AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 25-35 AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak Journal homepage: https://ejournal. edu/audiensi p-ISSN 2829-9353 e-ISSN 2829-8659 Meningkatkan Kemampuan Anak Dalam Menceritakan Kembali Isi Cerita Melalui Media Boneka Tangan Pria Sumasno TK Negeri Pembina Kecamatan Adipala, priasumasno41@guru. INFO ARTIKEL Riwayat Artikel: Received: 2024-08-21 Revised: 2024-08-29 Accepted: 2024-08-29 Keywords: Media. Hand Puppets. Early Childhood Kata Kunci: Media. Boneka Tangan. Usia Dini ABSTRACT This study aims to improve children's ability to retell the content of the story by using hand puppet media. Children's ability to retell can be measured by how well they can express and arrange the storyline that has been conveyed by the teacher through the teaching obtained, as well as the child's ability when answering questions from the teacher about what, who, why, and where related to the content of the story. Collaborative classroom action research method, a total of 17 children from group B1 consisting of 8 boys and 9 girls at TK Negeri Pembina Adipala District. Data collection through observation and documentation techniques, qualitative and quantitative descriptive data The results of increasing the percentage of speaking skills: from 8% at the initial stage . oor categor. , to 65. 6% . ufficient categor. , and increased again to 88. 1% . ood categor. The steps taken to improve speaking skills include: The teacher tells a story to the children, then asks questions about the story, the children repeat the story, and ends by giving motivation by the teacher so that the children actively participate related to the content of the story. Through the use of hand puppet media, teachers provide fun learning so that children more easily capture new information and knowledge taught. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam menceritakan kembali isi cerita dengan menggunakan media boneka Kemampuan anak dalam menceritakan kembali dapat diukur dari seberapa baik mereka dapat mengungkapkan dan menyusun alur cerita yang telah disampaikan oleh guru melalui pengajaran yang didapatkan, serta kemampuan anak ketika menjawab pertanyaan dari guru mengenai apa, siapa, mengapa, dan di mana terkait isi cerita tersebut. Metode penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif, jumlah 17 anak dari kelompok B1 yang terdiri dari 8 anak laki-laki dan 9 anak perempuan di TK Negeri Pembina Kecamatan Adipala. Pengumpulan data melalui teknik observasi dan dokumentasi, analisis data deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil peningkatan persentase keterampilan berbicara: dari 52,8% pada tahap awal . ategori kurang bai. , menjadi 65,6% . ategori cuku. , dan meningkat lagi menjadi 88,1% . ategori bai. Langkah-langkah yang diambil untuk meningkatkan keterampilan berbicara meliputi: guru melalukan kegiatan bercerita kepada anak, lalu bertanya jawab tentang cerita, anak melakukan pengulangan cerita, dan diakhiri pemberian motivasi oleh guru agar anak Meningkatkan Kemampuan Anak Dalam Menceritakan Kembali A (P. Sumasn. aktif berpartisipasi terkait isi cerita. Melalui penggunaan media boneka tangan ini, guru memberikan pembelajaran yang menyenangkan sehingga anak lebih mudah menangkap informasi dan pengetahuan baru yang PENDAHULUAN Seorang anak adalah individu dengan karakteristik dan keunikan yang khas, mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang perlu dimaksimalkan. Rentang usianya, mereka memiliki karakteristik serta keunikan yang berbeda sehingga dalam hal ini pendidikan dipandang perlu untuk dikhususkan. (Sakinah:2. juga mengungkapkan bahwa masa anak usia dini yang dimulai sejak ia bayi memiliki keteragntungan penuh hingga kurang lebih 2 tahun dan sampai anak matang secara dewasa sehingga mereka memiliki karakteristik yang khas sangat