Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 4 No. 1 November 2025 E-ISSN 2964-0857 PEMANFAATAN ULAT JERMAN (Zophobas mori. DALAM MENGURANGI BERAT SAMPAH PLASTIK Muhammad Farrel Alfirdaus1. Muchsin Riviwanto2. Lindawati3. Mahaza4 . ,2,3,4Kemenkes Poltekkes Padan. Email Korespondensi : muchsinr@yahoo. Abstract Global plastic production, which reached 413. 8 million tons in 2023, has led to an increase in inorganic waste that is difficult to decompose. This issue calls for environmentally friendly and low-cost alternative solutions. This study aims to determine the ability of Superworms (Zophobas mori. to reduce the weight of plastic waste through the biodegradation process. The research used a quasi-experimental design with treatments on three types of plastic waste, namely High-Density Polyethylene (HDPE). Low-Density Polyethylene (LDPE), and Expanded Polystyrene (EPS), utilizing 200 Superworm larvae over a 30-day period. Observations were conducted every five days to measure changes in waste weight. The results showed that Superworms were able to reduce HDPE by 10. LDPE by 11. 8%, and EPS by 66. These findings indicate that Superworms have strong potential as an effective natural biodegradation agent in reducing plastic waste, particularly styrofoam, making them an innovative solution for sustainable waste management. **Conclusion: The use of Superworms has proven effective in reducing plastic waste weight, especially It is recommended to optimize environmental conditions such as temperature and humidity, reduce larval mortality, and study the safety and potential use of Superworms that have consumed plastic to ensure broader and ecologically safe application. Keywords: Superworm. Plastic Waste. Biodegradation Abstrak Produksi plastik global yang mencapai 413,8 juta ton pada tahun 2023 menyebabkan meningkatnya timbulan sampah anorganik yang sulit terurai. Permasalahan ini menuntut solusi alternatif yang ramah lingkungan dan berbiaya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Ulat Jerman (Zophobas mori. dalam menurunkan berat sampah plastik melalui proses biodegradasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu dengan perlakuan terhadap tiga jenis sampah plastik, yaitu High-Density Polyethylene (HDPE). Low-Density Polyethylene (LDPE), dan Expanded Polystyrene (EPS) menggunakan 200 larva Ulat Jerman selama 30 hari. Pengamatan dilakukan terhadap perubahan berat sampah setiap lima hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ulat Jerman mampu menurunkan berat plastik HDPE sebesar 10,2%. LDPE sebesar 11,8%, dan EPS sebesar 66,6%. Temuan ini menunjukkan bahwa Ulat Jerman berpotensi besar sebagai agen biodegradasi alami yang efektif dalam mengurangi sampah plastik, khususnya jenis styrofoam, sehingga dapat menjadi solusi inovatif pengelolaan limbah berkelanjutan. Simpulan : Pemanfaatan Ulat Jerman terbukti efektif dalam menurunkan berat sampah plastik, terutama jenis styrofoam. Disarankan untuk mengoptimalkan kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan, menekan angka kematian larva, serta meneliti keamanan dan potensi pemanfaatan Ulat Jerman yang telah mengonsumsi plastik agar hasilnya dapat diterapkan dalam skala lebih luas dan aman bagi ekosistem. Kata kunci: Ulat Jerman. Sampah Plastik. