Pluralitas Makhluk dan Keesaan Khaliq (Telaah Terhadap Konsepsi Para Suf. Luthfia Hilmi MD1. Hamzah Harun Al-Rasyid2. Aderus Pasinringi3 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar1, 2, 3 Email: luthfia. hilmimd@gmail. hamzahharun62@gmail. andiaderus@yahoo. P-ISSN : 2745-7796 E-ISSN : 2809-7459 Abstrak. Pluralitas adalah keragaman dalam sebuah wujud persatuan. Keragaman, keunikan dan parsial itu merupakan realitas yang tak terbantahkan. Pluralitas itu juga tercipta agar setiap individu, suku, bangsa, lebih mudah melakukan ikatan sosial dan pengenalan antara satu dengan yang lain. Keesaan khalik dalam agama Islam dikenal dengan tauhid. Kata tauhid merupakan kata benda kerja aktif . ang membutuhkan pelengkap penderita atau obje. sebuah deviasi atau tasrif dari kata wauid yang artinya satu atau esa, makna harfiah tauhid ialah menyatukan atau mengesakan. Penelitian ini berbasis kepustakaan yang ditelaah melalui beberapa buku ataupun artikel jurnal. Semua makhluk ciptaan Tuhan termasuk manusia adalah bersifat pluralistik merupakan sebuah keniscayaan yang akan tetap ada terus menerus. Akan tetapi, perbedaan ini akan menjadi satu dalam satu kesatuan. pluralitas makhluk adalah keyakinan bahwa alam semesta terdiri dari beragam jenis makhluk dan kita harus menghargai keberagaman dalam alam semesta serta memandang makhluk adalah bagian dari keindahan ciptaan Allah SWT. Pluralitas makhluk dan keesaan Khalik memberikan kesadaran bahwa eksistensi kehidupan yang plural ini berasal dari Tuahn yang Maha Esa. Pluralitas diciptakan sebagai cara Tuhan memberikan jalan kepada makhluk-Nya untuk memilih jalan yang terbaik ataupun sebaliknya dan berakhir dengan imbalan yang telah dipilih. Kata Kunci: Pluralitas. Keesaan. Sufi. http://jurnal. id/index. php/aujpsi DOI : https://doi. org/10. PENDAHULUAN Realitas bahwa tidak ada satupun ciptaan tuhan yang benar-benar tunggal, tanpa ada unsur-unsur perbedaan di dalamnya. Kemajemukan atau pluralitas adalah suatu hal yang pasti dari Allah swt sebagai pencipta. Al-QurAoan menjelaskan ke-Esaan Khalik dan pluralitas selain-Nya. Al-QurAoan merupakan referensi paling autentik bagi pluralitas. Islam memandang bahwa pluralism adalah sesuatu yang alamiah atau sunnatullah dalam wahana kehidupan manusia (Jeprianto et al. , 2. Al-QurAoan sebagai pedoman hidup sangat mengargai pluralitas sebagai suatu keniscayaan manusia sebagai khalifah di bumi. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 255-261, 2024 | 255 Pluralitas Makhluk Dan Keesaan Khaliq (Telaah Terhadap Konsepsi Para Suf. Luthfia Hilmi MD. Hamzah Harun Al-Rasyid. Aderus Pasinringi Konsep pluralitas makhluk dan keesaan Khalik merupakan point terpenting dari pemahaman spiritual dan praktik keagamaan. Keduanya saling berkaitan dengan konsep tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah swt adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah oleh seluruh makhluk (Firdaus & Amri, 2. Konsep ini memberikan pemahaman bahwa semua makhluk adalah ciptaan Allah dan memiliki peran yang sangat penting dalam keberadaan alam Sebagai pedoman hidup manusia. Al-QurAoan telah memberikan clue bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, hal ini termaktub dalam QS al-Nahl/16:22. Serta Tuhan yang menciptakan, mengadakan, membentuk rupa dan memiliki nama-nama yang indah (Lajnah Pentashihan Mushaf AlQurAoan, 2. Misi utama agama sesungguhnya adalah mengembangkan potensi spiritual individu umat dan potensi kemanusiaan secara majemuk dan universal. Islam pada prinsipnya tidak pernah membedakan corak bentuk ras, suku, etnis serta letak wilayah