berbeda dengan orang dewasa. Pendidikan Anak Usia Dini memiliki perbedaan dibandingkan dengan jenis pendidikan lainnya. Pada tahap ini, guru berperan untuk memfasilitasi dan mengembangkan semua aspek perkembangan anak sehingga potensi dan perkembangan anak harus dioptimalkan sepenuhnya pada masa ini. (Mufridah:2. guru dapat berperan untuk dapat merubah suasana menjadi lebih baik dan bersemangat dalam mengajarkan sesuatu kepada anak. Dalam penelitian Zakiyyah, 2021 guru PAUD adalah orang yang berinteraksi langsung dengan anak-anak di lingkungan sekolah sehari-hari karena itu, guru PAUD perlu menjadi contoh dan panutan yang baik, memberikan dorongan dan inspirasi kepada anak-anak agar mereka termotivasi dalam proses belajar, dapat berkreasi, dan meraih prestasi. Aspek perkembangan yang perlu pegoptimalan meliputi aspek kognitif, sosialemosional, fisik, dan bahasa. Di antara semua bidang pengembangan, aspek perkembangan bahasa merupakan salah satu yang sangat krusial bagi anak. Bahasa berfungsi sebagai sarana utama bagi anak untuk menyampaikan pikiran dan pengetahuan saat berinteraksi dengan orang lain. Anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan menggunakan bahasa untuk menyampaikan kebutuhan, ide, dan perasaan mereka melalui kata-kata yang memiliki makna. Keterampilan berbahasa mencakup berbagai kemampuan yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif dalam bahasa tertentu antara lain keterampilan mendengarkan, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, serta keterampilan menulis. Keterampilan mendengarkan menjadi kemampuan untuk memahami dan menangkap informasi yang disampaikan oleh orang lain. Keterampilan berbicara merupakan kemampuan untuk menyampaikan ide, pendapat, dan informasi dengan jelas dan efektif, keterampilan membaca merupakan kemampuan untuk memahami dan menafsirkan teks tertulis. Keterampilan yang terakhir dari aspek AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 25-35 berbahasa merupakan keterampilan menulis dimana keterampilan ini merupakan kemampuan untuk menyusun teks dengan tata bahasa, ejaan, dan struktur yang benar (Pamuji, dkk 2. Pada empat aspek tersebut dikenal melalui catur tunggal keterampilan berbahasa karena hal itu menjadi bagian yang saling terkait, tidak bisa dipisahkan, namun tetap memiliki perbedaan satu sama lain serta dalam prosesnya. Salah satunya adalah kemahiran berbahasa indonesia yang ditunjukkan dalam kemampuan berbicara. Kemampuan berbicara tidak dapat hanya ditunjukkan pada teori berbicara saja, tetapi lebih menekankan pada keterampilan berbicara dengan praktek secara langsung (Rosdayanti, 2. Karakteristik umum dalam keterampilan berbicara untuk anak usia dini yaitu mendengarkan serta menceritakan kembali cerita sederhana, melaksanakan perintah lisan secara berurutan, penggunaan kata sambung, menggunakan kata tanya, menyusun kalimat, mengenal tulisan sederhana serta hal lain yang menunjang keterampilan berbicara lainnya. Vygotsky . alam Aip, 2. menjelaskan bahwa sebenarnya anak memiliki gagasan dan pemikiran yang sangat banyak, tetapi dalam rentang waktu usia tertentu mereka belum dapat mengungkapkan hal tersebut dengan baik. Ini terjadi karena kemampuan bicara anak masih sangat terbatas dan jumlah kosa katanya masih sedikit. Keterbatasan ini bisa disebabkan oleh belum optimalnya stimulasi dari guru, orang tua, atau lingkungan sekitar. Jika stimulasi tidak segera diberikan atau dikembangkan, hal ini bisa berdampak pada perkembangan aspek-aspek lainnya. Peneliti melakukan observasi pada kelompok B1 di TK Negeri Pembina Kecamatan Adipala dengan jumlah 17 anak pada kelompok tersebut. Hasil observasi tersebut mendapatkan data bahwa 9 dari 17 anak di kelompok B1 pada perkembangan bahasa yaitu kemampuan berceritanya masih belum optimal dan memerlukan peningkatan yang lebih lanjut. Hasil presentase 52,94% anak belum mampu