I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN GARAP TARI DI SMKN 5 DENPASAR I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha1. Trisna Ardanari Adipurwa2. Kadek Diah Pramanasari3 1,2,3Institut Seni Indonesia Bali ibkawiantara@gmail. INFORMASI NASKAH Diterima Pada 25 Januari 2025 Disetujui Pada 3 Maret 2025 Vol. No. 1, 2025 Halaman 20-30 E-ISSN : A2025 Penulis. Dipublikasikan oleh Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali. Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC-BY-NC-SA ABSTRAK Model pembelajaran Project Based Learning (PJBL) merupakan pendekatan yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran, mendorong mereka untuk merancang, merealisasikan, dan merefleksikan proyek nyataAidalam konteks ini adalah karya tari. Di SMK Negeri 5 Denpasar, khususnya pada pembelajaran garap tari kelas XI Seni Tari, model PJBL telah diterapkan untuk menjawab kebutuhan akan lulusan yang profesional, kreatif, serta adaptif terhadap dinamika dunia seni pertunjukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses implementasi model PJBL dalam pembelajaran garap tari guna meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih terstruktur dan berdampak pada prestasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai instrumen utama. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model PJBL efektif dalam mendorong keterlibatan aktif siswa pada setiap tahap pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi proyek tari. Selain meningkatkan pemahaman konseptual. PJBL juga melatih kemampuan pemecahan masalah dan kolaborasi siswa. Dampak positif dari implementasi ini menunjukkan bahwa PJBL layak dijadikan model alternatif dalam pembelajaran seni di SMK. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi institusi pendidikan lain dalam mengembangkan strategi pembelajaran inovatif yang kontekstual dan relevan dengan tuntutan dunia kerja di bidang seni pertunjukan. Kata Kunci: project based learning, garap tari. SMK seni PENDAHULUAN Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah lembaga pendidikan formal yang menyediakan pendidikan kejuruan di tingkat menengah, dengan tujuan mempersiapkan siswa agar siap memasuki dunia kerja di sektor usaha dan industri. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan dalam menjalankan pekerjaan tertentu. SMK Negeri 5 Denpasar merupakan salah satu sekolah menengah kejuruan terkemuka di Kota Denpasar. Bali. Sebagai sekolah yang memahami tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks dan dinamis. SMK Negeri 5 Denpasar menyiapkan lulusannya agar memiliki daya saing, memiliki kemampuan berpikir kreatif dan berpikir kritis. Oleh karena itu upaya untuk lebih mengoptimalkan proses dan hasil pembelajaran (Sajidan, dkk 2. SMK Negeri 5 saat ini telah menerapkan model pembelajaran Project Based Learning (PJBL) pada mata pelajaran garap tari. Melalui model PJBL, siswa diberi kesempatan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi proyek garap tari yang mereka ciptakan, sehingga dapat mendorong kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir kritis. Selain itu, penerapan PJBL I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari bertujuan memfasilitasi siswa dalam menerapkan teori-teori tari yang telah dipelajari dalam situasi nyata, sekaligus memperkuat keterampilan teknis dalam menciptakan gerakan tari yang sesuai dengan konteks budaya dan estetika. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep tari, tetapi juga mengembangkan kemampuan kolaborasi, pemecahan masalah, dan keterampilan komunikasi yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja dan industri seni pertunjukan. Secara keseluruhan, penerapan model PJBL dalam pembelajaran garap tari bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang lebih siap secara profesional, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan dunia seni pertunjukan yang terus berkembang. Penelitian oleh Zhang dan Ma . yang berjudul "A Study Of The Impact Of Project Based Learning On Student Learning Effects" menunjukkan bahwa penerapan model Project Based Learning (PJBL) tidak hanya meningkatkan kreativitas, tetapi juga secara signifikan meningkatkan motivasi dan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model PJBL mendorong pembelajaran