Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume. 3 Nomor. 4 Agustus 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Ibadah Haji dan Kurban Kelas V SDN Bangbayang Cisolok Sukabumi Cacang1*. Siti Qomariyah2. Hasbullah Karim Al Fauzi3. Ridwan Hermawan4 1-4 Institut Madani Nusantara. Indonesia Alamat: Jl. Lio Balandongan 74 Citamiyang Kota Sukabumi. Jawa Barat. Indonesia Korespondensi penulis: cacanghungkul@gmail. Abstract. The low level of studentsAo understanding of Islamic practices and values in daily life remains a significant challenge in the teaching of Islamic Religious Education (IRE) at the elementary school level. The teaching of IRE on the topic AuHajj and QurbanAy in Grade V at SDN Bangbayang. Cisolok District, plays a strategic role in shaping Islamic character and instilling noble moral values in students. This study aims to critically examine the learning objectives, teaching materials, instructional methods, evaluation system, references, and teaching resources used in the learning process. The research employed a qualitative approach with data collected through classroom observation, interviews with teachers and students, and an analysis of instructional documents. The findings reveal that, in general, the teaching of IRE in Grade V has been implemented in accordance with the objectives and curriculum standards. Teachers have designed teaching modules based on the basic competencies and learning goals outlined in the curriculum. However, several aspects still require further development. Among these are the limited relevance of the learning materials to studentsAo everyday experiences, the lack of integration of technology-based media, and an evaluation process that places greater emphasis on cognitive aspects while paying less attention to affective and psychomotor domains. This situation indicates that while the learning process is carried out in line with procedural standards, studentsAo comprehension of Islamic values in practical and contextual terms remains insufficient. Therefore, strengthening the understanding of Islamic teachings in real-life contexts is essential so that students not only acquire theoretical knowledge but are also able to internalize and practice Islamic values in their daily lives. The teaching module currently used is adequate, yet further development is needed to make learning more practical, contextual, and impactful in fostering a strong Islamic character among students. Keywords: Islamic Religious Education. Hajj and Qurban. Learning Process. Character Building. Curriculum Development. Abstrak. Masih rendahnya pemahaman peserta didik terhadap praktik ibadah dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dasar. Pembelajaran PAI pada materi AuIbadah Haji dan KurbanAy di kelas V SDN Bangbayang Kecamatan Cisolok memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian Islam serta menanamkan nilai-nilai akhlak mulia kepada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian kritis terhadap tujuan pembelajaran, materi yang diajarkan, metode yang digunakan, evaluasi pembelajaran, referensi pendukung, serta bahan ajar yang dipakai dalam proses belajar mengajar. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi kegiatan pembelajaran di kelas, wawancara dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen pembelajaran yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pembelajaran PAI di kelas V telah sesuai dengan tujuan dan kurikulum yang berlaku. Guru telah menyusun modul ajar berdasarkan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang ditetapkan dalam kurikulum. Namun demikian, terdapat beberapa aspek yang masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Di antaranya adalah kurangnya relevansi materi dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa, pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi yang masih terbatas, serta penilaian yang lebih menekankan aspek kognitif dibandingkan dengan penilaian afektif dan psikomotorik. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pelaksanaan pembelajaran sudah berjalan sesuai prosedur, pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai Islam dalam konteks praktis masih kurang optimal. Dengan demikian, penguatan pemahaman terhadap ajaran Islam dalam konteks kehidupan nyata sangat diperlukan agar peserta didik tidak hanya mengetahui secara teoritis, tetapi juga mampu menginternalisasi dan mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Modul ajar yang digunakan sudah cukup memadai, namun pengembangan yang lebih implementatif perlu dilakukan agar pembelajaran lebih bermakna, kontekstual, serta berdampak positif terhadap pembentukan kepribadian Islam yang kuat pada diri peserta didik. Kata kunci: Pendidikan Agama Islam. Haji dan Kurban. Proses Pembelajaran. Pembentukan Karakter. Pengembangan Kurikulum. Received: Juli 14, 2025. Revised: Juli 28, 2025. Accepted: Agustus 18, 2025. Published: Agustus 20, 2025 Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Ibadah Haji dan Kurban Kelas V SDN Bangbayang Cisolok Sukabumi LATAR BELAKANG Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat sekolah dasar memiliki peranan penting dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik sejak usia dini. Dalam konteks ini, penguatan nilai-nilai spiritual melalui pembelajaran materi ibadah, seperti haji dan kurban, menjadi sangat relevan dalam menanamkan pemahaman keagamaan yang utuh dan aplikatif. Proses internalisasi ajaran Islam yang dilakukan sejak jenjang dasar bertujuan agar peserta didik tidak hanya memahami secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Yusuf, 2. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemahaman peserta didik terhadap praktik ibadah, khususnya haji dan kurban, masih bersifat dangkal dan seremonial. Banyak peserta didik hanya mengenal praktik ini secara tekstual, tanpa menyadari makna filosofis, spiritual, dan sosial yang terkandung di dalamnya. Hal ini menandakan masih rendahnya efektivitas pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi ibadah secara komprehensif dan kontekstual (Nurhayati, 2. Pembelajaran PAI akan lebih efektif apabila menggunakan pendekatan tematik, kontekstual, serta berbasis pengalaman . xperiential learnin. Sayangnya, sebagian besar pembelajaran PAI masih menggunakan metode ceramah dan hafalan, yang kurang mampu membangkitkan semangat religius dan penghayatan peserta didik terhadap nilai-nilai Penelitian oleh Sari & Hidayat . mengungkap bahwa pendekatan kontekstual mampu meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam materi keagamaan, karena mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata. Materi haji dan kurban dalam PAI kelas V SD, apabila disampaikan dengan tepat, dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter mulia, seperti kesabaran, pengorbanan, solidaritas sosial, dan kepatuhan kepada perintah Allah SWT. Nilai-nilai ini sangat penting dalam menanamkan pondasi akhlak mulia bagi generasi muda. Penanaman karakter melalui pendidikan agama sejalan dengan tujuan Kurikulum Merdeka, yang menekankan pada pembentukan profil pelajar Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia (Kemendikbudristek, 2. Di SDN Bangbayang. Kecamatan Cisolok, pembelajaran materi haji dan kurban menjadi bagian penting dari kurikulum PAI kelas V. Namun, berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru, ditemukan bahwa pembelajaran belum sepenuhnya melibatkan metode yang inovatif dan media pembelajaran yang mendukung visualisasi praktik ibadah. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Padahal, pemanfaatan media pembelajaran interaktif sangat efektif dalam menyampaikan materi yang bersifat simbolik dan ritual, seperti praktik manasik haji (Afifah & Mustari, 2. Selain metode dan media, komponen evaluasi juga perlu mendapat perhatian serius. Selama ini, evaluasi dalam pembelajaran PAI lebih banyak menekankan aspek kognitif, sementara aspek afektif dan psikomotorik kurang diukur secara sistematis. Padahal, untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh, ketiga ranah tersebut harus berjalan seimbang. Menurut penelitian oleh Munir . , penguatan evaluasi afektif sangat diperlukan agar pembelajaran PAI berdampak pada perubahan sikap dan perilaku peserta didik, bukan sekadar peningkatan pengetahuan. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji secara mendalam proses pembelajaran materi ibadah haji dan kurban di kelas V SDN Bangbayang. Fokus penelitian meliputi tujuan pembelajaran, isi materi, metode pengajaran, media yang digunakan, teknik evaluasi, serta bahan ajar. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran utuh tentang efektivitas pembelajaran PAI serta memberikan rekomendasi pengembangan modul ajar yang lebih aplikatif, kontekstual, dan berdampak pada pemahaman dan pengamalan ajaran Islam oleh peserta didik. KAJIAN TEORITIS Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran inti di tingkat Sekolah Dasar (SD) yang bertujuan tidak hanya untuk mentransfer pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian religius siswa sejak usia dini. Dalam struktur Kurikulum 2013. PAI diarahkan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya beriman dan bertakwa, tetapi juga berakhlak mulia, mencintai ilmu, serta memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Salah satu materi penting dalam PAI kelas V adalah pembelajaran tentang ibadah