ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN KADAR GULA DARAH SEWAKTU PADA LANSIA DI PANTI JOMPO TRESNA WERDA KOTA BENGKULU Rusdani1. Nopri Esmiralda2. Kurnia Yuliana Febrianti3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, rusdani@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, nopriesmiralda@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, kurniayulianaf25@yahoo. ABSTRACT Background: Blood sugar level is the amount of glucose in blood plasma. Lack or excess of blood sugar levels in the body is influenced by several factors such as diet, age, lack of sleep and physical activity. person is said to have hyperglycemia, especially if his blood sugar level is far above the normal value, while hypoglycemia is a condition where a person experiences a decrease in blood sugar values below normal. Methods: This research is an analytic observational study with a cross sectional research design. This research was conducted at Nursing House Tresna Werda Of Bengkulu in Desember 2021. The sample in this study was 67 respondens. The sampling technigue is total sampling using inclusion and exclusion criteria. determine the relationship between Sleep Quality and Blood Sugar Level, the data analysis used was the Chi-squere test. Result : The findings reveal those with good sleep quality and good blood sugar levels are 13 . 9%) respondents, with good sleep quality and poor blood sugar levels are 8 . 1%). 6 people . with poor sleep quality and good blood sugar levels, while the respondents with poor sleep quality and poor blood sugar levels ere 29 people . 9%). The results of the Chi-square statistical test obtained p value = 001 . <0. , so Ha is accepted and Ho is rejected. Conclusion : In conclusion, the findings suggest significant correlation of Sleep Quality and Blood Sugar Level In The Elderly In Nursing House Tresna Werda Of Bengkulu Year 2021 Keywords: Blood Sugar Level. Sleep Quality. Elderly ABSTRAK Latar Belakang: Kadar gula darah merupakan sejumlah glukosa yang terdapat di plasma darah. Kekurangan atau kelebihan kadar gula darah dalam tubuh dipengaruhi beberapa faktor seperti pola makan, usia, kurang tidur dan aktivitas fisik. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apalagi keadaan kadar gula dalam darah jauh di atas nilai normal, sedangkan hypoglycemia suatu keadaan kondisi dimana seseorang mengalami penurunan nilai gula dalam darah di bawah normal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu pada bulan desember 2021. Sampel dalam penelitian ini adalah 67 responden. Dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan kadar gula darah sewaktu analisis data yang digunakan adalah uji Chi-square. Hasil: Sebanyak 56 responden yang memenuhi kriteria inklusi didapatkan lansia dengan kualitas tidur baik dan kadar gula darah sewaktu baik sebanyak 13 orang . ,9%) dan yang kualitas tidur baik dengan kadar gula darah sewaktu buruk sebanyak 8 orang responden . ,1%). Sebanyak 6 orang . ,1%) dengan kualitas tidur buruk dan kadar gula darah sewaktu baik, sedangkan responden yang kualitas tidur buruk dan kadar gula darah sewaktu buruk pula sebanyak 29 orang . ,9%). Hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai p= 0,001 . <0,. , sehingga Ha diterima dan Ho Kesimpulan: Terdapat hubungan antara Kualitas Tidur dengan Kadar Gula Darah Sewaktu pada Lansia di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu tahun 2021. Kata kunci: Kadar Gula Darah Sewaktu. Kualitas Tidur. Lanjut Usia Universitas Batam Page 156 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 PENDAHULUAN Salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan adalah Diabetes Melitus (DM). Prevalensi penderita diabetes melitus selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2015 terdapat sebanyak 415 juta orang diabetes di dunia dan diperkirakan akan meningkat menjadi 642 juta jiwa pada tahun 2040 (Behan et al. , 2. Pada tahun 2045 prevalensi DM di seluruh dunia pada semua kelompok umur diperkirakan meningkat sebesar 9,9% dengan jumlah kasus mencapai 629 juta dan peningkatan proporsi terutama pada usia lebih dari 65. Seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia juga akan semakin bertambah (Ariyanto et al. , 