e-ISSN: 2721-6632 p-ISSN: 2721-6624 Vol 6. No 2. Oktober 2025 . http://sttmwc. id/e-journal/index. php/haggadah THEOPRENEURSHIP DITINJAU DARI KEJADIAN 26:1-14 DAN APLIKASINYA BAGI KELUARGA KRISTEN SUNGAI LILIN KABUPATEN MUSI BANYUASIN Kogilambal, 2Mulina Tarigan STT Misi William Carey, 2STT Misi William Carey kogilambal@gmail. com , mulinatarigan@gmail. Correspondence: kogilambal@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman tentang theopreneursip ditinjau dari Kejadian 26:1-14 dan aplikasinya bagi Keluarga Kristen di Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin. Sampai pertengahan tahun 2021 pandemi Covid- 19 belum juga dapat diatasi secara tuntas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Selain berdampak kepada kematian orang yang terpapar, pandemi ini juga berdampak besar terhadap berbagai bidang, terutama ekonomi masyarakat. Istilah theopreneurship belum begitu umum dikenal orang, sehingga penulis memperhatikan banyak orang Kristen yang masih muda, gagah fisiknya tetapi pengangguran karena tidak mau berwirausaha. Prokontra terkait hubungan gereja dengan theopreneurship tetap ada sampai saat ini, sehingga ada orang Kristen tidak suka bekerja keras, tidak berani bertindak, tidak kreatif dan tidak inovatif. Bagaimanakah pemahaman tentang theopreneursip ditinjau dari Kejadian 26:1-6, 12-14 dan aplikasinya bagi Keluarga Kristen di Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin? Konteks Kejadian 26:1-14 adalah tentang perjanjian Allah dengan Abraham yang diteguhkan kepada Ishak. Dalam ayat 1-6 Ishak tinggal di Gerar karena bencana kelaparan, dan Tuhan memberkati dia di sana. Dalam ayat 7-11 ada kisah sisipan dimana Ishak takut mengakui Ribka sebagai istrinya di depan Abimelekh. Dalam ayat 12-14 Ishak diberkati Tuhan menjadi kaya dan bertambah- tambah kaya sehingga orangorang Filistin iri kepadanya. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif eksegesa, yakni menganalisa teks Alkitab berbahasa Ibrani untuk menemukan etimologi dan sintesis berdasarkan tafsiran ayat demi ayat. Penulis menemukan pemahaman mengenai theopreneursip ditinjau dari Kejadian 26:1-6, 12-14 dan aplikasinya bagi keluarga Kristen di Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin adalah: keluarga Kristen harus bekerja keras, keluarga Kristen harus berani bertindak, keluarga Kristen harus kreatif dan keluarga Kristen harus inovatif. Kata-kata kunci: Theopreneurship, keluarga Kristen PENDAHULUAN Kondisi lemahnya perekonomian Indonesia tampak juga di daerah sekitar tempat tinggal penulis, di Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin. Bahkan sebelum pandemic covid-19 pun, sudah banyak keluarga Kristen yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, apalagi setelah pandemic, mereka yang dulunya sudah kesulitan ekonomi, jadi makin susah, ditambah lagi orang-orang yang dulunya bekerja, sekarang menjadi pengangguran. Dikuatirkan kondisi sulit ini dapat menyebabkan tindakan kejahatan meningkat. Orangorang yang tidak ada pekerjaan, akan mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan Satu hal lagi yang penulis perhatikan, tidak banyak keluarga Kristen yang mampu secara keuangan, mau membantu saudaranya yang kekurangan karena orang yang dibantu menjadi ketergantungan pada pemberian, dan menjadi malas bekerja. Memang ada keluarga Kristen yang dapat dikatakan mampu secara materi atau bahkan kaya. Tetapi jumlahnya pun sedikit, kalau mereka mau membantu saudara-saudaranya yang miskin pun, tidak akan kuat karena jumlah orang yang miskin jauh lebih banyak. Lagipula ada semacam