dan geografis, maka tasawuf lebih membuka cakrawala yang sangat luas dan terbuka untuk dinikmati dan didalami, bahkan untuk semua agama yang tumbuh dan berkembang saat ini (Jamaludin & Zulkifli, 2. Pengembangan terkait pemahaman konsep keesaan Khaliq dan pluralitas makhluk dalam praktek keagamaan dapat mendorong dialog dan diskusi antarumat beragama untuk memperdalam pemahaman tentang konsep keesaan Khaliq dan pluralitas Menyediakan ruang bagi umat beragama untuk belajar dan mempelajari nilai-nilai kehidupan yang saling menghargai dan menghormati perbedaan, termasuk perbedaan dalam praktik keagamaan merupakan bagian dari pluralitas makhluk dan keesaan khalik dapat meningkatkan Pendidikan agama dan pemahaman tentang konsep keesaan Khalik dan pluralitas makhluk dalam system Pendidikan formal dan informal. Hal ini dapat membantu memperkuat pemahaman umat beragama tentang prinsip-prinsip dasar keagamaan dan mempromosikan toleransi dan persaudaraan antar beragama. METODE Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan menelaah berbagai literatur buku, jurnal nasionala maupun internasional. Pendekatan pemikiran Islam. Metode analisis yang dilakukan adalah dengan menjelaskan pandangan-pandangan beberapa tokoh sufi terkait judul yang diangkat pada tulisan ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Pluralitas Makhluk dan Keesaan Khalik Pluralitas Makhluk Term pluralitas berasal dari Bahasa Inggris yakni plural antonym dari kata singular yang berarti banyak. Kata ini kemudian menjadi plurality yang berarti much, many, quantity amount most majorit (Cowan & Wehr, 1. atau sesuatu yang banyak baik secara kuantitas atau sesuatu yang disebut jumlah mayorita. Kata tersebut kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi plural yang berarti jamak atau lebih dari satu. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata Pluralitas (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2. yakni terdiri atas beberapa bagian yang merupakam kesatuan. Said Aqil al-Munawwar memberikan definisi kata pluralitas sebagai kondisi obyektif dalam suatu Masyarakat yang terdapat di dalamnya sejumlah kelompok saling berbeda, baik strata ekonomi, ideologi, keimanan, serta latar belakang (Al Munawar & Halim, 2. Muhammad Imarah menjelaskan bahwa pluralitas adalah kemajemukan yang didasari oleh keutamaan, keunikan dan kekhasan (Al-Kattanie, 1. Pluralitas adalah keragaman dalam sebuah wujud persatuan. Keragaman. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 255-261, 2024 | 256 Pluralitas Makhluk Dan Keesaan Khaliq (Telaah Terhadap Konsepsi Para Suf. Luthfia Hilmi MD. Hamzah Harun Al-Rasyid. Aderus Pasinringi keunikan dan parsial itu merupakan realitas yang tak terbantahkan. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan termasuk manusia adalah bersifat pluralistic dan hal ini merupakan sebuah keniscayaan yang akan tetap ada terus Akan tetapi, perbedaan ini akan menjadi satu dalam satu kesatuan. Kata Makhluk, berasal dari tiga huruf yaitu Aukha, lam dan qafAy, yang berarti menetapkan sesuatu. Lalu terbentuklah kata AukhalaqaAy yang artinya menciptakan atau Lafaz mengambil bentuk obyek . sim mafAou. yang berarti yang diciptakan. Jadi makhluk diartikan sebagai segala sesuatu yang merupakan ciptaan . ari Sang Khali. yang ada di alam raya ini. (Bin Faris, 1. Berdasarkan pemahaman di atas, dapat disimpulkan bahwa pluralitas makhluk adalah keanekaragaman makhluk yang diciptakan Tuhan untuk memberi manusia pemahaman bahwa Tuhan ingin memberikan penjelasan tentang keanekaragaman yang ada dalam kehidupan manusia ada hubungannya dengan