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 4 No. 1 November 2025 E-ISSN 2964-0857 PENDAHULUAN Produksi sampah kota diperkirakan meningkat dari 2,1 miliar ton pada tahun 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada tahun 2050. Pada tahun 1950, produksi plastik dimulai sekitar 2 juta ton, dan meningkat menjadi 368 juta ton pada tahun 2019. Produksi global plastik mencapai 413,8 juta ton pada tahun 2023 dengan persentase 19,7% dari total timbulan sampah global. Produksi plastik global tahunan lebih dari 359 juta ton. 1 Berdasarkan zat kimianya, sampah dapat dibedakan menjadi sampah organik seperti sisa makanan, daun, sayur, dan buah, serta sampah anorganik seperti logam, pecah belah, abu, plastik, dan lainlain. Sampah organik tergolong kedalam sampah yang mudah membusuk, seperti sisa makanan, potongan daging, dan sebagainya. Sedangkan sampah anorganik tergolong kedalam sampah yang sulit membusuk, seperti plastik, karet, gelang, dan sebagainya. Selain Society Plastic Industry (SPI) memperkenalkan sistem kode angka untuk plastik. Dalam klasifikasi ini, angka dari 1 hingga 7 telah ditetapkan untuk berbagai jenis plastik dengan urutan sebagai berikut: 1 untuk Polyethylene Terephthalate (PETE) dengan ketebalan 0. 2 mm-3 mm, 2 untuk High Density Polyethylene (HDPE) dengan ketebalan 0. 3 mm-100 mm, 3 untuk Polyvinyl Chloride (PVC) dengan ketebalan 0. 6 mm-50 mm, 4 untuk Low-Density Polyethylene (LDPE) dengan 15 mm-40 mm, 5 untuk Polypropylene (PP) dengan ketebalan 0. 5 mm-70 mm, 6 untuk Polystyrene (PS) dengan ketebalan 0. 02 mm-12 mm, dan 7 untuk jenis plastik lainnya dengan ketebalan 0. 45 mm- 3. 556 mm. Sumber sampah plastik juga dapat dikategorikan berdasarkan aplikasinya . isalnya, botol/tutup/tutup botol: 14,9%, botol PET: 12,5%, kantong supermarket/kantong ritel: 9,3%, kantong makanan: 6,5%, wadah makanan: 2,1%, dll. ) dan asal . isalnya, limbah padat kota dan limbah agroindustr. Kantong plastik makanan umumnya terbuat dari jenis plastik berbahan High-Density Polyethylene (HDPE) dan Low-Density Polyethylene (LDPE). Sedangkan, wadah makanan umumnya terbuat dari jenis plastik berbahan Polystyrene (PS). Pengolahan sampah organik sudah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan, seperti pengolahan kompos, bio gas, dan biopori. Sedangkan pengolahan sampah anorganik kebanyakan masih dilakukan dengan cara mendaur ulang sampah, penimbunan, atau pembakaran sampah. Tetapi jarang sekali pengolahan sampah anorganik dilakukan dengan cara penguraian seperti metode biodegradasi. Pembuangan metode tradisional seperti penimbunan dan pembakaran telah terbukti menyebabkannya permasalahan lingkungan hidup yang serius. Metode pengolahan sampah plastik tradisional yang biasanya dilakukan antara lain daur ulang, insinerasi, dan penimbunan sampah. Metode daur ulang dilakukan dengan cara mengolah kembali sampah menjadi bahan baku baru yang dapat digunakan untuk membuat Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 4 No. 1 November 2025 E-ISSN 2964-0857 produk baru. Metode insinerasi dilakukan dengan cara mengolah sampah plastik dengan pembakaran pada suhu tinggi. Namun, metode tradisional ini ditemukan tidak efisien bahkan berdampak buruk bagi lingkungan dan makhluk hidup. Dari sekian banyak metode, ada metode pengolahan sampah plastik yang menawarkan biaya yang rendah dan lebih ramah lingkungan. Salah satu metodenya adalah penggunaan serangga yang memiliki kemampuan untuk memakan plastik. Serangga yang digunakan untuk proses penguraian berada pada