2. Orang yang mengalami penuaan biasa disebut dengan lanjut usia . , ditandai dengan perubahan fungsi tubuh yang cenderung menurun secara bertahap dalam waktu ke waktu (Barakat. Abujbara. Banimustafa. Batieha, 2. Penuaan membuat lansia menjadi lebih rentan terkena penyakit karenan sistem imun yang menurun. Usia merupakan salah satu faktor resiko terjadinya peningkatan kadar gula darah (Notoatmodjo, 2. Banyak faktor yang yang mempengaruhi kadar gula darah yang terdiri dari faktor perilaku dan gaya hidup, keadaan klinis atau kadar mental (Ernawati, 2. Faktor perilaku dan gaya hidup terdiri dari kebiasaan merokok, mengkonsumsi alkohol, pola makan, aktivitas fisik, dan pola tidur sedangkan klinis dan kadar mental seperti obesitas, genetik dan stress (Fitriyanti, 2. Efek dari kadar gula darah yang tinggi dapat mempengaruhi kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk biasanya terjadi pada usia lanjut, hal ini dikarenakan terjadinya proses degeneratif pada lansia sehingga menyebabkan penurunan fungsi fisiologis (Yuliadarwati et al. , 2. Kualitas tidur yang buruk menyebabkan gangguan toleransi glukosa atau Impaired Glucose Tolerance (IGT) (Sitti Hartina, 2. Menurut (Zhang et al. , 2. apabila aktifitas fisik Universitas Batam dan durasi tidur seseorang rendah maka resistensi insulin akan meningkat. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi respon sel beta pankreas dan sensitivitas insulin, salah satunya adalah tidur (Haq, 2. Tidur adalah salah satu aspek yang mempengaruhi respon sel pankreas dan sensitivitas insulin (Sumah, 2. Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk dapat mempengaruhi perubahan kadar kortisol (Kemenkes, 2. Pada keadaan normal, kadar kortisol di dalam darah akan menurun saat malam hari, sehingga mencapai kadar terendah saat tidur. Namun pada keadaan sulit tidur, kadar kortisol akan meningkat karena teraktivasinya hypothalamus-pituitary-adrenal (HPA) (Kalsum, 2. Saat aksis HPA meningkat berfungsi untuk mempertahankan keadaan terjaga, yang telah dibuktikan oleh adanya korelasi positif antara pelepasan kortisol dengan aktivitas tinggi di EEG (Kalsum, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin mengetahui bagaimana hubungan antara kualitas tidur dengan kadar gula darah sewaktu di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu. METODE PENELITIAN Desain penelitian ini adalah analitik Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah lansia di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu yang berjumlah 67 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalahlansia berusia 60 tahun dan atau lebih, berkomunikasi dengan baik dan bersedia menjadi Penelitian dilakukan di Panti Jompo Tresna Werda Desember Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kualitas tidur. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kadar gula darah sewaktu. Metode pengumpulan data dengan menggunakan data primer. Data primer berupa Page 157 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 lembar observasi. Instrumen penelitian terdiri dari kuesionerPittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan pemeriksaan gula darah menggunakan glucometer dan beberapa alat tulis. Analisis data menggunakan program SPSS dengan chi square. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan hasil analisis univariat didapatkan hasil distribusi karakteristik responden sebagai berikut : Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Responden . Usia (Tahu. Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Distribusi Frekuensi Kualitas Tidur Berdasarkan univariatdistribusi frekuensi kualitas tidur sebagai berikut: Tabel 2 Distribusi Frekuensi Kualitas Tidur Kualtas Tidur Baik Buruk Jumlah Dari hasil penelitian pada kualitas tidur di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu pada tahun 2021 yang terdapat pada tabel 2 menjelaskan bahwa sebagian besar lansia . yaitu sebanyak 21 responden . ,5%) memiliki kualitas tidur yang baik dan 35 responden . ,5%) memiliki kualitas tidur yang buruk (Putri, 2. Dimana mayoritas responden mengatakan sulit untuk memulai tidur, merasakan panas dimalam hari, sering terbangun di malam hari dan rata-rata responden tidak membutuhkan obat untuk memulai