Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay Analisis Faktor Utama Rendahnya Kemampuan Matematika Siswa Kelas i SD pada Materi Pembagian Zenfitri R. Situmorang Prodi Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Medan Jl. William Iskandar Ps. Kenangan Baru. Kec. Percut Sei Tuan. Kab. Deli Serdang. Sumatera Utara, 20221. Indonesia Email: jane. nahorr@gmail. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan matematika siswa SD kelas 3 dalam mengerjakan soal pembagian di SDN 101775 Desa Sampali. Hal tersebut terlihat dari hasil nilai harian siswa melalui guru kelas yang sekaligus guru mata pelajaran matematika. Nilai harian tersebut menunjukkan bahwa dari 29 siswa, hanya 12 siswa yang mampu menyelesaikan soal pembagian dengan benar dan mandiri. Subjek penelitin ini adalah 29 siswa kelas 3 SDN 101775 Desa Sampali dan 1 guru kelas. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian yang ditemukan melalui pengumpulan data tersebut terdapat tiga faktor utama rendahnya kemampuan matematika pada materi pembagian, yaitu . siswa tidak paham konsep perkalian dengan benar, . ketidakmampuan siswa sudah menumpuk dari kelas sebelumnya, . siswa jarang mengulangi pelajaran di rumah. Kata kunci: Kemampuan Matematika. Materi Pembagian. SD Kelas 3 Abstract This research was motivated by the low mathematical ability of grade 3 of elementary school students in working on division problems at SDN 101775 Desa Sampali. It can be seen from the results of students' daily test through the homeroom teacher who is also the mathematics subject teacher. The daily scores show that out of 29 students, only 12 students were able to solve division problems correctly and independently. The subjects of this research were 29 grade 3 students at SDN 101775 Desa Sampali and 1 homeroom teacher. Data collection techniques use observation, interviews and documentation. Meanwhile, the data analysis techniques used in this research are collecting data, data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of the research found through data collection that there were three main factors in low mathematical abilities in division material, they are . students did not understand the basic concept of multiplication correctly, . students' incompetence had accumulated from the previous class, . students rarely repeated the lessons at home. Key words: Mathematics Ability. Division, grade 3 of elementary PENDAHULUAN Matematika adalah bidang studi praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita seharihari (Akbar, et al. , 2. Matematika juga diartikan sebagai salah satu bidang studi yang diajarkan di Lembaga Pendidikan formal yang merupakan salah satu bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu Pendidikan (Novitasari,2. Oleh karena itu pembelajaran matematika dalam pembelajaran formal merupakan salah satu pelajaran yang wajib diajarkan untuk mengukur kemampuan berpikir siswa dalam berhitung, tentunya harus dipahami sebagai tujuan pembelajaran matematika. Selain untuk mengukur kemampuan, matematika juga penting dalam pemecahan masalah sehari-hari. Hingga saat ini, peserta didik di sekolah dasar masih banyak dijumpai mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika. Hal tersebut disebabkan matematika masih menjadi mata pelajaran yang menakutkan bagi para peserta didik. Kenyataannya peserta didik di sekolah lebih dominan tidak suka dengan mata pelajaran matematika karena dianggap sebagai mata pelajaran yang sukar dan memiliki banyak rumus serta perhitungan. Sehingga membuat peserta didik tidak memiliki minat dan motivasi untuk belajar matematika yang mengakibatkan hasil belajar matematika peserta didik di ISSN Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay sekolah cukup rendah (Salamah & Amelia, 2. Hal ini sudah saatnya mendapatkan perhatian khusus dari berbagai pihak, salah satunya adalah guru kelas yang bersentuhan langsung dengan peserta didik. Karena siswa dengan kemampuan matematika rendah memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika yang kurang baik