2. Di Indonesia, fenomena Intellectual Capital (IC) mulai muncul setelah adanya PSAK No. tentang aset tidak berwujud. Menurut PSAK No 19. Aset tidak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat di identiifikasi dan tidak memiliki wujud fisik, serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif (Wijayani, 2. JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 Dalam menilai kinerja suatu perusahaan diantaranya dengan menilai kemakmuran investor. Informasi IC diperlukan seorang investor dalam menilai kapabilitas suatu perusahaan. IC dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kekayaan mereka di masa depan untuk menjadi lebih baik lagi. Semakin meningkat kekayaan investor menunjukkan semakin makmur suatu perusahan, dan semakin baik kinerja suatu perusahaan. Dan pada Resource Based Theory menunjukkan bahwa IC merupakan sumberdaya yang unik dan mampu menciptakan keunggulan kompetitif suatu perusahaan. yang diterbitkan, yang menggunakan rasio profitabilitas sebagai variabel penjelas dari nilai tambah modal intelektual di beberapa sektor Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa penelitian atau studi tersebut. Tabel 1. Studi Intellectual Capital Penulis Tujuan dan Metode Hasil Laing. Dunn dan HughesLucas . Untuk memeriksa modal intelektual (IC) menambah penyedia layanan dan menyajikan pendekatan untuk menafsirkan hasil penelitian,dengan VAICTM Model Publik. Menyelidiki modal intelektual berdampak pada aspek keuangan kinerja organisasi Analisis dengan Model VAICTM Publik. Menyelidiki hubungan antara intelektual dalam suatu perusahaan dan tiga dimensi kinerja keuangan Ketiga dimensi tersebut adalah produktivitas dan penilaian pasar. Analisis dengan Model VAICTM Publik. Tulisan bertujuan untuk struktur modal intelektual dan terhadap kinerja ekonomi, dengan VAICTM model. VAIC merupakan alat yang kuat untuk menilai intelektual yang efisien. Model sendiri tanpa harus bergantung pada standar TINJAUAN TEORETIS Dalam beberapa periode, penelitian modal intelektual telah menjadi topik yang sangat menarik. Pengelolaan Intellectual Capital (IC) sebagai aset tidak berwujud dianggap berharga karena aset tidak berwujud lebih penting daripada aset berwujud. Untuk organisasi yang kompetitif harus dilakukan pendekatan sistematis dari aset IC. Pulic . 8, 2000, 2003 dan 2. adalah salah satu penulis pertama yang melakukan penelitian pada perspektif IC, dan secara eksplisit fokus pada hubungan antara IC dan kinerja ekonomi, dan yang pertama melakukan analisis hanya pada data keuangan perusahaan. Metode VAICTM digunakan untuk menghitung tingkat efisiensi nilai tambahan, berdasarkan penggunaan aset berwujud dan tidak berwujud Indeks ini merupakan jumlah dari indikator: penggunaan modal manusia yang efisien, efisiensi modal struktural, efisiensi modal relasional, dan efektivitas dalam penggunaan ekuitas dalam penciptaan nilai tambah. Untuk desain model VAICTM, beberapa penulis menemukan cara mengukur ekonomi berbasis pengetahuan yang mampu menunjukkan jumlah nilai yang diciptakan dan seberapa produktif di semua tingkatan aktivitas bisnis, proses bisnis atau ke dalam segmen masyarakat (Flores. Garcya & Adame, 2. Menurut para penulis, argumen utama Pulic . mengacu pada pengetahuan sumber daya manusia yang mengubah dan menggabungkan pengetahuan ke dalam produk dan layanan yang menciptakan nilai. Ada beberapa perspektif untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan, yang dengan suara bulat menekankan bahwa tidak ada ketentuan dalam memastikan indikator yang akan digunakan. Studi empiris biasanya didasarkan pada analisis variabel kinerja untuk mengukur daya saing perusahaan. Studi tentang indikator kinerja dibahas dalam literatur dan sebagian besar diukur oleh hasil keuangan Oleh karena itu, ada sejumlah besar studi Chan . Ghosh dan Mondal Sumedrea Al-Musali dan Ismail JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 Menganalisis intelektual dan dampak IC pada kinerja keuangan. Menggunakan model VAICTM Bahwa tidak ada bukti yang konklusif untuk definitif antara IC dan empat ukuran keuangan Bahwa hubungan antara intelektual perusahaan dan indikator kinerja konvensional meliputi Bahwa VAICTM pengaruh positif yang Dengan model regresi bahwa dalam waktu krisis manusia dan perusahaan, sedangkan ROE dapat dijelaskan lebih baik oleh VAICTM