ketakutan, kalau dibantu orang- orang jadi malas dan bahkan ketergantungan menerima bantuan. Pemahaman tentang entreprenurship atau yang dapat disebutkan sebagai kewirausahaan sudah dikenal sejak dahulu dengan istilah wiraswasta. Penulis juga seorang wiraswasta, karena penulis bekerja bersama istri membuka usaha berjualan bunga. Sebagai CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 27 seorang yang berwirausaha, penulis harus bekerja keras, berani bertindak, kreatif dan inovatif agar usaha yang dikerjakan penulis dapat tetap berjalan dan bahkan maju. Selama perkuliahan di STT Misi William Carey penulis mendapatkan pengetahuan bahwa kewirausahaan Kristen dapat disebut juga sebagai theopreneurship. Istilah theopreneurship arti sederhananya adalah berwirausaha sesuai kehendak atau firman Allah. Karena itu konsep wirausaha seorang Kristen harus sesuai dengan Alkitab. Istilah theopreneurship belum begitu umum dikenal orang, sehingga penulis memperhatikan ada orang Kristen yang masih muda, gagah fisiknya tetapi pengangguran karena tidak mau berwirausaha. Tidak ada kegiatan yang mereka lakukan dengan alasan keahliannya adalah kerja kantoran bukan bertani atau berladang dan sebagainya. Mereka tidak mau berwirausaha yaitu membuka usaha sendiri, terlalu bergantung kepada panggilan kerja dari perusahaan atau kantor- kantor. Lama-kelaman karena kebutuhan ekonomi mendesak, akhirnya mereka kerja serabutan ikut orang. Di sini masalahnya adalah kurangnya pemahaman keluarga Kristen tentang kewirausahaan alkitabiah atau theopreneurship ditinjau dari Alkitab dan aplikasinya bagi keluarga Kristen. Penulis adalah seorang wirausaha dan penulis yakin bahwa dalam Alkitab dapat ditemukan pengetahuan tentang theopreneurship. Dalam Alkitab dicatat tentang Ishak yang tetap menjalankan usaha sekalipun di tengah bencana kelaparan yang melanda tanah Kanaan. Ishak melakukannya karena mengikuti perintah Tuhan supaya jangan pergi ke Mesir meninggalkan tanah Kanaan. Akhirnya Tuhan memberkati usaha Ishak dan menjadikannya kaya. Tidak banyak orang yang memberanikan diri membuka usaha, sehingga semakin menambah jumlah masyarakat miskin dan pengangguran di Indonesia. Padahal jika orang Kristen giat dan berani berusaha, niscaya akan menuai hasil meskipun secara perlahan, karena Tuhan pasti menolong, dengan demikian warga gereja dapat menjadi saksi bagi masyarakat di sekitarnya. Mungkin keluarga Kristen sudah sering membaca ayat-ayat Penulis mengamati kurangnya pemahaman sebagian keluarga kristen tentang theopreneurship ditinjau dari alkitab dan aplikasinya bagi keluarga Kristen di Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin, dipihak lain, prokontra terkait hubungan dengan theopreneurship terpadu samai saat in, sehingga tidak ada orang kristen tidak sua bekerja keras, tidak berani bertindak, tidak kreatif dan tidak inovatif. Ada kecenderungan beberapa oknum yang mencap bisnis itu kotor, sehingga seorang pelayan Tuhan apalagi pejabat gereja dilarang untuk berbisnis atau menjalankan usaha di luar pelayanan. Kelompok lainnya justru mendorong para pejabat gereja untuk menjalankan usaha agar dapat mendukung pelayanan dari segi keuangan. Berdasarkan latar belakang inilah, penulis mengangkat judul penelitian: Theopreneurship Ditinjau dari Kejadian 26:1-14 dan Aplikasinya bagi Keluarga Kristen Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin. Kitab Kejadian dituliskan dengan tujuan untuk memberikan suatu pemahaman yang mendasar tentang karya Allah atas alam semesta dan penebusan melalui keturunan Abraham. Kitab ini merupakan kitab yang mengawali