JURNAL ABDI INSANI Volume 13. Nomor 6. Juni 2026 http://abdiinsani. e-ISSN : 2828-3155. p-ISSN : 2828-4321 IMPLEMENTASI KULTUR SPIRULINA DAN PEMBUATAN TEH KOMBUCHA FORTIFIKASI SPIRULINA UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN PANGAN DI SMK NEGERI 4 PANGKALPINANG Implementation of Spirulina Culture and Spirulina-Fortified Kombucha Tea Production to Enhance Food Security at SMK Negeri 4 Pangkalpinang Hartoyo Notonegoro1*. Ahmad Fahrul Syarif2. Salmi Salmi3 Program Studi Perikanan Tangkap Universitas Bangka Belitung, 2Program Studi Akuakultur Universitas Bangka Belitung, 3Program Studi Kedokteran Universitas Bangka Belitung Gang IV No. Balun Ijuk. Kec. Merawang. Kabupaten Bangka. Kepulauan Bangka Belitung 33172 Alamat korespondensi : hartoyonotonegoro@ubb. (Tanggal Submission: 22 Mei 2026. Tanggal Accepted : 29 Juni 2. Kata Kunci : Abstrak : Ketahanan Pangan. Spirulina. Kombucha. Pangan Fungsional. Sekolah Kejuruan Ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal merupakan isu strategis yang perlu direspons melalui inovasi pangan fungsional yang mudah diaplikasikan di tingkat pendidikan dan masyarakat. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi mikroalga Spirulina platensis yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pangan bernilai gizi tinggi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru dan siswa SMK Negeri 4 Pangkalpinang dalam melakukan kultur Spirulina dan memproduksi teh kombucha fortifikasi Spirulina sebagai upaya penguatan ketahanan pangan dan pembelajaran berbasis teaching factory. Metode kegiatan meliputi sosialisasi pangan fungsional, pelatihan teknis kultur Spirulina, pemanenan dan pengeringan biomassa, pelatihan fermentasi teh kombucha, serta fortifikasi Spirulina ke dalam produk minuman fungsional. Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif melalui pendampingan langsung di laboratorium pengolahan pangan sekolah. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam kultur mikroalga dan fermentasi Mitra berhasil memproduksi biomassa Spirulina serta teh kombucha fortifikasi Spirulina dengan kualitas yang layak konsumsi dan bernilai jual. Selain itu, kegiatan ini mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas laboratorium sekolah dan mendukung pengembangan produk inovatif berbasis potensi lokal. Kegiatan pengabdian ini disimpulkan efektif dalam meningkatkan kapasitas mitra, mendukung ketahanan pangan lokal, serta memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pendidikan vokasi dalam pengembangan pangan fungsional berbasis bioteknologi sederhana. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Notonegoro et al. , 1141 Key word : Abstract : Food Security. Spirulina. Kombucha. Functional Food. Vocational School Local resourceAebased food security is a strategic issue that requires innovative functional food solutions applicable at educational and community levels. The Bangka Belitung Islands Province has significant potential for microalgae Spirulina platensis, which remains underutilized as a high-nutritional food This community service program aimed to enhance the capacity of teachers and students at SMK Negeri 4 Pangkalpinang in cultivating Spirulina and producing Spirulina-fortified kombucha tea to support food security and teaching factoryAebased learning. The program employed participatory methods, including functional food socialization, technical training on Spirulina cultivation, harvesting and drying of biomass, kombucha fermentation, and Spirulina fortification into functional beverages. Activities were conducted through hands-on assistance in the schoolAos food processing laboratory. The results demonstrated a significant improvement in participantsAo knowledge and technical skills related to microalgae cultivation and food fermentation. The partners successfully produced Spirulina biomass and Spirulina-fortified kombucha tea with acceptable quality and market potential. Furthermore, the program optimized the utilization of school laboratory facilities and supported the development of innovative local-based food products. In conclusion, this community service program effectively strengthened partner capacity, contributed to local food security, and reinforced collaboration between higher education institutions and vocational schools in developing functional foods based on simple biotechnology. Panduan sitasi / citation guidance (APPA 7th editio. Notonegoro. Syarif. , & Salmi. Implementasi Kultur Spirulina Dan Pembuatan Teh Kombucha Fortifikasi Spirulina Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Di SMK Negeri 4 Pangkalpinang. Jurnal Abdi Insani, 13. , https://doi. org/10. 