Kinerja IC rendah dan secara positif terkait dengan indikator kinerja keuangan bank. Namun, ketika VAICTM dibagi menjadi komponennya, komponen dan indikator Publik. Bontis. Janoevic dan Denopoljac Soewarno dan Tjahjadi . Tujuan mengkaji apakah derajat IC dan kinerja keuangan profitabilitas, dan Penelitian merupakan studi empiris tentang model VAIC dan model A-VAIC Indonesia. Penelitian regresi berganda kinerja keuangan bank Bahwa mengendalikan ukuran produktivitas karyawan tertentu, profitabilitas manusia dan modal Penelitian ini kinerja keuangan hotel di Serbia sebagian besar tetap dipengaruhi oleh penggunaan modal fisik yang efisien. Secara umum modal mempengaruhi kinerja keuangan, tetapi tidak didukung oleh model VAIC atau model AVAIC, dan hasilnya memberikan wawasan . odal struktural, modal yang . engembalian perputaran aset, rasio harga terhadap buk. Perbaikan lebih lanjut dalam mengukur modal diperlukan di masa Hipotesis Penelitian Penelitian membentuk hipotesis berikut: H1 : Efisiensi modal manusia (HCE) memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kinerja bisnis (ROA) perhotelan dan restoran Indonesia. H2 : Efisiensi modal struktural (SCE) memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kinerja bisnis (ROA) perhotelan dan restoran Indonesia. H3 : Capital employed efficiency (CEE) memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kinerja bisnis (ROA) perhotelan dan restoran Indonesia. H4 : Koefisien modal intelektual nilai tambah (VAIC) memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kinerja bisnis (ROA) perhotelan dan restoran Indonesia. METODE PENELITIAN Kajian menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan sub sektor bisnis perhotelan dan restoran di Indonesia. Informasi laporan keuangan tersebut adalah laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi di Bursa Efek Indonesia (IDX), dikumpulkan dari 28 perusahaan selama tiga tahun, 2019-2021. Analisis data menggunakan perangkat lunak statistik E-Views Untuk menyimpulkan analisis empiris dan hipotesis, peneliti menggunakan uji non-parametrik karena sampel memiliki dimensi yang besar. Pulic . 8, 2. mengembangkan model yang memungkinkan pengukuran modal intelektual bisnis (VAIC) berdasarkan efisiensi tiga komponen: Human Capital Efficiency (HCE), mewakili biaya yang dihasilkan oleh karyawan bisnis. Capital Employed Efficiency (CEE), yang dipahami sebagai modal keuangan. Structural Capital Efficiency (SCE), yang dipahami sebagai perbedaan antara value added (VA) atau nilai tambah dan human capital (CH). Informasi atau pernyataan tersebut diringkas sebagai dasar untuk menghitung komponen koefisien efisiensi IC dan VAIC. Proposisi ini meratifikasi model sebagai alat akuntansi yang membantu dalam mengukur efisiensi dan mengevaluasi potensi penciptaan nilai (Pulic, 2. , yang dijabarkan pada Tabel 2. Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian Data Akuntansi Value Added (VA) Human Capital (HC) Structural Capital (SC) Capital Employed (CE) Variabel Independen Human Capital Efficients (HCE) Structural Capital Efficients (SCE) Capital Employed Efficients (CEE) Variabel Dependen JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 Pendapatan operasional ditambah biaya pekerja . pah, tunjangan dan jaminan sosia. , penyusutan, amortisasi dan provisi biaya yang dihasilkan oleh Laba bruto operasional Modal keuangan perusahaan . rasio antara nilai tambah dan sumber daya manusia. HCE = VA/HC rasio antara modal struktural dan nilai tambah. SCE = SC/VA rasio antara nilai tambah dan modal yang digunakan. CEE = VA/CE Return On Assets (ROA) Pengembalian aset yang diinvestasikan atau profitabilitas terhadap total aset, mencerminkan efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan total aset. ROA = EAT/TA Sumber: C. Acuya-Opazo dan O. Gonzylez, . Chen. Cheng, dan Hwang, . Pulic . Model Empiris Sebelum melakukan analisis regresi maka dilakukan pemilihan model regresi dengan menggunakan uji Chow, uji Hausman, dan uji Lagrange Multiplier, dimana fungsinya untuk memperoleh model regresi data panel yang sebaiknya Bila hasil pengujian Chow dan Hausman memperoleh kesimpulan yang sama, maka pengujian Lagrange tidak perlu dilakukan. Mengacu pada model VAIC konvensional (Pulic, 2. , persamaan regresi dirumuskan sebagai ROAit= 0 1 (HCE)it 2 (SCE)it 3 (CEE)it Ait