seluruh kitab dalam Alkitab, memberikan suatu penjelasan tentang permulaan dari dunia dan segala isinya. Herbert Wolf menjelaskan bahwa kitab Kejadian ditulis sebagai pendahulu atau pengantar untuk keseluruhan Alkitab karena kitab Kejadian memaparkan secara historis tentang asal-usul alam semesta dunia fisik, kehidupan dan kebudayaan manusia dan bangsa Israel1 (Wolf, 2018:. Obadja juga memberikan penjelasan, bahwa tujuan kitab Kejadian ditulis adalah untuk memberikan survei historis singkat tentang wahyu Allah dari sejak awal penciptaan hingga orang Israel dibawa ke Mesir untuk dibentuk menjadi bangsa yang theokratis, melalui pemilihan kovenan Abraham. Kata theopreneurship adalah gabungan kata theos (Yunan. dan entrepreneurship (Inggri. Kata theos berarti Allah, sementara entrepreneurship berarti suatu pendorong dalam daya cipta ide dan kreativitas untuk sebuah perubahan baik secara lambat maupun cepat dan sering dianggap untuk mendapatkan keuntungan bisnis, berkaitan keuangan dan Herbert Wolf. Pengenalan Pentateuhkh. Malang: Gandum Mas, 2018. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 28 pendapatan2 (Tarigan, 2021:. Dua kata itu, theos dan entrepreneurship jarang disatukan karena acapkali dipandang bertentangan satu sama lain. Teologi dipahami selalu tentang peringatan bersifat mengikat dan memberi batasanpada pemikiran, penyesuaian bahkan perkembangan budaya dan kepercayaan. Entrepreneurship dipandang senantiasa berhubungan dengan perubahan gagasan secara ekstrim, perubahan habitat, bahkan perubahan pada apa yang selama ini diyakini. Teologi acapkali dinilai mencurigai bahkan menghambat kreatifitas apalagi perubahan, sementara entrepreneurship sebaliknya justru sangat mendorong dan perubahan . ttp://theopreneurship-yahw. com/2008/11/). Wilayah teologi dianggap sakral, jauh dari uang dan jual-beli. Sebaliknya, wilayah entrepreneurship sering dianggap terutama di dunia bisnis. Dengan memperkenalkan konsep theopreneurship, penulis Penulis yakin teologi-teologi dalam tradisi- tradisi agama lain pun mengandung konsep serupa. Teologi semacam ingin membuktikan bahwa kedua hal itu justru bisa sinergis, bahwa teologi dan entrepreneurship sebenarnya bisa sangat kompatibel dan bisa menjadi mitra yang konstruktif. Teologi Kristen, misalnya, mencakup konsep tentang Allah yang kreatif dan inovatif. Allah yang bukan hanya menciptakan dunia dan segala isinya, tetapi juga Aukasih setianya selalu baru setiap pagi. Ay ini seharusnya menjadi inspirasi bagi pembentukan karakter yang kreatif, konstruktif, dinamis dan inovatif, baik dalam beragama maupun dalam pekerjaan, profesi dan bisnis. Secara etimologi, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri. atau suami, istri dan anaknya. atau ibu dan anaknya . sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia3. Sedangkan Kristen adalah salah satu agama yang diakui di Negara Republik Indonesia. Mereka yang menjadi Kristen adalah yang percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta meneladani hidup dan ajaran-ajaran- Nya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi keluarga Kristen merupakan persekutuan hidup antara ayah, ibu, dan anak-anak yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta meneladani hidup dan ajaranajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Larry Christenson yang mengatakan, bahwa seorang Kristen telah ditentukan sebagai seorang yang hidup bersama Yesus Kristus, yang jika diperluas menjadi: keluarga Kristen ialah keluarga yang hidup bersama Yesus Kristus 4. Keluarga Kristen merupakan orangorang percaya