29303/abdiinsani. PENDAHULUAN Ketahanan pangan merupakan isu strategis nasional yang berkaitan langsung dengan ketersediaan, akses, dan pemanfaatan pangan bergizi secara berkelanjutan. Tantangan ketahanan pangan tidak hanya terjadi pada tingkat rumah tangga dan masyarakat, tetapi juga pada institusi pendidikan vokasi yang memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia terampil di bidang pangan dan agribisnis. Pengembangan pangan fungsional berbasis sumber daya lokal juga dinilai strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan diversifikasi produk pangan di tingkat pendidikan dan masyarakat (Widowati & Nuraeni, 2020. Septiani et al. , 2. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai wilayah kepulauan dengan basis sumber daya kelautan yang kuat memiliki potensi besar untuk mengembangkan pangan fungsional berbasis sumber daya lokal salah satunya mikroalga Spirulina platensis (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2. Spirulina platensis dikenal sebagai mikroalga dengan kandungan nutrisi tinggi terutama protein, asam amino esensial, vitamin, mineral, serta senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan dan Spirulina platensis telah direkomendasikan secara global sebagai sumber pangan alternatif yang berkelanjutan karena kandungan gizinya yang tinggi dan potensinya dalam mendukung sistem pangan masa depan (FAO, 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Spirulina berpotensi besar dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional untuk mendukung kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat (Habib et al. , 2021. Wu et al. , 2. Namun demikian, pemanfaatan Spirulina di tingkat pendidikan menengah kejuruan masih relatif terbatas khususnya dalam bentuk produk pangan inovatif yang aplikatif dan bernilai ekonomi. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Notonegoro et al. , 1142 Teh kombucha merupakan produk fermentasi berbasis teh yang dihasilkan melalui aktivitas simbiotik bakteri dan ragi (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast/SCOBY). Kombucha telah dilaporkan memiliki berbagai manfaat kesehatan antara lain aktivitas antioksidan, antimikroba, serta potensi meningkatkan kesehatan pencernaan (Jayabalan et al. , 2. Pengembangan kombucha sebagai minuman fungsional menjadi semakin relevan ketika dipadukan dengan bahan fortifikasi alami seperti Spirulina sehingga menghasilkan produk pangan fungsional dengan nilai gizi dan daya tarik pasar yang lebih tinggi (Kumar et al. , 2. SMK Negeri 4 Pangkalpinang merupakan sekolah menengah kejuruan yang memiliki program keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan dan Agribisnis Perikanan Air Tawar. Sekolah ini memiliki fasilitas laboratorium pengolahan pangan yang berpotensi mendukung pengembangan produk pangan inovatif. Namun, berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan pihak sekolah diketahui bahwa pemanfaatan fasilitas tersebut belum optimal. Guru dan siswa masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam kultur Spirulina serta pengolahan pangan modern berbasis fermentasi seperti pembuatan teh kombucha. Produk yang dihasilkan selama ini masih didominasi oleh olahan konvensional hasil perikanan sehingga peluang diversifikasi produk bernilai tambah belum tergarap secara maksimal. Keterbatasan literasi pangan fungsional dan teknologi pengolahan modern di tingkat SMK berimplikasi pada rendahnya inovasi produk serta kurang optimalnya penerapan model pembelajaran berbasis teaching factory. Integrasi kegiatan produksi pangan fungsional ke dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kompetensi teknis, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan siswa (Rahmawati et al. , 2. Oleh karena itu diperlukan upaya pendampingan yang sistematis untuk memperkenalkan teknologi tepat guna yang sederhana, aplikatif, dan berbasis potensi lokal. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk mengimplementasikan kultur Spirulina platensis dan pembuatan teh kombucha fortifikasi Spirulina di SMK Negeri 4 Pangkalpinang. Pendekatan pendampingan berbasis teknologi tepat guna melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian mitra, sebagaimana dilaporkan oleh Scabra & Setyowati . dalam kegiatan pengabdian pada sektor perikanan air tawar. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru serta siswa tetapi juga mendorong terciptanya produk pangan fungsional inovatif yang mendukung ketahanan pangan lokal. Program ini juga diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas laboratorium sekolah serta memperkuat sinergi antara Universitas Bangka Belitung dan pendidikan vokasi dalam pengembangan teknologi pangan berbasis bioteknologi sederhana. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah: . meningkatkan kapasitas guru dan siswa dalam teknik kultur, pemanenan, dan pengeringan Spirulina, . meningkatkan keterampilan mitra dalam pembuatan teh kombucha fortifikasi Spirulina sebagai produk pangan fungsional, dan . mendukung pengembangan pembelajaran teaching factory serta ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal. Melalui kegiatan ini diharapkan SMK Negeri 4 Pangkalpinang dapat menjadi embrio pusat pembelajaran dan inovasi pangan fungsional yang berkelanjutan. METODE KEGIATAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif dan aplikatif yang menempatkan mitra sebagai subjek aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Metode yang digunakan dirancang untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan mitra secara berkelanjutan melalui kombinasi sosialisasi, pelatihan teknis, pendampingan, serta optimalisasi fasilitas laboratorium sekolah. Pendekatan ini dinilai efektif dalam kegiatan pengabdian berbasis pendidikan vokasi karena memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan dan keterampilan secara langsung . earning by doin. Waktu dan Tempat Kegiatan Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2025. Lokasi kegiatan bertempat di SMK Negeri 4 Pangkalpinang. Kelurahan Temberan. Kecamatan Bukit Intan. Kota Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Notonegoro et al. , 1143 Pangkalpinang. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan di lingkungan sekolah khususnya pada laboratorium pengolahan pangan yang dimiliki oleh mitra. Objek dan Sasaran Kegiatan Objek kegiatan pengabdian ini adalah proses kultur Spirulina platensis dan pembuatan teh kombucha fortifikasi Spirulina sebagai produk pangan fungsional. Sasaran kegiatan meliputi guru dan siswa SMK Negeri 4 Pangkalpinang pada program keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan dan Agribisnis Perikanan Air Tawar. Sasaran dipilih berdasarkan kesesuaian kompetensi keahlian dengan tema pengabdian serta potensi keberlanjutan penerapan teknologi yang diberikan di lingkungan sekolah. Metode Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan melalui beberapa tahapan utama, yaitu sebagai . Sosialisasi dan Edukasi Pangan Fungsional Tahap awal kegiatan berupa sosialisasi yang bertujuan untuk meningkatkan literasi guru dan siswa mengenai pangan fungsional berbasis mikroalga dan produk fermentasi. Materi sosialisasi mencakup pengenalan Spirulina platensis sebagai mikroalga bergizi tinggi, potensi pemanfaatannya sebagai bahan pangan fungsional, prinsip dasar kultur Spirulina, serta pengenalan teh kombucha sebagai minuman fermentasi yang memiliki manfaat kesehatan. Kegiatan ini dilakukan secara klasikal melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif untuk menggali pemahaman awal peserta. Pelatihan dan Pendampingan Kultur Spirulina Tahap berikutnya adalah pelatihan teknis kultur Spirulina platensis yang dilakukan secara langsung di laboratorium sekolah. Kegiatan ini meliputi persiapan media kultur, inokulasi bibit Spirulina, pemeliharaan kultur, serta teknik pemanenan dan pengeringan biomassa. Pendampingan dilakukan secara intensif oleh tim pengabdi dengan melibatkan mahasiswa untuk memastikan peserta mampu memahami dan mempraktikkan setiap tahapan kultur secara mandiri. Metode praktik langsung ini bertujuan meningkatkan keterampilan teknis serta pemahaman prinsip bioteknologi sederhana yang aplikatif di lingkungan sekolah (Habib et al. , 2. Pelatihan Pembuatan Teh Kombucha Fortifikasi Spirulina Setelah peserta memahami proses produksi Spirulina, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan teh kombucha dan fortifikasi Spirulina. Pelatihan mencakup tahapan persiapan bahan, proses fermentasi teh menggunakan Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY), serta penambahan Spirulina sebagai bahan fortifikasi. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai sanitasi, keamanan pangan, dan pengendalian mutu produk selama proses Tahap ini bertujuan menghasilkan produk minuman fungsional yang memiliki nilai gizi dan nilai ekonomi serta relevan dengan tren pangan sehat (Jayabalan et al. , 2. Optimalisasi Fasilitas Laboratorium Upaya mendukung keberlanjutan kegiatan maka dilakukan optimalisasi fasilitas laboratorium pengolahan pangan di SMK Negeri 4 Pangkalpinang. Kegiatan ini meliputi penyediaan dan penataan peralatan pendukung kultur Spirulina dan pembuatan teh kombucha, seperti rak kultur, wadah fermentasi, aerator, serta bahan pendukung lainnya. Optimalisasi fasilitas ini diharapkan dapat mendukung penerapan pembelajaran berbasis teaching factory dan mendorong sekolah sebagai pusat pembelajaran pangan fungsional berbasis potensi lokal. Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas kegiatan pengabdian dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung, diskusi, serta pengisian kuesioner dengan skala Likert sebelum dan setelah kegiatan. Hasil evaluasi digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta, keterampilan teknis yang diperoleh, serta kesiapan mitra dalam menerapkan teknologi yang diberikan secara mandiri dan berkelanjutan. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Notonegoro et al. , 1144 HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMK Negeri 4 Pangkalpinang menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan, keterampilan teknis, serta pemanfaatan fasilitas laboratorium sekolah dalam pengembangan pangan fungsional berbasis potensi lokal. Hasil kegiatan disajikan dan dibahas sesuai dengan tahapan metode pelaksanaan yang telah dilakukan, meliputi sosialisasi pangan fungsional, kultur Spirulina platensis, pembuatan teh kombucha fortifikasi Spirulina, serta optimalisasi laboratorium pengolahan pangan. Peningkatan Literasi Pangan Fungsional Berbasis Spirulina Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada tahap awal memberikan dampak positif terhadap peningkatan literasi guru dan siswa mengenai konsep pangan fungsional dan pemanfaatan mikroalga Spirulina platensis. Melalui penyampaian materi secara klasikal dan diskusi interaktif, peserta memperoleh pemahaman mengenai karakteristik Spirulina sebagai mikroalga bernilai gizi tinggi, potensi aplikasinya dalam produk pangan fungsional, serta relevansinya dalam mendukung ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal. Tahap sosialisasi ini berperan sebagai fondasi konseptual sebelum peserta mengikuti pelatihan teknis kultur Spirulina dan pembuatan teh kombucha fortifikasi Spirulina. Pelaksanaan sosialisasi dan edukasi pangan fungsional yang melibatkan guru dan siswa SMK Negeri 4 Pangkalpinang ditunjukkan pada Gambar 1, yang menggambarkan suasana pemaparan materi dan interaksi aktif antara tim pengabdi dan peserta. Tingginya tingkat kehadiran serta perhatian peserta selama kegiatan menunjukkan antusiasme yang besar terhadap topik inovasi pangan berbasis Kondisi ini mengindikasikan bahwa materi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan pembelajaran vokasi dan potensi pengembangan produk pangan di lingkungan sekolah. Gambar 1. Kegiatan Sosialisasi dan Peningkatan Literasi Pangan Fungsional Berbasis Spirulina platensis kepada Guru dan Siswa SMK Negeri 4 Pangkalpinang Peningkatan literasi pangan fungsional yang diperoleh peserta menjadi aspek penting dalam mendorong perubahan pola pikir dari sekadar konsumen menjadi calon produsen pangan inovatif berbasis potensi lokal. Pemahaman awal mengenai kandungan gizi, manfaat kesehatan, dan peluang pengolahan Spirulina memberikan motivasi bagi peserta untuk mengikuti tahapan pelatihan selanjutnya secara lebih aktif. Temuan ini sejalan dengan Habib et al. yang menyatakan bahwa edukasi yang terstruktur dan kontekstual merupakan faktor kunci dalam meningkatkan adopsi pemanfaatan Spirulina di tingkat pendidikan dan