fase larva. Dari berbagai larva yang sejenis, larva serangga yang digunakan pada penelitian ini larva berjenis Zophobas morio. Konsep degradasi plastik yang dapat dilakukan oleh serangga sudah banyak diketahui oleh para peneliti, meskipun penyebab pasti terjadinya degradasi masih belum sepenuhnya dapat diketahui, dan pemanfaatannya masih jarang dilakukan hingga saat ini. Serangga plastivora mencapai remediasi biologis melalui pencernaan oleh mikroba alami dan enzim yang ada di usus serangga. Biodegradasi plastik terjadi dalam tiga fase berturut-turut termasuk biodeteriorasi, biofragmentasi dan asimilasi yang pada akhirnya akan mengakibatkan kehancuran total plastik. Selama biodeteriorasi, berbagai jenis plastik mulai rusak ketika terkena faktor lingkungan seperti suhu tinggi, radiasi sinar matahari dan pH air, sebelum dikonsumsi oleh serangga. Namun, efisiensi degradasi bergantung pada periode pemaparan serta intensitas paparan plastik terhadap faktor-faktor yang disebutkan di atas. Misalnya saja plastik yang dibuang ke tanah/daerah dengan suhu tinggi . aparan pana. akan rusak menjadi mikroplastik lebih cepat dibandingkan dengan suhu rendah. Tahap biofragmentasi terjadi selama pencernaan yang dilakukan oleh mikroba yang ada di dalam usus serangga. Mikroba, khususnya berbagai bakteri, melepaskan enzim seperti lipase, proteinase k, pronase dan dehidrogenase yang mampu menguraikan rantai polimer menjadi oligomer dan monomer melalui depolimerisasi dan proses pembelahan hidrolitik. Lalu terakhir selama tahap asimilasi, monomer plastik kemudian diubah menjadi biomassa yang dilakukan oleh mikroba dan enzim melalui oksidasi dan biomineralisasi sehingga air, karbon dioksida dan metana dilepaskan sebagai produk sampingan. Akhirnya, biomassa beserta produk sampingannya kemudian akan dikeluarkan sebagai kotoran yang dihasilkan oleh serangga tersebut. Meskipun proses biodegradasi dilakukan oleh berbagai larva serangga dilaporkan lambat dibandingkan dengan metode lain . isik dan kimi. , metode remediasi plastik ini dikenal ramah lingkungan, murah, aplikatif, dan efektif. Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini bertujuan mendeskrisikan pemanfaatan ulat jerman . ophobas mori. dalam mengurangi berat sampah plastik. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 4 No. 1 November 2025 E-ISSN 2964-0857 METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif dengan melihat pemanfaatan ulat jerman . ophobas mori. dalam mengurangi berat sampah plastik . Sampah plastik berupa kantong kresek High-Density Polyethylene (HDPE), plastik bungkus makanan LowDensity Polyethylene (LDPE), dan styrofoam Expanded Polystyrene (EPS) setelah perlakuan sampel memanfaatkan 200 larva Ulat Jerman (Zophobas mori. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan mulai bulan Januari-Juni 2025 pada tempat perlakuan yang dikondisikan untuk memungkinkan berjalannya penelitian. Bahan yang digunakan adalah Ulat Jerman umur 2 bulan 600 larva. , sampah plastik kantong kresek HDPE, sampah plastik bungkus makanan LDPE, sampah styrofoam EPS masing masing 10 g, kapur ajaib 1 kotak. dan dedak padi secukupnya. Alat yang digunakan adalah litter box yang berukuran . cm x 20 cm x 7 c. 3 buah . atatan: litter box tidak dapat dimakan oleh Ulat Jerman dikarenakan litter box yang digunakan berjenis HDPE yang tebal dan koko. , gunting 1 buah, pisau 1 buah timbangan digital 0,1 