tidur . alam Sugiyono, 2. Responden merasakan panas di malam hari dikarenakan dalam keadaan normal pada saat tidur malam pankreas akan Universitas Batam melepaskan secara terus menerus sejumlah kecil insulin bersama dengan hormon pankreas lain yang disebut dengan glukagon. Insulin dan glukagon secara bersama-sama mempertahankan kadar glukosa yang konstan dalam darah dengan menstimulasi pelepasan glukosa dari hati (Surani et al. Jika kadar glukosa tinggi dalam darah dan jumlah insulin berkurang maka jumlah glukosa yg memasuki sel akan berkurang yang akan menyebabkan produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan dari dalam tubuh, ginjal akan mengsekresikan glukosa bersama air dan elektrolit (Sukmawati & Putra, 2. Hal inilah yang menyebabkan urinasi yang Page 158 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 dan panas pada malam Hasil data kuesioner dan observasi yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa yang menyebabkan kualitas tidur lansia di Panti Jompo Tresna Werda buruk disebabkan hal-hal berikut, seperti mengonsumsi kopi di malam hari, lingkungan sekitar yang bising, mengalami kecemasan dan kekhawatiran yang berlebih serta ketidak nyamanan fisik seperti batuk, pegal-pegal, dan kram kaki. Berdasarkan penjelasan di atas dapat mempengaruhi kualitas tidur di Panti Jompo Tresna Werda adalah psikososial dan gaya Distribusi Frekuensi Kadar Gula Darah Sewaktu Berdasarkan hasil analisis univariat distribusi frekuensi kadar gula darah sewaktu sebagai berikut : Tabel 3 Distribusi frekuensi Kadar Gula Darah Sewaktu Kadar Gula Darah Sewaktu Di bawah rata-rata Di atas rata-rata Jumlah Dari hasil penelitian pada kualitas tidur di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu pada tahun 2021 yang terdapat pada tabel 3 menjelaskan bahwa sebagian besar lansia . yaitu sebanyak 19 responden . ,9%) memiliki kadar gula darah sewaktu di bawah rata-rata dan 37 responden . ,1%) memiliki kadar gula darah sewaktu di atas rata-rata. Kadar gula darah merupakan sejumlah glukosa yang terdapat di plasma darah (Stevens et al. , 2. Pemantauan kadar gula darah sangat diperlukan dalam menegakkan diagnosa terutama untuk penyakit Diabetes Melitus (DM). Glukosa merupakan pecahan dari karbohidrat yang akan diserap tubuh dalam aliran darah, glukosa berperan sebagai bahan bakar utama dalam tubuh, yang fungsinya menghasilkan energi (Haq, 2. Konsentrasi glukosa dalam vena orang yang tidak menderita Diabetes Melitus umumnya antara 75-115 mg/dl. Universitas Batam Kadar gula darah yang tinggi rentan terjadi pada lansia yang mengalami gangguan tidur. Secara fisiologi dengan penurunan proses metabolisme endokrin sehingga terjadinya resistensi insulin berakibat peningkatan kadar gula darah (United Nations World opulation prospect : The 2015 revision. WHO (World Health Organizatio. , 2. Dalam kondisi kadar gula darah tinggi menyebabkan membutuhkan air untuk mencairkannya. Akibatnya tubuh akan mengalami dehidrasi sehingga menjadi banyak minum, maka akan menjadi lebih sering buang air kecil saat malam hari. Gejala tersebut terjadi sebagai akibat tingginnya kadar gula darah sehingga menyebabkan diuresis osmosis, kondisi ini yang memicu gangguan tidur. Berdasarkan observasi yang penulis lakukan di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu ada beberapa hal yang membuat kadar gula darah meningkat pada lansia yaitu aktivitas fisik yang berlebih di siang hari, pola makan, dan pola tidur yang tidak teratur. Maka dari itu untuk dapat mencegah terjadinya peningkatan kadar gula darah Page 159 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 sewaktu lansia harus mencukupi pemenuhan kebutuhan tidur sesuai dengan usia masingmasing. antara kualitas tidur dengan kadar gula darah sewaktu di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu 2021. Hasil uji statistik menggunakan uji Chisquare diperoleh nilai p=0,001 . <0,. yang artinya H0 ditolak (Ha diterim. , jadi menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas tidur dengan kadar gula darah sewaktu di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu tahun 2021. Analisi Bivariat Analisis Hubungan Kualitas Tidur dengan Kadar Gula Darah Sewaktu Dalam menggunakan uji statistik dengan