Dimana, 0 = Intercept dan Coefficients of Slope atau Slope of Line 1,2,3, and A = Error Term Kerangka Hipotesis Penelitian Penulis mencoba menggambarkan pola hubungan antara komponen Value Added Intellectual Capital: HCE. SCE, dan CEE dengan kinerja bisnis, pada kerangka penelitian berikut. HCE HCE Kinerja Bisnis HCE Sumber: Sharabati dan Bontis . Gambar 1. Penyajian Kerangka Penelitian HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Penjelasan statistik deskriptif penelitian terdapat pada tabel 3, dengan menganalisis komponen VAIC dan indikator profitabilitas ROA seperti rata-rata, standar deviasi, nilai minimum dan maksimum untuk N=84 data keuangan perusahaan. Tabel 3. Statistik Deskriptif Penelitian Mean Std. Dev. Jarque-Bera Probability Observations ROA HEC SCE CEE Nilai rata-rata variabel kinerja yang diteliti adalah 0,944286 untuk variabel ROA. Di antara komponen VAIC. HCE memiliki nilai rata-rata tertinggi sebesar 7,285000, yang menunjukkan penciptaan nilai melalui modal manusia suatu perusahaan, yaitu nilai tambah yang diciptakan oleh unit moneter yang dihabiskan per karyawan (Chan. Chang dan Hsieh, 2011. Al-Musali dan Ismail. Soewarno dan Tjahjadi, 2020. Maditinos. Untuk nilai rata-rata terendah ada pada komponen SCE sebesar 0,504643. Indikator ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persentase pengeluaran untuk personel (HC) dalam nilai tambahnya (VA), semakin kecil proporsi modal Pada kenyataannya. SCE mengukur berapa banyak modal yang dapat diciptakan perusahaan melalui unit moneter yang diinvestasikan dalam nilai agregat, yaitu mengukur produktivitas atau efisiensi nilai tambah. Skor deviasi standar tinggi di semua komponen VAIC dan terutama dalam variabel profitabilitas . ,21. , yang menunjukkan bahwa dispersi nilai profitabilitas yang tinggi dalam kaitannya dengan rata-rata, dan mengungkapkan heterogenitas besar dalam indikator-indikator ini di antara entitas yang SCE menyajikan rata-rata dan standar deviasi yang paling rendah . ,499. , merupakan elemen yang selain rata-rata lebih rendah juga menjadi salah satu yang datanya cenderung Hasil ini sejalan dengan hasil studi Rezende dan Silva . Metode Pemilihan Model Selanjutnya dilakukan pengujian dalam memilih model regresi mana yang sebaiknya Pemilihan model menggunakan uji Chow dan uji Hausman, ditunjukkan pada tabel berikut : Tabel 4. Pemilihan Model Dengan Uji Chow Redundant Fixed Effects Tests Pool: PERUSAHAAN Test cross-section fixed effects Effects Test Statistic Cross-section F Cross-section Chi-square 159. Prob. Hasil uji Chow menunjukkan nilai probabilitas dari cross-section F dan cross-section Chi-square 0,000 < 0,05 maka model yang dipilih adalah fixed effect JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 model daripada common effect. Kemudian untuk memilih model regresi dengan uji Hausman ditunjukkan pada tabel berikutnya: Tabel 5. Pemilihan Model Dengan Uji Hausman Correlated Random Effects - Hausman Test Pool: PERUSAHAAN Test cross-section random effects Chi-Sq. Chi-Sq. Test Summary Statistic Cross-section random Prob. Pada uji Hausman menunjukkan nilai probabilitas cross-section random 0,0287 < 0,05 maka model yang dipilih adalah fixed effect model daripada random effect model. Jadi model regresi yang sebaiknya digunakan yaitu fixed effect model yang mengasumsikan bahwa perbedaan antar individu dapat diakomodasikan dari perbedaan intersepnya, dimana setiap individu merupakan parameter yang tidak diketahui (Basuki dan Prawoto, 2. Pengujian pemilihan model regresi data panel dengan menggunakan kedua uji tersebut memperlihatkan hasil yang sama, sehingga uji Lagrange tidak perlu Analisis Regresi Data Panel Tabel 6 merangkum hasil regresi linier untuk data panel, dimana return on asset (ROA) ditampilkan sebagai variabel yang signifikan secara statistik untuk indikator kinerja perusahaan perhotelan dan restoran, dan koefisien efisiensi dengan komponennya HCE. SCE, dan CEE. Tabel 6. Hasil Regresi Data Panel Dependent Variable: ROA? Method: Pooled Least Squares Date: 10/04/22 Time: 10:58 Sample: 2019 2021 Included observations: 3 Cross-sections included: 28 Total pool . observations: 84 Variable HEC? SCE? CEE? Coefficient Fixed Effects (Cros. BAYUAiC BUVAAiC EASTAiC ENAKAiC FASTAiC FITTAiC HOMEAiC HRMEAiC ICONAiC INPPAiC JGLEAiC JIHDAiC JSPTAiC KPIGAiC MAMIAiC