g, dan thermohygrometer. Data primer diperoleh melalui penelitian dan pengamatan langsung pada rumah yang dikondisikan agar penelitian berjalan optimal. Tiga litter box disiapkan dengan dedak padi sebagai media untuk menjaga tubuh Ulat Jerman tetap kering. Sampah plastik HDPE. LDPE, dan EPS masing-masing seberat 10 gram dimasukkan ke setiap litter box bersama 200 larva Ulat Jerman. Kapur ajaib ditempatkan di sekitar wadah untuk mencegah hama. Pengukuran penurunan berat sampah dilakukan setiap lima hari menggunakan timbangan digital, sementara suhu, kelembapan, serta kondisi larva diamati setiap hari selama 30 hari, dan hasilnya dicatat secara sistematis untuk setiap perlakuan. 15 Untuk melihat presentase penurunan berat sampah setelah dimakan Ulat Jerman, dapat dilakukan dengan memasukan ke dalam rumus. Rumus yang dapat digunakan, yaitu: Rumus 1. % ycyyceycuycycycycuycaycu = yaAyceycycayc ycyceycayceycoycycoOeycayceycycayc ycyceycycyccycaEa y 100% yaAyceycycayc ycyceycayceycoycyco Keterangan: Berat sebelum = Jumlah berat sebelum perlakuan Berat sesudah = Jumlah berat setelah perlakuan Analisis data dilakukan dengan cara melihat persentase penurunan berat sampah menggunakan rumus dengan lima kali pengulangan untuk melihat penurunan berat sampah plastik dengan perlakuan 200 larva Ulat Jerman. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil penelitian dan pencatatan selama 30 hari, didapatkan persentase penurunan berat sampah plastik kantong kresek High-Density Polyethylene (HDPE). LowDensity Polyethylene (LDPE), dan styrofoam Expanded Polystyrene (EPS) setelah dimakan 200 Larva Ulat Jerman (Zophobas mori. yang dapat dilihat pada tabel berikut: Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 4 No. 1 November 2025 E-ISSN 2964-0857 Tabel 1. Persentase Penurunan Berat Sampah Plastik Kantong Kresek High-Density Polyethylene (HDPE) Oleh 200 Larva Ulat Jerman (Zophobas mori. Berat Sampah Plastik . Wadah Ke Selisih . Penurunan (%) Sebelum (Hari ke-. Sesudah (Hari ke-. Rata-Rata 8,98 1,02 Berdasarkan tabel 4. 1 didapatkan bahwa rata-rata berat sampah plastik kantong kresek High-Density Polyethylene (HDPE) setelah dimakan 200 Larva Ulat Jerman (Zophobas mori. sebesar 8,98 g dengan persentase penurunan 10,2%. Tabel 2. Persentase Penurunan Berat Sampah Plastik Bungkus Makanan Low-Density Polyethylene (LDPE) Oleh 200 Larva Ulat Jerman (Zophobas mori. Berat Sampah Plastik . Wadah Ke Selisih . Penurunan (%) Sebelum (Hari ke-. Sesudah (Hari ke-. Rata-Rata 8,82 1,18 Berdasarkan tabel 2 didapatkan bahwa rata-rata berat sampah plastik bungkus makanan Low-Density Polyethylene (LDPE) setelah dimakan 200 Larva Ulat Jerman (Zophobas mori. sebesar 8,82 g dengan persentase penurunan 11,8%. Tabel 3. Persentase Penurunan Berat Sampah Plastik Bungkus Makanan styrofoam Expanded Polystyrene (EPS) Oleh 200 Larva Ulat Jerman (Zophobas mori. Wadah Ke Rata-Rata Berat Sampah Plastik . Sebelum (Hari ke-. Sesudah (Hari ke-. 