menceritakan kembali setiap isi cerita dengan runtut. Seorang anak menceritakan pengalamannya dengan hanya mengucapkan satu atau dua kalimat, dan terkadang kalimatnya masih terbalik atau tidak berurutan. Hal tersebut juga dikarenakan media pembelajaran yang terdapat disekolah kurang sesuai dengan kebutuhan anak didik. Hal tersebut dibuktikan dengan seringnya media yang digunakan untuk bercerita kurang menarik minat dan perhatian anak karena guru hanya menggunakan buku cerita dengan ukuran kecil, majalah yang sudah cukup lama serta diberikan lembar kerja Posisi ketika bercerita juga menentukan perhatian anak, terlalu lama duduk juga mengakibatkan anak bosan sehingga mereka terkadang berbicara sendiri sehingga terkadang guru menegur anak tersebut agar mereka kembali fokus mendengarkan. Oleh karena itu, ketika guru mengajukan pertanyaan, anak mengalami kesulitan untuk menceritakan kembali apa yang telah disampaikan oleh guru. Hal ini terjadi karena Meningkatkan Kemampuan Anak Dalam Menceritakan Kembali A (P. Sumasn. proses pembelajaran tidak banyak berfokus pada anak, sehingga anak masih belum terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Alat pembelajaran atau permainan edukatif sebaiknya dirancang dengan daya tarik yang maksimal untuk membantu mengembangkan kemampuan berpikir dan keterampilan bercerita anak-anak, baik dengan orang tua maupun guru. Salah satu media yang sangat efektif adalah boneka tangan, yang dipilih karena mampu menghadirkan hiburan sekaligus menyampaikan pesan-pesan pendidikan dengan cara yang menyenangkan. Boneka tangan ini merupakan salah satu dari berbagai jenis alat peraga yang dapat digunakan dalam beragam setting, baik itu di ruang dua dimensi maupun tiga dimensi. Dengan mempertimbangkan latar belakang tersebut, perbaikan dalam metode pembelajaran menjadi penting untuk mengoptimalkan kemampuan bercerita pada anak. Pembelajaran yang dilakukan haruslah menyenangkan dan berfokus pada anak, sehingga dapat mendorong peningkatan kemampuan mereka dalam bercerita. Oleh karena itu, penggunaan media boneka tangan diharapkan mampu memperkaya kemampuan bercerita anak-anak di Kelompok B1. TK Negeri Pembina. Kecamatan Adipala. KAJIAN PUSTAKA Menceritakan kembali merupakan proses penyampaian maupun pemaparan terkait informasi yang diperoleh dari hasil membaca atau mendengarkan orang lain, yang bertujuan agar orang lain dapat mengetahui dan memahami apa yang disampaikan oleh pencerita. Menceritakan kembali juga merupakan aktivitas anak setelah mereka memahami isi cerita yang telah disampaikan oleh orang lain. Menceritakan kembali isi cerita memiliki tujuan agar anak mampu merangkai kembali cerita yang telah mereka dengar, anak terampil dalam menggunakan bahasa lisan melalui aktivitas yang dilakukan, dan anak mampu mengekpresikan diri dalam berperilaku dan berkomunikasi. Hal tersebut perlu adanya simulasi yang tepat untuk anak mampu bercerita kembali terkait cerita yang telah mereka dengar. Penggunaan media menjadi langkah awal dalam mereka mengenal hal tersebut. Media yang tepat dan sesuai mampu membuat anak nyaman dan senang mendengarkan cerita. Media pembelajaran merupakan alat yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses belajar mengajar, sehingga mampu merangsang pikiran, perhatian, dan minat peserta didik untuk belajar. Pesan yang disampaikan berupa isi pembelajaran, seperti tema atau topik yang diajarkan, dengan tujuan utama mendorong terjadinya proses belajar pada diri anak. Media juga dapat disebut sebagai pembawa suatu pesan karena menjadi bentuk komunikasi yang baik entah bentuk cetak maupun audiovisual dan perlengkapannya. AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 25-35 Yusufhadi Miarso . alam Wulandari, 2. menjelaskan bahwa pengelompokan media berdasarkan ciri-ciri tertentu dikenal dengan istilah taksonomi media yang dibagi menjadi beberapa