keinginan Tuhan untuk menunjukkan keesaan-Nya pada segala hal yang disenangi manusia dalam menjalani kehidupan mereka. Pluralitas makhluk adalah pandangan bahwa semua makhluk merupakan bagian integral dari keseluruhan yang lebih besar dan kompleks yang mencakup seluruh alam Konsep ini juga menekankan pentingnya hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya. Pluralitas makhluk adalah manifestasi dari keberadaan Allah yang terwujud dalam berbagai bentuk makhluk, semua makhluk adalah cermin dari keberadaan Allah, dan oleh karena itu, memiliki nilai yang sama dalam alam (Firdaus & Amri, 2. Konsep ini mencerminkan kesadaran akan keberagaman yang ada dalam alam semesta dan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dengan alam sekitarnya. Konsep ini terkait dengan konsep tauhid, yaitu kepercayaan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang harus disembah oleh seluruh makhluk. Konsep pluralitas memelihara keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup. Dari pendapat para ahli tersebut maka dapat di simpulkan bahwa definisi pluralitas makhluk adalah keyakinan bahwa alam semesta terdiri dari beragam jenis makhluk dan kita harus menghargai keberagaman dalam alam semesta serta memandang makhluk adalah bagian dari keindahan ciptaan Allah SWT. Pluralitas itu juga tercipta agar setiap individu, suku, bangsa, lebih mudah melakukan ikatan sosial dan pengenalan antara satu dengan yang lain. Dalam relevansi ini. Alquran menyatakan dalam QS al-ujurat/49:13 sebagai berikut: Aa aIeO ae Oe I a Oe I ca Oe aa s Oaa Oe IO a aa Oe I a Oe A a OeUA AIcacO a aaO A AIA AOA AOA AOA AOA AOA sAE a Ie Oe e aaIe OA AEI aeeOa Oe aIc EA a Oea aIc aa s aa Oe Iaa EA AOaCa aO a Ia A Terjemahannya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan perempuan. Kemudian. Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan, 2. Ayat tersebut di atas menegaskan bahwa perbedaan, keragaman atau pluralitas sosiologis-antropologis yang digambarkan dengan penciptaan manusia dari jenis lakilaki dan Wanita, suku dan bangsa, dijadikan untuk saling kenal mengenal diantara sesame Al-QurAoan menjadikan AukenalmengenalAy sebagai logika awal pluralitas manusia di bumi ini. Dari sini terbangunlah filsafat kemanusiaan yang universal, yaitu interaksi yang baik, yang wujudnya untuk saling kenal mengenal sesame mereka. Secara filosofis, kenal mengenal tersebut tidaklah dipahami hannya sebatas literal, namun lebih dari itu, untuk saling memahami karakter, dudaya, sikap, tingkah laku, antar Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 255-261, 2024 | 257 Pluralitas Makhluk Dan Keesaan Khaliq (Telaah Terhadap Konsepsi Para Suf. Luthfia Hilmi MD. Hamzah Harun Al-Rasyid. Aderus Pasinringi sesama manusia. Pemahaman yang demikian menjadikan hubungan antar manusia, budaya, peradaban, saling pengertian. Hal ini tentunya menolak fanatisme rasial, budaya, agama, dari manusia yang lain. Lebih jauh, hal ini berarti mengingkari tindakan egois personal dan egois sosial yang mengklaim dan memonopoli kebenaran diri atau kelompok sendiri. Dengan saling kenalmengenal masyarakat yang saling mengisi kekurangan antar satu dan lainnya, bukan saling Implikasi yang ditemukan selanjutnya adalah budaya keterbukaan dan saling menghargai dan memahami. (Ahmad. Ismail, & Amri. Muhammad, & Qamar, 2. Keesaan Khalik Islam adalah satu-satunya agama yang berhasil menjelaskan keesaan Tuhan secara jelas dan mudah dimengerti. Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang Esa . auid, auad, far. yang menjadi tempat bergantung seluruh makhluk . l-ama. (Baqir, 1. Dia tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak ada pesaing bagi-Nya. Dialah Tuhan yang tidak dapat dilihat oleh mata dan Dia tidak serupa dengan apapun. Alquran orang-orang membuat penyerupaan untuk-Nya. Tidak ada satu pun yang serupa dengan dia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata esa berarti Tunggal, satu, bersifat Tunggal, tidak (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2. Keesaan khalik dalam agama Islam dikenal dengan tauhid. Kata tauhid merupakan kata benda kerja aktif . ang membutuhkan pelengkap penderita atau obje. sebuah deviasi atau tasrif dari kata wauid yang artinya satu atau esa, makna harfiah tauhid ialah menyatukan atau Tauhid, menurut Ibn Taymiyah, membawa kepada pembebasan manusia dari segala macam kepercayaan palsu, seperti mitologi yang selalu membelenggu manusia. Kepercayaan palsu adalah segala bentuk praktik pemujaan kepada selain Allah tuhan-tuhan Kepercayaan palsu itu dapat juga terwujud dalam bentuk pemujaan kepada diri sendiri yang kesemuanya itu mengakibatkan tertutupnya kebenaran dari hati manusia. (Bal, 1. Ketika Allah memproklamirkan diri sebagai Pencipta . l-khali. dalam ratusan ayat, secara otomatis tidak ada yang mampu mencipta . selain Dia. Konsep Pluralitas Makhluk Dan Keesaan Khaliq Menurut Pandangan Sufi. Terdapat beberapa teori penting yang melahirkan istilah pluralitas mahkluk dan keesaan Khaliq, dalam tulisan ini hanya beberapa pendapat yang dikemukakan. Pertama, teori emanasi yang dikembangkan oleh para sufi seperti al-Farabi dan Ibn Sina. Kedua, teori Wihdah al-Wujud yang dikembangkan oleh Ibn Arabi dan terakhir pandangan yang diungkapkan oleh alGhazali. Al-Farabi menjelaskan bagaimana yang terbilang bisa timbul dari yang satu. (Shiddiqi et al. , 1. Menurutnya. Tuhan bersifat Maha Esa, tidak berubah dan jauh dari materi, jauh dari arti banyak. Ia Maha sempurna dan tidak berhajat apapun. Kalau demikian halnya, maka pertanyaan yang timbul bagaimana terjadinya alam materi yang banyak ini dari Yang Maha Satu. Menurut alFarabi alam ini terjadi dengan cara (P. Nasution, 1. Teori ini membahas tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin . lam makhlu. dari zat yang wajib adanya . uhan sebagai zat yang wajib al-wuju. Menurut al-Farabi Tuhan menciptakan alam secara pancaran atau emanasi dari yang sudah ada. al-Farabi menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari yang satu. Teori ini Tuhan dilukiskan sebagai yang sama sekali Esa dan Menurutnya, menisbatkan Batasan dan susunan kepada Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 255-261, 2024 | 258 Pluralitas Makhluk Dan Keesaan Khaliq (Telaah Terhadap Konsepsi Para Suf. Luthfia Hilmi MD. Hamzah Harun Al-Rasyid. Aderus Pasinringi tuhan yang itu mustahil bagi-Nya. (Nihaya. Sementara itu bila teori emanasi yang menyebabkan terjadi pluralitas mahkluk dibawa ke dalam teori tasawuf, maka disitu terlihat paham tentang wahdah al-wujud yang diperkenalkan oleh Ibn al-Arabi. Ibnu alArabi adalah seorang sufi terkenal yang sangat berpengaruh dan produktif dengan karya-karyanya. Wahdah al-wujud secara harfiah berarti kesatuan wujud . nity of Kesatuan wujud ini dapat dipahami sebagai satu wujud atau kesatuan dari bagian-bagian wujud sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan wujud. Wahdah al-wujud menurut yang dipahami para sarjana tasawuf adalah bahwa wujud itu hanya satu, bukan banyak. Wujud yang satu itu ada dengan sendirinya, keberadaannya tidak karena yang lain dan tidak bergantung Paham dikembangkan oleh ibn Arabi merupakan bentuk lain dari paham al-Ittihad dan perluasan dari