haji dan kurban. Materi ini memiliki posisi strategis karena merupakan bagian dari rukun Islam dan praktik ibadah yang sarat dengan nilai spiritual dan sosial. Ibadah haji mengajarkan ketaatan total kepada Allah dan semangat persatuan umat, sementara kurban menanamkan nilai pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, pemahaman siswa terhadap kedua ibadah ini menjadi indikator penting dalam keberhasilan pembelajaran agama di tingkat dasar (Nata, 2. Dalam proses pembelajaran, bahan ajar memiliki peran fundamental sebagai panduan dan sumber belajar yang digunakan guru dan siswa. Menurut Prastowo . , bahan ajar Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Ibadah Haji dan Kurban Kelas V SDN Bangbayang Cisolok Sukabumi merupakan seperangkat materi pembelajaran yang disusun secara sistematis dan logis, dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik dan tujuan pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran haji dan kurban, bahan ajar seharusnya tidak hanya memuat informasi konseptual, seperti definisi, rukun, dan syarat, tetapi juga menyertakan aspek historis, prosedural, serta hikmah pelaksanaan ibadah tersebut. Penyajian bahan ajar yang holistik akan membantu siswa memahami bahwa ibadah bukan hanya aktivitas ritual, melainkan juga bentuk pengabdian spiritual yang berdampak sosial. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan integrasi antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Materi haji dan kurban secara substansial memuat nilai-nilai keimanan, keikhlasan, kesabaran, ketaatan, serta solidaritas sosial. Agar nilai-nilai ini dapat dipahami dan diinternalisasi dengan baik oleh peserta didik, maka penyusunan bahan ajar harus bersifat kontekstual dan aplikatif. Misalnya, penyajian materi haji dapat disertai ilustrasi visual, video manasik, dan simulasi pelaksanaan ibadah secara simbolik. Sementara materi kurban dapat diintegrasikan dengan kegiatan praktik penyembelihan hewan kurban secara langsung di sekolah atau melalui dokumentasi kegiatan kurban di masyarakat. Dengan pendekatan ini, peserta didik akan lebih mudah mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan . dalam buku panduan guru menyarankan agar guru memanfaatkan pendekatan tematik integratif dan metode aktif dalam menyampaikan materi agama. Namun dalam praktiknya, tidak semua bahan ajar mampu menjawab kebutuhan kontekstual peserta didik. Studi kritis terhadap bahan ajar menjadi penting untuk menilai sejauh mana materi yang disampaikan sesuai dengan realitas sosial, budaya, dan geografis peserta Sebagai contoh, siswa di SDN Bangbayang Kecamatan Cisolok yang berada di lingkungan pedesaan mungkin belum memiliki pengalaman langsung tentang pelaksanaan ibadah haji. Dalam hal ini, penyampaian materi haji melalui media visual dan praktik manasik di sekolah menjadi penting untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan realitas. Selain itu, pendekatan yang digunakan guru dalam menyampaikan materi juga harus mempertimbangkan tingkat pemahaman, pengalaman religius keluarga, dan kesiapan mental siswa untuk menerima nilai-nilai spiritual (Zaini, 2. Dalam wacana pendidikan Islam modern, terdapat penekanan kuat pada pentingnya internalisasi nilai-nilai agama ke dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran haji dan kurban idealnya tidak hanya fokus pada aspek hafalan atau pengetahuan teoritis, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai moral. Guru dapat menggunakan kisah keteladanan Nabi Ibrahim dan JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Ismail sebagai alat pembentukan karakter. Nilai-nilai seperti kesabaran, ketaatan, keberanian, dan ketulusan dalam berkurban bisa menjadi bahan refleksi bersama peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran agama di sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk pondasi karakter mulia yang akan melekat hingga masa dewasa (Asrori, 2. Namun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran materi haji dan kurban masih menghadapi tantangan. Banyak sekolah yang masih menggunakan pendekatan konvensional seperti ceramah dan hafalan, tanpa disertai pendekatan praktik yang nyata. Hal ini berdampak pada minimnya pemahaman prosedural siswa terhadap pelaksanaan ibadah. Selain itu, keterbatasan fasilitas, minimnya media visual, dan kurangnya pelatihan guru dalam penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi turut menjadi Oleh karena itu, inovasi dalam pengembangan bahan ajar seperti modul berbasis aktivitas, video pembelajaran, dan simulasi manasik perlu dikembangkan secara berkelanjutan (Rahman, 2. Kondisi tersebut mengisyaratkan pentingnya evaluasi terhadap kelayakan bahan ajar yang digunakan di SDN