kelompok. media penyaji, yang dibagi lagi menjadi beberapa kelompok spesifik. Kelompok pertama mencakup media seperti grafis, bahan yang dicetak, dan gambar diam. Kelompok kedua mencakup media proyeksi . Kelompok ketiga terdiri dari media audio. Kelompok keempat mencakup media yang menggabungkan audio dengan visual diam. Kelompok kelima adalah gambar hidup, seperti film. Kelompok keenam adalah televisi, dan . kelompok ketujuh mencakup multimedia. Selanjutnya terdapat . Media objek yang merujuk pada benda tiga dimensi yang mengandung informasi. Media objek ini tidak menyajikan informasi dalam bentuk penyajian, melainkan melalui ciri-ciri fisiknya, seperti ukuran, berat, bentuk, susunan, warna, dan fungsi. Media interaktif di mana siswa tidak hanya memperhatikan penyajian atau objek, tetapi juga berinteraksi secara aktif selama mengikuti pelajaran. Keberadaan media dapat mempengaruhi cara seseorang menceritakan kembali sebuah cerita. Ada berbagai jenis media yang bisa digunakan untuk menceritakan ulang cerita kepada anak-anak, salah satunya adalah media boneka tangan. Boneka tangan adalah boneka yang dioperasikan dengan tangan manusia untuk menggerakkan bagian-bagian tubuhnya, seperti kepala, tangan, dan mulut. Biasanya, boneka tangan terbuat dari kain, bulu, atau bahan lain yang ringan dan mudah dibentuk. Pengguna memasukkan tangan ke dalam boneka melalui bagian bawah atau belakang, kemudian menggunakan jari-jari untuk menggerakkan mulut atau tangan boneka tersebut. Boneka tangan sering digunakan dalam pertunjukan teater, acara pendidikan, atau sebagai alat untuk bercerita. Boneka ini populer di kalangan anak-anak karena interaktif dan memungkinkan cerita menjadi lebih hidup dan menarik. Boneka tangan memiliki berbagai manfaat yang sangat berarti antara lain, penggunaannya tidak memerlukan banyak ruang sehingga pelaksanaannya dapat dilakukan di berbagai tempat tanpa kendala yang berarti. Boneka tangan tidak memerlukan keterampilan yang rumit dari orang yang akan memainkannya, sehingga siapa saja dapat dengan mudah menggunakannya tanpa memerlukan pelatihan khusus. Boneka tangan mampu merangsang dan mengembangkan imajinasi anak-anak, serta meningkatkan keaktifan mereka dalam berpartisipasi, menciptakan suasana yang penuh kegembiraan selama proses bermain berlangsung. Selanjutnya benda tersebut juga berperan penting dalam mengembangkan aspek bahasa anak, menjadikannya sebagai media instruksional yang efektif dan bermanfaat dalam proses pembelajaran. Sejalan dengan penelitian Abbas, 2020 terkait pengembangan media boneka tangan untuk meningkatkan keterampilan menceritakan kembali mengungkapkan bahwa media boneka tangan menjadi media yang efektif dan layak untuk kegiatan menceritakan kembali. Hal tersebut dilakukan peneliti agar memudahkan Meningkatkan Kemampuan Anak Dalam Menceritakan Kembali A (P. Sumasn. pembelajaran siswa yang kesulitan mengingat dan memahami materi. Penelitian Arzani 2020 juga mengatakan bahwa media boneka tangan meningkatkan keterampilan berbicara pada Kelompok B Taman Kanak-kanak Negeri Dewi Khayangan. Peningkatan keterampilan berbicara pada anak terlihat ketika mereka menggunakan media boneka tangan, terutama saat anak mengungkapkan maksud seperti ide, pikiran, gagasan, dan perasaan, serta dalam menyusun kalimat sederhana. Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti memilih media boneka tangan agar dapat membantu siswa memahami berbagai aspek terkait benda dan memberikan pengalaman tentang karakter dalam dongeng. Objek didepan mata anak akan memudahkan mereka dalam mengerti dan memahami cerita. Mereka mampu berimajinasi, membentuk suatu pemahaman mengenai objek, membuat anak berpikir, dan menjadikan suasana kelas yang lebih menyenangkan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian Tindakan Kelas pada Kelompok B1 TK Negeri Pembina Adipala Desa Penggalang. Kecamatan Adipala. Kabupaten Cilacap bulan September-November 2022 Semester Ganjil Tahun Ajaran 2021/2022. Dalam penelitian ini, subyek yang dipilih adalah seluruh siswa dari Kelompok B1 di TK Negeri Pembina Kecamatan Adipala, yang berjumlah 17 anak, 8 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Kelompok B1 dipilih karena kelompok ini terdiri dari usia 5-6 tahun, usia yang akan segera memasuki jenjang sekolah dasar. Pada kelompok ini, keterampilan dalam menceritakan kembali isi cerita belum berkembang secara optimal, sehingga penelitian ini dianggap relevan untuk dilakukan. Penelitian Tindakan Kelas menjadi jenis penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk memanfaatkan hasilnya sebagai alat pengembangan sekolah dan peningkatan keahlian mengajar. PTK ini menggunakan model kolaboratif guru dan peneliti. Penelitian dalam dua siklus, siklus I tiga pertemuan dan siklus II tiga Model penelitian dari Kemmis dan McTaggart . alam Suharsimi Arikunto, 2. yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Berikut gambar tahap PTK Kemmis Taggart: AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 25-35 Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas Perencanaan mencakup penetapan tema dan subtema tentang binatang, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran harian, serta persiapan media seperti boneka tangan, lembar observasi, dan peralatan dokumentasi seperti kamera. Media digunakan bersamaan dengan kegiatan bercerita, dengan tahapan berikut guru melakukan kegiatan bercerita kepada anak lalu guru mengadakan tanya jawab mengenai cerita yang disampaikan. Selanjutnya, anak mengulang dengan menceritakan kembali dan guru memberikan motivasi kepada anak agar anak aktif. Pada siklus berikutnya, terdapat perubahan dalam langkah-langkah bercerita yang disesuaikan dengan hasil dari siklus I. Observasi dengan menggunakan lembar observasi yang diisi dengan tanda checklist dan dokumentasi aktivitas anak. Tahap refleksi berdiskusi bersama pendidik untuk mengidentifikasi temuan kendala dan merencanakan perbaikan untuk siklus berikutnya. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi dan Dalam metode observasi, peneliti mengamati secara langsung kegiatan bercerita dengan menggunakan boneka tangan. Hasil dari kegiatan tersebut dicatat dalam lembar observasi dengan memberikan tanda checklist. Selain itu, dokumentasi dilakukan dengan memotret anak dan mengarsipkan berbagai materi lain selama kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bercerita melalui penggunaan boneka tangan. Berikut adalah tabel kisi-kisi dari instrumen keterampilan bercerita anak: Meningkatkan Kemampuan Anak Dalam Menceritakan Kembali A (P. Sumasn. Variabel Indikator Aspek yang aktif -Keaktifan dalam berbicara Keterampilan Anak bercerita anak B1 TK berpartisipasi Negeri Pembina mengungkapkan Adipala ide / gagasan Anak dapat menjawab -Ketepatan pertanyaan terkait apa, siapa, mengapa, dan Tabel 1. Kisi-kisi Lembar Observasi Analisis data dari penelitian ini melibatkan pendekatan deskriptif baik kualitatif maupun kuantitatif. Deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis presentase keterampilan bercerita. Presentase keberhasilan pada penelitian ini ditentukan peneliti sebesar 80%. HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti melakukan penelitian awal sebelum tindakan yang bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan dasar anak dalam bercerita, terutama dalam menjawab pertanyaan seperti apa, siapa, mengapa, dan di mana. Tujuan penelitian untuk menilai sejauh mana anak dapat aktif berpartisipasi dan menyampaikan ide atau gagasan. Penelitian awal ini dilaksanakan dalam satu sesi selama 45 menit. Dalam pelaksanaannya, guru menjadi pengajar sementara peneliti sebagai pengamat. Hasil dari penelitian awal menunjukkan bahwa rata-rata keterampilan bercerita ini mencapai 52,8%. Siklus I dilakukan dalam tiga sesi, masing-masing berdurasi 45 menit. Pertemuan pertama membahas tema binatang dengan sub tema binatang peliharaan. Pertemuan kedua juga membahas tema hewan, tetapi dengan sub tema hewan peliharaan yang khusus tentang burung. Pertemuan ketiga fokus pada binatang peliharaan berupa kura-kura. Pada Siklus I, rata-rata keterampilan bercerita anak 6% terdapat kenaikan 12. 