paham al-Hulul yang diperkenalkan oleh masing-masing Abu Yazid al-Bustami dan al-Khallaj. Dimana Allah memiliki dua sifat dasar, yaitu dasar ketuhanan yang disebut lahut dan sifat (Mukarramah, 2. Dikatakan dalam paham ini sebagai perluasan dari konsepsi atau paham al-hulul adalah karena nasut yang ada dalam hulul diganti dengan khalq . , sedang lahut menjadi Haqq . Khalq dan al-haq adalah dua sisi bagi segala sesuatu, dua aspek yang ada pada segala sesuatu. Aspek lahirnya disebut khalq dan aspek batinnya disebut al-Haq. Dengan demikian segala sesuatu yang ada ini mengandung aspek lahir dan aspek batin. Aspek khalq atau aspek luar memiliki sifat kemakhlukan atau nasut, sedangkan aspek batin atau al-haq memiliki sifat ketuhanan atau lahut. Tiap-tiap yang bergerak tidak terlepas dari kedua aspek itu, yaitu ketuhanan dan sifat kemanusiaan. Akan tetapi aspek terpentinga adalah batin yang merupakan hakikat atau esensi dari tiap-tiap yang (Siregar, 2. Al-GhazAli mengatakan dalam bukunya yang berjudul Tauhidullah semua yang terjadi itu adalah sesuai dengan Ilmu dan IrAdat -Nya tanpa perubahan dan Pergantian. Dia mengatur segala sesuatu dengan tanpa struktur pemikiran, dan tanpa menganggu waktu, karena Dia tidak disibukkan oleh urusan-urusan yang ada. Ada pemikiran tentang fisatat metatisika yang menurut alGhazAli sangat berlawanan dengan Islam dan yang karenanya para filosof harus dinyatakan sebagai orang ateis, ialah. Qadimnya alam, . Tidak mengetahuinya Tuhan terhadap soalsoal kecil, dan . Pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani. (Nihaya, 2. Menurut al- GhazAli, terdahulunya Tuhan dari alam dan zaman ialah maksudnya adalah bahwa tuhan sudah ada sendirian pada saat alam belum ada, kemudian la menciptakan alam, hingga pada saat itu i tuhan ada beserta alam. Pada keadaan pertama adanya Zat Tuhan yang sendirian dan pada keadaan yang kedua, adanya zat Tuhan zat alam, sedangkan alam hanyalah gerakan alam yang berarti sebelum ada ada benda . tentu saja belum ada alam. Selanjutnya menurut Al-GhazAli, alam itu bukanlah suatu sistem yang berdiri sendiri, bebas dari lainnya, bergerak, berubah, tumbuh dan berkembang dnegan dirinya, dengan hukum-hukumnya. Tetapi wujud, sistem dan hukum-hukumnya bertopang pada Allah. Dia lah yang mencipta, menahan, mematikan segala sesuatu. Dengan demikian menurut al- GhazAli bahwa alam qadm dalam arti tidak bermula tidak dapat diterima dalam teologi Islam. Sebab, menurut teologi Islam Tuhan adalah pencipta, yang dimaksud dengan pencipta adalah yang meniptakan sesuatu dari tiada . reatio ex nihil. Kalau alam dikatakan qadim, berarti tidak diciptakan, dengan demikian Tuhan alam bukanlah pencipta, sedangkan Al-QurAoan menyebutkan bahwa Tuhan adalah pencipta segala sesuatu. Menurut al-GhazAli alam Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 255-261, 2024 | 259 Pluralitas Makhluk Dan Keesaan Khaliq (Telaah Terhadap Konsepsi Para Suf. Luthfia Hilmi MD. Hamzah Harun Al-Rasyid. Aderus Pasinringi haruslah hadi . Jika alam qadm berarti ada banyak yang qadm, hal ini mengindikasikan kesyirikan atau justru tidak perlu adanya Tuhan sang pencipta. (H. Nasution, 1. Selanjutnya, menurut Al-GhazAli, ilmu adalah suatu tambahan atau pertalian dengan zat, artinya lain dari zat. Kalau terjadi perubahan pada tambahan tersebut, maka zat Tuhan tetap dalam keadaan-Nya yang biasa, sebagaimana halnya kalau ada yang berdiri di sebelah kanan kita kemudian ia berpindah ke sebelah kiri kita, maka sebenarnya yang berubah adalah kita bukan Dia. Argumentasi Al-GhazAli ini juga berdasarkan ayat-ayat Al-Quran yang memberi petunjuk