3,34 Selisih . Penurunan (%) 6,66 Berdasarkan tabel 3 didapatkan bahwa rata-rata berat sampah styrofoam Expanded Polystyrene (EPS) setelah dimakan 200 Larva Ulat Jerman (Zophobas mori. sebesar 3,34 g dengan persentase penurunan 66,6%. PEMBAHASAN Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa Ulat Jerman mampu menguraikan sampah plastik High-Density Polyethylene (HDPE) dengan rata-rata 8,98 g, persentase penurunan 10,2%, dan persentase tertinggi 11%. Penurunan pada sampah Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 4 No. 1 November 2025 E-ISSN 2964-0857 plastik bungkus makanan Low-Density Polyethylene (LDPE) dengan rata-rata 8,82 g, persentase penurunan 11,8%, dan persentase tertinggi 13%. Penurunan pada sampah styrofoam Expanded Polystyrene (EPS) dengan rata-rata 3,34 g, persentase penurunan 66,6%, dan persentase tertinggi 68%. Penurunan berat sampah plastik terjadi secara nyata pada hari ke 5 dan 10. Pada hari ke 15 dan 20 penurunan sampah plastik juga tidak mengalami perubahan yang begitu berarti. Namun pada hari ke 25 dan 30 penurunan sampah plastik mengalami perlambatan penurunan jika dibandingkan dengan 10 hari pertama dan kedua. Penelitian Rosdi pada tahun 2025 menemukan bahwa Ulat Jerman mampu menurunkan berat sampah plastik HDPE sebesar 2,4 % selama 13 hari (A 5 % selama 30 har. dari berat sampah plastik awal. Sedangkan jika sampah plastik ditambah dengan sayur, maka hasil penurunan sampah plastik yang didapatkan sebesar 43,43 % selama 13 hari (A 100 % selama 30 har. Pada penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini penurunan sampah lebih terlihat dengan adanya selisih penurunan sekitar A 5,2%. Berdasarkan penelitian Peng pada tahun 2022 yang menggunakan 100 larva, larva Zophobas atratus mampu memakan Polystyrene (PS) dan Low-Density Polyethylene (LDPE) sebesar 58,7 A 1,8 mg dan 61,5 A 1,6 mg per hari selama 33 hari. 16 Berdasarkan penelitian Peng pada tahun 2020 menemukan bahwa larva Zophobas morio mampu untuk memakan busa Polystyrene (PS) dan Low-Density Polyethylene (LDPE) yang sepenuhnya bergantung pada mikroba usus. Dalam waktu 33 hari, larva memakan busa LDPE dan PS sebagai satu-satunya makanannya dengan tingkat konsumsi masing-masing 43. 3 A 1. 5 and 9 A 3. 1 mg per 100 larva per hari. 5 Pada penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan pada penelitian ini penurunan sampah lebih lambat dengan adanya selisih penurunan sekitar 1,32 g. Berdasarkan penelitian Jiang pada tahun 2021 menemukan bahwa 200 ekor Ulat Jerman mampu menurunkan berat sampah plastik Polystyrene sebesar 7,95 g dalam waktu 30 hari. Penelitian ini juga membandingkan kemampuan antara organisme jenis yang mampu mengonsumsi sampah plastik lainnya. Didapatkan hasil bahwa Ulat Jerman paling efektif dalam menurunkan berat sampah plastik Polystyrene. Berdasarkan penelitian Peng pada tahun 2022 yang menggunakan 100 larva, larva Zophobas atratus mampu memakan Polystyrene (PS) dan Low-Density Polyethylene (LDPE) sebesar 58,7 A 1,8 mg dan 61,5 A 1,6 mg per hari selama 33 hari. 16 Pada penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini penurunan sampah lebih lambat dengan adanya selisih penurunan sekitar 1,29 g Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Larva Ulat Jerman memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi pada tahap awal penelitian. Namun seiring dengan berjalannya penelitian, terlihat bahwa Larva Ulat Jerman mengalami perlambatan tingkat konsumsi. Hal ini Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 4 No. 1 November 2025 E-ISSN 2964-0857 membuktikan bahwa tingkat konsumsi di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, kelembapan, kematian Ulat Jerman, dan jenis sampah plastik. Suhu dan kelembapan ruangan penelitian yang dipantau dan dicatat berkisar antara 24,7-27,2oC. Sedangkan kelembapan ruangan penelitian berkisar anatara 