Chi-square dimana peneliti ingin mengetahui hubungan Tabel 4 Tabel Hubungan Kualitas Tidur dengan Kadar Gula Darah Sewaktu Kualitas Tidur Kadar Gula Darah Sewaktu Di bawah rata-rata Di atas rata-rata Jumlah Baik Dari hasil penelitian pada kualitas tidur di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu pada tahun 2021 yang terdapat pada tabel 4 menjelaskan bahwa sebagian besar lansia . yaitu sebanyak 21 responden . ,5%) memiliki kualitas tidur yang baik dan 35 responden . ,5%) memiliki kualitas tidur yang buruk. Dimana mayoritas responden mengatakan sulit untuk memulai tidur, merasakan panas dimalam hari, sering terbangun di malam hari dan rata-rata responden tidak membutuhkan obat untuk memulai tidur. Responden merasakan panas di malam hari dikarenakan dalam keadaan normal pada saat tidur malam pankreas akan melepaskan secara terus menerus sejumlah kecil insulin bersama dengan hormon pankreas lain yang disebut dengan glukagon. Insulin dan glukagon secara bersama-sama mempertahankan kadar glukosa yang konstan dalam darah dengan menstimulasi pelepasan glukosa dari hati. Jika kadar glukosa tinggi dalam darah dan jumlah insulin berkurang maka jumlah glukosa yg Universitas Batam Total Buruk p value 0,001* memasuki sel akan berkurang yang akan menyebabkan produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan dari dalam tubuh, ginjal akan mengsekresikan glukosa bersama air dan elektrolit (Sukmawati & Putra, 2. Hal inilah yang menyebabkan urinasi yang berlebihan . dan panas pada malam hari. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Tentero et , 2. yang mengemukakan berdasarkan kuesioner pasien sering terbangun di malam hari dan sering mengantuk saat sedang melakukan aktivitas di siang hari dan hasil kualitas tidur responden sedang. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan (Tarihoran, 2. mengalami keluhan serupa yaitu kualitas tidur buruk dimana pada saat pasien bangun dari tidurnya tidak merasakan segar dan sebanyak 72,2% cenderung memiliki kadar gula dalam darah tidak normal. Page 160 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 2 MEI 2022 KESIMPULAN Berdasarkan dilaksanakan di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu tahun 2021 dengan jumlah 56 responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Sebagian besar lansia di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu memiliki kualitas tidur buruk yaitu sebesar 62,5%. Sebagian besar lansia di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu memiliki kadar gula darah sewaktu di atas rata-rata yaitu sebesar 66,1%. Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kadar gula darah sewaktu pada lansia di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu dengan nilai p value sebesar 0,001. SARAN Bagi Lansia Diharapkan kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kualitas tidur yang baik dengan cara menjaga gaya hidup, pola makan, dan pola tidur khususnya kelompok lanjut usia yang mengalami masalah kesehatan. Bagi Panti Jompo Tresna Werda Berdasarkan pembinaan dan perawatan terhadap lansia di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu kesehatan secara berkala. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat menambah informasi yang berguna bagi ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran khususnya bahan referensi tentang hubungan kualitas tidur dengan kadar gula darah sewaktu pada lansia di perpustakaan Fakultas Kedokteran Universitas Batam. Bagi Peneliti Hasil penelitian ini digunakan sebagai Universitas Batam hubungan kualitas tidur dengan kadar gula darah sewaktu pada lansia. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menghaturkan terima kasih kepada Kasih Purwati. Kes selaku pembimbing 1 dan dr. Nopri Esmiralda. Kes selaku pembimbing 2 yang telah memberikan banyak bimbingan, dorongan motivasi dan masukan pada penelitian ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada dr. Yani Christina. Sp. KFR selaku penguji 1 dan dr. Andi Ipaljri. Kes selaku penguji 2 yang telah memberikan masukan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu yang telah memberikan izin sehingga peneliti dapat melakukan penelitian di Panti Jompo Tresna Werda Kota Bengkulu. DAFTAR PUSTAKA