8% dibandingkan dengan Pra tindakan, di mana rata-ratanya hanya 52. Hasil dari siklus I ini menjadi pedoman untuk melanjutkan penelitian dengan melakukan siklus II. Kegiatan Siklus II dalam tiga kali pertemuan, pertemuan pertama membahas tema binatang dengan subtema serangga, yaitu laba-laba. Pertemuan kedua membahas tema binatang dengan subtema binatang buas, yaitu buaya. Pertemuan ketiga juga AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 25-35 dengan tema binatang, namun subtemanya adalah binatang buas, yaitu serigala. 88,1% menjadi hasil rerata keterampilan bercerita anak sehingga terjadi peningkatan rata-rata keterampilan bercerita anak sebesar 22,5%. Rekapitulasi data terlihat pada gambar REKAPITULASI Pra Siklus 52,8% Siklus I 65,60% Siklus II 88,10% Gambar 2 Rekapitulasi Hasil Penelitian Penelitian Tindakan kelas ini dalam dua siklus dengan hasil penelitian diperoleh melalui pengamatan keterampilan bercerita dengan media boneka tangan. Aktivitas bercerita dipilih karena anak-anak secara alami menikmati bercerita dan mendengarkan cerita. Menurut Maria . , mendengarkan bukanlah aktivitas otomatis, tetapi perlu keterlibatan aktif. Mendengarkan mencakup perhatian terhadap kata-kata dalam pesan serta sinyal nonverbal seperti gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Aktivitas mendengarkan juga dapat menjadi cara yang menyenangkan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan berbicara, terutama jika didukung oleh media yang Media juga harus disesuaikan dengan karakteristik anak karena boneka sering digunakan sebagai alat peraga yang dianggap mendekati kealamian dalam bercerita. Boneka tangan lebih mudah digunakan dan memberikan kebebasan bergerak yang lebih besar, sehingga anak-anak dapat berinteraksi dengan boneka tersebut dengan lebih leluasa. Anak-anak juga sangat bersemangat ketika diminta untuk maju bercerita. Hal ini terlihat ketika guru meminta mereka untuk bercerita ulang, di mana mereka tanpa perlu dipilih secara spesifik sudah semangat maju kedepan. Anak lebih percaya diri karena adanya penghargaan. Berdasarkan data yang tersedia, simpulan peneliti bahwa pemanfaatan media boneka tangan mampu meningkatkan keterampilan bercerita pada anak-anak Kelompok B1 di TK Negeri Pembina Kecamatan Adipala. Meningkatkan Kemampuan Anak Dalam Menceritakan Kembali A (P. Sumasn. SIMPULAN Simpulan dari hasil penelitian, boneka tangan efektif dalam meningkatkan keterampilan bercerita pada anak-anak kelompok B1 di TK Negeri Pembina Kecamatan Adipala. Hal ini terlihat dari peningkatan kemampuan bercerita yang semula berada pada tingkat 52,8% . ategori kurang bai. menjadi 65,6% . ategori cuku. , kemudian meningkat lagi 88,1% . ategori bai. Anak-anak semakin aktif berpartisipasi dalam kegiatan bercerita dan dapat memberi jawaban dari guru. Penggunaan media boneka tangan dalam pembelajaran membantu menciptakan proses belajar yang tidak hanya terpusat pada guru, serta memberikan kesempatan berbicara yang lebih luas kepada setiap anak, sehingga mereka menjadi lebih terampil dalam bercerita. Saran berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebaiknya boneka tangan yang memikat, dengan memberikan setiap anak satu boneka agar mereka lebih terlibat dan aktif dalam menceritakan kembali isi cerita serta guru dapat memperbaharui metode untuk meningkatkan keterampilan bercerita dengan memanfaatkan media boneka tangan yang karakter-karakternya dapat diubah atau diganti dengan objek nyata. DAFTAR PUSTAKA