Std. Error t-Statistic Prob. MAPBAiC NASAAiC PANRAiC PDESAiC PGLIAiC PJaiC PNSEAiC POLIAiC PSKTAiC PTSPAiC PUDPAiC SHIDAiC SNLKAiC Effects Specification Cross-section fixed . ummy variable. R-squared Adjusted Rsquared F-statistic Mean dependent var dependent var Durbin-Watson stat Prob(F-statisti. Tabel regresi menunjukkan HCE dan CEE memiliki hubungan negatif dan tidak signifikan dengan ROA, dan ini bertentangan dengan hipotesis pertama dan ketiga. Bahwa entitas yang dianalisis sementara in-efisiensi dalam pengelolaan modal keuangan dalam pengembangan modal manusia yang terlalu tinggi. HCE mengungkapkan kemampuan pendapatan operasional entitas masih lemah untuk mendukung kepentingan modal manusia (Soewarno Tjahjadi. CEE mengungkapkan hubungan yang lebih besar dari modal keuangan yang disiapkan entitas tidak sebanding dengan nilai tambah yang diharapkan, sehingga dapat dijelaskan bahwa CEE berdampak negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja bisnis perusahaan (Castro. Ramyrez, dan Escobar. Pada komponen SCE mengarah pada konfirmasi hipotesis kedua. Bahwa efisiensi modal struktural menghadirkan hubungan positif dengan profitabilitas, yang menjelaskan adanya pengaruh peningkatan laba kotor operasional entitas pada nilai tambah yang Hasil ini sejalan dengan Soewarno dan Tjahjadi . dan (Zeglat & Zigan, 2. , yang menyimpulkan bahwa efisiensi modal struktural (SCE) secara positif dan signifikan terkait dengan kinerja perusahaan (ROA). Tabel juga mendata secara rinci entitas yang menunjukkan hubungan positif terhadap kinerja perusahaan sejumlah sembilan . perusahaan, dan entitas yang memiliki hubungan negatif dengan kinerja perusahaan . Pengujian statistik F . ,41226 dengan probabilitas 0,00. juga menjelaskan hubungan VAIC atau komponen HCE. SCE, dan CEE secara serempak mengkonfirmasi hipotesis keempat, yaitu adanya hubungan positif signifikan terhadap ROA. Merupakan indikator yang dikaitkan dengan tingkat nilai tambah modal intelektual yang tinggi, dimana JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 dari model regresi berganda menunjukkan pengaruhnya terhadap kinerja keuangan perusahaan (Ghosh dan Mondal, 2009 di sektor perangkat lunak dan farmasi India. Sumedrea, 2013 di non-keuangan perusahaan yang terdaftar di Bucharest Stock Exchange. Khairiyansyah dan Vebtasvili, 2018 di perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. dan (Wijayani, 2. pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesi. Dan dari . ,875. membuktikan keeratan hubungan komponenkomponen penggunaan efisiensi modal tersebut dengan kinerja perusahaan, menunjukkan kekuatan penjelasan yang sangat tinggi dari varian profitabilitas aset . ekitar 87,54%). Acuya-Opazo. , & Gonzylez. The impacts of intellectual capital on financial performance and value-added of the production evidence from Chile. Journal Economics. Finance and Administrative Science, 26 . SIMPULAN DAN SARAN Bontis. Janoevi. , & Denopoljac. Intellectual capital SerbiaAos el industry. International Journal of Contemporary Hospitality Management, 27 . , 1365-1384. HCE dan CEE bertentangan dengan hipotesis. Bahwa entitas yang dianalisis sementara in-efisiensi pengembangan modal manusia terlalu tinggi. Kemampuan pendapatan operasional entitas masih lemah untuk mendukung kepentingan modal manusia, dan selanjutnya modal keuangan yang disiapkan entitas tidak sebanding dengan nilai tambah yang diharapkan. SCE mengkonfirmasi hipotesis kedua. Bahwa efisiensi modal struktural menjelaskan adanya pengaruh peningkatan laba kotor operasional entitas pada nilai tambah yang diharapkan sehingga meningkatkan kinerja perusahaan. Pengujian statistik uji-F juga menjelaskan hubungan VAIC atau komponen HCE. SCE, dan CEE secara serempak mengkonfirmasi hipotesis Merupakan indikator yang dikaitkan dengan tingkat nilai tambah modal intelektual yang tinggi, dimana dari model regresi berganda menunjukkan pengaruhnya terhadap kinerja keuangan perusahaan. Penerapan model VAIC memberikan dasar aplikasi untuk menilai kinerja perusahaan tanpa tergantung standar industri (Laing. Dunn, dan Hughes L, 2. Upaya untuk memahami hubungan modal intelektual dan profitabilitas perusahaan khusus sub sektor perhotelan dan restoran di Indonesia, dapat diperluas pada sektor pariwisata, sehingga memberikan rekomendasi pentingnya modal DAFTAR PUSTAKA