kontekstual, membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan bekerja sama dalam tim. Temuan ini relevan untuk penelitian yang bertujuan meningkatkan kreativitas dalam seni tari melalui proyek. Melalui pembelajaran yang lebih terstruktur siswa dapat menggali pengalaman-pengalaman proyek secara langsung. Salah satu tujuan utama dalam pembelajaran garap tari adalah meningkatkan pemahaman filosofis tari sehingga siswa dapat mengapresiasi dan menghayati makna di balik setiap gerakan tari serta nilai-nilai budaya yang terkadung di dalamnya. Pembelajaran ini juga berguna dalam meningkatkan keterampilan teknikal siswa dalam menguasai teknik-teknik dasar tari, baik tari tradisional maupun modern. Penelitian ini memberikan manfaat yang lebih luas tidak hanya bagi SMK Negeri 5 Denpasar, tetapi juga memberikan wawasan yang berguna bagi institusi pendidikan lainnya dalam merancang kurikulum serta metode pembelajaran yang lebih efektif. Penerapan model ProjectBased Learning (PJBL) dalam pembelajaran seni tari dapat menjadi alternatif model yang optimal dan dapat diadaptasi oleh berbagai SMK, dengan tujuan untuk memperkaya pengalaman belajar Selain itu, model ini juga berperan penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi tantangan profesional di industri seni yang semakin kompleks dan dinamis. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi secara mendalam dan komprehensif. Menurut Moleon . , penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan yang diperoleh dari individu dan perilaku yang diamati. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami dan menggali makna di balik fenomena yang diteliti, dengan cara mengeksplorasi situasi sosial secara luas dan mendalam. Dalam penelitian deskriptif kualitatif, fokus utama adalah pada pemahaman mendalam mengenai konteks, pengalaman, serta persepsi subjek penelitian, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap dan menyeluruh tentang fenomena yang sedang dianalisis. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati fenomena yang terjadi secara langsung di lapangan, sementara wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari yang lebih mendalam dari informan yang relevan dengan topik penelitian. Dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data tertulis atau rekaman yang mendukung temuan dari observasi dan wawancara. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik yang dijelaskan oleh Moleong . , yang mencakup tiga tahap utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data merupakan proses penyelesaian, penyederhanaan, dan pemindahan data mentah yang diperoleh menjadi informasi yang lebih terfokus dan relevan. Data yang telah direduksi kemudian disusun dalam bentuk yang lebih sistematis pada tahap penyajian data, sehingga dapat memudahkan peneliti dalam menjelaskan atau menjawab masalah penelitian. Pada tahap terakhir, penarikan kesimpulan atau verifikasi dilakukan dengan menganalisis data lebih lanjut untuk menarik kesimpulan yang dapat digambarkan dalam bentuk tulisan sebagai hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Project-Based Learning (PJBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman mendalam melalui eksplorasi, penilaian, interpretasi, dan sintesis informasi atau data secara bermakna. Pendekatan ini mendorong siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran dengan cara yang lebih kontekstual dan relevan. Dalam PBL, persoalan atau masalah dijadikan inti dari proses pembelajaran, yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam memahami materi pelajaran secara lebih mendalam. Pada konteks pembelajaran garap tari, penerapan model Project-Based Learning bertujuan untuk mempermudah pelaksanaan pembelajaran di kelas, di mana siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan kreatif dan berpikir kritis melalui proyek yang dilakukan. Pendekatan ini tidak hanya mengutamakan pemahaman teoretis, tetapi juga kemampuan praktis yang sangat penting dalam bidang seni tari. Pada model pembelajaran berbasis proyek ini, siswa diberi peran aktif dalam menyelesaikan masalah yang diajukan oleh guru melalui proyek-proyek tertentu. Hal ini memberikan mereka kendali atas proses pembelajaran, yang pada gilirannya meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa secara langsung. Dalam konteks pembelajaran garap tari, siswa tidak hanya mempelajari teori dasar tari, tetapi juga terlibat secara langsung dalam praktik pembuatan gerakan tari, yang memungkinkan mereka untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari dalam situasi yang lebih nyata. Melalui pendekatan ini, siswa dapat mengembangkan keterampilan teknis serta meningkatkan pemahaman mereka terhadap konsep-konsep budaya dan estetika dalam tari Pembelajaran garap tari pada kelas XI Seni Tari di SMK Negeri 5 Denpasar dilaksanakan mulai dari pertemuan ke-4 hingga pertemuan ke-10. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, ditemukan bahwa tahapan-tahapan dalam proses pembelajaran telah disesuaikan dengan model Project-Based Learning (PJBL) sebagai berikut Menyiapkan penentuan proyek. Dalam hal ini penentuan proyek meliputi siswa mendapat intruksi tentang proyek garapan tari dengan menentukan konsep, tema, musik iringan serta bentuk garapan. Mendesain perencanaan proyek. Siswa mengidentifikasi dan menganalisa permasalahan mengenai konsep, yang meliputi ide, tema, musik iringan serta bentuk sajian melalui diskusi antar siswa dan guru. Menyusun jadwal pelaksanaan. I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari Siswa menyusun jadwal danmenyepakati jadwal proses dalam langkah-langkah membuat penyelesaian proyek. Memonitor proses perkembangan proyek. Siswa diberikan kesempatan untuk meninjau ketercapaian proyek melalui presentasi serta dilakukannya monitoring terhadap ketercapaian proyek. Uji kelayakan dan presentasi hasil proyek. Meninjau ketercapaian proyek dengan melakukan uji kelayakan guna mengevaluasi proyek serta menjadi acuan untuk mengukur ketercapaian agar dapat melakukan presentasi hasil Evaluasi proses proyek. Mengevaluasi secara menyeluruh mengenai pembelajaran berbasis proyek yang dimulai dari perencaana hingga dengan hasil proyek pembelajaran. Berdasarkan tahapan-tahapan yang terstruktur dalam pelaksanaan pembelajaran garap tari dengan menggunakan model Project Based Learning di SMK Negeri 5 Denpasar. Tahapan pembelajaran yang telah diterapkan, untuk membantu dan memudahkan siswa dalam memahami materi serta untuk menyelesaikan tugas proyek, yang menjadi tugas akhir dalam mata pelajaran garap tari. Proses pembelajaran pada pertemuan keempat mengacu pada penerapan model Project-Based Learning (PJBL) yang dimulai dengan tahapan penentuan proyek, mendesain perencanaan proyek, dan menyusun jadwal pelaksanaan. Menurut Wicaksono dkk . , penentuan proyek merupakan salah satu bagian penting dalam perencanaan pembelajaran PJBL, yang bertujuan untuk memastikan bahwa siswa memiliki gambaran jelas tentang tujuan dan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam proyek tersebut. Pada tahap ini, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan kepada siswa mengenai garis besar proyek, yang dalam konteks ini adalah garap tari tunggal. Penentuan proyek yang tepat menjadi langkah awal yang krusial dalam proses pembelajaran berbasis proyek, karena dapat membentuk fondasi yang kuat untuk langkah-langkah selanjutnya. Selanjutnya, pada tahapan penentuan proyek, guru memberikan instruksi yang jelas kepada siswa mengenai elemen-elemen yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan tari tunggal, seperti pemilihan konsep, tema, musik iringan, serta penampilan yang akan disajikan. Instruksi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap elemen yang dipilih oleh siswa dapat mencerminkan makna dan filosofi yang ingin ditonjolkan melalui karya tari yang dihasilkan. Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan tidak hanya menguasai aspek teknis tari, tetapi juga dapat menggali makna yang lebih dalam dan filosofis dari setiap gerakan yang mereka ciptakan, sehingga hasil proyek garap tari tunggal dapat lebih bermakna dan sesuai dengan konteks yang Langkah berikutnya, dalam penerapan model Project-Based Learning (PJBL) pada pembelajaran garap tari adalah merancang perencanaan proyek. Pada tahap ini, siswa diharapkan mampu mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang berkaitan dengan konsep proyek, termasuk ide dan tema garap tari, melalui sesi diskusi antara siswa dan guru. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam memecahkan masalah yang muncul selama proses penyelesaian proyek. Selain itu, penyusunan jadwal pelaksanaan proyek menjadi langkah penting yang dilakukan oleh siswa, yang bertujuan untuk menyepakati tahapan-tahapan penyelesaian proyek garap tari serta menyusun jadwal bimbingan dengan guru. I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari Gambar 1. Pembelajaran pada pertemuan keempat penenutuan proyek, mendesaian proyek, dan penyusunan jadwal pelaksanaan garap tari (Sumber : Dok. Bagus Kawiantara, 2. Pada tahap pembelajaran berikutnya, siswa bertanggung jawab untuk memantau perkembangan proyek garap tari. Mereka akan mengolah konsep tari tunggal yang telah disusun berdasarkan ide dan tema yang telah ditentukan, dengan cara mengidentifikasi serta mendokumentasikan proses tersebut dalam bentuk bagan, video, atau presentasi PowerPoint. Proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap langkah yang diambil sesuai dengan tujuan proyek dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasah keterampilan dalam penyajian informasi secara terstruktur. Pada pertemuan kelima, guru mengarahkan siswa untuk melakukan eksplorasi tubuh sebagai bagian dari pemanasan, sekaligus memfasilitasi pemikiran siswa dalam proses pencarian gerak yang sesuai untuk proyek garap tari. Menurut Sumandiyo Hadi . , eksplorasi dalam garap tari merupakan bagian penting dari proses perencanaan, penyusunan, dan seleksi gerakangerakan ritmis yang akan digunakan. Dalam konteks ini, guru bertindak sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk mengembangkan dan memformulasikan desain-desain gerak yang dapat dipilah dan dipilih berdasarkan kebutuhan proyek garap tari tunggal. Dengan demikian, eksplorasi tubuh tidak hanya berfungsi sebagai pemanasan fisik, tetapi juga sebagai sarana untuk merangsang kreativitas dan pemikiran kritis siswa dalam merancang gerakan tari yang relevan dan estetik Siswa dalam hal ini melanjutkan mendesain perencanaan proyek garap tari tunggal. (Wicaksono dkk, 2. menyatakan bahwa perencanaan ini mencakup identifikasi masalah atau tantangan yang perlu dipecahkan serta penetapan batasan dan persyaratan proyek. Selama pembelajaran berlangsung, siswa menyampaikan permasalahan terkait proses penciptaan. Sebagian besar siswa ingin menciptakan tari kreasi yang berakar pada pola-pola tradisional, yang dikembangkan melalui struktur olah gerak dan struktur karya penampilan. Menurut (Djuanda dan Agustiani 2. , tari kreasi adalah tari yang telah mengalami pengembangan dari bentuk tari yang sudah ada sebelumnya. Namun, siswa mengalami kesulitan dalam mewujudkan alur cerita yang ingin disampaikan berdasarkan inspirasi ide atau tema yang telah mereka miliki. I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari Setelah perencanaan proyek dilaksanakan, guru menginstruksikan siswa untuk mempresentasikan ketercapaian proyek yang telah mencapai 25% guna memantau perkembangan proyek garap tari tunggal. Berdasarkan hasil presentasi, guru memberikan umpan balik dan masukan terkait progres yang telah dicapai, serta membantu siswa dalam menetapkan batasan alur setiap cerita. Hal ini bertujuan untuk mempermudah siswa dalam pembentukan karya tari agar penentuan batasan tidak melebar dari konsep ide atau tema yang telah ditetapkan. Jika siswa dianggap telah memahami solusi dari masalah yang dihadapi, guru dan siswa melanjutkan dengan menyusun jadwal pelaksanaan proyek pada pertemuan selanjutnya, sehingga siswa dapat memperbaiki dan menambah ketercapaian proyek yang ingin dihasilkan agar tepat sasaran dan sesuai dengan waktu. Kelanjutan proses pembelajaran pada kelas XI Seni Tari SMK Negeri 5 Denpasar, khususnya pada pertemuan keenam, diawali dengan tinjauan ulang oleh guru terhadap materi sebelumnya, meliputi solusi pemecahan masalah proyek dan tingkat ketercapaian target proyek yang telah Guru juga memberikan arahan lebih lanjut mengenai penentuan proyek tari tunggal, mendorong eksplorasi dan pengembangan yang konsisten dengan tema serta konsep tari yang Selama proses pembelajaran, guru secara aktif memonitor kinerja siswa, yang pada tahap ini telah mencapai 35% penyelesaian proyek. Sejalan dengan pandangan Tuzzahra, dkk. yang menyatakan bahwa guru bertanggung jawab memantau aktivitas siswa dalam menyelesaikan tugas proyek garap tari dari awal hingga akhir, siswa telah mencapai