masyarakat. Kemampuan Mitra dalam Kultur dan Produksi Biomassa Spirulina Pelatihan dan pendampingan kultur Spirulina platensis memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kemampuan teknis guru dan siswa dalam memproduksi biomassa mikroalga secara Peserta dilatih mulai dari persiapan media, inokulasi bibit, pemeliharaan kultur, hingga proses pemanenan dan pengeringan Spirulina. Pendekatan praktik langsung di laboratorium sekolah Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Notonegoro et al. , 1145 memungkinkan peserta memahami prinsip bioteknologi sederhana yang aplikatif dan sesuai dengan konteks pembelajaran vokasi. Pelaksanaan kegiatan kultur Spirulina yang melibatkan guru dan siswa SMK Negeri 4 Pangkalpinang ditunjukkan pada Gambar 2, yang memperlihatkan kondisi kultur Spirulina aktif berwarna hijau pekat serta keterlibatan peserta dalam proses pengelolaan kultur di laboratorium. Visualisasi tersebut menunjukkan bahwa mitra telah mampu mengoperasikan peralatan kultur, menjaga kondisi media, serta memahami tahapan produksi biomassa Spirulina secara berkelanjutan. Kegiatan ini juga mencerminkan pemanfaatan fasilitas laboratorium sekolah secara optimal sebagai sarana pembelajaran berbasis praktik. Gambar 2. Kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Kultur Spirulina platensis Serta Hasil Produksi Biomassa Spirulina Bersama Guru dan Siswa SMK Negeri 4 Pangkalpinang Keberhasilan mitra dalam menghasilkan biomassa Spirulina menunjukkan bahwa teknologi kultur mikroalga dapat diterapkan secara efektif di lingkungan sekolah dengan sarana yang relatif Hasil ini sejalan dengan Kumar et al. yang menyatakan bahwa Spirulina merupakan mikroalga yang mudah dibudidayakan dan memiliki potensi besar sebagai sumber pangan fungsional. Selain meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam mengembangkan produk pangan inovatif berbasis sumber daya lokal. Produksi Teh Kombucha Fortifikasi Spirulina sebagai Produk Inovatif Pelatihan pembuatan teh kombucha fortifikasi Spirulina platensis menghasilkan produk minuman fungsional yang inovatif dan bernilai tambah bagi mitra. Guru dan siswa dilatih secara langsung mengenai tahapan fermentasi teh kombucha menggunakan Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY), mulai dari persiapan bahan, proses fermentasi, hingga tahap fortifikasi Spirulina pada produk akhir. Aspek fermentasi pangan memerlukan perhatian terhadap keamanan dan mutu produk agar layak konsumsi dan berkelanjutan dalam pengembangan pangan fungsional (Sari & Nugroho, 2019. Suyani & Rahayu, 2. Kegiatan ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai prinsip fermentasi pangan serta penerapan sanitasi dan keamanan pangan dalam proses Proses produksi dan hasil produk teh kombucha fortifikasi Spirulina yang dihasilkan oleh mitra disajikan pada Gambar 3, yang menunjukkan botol produk AuKombuLinaAy serta aktivitas siswa dalam proses fermentasi dan penanganan produk di laboratorium sekolah. Visualisasi ini menggambarkan bahwa mitra telah mampu menghasilkan produk minuman fungsional dengan karakteristik warna hijau alami, yang mencerminkan keberhasilan fortifikasi Spirulina dalam kombucha. Selain itu, keterlibatan aktif siswa dalam setiap tahapan produksi menunjukkan penerapan pembelajaran berbasis praktik yang relevan dengan konsep teaching factory. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Notonegoro et al. , 1146 Gambar 3. Proses Produksi dan Hasil Teh kombucha fortifikasi Spirulina platensis sebagai Produk Inovatif bersama Guru dan Siswa SMK Negeri 4 Pangkalpinang Pengembangan teh kombucha fortifikasi Spirulina ini memperkuat upaya diversifikasi produk pangan fungsional di lingkungan sekolah. Kombucha diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba yang dihasilkan selama proses fermentasi, sementara penambahan Spirulina berkontribusi terhadap peningkatan kandungan protein dan senyawa bioaktif produk (Jayabalan et al. Wu et al. , 2. Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai produk kewirausahaan sekolah yang mendukung ketahanan pangan lokal. Optimalisasi Laboratorium dan Penguatan Teaching Factory Optimalisasi fasilitas laboratorium pengolahan pangan menjadi salah satu capaian penting dalam kegiatan ini. Penyediaan dan penataan peralatan kultur Spirulina dan fermentasi kombucha memungkinkan laboratorium sekolah dimanfaatkan secara lebih produktif sebagai sarana pembelajaran dan produksi. Laboratorium tidak lagi berfungsi semata sebagai ruang praktikum, tetapi berkembang menjadi ruang pembelajaran berbasis produksi . eaching factor. Model pembelajaran ini dinilai efektif dalam meningkatkan keterampilan vokasional dan jiwa kewirausahaan siswa. Rahmawati et al. menegaskan bahwa pengembangan produk pangan fungsional di lingkungan 1147ocal1147ikan dapat meningkatkan daya saing lulusan serta membuka peluang ekonomi baru berbasis inovasi. Dalam konteks ini, produk the kombucha fortifikasi Spirulina berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan sekolah dan media pembelajaran kewirausahaan. Evaluasi Peningkatan Pengetahuan dan Persepsi Mitra terhadap Inovasi Pangan Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan untuk mengukur perubahan pengetahuan, persepsi, dan motivasi mitra setelah mengikuti rangkaian sosialisasi dan pelatihan. Instrumen evaluasi yang digunakan berupa kuesioner dengan skala Likert empat tingkat, yaitu 1 . idak bai. , 2 . urang bai. , 3 . ukup bai. , dan 4 . Hasil rekapitulasi tanggapan mitra terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Kuesioner Evaluasi Pengetahuan dan Persepsi Mitra terhadap Kultur Spirulina platensis dan Fermentasi Kombucha Skala pengukuran (%) Pernyataan 1 2 3 Informasi kultur Spirulina dan fermentasi kombucha tergolong baru 41,7 58,3 bagi mitra Alat kultur Spirulina dan fermentasi kombucha sesuai kebutuhan inovasi pangan mitra Mitra memperoleh wawasan baru terkait kultur Spirulina dan 16,7 83,3 fermentasi kombucha Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Notonegoro et al. , 1147 Kultur Spirulina dan fermentasi kombucha bermanfaat dalam inovasi Kultur Spirulina dan fermentasi kombucha memiliki manfaat jangka Keberlanjutan program pengabdian diperlukan untuk inovasi pangan Mitra termotivasi memanfaatkan kultur Spirulina dan fermentasi Pemahaman mitra terhadap kultur Spirulina dan fermentasi kombucha meningkat Berdasarkan Tabel 1, sebagian besar responden memberikan penilaian pada skala 3 dan 4 untuk seluruh pernyataan yang diajukan. Pada pernyataan mengenai kebaruan informasi kultur Spirulina dan fermentasi kombucha, sebanyak 58,3% responden menyatakan pada skala baik dan 41,7% pada skala cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang diberikan tergolong baru bagi mitra dan mampu memperluas wawasan terkait inovasi pangan berbasis mikroalga dan fermentasi. Peningkatan wawasan mitra terlihat lebih kuat pada pernyataan ketiga, di mana 83,3% responden menyatakan bahwa mereka memperoleh wawasan baru terkait kultur Spirulina dan fermentasi Persentase ini mengindikasikan efektivitas metode sosialisasi dan pelatihan yang diterapkan dalam mentransfer pengetahuan baru kepada mitra. Temuan ini sejalan dengan Habib et . yang menyatakan bahwa pelatihan berbasis praktik langsung mampu meningkatkan pemahaman peserta terhadap teknologi mikroalga secara signifikan. Aspek kebermanfaatan dan keberlanjutan inovasi pangan juga memperoleh respons positif dari mitra. Sebanyak 66,7% responden menilai bahwa kultur Spirulina dan fermentasi kombucha bermanfaat dalam inovasi pangan, sementara 50% responden menilai manfaat jangka panjangnya pada kategori baik. Tingginya penilaian terhadap aspek keberlanjutan program, dengan 91,7% responden menyatakan sangat setuju bahwa keberlanjutan pengabdian diperlukan, menunjukkan adanya kebutuhan mitra terhadap pendampingan lanjutan dalam pengembangan produk pangan Peningkatan motivasi dan pemahaman mitra juga tercermin dari pernyataan ketujuh dan Sebanyak 58,3% responden menyatakan termotivasi untuk memanfaatkan kultur Spirulina dan fermentasi kombucha, sedangkan 75% responden menyatakan pemahaman mereka meningkat setelah kegiatan pengabdian. Hasil ini menegaskan bahwa kegiatan pengabdian tidak hanya meningkatkan pengetahuan kognitif, tetapi juga membangun sikap positif dan kesiapan mitra dalam mengimplementasikan inovasi pangan berbasis potensi lokal. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian ini efektif dalam meningkatkan literasi, keterampilan, dan motivasi mitra terhadap pemanfaatan Spirulina dan teknologi fermentasi Evaluasi ini memperkuat temuan sebelumnya bahwa pendekatan pelatihan partisipatif dan berbasis praktik sangat relevan diterapkan pada pendidikan vokasi untuk mendukung pengembangan teaching factory dan ketahanan pangan lokal (Rahmawati et al. , 2. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya terlihat dari luaran fisik berupa produk, tetapi juga dari perubahan persepsi dan kesiapan mitra dalam mengembangkan inovasi pangan secara berkelanjutan. Implikasi terhadap Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Pendidikan Vokasi Secara keseluruhan pada kegiatan pengabdian ini memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ketahanan pangan lokal melalui pemanfaatan sumber daya mikroalga Spirulina platensis dan teknologi fermentasi kombucha yang aplikatif. Guru dan siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis mengenai pangan fungsional, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran dan produksi di lingkungan sekolah. Integrasi kegiatan pengabdian ke dalam proses pembelajaran berbasis teaching factory memperkuat peran pendidikan vokasi sebagai wahana pengembangan inovasi pangan yang kontekstual, produktif, dan berorientasi pada kemandirian pangan. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Notonegoro et al. , 1148 Penguatan peran SMK dalam pengembangan inovasi pangan berbasis potensi lokal juga berkontribusi terhadap peningkatan keterampilan dan kesiapan kewirausahaan peserta didik sebagai bagian dari peningkatan daya saing lulusan pendidikan vokasi (Hidayat & Sutrisno, 2021. Pratiwi & Handayani, 2. Sinergi antara perguruan tinggi dan SMK yang terbangun dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan teknologi tepat guna berbasis potensi daerah. Inovasi pangan berbasis sekolah kejuruan juga berperan penting dalam memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pengembangan keterampilan dan kewirausahaan siswa (Utami & Lestari, 2. Model pengabdian yang mengombinasikan edukasi, pelatihan, dan pendampingan produksi pangan fungsional ini berpotensi untuk direplikasi pada institusi pendidikan vokasi lainnya. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas mitra secara lokal, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan sistem pendidikan vokasi sebagai pilar pembangunan ketahanan pangan yang KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui implementasi kultur Spirulina platensis dan pembuatan teh kombucha fortifikasi Spirulina di SMK Negeri 4 Pangkalpinang berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru serta siswa dalam pengembangan pangan fungsional berbasis potensi lokal. Tujuan kegiatan tercapai, ditunjukkan oleh kemampuan mitra dalam melakukan kultur Spirulina, memproduksi teh kombucha fortifikasi Spirulina, serta memanfaatkan fasilitas laboratorium sekolah secara optimal sebagai bagian dari pembelajaran berbasis teaching factory. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi langsung terhadap penguatan ketahanan pangan lokal dan pemberdayaan pendidikan vokasi. Saran dapat disampaikan sebagai masukan terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian berikutnya, agar terlaksana dengan lebih baik. Dalam upaya meningkatkan keberlanjutan dan dampak kegiatan, disarankan agar program pengabdian dilanjutkan melalui pendampingan lanjutan yang berfokus pada pengendalian mutu produk, pengembangan variasi produk, serta penguatan aspek kewirausahaan dan pemasaran. Selain itu, integrasi kegiatan produksi pangan fungsional ke dalam kurikulum pembelajaran sekolah perlu diperkuat agar inovasi yang dihasilkan dapat berkelanjutan. Model kegiatan ini juga direkomendasikan untuk direplikasi pada sekolah kejuruan lain dengan karakteristik potensi lokal yang serupa. UCAPAN TERIMA KASIH Tim pengabdi mengucapkan terima kasih kepada Universitas Bangka Belitung melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) atas dukungan pendanaan melalui hibah pengabdian dalam skema Pengabdian kepada Masyarakat Tingkat Universitas (PMTU) Tahun 2025 dengan nomor kontrak 1455/UN50/M/PM/2025 di Universitas Bangka Belitung dan kemudahan administrasi sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada SMK Negeri 4 Pangkalpinang sebagai mitra kegiatan, khususnya kepada kepala sekolah, guru, dan siswa, atas partisipasi aktif dan dukungan selama pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat. DAFTAR PUSTAKA