Bangbayang. Evaluasi dapat dilakukan dengan meninjau kecocokan antara materi ajar dengan kurikulum nasional, relevansi isi dengan karakteristik siswa kelas V, dan kebermanfaatan media pembelajaran yang digunakan. Evaluasi juga perlu melibatkan guru, siswa, dan kepala sekolah untuk memperoleh pandangan holistik terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Hasil evaluasi ini dapat menjadi dasar untuk merancang perbaikan bahan ajar yang lebih kontekstual, menarik, dan efektif dalam meningkatkan pemahaman serta penghayatan siswa terhadap makna ibadah (Mulyasa, 2. Secara keseluruhan, kajian teoritis ini menegaskan bahwa bahan ajar PAI tentang ibadah haji dan kurban bukan sekadar sarana transfer pengetahuan, tetapi harus menjadi alat untuk transformasi nilai. Oleh karena itu, penyusunan bahan ajar perlu mempertimbangkan integrasi antara pendekatan pedagogis yang tepat, penyesuaian dengan karakteristik peserta didik, dan pemanfaatan teknologi serta media pembelajaran. Pengembangan bahan ajar yang bermutu akan menjadi kunci dalam menciptakan pembelajaran agama yang menyenangkan, bermakna, dan mampu menanamkan nilai-nilai Islami yang kokoh sejak usia dini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam makna, alur, dan konteks penggunaan bahan ajar Pendidikan Agama Islam, materi Ibadah Haji dan Kurban di kelas V SDN Bangbayang. Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Ibadah Haji dan Kurban Kelas V SDN Bangbayang Cisolok Sukabumi Kecamatan Cisolok. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami realitas subyek para guru dan siswa, serta fenomena yang berlangsung secara alami tanpa adanya manipulasi atau intervensi eksperimental (Creswell & Poth, 2. Teknik pengumpulan data mencakup observasi langsung, wawancara semi-terstruktur dengan guru dan siswa, serta kajian terhadap dokumen seperti RPP, silabus, dan bahan ajar, sehingga mampu menghadirkan informasi yang menyeluruh dan kontekstual. Analisis data dalam penelitian ini mengikuti kerangka dari Miles dan Huberman, yang kesimpulan/verifikasi. Setelah data dikumpulkan, dilakukan proses penyaringan dan pengelompokan berdasarkan tema-tema yang relevan guna menyederhanakan serta memfokuskan informasi (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Data yang telah dipilah kemudian disajikan secara naratif dan dalam bentuk tabel guna mengidentifikasi pola dan hubungan antarvariabel. Kesimpulan diperoleh melalui pengamatan terhadap pola-pola yang muncul dan diverifikasi dengan membandingkan berbagai sumber data serta menerapkan teknik triangulasi untuk menjamin keabsahannya. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menerapkan uji kredibilitas melalui triangulasi dan penggunaan referensi yang relevan. Teknik triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan data dari berbagai sumber . eperti guru, siswa, dan dokume. , serta menggunakan berbagai metode pengumpulan data . bservasi, wawancara, dan dokumentas. guna menguji konsistensi temuan (Moleong, 2. Keandalan dan validitas data diperkuat dengan uji keabsahan data sebagai berikut: transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Transferabilitas diwujudkan dengan memberikan deskripsi kontekstual secara rinci mengenai latar belakang penelitian. Dependabilitas atau auditabilitas dijamin melalui audit atau diperiksa document yang sistematis terhadap seluruh proses penelitian ini oleh dosen pembimbing. Adapun konfirmabilitas bertujuan agar hasil analisis tetap netral dan berbasis data lapangan, bukan hasil interpretasi subjektif peneliti. Teknik-teknik ini penting untuk menjamin bahwa hasil penelitian dapat ditelusuri dan diyakini kebenarannya (Lincoln & Guba, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan pemahaman keagamaan peserta didik sejak usia dini. Salah satu materi penting yang diajarkan di kelas V adalah Ibadah Haji dan Kurban, yang tidak JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. hanya mengajarkan aspek ritual, tetapi juga nilai-nilai luhur seperti ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Namun demikian, efektivitas penyampaian materi tersebut sangat bergantung pada kualitas bahan ajar yang digunakan. Studi kritis terhadap bahan ajar ini menjadi penting untuk mengevaluasi sejauh mana isi, pendekatan, dan metode penyampaiannya telah sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik serta mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Penelitian ini dilakukan di SDN Bangbayang. Kecamatan Cisolok, untuk menelaah secara mendalam kekuatan dan kelemahan bahan ajar PAI pada topik Ibadah Haji dan Kurban, sekaligus memberikan rekomendasi perbaikan demi peningkatan mutu pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Namun, dalam