Alya Putri Rachmanda. Scolastika Vani Purnamadewi. Kristina Novi Susanti Teknik Batik Ciprat sebagai Pendekatan Inklusif dalam Workshop Pembuatan Totebag Batik bagi Teman Tuli TEKNIK BATIK CIPRAT SEBAGAI PENDEKATAN INKLUSIF DALAM PELATIHAN PEMBUATAN TOTEBAG BATIK BAGI TEMAN TULI Alya Putri Rachmanda1. Scolastika Vani Purnamadewi2. Kristina Novi Susanti3 1, 2, 3 Institut Seni Indonesia Surakarta putrirachmandaalya@gmail. com1, scolastikavani1@gmail. com2, kristina@isi-ska. ABSTRAK Pelatihan AuPembuatan Totebag Batik dengan Teknik Batik Ciprat Memudahkan bagi Teman Tuli untuk Berkarya dan Meningkatkan Kreativitas SeniAy. Teknik batik ciprat merupakan salah satu metode kreatif dalam seni batik yang dapat diadaptasi untuk berbagai media, termasuk totebag. Pelatihan ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan teknik batik ciprat sebagai pendekatan inklusif dalam Pelatihan pembuatan totebag bagi teman-teman tuli. Dilaksanakan sebagai program pengabdian seni untuk menciptakan ruang kreatif yang inklusif. Melalui pelatihan ini, teman tuli tidak hanya belajar keterampilan seni, tetapi juga berkesempatan untuk berinteraksi dan berkolaborasi dalam lingkungan yang mendukung. Metodologi yang digunakan meliputi pengenalan alat dan bahan, pelatihan teknik dasar, serta praktik langsung dalam menciptakan batik dalam media totebag. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan keterampilan, kepercayaan diri, dan keterlibatan sosial di antara peserta. Selain itu, totebag yang dihasilkan dapat menjadi produk yang dipasarkan, memberikan nilai ekonomi bagi teman-teman tuli. Pelatihan ini menekankan pentingnya seni sebagai alat pemberdayaan dan inklusi sosial, serta potensi teknik batik ciprat dalam menciptakan ruang kreatif bagi individu dengan kebutuhan khusus. Diharapkan, hasil dari Pelatihan ini dapat menciptakan ruang bagi teman-teman tuli untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman dengar, membangun jaringan sosial yang positif, serta mendapatkan keterampilan baru yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau sebagai peluang usaha. Kata Kunci: Batik Ciprat. Batik pada Media Totebag. Teman Tuli. Kreativitas Seni. Inklusif. ABSTRACT The Pelatihan AuMaking Batik Totebags with the Splash Batik Technique Makes it Easier for Deaf People to Create and Improve Artistic CreativityAy. The splash batik technique is a creative method in batik art that can be adapted to various media, including totebags. This Pelatihan aims to explore the application of the splash batik technique as an inclusive approach in totebag-making Pelatihans for deaf people. It is implemented as an art service program to create an inclusive creative space. Through this Pelatihan, deaf people not only learn art skills, but also have the opportunity to interact and collaborate in a supportive environment. The methodology used includes an introduction to tools and materials, basic technique training, and hands-on practice in creating batik in the totebag The results of the Pelatihan showed an increase in skills, self-confidence, and social engagement among participants. In addition, the resulting totebags can become Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 marketable products, providing economic value for deaf people. This Pelatihan emphasizes the importance of art as a tool for empowerment and social inclusion, as well as the potential of the splash batik technique in creating creative spaces for individuals with special needs. It is hoped that the results of this Pelatihan will create a space for deaf friends to interact and collaborate with hearing friends, build positive social networks, and gain new skills that can be used in everyday life or as business Keywords: Batik Splash. Batik on Tote Bags. Deaf Friends. Artistic Creativity. Inclusive. PENDAHULUAN Batik merupakan kain yang dibuat dengan cara melukis menggunakan alat bernama canting yang diberi lilin malam sehingga menimbulkan lukisan indah yang bernilai tinggi. Secara etimologi batik berasal dari bahasa Jawa, yakni dari kata