71-82% selama 30 hari penelitian. Biodegradasi optimal terjadi pada suhu antara 21AC dan 23AC, dimana pada suhu ini tercatat aktivitas metabolisme tertinggi tejadi. Sedangkan kelembapan idealnya adalah 60-70oC. Suhu dan kelembapan pada penelitian belum bisa mencapai suhu yang ideal, namun sudah mendekati. Hal ini juga yang menjadi faktor mengapa penurunan berat sampah plastik mengalami perlambatan. Angka kemampuan bertahan hidup pada sampah plastik High-Density Polyethylene (HDPE) didapatkan dengan rata-rata 86,7%. Angka kemampuan bertahan hidup pada sampah plastik Low-Density Polyethylene (LDPE) didapatkan dengan rata-rata 86,2%. Angka kemampuan bertahan hidup pada sampah styrofoam Expanded Polystyrene (EPS) didapatkan dengan rata-rata 83,2%. Jumlah Ulat Jerman yang mampu hidup tidak begitu terlihat penurunan pada hari ke 5 dan 10. Pada hari ke 15 dan 20 penurunan jumlah Ulat Jerman juga tidak mengalami perubahan yang begitu berarti. Namun pada hari ke 25 dan 30 penurunan Ulat Jerman terjadi secara nyata jika dibandingkan dengan 10 hari pertama dan Larva Ulat Jerman yang akan mati menunjukan gejala pergerakan larva mulai yang berkurang hingga akhirnya mati. Setelah itu, larva akan mulai menghitam dan mengeluarkan cairan dengan bau yang busuk. Kontak yang terjadi antara larva hidup dengan larva yang sudah mati akan menyebabkan penularan terjadi, karena larva yang sudah mati terinfeksi oleh virus. Inilah yang menyebabkan jumlah larva berkurang drastis di akhir penelitian. Polietilena diproduksi dalam tiga bentuk utama: Low Density Polyethylene / LDPE (<0,930 g/cm. Linear Low Density Polyethylene / LLDPE . ,915Ae0,940 g/cm. , dan High Density Polyethylene / HDPE . ,940Ae0,965 g/cm. High Density Polyethylene (HDPE) memiliki rantai polimer linier dengan sedikit cabang, dan molekul-molekulnya dapat saling berdekatan, yang menghasilkan ikatan antar molekul yang kuat. Oleh karena itu. HDPE lebih padat, dan lebih kaku daripada Low-Density Polyethylene (LDPE). Inilah yang menyebabkan penurunan berat sampah plastik HDPE lebih lambat dibandingkan dengan LDPE. Hal ini dikarenakan struktur kimia yang lebih kompleks dapat memperlambat proses Inilah yang juga menyebabkan penurunan berat sampah plastik LDPE lebih cepat dibandingkan dengan HDPE. Hal ini dikarenakan struktur kimia yang lebih sederhana dapat mempercepat proses depolimerisasi. Kepadatan Polystyrene (PS) memiliki Kepadatan 1,1 A 0,19 g/cm3 dan kekuatan tarik 3 A 1,13 N/mm2. Jenis plastik ini juga mudah terikat oleh banyak pelarut organik . isalnya aseto. dan tingkat laju kerusakan paling cepat di udara, terutama saat terpapar langsung Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 4 No. 1 November 2025 E-ISSN 2964-0857 sinar matahari. Oleh karena itu walaupun memiliki kepadatan yang lebih tinggi dari sampah plastik HDPE dan LDPE, namun sampah plastik EPS mampu terurai lebih cepat. Suhu memudahkan efisiensi enzimatik yang lebih besar dalam memecah polimer plastik. Selain itu, larva tetap terjaga kesehatannya selama penelitian, yang menunjukkan bahwa suhu laboratorium 21-23oC menjadi lingkungan yang ideal untuk aktivitas biodegradasi yang Paparan yang lebih lama pada suhu yang lebih tinggi tidak memberikan keuntungan yang signifikan, kemungkinan karena kinerja metabolisme larva yang menurun dalam kondisi ini. Hasil ini menegaskan kembali peran penting suhu dalam memengaruhi efisiensi biodegradasi