melihat tujuan pembelajaran ini, terdapat beberapa aspek yang dapat dianalisis secara kritis, baik dari sisi kesesuaian, kekurangan, maupun rekomendasi Berdasarkan tujuan penelitian pada makalah ini, maka hasil penelitian diuraikan sebagai berikut: Studi Kritis Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Materi Ibadah Haji dan Kurban Menurut Dr. Qomariyah tujuan umum Pendidikan Islam adalah membentuk peserta didik berkepribadian Islam, yaitu peserta didik yang bertingkah laku sesuai ajaran Islam. Upaya membentuk peserta didik berkepribadian Islam berarti membentuk peserta didik yang hanya menyembah dan mengabdikan dirinya kepada Allah, menyelesaikan segala permasalahan sesuai perintah Allah dan RasulNya. Artinya menyelesaikan seluruh problematika kehidupannya diselesaikan dengan hukum Islam dan senantiasa tingkahlakunya mengikuti Al Qur,an Hadis (Qomariyah, 2. Tujuan pembelajaran dalam materi Ibadah Haji dan Kurban pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas V secara umum telah sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam ajaran Islam. Materi ini berupaya menanamkan pemahaman siswa mengenai makna spiritual dari ibadah, seperti ketaatan kepada Allah, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tujuan-tujuan tersebut telah menyentuh tiga ranah utama pembelajaran yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yaitu peserta didik mempunyai pengetahuan Islam dan mengamalkannya. Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Ibadah Haji dan Kurban Kelas V SDN Bangbayang Cisolok Sukabumi Adapun secara substansi, penyusunan tujuan pembelajaran dalam materi Ibadah Haji dan Kurban pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas V sudah mengarah pada pembelajaran yang holistik, sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai keagamaan. Meski demikian, jika ditelaah secara lebih kritis, terdapat kekurangan dalam aspek perumusan tujuan yang belum sepenuhnya spesifik dan terukur. Sebagian besar tujuan pembelajaran dirumuskan dengan kata kerja umum seperti AumemahamiAy. AumengetahuiAy, atau Aumenunjukkan sikapAy, tanpa disertai indikator yang konkrit. Hal ini menyulitkan guru dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran karena tidak ada ukuran yang jelas untuk mengevaluasi ketercapaian tujuan tersebut. Selain itu, perumusan yang bersifat umum juga berisiko membuat kegiatan pembelajaran menjadi tidak fokus dan sulit diarahkan ke pencapaian yang terukur. Kekurangan lainnya terletak pada kurangnya integrasi konteks kehidupan siswa dalam tujuan pembelajaran. Idealnya, tujuan tidak hanya menekankan penguasaan materi ajar, tetapi juga mengaitkan nilai-nilai ibadah haji dan kurban dengan pengalaman nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, bagaimana semangat berbagi dari kurban bisa diterapkan di lingkungan rumah atau sekolah. Tanpa kaitan kontekstual ini, siswa cenderung memahami ibadah sebagai aktivitas ritual semata, bukan sebagai sarana internalisasi nilai-nilai moral dalam kehidupan. Untuk meningkatkan kualitas tujuan pembelajaran, disarankan agar perumusannya menggunakan prinsip SMART (Specific. Measurable. Achievable. Relevant. Time-boun. Misalnya, alih-alih hanya menulis Ausiswa memahami pengertian haji dan kurbanAy, tujuan dapat dirinci menjadi Ausiswa dapat menjelaskan lima rukun haji secara berurutan dengan benar setelah mengikuti pembelajaran selama 60 menitAy. Selain itu, guru perlu memasukkan unsur kontekstual dalam tujuan, seperti Ausiswa mampu memberikan contoh sikap pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan nilai ibadah kurbanAy. Dengan perumusan yang lebih terarah dan terukur, guru dapat lebih mudah mengevaluasi ketercapaian pembelajaran dan siswa pun dapat mengaitkan pelajaran dengan realitas kehidupan mereka. Studi Kritis Materi Pembelajaran Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Materi Ibadah Haji dan Kurban Materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tentang Ibadah Haji dan Kurban yang diajarkan pada jenjang kelas V sekolah dasar secara umum telah sesuai dengan kompetensi dasar yang ditetapkan dalam kurikulum. Materi tersebut memuat penjelasan JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. mengenai definisi, rukun, dan hikmah dari pelaksanaan ibadah haji dan kurban, serta dikaitkan dengan dalil-dalil dari Al-QurAoan dan hadis. Kesesuaian ini menunjukkan bahwa konten pembelajaran telah mengacu pada sumber ajaran Islam yang otentik dan relevan dengan capaian pembelajaran yang diharapkan. Selain itu, penyampaian materi dalam bentuk narasi yang sederhana dan bahasa yang komunikatif menjadikan materi dapat diakses dengan baik oleh peserta didik di tingkat dasar. Namun