AumbatAy . elempar berkali-kal. dan AutikAy yang artinya titik. Sehingga membantik bisa diartikan sebagai melempat titik berkali-kali pada kain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerapkan malam pada kain, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu (Waqaf et al. , 2. Berdasarkan kekayaan motif batik yang ada di Indonesia, jenis batik satu ini berbeda dan unik yaitu batik ciprat yang cara pembuatannya dengan cara atau teknik menciprat-cipratkan bahan untuk menggambar pada kain yang akan dilakukan pembatikan, dimana bahan pada batik ciprat yang sering disebut dengan nama malam. Malam dicipratkan menggunakan tangan, kuas, sendok, atau bahkan dengan menggunakan lidi. Oleh karena itu, dalam pembuatan batik ciprat ini dilakukan dengan teknik colet atau kuas serta teknik jumputan (Nasyiithoh, 2. (Mulyati. Rohmatiah, & Amadi, 2. Berdasarkan namanya, dapat disimpulkan memiliki keunikan tersendiri dalam proses pembuatannya yaitu dengan mencipratkan malam ke kain. Keunikan tersebut semakin menonjol ketika tahu bahwa para penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan merupakan pembuat karya batik ciprat pada media totebag. Meskipun menghadapi tantangan, mereka mampu menciptakan batik ciprat yang indah dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi (Suprihati et al. , 2. Aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dalam dunia seni, termasuk seni visual seperti batik, merupakan isu penting yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Teman Tuli, sebagai bagian dari komunitas penyandang disabilitas, sering kali menghadapi Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Alya Putri Rachmanda. Scolastika Vani Purnamadewi. Kristina Novi Susanti Teknik Batik Ciprat sebagai Pendekatan Inklusif dalam Workshop Pembuatan Totebag Batik bagi Teman Tuli tantangan dalam berpartisipasi secara aktif dalam proses kreatif. Keterbatasan dalam komunikasi verbal dan akses informasi dapat mengakibatkan mereka terpinggirkan, sehingga peran mereka dalam dunia seni sering kali hanya sebagai penikmat pasif, bukan sebagai pelaku kreatif. Setiap individu, termasuk teman Tuli, memiliki hak untuk mengekspresikan diri dan berkontribusi dalam dunia seni. Kondisi para penyandang disabilitas yang telah pulih mengalami kesulitan dalam berintegrasi kembali ke dalam lingkungan masyarakat, salah satunya sering mendapatkan pengalaman ditolak kerja dan mengalami penolakan sosial. Hal ini menyebabkan mereka merasa kurang percaya diri dan mengalami kesulitan dalam beradaptasi saat berinteraksi dengan orang lain. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas adalah perlunya pengembangan program pemberdayaan (Santoso et al. , 2. Representasi mereka dalam industri seni, khususnya batik, masih sangat minim. Hal ini berdampak pada terbatasnya partisipasi teman Tuli dalam proses kreatif, serta kurangnya karya yang mencerminkan perspektif mereka. Dalam konteks ini, teknik batik ciprat dapat menjadi pendekatan inovatif yang memungkinkan teman Tuli untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembuatan totebag batik. Pelatihan pembuatan totebag dengan teknik batik ciprat dirancang untuk memberikan pelatihan teknis sekaligus menciptakan ruang inklusif bagi teman tuli. Melalui metode ini, peserta diajarkan cara menggunakan alat dan bahan batik ciprat, serta teknik menciptakan pola yang unik. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga mendorong kolaborasi antara teman tuli dan teman dengar, sehingga tercipta komunikasi yang produktif dan saling mendukung. Melalui Pemanfaatan teknik batik ciprat, teman tuli dapat mengekspresikan kreativitas mereka tanpa bergantung pada komunikasi verbal yang sering menjadi kendala. Proses visual dalam menciptakan totebag memungkinkan teman tuli menginterpretasikan desain dengan cara yang lebih Selain itu, totebag yang dihasilkan dapat menjadi produk yang dipasarkan, memberikan nilai ekonomi dan meningkatkan kepercayaan diri peserta. Pelatihan metode khusus memang secara eksklusif ditujukan untuk teman tuli, melainkan lebih