yang taat untuk melakukan kehendak Allah yang telah difirmankan-Nya. Dengan demikian, keluarga Kristen harus memiliki hidup dan perbuatan yang sama seperti Yesus Kristus. Keluarga Kristen memberi pengaruh yang baik dalam kerajinan beribadah anggota-anggotanya. Keluarga terdiri dari ayah, ibu dengan atau tanpa anak. Keluarga Kristen sering juga disebut keluarga yang percaya. Kata percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar dan nyata5 (Aziz, 2001:. Jadi keluarga Kristen berarti keluarga yang mau mengakui atau meyakini Yesus sebagai Tuhan. Berdasarkan Alkitab, dapat dipahami bahwa keluarga atau rumah-tangga adalah ciptaan Allah. Banyak kisah tentang keluarga yang terdapat dalam Alkitab. Berbagai kisah tersebut dapat dipelajari dengan beberapa cara: secara historis kronologis sejarah kemunculannya, secara tematis situasi/peristiwa, dan secara statuta berdasarkan status atau secara personal tokoh tertentu6. Keempat pendekatan ini dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk mengamati kisah sebuah keluarga dalam Alkitab. Misalnya Alkitab mencatat bahwa keluarga Adam adalah merupakan keluarga pertama di bumi ini. Kisah mereka secara historis kronologis dicatat dalam Kejadian 1:26 - 5:5. Dari kisah ini diketahui bahwa keluarga Adam dimulai dari peristiwa Eden (Kejadian. Di situlah Allah menempatkan keluarga yang baru diciptakan-Nya itu, dimana Allah terlebih dahulu menciptakan Adam (Kejadian 2:7, . , kemudian Alkitab menceritakan bahwa keseluruhan ciptaan itu barulah amat baik ketika Hawa diciptakan yang berasal dari tulang rusuk Adam (Kejadian 1:31. Kejadian 2:18-. Artinya, keberadaan satu keluarga atau rumah-tangga adalah suatu keindahan dalam Aremi Evanta Tarigan. AuPengaruh Theopreneurship Berdasarkan Nats Yohanes 15:1-8 Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jemaat Gereja GBI Keluarga Besar Medan PlazaAy Haggadah: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol. No. Moh Aziz. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2001 Larry Christenson. Keluarga Kristen. Semarang: Yayasan Persekutuan Betania, 2008. Ibid. Poltak Sibarani YP. Membangun Keluarga Bahagia. Jakarta: Ramos GospelPublishing House, cetakan pertama, 2004. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 29 penciptaan Allah atas kehidupan ini. Maka Adam dan Hawa adalah keluarga atau rumahtangga yang dibentuk atau diciptakan Allah. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, yakni studi pustaka dan analisa teks7. Sugiyono. menyatakan bahwa metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan Penggunaan metode penelitian ini bertujuan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, penelitinya adalah instrumen kunci, teknik pengumpulan datanya dilakukan secara pustaka, analisis datanya bersifat induktif, dan hasil penelitiannya menekankan makna kata. Metode adalah cara kerja untuk memahami satu objek 9. Untuk itu metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode eksegesa. Menton menyebutkan bahwa eksegesa adalah menerangkan dan menjelaskan arti dari suatu bagian dari Alkitab10. Metode ini merupakan suatu penelaahan yang cermat dan analitis11 (Bulu, 2020:. Metode ini dipakai untuk menafsirkan, menjelaskan nats dan menggunakan penyelidikan terhadap teks Kejadian 26:1-14 yang membahas tentang theopreneurship sesuai dengan prinsip-prinsip penafsiran umum, yaitu pengenalan, penafsiran dan Berkaitan dengan eksegesa, penulis menggunakan metode induktif. Cara induktif berarti penafsir terlebih dahulu mengamati nats, kemudian menarik kesimpulan berdasarkan data dan fakta Alkitab