tahapan penggabungan gerak tari dengan musik pengiring. Meskipun demikian, ditemukan kendala signifikan terkait ketidaksesuaian pemilihan musik iringan oleh siswa, di mana suasana atau mood musik tidak selaras dengan konsep ide tari tunggal yang digagas. Dalam tahap monitoring, guru mengadakan diskusi untuk menanyakan kembali konsep dan ide yang diajukan oleh siswa. Tujuan dari diskusi ini agar guru dapat memberikan solusi terkait pemecahan masalah terkait pemilihan musik iringan yang sesuai dengan mood penampilan karya yang ingin diwujudkan. Hal ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan masukan mengenai keterkaitan mood musik iringan dengan konsep tari, tetapi juga untuk memastikan keselarasan pola gerak yang dibentuk agar sejalan dengan musik serta merujuk pada makna yang ingin Terkait permasalahan ini, siswa diharapkan mampu menemukan solusi dalam pemilihan musik iringan yang tepat. Pembelajaran garap tari pada kelas XI Seni Tari SMK Negeri 5 Denpasar telah memasuki pertemuan ketujuh, di mana guru memberikan motivasi untuk meningkatkan semangat belajar siswa sebagai acuan dalam penyelesaian tugas proyek garap tari tunggal. Namun demikian, dalam proses pembelajaran ini ditemukan kendala terkait keterlambatan pencapaian target perencanaan proyek, yang meliputi pembentukan karya tari dan integrasinya dengan musik. Tingkat ketercapaian proyek yang seharusnya mencapai 50% belum berhasil dicapai oleh siswa. Pada pertemuan ini, guru tidak dapat memonitor perkembangan proyek garapan tari yang dihasilkan oleh sebagian siswa. I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari Gambar 3. Guru dan siswa memonitor perkembangan proyek garap tari. (Sumber : Dok. Bagus Kawiantara, 2. Beberapa faktor menyebabkan ketidak tercapaian target tersebut. Pertama, sebagian siswa menghadapi kendala keterbatasan waktu belajar akibat keharusan mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan eksternal. Kedua, masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan gerak tari dengan musik pengiring, yang berdampak pada ketidaksesuaian pencapaian proyek dengan target yang telah ditetapkan. Dalam upaya memonitor perkembangan proyek garapan tari tunggal, guru secara berkelanjutan memotivasi siswa untuk menyelesaikan proyek dan mengambil keputusan yang selaras dengan target yang telah ditentukan. Selanjutnya, guru menginstruksikan agar pada pertemuan berikutnya, siswa dapat mencapai 75% ketercapaian proyek. Sebagaimana dinyatakan oleh Wena . , kualitas suatu keputusan yang digunakan sebagai solusi sangat penting, dan hal ini juga bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas kreatif serta kemampuan pemecahan masalah siswa dalam melaksanakan percobaan dan mengembangkan proyek garapan tari tunggal. Selanjutnya, pada pertemuan kedelapan , guru menanyakan kendala apa saja yang dialami siswa dalam perkembangan proyek garapan tari. Namun, sebelum memberikan umpan balik, guru ingin memantau terlebih dahulu ketercapaian proyek yang telah ditentukan pada pertemuan Oleh karena itu siswa diberikan kesempatan untuk mempresentasikan perkembangan proyek garapan tari tunggal yang telah mereka buat. Setelah mengamati perkembangan tersebut, guru mengajak siswa untuk berdiskusi dan melakukan tanya jawab mengenai permasalahan yang dihadapi serta cara pemecahannya. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap karya yang telah dibentuk, terdapat beberapa catatan Pertama, konsep atau ide karya harus dapat divisualisasikan ke dalam gerakan yang telah disusun dalam setiap karya. Pemilihan pola gerak juga mempengaruhi makna yang sesuai dengan ide, sementara tempo musik iringan perlu disesuaikan dengan aksen di setiap bagian agar tercipta keselarasan antara musik, gerak, dan suasana yang diinginkan. Selanjutnya, karakter yang ingin ditampilkan dalam karya garapan tari juga sangat penting. Dalam penyajian tari tunggal, kemunculan karakter dari masing-masing cerita harus dapat diwujudkan oleh siswa I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari sesuai dengan konsep ide yang telah mereka buat. Setelah itu, siswa diberikan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang telah mereka ciptakan, mulai dari kemunculan karakter tari hingga makna gerak serta komponen tari lainnya yang telah dibentuk. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan siswa dalam bertanggung jawab dan berpikir kritis terhadap proyek garapan tari tunggal. Pada pertemuan kesembilan ini, guru melanjutkan pemantauan perkembangan proyek garapan tari, di mana ketercapaian proyek dalam proses pembelajaran harus mencapai 85%. Target ketercapaian karya mencakup penyelesaian karya garapan tari tunggal oleh masing-masing siswa dari awal hingga akhir, serta penggunaan properti yang diperlukan telah dipergunakan dalam Sebelum penilaian akhir karya, siswa diberikan kesempatan untuk melakukan uji kelayakan proyek. Menurut Nasaban, dkk. pelaksanaan uji kelayakan bertujuan untuk mengukur pencapaian Dalam hal ini, guru menilai kelayakan proyek garapan tari yang dihasilkan oleh siswa. Tujuannya adalah untuk melihat sejauh mana kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam bertanggung jawab atas karya yang telah mereka buat, serta memberikan masukan terkait kekurangan yang muncul dalam perkembangan proyek guna memaksimalkan hasil produksi garapan tari tunggal. Gambar 3. Penilaian kelayakan proyek garap tari sebelum melakukan pementasan. (Sumber : Dok. Bagus Kawiantara, 2. Berdasarkan hasil pengamatan kelayakan ini, jika proyek sesuai dengan standar ketercapaian yang ditargetkan, siswa dapat dinyatakan melanjutkan ke tahap akhir untuk mempresentasikan proyek hasil garapan tari tunggal. Presentasi ini akan dilakukan sesuai dengan ide dan konsep kreativitas masing-masing siswa dalam bentuk penampilan sepenuhnya di atas pentas. Pada pertemuan kesepuluh pembelajaran garap tari di kelas XI Seni Tari SMK Negeri 5 Denpasar, guru mempersilahkan siswa untuk mempersiapkan diri terkait keperluan pentas. Selain presentasi hasil proyek berupa penampilan tari, guru juga menginstruksikan siswa untuk I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari mengumpulkan laporan hasil proyek sebagai tugas tulis. Selanjutnya, guru mengarahkan siswa untuk melakukan presentasi hasil proyek. Tuzzahra, dkk. 9 menyatakan presentasi hasil adalah tahap di mana siswa melakukan finalisasi proyek yang diyakini sesuai dengan harapan dan publikasi proyek. Siswa menampilkan pencapaian hasil proyek secara 100% sesuai dengan konsep, ide, tema, bentuk, dan musik iringan yang menjadi elemen dalam pembentukan karya garap tari tunggal. Setelah siswa menampilkan hasil proyek pada tahap akhir model Project Based Learning dalam pembelajaran garap tari, guru memberikan apresiasi dan evaluasi terhadap proyek tersebut. Menurut Wicaksono, dkk. , setelah mencapai titik tertentu dalam proyek, siswa dan guru melakukan evaluasi untuk menilai kemajuan dan kualitas pekerjaan yang telah dilakukan. Dalam proses evaluasi proyek garapan tari, guru memberikan tanggapan serta merefleksikan hasil proyek tari yang ditampilkan oleh siswa. Guru menyimpulkan bahwa proyek pembelajaran garapan tari di kelas XI Seni Tari SMK Negeri 5 Denpasar telah mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan kritis dalam menyelesaikan penugasan garap tari tunggal. Berdasarkan hasil proyek yang telah ditampilkan dan pengamatan perkembangan siswa di setiap tahapan proses pembelajaran, guru dapat memberikan penilaian yang objektif terhadap perkembangan belajar siswa dalam mata pelajaran garap tari dengan model Project Based Learning. Gambar 4. Pementasan hasil proyek garap tari. (Sumber : Dok. Bagus Kawiantara, 2. Berdasarkan hasil pengamatan dalam penelitian ini, penerapan pembelajaran berbasis proyek di SMK Negeri 5 Denpasar menunjukkan efektivitas yang signifikan, serta memberikan peningkatan yang nyata terhadap proses dan hasil pembelajaran garap tari yang dicapai oleh siswa. Sebagai model pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi siswa, penerapan model Project-Based Learning (PBL) pada mata pelajaran garap tari di kelas XI Seni Tari SMK Negeri 5 Denpasar memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaannya. Hal ini sejalan dengan temuan yang dikemukakan oleh Tuzzahra dkk . , yang mengidentifikasi beberapa kelebihan dan kekurangan penerapan model PJBL dalam konteks pembelajaran seni. I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari antaranya, kelebihan model PBL mencakup: . Kemampuan untuk melatih dan meningkatkan motivasi belajar siswa, serta mendorong pengembangan keterampilan pemecahan