pada pendekatan komunikasi yang inklusif dan adaptif yang melibatkan berbagai teknik untuk memfasilitasi komunikasi dengan teman tuli dengan menggunakan bantuan JBI (Juru Bahasa Isyara. Teknik-teknik mencakup penggunaan bahasa isyarat, komunikasi visual, menciptakan lingkungan yang mendukung, serta pemanfaatan Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Melalui pelatihan yang dilakukan, diharapkan teman tuli tidak hanya belajar keterampilan baru, tetapi juga merasa diberdayakan sebagai subjek kreatif yang memiliki suara dalam dunia seni. Dengan demikian, teknik batik ciprat dapat menjadi jembatan untuk menciptakan karya seni yang inklusif dan representatif, serta memberikan ruang bagi teman tuli untuk berkontribusi dalam industri kreatif METODE Pelatihan disusun sebagai program pengabdian masyarakat yang menitikberatkan pada seni dengan pendekatan partisipatif. Metode ini bertujuan untuk memberdayakan teman tuli dalam proses kreatif pembuatan totebag batik dengan menggunakan teknik batik ciprat sebagai sarana berekspresi. Kegiatan ini dilaksanakan dalam tiga tahap utama yang saling terkait: . pengenalan konsep teknik batik ciprat, . pengenalan alat dan bahan dalam batik teknik ciprat, . pendampingan teknis bagi peserta tuli selama proses pembuatan totebag batik ciprat. Gambar 1. Pengenalan Konsep Batik Ciprat melalui Video (Foto: kelompok MBKM. Juli 2. Tahap 1: Penyampaian Konsep Batik Ciprat Melalui Media Visual Material edukasi dirancang secara khusus untuk mengenalkan seni batik dengan teknik ciprat kepada teman tuli melalui media video. Selain itu diberikan penjelas melalui poin-poin penting dalam membuat batik. Presentasi visual ini mengadaptasi metode pembelajaran yang mengutamakan: Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Alya Putri Rachmanda. Scolastika Vani Purnamadewi. Kristina Novi Susanti Teknik Batik Ciprat sebagai Pendekatan Inklusif dalam Workshop Pembuatan Totebag Batik bagi Teman Tuli Demonstrasi proses lengkap dengan close-up detail teknik Penggunaan subtitle deskriptif dan penggunaan juru bahasa isyarat Visualisasi tahapan kerja dengan animasi sederhana Pengulangan adegan penting secara slow motion Gambar 2. Sosialisasi materi Teknik Batik Ciprat. (Foto: kelompok MBKM. Juli 2. Gambar 3. Pengenalan Alat dan Bahan dalam Batik Teknik Ciprat. (Foto: kelompok MBKM. Juli 2. Tahap 2: Pengenalan Alat dan Bahan dalam Batik Teknik Ciprat Pada sesi ini, akan diperkenalkan berbagai alat dan bahan yang diperlukan untuk teknik batik ciprat. Penjelasan ini dirancang agar mudah dipahami oleh teman tuli, dengan fokus pada visual dan demonstrasi langsung. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Alat dan bahan yang akan digunakan meliputi: Totebag: Media utama yang akan digunakan untuk menciptakan karya batik. Kompor batik: Tempat untuk mencairkan lilin batik yang akan digunakan dalam proses ciprat. Sikat atau Kuas: Digunakan untuk mencipratkan malam batik ke media totebag. Lilin/Malam Batik: Bahan utama yang digoreskan ke media totebag. Pewarna Remasol: Berbagai jenis pewarna yang akan memberikan warna pada C Air: Digunakan untuk mencampur pewarna, membersihkan alat, serta melorod C Soda Abu: Digunakan untuk menghilangkan malam batik saat melorod. Spons: Digunakan untuk menorehkan warna ke media totebag. Waterglass: Pengunci warna dalam batik. Melalui pengenalan ini, teman tuli akan: Memahami fungsi masing-masing alat dan bahan. Melihat cara penggunaan alat secara langsung. Tahap 3: Pendampingan Teknis dan Pembuatan Batik Ciprat pada Media Totebag Tahap ini diberikan pendampingan teknis kepada teman tuli dalam proses pembuatan batik ciprat yang diaplikasikan pada totebag. Pendampingan bertujuan untuk memastikan setiap teman tuli dapat mengikuti langkah-langkah dengan baik dan merasa percaya diri dalam menciptakan karya mereka sendiri. Selama sesi ini, peserta akan didampingi untuk: Mendapatkan bimbingan secara langsung. Diajak untuk berlatih menggunakan alat dan bahan yang telah diperkenalkan C Diberikan penjelasan rinci mengenai teknik ciprat, termasuk cara menciptakan pola yang menarik. Pendampingan ini juga mencakup: Demonstrasi langsung dari setiap langkah pembuatan totebag batik ciprat. Kesempatan bagi peserta untuk bertanya dan mendapatkan umpan balik secara langsung menggunakan bantuan juru bahasa isyarat. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Alya Putri Rachmanda. Scolastika Vani Purnamadewi. Kristina Novi Susanti Teknik Batik Ciprat sebagai Pendekatan Inklusif dalam Workshop Pembuatan Totebag Batik bagi Teman Tuli Dukungan dalam mengatasi tantangan yang mungkin dihadapi selama proses Melalui pendekatan ini, diharapkan teman tuli dapat mengembangkan keterampilan mereka dalam seni batik dan menghasilkan totebag yang unik serta Pendampingan teknis bertujuan untuk melatih peserta dalam mengaplikasikan konsep yang telah dipelajari pada tahap pertama dan tahap Baik teman tuli maupun teman dengar, dilibatkan langsung dalam membuat totebag batik ciprat. Gambar 4. Pendampingan Teknis dalam Pembuatan Batik Ciprat (Foto: Kelompok MBKM. Juli 2. Kegiatan pelatihan difasilitasi oleh 2 orang fasilitator dari program studi desain mode batik dan 1 orang juru bahasa isyarat BISINDO yang mendukung komunikasi dua arah selama Pelatihan. Pelatihan dilaksanakan selama 1 hari penuh dari pagi hingga sore hari dengan diawali kegiatan pembukaan, pengenalan, sosialisasi konsep, lalu pengenalan alat dan bahan yang digunakan untuk membatik, serta pendampingan teknis kepada teman Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Analisis Data Dalam upaya menciptakan ruang inklusif bagi teman tuli untuk berkarya dan mengekspresikan diri, dibutuhkan pendekatan berbasis data yang tepat sasaran. Salah satu kegiatan yang memiliki potensi besar dalam pemberdayaan teman tuli adalah Pelatihan batik ciprat, sebuah teknik membatik yang tidak hanya mudah diterapkan, tetapi juga menyenangkan dan kreatif. Batik Ciprat dipilih berdasarkan hasil survei awal terhadap komunitas tuli di beberapa daerah, ditemukan bahwa mayoritas responden tertarik pada kegiatan seni visual, terutama yang tidak terlalu bergantung pada komunikasi verbal. Teknik batik ciprat dipilih karena: Prosesnya mengandalkan gerakan tangan dan ekspresi visual Tidak memerlukan keterampilan membatik konvensional yang rumit Memberikan kebebasan berekspresi tanpa batasan bentuk atau pola Pengumpulan Data Sebelum pelaksanaan Pelatihan, dilakukan pengumpulan data melalui beberapa C Kuesioner digital: Untuk mengetahui minat, kebutuhan, dan preferensi teman tuli terhadap kegiatan seni Wawancara dengan penerjemah bahasa isyarat: Mendalami pengalaman dan tantangan yang dihadapi teman tuli dalam kegiatan kreatif Observasi komunitas: Mengamati interaksi, gaya belajar, dan cara komunikasi yang paling efektif. Dari data yang terkumpul, dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang melibatkan visualisasi kuat dan pengalaman langsung lebih efektif dalam menjangkau teman tuli. Hasil dan Dampak Setelah pelaksanaan Pelatihan, dilakukan evaluasi melalui kuesioner dan diskusi kelompok kecil. Hasilnya menunjukkan bahwa: 95% peserta merasa lebih percaya diri untuk berkarya C 85% peserta ingin mengikuti Pelatihan lanjutan C Terjadi peningkatan keterlibatan sosial antar teman tuli dengan teman dengar. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Alya Putri Rachmanda. Scolastika Vani Purnamadewi. Kristina Novi Susanti Teknik Batik Ciprat sebagai Pendekatan Inklusif dalam Workshop Pembuatan Totebag Batik bagi Teman Tuli Gambar 5. Pendampingan yang melibatkan interaksi antara teman dengar dan teman tuli. (Foto: Kelompok MBKM. Juli 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Tempat dan Waktu Kegiatan Kegiatan Pelatihan dilaksanakan di Basecamp DPC GERKATIN Kota Surakarta yaitu Jl. Apel i No. Jajar. Kec. Laweyan. Kota Surakarta. Jawa Tengah 57144. Dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2025. Kegiatan dilaksanakan selama 1 hari penuh dari pagi hingga sore hari dengan diawali kegiatan pembukaan, pengenalan, sosialisasi konsep, lalu pengenalan alat dan bahan yang digunakan untuk membatik, serta pendampingan teknis kepada teman tuli. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Hasil Capaian Kegiatan Pelaksanaan pelatihan batik ciprat untuk teman tuli berhasil mencapai berbagai capaian baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman seni yang inklusif, tetapi juga membangun ruang kolaborasi yang mendorong kemandirian dan kepercayaan diri peserta. Berikut adalah hasil capaian utama dari kegiatan: Partisipasi Peserta C Peserta teman tuli dari berbagai latar belakang usia . Ae25 tahu. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif selama sesi praktik, diskusi visual, dan pameran hasil karya Peningkatan Keterampilan dan Pemahaman C Seluruh peserta berhasil menyelesaikan minimal 1 karya batik ciprat dengan desain mandiri C Berdasarkan observasi dan wawancara singkat menggunakan bahasa isyarat, teman tuli merasa lebih percaya diri dalam mengekspresikan ide melalui batik Terjadi peningkatan pemahaman tentang tahapan dasar pembuatan batik ciprat, mulai dari proses pewarnaan hingga fiksasi warna, sampai siap dipakai. Inovasi Metode Penyampaian C Materi disampaikan melalui media visual interaktif, seperti poster langkahlangkah, demonstrasi langsung, dan video tutorial dengan ada juru bahasa isyarat Pendampingan dilakukan oleh fasilitator yang memang bidangnya C Peserta merespons positif metode ini karena lebih mudah dipahami dan Capaian Sosial dan Psikologis C Pelatihan menjadi wadah untuk membangun relasi sosial antar peserta, yang selama ini merasa terpinggirkan dari kegiatan seni Kegiatan ini mendorong terciptanya ruang inklusi, di mana teman tuli merasa diterima, didengar, dan dihargai sebagai seniman Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Alya Putri Rachmanda. Scolastika Vani Purnamadewi. Kristina Novi Susanti Teknik Batik Ciprat sebagai Pendekatan Inklusif dalam Workshop Pembuatan Totebag Batik bagi Teman Tuli Beberapa peserta menunjukkan minat untuk mengembangkan keterampilan ini menjadi usaha mandiri . irausaha berbasis karya bati. Dokumentasi dan Dampak Lanjutan C Seluruh proses kegiatan didokumentasikan dalam bentuk foto, video, dan katalog karya peserta C Hasil karya peserta dipamerkan dalam expo kolaborasi MBKM, yang juga terbuka untuk publik sebagai bentuk edukasi inklusif Lingkungan yang stabil menjadi penunjang seseorang untuk tetap produktif dan percaya diri. Hal itu juga berlaku bagi Teman Tuli, ia harus berada dalam lingkungan yang dapat menerima dirinya serta tidak menjadikan keterbatasannya sebagai pembeda. Salah satu yang menjadi minat teman tuli adalah hand crafting. Hand crafting adalah hobi atau pekerjaan yang membutuhkan kemampuan dan pengetahuan tertentu untuk menciptakan karya secara terampil. Orang-orang seperti teman tuli juga mempunyai kemampuan dalam membuat kerajinan tangan yang hasilnya juga tidak kalah bagus. Meskipun dengan keterbatasan jika di arahkan dengan baik maka hasilnya pun akan sama (Penyandang et al. , n. ) Teknik ini dipilih karena bersifat visual, ekspresif, dan tidak terlalu bergantung pada instruksi verbal atau keterampilan teknis yang rumit . Observasi dan koordinasi merupakan dua tahapan krusial dalam merancang kegiatan kami. Hal ini dikarenakan teman tuli memiliki kebutuhan komunikasi dan pendekatan pembelajaran yang berbeda dibanding teman dengar, sehingga diperlukan pemahaman dan persiapan yang matang agar kegiatan berjalan inklusif, efektif, dan Observasi Sebelum pelaksanaan pelatihan, dilakukan observasi lapangan sebagai tahap awal dalam merancang kegiatan yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan peserta Observasi dilakukan di beberapa komunitas tuli di wilayah penyelenggaraan. Tujuan dari observasi ini adalah untuk: Memahami karakteristik komunikasi teman tuli, terutama dalam konteks pembelajaran seni Mengidentifikasi gaya belajar visual yang paling efektif bagi peserta Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Menggali minat dan potensi seni dari teman tuli melalui interaksi langsung C Menganalisis tantangan yang mungkin dihadapi, seperti keterbatasan akses informasi, kebutuhan alat bantu visual, dan tingkat kepercayaan diri peserta dalam mengikuti kegiatan umum Hasil observasi menunjukkan bahwa peserta tuli cenderung memiliki antusiasme tinggi terhadap kegiatan berbasis visual. Namun, mereka memerlukan pendekatan visual yang jelas, komunikatif, dan bebas dari dominasi verbal. Gambar 6. Observasi langsung bersama Ketua DPC Gerkatin Solo (Foto: Kelompok MBKM. Juli 2. Tahap Koordinasi Koordinasi merupakan tahapan penting dalam memastikan keberhasilan pelaksanaan Pelatihan yang inklusif. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak yang memiliki peran strategis, antara lain: Koordinasi dengan komunitas tuli dan pengurus organisasi di DPC Gerkatin, untuk proses rekrutmen peserta serta memahami kebutuhan spesifik mereka C Kolaborasi dengan juru bahasa isyarat (JBI) sebagai pendamping utama selama Pelatihan berlangsung. Tim JBI juga dilibatkan sejak tahap perencanaan materi, agar konten yang disampaikan dapat diadaptasi ke dalam bahasa isyarat secara Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Alya Putri Rachmanda. Scolastika Vani Purnamadewi. Kristina Novi Susanti Teknik Batik Ciprat sebagai Pendekatan Inklusif dalam Workshop Pembuatan Totebag Batik bagi Teman Tuli Diskusi dengan fasilitator batik untuk menyederhanakan teknik ciprat agar mudah diikuti oleh peserta tuli. Fasilitator juga diberikan pelatihan dasar komunikasi non-verbal dan bahasa isyarat sederhana C Koordinasi logistik dan tempat pelaksanaan Pelatihan yang memperhatikan kenyamanan sensorik . idak terlalu bisin. , aksesibilitas ruang, serta alat dan bahan yang aman digunakan C Pembuatan media visual pendukung, seperti infografik langkah kerja, demonstrasi melalui video tanpa suara . ilengkapi teks dan isyara. , serta label-label visual di setiap area kerja Tahap koordinasi ini memakan waktu sekitar 1 minggu dan menjadi fondasi penting dalam menjamin kelancaran serta efektivitas kegiatan. Koordinasi yang matang juga memastikan bahwa setiap aspek kegiatan ramah terhadap kebutuhan teman tuli, baik dari sisi komunikasi, pembelajaran, maupun kenyamanan selama proses berkarya. Gambar 7. Koordinasi pelaksanaan Pelatihan bersama Team MBKM (Foto: Kelompok MBKM. Juli 2. PENUTUPAN Pelatihan batik ciprat yang melibatkan teman tuli berhasil menjadi pendekatan kreatif dan inklusif dalam pemberdayaan melalui seni visual. Seluruh tahapan kegiatan, mulai dari persiapan hingga proses pembuatan batik, menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan pemahaman peserta terhadap teknik seni batik serta mendorong partisipasi aktif mereka dalam proses penciptaan karya. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Penggunaan metode visual dan demonstratif dalam pelatihan terbukti efektif membantu teman tuli memahami alur proses membatik mulai dari pencampuran warna, teknik cipratan, hingga penyelesaian karya. Pendekatan ini memungkinkan peserta mengekspresikan ide dan emosi mereka secara lebih leluasa dan otentik melalui pola dan Selain itu, pendampingan intensif oleh fasilitator serta kehadiran juru bahasa isyarat berperan besar dalam membangun rasa percaya diri peserta, baik dalam menciptakan karya maupun dalam berinteraksi dengan sesama. Kegiatan menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas kemampuan dalam seni. Dengan komunikasi yang terbuka dan setara antara fasilitator, juru bahasa isyarat, dan teman tuli, tercipta suasana Pelatihan yang harmonis, inklusif, dan produktif. Sinergi ini menjadi fondasi terciptanya karya batik yang bukan hanya estetis, tetapi juga sarat makna sosial mengenai akses dan kesetaraan dalam ruang kreatif. Karya batik ciprat yang dihasilkan menjadi bukti konkret bahwa teman tuli memiliki potensi besar dalam seni jika diberikan ruang belajar yang sesuai dan mendukung. Pelatihan ini pun menjadi praktik baik dalam menggabungkan kearifan lokal, pendekatan visual, dan nilai-nilai inklusi, sekaligus menjadi media advokasi untuk meningkatkan kesadaran publik akan hak dan potensi penyandang disabilitas dalam berkesenian. DAFTAR PUSTAKA