yang ditemukan Menurut Barclay M. Newman, istilah eksegesis berasal dari bahasa Yunani eks: keluar dan geomai: membawa, menjelaskan, menerangkan, yang berarti membawa keluar, menjelaskan 12. Fee dan Stuart mengatakan, eksegesis adalah hal mempelajari Alkitab secara sistematis dan teliti untuk menemukan arti asli yang dimaksud. Sementara itu John H. Hayes dan Carl R. Holladay berpendapat bahwa tujuan dari eksegesa adalah untuk memperoleh pemahaman yang tepat dan memadai atas sebuah teks13 Jadi, studi eksegesa berarti penyelidikan atau suatu penelitian ilmiah yang dilakukan terhadap suatu nats secara sistematis dan teliti untuk dapat mengangkat keluar arti dari nats dan menjelaskan makna yang terdapat dalam Kejadian 26:1-14 yang membahas tentang theopreneurship. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, penafsiran akan dilakukan ayat demi ayat. Menurut Sitompul dan Beyer, dalam tafsiran ayat demi ayat perlu sekali ditunjukkan hubungan yang logis di antara ayat-ayat masing-masing agar terang jalan pikiran dan paparan pengarang14 . Tugas seorang penafsir adalah berusaha untuk mengatakan dengan kata-katanya sendiri apa arti segala sesuatu yang dikatakan penulis kitab kepada pembaca mula-mula. Tafsiran ayat demi ayat adalah memaparkan arti nats untuk pembaca yang pertamabukan pembaca masa kini. Dalam penelitian ini, prinsip-prinsip theopreneurship ditarik dari Kejadian 26:1-14. Seorang theopreneur memiliki karakteristik bekerja keras, berani bertindak dengan cara unggul dalam menangani suatu upaya atau usaha mandiri . alam berbagai bentu. yang menyebabkan ia berhasil. Entrepreneur Kristen harus memiliki kemampuan berpikir secara kreatif dan inovatif yaitu mampu mewujudkan cita-citanya ke dunia nyata atas kelompok Kristen yang dipimpinnya15 Umrati. Umrati dan Wijaya. Analisis Data Kualitatif Teori Konsep dalam Penelitian Pendidikan. Jakarta: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2020. Sumanto. Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset, 2010. Menton. Kamus Istilah Teologi: Inggris-Indonesia. Malang: Gandum Mas, 2015. Marselina Reni Susanti Bulu . AuStudi Biblika 1 Yohanes 4:19 Tentang Mengasihi dalam Peningkatan Kepedulian SesamaAy Filadelfia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1. No 2 . Newman. Barclay M. Kamus Yunani-Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011. Hayes. John H. dan Carl R. Holladay. Pedoman Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016 Beyer Sitompul, 2019:334 Sitompul. dan Ulrich Beyer. Metode Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019. Aremi Evanta Tarigan. AuPengaruh Theopreneurship Berdasarkan Nats Yohanes 15:1-8 CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 30 PEMBAHASAN Keluarga Kristen Harus Bekerja Keras Dari ayat 12-14, terlihat bahwa Ishak adalah seorang pekerja keras dan rajin. Sekalipun Tuhan berjanji menyertai dan memberkatinya, tetapi ia tetap bekerja dengan keras, dia tidak tinggal diam bermalas-malasan menunggu berkat Tuhan. Demikianlah setiap keluarga Kristen harus berpikir unggul. Memang benar bahwa Tuhan berjanji akan memberkati umat-Nya, tetapi Tuhan juga memerintahkan agar setiap orang bekerja dan Pola pikir malas dan mendapat hasil instan harusdibuang. Keluarga Kristen harus bekerja keras. Dan ini tentu dimulai dari pemimpin Kristen yang memberikan teladan lewat visi misinya, potensi, kecakapan dan kemampuannya berpikir maju untuk kebaikan bersama. Tugas pelayanan gereja adalah tanggung jawab langsung kepada Tuhan Yesus Kristus, sehingga seorang pemimpin harus memperlengkapi dirinya