demikian, terdapat sejumlah kekurangan yang patut diperhatikan secara kritis. Salah satu di antaranya adalah minimnya kedalaman dan konteks dalam penyajian materi. Sebagian besar materi hanya bersifat deskriptif dan kurang menekankan pada pemahaman kontekstual serta internalisasi nilai-nilai ibadah dalam kehidupan sehari-hari siswa. Materi tentang kurban, misalnya, jarang dikaitkan secara eksplisit dengan praktik berbagi dan kepedulian sosial di lingkungan sekitar siswa. Ketiadaan penguatan nilai-nilai aplikatif tersebut dapat menyebabkan siswa hanya memahami ibadah sebagai kegiatan ritual, bukan sebagai bagian dari pembentukan karakter. Sebagaimana dijelaskan oleh Zuhairini . , pendidikan agama harus mampu mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik agar pembelajaran tidak berhenti pada tataran teoritis semata. Untuk memperbaiki hal tersebut, materi pembelajaran perlu dikembangkan dengan menambahkan elemen-elemen yang lebih kontekstual dan mendorong refleksi nilai. Guru dapat mengintegrasikan cerita inspiratif, studi kasus sederhana, atau proyek sosial kecil yang berkaitan dengan pelaksanaan kurban atau semangat berhaji. Pendekatan ini akan membantu siswa mengaitkan ajaran agama dengan pengalaman nyata dalam kehidupan mereka. Selain itu, penyajian materi sebaiknya memperhatikan keberagaman gaya belajar peserta didik melalui penggunaan media visual, audio, dan aktivitas praktik, sehingga pemahaman terhadap makna ibadah menjadi lebih mendalam dan berkesan. Studi Kritis Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Ibadah Haji dan Kurban Metode pembelajaran yang digunakan dalam penyampaian materi Pendidikan Agama Islam (PAI) khususnya tentang Ibadah Haji dan Kurban pada jenjang sekolah dasar umumnya telah mengacu pada pendekatan pembelajaran aktif dan berpusat pada siswa. Penggunaan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi kelompok dinilai relevan untuk membangun pemahaman dasar siswa terhadap konsep ibadah haji dan kurban, serta untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan. Metode-metode tersebut juga sesuai dengan karakteristik peserta didik di tingkat dasar yang masih membutuhkan bimbingan dan arahan guru dalam mengeksplorasi makna ibadah secara bertahap. Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Ibadah Haji dan Kurban Kelas V SDN Bangbayang Cisolok Sukabumi Namun demikian, terdapat kekurangan dalam pelaksanaan metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan kurang variatif. Dalam praktiknya, metode ceramah seringkali mendominasi tanpa diimbangi dengan pendekatan praktik atau pengalaman langsung yang dapat membantu siswa memahami makna ibadah secara lebih konkret. Akibatnya, siswa hanya memperoleh informasi secara verbal tanpa merasakan pengalaman afektif maupun psikomotorik yang dapat memperkuat nilai ibadah haji dan kurban dalam kehidupan nyata. Menurut Hamalik . , metode pembelajaran yang hanya bersifat satu arah cenderung membuat siswa pasif dan menghambat proses internalisasi nilai-nilai spiritual yang seharusnya menjadi tujuan utama dalam pendidikan agama. Oleh karena itu, disarankan agar metode pembelajaran dalam materi ini dikembangkan dengan pendekatan yang lebih interaktif dan kontekstual, seperti role play, simulasi manasik haji, dan proyek kelas seperti kegiatan berbagi dalam rangka meneladani makna kurban. Selain itu, guru dapat memanfaatkan teknologi pembelajaran seperti video animasi atau media digital interaktif untuk menarik minat siswa dan memperkuat pemahaman. Penggunaan metode yang bervariasi tidak hanya meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi juga mampu menjadikan pengalaman belajar lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Studi Kritis Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Ibadah Haji dan Kurban Evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada materi Ibadah Haji dan Kurban di tingkat sekolah dasar, secara umum telah mengacu pada aspek kognitif yang mengukur pemahaman siswa terhadap konsep dan tata cara pelaksanaan kedua ibadah tersebut. Instrumen evaluasi seperti soal pilihan ganda, isian singkat, dan uraian telah digunakan untuk menilai sejauh mana siswa mampu mengingat dan menjelaskan makna serta rukun ibadah haji dan kurban. Kesesuaian ini terlihat dari adanya korelasi antara tujuan pembelajaran dan indikator evaluasi, di mana siswa diharapkan mampu memahami ibadah sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah SWT dan meneladani ajaran Nabi Ibrahim AS. Meskipun demikian, terdapat kelemahan dalam cakupan evaluasi yang cenderung hanya menitikberatkan pada ranah kognitif, sementara ranah afektif dan psikomotorik belum diakomodasi secara maksimal. Evaluasi tidak sepenuhnya mencerminkan internalisasi nilainilai keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Padahal, pendidikan agama seharusnya tidak hanya mengajarkan aspek pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan sikap dan perilaku religius. Seperti ditegaskan oleh Bloom . , evaluasi pembelajaran seharusnya menyentuh ketiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotorikAiagar hasil pembelajaran menjadi utuh dan bermakna. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Kelemahan lainnya adalah minimnya penggunaan teknik evaluasi alternatif yang mampu memberikan gambaran autentik tentang capaian pembelajaran siswa. Misalnya, belum ada penggunaan portofolio, penilaian proyek, atau observasi langsung yang dapat menilai bagaimana siswa menerapkan nilai ibadah haji dan kurban dalam konteks sosial. Hal ini menjadikan evaluasi pembelajaran terkesan mekanistik dan kurang mencerminkan keterlibatan emosional maupun spiritual siswa terhadap materi yang diajarkan. Padahal menurut Mardapi . , evaluasi yang baik harus mampu menggambarkan proses serta hasil belajar secara menyeluruh dan berimbang. Untuk mengatasi hal tersebut, disarankan agar guru melakukan inovasi dalam teknik evaluasi, seperti menerapkan penilaian praktik manasik haji, simulasi penyembelihan hewan kurban secara edukatif, serta refleksi tertulis mengenai makna kurban dan pengorbanan dalam kehidupan siswa. Selain itu, pelibatan orang tua dan komunitas sekolah dalam evaluasi berbasis nilai dapat memperkuat dimensi afektif siswa. Dengan demikian, evaluasi pembelajaran tidak hanya menjadi alat ukur prestasi akademik, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter religius dan sosial siswa secara berkelanjutan. Studi Kritis Sumber Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Materi Ibadah Haji dan Kurban Sumber pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada materi Ibadah Haji dan Kurban umumnya merujuk pada buku teks pelajaran resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Al-Qur'an, hadis, serta beberapa buku penunjang. Dari sisi kesesuaian, sumbersumber ini sudah mencakup aspek normatif dan praktis dari kedua ibadah, seperti tata cara pelaksanaan, syarat, rukun, serta hikmah dari haji dan kurban. Misalnya, penjelasan mengenai rukun haji dalam QS. Al-Baqarah . : 196 maupun hadis tentang keutamaan berkurban telah dimuat secara memadai. Bahkan, beberapa buku teks juga telah mencantumkan ilustrasi visual untuk mempermudah pemahaman siswa, sehingga memudahkan dalam proses pembelajaran yang bersifat konseptual dan aplikatif. Namun, kekurangan masih ditemukan terutama dalam kedalaman materi serta variasi sumber yang digunakan. Buku ajar seringkali hanya menyajikan pengetahuan dasar tanpa penekanan pada dimensi spiritual, historis, dan filosofis yang lebih luas. Misalnya, penjabaran tentang makna simbolik dari thawaf, saAoi, atau penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk ketundukan total kepada Allah, kurang tergali dengan baik. Selain itu, sumber-sumber klasik seperti Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah az-Zuhaili atau Kitab al-Hajj dalam Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani jarang digunakan sebagai literatur pengayaan, padahal Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Ibadah Haji dan Kurban Kelas V SDN Bangbayang Cisolok Sukabumi kitab-kitab tersebut sangat penting dalam memberikan kedalaman pemahaman dan menghubungkan teori dengan praktik ibadah secara lebih luas. Dalam konteks pembelajaran abad 21, keterbatasan pada sumber tertulis juga menjadi Sumber digital seperti video manasik haji, simulasi VR (Virtual Realit. haji, dan ceramah ulama tentang makna sosial kurban belum banyak dimanfaatkan secara maksimal. Pembelajaran yang hanya terpaku pada buku teks berpotensi mengurangi daya kritis dan kreativitas siswa dalam memahami ajaran agama. Hal ini menunjukkan perlunya integrasi antara sumber tradisional dan kontemporer dalam proses pembelajaran agar peserta didik tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai-nilai ibadah tersebut dalam kehidupan nyata. Sebagai rekomendasi, guru disarankan untuk memperkaya sumber pembelajaran dengan menggunakan kitab-kitab fikih klasik dan kontemporer sebagai referensi pendalaman materi, seperti Fiqh al-Manhaji atau al-MajmuAo Syarh al-Muhadzdzab. Selain itu, pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi informasi seperti animasi 3D manasik haji atau dokumenter penyembelihan kurban dari berbagai budaya muslim dunia dapat menjadi strategi yang relevan untuk memperluas wawasan peserta didik. Dengan demikian, sumber pembelajaran PAI akan menjadi lebih holistik, tidak hanya memenuhi aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik siswa. KESIMPULAN DAN SARAN Sumber pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada materi Ibadah Haji dan Kurban telah menunjukkan tingkat kesesuaian yang cukup baik dengan tujuan Pendidikan Agama Islam, khususnya dalam menyampaikan aspek normatif dan praktik dari kedua ibadah tersebut. Buku teks resmi. Al-QurAoan, dan Hadis menjadi referensi utama yang memberikan pondasi keilmuan yang kokoh dalam pembelajaran. Meskipun demikian, masih terdapat kekurangan dalam hal kedalaman isi, kurangnya eksplorasi nilai-nilai spiritual dan historis, serta terbatasnya penggunaan sumber klasik dan kontemporer yang lebih variatif. Untuk menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21, dibutuhkan pengembangan sumber belajar yang lebih komprehensif dan adaptif terhadap kemajuan teknologi. Integrasi antara kitab klasik, buku kontemporer, media digital, serta pendekatan kontekstual sangat diperlukan agar siswa tidak hanya memahami aspek ritual semata, tetapi juga mampu menangkap makna filosofis, sosial, dan spiritual dari ibadah Haji dan Kurban. Dengan JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. demikian, pembelajaran PAI dapat bertransformasi menjadi proses pendidikan yang menyentuh akal, hati, dan tindakan peserta didik secara utuh. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, disarankan agar guru mengintegrasikan berbagai sumber pembelajaran, baik dari literatur klasik seperti Fiqh al-Islami wa Adillatuhu maupun media digital yang relevan, guna memperkaya pendekatan pembelajaran. Pemanfaatan teknologi, seperti video edukatif dan simulasi manasik haji, juga penting untuk menyesuaikan dengan gaya belajar siswa modern. Dengan strategi ini, diharapkan pembelajaran tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga mampu menumbuhkan penghayatan nilai spiritual dan implementasi ibadah dalam kehidupan nyata. Berkaitan dengan bahar ajar PAI, materi Ibadah Haji dan Kurban, direkomendasikan menggunakan bahan ajar/ modul yang lebih aplikatif, kontekstual, dan berdampak pada pemahaman yang semakin baik dan pengamalan ajaran Islam oleh peserta didik. Dengan demikian mampu menjadikan mereka terbiasa bertingkah laku sesuai dengan Islam atau berkepribadian Islam. DAFTAR REFERENSI Afifah. , & Mustari. Pengaruh media interaktif terhadap pemahaman manasik haji pada siswa SD. Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 7. , 55Ae68. https://doi. org/10. 25299/al-thariqah. Asrori. Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter. Rajawali Pers. Bloom. Taxonomy of educational objectives: The classification of educational Longman. Creswell. , & Poth. Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches . th ed. SAGE Publications. Hamalik. Proses belajar mengajar. Bumi Aksara. Kemendikbudristek. Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka. Kemendikbudristek. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas V. Kemdikbud. Lincoln. , & Guba. Naturalistic inquiry. SAGE Publications. Mardapi. Pengukuran, penilaian dan evaluasi pendidikan. Nuha Medika. Miles. Huberman. , & Saldaya. Qualitative data analysis: A methods sourcebook . rd ed. SAGE Publications. Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Materi Ibadah Haji dan Kurban Kelas V SDN Bangbayang Cisolok Sukabumi Moleong. Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revis. Remaja Rosdakarya. Mulyasa. Pengembangan dan implementasi kurikulum 2013. Remaja Rosdakarya. Munir. Evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam ranah afektif. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 17. , 189Ae205. https://doi. org/10. 22373/jiif. Nata. Pendidikan Islam di sekolah: Teori dan praktik. Kencana. Nurhayati. Strategi guru dalam mengatasi kesulitan siswa memahami materi Jurnal Edukasi Islami, 8. , 33Ae45. Prastowo. Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Diva Press. Qomariyah. Kompetensi kepribadian guru Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan syakhsiyah Islamiyah siswa. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 9. , 145Ae Rahman. Pengembangan bahan ajar PAI berbasis multimedia interaktif untuk meningkatkan pemahaman ibadah haji. Jurnal Edukasi Islam, 7. , 122Ae134. Sari. , & Hidayat. Pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan pemahaman keagamaan siswa SD. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 5. , 77Ae89. Yusuf. Peran Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter siswa di sekolah dasar. Jurnal Tarbiyatuna, 12. , 23Ae35. Zaini. Kontekstualisasi Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Islam, 4. , 45Ae59. Zuhairini. Pendidikan Agama Islam. Bumi Aksara. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025