plastik dan menyoroti perlunya mengoptimalkan kondisi lingkungan untuk memaksimalkan kinerja larva. Hal ini sejalan dengan penelitian Penzes pada tahun 2024 tentang AuPenemuan parvovirus patogen yang menyebabkan kematian epidemik akibat black wasting disease pada kumbang ternak berdasarkan Cryo-EMAy yang menemukan bahwa sebelum kematiannya, larva Ulat Jerman menunjukkan gejala yang sama dengan infeksi alami, yaitu: pergerakan yang terbatas, kehilangan koordinasi dalam menggeliat, menghitam, akhirnya akan mencair dan mati. Sebelum mati, larva memang tidak menunjukkan perubahan morfologi, tetapi setelah mati, bangkai akan menghitam dengan cepat, terkontaminasi , dan isi bagian dalamnya mencair sebagian. Penyakit ini dikenal dengan nama Zophobas morio Black Wasting Disease (ZmBWD). ZmBWD dapat menyebar melalui jalur mulut dan feses. Usus tengah telah terbukti berperan penting dalam infeksi Densovirus (DV). Penelitian Zielinska pada tahun 2021 menemukan sitotoksisitas ekstrak pada lini sel kanker payudara manusia MCF-7. Kelompok yang sama menemukan bahwa ekstrak etanol morio memiliki IC50 yang lebih tinggi daripada isopropanol pada lini sel MCF-7, masingmasing 1,7 mg/ml dan 0,7 mg/ml. Konsentrasi ekstrak larva yang diteliti distandarisasi untuk protein . Ae100 AAg/mL protein dalam ekstra. , penggantian makanan larva tradisional dengan busa polistirena tidak meningkatkan sifat sitotoksik. Ekstrak dari serangga yang dibandingkan dengan serangga yang diberi makan diet kontrol. Penelitian yang dilakukan menjawab rumusan masalah yang diajukan. Dalam penelitian ini terbukti bahwa Ulat Jerman mampu bermanfaat dalam mengurangi sampah plastik bungkus makanan Styrofoam Expanded Polystyrene (EPS) dengan paling efektif jika dibandingkan jenis sampah HDPE dan LDPE. Ditemukan juga bahwa penurunan berat sampah plastik yang ditambahkan sayur sebagai makanan tambahan akan meningkatkan efektifitas penurunan berat sampah plastik hingga 20 kali lebih baik. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 4 No. 1 November 2025 E-ISSN 2964-0857 SIMPULAN DAN SARAN Rangkuman hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ulat Jerman (Zophobas mori. mampu mengurangi berat sampah plastik melalui proses biodegradasi dengan tingkat efektivitas yang bervariasi tergantung pada jenis plastik. Penurunan berat sampah HighDensity Polyethylene (HDPE) mencapai 10,2%. Low-Density Polyethylene (LDPE) sebesar 11,8%, dan Expanded Polystyrene (EPS) atau styrofoam paling tinggi yaitu 66,6% setelah 30 hari perlakuan menggunakan 200 larva. Efektivitas tertinggi pada styrofoam disebabkan oleh struktur kimianya yang lebih mudah terurai dibandingkan dengan HDPE dan LDPE. Penurunan konsumsi larva pada akhir periode penelitian dipengaruhi oleh faktor suhu, kelembapan, dan tingkat kematian Ulat Jerman. Hasil penelitian ini memperkuat teori bahwa biodegradasi oleh serangga plastivora merupakan metode yang ramah lingkungan, murah, dan potensial untuk pengurangan limbah plastik. Simpulan : Pemanfaatan Ulat Jerman terbukti efektif dalam menurunkan berat sampah plastik, terutama jenis styrofoam. Disarankan untuk mengoptimalkan kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan, menekan angka kematian larva, serta meneliti keamanan dan potensi pemanfaatan Ulat Jerman yang telah mengonsumsi plastik agar hasilnya dapat diterapkan dalam skala lebih luas dan aman bagi ekosistem. DAFTAR PUSTAKA