bahwa Tuhan mengetahui yang juzAoiyah seperti firman-Nya dalam QS al-HujurAt/49:16. (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan, 2. Terakhir, para filosof berkeyakinan bahwa alam akhirat adalah alam keruhanian, bukan materil. Karena perkara keruhanian lebih tinggi nilainya daripada alam materil. Karena itu pikiran tidaklah mengharuskan adanya kebangkitan jasmani, kelezatan atau siksaan jasmani, surga atau neraka serta segala isinya. Pada intinya menurut mereka mustahil manusia dibangkitkan kembali dengan jasad yang semula, sebab jasad tersebut telah hancur dan terurai menjadi bahan makanan dan menadi bagian dari tubuh makhluk lain sepert hewan, tumbuhan atau bahkan manusia lainnya. Al-GhazAli berpendapat bahwa jika ia tetap wujud sesudah mati, karena ia merupakan substansi yang berdiri sendiri. Pendirian tersebut tidak ditunjukkan seperti disebutkan dalam AlQurAoan dalam QS YAsn/36:78-79. Hikmah pluralitas Makhluk dan Keesaan Khalik. Bukti keesaan Allah sebagai pencipta ditunjukkan dengan adanya alam raya ini yang tidak dapat dihitung banyaknya dan tebentang Dimana-mana baik di langit maupun di bumi. Ciptaan-Nya begitu plural namun semua beredar/berputar sesuai dengan ketentuan Allah . Hal inilah yang membuktikan bahwa hanya ada satu Tuhan yang mengatur dan mengontrol Manusia sebagai ciptaan Allah yang mulia diberikan akal untuk berfikir. Manusia diciptakan saling berpasangan agar lahir kerjasama yang baik agar dapat menjalani hidup yang berkesinambungan dan Masing keistimewaan dan kekurangan. Cinta vertikal antara sang hamba dan Tuhannya tidak akan terwujud jika tidak disertai dengan cinta horisontal antara sang hamba dan (Noer, 1. Makhluk ada yang berpasangan menunjukkan pluralitasnya yang dapat membawa dinamika kehidupan menjadi Makhluk memiliki karakteristik masing-masing agar bisa saling mengisi, melengkapi antar satu sama lain menuju kahidupan yang didambakan. Ada yang kaya, ada yang miskin, bagus, jelek, atom negative dan positif, electron dan proton bertemu untuk saling tarik menarik demi memelihara Eksistensi pluralitas ini memberikan makna sebagai sebuah opsi yang ditawarkan Tuhan untuk memberika alternatif kepada manusia untuk memilih jalannya dalam kehidupan ini. Apakah manusia menghendaki berada di atas jalan-Nya dan berujung dengan karunia Allah, ataupun sebaliknya manusia memilih jalan yang buruk dan berujung kepada azab Allah. Pluralitas makhluk memang sudah kodrat yang harus dijalani dan menganggap sesama manusia mempunyai persamaan hak dalam kehidupan, meskipuan banyak perbedaan dalam berbagai hal namun memiliki tujuan sebagai khalifah dan mengabdi kepada Allah sebagai Sang Pencipta. KESIMPULAN Semua makhluk ciptaan Tuhan termasuk manusia adalah bersifat pluralistik merupakan sebuah keniscayaan yang akan Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 255-261, 2024 | 260 Pluralitas Makhluk Dan Keesaan Khaliq (Telaah Terhadap Konsepsi Para Suf. Luthfia Hilmi MD. Hamzah Harun Al-Rasyid. Aderus Pasinringi tetap ada terus menerus. Akan tetapi, perbedaan ini akan menjadi satu dalam satu keyakinan bahwa alam semesta terdiri dari beragam jenis makhluk dan kita harus menghargai keberagaman dalam alam semesta serta memandang makhluk adalah bagian dari keindahan ciptaan Allah SWT. Pluralitas makhluk dan keesaan Khalik memberikan kesadaran bahwa eksistensi kehidupan yang plural ini berasal dari Tuahn yang Maha Esa. Pluralitas diciptakan sebagai cara Tuhan memberikan jalan kepada makhluk-Nya untuk memilih jalan yang terbaik ataupun sebaliknya dan berakhir dengan imbalan yang telah dipilih. DAFTAR PUSTAKA