di kelas (Maimunah dan Sulistyarini, 2. Oleh karena itu penting untuk memperhatikan unsur-unsur yang mungkin menghambat siswa dan menyulitkan mereka dalam memecahkan masalah matematika. Sulitnya mempelajari perkalian dan pembagian menunjukkan bahwa saat ini banyak siswa yang masih kesulitan dalam menerima pelajaran perkalian dan pembagian (Rosyadi, 2. Pembagian bilangan cacah merupakan salah satu bagian dan materi operasi hitung bilangan cacah yang dipelajari siswa Sekolah Dasar (SD). Materi ini dibahas di kelas 3 semester 1. Dalam pembahasan materi ini siswa diberi kesempatan untuk mempelajari konsep pembagian dan bagaimana digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran matematika pembagian perlu adanya penguasaan perkalian dasar agar pembelajaran matematika selanjutnya dapat menjadi mudah. Perkalian adalah salah satu dari empat operasi dasar di dalam aritmatika dasar . ang lainnya adalah penjumlahan, pengurangan, dan pembagia. (St. Negro dan B. Harap, dalam Rahmah. Nur dan Asnidar 2. Oleh karena itu penguasaan perkalian menjadi mutlak agar dapat menguasai operasi pembagian (Rais Caniago, dalam Rahmah. Nur dan Asnidar 2. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada bulan Agustus 2024 di SDN 101775. Desa Sampali. Deli Serdang. Sumatera Utara, sebagian besar siswa kelas 3 belum mampu menyelesaikan soal pembagian dengan benar dan secara mandiri. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian yang berjudul. AuAnalisis Faktor Utama Rendahnya Kemampuan Matematika Siswa Kelas i SD Pada Materi PembagianAy. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan diantaranya observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi teknik. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa tuturan yang berisi informasi yang diperoleh dari catatan hasil wawancara dengan guru. Sumber data dalam penelitian ini berupa transkrip hasil wawancara yang diperoleh dari hasil wawancara dengan wali kelas sekalugus guru Observasi yang dilakukan adalah observasi partisipatif, yaitu peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian (Sugiyono 2. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara tak berstruktur, yatu pedoman wawancara yang digunakan adalah garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Triangulasi yang dilakukan adalah melalui teknik pengumpulan data, yaitu menganalisis hasil kesamaan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SDN 101775 Desa Sampali. Deli Serdang. Sumatera Utara. Target/Subjek Penelitian Subjek penelitian ini merupakan kelas i SD tahun ajaran 2024/2025 berjumlah 29 orang, dengan pertimbangan dasar materi pembagian yang seharusnya sudah mahir di jenjang ini, dan 1 orang guru yang merupakan wali kelas sekaligus guru matematika di kelas tersebut. ISSN Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay Teknik Analisis Data Analisis data penelitian ini mengguakan model Miles dan Huberman. Ada tiga tahap dalam model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul dan data sudah ditranskrip. Setelah ditranskrip selanjutnya direduksi. Reduksi data merupakan merangkum, memilih, dan memfokuskan hal-hal penting . ugiyono, 2016:. Tahap reduksi data terbagi menjadi tiga tahap. identifikasi data terhadap transkrip hasil wawancara, kemudian dipilih sesuai fokus penelitian, selanjutnya dilakukan tahap pengodean, dan tahap terakhir adalah klasifikasi data. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor utama rendahnya kemampuan matematika pada materi pembagian di SDN 101775 Desa Sampali, yaitu . siswa tidak paham konsep perkalian dengan benar, . ketidakmampuan siswa sudah menumpuk dari kelas sebelumnya, . siswa jarang mengulangi pelajaran di rumah. Pertama, siswa tidak paham konsep perkalian dengan benar, yaitu sebagai penjumlahan Pembagian merupakan operasi hitung lanjutan dari perkalian. Oleh karena itu. memecahkan masalah pembagian, pemahaman perkalian harus lebih dahulu dimantapkan. Seperti pernyataan Rais Caniago . alam Rahmah. Nur dan Asnidar 2. oleh karena itu penguasaan perkalian menjadi