dengan banyak hal lain yang membuatnya dapat berpengaruh bagi orang lain16. Kegiatan wirausaha harus digunakan untuk memuliakan Tuhan (Mazmur 150. Roma 11:. Allah memberikan mandat kepada manusia untuk menguasai dan melestarikan ciptaan serta memberikan kecerdasan kepada manusia berupa kemampuan bakat dan ketrampilan untuk melakukan Theopreneurship bukan saja untuk memenuhi kebutuhan seperti mencari nafkah hidup tetapi yang terpenting adalah dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi sesama dan dapat pertanggung jawaban kepada Tuhan yang telah menitipkan talenta. Pemaknaan entrepreurship berlandaskan Alkitab akan memberikan arah bahwa tujuan akhir berwirausaha bukan untuk mendapatkan kekayaan dan kemakmuran tetapi untuk manfaat bagi sesama manusia dan memuliakan Allah. Mendapatkan konsep nilai yang berdasarkan Alkitab mengenai aktivitas melalui pekerjaan, termasuk kegiatan bisnis. Karena itu, dalam aktivitas bisnisnya manusiaharus mengerjakan dengan sebaik-baiknya dan bertanggung jawab di dalam memproduksi, bertanggung jawab di dalam penjualan,bertanggung jawab di dalam mempromosikan dan bertanggung jawab di dalam pembayaran kewajiban dan hutang/pinjaman mereka. Tidak boleh ada pengusaha Kristen yang bisa membeli barang tetapi tidak bisa membayarnya, atau kabur begitu saja tanpa pemberitahuan atau tanggung Hal yang demikian sangat tidak terpuji dan tidak menjadi kesaksian yang baik dimana mereka harus menjadi garamdan terang. Seorang pengusaha Kristen tidak boleh lalai dalam membayar hutang-hutangnya sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Seorang pengusaha Kristen harus dapat dipegang janjinya dengan berpedoman pada prinsip Alkitab yaitu : Au ya katakan ya, tidak katakan tidak Au Pengusaha Kristen harus jujur dan bertanggung jawab Keluarga Kristen Harus Berani Bertindak Kehidupan iman kadang sangat mengherankan. Seorang bisa mempunyai iman yang teguh di suatu saat, namun kemudian dia mengalami keraguan di saat lain. Ishak pun rupanya mengalami kondisi serupa. Ishak mengalami masa kelaparan seperti yang pernah dialami Abraham, ayahnya. Jika Abraham dibiarkan Tuhan pergi ke Mesir, kali ini Ishak Lalu Tuhan menjanjikan berkat-berkat-Nya kepada Ishak. Situasi kelaparan melanda negeri dimana Ishak berada. Secara logika manusia, wajarlah jika Ishak berniat meninggalkan Filistin dan mengungsi ke daerah yang tidak terkena bencana. Namun firman Tuhan menguatkan Ishak untuk berani bertindak sekalipun di tengah kondisi ekonomi sulit. Dia berani bertindak dengan menabur atau dalam terjemahan lain berladang. Semua itu terjadi karena Ishak percaya akan janji Tuhan yang diikrarkan dengan ayahnya Abraham. Dalam hidup ini, sering keadaan kelihatannya bertentangan dengan janji firman Tuhan. Dalam keadaan seperti itu, orang Kristen justru harus terus merenungkan janji Tuhan, supaya segala keragu-raguan bisa dihancurkan. Pada masa pembuangan di Babel pun. Kristandi. Darren. AuKeberhasilan Seorang Pemimpin Gereja Sebagai Seorang Panutan dan Dampaknya dalam Pertumbuhan GerejaAy Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika. Vol. No. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 31 Tuhan menyuruh orang Israel mengusahakan kesejahteraan bangsa dimana mereka dibuang. Tuhan tidak mau umat-Nya menjadi terlalu ketakutan dalam kondisi sukar yang menimpa Sekalipun situasi sulit, orang percaya harus berani bertindak memulai usaha dan menjalankan pekerjaannya. Orang-orang dunia melakukan usaha atau bisnisnya sebagai tujuan dan sebagai ukuran dari keberhasilan hidup mereka. Mereka melakukan bisnis siang dan malam karena itulah satu-satunya arti hidup bagi mereka dan mereka melakukannya tanpa mengandalkan atau melibatkan Tuhan. Berbeda dengan orang Kristen, kewirausahaan atau bisnis dalam kekristenan tidak dapat dilepaskan dari keimanan dan campur tangan Tuhan. Tuhan peduli dengan bisnis yang dilakukan oleh anak- anakNya. Tuhan sebagai Bapa ingin melihat usaha atau bisnis anak-anak-Nya berhasil, dan Ia ingin memberkati usaha anak-anak-Nya. Keluarga Kristen Harus Kreatif Tentang pengungsian ke Mesir pada waktu mengalami bencana kelaparan. Abraham. Ishak dan Yakub mengalami hal yang berbeda-beda. Pada waktu Abraham mengalami kelaparan dan mengungsi ke Mesir. Tuhan tidak memerintahkan ataupun melarang itu (Kejadian . Pada waktu Ishak terkena kelaparan. Tuhan melarangnya untuk pergi ke Mesir (Kejadian 26:. Pada waktu Yakub terkena kelaparan. Tuhan justru menyuruhnya untuk pergi ke Mesir (Kejadian 46:. Dari semua ini penulis menarik kesimpulan bahwa sekalipun situasi dan kondisinya sama, tetapi kehendak Tuhan bisa berbeda-beda. Karena itu, orang Kristen jangan sembarangan meniru orang lain. Orang Kristen harus Tuhan menyuruh Ishak tinggal di Gerar sebagai orang asing . yat 2-. Tuhan adalah seorang desainer yang menciptakan, seorang kreator dan manajer yang kreatif dan inovatif17. Seorang pemimpin Kristen harus mampu memberikan sebuah solusi untuk masalah yang dihadapi jemaat. Ini adalah buah yang baik bagi pertumbuhan sebuah Ishak menunjukkan pentingnya kreatifitas dalam bekerja. Sekalipun ia tinggal di tanah Filistin sebagai pendatang dan orang asing, ia menjadi petani yang berhasil sehingga orang Filistin iri padanya. Seorang Kristen hendaknya seorang yang mampu menatap masa dengan dengan lebih optimis. Melihat ke depan dengan berpikir dan berusaha. Usaha memanfaatkan peluang dengan penuh perhitungan. Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan. Karena memiliki pandangan jauh ke masa depan maka ia akan selalu berusaha untuk berkarya dan berkarya19 Inilah yang dimaksud penulis dengan theopreneurship Kristen harus kreatif. Tuhan menciptakan manusia serupa dan segambar dengan Allah (Kejadian 1:. Dia adalah Pribadi yang kreatif. Tuhan adalah pribadi yang bekerja, manusia juga diciptakan untuk bekerja. Tuhan senang manusia meneladani Dia, sebagaimana seorang ayah senang jika anaknya meneladani hal yang baik dari ayahnya. Tuhan Yesus selama berada dalam dunia memberikan teladan dengan bekerja sebagai tukang kayu (Markus 6:. , murid-murid Tuhan Yesus bekerja sebagai nelayan. Paulus bekerja sebagai pembuat tenda (Kisah Para Rasul 18:. Mereka adalah contoh-contoh pribadi yang kreatif dalam berentrepreneurship. Pengusaha Kristen dituntut untuk menjadi pengusaha yang membangun, artinya melakukan usaha atau bisnis yang tidak merusak dan merugikan orang lain dan lingkungan alam serta sosial di lingkungannya. Misalnya seorang pengusaha Kristen tidak boleh menjadi pengusaha permainan judi, buka usaha pelacuran yangberkedok karaoke, atau dalam contoh yang banyak ditemui adalah membungakan uang dengan tingkat bunga yang sangat tinggi. Seorang pengusaha Kristen harus menyadari bahwa ia adalah seorang saksi Kristus yang membawa damai sejahtera bagi dunia ini dan tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukumkasih Allah dan firman Allah. Agus Wahyudi. AuApa Itu Entrepreneurship. Theopreneurship. Spiritual preneurshipAy Asteros: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Volume 8. No. Kristandi. Darren. AuKeberhasilan Seorang Pemimpin Gereja Sebagai Seorang Panutan dan Dampaknya dalam Pertumbuhan GerejaAy Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika. Vol. No. Suryana. Suryana. Kewirausahaan: Pedoman Praktis. Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta: Salemba, 2003. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 32 Keluarga Kristen Harus Inovatif Dalam Kejadian 26:1-6 dan 12-14. Ishak ditonjolkan sebagai pribadi yang tunduk akan firman Tuhan tanpa membantah. Namun secara tersirat juga ditunjukkan bahwa ia seorang yang inovatif, terbukti dia mencari wilayah yang strategis untuk mulai berladang yaitu Gerar. Gerar merupakan kota kecil di Filistin dekat jalan menuju Mesir. Rupanya Ishak memilih untuk menetap dan bertani disana sehingga akses ke wilayah luar Filistin lancar. Dalam Kejadian 26:12 dicatat bahwa Ishak mendapat hasil tanah yang diusahakannya sejumlah seratus kali lipat karena ia diberkati Tuhan. Ini bukan hanya berlaku pada diri Ishak, tetapi juga pada diri semua orang percaya. Jika keluarga Kristen berhasil dalam pendidikan, usaha-bisnis, pekerjaan maupun pelayanan, semua itu adalah berkat Tuhan. Kesuksesan jangan menyebabkan orang percaya menjadi sombong lalu melupakan Tuhan, akhirnya mengutamakan pekerjaan, bisnis, uang dan harta di atas Tuhan. Seorang Kristen harus pandai bersyukur kepada Tuhan atas kesuksesan yang Ia berikan itu, dan menggunakan apa yang ada padanya kemuliaan Tuhan. Sifat inovatif Ishak menjadi teladan bagi entrepreneur Kristen masa kini. Keberhasilan entrepreneur umum adalah dengan mengumpulkan keuntungan finansial, sedangkan keberhasilan theopreneur berasal dari janji berkat Tuhan Allah, karena itu ia harus hidup untuk memberkati sebanyak mungkin orang denganterus memberi dan memberi Bekerja dalam konteks theopreneurship menurut Drucker berarti menerapkan logika dan aturan yang berguna untuk mencapai tujuan tertentu 20. Di dalam berwirausaha ada logika yang mengatur arus kerja. Kerja membutuhkan kemampuan menganalisis, membuat sintesis, dan mengontrol proses. Perlu dipahami bahwa berusaha atau berbisnis hanya berfungsi sebagai alat saja agar hidup manusia dapat terpelihara. Bisnis bukan segalagalanya dan bukan menjadi tujuan hidup manusia. Artinya seorang Kristen tidak boleh lupa akan Tuhan, keluarga, tujuan hidupnya dan kehidupan bergereja bersama-sama saudara seiman lainnya. Setiap orang Kristen harus mengingat bahwa ada tugas mulia yang dimandatkan oleh Tuhan Yesus agar menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Tugas mulia ini harus tetap dibawa dan dijalankan di dunia bisnis yang dilakukan. Hal ini bukan menunjukkan kefanatikan seseorang tetapi menunjukkan bahwa ia tahu tugas dan tanggung jawabnya di hadapan Allah. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian eksegesa atas Kejadian 26:1-14, penulis menarik kesimpulan berdasarkan rumusan masalah yang telah diangkat dalam bab pendahuluan yaitu, bagaimanakah pemahaman tentang theopreneursip ditinjau dari Kejadian 26:1-14 dan aplikasinya bagi keluarga Kristen di Sungai Lilin KabupatenMusi Banyuasin? Penulis telah mengerjakan analisis atas teks Kejadian 26:1-14 dan menemukan bahwa keberhasilan Ishak di negeri Filistin menjelaskan tentang theopreneurship. Maka pemahaman tentang theopreneursip ditinjau dari Kejadian 26:1-14 dan aplikasinya bagi keluarga Kristen di Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin adalah: keluarga Kristen harus bekerja keras, keluarga Kristen harus berani bertindak, keluarga Kristen harus kreatif. Drucker. Management: Tasks. Responsibilities. Practices. Chicago: Harper and Raw, 2004. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 33 REFERENSI