masalah. Mewujudkan siswa menjadi lebih aktif dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang . Mengasah kreativitas dan keterampilan komunikasi siswa. Memberikan pengalaman belajar yang lebih komprehensif, yang dirancang untuk mendukung perkembangan berkelanjutan di dunia nyata. Menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis, sehingga proses pembelajaran tidak bersifat monoton (Tuzzahra dkk, 2019:. Selain berbagai kelebihan yang dimiliki oleh model Project-Based Learning (PBL), terdapat pula beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan dalam penerapannya. Kekurangan-kekurangan tersebut antara lain: . Terbentuknya sikap aktif siswa yang terkadang dapat menciptakan situasi pembelajaran yang kurang kondusif. Munculnya siswa yang kurang aktif dalam kerja kelompok, yang dapat menghambat efektivitas kolaborasi. Memerlukan waktu yang cukup lama dalam penyelesaian proyek, yang dapat berdampak pada keterbatasan waktu dalam menyelesaikan materi lainnya. Kemungkinan timbulnya rasa bosan pada siswa selama tahapan pembelajaran yang berlangsung lama. Menimbulkan biaya yang relatif tinggi dalam pembuatan tugas berbasis proyek (Tuzzahra dkk, 2019:. Meskipun demikian, penerapan model Project-Based Learning dalam pembelajaran garap tari di kelas XI SMK Negeri 5 Denpasar terbukti menjadi pilihan yang tepat bagi guru dalam melaksanakan pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Berdasarkan pengamatan peneliti, penerapan model ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa, terutama dalam aspek tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas dalam menyelesaikan tugas proyek garap tari. Dengan demikian, meskipun terdapat beberapa tantangan dalam implementasinya, model PBL memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kualitas pembelajaran di kelas. PENUTUP Penelitian ini mengkaji implementasi model Project-Based Learning (PJBL) dalam pembelajaran garap tari di kelas XI Seni Tari SMK Negeri 5 Denpasar, dengan tujuan menganalisis proses pembelajaran serta dampaknya terhadap peningkatan kualitas dan prestasi belajar siswa. Model PJBL menempatkan siswa sebagai subjek aktif, mendorong mereka untuk merancang, merealisasikan, dan merefleksikan proyek nyata berupa karya tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PJBL efektif dalam mendorong keterlibatan aktif siswa pada setiap tahapan pembelajaran, mulai dari perencanaan hingga evaluasi proyek tari. Selain itu, pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual, tetapi juga melatih kemampuan pemecahan masalah, kolaborasi, kreativitas, inovasi, dan berpikir kritis siswa. Model ini juga memfasilitasi siswa dalam menerapkan teori tari dalam situasi nyata dan memperkuat keterampilan teknis. Dampak positif dari implementasi PJBL ini menegaskan bahwa model ini layak dijadikan alternatif dalam pembelajaran seni di SMK. Lebih lanjut, penelitian ini memberikan manfaat yang lebih luas dengan menjadi rujukan bagi institusi pendidikan lain dalam mengembangkan strategi pembelajaran inovatif yang kontekstual dan relevan dengan tuntutan dunia kerja di bidang seni Dengan demikian, penerapan PJBL diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang lebih siap secara profesional, kreatif, dan adaptif terhadap dinamika industri seni yang terus I Nyoman Bagus Kawiantara Jayastha. Trisna Ardanari Adipurwa & Kadek Diah Pramanasari DAFTAR RUJUKAN Hadi. Koreografi (Bentuk. Teknik, dan Is. Yogyakarta: Cipta Media Moloeng. Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nababan Damayanti. Strategi Pembelajaran Project Based Learning (PJBL). Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora, 2. https://publisherqu. com/index. php/pediaqu Rizky Wicaksono. , & Danu Rusmawati. Evaluasi Dalam Project Based Learning. https://doi. org/10. 5281/zenodo. Tuzzahra Raudya. Model Project Based Learning dan Penerapannya (H. Tuzzahra Raudya. Ed. FKIP Univ Bengkulu. Wena. Pembelajaran Berbasis Masalah. Jakarta: Bumi Akasa. Zhang. , & Ma. A study of the impact of project-based learning on student learning effects: a meta-analysis study. Dalam Frontiers in Psychology (Vol. Frontiers Media SA. https://doi. org/10. 3389/fpsyg. Narasumber I Gede Parwata S. Sn, 43 Tahun. Pegawai Negeri Sipil. Jl. Raya Kapal Gg. Sari No. 3 Kapal Mengwi Badung