mutlak agar dapat menguasai operasi pembagian. Dari hasil observasi, siswa kesuliatn mengerjakan soal pembagian karena belum menguasai perkalian. Selain itu, siswa juga tidak punya inisiatif dalam memecahkan soal pembagian dengan mencari hasil perkaliannya dengan melakukan penjumlahan berulang karena mereka dibiasakan menghapal perkalian, bukan memahami konsepnya sebagai penjumlahan berulang. Kesulitan belajar sebagai masalah terletak pada AuhambatanAy tersebut, yaitu akibat yang dapat terjadi, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan, apabila hambatan tersebut tidak diatasi (Azhari, 2. Kedua, ketidakmampuan siswa sudah menumpuk dari kelas sebelumnya. Perkalian merupakan salah satu dari empat operasi dasar di dalam aritmatika dasar . ang lainnya adalah penjumlahan, pengurangan, dan pembagia. (St. Negro dan B. Harap dalam Rahmah. Nur dan Asnidar 2. Operasi perkalian juga bisa disebut sebagai penjumlahan berulang, dan memerlukan tahap berpikir yang lebih kompleks pada diri anak. Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa ketertinggalan kemampuan anak sudah menumpuk dari jenjang sebelumnya. Konsep perkalian merupakan penjumlahan berulang. Konsep penjumlahan yang seharusnya sudah dipahami di kelas 1 SD pun belum dipahami secara mendalam di kelas 3. Misalnya untuk penjumlahan 1 sampai sepuluh belum bisa otomatis. 1 A = 19. 2 A = 10, 3 A = 10, dan seterusnya. Kurang pahamnya konsep tersebut membuat mereka semakin kesulitan memahami Tanpa disadari hal ini menjadi hambatan belajar bagi siswa tersebut yang berpotensi membut siswa tidak bisa mencapai tujuan belajarnya. Kesulitan belajar adalah suatu kondisi yang menimbulkan hambatan dalam proses belajar seseorang. Hambatan itu menyebabkan orang tersebut mengalami kegagalan atau setidak-tidaknya kurang berhasil dalam mencapai tujuan belajar (Thursan Hakim, 2. Ketiga, siswa jarang mengulangi pelajaran di rumah. Menurut (Alifiah nur Azizah, 2. menyatakan bahwa "kesulitan belajar ini biasanya berasal dari beberapa faktor internal dan eksternal. Selain karena faktor kurang pahamnya perkalian, ternyata kondisi sosial siswa juga menunjang kemampuan belajarnya di rumah yang berdampak ke sekolah. Menurut hasil observasi dan wawancara, sebagian besar siswa SDN 101775 Desa Sampali berasal dari keluarga yang berlatar belakang ekonomi ISSN Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay sosial menengah ke bawah. Sehingga orang tua mereka fokus bekerja dan anak-anak dianggap mandiri, terlebih untuk siswa kelas 3, termasuk urusan sekolah. Sehingga siswa-siswi di sekolah ini sangat jarang mengulang pelajaran di rumah. Kebiasaan belajar siswa ini terbentuk di sekolah maupun di luar sekolah. Kegiatan belajar siswa yang dilakukan secara berulang-ulang selama mengikuti proses pembelajaran di sekolah maupun kegiatan belajar yang dilakukan di rumah. (Widayanti, 2. Jadi, yang dimaksud dengan kebiasaan belajar di sini adalah cara-cara belajar yang paling sering dilakukan oleh siswa dan cara atau kebiasaan belajar dapat terbentuk dari aktifitas belajar, baik secara sengaja ataupun tidak (Rahayu, 2. KESIMPULAN Berdasarkan paparan data dan pembahasan, diperoleh kesimpulan mengenai faktor utama rendahnya kemampuan matematika siswa kelas 3 SD. Faktor pertama yaitu siswa tidak paham konsep perkalian dengan benar yang disebabkan oleh kurang pahamnya bagaimana konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang. Faktor kedua, ketidakmampuan siswa yang sudah menumpuk dari kelas Konsep perkalian merupakan penjumlahan berulang. Konsep penjumlahan yang seharusnya sudah dipahami di kelas 1 SD pun belum lancer di kelas 3. Sehingga ketidakpahaman mereka terhadap penjumlahan membuat mereka semakin kesulitan menghitung hasil perkalian. Faktor ketiga, siswa jarang mengulangi pelajaran di rumah karena latar belakang ekonomi sosial yang kurang Orang tua mereka yang fokus bekerja membuat mereka harus mandiri, terlebih untuk siswa kelas 3, termasuk urusan sekolah. Sehingga siswa-siswi di sekolah ini sangat jarang mengulang pelajaran di rumah. SARAN